Anda di halaman 1dari 31

PRESENTASI KASUS

DEMAM THYPOID

Program Internsip Dokter


OLEH : dr. Ardya Garry Suseno
Indonesia
PEMBIMBING : dr. Retnaning
RSUD Temanggung
I. IDENTITAS
Nama : An. S

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 12 tahun

Alamat : Kranggan

Tanggal masuk RS : 31 Juli 2018


II. ANAMNESIS
 KELUHAN UTAMA : Demam sejak 6 hari yang lalu disertai mual dan muntah

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :6 hari anak demam tinggi, naik turun, pada pagi
dan siang hari panas nglemeng dan pada malam hari panas tinggi, tidak menggigil,
tidak keluar keringat banyak saat panas turun, tidak kejang, saat panas tinggi anak
pernah mengigau, mata tidak tampak kuning, tidak ada keluar bintik-bintik merah
seperti digigit nyamuk, tidak mimisan, tidak ada gusi berdarah, tidak ada keluar
cairan dari telinga, tidak batuk, tidak pilek, anak tidak rewel saat makan-minum
 tidak ada nyeri perut, tidak ada kencing berwarna merah, tidak anyang-anyangen, BAB hitam
seperti petis disangkal, tidak ada sulit buang air besar, tidak ada diare , 1 hari sebelum masuk RS
anak muntah ±4 kali, , masing-masing 1/4 gelas aqua, muntahan seperti yang dimakan dan
diminum, anak tidak kehausan, tidak ada mata cekung, BAB Cair 4x ada ampas.

Riwayat penyakit dahulu :


Anak belum pernah sakit panas seperti ini yang harus dirawat di rumah sakit.

 Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang sedang sakit seperti ini

 Riwayat personal sosial : tidak ditemukan data yang mendukung


III. PEMERIKSAAN FISIK
 STATUS GENERALIS
- Keadaan umum : Lemas
- Kesadaran : Composmentis (GCS : 15)
 VITAL SIGN
- Suhu : 38.4 o C
- Nadi : 104 x/menit
- Respirasi : 23 x/menit
- Berat Badan : 39 kg
 HEAD TO TOE
Kepala : mesosefal
Mata : Sklera ikterik -/-, conjunctiva anemis -/-
Leher : Simetris, Pembesaran limfonodi (-), Pembesaran tiroid (-)
Thorax:
Paru
• Inspeksi : Simetris statis dan dinamis, jejas (-), retraksi (-)
• Palpasi : NT (-) Stem fremitus paru kanan=kiri, nyeri tekan (-)
• Perkusi : Sonor
•Auskultasi : SDV (+) normal, ST (-) BJ 1-2 regular
Abdomen:
 Inspeksi : Datar, distensi (-), jejas (-)
 Auskultasi : BU (+) normal
 Perkusi : Timpani
 Palpasi : Supel, defans muscular (-), nyeri tekan (-), nyeri alih (-)
Ekstremitas :

Superior Inferior

Akral Dingin -/- -/-

Sianosis -/- -/-

Petechie -/- -/-

Capillary Refill Time <2"/<2” <2"/<2”

Refek Fisiologis +N/+N +N/+N

Edema -/- +/+


IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM
Jenis Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 13,8 13.2 - 17.3 g/dL
Hematokrit 37 35 - 45 g/dL

AL 2,5 (L) 5.0 – 13.0


AE 5,30 4.00 – 5.30
AT 49 (LL) 150 – 440

Netrofil 60,7 (H) 32.0 – 52.0


Limfosit 24,9(L) 30.0 – 60.0
Monosit 11,6(H) 2.0 – 8.0

Eosinofil 0,4(L) 2-4

Basofil 2,4(H) 0-1


Thypi O (+)1/80 Negatif
Thypi H (+)1/320 Negatif
V. DIAGNOSIS
Thypoid Fever
VI. PENATALAKSANAAN

Inf. Asering
Inj. Ranitidine 2x1
Inj. Ondansetron 3x1
Inj. Cefotaxime 2x1
L-bio 2x1
Zinc 1x1
Paracetamol 3x1
New Diatap 2tab/diare
PEMBAHASAN
I. DEFINISI
Demam tifoid disebut juga dengan typus abdominalis atau typoid fever. Demam tifoid
ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan (usus halus)
dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran
pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.
II.ETIOLOGI
 Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi
dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatip, tidak membentuk
spora, motil, berkapsul dan mempunyai flagella. Salmonella typhi mempunyai 3
macam antigen, yaitu :
 Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin.
Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap
formaldehid.
 Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.
 Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman. Kapsul, merupakan
kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis
(antigen permukaan).
III. PATOGENESIS
Perdarahan usus
Kuman salmonella thypi

