Anda di halaman 1dari 8

Pengaruh faktor kelembaban relatif

Dan
Pengaruh faktor media tanam

1. Ahmad Fauzan (D1A016137)


2. Rafika Syahputri (D1A016149)
3. Roberto Karlos (D1A016155)
4. Devina Dwiputri (D1A016163)
5. Rizky Elfrando Ginting (D1A016174)
6. Aah Musdalifah (RRD1A016025)
Pengaruh Faktor
Kelembaban realtif dalam botol kultur dengan mulut botol
yang ditutup umumnya cukup tinggi, berkisar antara 80-
99 %. Jika mulut botol ditutup agak longgar maka
kelembaban relatif dalam botol kultur dapat lebih rendah
Kelembaban Relatif dari 80%. Sedangkan kelembaban relatif di ruang kultur
umumya adalah sekitar 70%. Jika kelebaban relatif ruang
kultur berada di bawah 70% maka akan mengakibatkan
media dalam botol kultur (yang tidak tertutup rapat) akan
cepat menguap dan kering sehingga eksplan dan planlet
yang dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun
kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi
menyebabkan tanaman tumbuh abnormal yaitu daun
lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun
terlampau sukulen. Kondisi tanaman demikian disebut
“vitrifikasi” atau “hiperhidrocity”. Sub-kultur ke media lain
atau menempatkan planlet kecil ini dalam botol dengan
tutup yang agak longgar, tutup dengan filter, atau
menempatkan silica gel dalam botol kultur dapat
membantu mengatasi masalah ini.
Pengaruh Faktor Media Tanam

Peredaan komposisi media, seperti jenis komposisi garam-


garam anorganik, senyawa organik, zat pengaruh tumbuh
sangat memengaruhi respons eksplan saat dikulturkan.
Perbedaan komposisi media biasanya sangat memengaruhi
arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan. Meskipun
demikian, media yang telah diformulasikan tidak
hanyaberlaku untuk satu jenis eksplan dan tanaman saja.
Beberapa jenis formulasi media bahkan digunakan secara
umum untuk berbagai jenis eksplan dan varietas tanaman,
seperti media Murashige dan Skoog (MS).
Komposisi media
Namun ada juga beberapa jenis media yang diformulasikan untuk tanaman-tanaman tertentu
misalnya WPM, VW, dan lain-lain. Media-media tersbut dapat digunakan untuk berbagai tujuan
seperti perkecambahan biji, kultu pucuk, kultur kalus, regenerasi kalus melalui organogenesis dan
embriogenesis. Media yang dibutuhkan untuk perkecambahan biji, perangsangan tunas-tunas aksilar
umumnya lebih sederhana dibandingkan dengan media untuk regenesari kalus baik melalui
organogenesis maupun embriogenesis.
Komposisi Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

Komposisi dan konsentrasi ZPT yang ditambahkan dalam


media sangat memengaruhi arah pertumbuhan dan
regenerasi eksplan yang dikulturkan.
Komposisidankonsentrasi ZPT yang ditambahkan ke dalam
media kultur sangat bergantung pada jenis eksplan yang
dikulturkan dan tujuan pengulturannya. Konsentrasi ZPT
optimal yang ditambahkFan ke dalam media tergantung pula
pada eksplan yang dikulturkan serta kandungan ZPT endogen
yang terdapat pada ekspaln tersebut. Komposisi yang sesuai
ini dapat diperkiraan percobaan-percobaan yang telah
dilakukan sebelumnya diberamgi percobaan untuk
mengetahui komposisi yang sesuai dengan kebutuhan dan
arah pertumbuhan ekspal yang diinginkan.
Hormon pertumbuhan yang digunakan untuk
perbanyakan secara in-vitro adalah golonga
auksin, sitokinin, giberelin, dan growth retardant.
Auksin yang umum dipakai adalah IAA (Indole
Acetic Acid), IBA (Indole Butyric Acid), NAA (
Naphtalena Acetic Acid) dan 2,4-D (2,3-
dicholorophenoxy Acetic Acid). Selain itu,
beberapa peneliti pada beberapa tanaman
menggunakan juga CPA (Chlorophenoxy Acetic
Acid). Sitokinin yang banyak dipakai adalah
Kinetin (Furfuryl Amino Purine), BAP/BA (Benzyl
Amino Purine/Benzyl Adenine), 2i-P (2-
isopentenyl Adenin). Beberapa sitokinin lainnya
yang juga digunakan adalah Zeatin, Thidiazuron
dan PBA (6(benzylamino)-9-(2-
tetrahydropyranyl)-9H-purine). Hormon
pertumbuhan golongan giberelin yang paling
umum digunakan adalah GA3, selain itu beberapa
peneliti ada yang menggukan GA4 dan GA7,
sedangkan growth retatdant yang sering
digunakan adalah Ancymidol, Paraclobutrazol
danTIBA, ABA dan CCC
Keadaan Fisik Media

Media yang umumnya digunakan


dalam kultur jaringan adalah medium
padat, medium semipadat dan medium
cair. Keadaan fisik media akan
mempengaruhi pertumbuhan kultur,
kecepatan pertumbahan, dan Keadaan fisik media ini mempengaruhi pertu,buhan
diferensiasinya. antara lain karena efeknya terhadap osmolaritas
larutan dalam media serta ketersediaan oksigen bagi
pertumbuhan eksplan yang dikulturkan.
Media yang umum digunakan dalam mikropropagasi
adalah semi-solid (semi padat) media dengan cara
menamahkan agar.
Media semipadat ini digunakan karena beberapa
alasan, antara lain

Eksplan yang kecil mudah terlihat dalam


01 media padat

Selama kultur ekspan tetap berada pada


02 orientasi yang sama

Eksplan berada di atas permukaan media


03 sehinga tidak diperlukan teknik aerasi
tambahan pada kultur

Orientasi pertumbuhan tunas dan akar


04 tetap, dan

Kalus tidak pecah seperti jika ditempatkan


05 pada media cair