Anda di halaman 1dari 66

Mukhtar Hamzah

Nip. 6185069-F
Senior Specialist II Sistem SDM
Email : mukhtar.hamzah@pln.co.id
m.hamzahds@gmail.com
Hp. 081342700092

1
Lamp.PKB No : 140-1.PJ/040/DIR/2010
dan No : DPP-002.PJ/SP-PLN/2010
 Menciptakan iklim usaha yang sehat
 Memperbaiki pondasi perusahaan dan
etika perusahaan
 Investor guarantee (Memulihkan
kepercayaan)
 Meningkatkan daya saing
(Transparansi, efisien)
 Kita
cenderung menganggap disiplin dalam term
negatif yang ditempatkan bertetangga dengan
“hukuman”.

 Disiplin
diri sepenuhnya positif dan mendukung.
Tanpa disiplin diri kita akan berhadapan dengan
banyak hal yg mungkin tidak bisa kita raih.

 Kita diberi pilihan, kita dapat mengabaikan


disiplin diri dan menunggu didisiplinkan orang lain
yang terkadang keras dan menyakitkan atau
mendisiplinkan diri yang akan terbayar dengan
banyak pencapaian
UU NO. 13 THN 2003 UU PIDANA

KUH Perdata PKB

LAMP PKB :
PERATURAN DISIPLIN PEGAWAI
I.Ketentuan Umum
II.Pelanggaran dan Sanksi Disiplin
• Pelanggaran Disiplin (2) IV.Status Masa Kerja Pegawai Selama
• Klasifikasi Pelanggaran Disiplin (3)
Ditahan Pihak Yang Berwajib (13)
• Pelanggaran Disiplin Ringan (4)
• Pelanggaran Disiplin Sedang (5)
• Pelanggaran Disiplin Berat(6) IV.Skorsing dan Tindak Sela (14-15)
• Jenis Sanksi Disiplin (7) V. Prosedur Penindakan Pelanggaran
• Penjatuhan Sanksi Disiplin (8) Disiplin
• Tidak Masuk Kerja Tanpa Alasan Sah • Pejabat Yang Berwenang Menjatuhkan
(mangkir)– (9) Sanksi (PYBM)--(16)
• Tim Investigasi (17)
III.Perlakuan thd Pegawai yang ditahan • Laporan Pelanggaran Disiplin (18)
Pihak Yang Berwajib • Tata Cara Pemeriksaan (19)
• Penjatuhan Sanksi Disipln (20)
• Perlakuan Terhadap Pegawai Yang • TGR Atau Tagsus (21)
Ditahan Pihak Yang Berwajib (10) • Berlakunya Sanksi Disiplin (22)
• Pegawai Yang Ditahan Oleh Pihak • Penyampaian Kpts Sanksi Disiplin (23)
Yang Berwajib Karena Diduga
Melakukan Tindak Pidana (11) VI.Pemutusan Hubungan Kerja (24)
• Pegawai Yang Ditahan Akibat VII.Ketentuan Lain-lain (25)
Kecelakaan Lalu Lintas (12) VIII.Ketentuan Peralihan (26)
IX. Ketentuan Penutup (27)
Seputar PPHI
lamp. PKB 2010-2012
PELANGGARAN DISIPLIN RINGAN SANKSI DISIPLIN RINGAN

PELANGGARAN DISIPLIN SEDANG SANKSI DISIPLIN SEDANG

PELANGGARAN DISIPLIN BERAT SANKSI DISIPLIN BERAT


 Mangkir 1 (satu) hari atau lebih tetapi kurang dari 5 (lima) hari
secara berturut-turut atau tidak dalam kurun waktu satu
bulan, tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi bukti
yang sah.