Mulut Menetap

Lambung Usus halus Ileum terminal Feses

Sebagian musnah Lamina propria


VF
Asam lambung  Mencapai plaques peyeri
makrofag
Mual, muntah Aliran darah Kelenjar limfe mesenterika

Bakteremia sekunder
Keluar
Hepar Bakteremia primer Lien simtomatik
makrofag
asimtomatik
Salmonella typhii

Endotoksin

reseptor sel endotel kapiler seluruh organ


ekstraintestinal
IV GEJALA KLINIS
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan
penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 - 20 hari. Setelah masa inkubasi
maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri
kepala, pusing dan tidak bersemangat.
Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukann, yaitu : Demam,Gangguan
pada saluran pencernaan, penurunan kesadaran
V. DIAGNOSIS
Anamnesis
Pada demam tifoid didapatkan demam naik secara bertahap tiap hari, mencapai suhu
tertinggi sampai 40oC pada akhir minggu pertama. Anak sering mengigau (delirium), malaise,
letargi, anoreksia, nyeri kepala, nyeri perut, diare atau konstipasi, muntah, perut kembung.
Pada demam tifoid berat dijumpai penurunan kesadaran, kejang dan ikterus. Terjadi
Bradikardia relatif yang tidak seimbang dengan kenaikan suhu tubuh. Walaupun diare bisa
terjadi selama stadium permulaan, konstipasi adalah keluhan yang lebih menonjol bila
penyakit berlanjut. Terdapat nyeri tekan abdomen yang lazim ditemukan. Terdapat riwayat
makan atau minum yang kurang bersih.
Pada minggu kedua, sebagian kecil penderita mengalami bintik-bintik merah, yang
merupakan lesi eritematosa yang dapat diraba dan diskret pada kulit badan yang
merupakan kumpulan dari sel mononuklear.
Pemeriksaan Fisik
Gejala klinis bervariasi dari yang ringan sampai berat dengan komplikasi. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan suhu badan meningkat, lidah tifoid/ lidah
kotor, meteorismus, hepatomegali, kadang splenomegali dan ronki pada
pemeriksaan paru, pada tingkat lanjut ditemukan kesadaran menurun, dan delirium
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Pemeriksaan hitung jenis dapat terjadi aneosinofilia, limfositosis relatif dan leukopeni
Sering dijumpai trombositopenia
UJI WIDAL
Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antibodi aglutinin dalam serum penderita
yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O)
dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi
aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan
titer antibodi dalam serum. Uji widal dinyatakan positif bila titer O = 1/200 atau
lebih atau menunjukkan adanya kenaikan titer O lebih dari 4 kali dalam seminggu.
TES TUBEX
lebih sensitif dan lebih spesifik daripada uji widal
Hasil pemeriksaan Tubex dibaca segera sampai dengan beberapa jam
berdasarkan reaksi warna. Warna merah  - , warna biru  +
1 – 3 : Negatif
4 – 5 : positif lemah
6 – 10: positif kuat
Mendeteksi antibodi salmonela O9
KULTUR
Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi
dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum.

Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif
tidak menyingkirkan demam tifoid
VI DIAGNOSA BANDING
Diagnosis banding febris >5 hari antara lain infeksi saluran kemih dan demam tifoid.
Pada kasus ini leptospirosis dapat disingkirkan karena dari anamnesis tidak ada riwayat
tempat tinggal banyak tikus dan tergenang air dan pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan
adanya ikterik dan nyeri gastroknemius.
Malaria dapat disingkirkan karena pada anamnesis tidak didapatkan pola demam malaria
yaitu periodik intermitten serta riwayat bepergian ke daerah endemis malaria.
Diagnosa TB paru juga dapat disingkirkan melalui anamnesis tidak adanya keluhan batuk
yang lama (> 3 minggu) atau kontak dengan orang dewasa yang dicurigai TB. Hasil
pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya pembesaran nnll baik di leher, aksila maupun
inguinal. Skoring TB juga didapatkan nilai 0 tanpa uji tuberculin dan x-foto thorax.
Sedangkan infeksi saluran kemih dapat disingkirkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
disik maupun penunjang, tidak didapatkan keluhan anak nyeri saat BAK ataupun kencing
berwarna merah.
VII. TATALAKSANA
 Istirahat tirah baring dan perawatan professional dengan tujuan mencegah komplikasi dan
mempercepat penyembuhan. Perlu dijaga kebersihan tempat tidur, pakaian dan perlengkapan yang
dipakai serta hygiene perorangan.
 Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif)

