Anda di halaman 1dari 36

Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Rujukan

2013
LATAR BELAKANG

• Penduduk berlansia sesuai dengan


budaya Bangsa Indonesia menempati
tempat yang terhormat dalam keluarga
dan masyarakat, serta memiliki
kebijaksanaan dan pengalaman hidup
yang dapat dijadikan contoh serta
dimanfaatkan nasehatnya.
• Oleh karena itu, upaya peningkatan
kesejahteraan pada lansia salah
satunya diarahkan untuk
memperpanjang usia harapan hidup
dan masa produktif agar terwujud
kemandirian dan kesejahteraannya
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar
Tahun 2007 :
• umur harapan hidup (UHH) di Indonesia telah
meningkat dari 68,6 tahun
• pada tahun 2004 menjadi 70,5 tahun
• pada tahun 2007.
• Diharapkan pada tahun 2014 dapat naik
menjadi 72 tahun. (Sesuaikan dengan data
Profil Penduduk Lansia dari BPS tahun 2010,
UNFPA Older Person State 2012)—>akan di
email oleh Pak Nugroho.
Lanjutan
• Pasien lansia belum tentu pasien geriatri, tetapi pasien geriatri sudah pasti
lansia.

• Ada beberapa karakteristik pasien geriatri yang membedakannya dari


pasien lansia.

• Pasien geriatri umumnya sudah :

1. memiliki beragam penyakit kronik degeneratif


(multipatologi),
2. mengalami berbagai penurunan fungsi organ,
3. sering mengkonsumsi beragam obat baik yang dibeli
sendiri maupun yang diresepkan sehingga menimbulkan
efek samping akibat interaksi obat (polifarmasi).
4. Umumnya juga mengalami gangguan status gizi
(malnutrisi), gangguan kejiwaan, problem psikososial, dan
gangguan aktivitas hidup sehari-hari baik dasar (ADL) maupun
instrumental.
PRINSIP PELAYANAN KESEHATAN
PADA LANJUT USIA
• Prinsip Holistik
Prinsip holistik pada pelayanan kesehatan lansia m
enyangkut berbagai aspek, yaitu:
1. Seorang lansia harus dipandang sebagai
manusia seutuhnya, meliputi juga lingkungan
kejiwaan (psikologik) dan sosial ekonomi.
Aspek diagnostik penyakit pada penderita lansia
menggunakan asesmen geriatri, yang meliputi
seluruh organ, sistim, kejiwaan dan lingkungan
sosial ekonomi.
Lanjutan
2. Sifat holistik mengandung artian baik secara vertikal
atau horisontal. Secara vertikal berarti pemberian
pelayanan harus dimulai dari pelayanan di masyarakat sampai ke
pelayanan rujukan tertinggi (rumah sakit yang mempunyai
pelayanan subspesialis geriatri). Secara horisontal berarti
pelayanan kesehatan harus merupakan bagian dari pelayanan
kesejahteraan lansia secara menyeluruh. Oleh karenanya harus
bekerja secara lintas sektoral dengan dinas/lembaga terkait
di bidang kesejahteraan, misalnya agama, pendidikan dan
kebudayaan serta dinas sosial.

3. Pelayanan holisti k harus mencakup aspek promotif, pencegahan


(preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif).
Lanjutan
• Prinsip Tatakerja dan Tatalaksana Tim
Tim geriatri merupakan bentuk kerjasama multi-
disipliner yang bekerja secara interdisipliner
dalam mencapai tujuan pelayanan geriatri.
Pada tim multi disiplin kerjasama terutama
bersifat pada pembuatan dan penyerasian
konsep, sedangkan pada tim interdisiplin
kerjasama meliputi pembuatan dan penyerasian
konsep serta penyerasian tindakan.
PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN LANJUT USIA