 Tidak menaati ketentuan jam kerja yang berlaku di lingkungan


Perseroan tmsk meninggalkan tempat kerja dan atau atasan
yang membiarkan bawahannya meninggalkan tempat kerja
pada jam kerja tanpa ijin atau persetujuan dari atasan
langsung.
(1) Menguasai lebih dari 1 (satu) rumah milik atau yang dikuasai Perseroan,
walaupun menjabat lebih dari satu jabatan dan atau menguasai rumah milik
Perseroan yang bukan merupakan haknya sesuai dengan peraturan
Perseroan.
(2) Mengontrakkan/menyewakan/menyuruh menempati kepada orang lain atas
rumah jabatan/instalasi yang di bawah pengawasannya.
(3) Menguasai atau menggunakan lebih dari 1 (satu) kendaraan dinas maupun
kendaraan yang disediakan Perseroan atau instansi lain walaupun menjabat
lebih dari satu jabatan atau menguasai /menggunakan kendaraan dinas milik
Perseroan.
(4) Menguasai atau menggunakan kendaraan dinas maupun kendaraan yang
disediakan Perseroan atau instansi lain yang bukan menjadi haknya
berdasarkan ketentuan yang berlaku di Perseroan.
(5) Atasan Langsung Pegawai yang mengetahui dan / atau lalai melaporkan
pelanggaran Disiplin yang dilakukan oleh Pegawai dan / atau lalai
mengambil tindakan terhadap Pegawai yang bersangkutan dan / atau
melindungi Pegawai yang melakukan Pelanggaran Disiplin. Dan / atau tidak
melakukan kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (2).–
Pembinaan disiplin oleh Atasan Langsung--
(6) Tidak melaksanakan tugas kedinasan dan / atau tanggung jawab
jabatannya.
(7) Peg.yang tdk melaksanakan dan/atau menolak kepts mutasi jabatan.
(8) Atasan langsung maupun tidak langsung yang menghambat atau menghalang-halangi mutasi
jabatan pegawai baik yang berada di dalam maupun di luar lingkungan unit kerjanya, atau
yang berkaitan dengan pemberian hak pegawai.
(9) Melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan, martabat dan citra Perseroan atau
pegawai.
(10) Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan atau martabat dan citra
pegawai dan atau Perseroan, kecuali untuk kepentingan dinas.
(11) Memiliki saham suatu perusahaan yang kegiatan usahanya terkait baik langsung maupun
tidak langsung dengan kegiatan Perseroan, kecuali kepemilikan saham di perusahaan yang
statusnya (tbk)
(12) Meminta, menerima dan atau menyuruh meminta, menerima hadiah atau
sesuatu pemberian berupa apa saja, seperti uang, barang, rabat atau diskon,
komisi, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata dan fasilitas
lainnya dari siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga bahwa pemberian
itu bersangkutan dengan jabatan atau pekerjaan.
(13) Memberikan dan / atau menyuruh memberikan hadiah atau sesuatu pemberian
berupa apa saja , seperti uang, barang, rabat atau diskon, komisi, tiket
perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata dan fasilitas lainnya
kepada pegawai Perseroan yang patut diketahui berkaitan dengan jabatan atau
pekerjaannya.
(14) Tidak menjaga dan memelihara barang-barang milik
Perseroan atau yang dipergunakan untuk kepentingan
Perseroan dengan sebaik-baiknya.
(15) Tidak mentaati peraturan tentang keselamatan kerja.
(16) Tidak menghormati antara sesama warga negara khususnya
sesama pegawai yang berkaitan dengan suku, adat,
ras dan agama yang berbeda.
(17) Tidak segera melaporkan kepada atasan, apabila mengetahui
ada hal yang dpt membahayakan keselamatan dan
keamanan atau merugikan aset Perseroan.
(18) Tidak memperhatikan, menindaklanjuti dan menyelesaikan
dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima yang
berkaitan dengan Perseroan.
(19) Melakukan sesuatu tindakan atau tidak melakukan sesuatu
tindakan yang dapat berakibat menghalangi
/mempersulit salah satu pihak yang dilayani
sehingga mengakibatkan kerugian bagi pihak yang
dilayani.
(20) Membuat, menggunakan dan atau memanfaatkan Surat
Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) di luar kepentingan
kedinasan.
(21) Melaksanakan kebijakan yang bertentangan dengan ketentuan
yang berlaku di Perseroan, kecuali atas persetujuan Direksi.
(22) Pegawai mangkir selama 12 (dua belas) hari kerja atau lebih
secara tidak berturut-turut selama kurun waktu 1 (satu) tahun.
(23) Melakukan pengulangan Pelanggaran Disiplin dengan klasifikasi
Pelanggaran Disiplin Ringan sebagai dimaksud pada Pasal 4.
(24) Menyerang kehormatan / nama baik, mengancam atau
mengintimidasi teman sekerja atau Direksi di lingkungan kerja baik
terkait atau tidak terkait dengan tugas kedinasan dan atau di luar
lingkungan kerja namun terkait dengan tugas kedinasan.
(1) Menyalahgunakan pemakaian tenaga listrik (daya dan atau energi listrik) untuk
kepentingan diri sendiri maupun untuk kepentingan orang lain yang merugikan
Perseroan.
(2) Menyalahgunakan hasil penjualan tenaga listrik untuk kepentingan diri sendiri
maupun untuk kepentingan orang lain yang merugikan Perseroan.
(3) Melakukan perbuatan dan atau menyuruh melakukan dan atau membantu
melakukan suatu tindakan sebagai perantara dalam hal pemasangan dan atau
penyambungan dan atau penambahan daya listrik dengan maksud untuk
menguntungkan diri sendiri atau untuk kepentingan orang lain sehingga merusak
citra pelayanan Perseroan.
(4) Melakukan sesuatu perbuatan dan atau menyuruh melakukan dan atau
membantu melakukan perbuatan yang mengakibatkan pemakaian tenaga listrik
(daya atau energi listrik) yang digunakan oleh pegawai atau pelanggan atau
bukan pelanggan, tidak tercatat sebagaimana mestinya dan atau tidak menurut
peraturan yang berlaku sehingga mengakibatkan kerugian bagi Perseroan.
(5) Melakukan dan atau menyuruh melakukan dan atau membantu melakukan suatu
perbuatan sebagai perantara dalam hal pembelian tenaga listrik dengan pihak
swasta / pihak lain dengan tujuan untuk menguntungkan diri sendiri sehingga
merugikan Perseroan.
(6) Tanpa alasan yang sah menyimpan, memakai, mengedarkan dan atau
menyalahgunakan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
(7) Memberikan laporan atau keterangan palsu atau dipalsukan sehingga
merugikan Perseroan.
(8) Melakukan perbuatan asusila, melakukan perjudian, minum minuman keras
dan atau mabuk-mabukan pada jam kerja dan atau di lingkungan kerja.
(9) Menyerang fisik, menganiaya, mengancam teman sekerja atau Direksi di
lingkungan kerja baik terkait atau tidak terkait dengan tugas kedinasan dan
atau di luar lingkungan kerja namun terkait dengan tugas kedinasan.
(10) Melakukan dan atau Membujuk teman sekerja atau Direksi untuk melakukan
perbuatan yang merupakan pelanggaran terhadap peraturan perundang-
undangan atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
(11) Dengan sengaja membiarkan dalam keadaan bahaya barang milik Perseroan
yang menimbulkan kerugian bagi Perseroan.
(12) Melakukan manipulasi data dan atau laporan yang tidak sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya untuk kepentingan pribadi atau kelompok sehingga
merugikan Perseroan.
(13) Dengan sengaja membiarkan pegawai dan atau pekerja yang bekerja untuk
perseroan, dalam keadaan bahaya di tempat kerja sehingga berpotensi
menimbulkan kecelakaan kerja.
(14) Melakukan pungutan tidak sah dalam bentuk apapun dalam
melaksanakan tugas untuk kepentingan diri sendiri, golongan
atau orang lain.
(15) Membongkar atau membocorkan dan atau memanfaatkan
rahasia Perseroan untuk kepentingan diri sendiri atau orang
lain.
(16) Bekerja untuk kepentingan negara asing, badan usaha atau
instansi lain yang bertentangan dengan kepentingan Perseroan.
(17) Memalsukan dan atau menyalahgunakan ijazah / surat tanda
tamat belajar dan keterangan lain dalam bentuk apapun untuk
kepentingan pribadi yang berkaitan dengan kedinasan.
(18) Bertindak selaku perantara bagi pengusaha atau golongan
untuk mendapatkan pekerjaan atau pesanan dari Perseroan,
yang merugikan Perseroan.
(19) Melakukan persekongkolan dengan pihak lain dalam proses
pengadaan barang/jasa sehingga dapat mengakibatkan
kerugian materiel & Non materiil bagi Perseroan.
(20) Menyalahgunakan barang-barang, uang atau surat berharga milik
Perseroan atau yang dikuasai oleh Perseroan, untuk memperkaya diri
sendiri atau pihak lain.
(21) Melakukan penipuan, pencurian, atau penggelapan barang dan atau
uang Perseroan.
(22) Melakukan pengendapan uang Perseroan dengan sengaja untuk
kepentingan pribadi , kelompok atau orang lain.
(23) Menyalahgunakan fasilitas pemeliharaan kesehatan.
(24) Melakukan persekongkolan bersama atasan, teman sejawat, bawahan
atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan
tujuan untuk menguntungkan diri sendiri, golongan atau pihak lain
yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan Perseroan
 Teguran Lisan Tercatat yang berlaku selama 3
(tiga) bulan.

