Anda di halaman 1dari 44

PNEUMOTHORAX

Satria Nugraha Hasibuan (140100029)


Kholila Rizqi Lubis (140100207)
Yohani Theresia (140100128)
Devi Ramadhani (140100074)
Vincent Jimanto (140100177)
Mydheli Rajandran (140100235)

Supervisor : dr. Doddy Prabisma Pohan Sp. BTKV


LATAR BELAKANG

Banyak permasalahan yang bisa


terjadi pada paru yang dapat
mengakibatkan gangguan
terhadap sistem pernafasan,
salah satunya yaitu
pneumotoraks
Masalah utama adalah
terkumpulnya udara di rongga
pleura menyebabkan
pergeseran mediastinum yang
Trauma toraks melingkupi mengarah darurat yang
seperempat dari kematian, dan mengancam jiwa
dua-pertiga dari kematian ini
terjadi setelah pasien mencapai
rumah sakit.
LATAR BELAKANG

Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya


udara dalam rongga pleura

Seluruh kejadian pneumotoraks yang terjadi di


luar lingkungan rumah sakit sangat sulit untuk
ditentukan

Dalam penelitian terbaru, 12% pasien dengan


dada tanpa gejala luka tusukan memiliki
pneumotoraks yang tertunda2
TUJUAN

01 02 03

Memahami mengenai Meningkatkan Memenuhi salah satu


pneumothorax dan kemampuan dalam persyaratan kelulusan
penatalaksanaan penulisan karya ilmiah Program Pendidikan
mengenai pneumothorax di bidang kedokteran. ProfesiDokter (P3D)
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Pleura

• Pleura merupakan membran serosa


yang melingkupi parenkim paru,
mediastinum, diafragma serta tulang
iga; terdiri dari pleura viseral dan
pleura parietal

• Rongga pleura terisi sejumlah


tertentu cairan yang memisahkan
kedua pleura tersebut sehingga
memungkinkan pergerakan kedua
pleura tanpa hambatan selama
proses respirasi
Pneumotoraks
Pneumotoraks adalah kumpulan dari udara atau gas dalam rongga
pleura antara paru-paru dan dinding dada. Hal ini dapat terjadi
secara spontan pada orang tanpa kondisi paru-paru kronis (primer)
serta pada mereka dengan penyakit paru-paru (sekunder), dan
banyak pneumotoraks terjadi setelah trauma fisik dada, cedera
ledakan, atau sebagai komplikasi dari perawatan medis.
Etiologi
Tension Pneumotoraks Pneumotoraks Terbuka

Penyebab tersering tension Defek atau luka yang


Pneumotoraks adalah besar pada dinding dada
komplikasi penggunaan menyebabkan
ventilator dengan ventilasi Pneumotoraks terbuka.
tekanan positif pada Akibatnya ventilasi
penderita yang ada terganggu sehingga
kerusakan pada pleura menyebabkan hipoksia
visceral. atau hiperkapnia
Patofisiologi
Tension Pneumotoraks
Tension pneumotoraks terjadi ketika terjadi gangguan yang
melibatkan pleura visceral, pleura parietal, atau cabang
trakeobronkial. Gangguan terjadi ketika terbentuknya
sistem aliran katup yangsatu arah, sehingga
memungkinkan aliran udara ke dalam rongga pleura,
namun udara tidak bisa mengalir kembali keluar

Traumatic Pneumotoraks
Sebuah traumatik pneumotoraks dapat terjadi oleh
karenaadanya penetrasi ke rongga dada ataupun adanya
trauma dada nonpenetrating.Dengan terjadinya trauma
tembus pada dada, luka memungkinkan udara masuk ke
rongga pleura langsung melalui dinding dada atau melalui
pleura visceral dari cabang trakeobronkial
Klasifikasi Berdasarkan Penyebab
1. Pneumotoraks Spontan
Pneumotoraks Spontan
Pneumotoraks spontan primer diperkirakan terjadi
karena rupture dari bleb emfisematous di
subpleura, yang biasanya terletak pada apeks paru-
paru

