Anda di halaman 1dari 13

APLIKASI SENAM KAKI TERHADAP KADAR GULA DARAH SEWAKTU PADA

PASIEN DENGAN OTITIS MEDIA SUPRATIF KRONIK +


DIABETES MELITUS TIPE II DI RUANG RAJAWALI 2A
RSUP DR KARIADI SEMARANG

Oleh : Rifyal Lamani


NIM.G3AO18023

PROFESI NERS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peningkatan kadar gula darah yang tidak terkontrol (hiperglikemia)
pada penderita diabetes, menyebabkan respon sistem imun menjadi
lambat saat terpapar oleh suatu kuman penyakit. Kondisi hiperglikemia
juga cenderung menguntungkan bagi kuman, karena kadar glukosa
tinggi dapat meningkatkan kemampuan kuman untuk tumbuh dan
menyebar lebih cepat. Hiperglikemia juga meningkatkan peluang infeksi
dengan cara menghambat aliran darah ke setiap sudut permukaan tubuh.
Infeksi pada penderita diabetes memiliki pola yang khas, karena hampir
hanya ditemukan pada penderita diabetes. Pada dasarnya, infeksi lebih
mudah terjadi pada kulit dan rongga hidung dan telinga pada bagian
kepala namun juga mungkin terjadi pada saluran kencing bahkan pada
ginjal (Persi, 2011).
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah infeksi kronis di telinga
tengah dengan perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari
telinga tengah secara terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin
encer atau kental, bening, atau berupa nanah. Biasanya disertai gangguan
pendengaran (Mansjoer, 2001).
Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penulis mampu memahami aplikasi senam kaki asuhan
terhadap kadar gula darah pada pasien dengan Otitis Media
Supratif Kronik (OMSK) + DM Tipe II di Ruang Rajawawali 2A RSUP
DR Kariadi Semarang.
2. Tujuan Khusus
• Membahas tentang konsep dasar penyakit Otitis Media Supratif
Kronik (OMSK)
• Membahas tentang konsep dasar penyakit Diabetes Melitus Tipe
II
• Membahas tentang konsep senam kaki
• Membahas tentang resume keperawatan pada pasien dengan
Otitis Media Supratif Kronik (OMSK) + DM Tipe II di Ruang
Rajawawali 2A RSUP DR Kariadi Semarang
• Membahas tentang aplikasi jurnal Evidance Based Nursing Riset
aplikasi senam kaki asuhan terhadap kadar gula darah pada
pasien diabetes melitus
Tinjauan Pustaka