 Peringatan Tertulis yang berlaku selama 6


(enam) bulan.
 Peringatan Tertulis Pertama yang berlaku selama 6 (enam)
bulan dengan kriteria talenta Perlu Penyesuaian (PPS).
 Peringatan Tertulis Kedua yang berlaku selama 12 (dua belas)
bulan dengan kriteria talenta maksimal Perlu Penyesuaian
(PPS).
 Peringatan Tertulis Ketiga dan Terakhir yang berlaku selama
12 (dua belas) bulan dengan kriteria talenta Sangat Perlu
Perhatian (SPP).
 Peringatan Tertulis Kedua dan Terakhir yang berlaku selama
12 (dua belas) bulan dengan kriteria talenta Sangat Perlu
Perhatian (SPP).
 Peringatan Tertulis Pertama dan Terakhir yang berlaku selama
12 (dua belas) bulan dengan kriteria talenta Sangat Perlu
Perhatian (SPP) dengan penurunan 1 (satu) Grade.
3.Sanksi Disiplin Berat adalah
berupa Pemutusan Hubungan Kerja
(PHK).
4. Sanksi Disiplin Sedang dan Berat dapat ditambah dengan Tuntutan
Ganti Rugi dan atau Tagihan Susulan apabila merugikan Perseroan.
5. Sanksi Disiplin diterbitkan dalam bentuk :
a. Untuk sanksi disiplin ringan Teguran Lisan Tercatat
berupa Formulir berisi catatan mengenai telah
diberikannya Teguran Lisan.
b. Untuk sanksi disiplin ringan peringatan tertulis berupa Surat.
c. Untuk sanksi disiplin sedang dan berat berupa Keputusan.
Sanksi : TLT (Teguran Lisan Tercatat) / PTP 6
bln
Ringan
Pengulangan ringan (TLT) : sanksi PTP 6 bln .
Pengulangan ringan (PTP 6 bln) : PTP 6 bln PPS (sedang)

Sanksi Disiplin Sedang

Pengulangan ringan : PTP 6 bln, kena sanksi PTP 6


bln PPS
Pelanggaran Pengulangan ringan : PTP 6 bln PPS, kena sanksi PTD 12
Disiplin Sedang bln PPS

Pengulangan sedang : PTP 6 bln PPS, kena sanksi PTDA 12


bln SPP

Pengulangan sedang / lebih berat : PTP 6 bln PPS & PTD 12


bln PPS, kena sanksi lebih berat dari sanksi sebelumnya.

Pengulangan pada saat menjalani PTTA / PTDA / PTPA,


kena sanksi berat (PHK)

Berat Sanksi Disiplin Berat (PHK)


Pasal 8 :Penjatuhan Sanksi
Disiplin
- Penjatuhan sanksi tidak harus dari yang paling
ringan, tetapi tergantung klasifikasi dan derajat
pelanggarannya.
- Pegawai sedang menjalani sanksi disiplin, tidak
dapat dipromosikan / penghargaan kesetiaan kerja
atau winduan hingga selesai menjalani sanksi.
- Pegawai melakukan beberapa pelanggaran disiplin,
dikenakan satu sanksi yang paling berat.
- Pegawai telah dijatuhi sanksi tidak boleh kena
sanksi yang kedua kalinya untuk kasus pelanggaran
disiplin tersebut, kecuali ditemukan bukti baru atau
fakta baru seperti putusan pidana atas kasus
tersebut (dipenjara).
Pasal 9 : MANGKIR
Pegawai Tdk
Masuk Kerja
Pimp Unit / Pejbt SDM :
- Peg 3 hari mangkir langsung panggil
- Secara tertulis dan patut (paling lama 3
Ijin/Ket hari).
- Masuk / tidak masuk, segera lapor PYBM
Tidak

Mangkir Dipanggil (2 X)

Tidak Hak :
Masuk PHK -1 x Psl 156 (3) UUK
- Psl 156 (4) UUK
Ya - Manfaat pensiun

SPPA -Tanpa PPHI


- Tanpa Tim Investigasi
 Selama ditahan diberikan penghasilan tetap (P1)
 maks. 6 bulan
 Lebih dari 6 bulan masih ditahan (tidak dapat menjalankan tugas
pekerjaannya)  PHK tanpa PPHI.
 Hak-haknya :
- 1 x Pasal 156 (3) UU Ketenagakerjaan
- Pasal 156 (4) UU Ketenagakerjaan
- Manfaat pensiun
1. Selama ditahan diberikan penghasilan tetap (P1)  selama maksimal 6 bulan
 lebih 6 bln, dihentikan pembayaran
2. Proses hk pegawai dinyatakan tdk bersalah (Kekuatan hk tetap) :
 Pegawai wajib lapor untuk mulai bekerja -> rehabilitasi
 Diberikan grade sama dengan sebelumnya, mulai tanggal 1 bulan
berikutnya.
3. Pegawai yang ditahan meninggal atau sampai usia pensiun normal masih
ditahan
 Diberhentikan sebagai pegawai dan diberikan hak-hak dan manfaat pensiun
4. Sebelum 6 bulan berakhir, pegawai di vonis tidak bersalah (kekuatan hk tetap)
 Pegawai wajib dipekerjakan kembal, mulai tgl 1 bulan berikutnya setelah
lapor.
5. Pegawai di vonis bersalah (Kekuatan hk tetap) dan termasulk pelanggaran
disiplin berat  Dikenakan sanksi berat (PHK)
6. Pegawai di vonis bersalah (Kekuatan hk tetap) dan perbuatan tersebut
termasuk pelanggaran disiplin sedang :
a. Putusan 2 tahun atau lebih  Sanksi disiplin berat (PHK).
b. Putusan kurang dari 2 tahun  Sanksi disiplin Sedang.
7. Pegawai di vonis bersalah (Kekuatan hk tetap) dan perbuatan
tersebut bukan termasuk dalam klasifikasi pelanggaran disiplin
pegawai :
a. Putusan 2 tahun atau lebih  Sanksi disiplin berat (PHK).
b. Putusan kurang dari 2 tahun  Sanksi disiplin Sedang.
8. PHK karena vonis pidana :
- melalui PPHI , Diberikan hak-hak
 - 1 x Pasal 156 (3) UUK (Peng. Ms kerj)
- Pasal 156 (4) UUK (Pengganti hak)
- Manfaat pensiun sesuai ketentuan berlaku
Pasal 12 : Pegawai Ditahan Pihak Yang
Berwajib Karena Pelanggaran Lalu Lintas
 Selama ditahan diberikan penghasilan tetap (P1)
 selama jangka waktu paling lama 12 bulan.
 lebih 12 bln, penghasilan dihentikan.
 Penghasilan diberikan setelah selesai hukuman dan dapat
melaksanakan pekerjaan.
 Perlakuan apabila selesai menjalani hukuman:
o Pegawai tsb wajib lapor dan siap kerja paling lama 7 hari
kerja setelah masa penahanan.
o Diberikan grade sama dengan grade sebelum ditahan
terhitung mulai tanggal 1 bln berikutnya peg melapor.
o Apabila meninggal dunia atau mencapai usia 56 th 
diberikan hak kepegawaian = dengan Pegawai yang
berhenti bekerja
Pasal 13 : Status masa kerja selama
ditahan