Sekunder (latar belakang penyakit paru)


Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) adalah penyebab
tersering pada pasien dengan pneumotoraks spontan
sekunder, walau sebenernya hampir semua penyakit
paru-paru telah diasosiasikan dengan pneumotoraks
spontan sekunder
Pneumotoraks Traumatik
Iatrogenik (akibat tindakan medis)
Aksidental (terjadi karena kesalahan/komplikasi
tindakan). Terjadi pada misalnya tindakan
parasentesis dada, biopsy pleura, biopsy
transbronkial, biopsy/aspirasi paru perkutaneus,
kanulasi vena sentralis, barotraumas (ventilasi
mekanik)

Bukan iatrogenik (akibat jejas kecelakaan)


Insidensi terjadinya pneumotoraks setelah
adanya jejas tumpul tergantung dari derajat
keparahan trauma. Pneumotoraks traumatic
dapat terjadi karena trauma dada yang penetrasi
maupun tidak penetrasi
2. Klasifikasi berdasar jenis fistula:

1. Pneumotoraks tertutup
Suatu pneumotoraks dimana tidak ada defek/ luka
terbuka dari dinding dada.

2. Pneumotoraks terbuka
Pneumotoraks terbuka merupakan gangguan pada dinding
dada karena adanya hubungan langsung antara rongga
pleura dan lingkungan sehingga tekanan atmosfer dan
intratorakal segera mencapai titik seimbang

3. Tension pneumotoraks
Suatu tension pneumotoraks dikatakan dapat ditemukan
saat tekanan intrapleural melebihi tekanan atmosfer
selama ekspirasi dan terkadang saat inspirasi juga
Manifestasi Klinis
Gejala utama pada pneumotoraks adalah nyeri
dada dan sesak napas, yang terjadi pada 95%
pasien
Pasien biasanya mengalami sesak napas
dengan riwayat nyeri dada sebelumnya, dan
batuk-batuk
Nyeri dada yang dirasakan bersifat tajam
seperti ditusuk dan sangat sakit
Nyeri biasanya menjalar ke pundak ipsilateral
dan memberat pada saat inspirasi (pleuritic)
Sesak sering mendadak dan semakin lama
semakin berat terutama setelah adanya
pencetus
Manifestasi Klinis

Anamnesis Pemeriksaan Fisik


• Pneumotoraks spontan biasanya muncul • Pasien tampak sesak ringan-berat
saat istirahat. tergantung kecepatan udara yang
• Tanyakan dan periksa faktor resiko: masuk serta ada tidaknya klep.
perokok, usia 18-40 tahun, bertubuh Penderita bernapas tersengal,
tinggi dan kurus, atau kehamilan. pendek-pendek dengan mulut
• Riwayat penyakit paru, baik akut
terbuka, seperti ikan hidup yang
maupun kronis.
berada di luar air.
• Tanyakan riwayat pneumotoraks
sebelumnya untuk kemungkinan • Sesak napas dengan/atau tanpa
rekurensi. sianosis
• Eksplorasi gejala dan tanda dari • Penderita tampak sakit mulai ringan-
manifestasi klinis pneumotoraks. berat. Badan tampak lemah dan
dapat disertai syok.
Pemeriksaan Penunjang:
Foto Thoraks

Pneumotoraks dextra total Pneumotoraks spontan


akibat tusukan sekunder kecil
untuk mengetahui keadaan hipoksemia dan hiperkarbia meskipun pada
Analisa kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada pasien dengan gagal
Gas Darah napas yang berat secara signifikan meningkatkan mortalitas sebesar 10%.

akan lebih spesifik dalam membedakan antara emfisema bullosa dengan


CT-Scan pneumotoraks, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstrapulmoner
Thorax dan untuk membedakan antara pneumotoraks spontan dan primer.

