Anda di halaman 1dari 63

Tutorial KIE

Dedent Eka Bimmahariyanto S,.M.Si., Apt.


Tutorial KIE
Prodi S1 Farmasi, UNU NTB
Dedenthariyanto@gmail.com
Silabus
 Mahasiswa diberikan materi pengantar KIE, sistem informasi obat
dan pelayanan informasi obat, sumber informasi obat dan tekhnik
penelusuran informasi obat
 tahapan merespons pertanyaan tentang informasi obat, KIE
tentang problem keamanan dan efektifitas obat, materi/jenis,
kriteria dan teknik KIE. Dengan sistem PBL (Problem Base
Learning) yaitu, mahasiswa diberikan suatu masalah/kasus dan
mahasiswa ditugaskan untuk memecahkan masalah tersebut
dengan ilmu-ilmu farmasi yang telah dipelajari. Setelah
melaksanakan dan mengikuti masalah ini, mahasiswa diharapkan
mampu memahami peran faramasi dalam KIE obat sebagai bagian
integral dari pelayanan/asuhan dari kefarmasian, mampu
menggunakan pustaka sumber informasi obat, menelusuri
(retrieving), mengevaluasi, mengintegrasikan , mengintepretasikan,
dan mengorganisasikan, informasi obat dan permasalahahnnya,
mampu melakukan komunikasi oral dan tertulis, serta konseling
pada pasien.

2
Pustaka
 Berardi, R.R, McDermott J.H., Newton, G.D.,
Oszko, M.A., Popovich, N.G., Rollins C.J., Shimp
L.A., Tietze, K.J., 2002, Handbook of
Nonprescription Drugs, An Interactive Approach to
Self-Care, Fourteenth edition, American
Pharmacists Association,Washington DC.
 Malone PM, Mosdell KW, Kier KL, Stanovich JE,
1996, Drug Information, A Guide for Pharmacist, 2
nd edition, Mc Grow Hill Company, New York.
 Meldrum, H., 1994, Interpersonal Communication
in Pharmaceutical Care, Pharmaceutical Product
Press, New York.
3
Pelaksanaan Perkuliahan
 Hari :
 Waktu :
 Aturan Perkuliahan

Toleransi keterlambatan mahasiswa 10 mnt


Berpakaian sopan, tidak boleh memakai kaos atau jeans
sobek2, tidak boleh memakai sandal.
Toleransi keterlambatan Dosen 30”
Jumlah Pertemuan 14x (tatap muka,quis,tugas, diskusi,bljar
mandiri)
Syarat mengikuti UAS 80% kehadiran
Izin diberikan apabila sakit ditunjukkan dengan sk dokter atau
sakit , surat keterngan tugas dr prodi institusi terkait.
Dipilih Penanggung Jawab kelas
4
Penilaian
Item2 Penilaian :
 Absensi kehadiran 10%
 Sikap dan prilaku 5%
 Tugas 10%
 Quis 10%
 UTS 25%
 UAS 40%

5
Pendahuluan
 Konseling
Memberi informasi yang ditunjukkan dengan adanya
diskusi timbal balik dan pertukaran opini
 Informasi Obat
Memberi data mengenai obat-obatan yang
independen, akurat, komprehensif, terkini, oleh
Apoteker kepada pasien, masyarakat, maupun tenaga
kesehatan lain.
 Edukasi
Pemberian dan pengembangan informasi untuk
memberikan keterampilan dan pengetahuan.

6
Pengertian KIE
 Adalah suatu proses penyampaian informasi
antara apoteker dengan pasien atau keluarga
pasien yang dilakukan secara sistematis
untuk memberikan kesempatan kepada
pasien atau keluarga pasien dan membantu
meningkatkan pengetahuan, pemahaman
sehingga pasien atau keluarga pasien
memperoleh keyakinan akan kemampuan
dalam penggunaan obat yang benar.

7
Tujuan dari KIE
 Tujuan dari KIE sendiri adalah agar
farmasis dapat menjelaskan dan
menguraikan (explain and describe)
penggunaan obat yang benar dan baik bagi
pasien sehingga tujuan terapi pengobatan
dapat tercapai dan pasien merasa aman
dengan obat yang dikonsumsi.