Masa selama ditahan oleh pihak berwajib tidak dihitung


sebagai masa kerja, kecuali apabila pegawai dinyatakan
tidak bersalah oleh pihak yang berwajib.
1. Dikenakan kepada Pegawai yang sedang dalam proses
penetapan PHK, paling lama 6 bln dan dapat diperpanjang
sesuai keperluan.
2. Berakhirnya skorsing:
a. Pegawai sepakat untuk membuat Perjanjian Bersama
tentang pengakhiran hubungan kerja, atau
b. Penetapan perselisihan hubungan industrial diputuskan oleh
Hakim Pengadilan Hubungan Industrial
c. Pegawai memasuki usia pensiun normal atau meninggal
dunia
3. Apabila PHK ditolak oleh PHI, Pegawai dipekerjakan kembali
dan diberikan hak yang sama sebagaimana sebelum
dijatuhkan skorsing
4. Apabila PHK dikabulkan oleh PHI, PHK mulai berlaku tanggal
1 bulan berikut setelah penetapan PHI dan diberikan hak
sesuai PKB
5. Masa kerja selama skorsing dihitung sebagai masa kerja
untuk menghitung hak kepegawaian
6. Tidak dapat dimutasi
Pasal 15 : Tindak Sela (TS)
1. Tindakan yang bersifat sementara berupa pembebasan sementara
Pegawai dari jabatan karena disangka melakukan Pelanggaran
Disiplin sedang / berat
2. Pengenaan TS ( maks 15 hari kerja dari laporan)
 Sebelum dilakukan pemeriksaan oleh Tim Investigasi  TS
dilakukan oleh DIRSDM; Pimpinan Unit paling rendah Manajer
Unit Pelaksana
 Pada saat pemerikaan oleh Tim Investigasi berlangsung  TS
dilakukan oleh PYBM
3. Pendelegasian Wewenang penjatuhan TS:
 DIRSDM  KDIVTLN
 GM  Manajer SDM
4. TS berlaku terhitung mulai tanggal ditetapkan dan berakhir s/d
tanggal dikeluarkannya Sanksi Disiplin-> hak tetap diberikan
5. Apabila terbukti tidak bersalah, Pegawai bersangkutan harus
direhabilitasi oleh PYBM
PLN Pusat PLN Unit Induk PLN Unit Pelaksana

DIRSDM: General Manager: Manager Unit Pelaksana:


o Pegawai Jenjang o Pegawai Jenjang o Bagi semua Pegawai di
Jabatan MA Jabatan MM - MD lingkungan kerja PLN Unit
o Pegawai Jenjang o Pegawai Jenjang Pelaksana kecuali yang
Fungsional I Se Indonsia Fungsional II menjadi wewenang GM
dan Manajer Pelaksana
Atasan Langsung : Atasan Langsung :
o Pegawai di PLN Pusat o Pegawai di PLN Unit
kecuali yang menjadi Induk kecuali yang
wewenang DIRSDM menjadi wewenang
DIRSDM & Pimpinan Unit
Induk
Pasal 16 :Pejabat Yang Berwenang
Menjatuhkan Sanksi (PYBM) Disiplin Sedang
PLN Pusat PLN Unit Induk PLN Unit Pelaksana

DIRSDM : General Manager : Manager Unit Pelaksana :


Pegawai Jenjang Pegawai Jenjang Pegawai di lingkungan
Jabatan MA Jabatan MD di seluruh kerja PLN Unit Pelaksana
Pegawai Jenjang PLN Unit kecuali yang menjadi
Fungsional I di seluruh Pegawai Jenjang wewenang GM dan
PLN Fungsional III di seluruh Manajer Bidang SDM
MA yg ditunjuk DIRSDM : PLN Unit
Pegawai Jenjang Manajer Bidang SDM :
Jabatan MM & Pegawai Jenjang
Fungsional II di seluruh Jabatan Ssup Atas dan
PLN Jenjang Fungsional IV di
Pegawai Jenjang seluruh PLN Unit
Jabatan MD dan Jenjang Pegawai Jenjang
Fungsional II ke bawah di Jabatan Sup Atas &
PLN Pusat Fungs. V ke bawah di
Kantor Induk PLN Unit
Pejabat yang berwenang memberhentikan
Pegawai sesuai ketentuan yang berlaku.
PYBM bagi pegawai yang ditugaskaryakan:
a. Selain Disiplin Berat  Pers. Pengguna
b. Disiplin Berat  Pers. Pengguna
mengembalikan ybs ke Perseroan untuk
diproses lebih lanjut
1. Keputusan pembentukan Tim Investigasi (TI) ditandatangani oleh :
a.DIRSDM untuk pegawai di lingk. PLN Pusat dan yang menjadi
kewenangannya.
b.Pimpinan Unit Induk untuk pegawai di lingk. PLN Unit Induk dan
yang menjadi kewenangannya.
c.Pimpinan Unit Pelaksana untuk pegawai di lingk. PLN Unit
Pelaksana ke bawah selain a, b.
2. Keanggotaan TI terdiri dari unsur SP dan Perseroan yang jumlahnya
seimbang.
3. Dalam pembentukan TI, Perseroan minta secara tertulis kepada SP
untuk menugaskan anggotanya yang akan masuk dalam TI.
4. Jika dalam waktu 5 hari kerja, SP tidak mengirim anggotanya,
Manajemen membentuk TI yang anggotanya :
a. Atasan pegawai ybs (langsung atau tidak langsung)
b. Pejabat dari unsur kepegawaian.
c. Unsur lain yang terkait.
5. Ketua TI harus mempunyai jenjang jabatan lebih
tinggi dari jabatan pegawai yang diinvestigasi.
6. Batas waktu pemeriksaan 30 hari kerja dan dapat
diperpanjang 1 kali maksimal 30 hari kerja.
7. TI wajib mengeluarkan satu rekomendasi.
8. Bila terdapat perbedaan pendapat, TI tetap wajib
mengeluarkan satu rekomendasi dengan catatan
adanya perbedaan pendapat.
9. PYBM dapat menggunakan hasil pemeriksaan TI
dalam menjatuhkan sanksi disiplin pegawai.
PROSES MULAI DARI PELAPORAN S/D
PEMBENTUK TIM INVESTIGASI (TI)
Laporan
Pegawai
Pimpinan Unit /
Pejabat SDM