Asupan cairan dan kalori bila perlu diberikan melalui sonde lambung,
terutama pada demam tinggi, muntah atau diare. Kebutuhan volume cairan
intravascular dan jaringan harus dipenuhi dengan pemberian oral/parenteral.
Diberikan makanan tidak berserat dan mudah dicerna, dan setelah demam
reda, dapat segera diberikan makanan yang lebih padat dengan kalori
cukup. Antipiretik diberikan apabila demam > 380C
 Antibiotik

Pilihan antibiotik yang dapat digunakan antara lain :


Kloramfenikol, masih merupakan pilihan utama 50-100 mg/kgBB/hari, oral atau IV,
dibagi dalam 4 dosis selama 10-14 hari. Penurunan demam terjadi antara hari ke 5-
7 pemberian. Obat ini menekan fungsi sumsum tulang, sehingga tidak boleh
diberikan pada penderita dengan gangguan fungsi sumsum tulang.
Amoksisilin dosis 100 mg.kgBB/hari, oral atau intravena, selama 10 hari, kemampuan
obat ini menurunkan demam lebih rendah dibandingkan dengan kloramfenikol.
Kotrimoksasol 6 mg/kgBB/hari, oral, selama 10 hari, demam menurun rata-rata
setelah 5-6 hari pemberian
Ceftriaxone 80 mg/kgBB/hari, iv atau im, sekali sehari, 5 hari
Cefiksim 10 mg/kg BB/hari, oral, dibagi dalam 2 dosis, selama 10 hari
Kortikosteroid diberikan pada kasus berat dengan gangguan kesadaran.
Deksametason 1-3 mg/kgBB/hari intravena, dibagi 3 dosis hingga kesadaran
membaik.
Ekstraintestinal :
VIII. KOMPLIKASI
•Komplikasi Paru
•Komplikasi Hepatobilier
•Komplikasi Kardiovaskuler
•Komplikasi Neuropsikiatrik/
Intraintestinal Tifoid Toksik
•Perdarahan usus
•Perforasi usus Pada penderita ini tidak didapatkan
•Peritonitis komplikasi ekstraintestinal, maupun
komplikasi intraintestinal
IX. PROGNOSIS
 Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad sanam : ad bonam

Quo ad fungsionum : ad bonam


X. PENCEGAHAN
Demam tifoid ditularkan melalui rute oro-fekal, maka pencegahan utama
memutuskan rantai tersebut dengan meningkatkan higiene perorangan dan
lingkungan, seperti mencuci tangan sebelum makan, penyediaan air bersih, dan
pengamanan pembuangan limbah feses.
Selain itu, pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksinasi. Vaksinasi
polisakarida (capsular Vi polysaccharide), pada usia 2 tahun atau lebih, diberikan
secara intramuscular, dan diulang setiap 3 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ed.1. Badan Penerbit IDAI.
2005 : 109-113
Nelson, Behrman, Kliegman, Arvin. Alih bahasa : Wahab A. Samik. Nelson Textbooks of Pediatrics,
Ilmu Kesehatan Anak volume 2 edisi 15. Jakarta. EGC, 2000: 970 - 3
Soedarmo SSP, Herry Garna, Sri Rezeki S. Hadinegoro. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak : Infeksi dan
Penyakit Tropis edisi pertama. Balai penerbit FK UI. Jakarta, 2002 : 367-75
Kasno, Bambang Isbandrio, dkk. Demam Tifoid. Badan Penerbit FK UNDIP. Semarang, 2001
Staf Pengajar FK UI. Tifus abdominalis. Buku Kuliah IKA 2. Edisi ke-4. Balai Penerbit FK UI. Jakarta,
1997: 593 – 8
MM DEAH Hapsari. Seri kuliah : Demam Tifoid pada Anak. Sub Bagian Infeksi Bagian Anak RSU dr.
Kariadi/FK UNDIP. FK UNDIP. Semarang, 2005
TERIMA KASIH