Diagnosa Diseksi Aorta Akut, Sindroma Koroner Akut, Perikarditis Akut, Laserasi dan,
Ruptur Esophagus , Gagal Jantung, Infark Miokard, Emboli Paru dan Fraktur
Banding Iga
Penatalaksanaan
Tension Pneumotoraks
Tension Pneumotoraks membutuhkan
dekompresi segera dan
penanggulangan awal dengan cepat
berupa insersi jarum yang berukuran
besar pada sela iga 2 garis
midclavikula pada hemithorax yang
terkena. Tindakan ini akan mengubah
tension Pneumotoraks menjadi
Pneumotoraks sederhana
Pneumotoraks Terbuka
v Penilaian dan tatalaksan awal pasien dengan trauma

d z 01 toraks terdiri dari primary survey, resusitasi fungsi vital,


secondary survey yang teliti dan penanganan definitif

Mengingat hipoksia adalah manifestasi paling serius

02 pada trauma toraks maka intervensi awal ditujukan


untuk mencegah atau memperbaiki hipoksia

Secondary survey dilakukan berdasarkan anamnesis

03 trauma dan kecurigaan tinggi akan adanya trauma yang


spesifik

Primary survey pada pasien trauma toraks dimulai dari

04 saluran pernafasan. Permasalahan utama harus segera


diatasi saat teridentifikasi

Slide 17
/
Komplikasi

Komplikasi pada pemasangan Water Seal Drainage adalah


perdarahan, infeksi dan edema reexpansion paru.
Penyumbatan tabung dada dapat meyebabkan pericardial
tamponade, tension Pneumotoraks, atau infeksi sebuah
empiema. Semua ini dapat menyebabkan perawatan rumah
sakit yang berkepanjangan dan bahkan kematian
Pencegahan
Pemberian bronkodilator, antitusif ringan
Pneumotoraks sering dilakukan dan penderita dianjurkan
kalau batuk jangan terlalu kuat. Penderita
juga tidak boleh mengangkat barang berat
atau mengejan terlalu kuat

Penderita tuberkulosis (TB) paru, harus


diobati dengan baik sampai tuntas. Lebih
baik lagi, bila penderita TB masih dalam
tahap lesi minimal
Rehabilitasi Pasien Pneumotoraks

Penderita yang telah sembuh dari pneumotoraks harus


01 01 dilakukan pengobatan secara baik untuk penyakit dasar.
02
03 Untuk sementara waktu (dalam beberapa minggu) penderita
04 02 dilarang mengejan, mengangkat barang berat, batuk/bersin
terlalu keras.

Bila mengalami kesulitan defekasi karena pemberian


03 antitusif, berilah laksan ringan.

Kontrol penderita pada waktu tertentu, terutama kalau


04 ada keluahan batuk, sesak napas.
Prognosa

Tipe pneumotoraks:
• Pneumotoraks tertutup atau terbuka
sering tidak berat.
• Pneumotoraks ventil dengan
tekanan positif sering dirasakan
lebih berat.

Keadaan paru yang lain serta ada


tidaknya obstruksi jalan napas.
• Jika pneumotoraks diidentifikasi dan
ditangani dengan cepat
prognosanya baik. Angka rekurensi
pneumotoraks simpel bisa mencapai
30% pada ipsilateral dan 10% pada
kontralateral.
Status Pasien
Identitas pasien
• Nama : YS
• No. RM : 77.44.81
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Tanggal lahir : 03/01/1996
• Usia : 23 tahun
• Alamat : Dusun 1 8 Kloni 3 Kel Bulu Cina
• Agama : Islam
• Tanggal masuk RS : 17 Maret 2019
Anamnesis
• Keluhan Utama : Sesak Nafas
• Telaah : Hal ini dialami pasien sejak 20 jam sebelum
masuk rumah sakit. Pasien merasakan sesak nafas setelah
mengalami kecelakaan, dimana mobil yang ditumpangi masuk
ke jurang. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada daerah dada
yang bertambah nyeri bila pasien menarik nafas. Nyeri juga
dirasakan pasien di daerah bahu dan lengan kanan sehingga
tangan kanan pasien sulit digerakkan. Riwayat sakit kepala
disangkal. Riwayat pingsan disangkal. Riwayat muntah
disangkal. Riwayat perdarahan disangkal. Riwayat kejang
disangkal.
• RPT : tidak jelas
• RPO : tidak jelas
Primary Survey
• A: Clear
• B: Pernafasan Spontan, RR 26 x/i
• C: CRT < 2’’, akral hangat, HR = 84 x/I
• D: GCS 15
• E: Undressed, logroll
• VAS: 5
Secondary Survey
• Allergic : Tidak ada riwayat alergi
• Medication : Tidak ada riwayat obat-obatan
• Past Illness : Tidak ada riwayat penyakit terdahulu
• Last Meal : 4 jam sebelum kecelakaan
• Environment : Di dalam mobil
Secondary Survey