Evaluasi
Klarifikasi

Yakin Selesai
Tidak
Ya

Ringan Sedang Berat

PYBM Bentuk Tim Invs

PYBM
Pasal 18 : Laporan Pelanggarang Disiplin
1. Pegawai yang mengetahui dan/ atau menerima laporan dugaan PD yang
dilakukan pegawai PLN  agar meneruskan kepada Pimpinan Unit dan atau
Pejabat SDM.
2. Pimpinan Unit dan atau Pejabat SDM yang menerima laporan dari :
- Atasan langsung pegawai yng diduga melakukan PD, dan atau
- Sumber lain, dan atau Mengetahui sendiri Wajib melakukan 
a. Klarifikasi atas pembinaan atasan langsung
b. Evaluasi terhadap bukti-bukti yang diterima
c. Evaluasi riwayat PD

3. Dari hasil klarifikasi dan evaluasi diyakin terjadi PD (Bukti awal cukup),
Pimpinan Unit dan atau Pejabat SDM melakukan langkah sbb :
a. Klasifikasi PD ringan,  PYBM untuk diperiksa.
b. Klasifikasi PD sedang dan berat,  Dibentuk TI.
Pasal 19 : Tata Cara Pemeriksaan (1)
Pemeriksaan terhadap Pegawai yang diduga melakukan Pelanggaran Disiplin
dilakukan secara tertutup, yang hanya dapat dihadiri dan diketahui oleh pejabat
yang berkepentingan di lingkungan Perseroan.

Pemeriksaan terhadap Pelanggaran Disiplin dengan klasifikasi Pelanggaran Disiplin


Ringan  dilakukan secara langsung oleh PYBM, dan dituangkan dalam Berita Acara
Pemeriksaan (di ditandatangani oPYBM dan Pegawai ybs).

PYBM dapat memerintahkan secara tertulis kepada pejabat di bawahnya untuk


memeriksa Pegawai yang diduga melakukan Pelanggaran Disiplin dengan klasifikasi
Pelanggaran Disiplin Ringan, dengan ketentuan jabatan pejabat yang melakukan
pemeriksaan tersebut tidak boleh lebih rendah dari pada jabatan Pegawai yang
diperiksa.

Pemeriksaan terhadap dugaan Pelanggaran Disiplin Sedang dan Berat dilakukan


oleh Tim Investigasi .

Dalam melakukan pemeriksaan, Tim Investigasi dapat mendengar atau meminta


keterangan dari Pegawai, badan/lembaga atau orang lain apabila dipandang perlu.
Pasal 19 :Tata Cara Pemeriksaan (2)
Tanpa mengurangi hak ingkar Pegawai, maka Pegawai yang diperiksa wajib
menjawab semua pertanyaan yang diajukan dan apabila yang bersangkutan
tidak menjawab, dianggap mengakui atau membenarkan.
Dalam melaksanakan pemeriksaan Pelanggaran Disiplin, Tim Investigasi
berhak :
- Meminta kedatangan dan atau keterangan Pegawai yang disangka
melakukan Pelanggaran Disiplin, pegawai lain, badan atau orang
lain yang dapat menambah kejelasan perkara termasuk atasan
Pegawai ybs;
- Memeriksa barang-barang, surat, dokumen dan atau bukti lainnya yang
berkaitan dengan Pelanggaran Disiplin;
- Memasuki tempat-tempat penyimpanan barang, ruangan atau
tempat-tempat lainnya dalam rangka memperlancar pemeriksaan dan
pencarian bukti-bukti yang diperlukan;
- Melakukan tindakan-tindakan lainnya yang dianggap perlu sesuai
dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 19 :Tata Cara Pemeriksaan (3)
Dalam melaksanakan tugas,Tim Investigasi berkewajiban untuk :
- Memperhatikan kondisi Pegawai yang akan diperiksa;
- Merahasiakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan
tugasnya;
- Mempertimbangkan berbagai hal yg dapat meringankan dan
memberatkan Pegawai pada saat dilakukan pemeriksaan plgr displ.
dlm menetapkan klasifikasi pelanggaran disiplin Pegawai.
- Membuat Berita Acara Pemeriksaan dan Berita Acara Evaluasi
Pemeriksaan tentang Pelanggaran Disiplin.
- Menyampaikan hasil pemeriksaan dan usulan jenis Sanksi Disiplin
secara rahasia kepada PYBM dengan dilengkapi, antara lain:

1)Berita Acara Pemeriksaan;


2)Bukti-bukti yang meyakinkan;
3)Pengakuan atas kesaksian, apabila ada;
4)Berita Acara Evaluasi Pemeriksaan.
Pasal 19 :Tata Cara Pemeriksaan (4)
Pemeriksaan oleh Tim Investigasi sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah
jumlah anggota Tim Investigasi.

Apabila Tim Investigasi tidak memenuhi ketentuan ini, maka pelaksanaan


investigasi ditunda paling lama 7 (tujuh) hari kerja, dan pelaksanaan investigasi
berikutnya tetap dilaksanakan meskipun tidak memenuhi ketentuan .

Hasil pemeriksaan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan yang ditandatangani


oleh Pegawai yang diperiksa, dan anggota Tim Investigasi yang hadir dalam
pemeriksaan.

Apabila Pegawai ybs tidak bersedia menandatangani Berita Acara Pemeriksaan , hal
tersebut tidak menghalangi proses pemeriksaan dan penjatuhan Sanksi Disiplin.

Apabila dalam pemeriksaan Tim Investigasi diindikasikan terdapat kerugian


Perseroan yang memerlukan pembuktian lebih lanjut, maka Tim Investigasi wajib
segera melaporkan kepada PYBM untuk penyelesaian Tuntutan Ganti Rugi dan atau
Tagihan Susulan.