Untuk mengupayakan prinsip pelayanan holistik yang


berkesinambungan dan secara berjenjang mulai dari
masyarakat, puskesmas dan rumah sakit.
Kontinuitas pelayanan kesehatan geriatri (geriatric
health care continuum) secara garis besar dapat
dibagi menjadi:
1. Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia Di Masyarakat
(Community Based Geriatric Service)
• Pada pelayanan ini, masyarakat harus diupayakan
berperan serta dalam menangani kesehatan para
lansia, semua upaya kesehatan yang dilaksanakan yaitu
pelayanan dari masyarakat, oleh dan untuk masyarakat.
Masyarakat diikutsertakan dalam pelayanan kesehatan
lansia, setelah diberikan pelatihan dan penambahan
pengetahuan secukupnya dengan berbagai cara antara
lain ceramah, simposium, lokakarya dan penyuluhan-
penyuluhan. Puskesmas dan dokter praktek swasta
merupakan tulang punggung layanan di tingkat ini.
Masyarakat memantau kondisi kesehatan lansia di
lingkungannya dan menyampaikan permasalahan yang
ada pada puskesmas setempat.
Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia Di Masyarakat
Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based
Community Geriatric Service)
• Rumah sakit setempat yang telah melakukan
layanan geriatri bertugas membina lansia yang
berada di wilayahnya, baik secara langsung atau
tidak langsung melalui pembinaan pada
Puskesmas yang berada di wilayah kerjanya
“Transfer of Knowledge” berupa lokakarya,
simposium, ceramah-ceramah baik kepada
tenaga kesehatan ataupun kepada awam perlu
dilaksanakan. Di lain pihak, rumah sakit harus
selalu bersedia bertindak sebagai rujukan dari
layanan kesehatan yang ada di masyarakat.
• Pada layanan ini, rumah sakit menyediakan berbagai
layanan bagi para lansia,a.l.
Mulai dari layanan sederhana berupa poliklinik
lansia, sampai pada layanan yang lebih maju,
misalnya bangsal akut, klinik siang terpadu (day
hospital), bangsal kronis dan/atau panti rawat
wredha (nursing home).

• Rumah sakit jiwa juga menyediakan layanan kesehatan jiwa


bagi lansia dengan pola yang sama.
Pada tingkat ini, sebaiknya dilaksanakan suatu layanan
terkait (con-joint care) antara unit geriatri rumah sakit
umum dengan unit psikogeriatri suatu rumah sakit jiwa,
terutama untuk menangani penderita fisik dengan
komponen gangguan psikis berat atau sebaliknya.
KLASIFIKASI PELAYANAN GERIATRI DI RUMAH SAKIT

NO. JENIS LAYANAN SEDERHANA LENGKAP SEMPURNA PARIPURNA

Layanan R.Jalan v v v V
1.
2. Layanan R.I Akut - v v v
3. Layanan Home Care v v v v

Layanan Klinik
4. - - v v
Asuhan Siang

5. Layanan R.I Kronik - - - v

Layanan Respite
6. Care/ Tempat - - - v
Penitipan Lansia

7. Hospice - - - v
KETENAGAAN
Tenaga medis
• Dokter spesialis penyakit dalam konsultan
geriatri, yaitu dokter spesialis penyakit dalam
yang telah melanjutkan pendidikan spesialis-II
konsultan di bidang sub-disiplin ilmu geriatri il
mu penyakit dalam.

