Anda di halaman 1dari 23

RUANG LINGKUP ILMU FARMASI

Oleh: Steffi Liem


Ada apa dengan FARMASI..
• Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara
membuat, mencampur, meracik, memformulasi,
mengidentifikasi, mengobinasi, menganalisis serta
menstandarkan obat dan pengobatan juga sifat-sifat
obat beserta pendistribusian dan penggunaannya
secara aman.
• Farmasis (apoteker) merupakan gelar profesional
dengan keahlian di bidang farmasi.
Farmasi merupakan penggabungan dan
penerapan dari ilmu-ilmu alam dan ilmu farmasi
itu sendiri. Berikut ini beberapa ilmu-ilmu
farmasi:
1. Farmakognosi adalah ilmu yang mempelajari
tentang sumber bahan obat dari alam,
terutama dari tumbuh-tumbuhan.
2. Farmakodinamik adalah ilmu yang
mempelajari pengaruh obat terhadap sel
hidup atau terhadap organisme hidup,
terutama reaksi fisologis yang
ditimbulkannya.
4. Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari
absorpsi, distribusi, metabolisme (biotransformasi) dan
ekskresi obat (ADME).
5. Farmakoterapi adalah ilmu yang mempelajari tentang
penggunaan obat dalam pengobatan penyakit
6. Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang zat-
zat racun dengan khasiatnya serta cara-cara untuk
menganal/mengidentifikasi dan melawan efeknya.
7. Kimia farmasi analisis adalah ilmu yang mempelajari
tentang analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa-
senyawa kimia, yang berhubungan dengan khasiat dan
penggunaanya sebagai obat.
7. Farmasetika adalah ilmu yang mempelajari
tentang cara penyediaan obat, yang meliputi
pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan
pembakuan bahan obat-obatan; seni peracikan
obat; serta pembuatan sediaan farmasi menjadi
bentuk tertentu sehingga siap digunakan sebagai
obat.
8. Teknologi farmasi adalah ilmu yang membahas
tentang teknik dan prosedur pembuatan sediaan
farmasi dalam skla industri farmasi termasuk
prinsip kerja serta perawatan/pemeliharaan alat-
lat produksi dan penunjangnya sesuai ketentuan
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)
9. Biofarmasetika adalah ilmu yang mempelajari
pengaruh formulasi terhadap aktivitas terapi dan
produk obat
10. Farmasi klinik meliputi kegiatan memonitor
penggunaan obat, memonitor efek samping
obat dan pemberian informasi obat bagi yang
membutuhkannya.
11.Manajemen farmasi adalah ilmu yang
mempelajari tentang administrasi,
manajemen, dan pemasaran yang
berhubungan dengan kewirausahaan farmasi
beserta aspek-aspek kewirausahaannya.
SARANA PEKERJAAN
KEFARMASIAN
LAPANGAN KERJA PHARMACIST/APOTEKER
a. Swasta :
- Apotek
- Rumah Sakit
- Industri
- Marketing
b. Pemerintah :
- Departemen Kesehatan
- Departemen Perindustrian
- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
- Departemen Hankan
- BPOM
c. Bidang lain :
- Perbankan
- Perhubungan
- Dan lain-lain
Lulusan sarjana farmasi atau yang lebih dikenal
dengan sebutan apoteker memiliki banyak pilihan
tempat bekerja tergantung dari minat masing-
masing. Berikut ini beberapa lapangan pekerjaan
yang bisa dimasuki oleh seorang apoteker:
1. Apotek
Seorang apoteker bisa bekerja di apotek sebagai
Apoteker Pengelola Apotek (APA) atau jika
mempunyai modal yang cukup bisa mendirikan
apotek sendiri
2. Rumah sakit
Di rumah sakit, apoteker bisa bekerja sebagai
apoteker penanggung jawab depot obat di rumah
sakit
3. Pedagang besar farmasi (PBF)
Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah perusahaan
yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan,
dan penyaluran perbekalan farmasi. Apoteker bisa
bekerja sebagai penanggung jawabnya.
4. Industri Farmasi
Di industri farmasi, apoteker bisa bekerja di:
• Bagian penelitian dan pengembangan obat
• Bagian produksi obat
• Bagian Quality Control (QC)
• Bagian penjualan (sales) dan pemasaran
(marketing) obat.
5. Instansi pemerintahan dan TNI/Polri
Di instansi pemerintahan dan TNI/Polri,
apoteker bisa bekerja di:
• Bagian administrasi pelayanan obat pada
instansi pemerintah/TNI/Polri
• Departemen Kesehatan (Depkes), Badan
Pengawasan Obat Makanan (BPOM)
• Departemen Pendidikan Nasional
(Depdiknas|) sebagai dosen bidang farmasi
6. Di klinik pemeriksaan
7. Wirausaha, misal dengan mendirikan apotek
atau toko obat, membuat apotek hidup
Aspek Asuhan Kefarmasian
• Peran apoteker telah berubah dari peracik
dan penyedia obat menjadi manajer
terapi obat yang Mencakup tanggung
jawab untuk menjamin bahwa dimanapun
obat diproduksi, disediakan/diperoleh,
digunakan, disimpan, didistribusikan,
dibagikan dan diberikan sehingga obat
tersebut berkonstribusi terhadap
kesehatan pasien dan mengurangi efek
samping yang mungkin muncul.
• Ruang lingkup praktek kefarmasian saat ini termasuk
pelayanan-berorientasi pasien dengan segala fungsi kognitif
konseling, menyediakan informasi obat dan memantau
terapi obat, sebagaimana halnya aspek teknis pelayanan
kefarmasian yang termasuk manajemen pengadaan obat.
• Hal ini merupakan peranan tambahan seorang apoteker
bahwa apoteker sekarang dapat memberikan konstribusi
yang vital terhadap perawatan pasien.
• Pekerjaan kefarmasian pada zamannya akan selalu
berkembang mengikuti tuntutan masyarakat sehingga
paradigma Asuhan Kefarmasian sudah harus
dipertimbangkan untuk penerapannya pada Pekerjaan
Kefarmasian, berikut adalah rangkuman dari berbagai
sumber terkait dengan Asuhan Kefarmasian.
Pelayanan Informasi Obat (PIO)
• PIO merupakan salah satu kewajiban Apoteker
yaitu apoteker wajib memberikan informasi yang
berkaitan dengan penggunaan obat yang
diserahkan kepada pasien dan informasi mengenai
penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional.
Konseling
• Konseling dapat dilakukan secara langsung pada
saat penyerahan obat pada pasien atau melalui
telepon bila ada pertanyaan dari dokter, perawat,
pasien atau keluarga pasien dan instansi manapun.
Informasi yang diberikan dicatat pada lembar PIO
sebagai dokumentasi terhadap kegiatan pelayanan
kefarmasian yang dilakukan di apotek.
• Dokumentasi tersebut dapat dijadikan bahan
acuan pemberian informasi untuk kasus yang
serupa, sebagai bahan penelusuran bila terjadi
kesalahan pemberian informasi, dan dapat
digunakan sebagai bahan evaluasi penggunaan
obat di apotek.
Pengobatan Mandiri (swamedikasi)
• Pengobatan mandiri bertujuan agar masyarakat mampu
membuat keputusan dalam mengobati gejala penyakit
yang ringan secara aman dan efektif serta mampu
mencegah, mengantisipasi dan mengambil tindakan jika
terjadi masalah dalam pengobatan.
• Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pengobatan
mandiri secara tepat, aman dan rasional maka telah
disediakan seperti:
• Penjualan Obat Bebas (Tanpa Resep Dokter)
• Penjualan Obat Wajib Apotek (OWA)
Pelayanan Obat Atas Resep
• Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter
hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk
menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
• Pelayanan resep menjadi tanggung jawab APA.
• Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggungjawab
dan keahlian profesinya serta dilandasi pada kepentingan
masyarakat.
• Apoteker wajib memberikan informasi tentang penggunan obat
secara tepat, aman, dan rasional kepada pasien.
Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

• Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.


1027/MenKes/SK/ IX/2004 tentang standar
pelayanan kefarmasian di apotek, Apoteker
harus melaksanakan pemantauan penggunaan
obat, termasuk tentang efek samping obat
(MESO).
Evaluasi penggunaan Obat
• Setelah penyerahan obat kepada pasien maka
perlu dilakukan evaluasi penggunaan obat,
meliputi :
• Menentukan skala prioritas evaluasi penggunaan
obat berdasarkan obat yang paling banyak
digunakan, obat dengan indeks terapetik sempit,
obat yang sering menimbulkan efek samping, obat
yang mahal, obat yang digunakan untuk penyakit-
penyakit kardiovaskuler.
• Menyusun indikator dan kriteria evaluasi serta
menetapkan standar pembanding yang digunakan.
Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa
• Obat yang dalam keadaan rusak dan sudah atau hampir
kadaluwarsa, dipisahkan dari sediaan obat lainnya.
• Hal ini untuk memudahkan penukaran atau
pengembalian kepada distributor.
• Ada beberapa barang yang dapat ditukar ke PBF
minimal 3 bulan sebelum ED, hal ini tergantung dari
ketentuan PBF bersangkutan. Untuk jumlah barang
yang dapat ditukar bermacam-macam pula ketentuan
dari PBF, ada yang harus dalam kemasan utuh, tapi ada
juga yang tidak.
• Obat yang sudah terlanjur ED harus dimusnahkan agar
tidak disalah gunakan oleh orang lain. Pemusnahan
dilakukan oleh APA dan salah satu petugas apotek
lainnya.
Pemusnahan Resep
• Apoteker pengelola Apotek mengatur resep
yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal
dan nomor urut penerimaan resep dan harus
disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun.
• Resep yang mengandung narkotika harus
dipisahkan dari resep lainnya.