Dalam hal pemeriksaan dilakukan oleh Tim Investigasipegawai yang diperiksa


berhak untuk didampingi Tim Advokasi Serikat Pekerja Setempat.
Pasal 19 :Tata Cara Pemeriksaan (5)
Tim Investigasi bertugas dalam proses pemeriksaan dan melaporkan hasil pemeriksaan Pelanggaran
Disiplin dilengkapi berkas yang diperlukan, berupa :

– Berita Acara Pemeriksaan, yang memuat Identitas Pegawai dan Rekaman pertanyaan Tim
Investigasi dan jawaban Pegawai yang diperiksa.
– Berita Acara Evaluasi Pemeriksaan, yang memuat :
a. Identitas Pegawai;
b. Diskripsi kasus;
c. Penelitian dan evaluasi yang berisi kegiatan mengolah data secara sistematis,
praktis dan obyektif berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan dan bukti-
bukti lain;
d. Pertimbangan atas hal-hal:
- Yang meringankan dan yang memberatkan bagi Pegawai,
- Yang merugikan Perseroan;
- Yang melatar-belakangi Pegawai dalam melakukan Pelanggaran Disiplin;
- Yang dianggap perlu disampaikan oleh Tim Investigasi kepada PYBM
e. Kesimpulan Berita Acara Evaluasi Pemeriksaan, berupa :
- Yang bersangkutan tidak terbukti melakukan Pelanggaran Disiplin; atau
- Yang bersangkutan terbukti melakukan Pelanggaran Disiplin;
f. Usulan Tim Investigasi, apabila berdasarkan kesimpulan Berita Acara Evaluasi
Pemeriksaan Pegawai terbukti melakukan Pelanggaran Disiplin, berisi saran atau
pendapat Tim Investigasi kepada PYBM yang dapat dipakai sebagai dasar untuk
menetapkan jenis Sanksi Disiplin.

Pasal 19 :Tata Cara Pemeriksaan (6)
Setelah menerima laporan dari Tim Investigasi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (15) pasal ini, PYBM berkewajiban meneliti dan mengevaluasi berkas
laporan sebelum menetapkan keputusan Sanksi Disiplin.

Dalam hal terjadi Pelanggaran Disiplin di lingkungan PLN Unit yang penjatuhan
Sanksi Disiplinnya menjadi wewenang PLN Pusat, Pemimpin PLN Unit wajib
melaporkan Pelanggaran Disiplin tersebut kepada PYBM PLN Pusat.

Paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah PYBM PLN Pusat menerima
laporan Pelanggaran Disiplin dari Pemimpin PLN Unit, berkewajiban mengadakan
koordinasi dengan Pimpinan PLN Unit dalam melakukan pemeriksaan dan
evaluasi Pelanggaran Disiplin.

Dalam hal menurut pertimbangan PYBM dan atau pertimbangan Direksi,


mengingat antara lain sifat dan kadar Pelanggaran Disiplin yang dilakukan
Pegawai dinilai cukup berat dan kompleks, maka pemeriksaan atas Pelanggaran
Disiplin tersebut dapat dilakukan oleh Tim Investigasi yang dibentuk secara
khusus oleh Direksi.
Pasal 20 :Penjatuhan Sanksi Disiplin
Berdasarkan hasil pemeriksaan PYBM dengan keyakinannya
yang independen segera menetapkan jenis Sanksi Disiplin yang
dijatuhkan kepada Pegawai.

Pegawai yang melakukan beberapa Pelanggaran Disiplin, hanya


dapat dijatuhi satu jenis Sanksi Disiplin dan dipilih yang
terberat.

Apabila beberapa Pelanggaran Disiplin sebagaimana dimaksud


dalam ayat (2) adalah termasuk dalam klasifikasi pelanggaran
disiplin sedang, dijatuhi sanksi disiplin sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b angka 5).

Paling lambat dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja


terhitung sejak diterimanya hasil pemeriksaan dari Atasan
Langsung Pegawai atau Tim Investigasi sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) pasal ini, penetapan Sanksi Disiplin atau
pembebasan dari dugaan pelanggaran disiplin harus sudah
diterbitkan oleh PYBM.
ALUR PROSES PENERBITAN
SANKSI HUKUMAN DISIPLIN

INPUT PROSES OUTPUT

- Pemerintah Proses Hukuman Disiplin


Ringan
- Unit
Surat Pemberitahuan
- SP PLN
Tidak Bersalah
- Masyarakat
Teguran Lisan Tercatat (TLT) /
- Ketentuan perundanganan PT 6 bulan / PTP 6 bln / PTD /
dugaan pidana PTPA / PTDA / PTTA
Proses Hukuman
- Pengaduan dugaan kasus Disiplin Sedang
pelanggaran disiplin
Kpts. Skorsing
- Pengaduan atas perilaku
Pegawai yg merugikan/
amoral Kpts. Pencabutan
Proses Hukuman
Skorsing
Berat
Kpts. Pemberhentian
Pegawai
PROSES PENERBITAN RINGAN
SANKSI HUKUMAN DISIPLIN

PROSES OUTPUT

Pimpinan Unit / PYBM Produk


Serahkan /
Pejabat SDM Laporkan

Evaluasi dan Melakukan Surat Pemberitahuan


Klarifikasi PD atas Pemeriksaan
laporan dugaan PD Tidak Bersalah 
diberikan kepada Pegawai
tidak

Terbukti
Menetapkan Asumsi
klasifikasi PD Ringan
Ya TLT / PT 6 bln 
diberikan kepada Pegawai &
Catatan : Bidang SDM
Sanksi Disiplin efektif berlaku tanggal 1
bulan berikutnya sejak tanggal
penetapan
PROSES PENERBITAN
KPTS HUKUMAN DISIPLIN SEDANG
PROSES OUTPUT

Pimpinan Unit / Tim Investigasi Produk


Pejabat SDM

Evaluasi dan Melakukan


klarifikasi PD atas
laporan dugaan PD Pemeriksaan
Surat Pemberitahuan
Membuat Berita Acara Tidak Bersalah  diberikan
Menetapkan Asumsi kepada Pegawai
Pemeriksaan PD & Berita
klasifikasi PD Acara Evaluasi
Sedang Pemeriksaan PD
Serahkan / laporkan

PYBM Kpts. Hukuman Disiplin


Peringatan Tertulis 
Membentuk Tim diberikan kepada Pegawai &
Bidang SDM
Investigasi Catatan :
Tidak
• Keputusan Sanksi Disiplin efektif berlaku tanggal 1 bulan
berikutnya sejak tanggal penetapan
Terbukti • Apabila Pegawai keberatan, diproses sesuai ketentuan tentang
PPHI

Ya
PROSES PENERBITAN KEP. HUKUMAN DISIPLIN
S/D TIM BIPARTIT

PROSES
BERAT OUTPUT

PYBM Tim Bipartit Produk

Menerima Laporan Membuat Undangan Perd.