• Kepala : Dalam batas normal


• Thorax : Pada status lokalisata
• Abdomen : Dalam batas normal
• Genitalia : Laki-laki, Dalam batas normal
• Ekstremitas : Pada status lokalisata
Status lokalisata
• Thorax :
• Look : Simetris, ketinggalan bernafas (-)
• Listen : Suara pernafasan menurun pada lapangan paru kiri,
vesikular pada lapangan paru kanan
• Feel : Hipersonor pada lapangan paru kiri, nyeri tekan pada kosta
5 – 6 lapangan paru kiri
• Ekstremitas :
• Look : Bengkak (+) pada lengan kanan, deformitas (-), luka terbuka
(-)
• Feel : Nyeri (+) krepitasi (+) pada lengan kanan, pulsasi a. radialis
(+), NVD baik
• Movement : ROM lengan kanan menurun karena nyeri
Pemeriksaan radiologis
• Thorax : tampak
fraktur pada kosta 5-
6 posterior kiri +
pneumothorax kiri
Pemeriksaan radiologis
• Servikal : tidak
tampak kelainan
Pemeriksaan radiologis
• Antebrachii : fraktur
os radius 1/3 medial
kanan
Pemeriksaan radiologis
• Shoulder joint : tidak
tampak kelainan
Hasil Laboratorium
Jenis Pemeriksaan Hasil Rujukan
Hematologi
Hemoglobin (HGB) 11,9 g/dL 12-16
Eritrosit (RBC) 3,9 juta/ Μl 4,1 – 5,1
Leukosit (WBC) 13.850 / μL 4.000 – 11.000
Hematokrit 34 % 39 – 54
Trombosit (PLT) 264.000/μL 150.000-450.000
Metabolisme Karbohidrat
Glukosa Darah (sewaktu) 120 mg/dL <200 mg/dl

Elektrolit
Natrium (Na) 138 mEq/L 135-155
Kalium (K) 3.7 mEq/L 3,6-5,5
Klorida (CL) 105 mEq/L 96-106
• Diagnosa Kerja : Simple Pneumothorax Sinistra +
Fraktur tertutup kosta 5-6 posterior + Fraktur tertutup
radius
• Tatalaksana
• Tirah baring
• IVFD Ringer Laktat 20 gtt/i
• Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam/IV
• Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam/IV
• R/ Chest tube + WSD, ORIF
FOLLOW UP
18 - 21 Maret 2019
S Nyeri luka operasi
O Sensorium : CM
HD stabil
Drain : undulasi (+) bubble (+)

A Post chest tube a/i pneumothorax (L)


P - Susul foto thorax kontrol
- Terapi sesuai RM 8.1
22 - 24 Maret 2019
S Nyeri daerah pemasangan selang berkurang
O Sensorium : CM
HD stabil
Drain (+)

A Post chest tube a/i pneumothorax (L)


P - Terapi sesuai RM 8.1
25 Maret 2019
S Nyeri daerah pemasangan selang berkurang
O Sensorium : CM

HD stabil

Drain : undulasi (-), produksi (-)

A Post chest tube a/i pneumothorax (L)