8
Dasar Hukum
KepMenKes RI No.1027/Menkes/SK/IX/2004
Tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek

Farmasis tidak sekedar meracik obat untuk pasien

Interaksi dengan pasien dan profesi kesehatan lain

Farmasis dituntut meningkatkan pengetahuan,


keterampilan dan perilaku

Untuk memberikan pelayanan informasi obat dan konseling


9
PENGGUNAAN OBAT
DOKTER YANG RASIONAL APOTEKER

KEPATUHAN PASIEN

TERCAPAI TUJUAN TERAPI

Kualitas hidup meningkat 10


Penyebab Ketidakpatuhan

 Faktor Penyakit
 Faktor Terapi
 Faktor Pasien
 Faktor Komunikasi.

11
Faktor Penyakit

 Keparahan atau stadium penyakit


Orang yang merasa sudah lebih baik
kondisinya tidak mau meneruskan
pengobatan

 Lamanya terapi berlangsung


Semakin lama pengobatan yang sudah
dijalani, tingkat kepatuhan semakin rendah.
12
Faktor Terapi
 Regimen pengobatan yang kompleks (jumlah
obat maupun jadwal penggunaan)
 Kesulitan dalam penggunaan obat
Contoh: kesulitan menelan obat karena
ukuran tablet yang besar
 Efek samping yang ditimbulkan
Contoh: mengantuk, mual, muntah, konstipasi
 Rutinitas sehari – hari yang tidak sesuai
dengan jadwal penggunaan obat.

13
Faktor Pasien
 Merasa kurang pemahaman mengenai
keseriusan dari penyakit dan hasil yang didapat
jika tidak diobati
 Menganggap pengobatan yang dilakukan tidak
begitu efektif
 Motivasi ingin sembuh
 Kepribadian/perilaku
 Dukungan lingkungan sekitar/keluarga
 Sosio-demografi pasien: umur, tingkat
pendidikan, pekerjaan.

14
Faktor Komunikasi

 Kurang mendapat instruksi yang jelas


tentang pengobatannya
 Kurang mendapatkan cara atau solusi untuk
mengubah gaya hidupnya
 Ketidakpuasan dalam berinteraksi dengan
tenaga kesehatan
 Apoteker tidak melibatkan pasien dalam
pengambilan keputusan.

15
Resiko Ketidakpatuhan Pasien
Dalam Penggunaan Obat

 1. Kegagalan terapi
 2. Meningkatkan biaya perawatan
 3. Memerlukan perawatan tambahan
 4. Resiko terhadap toksisitas obat
 5. Kekambuhan penyakit

16
Pelayanan Informasi Obat
Pemberian informasi obat oleh apoteker dalam
rangka penggunaan obat yang tepat :
 proses penggalian latar belakang pertanyaan,
 mengembangkan strategi penelusuran sumber
informasi yang tepat,
 mengevaluasi sumber informasi yang didapatkan,
 merumuskan jawaban

17
Mekanisme Layanan Informasi
INFORMASI
PERTANYAAN KLASIFIKASI
LATAR BELAKANG
1 PERTANYAAN 2 2

• Langsung • Surat • Penanya


• Telp. • E-mail • Pertanyaan
• Fax

3
5

Searching Literatures
4 (PENELUSURAN PUSTAKA
KATALOG JAWABAN SECARA SISTEMATIS)
6
1st, 2nd, 3rd
7

18
Menggali Informasi
 Identifikasi Penanya
 Identifikasi permasalahan
 Identifikasi derajat urgensi
 Perlukah merujuk ?
 Follow up

• Diperlukan wawancara
• Diperlukan ketrampilan berkomunikasi
19
Contoh Form PIO

20
Jenis - Jenis Pustaka

1.Pustaka Primer
Artikel original yang dipublikasikan langsung oleh
penulisnya
2.Sekunder
Pustaka yang mengacu terhadap berbagai artikel
original dan berbagai pustaka primer
3.Tersier
Berupa buku teks, buku ajar yang merupakan
kumpulan artikel dan relatif tidak up to date