dari TI, PD Berat telah Bipartit ke Pegawai 1 Kpts. Skorsing 
terbukti diberikan kepada Pegawai &
Bidang SDM
Menunjuk Kuasa Melaksanakan
Perunding Bipartit perundingan Bipartit
dengan Pegawai Kpts. Pemberhentian
2
Membuat Kpts. Pegawai diberikan kepada
Skorsing Pegawai & Bidang SDM
tidak
Sepakat
1
ya
Mengajukan
1
Konsiliasi / Mediasi
Perjanjian Bersama Didaftarkan PHI
Membuat Kpts.
Pemberhentian 2
Pegawai
Proses Penerbitan Kpts Hukuman Disiplin Berat
s/d Disnaker & PPHI (Pasal 24)
PROSES OUTPUT
PYBM Disnaker PPHI Produk

Menerima Pengajuan 1 2 3
1
Konsiliator/ Mediator
u/ PHK Menerima Kpts. Pemberhentian Pegawai 
Permohonan PHK, diberikan kepada Pegawai & Bidang SDM

menetapkan sidang

Mengajukan tidak
Permohonan PHK Sepakat
ke PHI
tidak Dikabukan
1 ya
Membuat Kpts. ya
Pemberhentian
Perjanjian Bersama Kpts. Pencabutan Skorsing 
Pegawai 3 diberikan kepada Pegawai & Bidang SDM
(dilanjutkan mengajukan kasasi)
3 2 Didaftarkan PHI

Mencabut
Skorsing
Pasal 21 : TGR DAN TAGSUS
•Pegawai yang terbukti melakukan Pelanggaran Disiplin dan akibat
pelanggaran tersebut menimbulkan kerugian bagi Perseroan disamping
dijatuhi Sanksi Disiplin atau dilakukan PHK, dikenakan Tuntutan Ganti Rugi
atau tagsus. (diatur tersendiri oleh Direksi)

Usulan besaran tuntutan ganti rugi dan atau tagihan susulan t didasarkan
dari hasil pemeriksaan oleh Tim Investigasi atau oleh Tim Penaksir Kerugian
Perseroan.

 Besarnya tuntutan ganti rugi dan atau tagihan susulan serta kewajiban
pengembalian dicantumkan di dalam Keputusan Sanksi Disiplin.

Berat ringannya Sanksi Disiplin tidak mengurangi kewajiban Pegawai untuk


mengembalikan kerugian Perseroan yang ditimbulkan.

Apabila kerugian Perseroan diketahui setelah dijatuhkannya Sanksi Disiplin,


maka kepada Pegawai tetap dapat dikenakan TGR dan atau tagsus.

Pegawai yang sedang menjalani jenis Sanksi Disiplin Sedang atau Berat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b dan huruf c dikenakan
tuntutan ganti rugi dan atau tagihan susulan, sedangkan Pegawai yang
bersangkutan mencapai batas usia pensiun atau meninggal dunia, maka
Pegawai atau ahli warisnya tetap bertanggungjawab terhadap TGR dan
TAGSUS.
Pasal 22 : Berlakunya Sanksi Disiplin

Penetapan Sanksi Disiplin mulai berlaku tanggal 1 bulan


berikutnya sejak tanggal ditetapkannya Sanksi Disiplin oleh
PYBM.
Pasal 23 : Penyampaian Kpts.Sanksi Disiplin

 Penetapan Sanksi Disiplin Ringan dan Sedang,


dinyatakan secara tertulis dan segera disampaikan
oleh PYBM atau oleh Atasan Langsung Pegawai yang
bersangkutan.

 Penyampaian Sanksi Disiplin dilakukan dgn bukti


tanda terima.

 Dalam hal karena alasan dan pertimbangan tertentu


tidak dapat disampaikan secara langsung kepada
Pegawai, penyampaiannya dilakukan dengan melalui
pos tercatat ke alamat terakhir Pegawai yang
tercatat di Perseroan.
Proses Penerbitan Kpts Hukuman Disiplin Berat
s/d Disnaker & PPHI (Pasal 24)
PROSES OUTPUT
PYBM Disnaker PPHI Produk

Menerima Pengajuan 1 2 3
1
Konsiliator/ Mediator
u/ PHK Menerima Kpts. Pemberhentian Pegawai 
Permohonan PHK, diberikan kepada Pegawai & Bidang SDM

menetapkan sidang

Mengajukan tidak
Permohonan PHK Sepakat
ke PHI
tidak Dikabukan
1 ya
Membuat Kpts. ya
Pemberhentian
Perjanjian Bersama Kpts. Pencabutan Skorsing 
Pegawai 3 diberikan kepada Pegawai & Bidang SDM
(dilanjutkan mengajukan kasasi)
3 2 Didaftarkan PHI

Mencabut
Skorsing
Pasal 25 :Ketentuan Lain-lain
1. Pegawai melakukan PD di Unit lama dan sudah mutasi ke Unit baru
Pemeriksaan oleh PYBM unit baru (data & berkas dari unit lama)

2. Pegawai meninggal dunia atau mencapai usia pensiun normal pada waktu
sedang menjalani Sanksi Disiplin
dianggap selesai menjalani Sanksi atau menjalani Tindak Sela.
3. Pegawai yang mengetahui adanya Pelanggaran Disiplin dan mempunyai bukti
permulaan yang cukup dapat melaporkan kepada Pimpinan Unit atau
Pejabat yang bertanggungjawab di bidang SDM dan dijamin
perlindungannya oleh Perseroan.
4. Khusus tentang permasalahan perkawinan dan perceraian yang terkait
dengan Pegawai :
Mengacu pada permintaan dan atau putusan Pengadilan yang berkekuatan
hukum tetap.
Pemotongan penghasilan dari pegawai ybs akibat perceraian berdasarkan
Putusan Pengadilan tanpa memerlukan surat kuasa.
• Peraturan disiplin ini berlaku bagi seluruh pegawai termasuk pegawai yang
ditugaskaryakan.
Pasal 26 :Ketentuan Peralihan
1. Sanksi Disiplin yang telah dijatuhkan sebelum berlakunya ketentudan
atau sedang dijalani oleh Pegawai, diselesaikan berdasarkan
ketentuan Peraturan Disiplin Pegawai yang lama.

2. Pada saat mulai berlakunya ketentuan ini, maka :

Pemeriksaan Pelanggaran Disiplin Pegawai yang sudah sampap proses


pemeriksaan diproses dengan tetap berpedoman pada Praturan Disilin
Pegawai dalam Lampiran PKB 2006 – 2008.