P - Terapi sesuai RM 8.1

- AFF thorax drain

- Mobilisasi duduk / jalan


DISKUSI KASUS
Teori Pasien
Manifestasi Klinis Manifestasi Klinis

- Gejala utama pada pneumotorak.13 Pasien biasanya mengalami - Sesak napas dialami pasien sejak 20 jam sebelum masuk
sesak napas dengan riwayat nyeri dada sebelumnya, dan batuk- rumah sakit.
batuk. Nyeri dada yang dirasakan bersifat tajam seperti ditusuk
- Pasien juga mengeluhkan nyeri pada daerah dada yang
dan sangat sakit. Nyeri biasanya menjalar ke pundak ipsilateral
bertambah nyeri bila pasien menarik nafas. Nyeri juga
dan memberat pada saat inspirasi (pleuritik). Sesak sering
dirasakan pasien di daerah bahu dan lengan kanan sehingga
mendadak dan semakin lama semakin berat terutama setelah
tangan kanan pasien sulit digerakkan
adanya pencetus (auslosend moment) seperti batuk keras, bersin,
mengangkat barang-barang berat, buang air kecil atau mengejan.
Batuk, hemoptisis, orthopnea, dan sindroma Horner merupakan
manifestasi yang jarang pada pneumotoraks. Beberapa persen
pasien dengan asimptomatik atau hanya mengeluhkan malaise
menyeluruh.
Teori Pasien
Diagnosis Diagnosis
Pemeriksaan fisik Primary Survey
Airway : Clear
Inspeksi Breathing : Spontan, RR = 26 x/i
• Pasien tampak sesak ringan-berat tergantung kecepatan Circulation : CRT < 2’’, akral hangat, HR
udara yang masuk serta ada tidaknya klep. Penderita = 84 x/i
bernapas tersengal, pendek-pendek dengan mulut terbuka, Disability : GCS 15
seperti ikan hidup yang berada di luar air. Exposure : Undressed, logroll
• Sesak napas dengan/atau tanpa sianosis VAS :5
• Penderita tampak sakit mulai ringan-berat. Badan tampak Secondary Survey
lemah dan dapat disertai syok. Bila pneumotoraks baru Allergic : Tidak ada riwayat alergi
terjadi penderita berkeringat dingin Medication : Tidak ada riwayat obat-
• Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit. obatan
• Pada waktu ekspirasi, bagian yang sakit gerakannya Past Illness : Tidak ada riwayat penyakit
tertinggal. terdahulu
• Trakea dan jantung terdorong ke sisi yang sehat. Last Meal : 4 jam sebelum kecelakaan
Environment : Di dalam mobil

Kepala : Dalam batas normal


Thorax : Pada status lokalisata
Abdomen : Dalam batas normal
Genitalia : Dalam batas normal
Ekstremitas : Pada status lokalisata
Teori Pasien
Palpasi Status lokalisata
Suara ketok pada sisi yang sakit hipersonor sampai timpani dan Thorax :
tidak menggetar.
Batas jantung terdorong ke arah toraks yang sehat, apabila Look : Simetris, ketinggalan bernafas (-)
tekanan intrapleura tinggi. Listen : Suara pernafasan menurun pada
lapangan paru kiri, vesikular pada lapangan paru kanan
Auskultasi Feel : Hipersonor pada lapangan paru kiri,
Pada bagian yang sakit, suara napas melemah sampai nyeri tekan pada kosta 5 – 6 lapangan paru kiri
menghilang.
Suara napas terdengar amforik bila fistel bronkopleura yang Ekstremitas :
cukup besar pada pneumotoraks terbuka. Look : Bengkak (+) pada lengan kanan,
Suara vokal melemah dan tidak menggetar serta bronkofoni deformitas (-), luka terbuka (-)
negatif. Feel : Nyeri (+) krepitasi (+) pada lengan
kanan, pulsasi a. radialis (+), NVD baik
Movement : ROM lengan kanan menurun karena
nyeri
KESIMPULAN

• Seorang perempuan usia 23 tahun, berdasarkan hasil


anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang, pasien ini di diagnosis dengan simple
pneumothorax sinistra + fraktur tertutup kosta 5-6
posterior + fraktur tertutup radius. Pasien direncanakan
untuk pemasangan chest tube + WSD, dan dilakukan ORIF
44

TERIMAKASIH