21
KONSELING OBAT
Proses yang sistematik untuk
mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah pasien yang berkaitan dengan
penggunaan obat

 Bukan hanya memberikan penerangan tentang obat


 Untuk mendapatkan informasi latar belakang pasien
 Memberi penekanan pada pendidikan pasien untuk ikut aktif
dalam regimen terapetik
 Melibatkan perubahan tingkah laku / sikap pasien terhadap
penggunaan obat
 Memberikan perhatian dan dukungan pada pasien mengenai
terapinya
22
PASIEN – PASIEN YANG HARUS DIBERIKAN KONSELING

1. PASIEN YANG DIRUJUK OLEH DOKTER


2. PASIEN DENGAN PENYAKIT TERTENTU (KRONIS)
Misalnya :
◦ penyakit jantung
◦ penyakit darah tinggi
◦ penyakit kencing manis
◦ penyakit epilepsi
◦ penyakit – penyakit kronik lainnya
3. PASIEN YANG MENERIMA OBAT – OBAT TERTENTU
Misalnya :
◦ Obat dengan pengawasan tertentu
Contoh : warfarin
◦ Obat berindeks terapetik sempit
Contoh : digoksin
◦ Obat yang memerlukan teknik administrasi tertentu
Contoh : inhaler, insulin
4. PASIEN GERIATRIK, PEDIATRIK, SELESAI DIRAWAT, MENDAPAT
OBAT YANG BANYAK DAN REGIMEN TERAPETIK YANG
MENGELIRUKAN
23
HAMBATAN KONSELING
(dari Apoteker)

 Tidak punya waktu


 Pemahaman yang kurang
 Rendahnya pengetahuan
 Rendahnya kepercayaan diri
 Rendahnya hubungan pasien dengan apoteker
 Rendahnya ketrampilan berkomunikasi

24
HAMBATAN KONSELING
(dari Pasien)

 Tidak punya waktu


 Pasien menganggap apoteker tidak mau berbicara
dengan pasien
 Rendahnya persepsi pasien terhadap apoteker
 Kondisi kesehatan/kondisi fisik pasien juga
menghambat komunikasi
 Kesulitan untuk mengerti (pilih bahasa yang
tepat)
 Buta aksara
HAMBATAN KONSELING
(dari Sarana)

 Tingkat kebisingan
◦ Orang berbicara, telpon, suara musik
◦ Menjawab telpon, didengar orang lain
 Ketersediaan ruangan
 Ketersediaan sarana di dalam ruangan
27
TAHAPAN KONSELING

 Pengenalan
 Penilaian
 Pelaksanaan Konseling
 Pengujian (Verifikasi)

28
TAHAPAN KONSELING
 Pengenalan
Memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan
konseling
 Penilaian
Tujuan: Menilai pemahaman pasien tentang
obat yang diberikan (jika perlu
hubungannya dengan penyakit yang
diderita)
Teknik: - Prime Question (masalah utama)
dengan open ended question
-Show and tell (perlihatkan dan
terangkan)

29
TAHAPAN KONSELING
 Pelaksanaan konseling
Tujuan : Untuk mendidik pasien, agar mengerti
tentang obatnya dan mengubah sikapnya
sehingga mengikuti regimen terapetik
Gunakan kemahiran komunikasi lisan dan bukan
lisan serta teknik Show and Tell
 Pengujian (Verifikasi)
Tujuan : Untuk memastikan bahwa pasien
memahami dan mengerti apa yang sudah
kita terangkan
Fill in the gaps, betulkan atau tambahkan jika ada
yang terlupa. Jawablah jika ada pertanyaan dari
pasien 30
THREE PRIME QUESTIONS
 Bagaimana penjelasan dokter, tentang obat
yang digunakan, masalah dan gejala yang ingin
dihilangkan, apa yang harus dilakukan, tujuan
terapi, life style
 Bagaimana penjelasan dokter tentang cara
pakai obat anda?
 Bagaimana penjelasan dokter tentang harapan
setelah minum obat?