• Dokter spesialis penyakit dalam, yaitu dokter


yang telah menyelesaikan pendidikan program
studi dokter spesialis penyakit dalam.
LANJUTAN
• Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi
yaitu dokter yang telah menyelesaikan pendidika
n program studi spesialis kedokteran fisik dan re
habilitasi dan telah mendapat pelatihan khusus
rehabilitasi geriatri.
• Psikiater yaitu dokter yang telah menyelesaikan
pendidikan program studi spesialis psikiatri.
• Dokter spesialis lain yang terlibat sesuai dengan
penyakitnya.
• Dokter umum, yaitu dokter umum yang telah me
ndapatkan pelatihan geriatri.
LANJUTAN
Tenaga kesehatan lainnya :
• Perawat adalah seseorang yang telah lulus pe
ndidikan perawat minimal D3, baik di dalam m
aupun di luar negeri sesuai dengan peraturan
perundangan-undangan dan yang telah mend
apat pelatihan keperawatan gerontik.
• Tenaga kefarmasian apoteker yang telah meng
ikuti kursus atau pelatihan farmasi klinik.
• Tenaga gizi adalah nutrisionis dan dietisien.
• Tenaga keteknisian medis.
• Tenaga keterapian fisik :
Fisioterapis adalah tenaga kesehatan yang telah
menyelesaikan pendidikan program studi Ahli Ma
dya Fisioterapi.
Okupasi Terapis adalah tenaga kesehatan yang
telah menyelesaikan pendidikan program studi
Ahli Madya Okupasi Terapi.
Terapis Wicara adalah tenaga kesehatan yang tela
h menyelesaikan pendidikan program studi Ahli
Madya bidang Terapi Wicara.

Tenaga non kesehatan :


• Psikolog.
• Pekerja sosial.
KLASIFIKASI KETENAGAANPELAYANAN GERIATRI
DI RUMAH SAKIT
NO. JENIS TENAGA SEDERHANA LENGKAP SEMPURNA PARIPURNA
Dokter spesialis
penyakit dalam, - - v V
1.
Konsultan Geriatri
Dokter spesialis
2. V v v v
penyakit dalam
Dokter spesialis
3. kedokteran fisik - v v v
dan rehabilitasi
Dokter spesialis
4. kedokteran - V v v
jiwa/psikiater
Dokter spesialis
5. V V V v
lainnya
6. Dokter umum V V V v
7. Perawat V V V v
KLASIFIKASI KETENAGAAN PELAYANAN GERIATRI DI RS

NO. JENIS TENAGA SEDERHANA LENGKAP SEMPURNA PARIPURNA

8. Tenaga kefarmasian V V v V

9. Tenaga gizi V v v v

10 Fisioterapis V v v v

11 Okupasi terapis V V v v

12 Terapis wicara - - V v

Tenaga keteknisian
13 - - V v
medis

Psikolog ,
14 - V V v
Pekerja Sosial
SARANA ,PRASARANA & PERALATAN
LOKASI
• Lokasi gedung sebaiknya :
di daerah ruang perawatan, tetapi berdekatan
dengan rehabilitasi medik dan sebaiknya
berdekatan dengan akses masuk rumah sakit,
sehingga mudah dicapai oleh pasien, yang
umumnya lemah secara fisik.
Jika area tidak mencukupi, day care dapat
terpisah dengan ruangan lain tetapi jangan
terlalu jauh.
Kebutuhan Ruangan

• Ruang tunggu
Harus bersih dan cukup luas, aman dan nyaman,
baik untuk pasien dari luar ataupun dari bangsal
yang menggunakan kursi roda atau tempat tidur.

• Ruang pendaftaran administrasi


Ruangan ini harus cukup luas untuk penempatan
meja tulis, lemari arsip untuk penyimpanan me
dical record pasien, letaknya dekat dengan r
uang tunggu, sehingga
mudah dilihat oleh pasien yang baru datang.

