Anda di halaman 1dari 13

ASFIKSIA

NEONATUS
DEFINISI

Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi


baru lahir yang tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur dalam satu
menit setelah lahir (Mansjoer, 2000).
Etiologi

 Faktor ibu
 Faktor plasenta
 Faktor fetus
 Faktor lama persalinan
 Faktor antepartum
 Faktor Intrapartum
Patofisiologi
Dalam kehidupan intrauterin paru-paru tidak berperan dalam pertukaran gas.
Dalam keadaan hamil, alveoli janin berisi cairan yang dibentuk dalam paru-paru.
Pada saat kelahiran diperlukan tekanan yang besar untuk mengeluarkan cairan
tersebut sehingga paru-paru dapat berkembang untuk pertama kalinya.
Pernafasan pertama memerlukan tekanan 2-3 kali lebih tinggi daripada pernafasan
selanjutnya.
Pada saat proses persalinan, kontraksi uterus dapat mempercepat
pengeluaran cairan, sebagian cairan paru masuk rongga perivaskuler dan
diabsorbsi ke dalam aliran darah dan limfe paru-paru. Pada saat bayi bernafas
alveoli akan mengembang sehingga cairan paru-paru akan berganti dengan
udara.
Lanjutan…
Masalah pengeluaran cairan paru terjadi pada bayi yang paru-parunya tidak
berkembang dengan baik saat pernafasan pertama. Ini dapat dilihat pada bayi
lahir dengan apnea. Bayi yang tidak pernah bernafas dapat diasumsi bahwa
pangembangan alveoli tidak terjadi dan tetap terisi cairan. Melakukan pernafasan
buatan pada bayi seperti ini diperlukan tekanan tambahan.
Klafisikasi

 Asiksia Berat (nilai APGAR 0-3)


 Asfiksia Sedang ( nilai APGAR 4-6)
 Asfiksia Ringan ( nilai APGAR 7-9)
Pemeriksaan APGAR untuk
bayi Klinis 0 1 2
Detak jantung Tidak ada < 100 x/menit >100x/menit

Pernafasan Tidak ada Tak teratur Tangis kuat


Refleks saat jalan Tidak ada Menyeringai Batuk/bersin
nafas dibersihkan

Tonus otot Lunglai Fleksi ekstrimitas Fleksi kuat gerak


(lemah) aktif
Warna kulit Biru pucat Tubuh merah Merah seluruh
ekstrimitas biru tubuh

Nilai 0-3 : Asfiksia berat


Nilai 4-6 : Asfiksia sedang
Nilai 7-10 : Normal
MANIFESTASI KLINIS
Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt,
halus dan ireguler
Pada bayi setelah lahir
 Bayi pucat dan kebiru-biruan
 Usaha bernafas minimal atau tidak ada
 Perubahan fungsi jantung
 Menangis kurang baik/tidak baik
KOMPLIKASI
 Asidosis respiratorik
 glikolisis glikogen tubuh
 Hilangnya sumber glikogen dalam jantung
 Terjadinya asidosis metabolik
 Kerusakan sel otak
 Edema otak
 Gangguan kognitif, gangguan tingkah laku, retardasi mental, epilepsi atau
cerebral palsy
PENATALAKSANAAN

a. Prinsip dasar resusitasi (Wiknjosastro, 2001)


 Memberikan lingkungan yang baik pada bayi dan
mengusahakan saluran pernafasan yaitu agar oksigenasi dan
pengeluaran CO2 berjalan lancar.
 Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang
menunjukkan usaha pernafasan lemah.
 Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi.
 Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik.
b. Kriteria bayi yang perlu resusitasi
 Apnea primer
 Apena sekunder

c. Tindakan resusitasi bayi : A B C resusitasi


 Assesment / Airway / Agitatim
 Breathing
 Circulation / Cardiac
Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan
Pengkajian
 Identitas orang tua
 Identitas bayi baru lahir
 Riwayat Persalinan
 Pemeriksaan fisik
Keadaan umum tampak lemah
Mata : kaji apakah sclera icterus atau tidak
Hidung : biasanya terdapat pernafasan cuping hidung
Mulut : kaji apakah mukosa bibir sianosis atau tidak.
Dada : inspeksi adanya retraksi dada
Frekuensi nafas: kaji apakah frekuensi nafas meningkat atau tidak, apnea atau tidak
Jantung : denyut jantung mengingkat atau tidak
Paru-paru: masih terdengar suara nafas tambahan ( ronkhi basah +)
Kulit : warna kulit sianosis
Suhu tubuh: menurun atau meningkat? Biasanya pada pasien asfiksia suhu tubuhnya menurun
DIAGNOSA KEPERAWATAN

 Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi


 Hipotermi berhubungan dengan terpapar lingkungan dingin
 Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d obstruksi lendir
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kelemahan