31
PENJELASAN CARA PAKAI OBAT

 Berapa kali minum obat


 Berapa banyak minum obat
 Berapa lama harus diminum
 Bagaimana bila lupa satu dosis
 Bagaimana cara menyimpan obat
 Dosis dan cara pakai

32
HARAPAN SETELAH MINUM OBAT

 Apa yang anda harapkan


 Bagaimana anda tahu obat bekerja atau tidak
 Efek samping apa yang harus diperhatikan?
 Apa yang harus dilakukan kalau hal tersebut
terjadi?
 Apa yang harus diperhatikan sewaktu
minum obat ini?

33
FINAL VERIFICATION
 Minta pasien untuk mengulang instruksi
 Untuk meyakinkan bahwa pesan tidak ada
yang terlewatkan
 Koreksi bila ada kesalahan informasi
 Beri kesempatan pasien jika ingin bertanya
lagi.

34
SHOW and TELL
 Guna : Untuk memastikan pemahaman pasien &
pemakaian obat yang telah dipakai sebelumnya
dengan benar
 Apoteker mulai dengan menunjukkan obat
kepada pasien, misalnya membuka botol
kemudian pasien menceritakan bagaimana
memakai obat tersebut. Apoteker menuntun
dialog dgn modifikasi Three prime question
misalnya: untuk apa minum obat ini, bagaimana
cara meminumnya, masalah yang dialami pasien.
35
SARANA PENUNJANG

 Ruang atau tempat konseling


 Alat bantu konseling.

36
KRITERIA RUANG
KONSELING (1)

 Tertutup dan tidak banyak orang keluar


masuk  sehingga privacy pasien terjaga dan
pasien lebih leluasa menanyakan segala
sesuatu tentang pengobatan.
 Tersedia meja dan kursi yang cukup untuk
konselor maupun klien (pasien).
 Mempunyai penerangan yang cukup dan
sirkulasi udara yang bagus.
37
KRITERIA RUANG
KONSELING (2)

 Letak ruang konseling tidak terlalu jauh dari


tempat pengambilan obat.

 Jika jumlah pasien banyak dan mempunyai


beberapa tenaga apoteker sebagai konselor,
sebaiknya ruang konseling lebih dari satu.

38
Ruang Konseling

39
Ruang Konseling

40
Perlengkapan Konseling(1)
 Panduan konseling  berisi daftar (check list)
untuk mengingatkan apoteker poin – poin
konseling yang penting.
 Kartu Pasien  berisi identitas pasien dan
catatan kunjungan pasien
 Literatur pendukung
 Brosur tentang obat-obat tertentu,
memberikan kesempatan kepada pasien
untuk membaca lagi jika lupa
41
Perlengkapan Konseling (2)

 Alat peraga, dapat menggunakan


audiovisual, gambar-gambar, poster, maupun
sediaan yang berisi plasebo.
 Alat komunikasi untuk mengingatkan pasien
untuk mendapatkan lanjutan pengobatan.

42
ALAT BANTU KONSELING

 Kartu pengingat pengobatan


 Etiket
 Medication chart
 Pil dispenser
 Kemasan penggunaan obat per dosis unit.

43
Kartu Pengingat Pengobatan

 Cocok untuk pasien yang sering kesulitan


mengingat waktu penggunaan obat
 Informasi yang bisa ditulis:
◦ Nama obat
◦ Jadwal penggunaan obat
◦ Jumlah obat
 Efektivitas metode ini sangat rendah.

44
45
Etiket

 Meskipun semua resep sudah disertai dengan


penandaan (etiket), tapi tidak sedikit pasien
yang merasa bingung terhadap informasinya.
◦ Contoh: 1 x 2 tablet atau 2 X1 tablet
diminum jika perlu

46
Medication Chart
 Berupa bagan waktu minum obat

 Biasanya dibuat untuk pasien dengan regimen


pengobatan yang kompleks atau pasien yang
sulit memahami regimen pengobatan

 Informasi dapat dituliskan dengan kode warna


atau simbol tertentu.

47
48
PIL DISPENSER

 Akan membantu pasien untuk mengingat


jadwal minum obat dan menghindari
kelupaan jika pasien melakukan perjalanan
jauh dari rumah

 Wadah pil dispenser bisa untuk persediaan


harian maupun mingguan.