• Ruang tenaga staf dan ruang pertemuan
Terdiri dari:ruang ketua tim;
– ruang staf;
– 1 (satu) ruang pertemuan untuk tim;
– ruang istirahat karyawan dan pantry; dan
– kamar kecil untuk karyawan.
Ruang poliklinik
Ruangan ini dekat dengan ruang pendaftaran
serta dilengkapi dengan fasilitas dan alat-alat
pemeriksaan. Ruangan terdiri dari:
– ruang periksa perawat geriatri dan sosial medik un
tuk melakukan anamnesis;
– ruang periksa dokter/tim geriatri;
– WC dan kamar mandi; dan
– ruangan diskusi tim geriatri atau pertemuan denga
n keluarga pasien (family meeting).
Ruang day care (klinik asuhan siang)
Ruang ini harus luas serta dilengkapi dengan pembagian r
uangan, masing-masing untuk:
– ruang istirahat dengan tempat tidur dan atau kursi bersand
aran tinggi dilengkapi penyangga kaki;
– ruang tindakan/periksa bila dibutuhkan;
– ruang untuk latihan/gimnasium/olahraga ringan;
– ruang simulasi aktivitas sehari-hari (dapur kecil dengan per
lengkapannya, kamar kecil, dan lain-lain);
– ruang untuk rekreasi/ hobi, merangkap ruang makan bersa
ma;
– WC/kamar mandi yang jumlahnya disesuaikan dengan juml
ah pengunjung dan staf;
– Ruangan assessment dan sosialisasi;
– Ruang terapi okupasi; dan
– Ruang tamu, mebel dan pantry set.
Ruang bangsal geriatri akut
• Ruang ini harus cukup luas, dan setidaknya harus mempunyai fas
ilitas:
– Bangsal perawatan berkapasitas antara 10-12 tempat tidur, terbagi
atas pria dan wanita dengan bel terpasang disetiap dinding tempat
tidur.
– Ruang semi intensif dengan minimal 1 (satu) tempat tidur, terbagi a
tas pria dan wanita (disesuaikan dengan kemampuan dan perkemb
angan).
– Ruang dokter.
– Ruang rehabilitasi akut.
– Ruang perawat, dengan lokasi yang memungkinkan untuk perawat
melihat semua pasien yang sedang dalam perawatan.
– Kamar mandi dan WC yang jumlahnya sesuai dan dilengkapi denga
n fasilitas dan persyaratan untuk pasien lansia.
– KM/WC khusus untuk perawat dan pengunjung.
– Ruang rapat kecil.
– Gudang.
Ruang bangsal geriatri kronis
• Ruang ini harus cukup luas dan pada dasarnya perl
u dilengkapi dengan fasilitas dan perlengkapan
seperti pada bangsal akut. Ukuran/kapasitas ruang
lebih besar dari bangsal akut, kurang lebih 30-40
tempat tidur, masing-masing untuk pria dan wanita
.
• Perlengkapan fasilitas, sarana dan prasarana rehab
ilitasi medis sesuai dengan perlengkapan untuk
day care. Sebaiknya ruang ini mempunyai taman
yang cukup luas dengan area tempat berjemur
pasien serta dilengkapi kolam dengan air mengalir.
Ruang tempat penitipan lansia (respite care)
• Ruang ini mirip dengan ruang rawat kronis namun
terdiri atas kamar/kamar mirip pavilion yang
bertujuan memberikan privacy bagi pasien dengan
fasilitas seperti perpustakaan, ruang bersosialisasi
dan taman untuk latihan berjalan
(taman mobilisasi).

• Sebaiknya juga terdapat ruang untuk pertemuan de


ngan keluarga pasien yang bergabung dengan ruang
assessment/ruang rapat.
Hospice Care
• Hospice care merupakan ruang perawatan
bagi pasien paliatif di rumah sakit.
• Perlengkapan fasilitas, sarana dan prasarana
rehabilitasi medis hospice care sesuai dengan
perlengkapan untuk day care.
Sebaiknya ruang ini mempunyai taman yang
cukup luas dengan area tempat berjemur
pasien serta dilengkapi kolam dengan air
mengalir.
KRITERIA PASIEN GERIATRI
Telah diketahui bahwa penyakit dan status kesehata
pada lansia tidak sama dengan penyakit dan
kesehatan pada populasi golongan usia lainnya,
yaitu dalam hal:
• penyakit pada lansia cenderung bersifat multipel,
merupakan gabungan antara penurunan fisiologik
dan berbagai proses patologik;
• penyakit biasanya berjalan kronis, menimbulkan ke
cacatan dan secara lambat laun akan menyebabka
n kematian;
• pada pasien geriatri sering ditemukan gangguan st
atus fungsional;
lanjutan

