Anda di halaman 1dari 6

Depresi dan Kehamilan

AYU NOVITA SARI, S.Ked


Apa itu Depresi?

•Depresi adalah gangguan mental yang serius yng


ditandai dengan perasaan sedih dan cemas.

•Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental


yang ditandai dengan munculnya gejala penurunan mood,
kehilangan minat terhadap sesuatu, perasaan bersalah,
gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan energi, dan
Depresi ?

Konsentrasi
Kortisol ↑

Stressor & keren Inhibisi neurogenesis


Simptom
tanan biologik & penurunan volume
hipokampus Kognitif

Simptom Depresi
Depresi pada ibu hamil?
Etiologi

• Berbagai Hipotesis menerangkan timbulnya depresi pada ibu hamil mulai


dari teori biologi ( perubahan hormonal dan neurokimia). Psikologis (tipe
kepribadian dan cara berfikir), dan sosial (tingkat pendidikan, penghasilan
hubungan dengan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga) (WHO 2008)

• Sejauh ini belum ada mekanisme biokimia dan neuroendokrin yang jelas,
namun Dalton menytakan progesteron yang tiba-tibarendah menyebabkan
penyakit mental pada masa nifas.salah satu hal yang memegang peranan
penting adalah ketidakseimbangan antara hormon estrogen dan
progesteron ( Jayalangkara, 2005)
Fisiologi Stres dan Cemas pada kehamilan
• Bentuk respon terhadap stress adalah rangsangan baik terhadap aksis
hipotalami-pituitari-adrenal (HPA) maupun sistem sarap simpatis (SNS), dengan
akibat perubahan neuroendokrin khususnya HPA aksis yang berupa pelepasan
hormon Kortikotropin (CRH) dan hormon adrenocortikotropin (ACTH), yang
merangsang korteks adrenal untuk melepaskan kortisol.

• Saat SNS aktif , akan menyebabkan pelepasan norepineprin dari terminal sarap
SNS dan epineprin dari medulla adrenal.

• Selama kehamilan, ada peningkatan progresif pada ACTH, kortisol, dan CRH ibu.
Walaupun beberapa pandangan menyatakan bahwa CRH plasenta tidak

berhubungan langsung dengan sistem hormon ibu, namun dipercaya bahwa

peningkatan hormon ibu berpengaruh terhadap plasenta yang merupakan unit

endokrin sementara pada HPA aksis ibu.


Con’t

•Stress ibu menghasilkan pengeluaran kortisol adrenal, epinefrin, dan

norepineprin sehingga akan merangsang produksi CRH plasenta.

•Selanjutnya plasenta mengeluarkan CRH, yang dapat mempengaruhi atau bahkan


memperkuat peran respinsibilitas HPA ibu dan janin terhadap stress.