Anda di halaman 1dari 12

 Permendagri No.

43 Tahun 2016 Tentang


Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas
Desa
Penetapan dan penegasan batas Desa bertujuan
untuk menciptakan tertib administrasi
pemerintahan, memberikan kejelasan dan
kepastian hukum terhadap batas wilayah suatu
Desa yang memenuhi aspek teknis dan yuridis.
 a.penetapan batas Desa;
 b.penegasan batas Desa;dan
 c.pengesahan batas Desa.
 Tim PPB Des Pemerintah Pusat;
 Tim PPB Des Provinsi; dan
 Tim PPB Des Kabupaten/Kota.
1. Tahapan Penetapan Batas Desa:
a. Pengumpulan dan Penelitian Dokumen, seperti:
1) dokumen yuridis pembentukan Desa;
2) dokumen historis; dan
3) dokumen terkait lainnya.
Dokumen tersebut kemudian diteliti untuk mendapatkan indikasi awal garis
batas.
b. Pemilihan Peta Dasar
Menggunakan Peta Citra Tegak Resolusi Tinggi Pleiades dengan resolusi 50 cm,
yang telah dimiliki Pemerintah Daerah.
c. Pembuatan Garis Batas di Atas Peta
Melakukan delineasi garis batas secara kartometrik.
2. Tahapan Penegasan Batas Desa:
a. pengumpulan dan penelitian dokumen;
b. pembuatan peta kerja;
c. pelacakan dan penentuan posisi batas;
d. pemasangan dan pengukuran pilar batas; dan
e. pembuatan peta batas Desa.
3. Tahapan Pengesahan Batas Desa:
 Tim PPB Desa Kabupaten Temanggung
selanjutnya menyusun Rancangan Peraturan
Bupati (RAPERBUP) tentang peta penetapan
batas Desa/ Kelurahan berdasarkan hasil
kesepakatan bersama.
 Setiap pentahapan dituangkan dalam BERITA
ACARA kesepakatan antar Desa/ Kelurahan
yang berbatasan.
 Sering kali dalam Penataan Batas Wilayah
terjadi permasalahan/ perselisihan terhadap
batas yang ada, misal: alur sungai yang
berpindah, maupun batas alam yang kurang
jelas. Bila terjadi permasalahan/ perselisihan
perlu dilakukan penyelesaian perselisihan
batas desa/ kelurahan secepatnya agar tidak
terjadi konflik di lapangan.
1. Perselisihan Antar Desa
Diselesaikan secara musyawarah/ mufakat dan difasilitasi
oleh Camat dengan dituangkan dalam Berita Acara.
2. Perselisihan Antar Desa Beda Kecamatan
Diselesaikan secara musyawarah/ mufakat dan difasilitasi
oleh Bupati dengan dituangkan dalam Berita Acara.
3. Perselisihan Antar Desa Beda Kabupaten
Penyelesaiannya mengacu pada ketentuan peraturan
perundang-undangan tentang batas daerah. Penyebab
konflik perselisihan batas desa yang sering terjadi, antara
lain disebabkan:
a. perebutan batas daerah;
b. perebutan sumberdaya yang ada di desa tersebut,
seperti: perkebunan, pertanian, pertambangan,
pariwisata dll.
Prinsip-prinsip Penarikan Batas Wilayah dapat
dilakukan dengan memperhatikan:
 Penanda alam (misal: sungai, watershed dan
danau);
 Penanda buatan (misal: jalan, rel kereta api,
saluran irigasi dan kanal).
Untuk batas jalan, jalan kereta api, saluran
irigasi, dan kanal, dapat digunakan as (sumbu)
atau tepinya sebagai tanda batas wilayah
antara dua desa yang berbatasan sesuai
kesepakatan dua desa yang berbatasan.
Spesifikasi pilar batas ada 2 (dua) jenis, yaitu:
 Pilar Batas Utama (PBU), yaitu pilar batas yang
dipasang tepat pada garis batas;
 Pilar Acuan Batas Utama (PABU), yaitu pilar batas
yang dipasang tidak tepat pada garis batas.
Sedangkan bentuk dan ukuran pilar batas memiliki
standar yang telah ditetapkan, yaitu: Pilar Batas
Desa dalam satu kecamatan terbuat dari campuran
beton bertulang. Ukuran pilar batas:
 Panjang 20 cm;
 Lebar 20 cm;
 Tinggi dari permukaan tanah 40 cm; dan

 Kedalaman dalam tanah 75 cm.