• lansia juga sangat rentan terhadap berbagai p


enyakit akut, serta diperberat dengan kondisi
anergi;
• terutama pada serangan akut, tampilan klinis
pasien geriatri seringkali tidak khas sehingga s
ering menyulitkan diagnosis;
• kesehatan lansia sangat dipengaruhi oleh fakt
or psikis, sosial dan ekonomi;
lanjutan
• pada lansia seringkali didapatkan sindrom geriatri
(misalnya: imobilitas, instabilitas postural, inkontinensia
urin dan alvi, gangguan fungsi intelektual dan kognitif
seperti demensia, dll yang juga lazim dikenal sebagai geria
tric giants);
• perawatan paliatif (hospice care).
Seperti diungkapkan di atas, masalah kecacatan baik
keadaan yang sering dihadapi oleh pasien lansia,
sehingga WHO membuat rekomendasi agar
diagnosis yang dibuat pada pasien lansia bukan hanya
bersifat disease atau impairment saja, akan tetapi
mencakup pula segi disabilitas dan handicapnya.
Pelayanan di Rumah Sakit dengan Pelayanan
Geriatri Sederhana
Pasien lansia

Triase di setiap
Polikilinik Rawat Jalan (Poliklinik)
Departemen/UGD Asesmen dan konsultasi
Kuratif
Intervensi psikososial
Asesmen geriatri ko Rehabilitasi
mprehensif oleh tim
terpadu poli geriatri

Masalah Geriatri:
Kondisi medis umum
Rencana Tatalaksana Home Care/ Asu
Status fungsional
Komprehensif oleh tim han Rumah
Psikiatri: Status mental, fungsi ko
terpadu poli geriatri
gnitif
Sosial dan lingkungan
Pelayanan di Rumah Sakit dengan Pelayanan
Geriatri Lengkap
Pasien lansia Rawat Jalan (Poliklinik)
Asesmen dan konsultasi
Kuratif
Triase di setiap Intervensi psikososial
Polikilinik Rehabilitasi
Departemen/UGD
Rawat Inap Akut
Asesmen dan konsultasi
Asesmen geriatri kompr Kuratif
ehensif oleh tim terpadu p Intervensi psikososial: ter
oli geriatri api kelompok
Psikoedukasi keluarga
Rehabilitasi
Masalah Geriatri:
Kondisi medis umum
Rencana Tatalaksana
Status fungsional
Komprehensif oleh tim
Psikiatri: Status mental, fungsi ko
terpadu poli geriatri home care/
gnitif
asuhan rumah
Sosial dan lingkungan
Pelayanan di Rumah Sakit dengan Pelayanan
Geriatri Sempurna
Rawat Jalan (Poliklinik)Asesmen dan
Pasien lansia konsultasiKuratifIntervensi psikososial
Rehabilitasi

Triase di setiap
Polikilinik Rawat Inap AkutAsesmen dan konsultasi
Departemen/UGD KuratifIntervensi psikososial: terapi
kelompokPsikoedukasi keluarga
Rehabilitasi
Klinik Asuhan Siang
Asesmen geriatri kompr Terapi terpadu (preventif, kuratif, rehabilit
ehensif oleh tim terpadu p atif)RekreasiCognitive remediationReminis
oli geriatri cenceLife reviewTerapi aktivitas

Masalah Geriatri: Respite care/Tempat Penitipan Lansia


Kondisi medis umum
Status fungsional Rencana Tatalaksana home care/
Psikiatri: Status mental, fungsi ko Komprehensif oleh tim asuhan rumah
gnitif terpadu poli geriatri
Sosial dan lingkungan
• PENCATATAN PELAPORAN
• SISTEM RUJUKAN
• PEMBIAYAAN