49
50
Kemasan Penggunaan Obat per
Dosis Unit

 Pengemasan obat per unit dosis


membutuhkan biaya yang mahal
 Dapat dilaksanakan jika regimen pengobatan
terstandar dan/atau merupakan program
pemerintah.

51
EDUKASI
 Edukasi ?
Suatu Kegiatan untuk meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan dengan tujuan
menimbulkan perubahan sikap dan perilaku
dalam hal – hal yang berkaitan.

52
TUJUAN EDUKASI (1)
 Memberikan informasi yang sesuai dengan
kebutuhan spesifik setiap pasien.
◦ Apoteker harus memastikan berapa banyak yang
sudah diketahui pasien tentang pengobatan
◦ Apakah pasien mempunyai pandangan yang salah
tentang pengobatan
 Memberikan keterampilan dan teknik yang
dibutuhkan pasien untuk mengoptimalkan
terapi yang diresepkan bagi pasien tersebut.

53
TUJUAN EDUKASI (2)
 Menyajikan informasi dan arahan dengan
menggunakan metode edukasi yang cocok
untuk pasien tertentu dan dengan kondisi
tertentu.
 Mengedukasi tenaga profesional kesehatan
lain tentang hal – hal yang berhubungan
dengan obat.

54
METODE EDUKASI

 Ceramah
 Dialog dan Diskusi
 Informasi Cetak
 Metode Audiovisual
 Memperagakan dan Mempraktikkan Teknik
 Internet dan Edukasi dengan Bantuan
Komputer.

55
Ceramah

 Cara konvensional
 Sesuai untuk kelompok besar (kelompok masyarakat)
 diskusi perorangan tidak mungkin dilakukan
 Sering dianggap membosankan  perlu
dikombinasikan dengan metode audiovisual atau
diskusi kelompok
 Tujuan?
Memperbaiki perilaku, sikap dan pengetahuan pasien
 Tidak sesuai untuk konseling pasien secara
perorangan.

56
Dialog dan Diskusi

 Sebaiknya digunakan teknik yang


memungkinkan keterlibatan pasien dalam
diskusi  sehingga dapat mengetahui apa
yang sudah diketahui dan apa yang belum
diketahui
 Dialog dan diskusi tidak harus melalui tatap
muka langsung dapat melalui telepon
 Diskusi dapat melibatkan lebih dari satu
pembelajar (anggota keluarga pasien atau
beberapa pasien).
57
Informasi Cetak
 Semua obat disarankan memiliki lembar
informasi obat, sedangkan untuk obat OTC
wajib mencantumkan informasi obat
 Biasanya brosur belum mencantumkan efek
samping, peringatan, interaksi obat, mekanisme
kerja obat
 Metode ini cukup efektif apabila dikombinasi
dengan metode dialog dan diskusi
 Metode ini tidak sesuai untuk pasien yang
mengalami gangguan penglihatan atau buta
aksara.
58
Metode Audiovisual
 Secara umum pasien akan mudah
memahami apabila informasi diperoleh
dengan cara dilihat dan didengar
 Biaya pembuatan mahal, tapi materi dapat
digunakan berulang kali
 Metode ini paling efektif apabila dikombinasi
dengan diskusi bersama pasien sebelum
atau sesudah presentasi.

59
Memperagakan dan
Mempraktekkan Teknik

 Cara ini sesuai untuk memberikan informasi


penggunaan obat yang memerlukan teknik
khusus inhalasi atau injeksi sehingga dapat
mendeteksi kemungkinan kesalahan dan dapat
segera mengoreksi
 Setelah mendapat informasi teknik pemakaian,
pasien diberi kesempatan untuk
mempraktekkan teknik tersebut
60
Internet dan Edukasi Pasien
dengan Bantuan Komputer

 Untuk beberapa pasien, metode ini dapat


merupakan metode yang paling efektif
 Metode ini membutuhkan koneksi internet
atau perangkat lunak sistem informasi obat
 Yang penting adalah pemilihan sumber
informasi.

61
PEMILIHAN METODE
EDUKASI

 Lokasi
 Tingkat pengetahuan kesehatan pasien
 Tujuan pembelajaran.

62
4/24/2019 septimawanto_apt@yahoo.co.id 63