Anda di halaman 1dari 8

KROMATOTRON

Disusun Oleh :
 Naila Hidayat
 Nina Nurhayati
 Risda Laksamana Putra
 Sarah Sarah Syahidah I
 Vania Munikar
PENGERTIAN KROMATOTRON

Merupakan teknik pemisahan berdasarkan pada kemampuan migrasi


berbeda, yaitu distribusinya terhadap fasa diam dan fasa gerak
PRINSIP DASAR KROMATOTRON
Kromatotron memiliki prinsip sama seperti kromatografi
klasik dengan aliran fase gerak yang dipercepat oleh gaya
sentrifugasi.
FASA DIAM DAN FASA GERAK
Fasa diam berupa rotor. Rotor berupa lapisan plat kaca kuarsa
yang dilapisi silika gel bersifat polar

Fasa gerak berupa pelarut yang disebut eluen


PROSES PEMISAHAN
Fasa diam (rotor) pada kromatotron berupa kaca dialapisi dengan silika gel
(polar).
Sampel yang bersifat polar akan tertahan lebih lama pada rotor sedangkan
sampel yang bersifat kurang polar akan terbawa oleh eluen.
Pemasukan sampel diikuti dengan pengelusian menghasilkan pita pita
komponen berupa lingkaran sepusat. Pada tepi plat, pita akan terputar keluar
dengan gaya sentrifugal dan ditampung dalam wadah.
ANALISIS KROMATOTRON
Pada analisis kromatotron sama dengan kromatografi lapis tipis
dikarenakan setelah diindentifikasi dengan menggunakan
kromatografi lapis tipis yang kemudian difraksinasi menggunakan
kromatotron
PENERAPAN
Digunakan untuk isolasi senyawa dari tumbuhan mengisolasi dan mengidentifikasi
senyawa flavonoid di akar tumbuhan

Pemisahan senyawa asam kandis


 Sebelumnya sampel asam kandis sudah diekstrak terlebih dahulu, diuji
kromatografi kolom dan di uji KLT. Setelah diuji dengan KLT kemudian
dilakukan metode pemisahan kromatotron.
 Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan kromatotron yang telah
dipanaskan didalam oven pada suhu 60 ⁰C selama 1 jam. Lalu plat kromatotron
tadi diletakan didalam alat kromatotron dan dialiri fasa gerak. Fasa gerak yang
digunakan adalah diklorometana.
 Selanjutnya penyiapan sampel, sampel dilarutkan dengan eluen yang
digunakan sebagai fasa gerak yang diteteskan dengan menggunakan pipet tetes
secara perlahan kedalam lubang pengaliran fasa gerak, kemudian baru eluen
dialirkan pada lubang tersebut.
LANJUTAN

Selama jalannya proses elusi ini, plat kromatotron dimonitoring dengan


menggunakan lampu UV. Hasil kromatotron ditampung dalam vial 10 ml
dan masing-masing subfraksi dimonitoring pola KLT nya di bawah lampu
UV, hasil KLT dengan noda yang sama digabung.
 Didapatkan 6 buah subfraksi yaitu II,4,a (0.1506 g); II,4,b (0.1607 g);
II,4,c (0.1349 g); II,4,d (0.034 g); II,4,e ( 0.1239 g); II,4,f (0.0192 g).
 Dari hasil monitoring KLT dilihat bahwa subfraksi II,4,a dan II,4,b sudah
memiliki satu noda dengan panjang RF sama, maka dilakukan proses
kromatotron dengan dengan pelarut diklorometana untuk memurnikan
subfraksi II,4,a dan II,4,b.
 Sehingga dari hasil kromatografi radial senyawa II,4,a dan II,4,b
didapatkan senyawa murni CR-1’ dan CR-2’ dengan menunjukkan pola 1
noda dengan panjang RF yang sama dengan Jumlah 0.0712 gram.