Diabetes Melitus Tipe II merupakan diabetes melitus yang tidak


tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap
insulin (resistensi insulin). Disebabkan karena turunnya kemampuan
insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan
untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel tidak mampu
mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi
relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi
insulin pada rangsangan glukosa. Namun pada rangsangan glukosa
bersama bahan perangsang sekresi insulin lain, berarti sel pankreas
mengalami desensitisasi terhadap glukosa.
Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam
penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Kegiatan jasmani sehari-hari
dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30
menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. Latihan
jasmani yang dimaksud adalah berjalan, bersepeda santai, jogging senam
dan berenang.
Resume Askep
Identitas Klien :
Ny.S dengan No.RM C747709 berusia 50 thn, berpendidikan terakhir SLTA,
bersuku jawa dan penganut agama islam. Ny.S merupakan seorang Ibu Rumah
Tangga yang bertempat tinggal di Tlugo Bayem Mugassari Semarang. Ny.S di
diagnosa medis menderita Otitis Media Supratif Kronik (OMSK) + Diabetes Melitus
Tipe II.
Analisa Data :
Data (DS & DO) Problem Etiologi
DS : Klien mengatakan Ketidakstabilan kadar Disfungsi pankreas
mempunyai riwayat glukosa darah
diabetes
DO :
- KGDS 396 g/dl
- IMT 29,81
(Overweight)
Aplikasi EBN
Diagnosa Keperawatan Yang Berhubungan Dengan Jurnal Evidance Based Nursing
Yang Diaplikasikan
Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d disfungsi pankreas
Evidance Based Nursing Practice Yang Diterapkan Pada Pasien
Pengaruh Senam Kaki Terhadap Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Penderita
Diabetes Melitus Tipe II Wilayah Kerja Puskesmas Cawas Oleh Anggraini Sri
Sulistyowati
Landasan Teori
Komponen latihan jasmani atau olahraga sangat penting dalam penatalaksanaan
diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan
meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin
(Smeltzer & Brenda, 2002). Latihan jasmani akan menyebabkan terjadinya
peningkatan aliran darah, maka akan lebih banyak jala-jala kapiler terbuka
sehingga lebih banyak tersedia reseptor insulin dan reseptor menjadi aktif yang
akan berpengaruh terhadap penurunan glukosa darah pada pasien diabetes
(Soegondo, 2013).
Pasien Diabetes Melitus perlu melakukan senam kaki untuk membantu
melancarkan peredaran darah bagian kaki, memperbaiki sirkulasi darah,
memperkuat otot-otot kecil, mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki,
meningkatkan kekuatan otot betis dan paha, dan mengatasi keterbatasan gerak
sendi.
Pembahasan
Justifikasi
Latihan jasmani atau olahraga yang dianjurkan salah satunya adalah
senam kaki diabetes melitus. Senam kaki bertujuan untuk memperbaiki
sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-
otot kecil, otot betis dan otot paha, menurunkan kadar gula darah serta
mengatasi keterbatasan gerak sendi yang dialami oleh penderita diabetes
mellitus (Sutedjo, 2010).
Dalam menerapkan EBN Pengaruh Senam Kaki Terhadap Kadar Gula
Darah Sewaktu, pertama-tama penulis menyesuaikan kriteria inklusi dan
eksklusi yang ada pada jurnal dengan kondisi pasien penulis. Adapun
kriteria inklusi dan eksklusi yang ada pada jurnal. Kriteria inklusi pada
penelitian ini adalah penderita DM tipe II, berumur tidak lebih dari 65
tahun, bersedia menjadi responden. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah
penderita DM yang mempunyai luka diabetik, mengalami kelumpuhan
anggota gerak, komplikasi penglihatan serta penderita DM yang
mengalami asma atau nyeri dada, depresi, khawatir atau cemas.
Berdasarkan kriteri inklusi dan eksklusi tersebut, maka pasien kelolaan
penulis sesuai dengan kriteria-kriteri tersebut.
Mekanisme Penerapan EBN
Alat yang dipersiapkan :
• GCU
• Kursi
Langkah-langkah pelaksanaan :
• Persiapkan pasien mulai dari kontrak topik, waktu, tempat dan tujuan dilaksanakan
senam kaki
• Sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki lakukan pengukuran gula darah pasien
Hasil Yang Dicapai
Pada penerapan Evidance Based Nursing dengan
menggunakan senam kaki sebagai upaya penurunan kada gula
darah sewaktu pada Ny.S dengan diagnosa medis Otitis Media
Supratif Kronik (OMSK) + Diabetes Melitus Tipe II, respon
fisiologis yang didapatkan sebelum diberikan intervensi senam
kaki yaitu pasien mengeluh lemas dan seperti tidak bertenaga,
kepala terasa pusing serta saat dilakukan pemeriksaan KGDS
didapatkan nilai gula darah sewaktu 396 mg/dl. Setelah
diberikan intervensi senam kaki, kadar gula darah tidak
mengalami penurunan yang signifikan. Kgds setelah intervensi
yaitu 383 mg/dl. Hal ini disebabkan latihan senam kaki menurut
penerapan jurnal harus dilakukan selama 4 kali dalam seminggu.
Sedangkan penulis hanya baru melakukan sekali dikarenakan
keesokaan harinya pasien menjalani program pembedahan.
Latihan yang optimal dapat membuat sirkulasi darah dapat lebih
lancar sehingga lebih banyak tersedia reseptor insulin dan
reseptor menjadi aktif yang akan berpengaruh terhadap
penurunan glukosa darah pada pasien (Soegondo, 2013).
Kelebihan dan Kekurangan
• Kelebihan
1. Teknik ini mudah dipelajari dan dipraktikan
mandiri oleh pasien
2. Tidak membutuhkan biaya
3. Dapat diedukasikan juga untuk keluarga
• Kekurangan
1. Teknik ini akan kurang efisien jika pasien tidak
mengikuti jadwal latihan dengan baik
2. Hambatan yang ditemui penulis adalah penulis
pasien hanya baru melakukan sekali dikarenakan
keesokaan harinya pasien menjalani program
pembedahan. Sehingga tidak mendapatkan hasil
yang optimal.
Penutup
Simpulan
Respon fisiologis yang didapatkan sebelum
diberikan intervensi senam kaki yaitu pasien mengeluh
lemas dan seperti tidak bertenaga, kepala terasa
pusing serta saat dilakukan pemeriksaan KGDS
didapatkan nilai gula darah sewaktu 396 mg/dl. Setelah
diberikan intervensi senam kaki, kadar gula darah tidak
mengalami penurunan yang signifikan. Kgds setelah
intervensi yaitu 383 mg/dl. Hal ini disebabkan latihan
senam kaki menurut penerapan jurnal harus dilakukan
selama 4 kali dalam seminggu. Sedangkan penulis
hanya baru melakukan sekali dikarenakan keesokaan
harinya pasien menjalani program pembedahan.
Saran
1. Senam kaki dapat dijadikan sebagai
pertimbangan intervensi keperawatan dalam
merawat pasien yang mengalami masalah
keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa.
2. Dapat memperkaya bahan ajar perawat
menegani terapi non farmakologi dan juga
senam kaki dapat dijadikan sebagai terapi
komplementer yang berjalan berdampingan
dengan aspek terapi farmakologi dalam
meneurunkan kadar gula darah.
Terima Kasih