Pelanggaran Disiplin Pegawai yang sudah masuk dalam tahap pelaporan


ke Pimpinan Unit atau Pejabat yang bertanggungjadi Bidang SDM tetapi
belum diproses pemeriksaannya, maka berdasarkan ketentuan
Peraturan Disiplin Pegawai ini.
 Hal-hal yg belum diatur dalam PDP 2010-2012 ini,
dibahas dalam Lembaga Kerjasama Bipartit Tingkat
Pusat atau Tingkat Unit Induk

 Dengan berlakunya ketentuan PDP 2010-2012 ini, maka


Lampiran PKB Periode 2006-2008 tentang Peraturan
Disiplin Pegawai dinyatakan tidak berlaku lagi

 Berlaku sejak ditanda tangani (14 Maret 2011)


Perselisihan Hubungan Industrial
 Pengertian: perbedaan pendapat yg mengakibatkan
pertentangan antara Pengusaha / Gabungan Pengusaha dgn
Pekerja/Buruh atau Serikat Pekerja/Buruh, karena adanya
Perselisihan mengenai :Hak, Kepentingan, Pemutusan
Hubungan Kerja, Perselisihan antar SP/SB dalam satu
perusahaan.
Hukum ACARA PHI

 PengadilanHub,Indst merupakan Pengadilan Khusus yg


berada di lingkungan Peradilan Umum (Negeri)

 Hukum Acara yang diberlakukan adalah Hukum acara


perdata, kecuali ditentukan lain. (Contoh: pihak yang
tidak puas dapat Upaya hukum Kasasi-Psl.110)

 Untuk nilai gugatan dibawah Rp.150 Juta, para pihak


yg berperkara Tidak dikenakan Biaya proses beracara
JENIS PERSELISIHAN

Tidak dipenuhinya Hak karena - Timbul dalam hubungan kerja, karena:


perbedaan Pelaksanaan atau - Tidak ada kesesuaian tentang
PENAFSIRAN Ketentuan UU, PKB, PP pembuatan
& Perjn. Kerja dan / atau perubahan Syarat Kerja yang
ditetapkan dalam PP, PKB, Perjn. Kerja

- Tidak ada kesesuain tentang Anggota


- Pelaksanaan Hak/kewajiban Ke-SP- an Tidak ada kesesuaian pendapat tentang
dalam satu perusahaan PENGAKHIRAN HUBUNGAN KERJA
PROSEDUR PENYELESAIAN
PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
MAHKAMAH AGUNG
(KASASI) 30 HARI
Ps 115
P. HAK P. PHK
PUTUSAN PENGADILAN PHI 50 HARI
FINAL
Ps. 103
PB PB
140
ARBITER KONSILIASI MEDIASI 30 HARI HARI

SEPAKAT 2 PIHAK Ps 15,


Ps 25,
Ps 40 (1)

DISNAKER

PB BIPARTIT 30 HARI
Ps. 3 (2)

KEPENTINGAN SP/SB HAK PHK


59
PERSELISIHAN
PENYELESAIAN PERSELISIHAN PHI MELALUI
PERUNDINGAN BIPARTIT
(Pasal 6 s/d Pasal 7 UU PPHI)

Perjanjian
Sepakat Didaftarkan Eksekusi
Perselisihan Industrial Bersama
1. Perselisihan Hak
2. Perselisihan Kepentingan P Bipartit
3. Perselisihan PHK 30 hari Mediasi /
Tidak Disnaker
4. Perselisihan antar SP/SB Konsiliasi /
Sepakat Setempat
Arbitrase

Catatan :

1. Para pihak mencatatkan


perselisihan
2. Menyampaikan bukti-bukti
3. Tawaran untuk
penyelesaian dengan
Arbitrase / Konsiliasi
4. Dalam 7 hari harus ada
pilihan
PENYELESAIAN PERSELISIHAN INDUSTRIAL
MELALUI MEDIASI & KONSILIASI
(Pasal 8 s/d Pasal 28 UU PPHI)

Mediasi
(Mediator) Perjanjian
Perselisihan : Sepakat Didaftarkan
Hak, Kepentingan, Bersama
PHK, Antar SP

- 30 hari waktu penyelesaian Eksekusi


- dalam 7 hari harus sudah
ada sidang I Tidak Setuju
Anjuran
Sepakat
Konsiliasi
(Konsiliator)
Perselisihan :
Tidak Gugatan
Kepentingan, PHK, Setuju Di PPHI
Antar SP

1. Tertulis
Catatan : 2. 10 hari sejak mediasi pertama s.d
Proses penyelesaian melalui Mediasi diterima para pihak
atau Konsiliasi adalah sama 3. 10 hari sejak diterima para pihak
menjawab
4. Tidak menjawab = menolak
Perbedaan Mediasi dengan Konsiliasi

 Penyelesaian perselisihan hak,  Penyelesaian perselisihan kepentingan,


perselisihan kepentingan, perselisihan PHK dan perselisihan antar
perselisihan PHK, dan Serikat Pekerja hanya dalam satu
perselisihan antar Serikat Pekerja perusahaan melalui musyawarah yang
ditengahi oleh seseorang atau lebih
hanya dalam 1 perusahaan konsiliator yang netral.
melalui musyawarah yang
 Merupakan salah satu tawaran
ditengahi oleh seseorang atau alternatif penyelesaian yang ditawarkan
lebih mediator yang netral. oleh Pegawai Disnakertrans.
 Konsiliator adalah seseorang atau lebih
 Mediator adalah Pegawai yang memenuhi syarat-syarat sebagai
Disnakertrans yang memenuhi konsiliator yang ditetapkan oleh
syarat-syarat sebagai mediator menteri, terdaftar di Disnakertrans
yang ditetapkan oleh Menteri.
PENYELESAIAN PHI MELALUI ARBITRASE
(Pasal 29 s/d Pasal 54 UU PPHI)

Akta Eksekusi
ARBITRASE Upaya Damai
Perdamaian
Perselisihan :
Kepentingan,
Antar SP dalam Putusan
Satu perusahaan Gagal Damai PEMBATALAN
Arbitrase
(sidang Arbitrase) MA
(Final & Mengikat)
30 Hari sejak diputus
1. Surat / dokumen dalam
1. Kesepakatan tertulis para pihak pemeriksaan palsu
2. Ditemukan dokumen
2. Arbiter sebanyak 3 orang
yang bersifat menentukan
3. Waktu proses penyelesaian 30 hari 3. Ada tipu muslihat yang
dilakukan salah satu pihak
4. Keputusan melampaui
Catatan : kewenangan Arbiter
Arbitrase dalam UU PHI tidak sama dengan Arbitrase UU No.30 tahun 1999 hubungan industrial
5. Putusan bertentangan
dengan UU.
Proses beracara di
Pengadilan Hubungan Industrial
(Pasal 55 s/d 81 s/d Pasal 97 UU PPHI)

Gugatan Eksepsi Kompetensi


Pggt Absolut/relatif Tggt

Jawaban Tggt Intervensi


Gugatan Rekonpensi Tanggapan
Putusan Sela Eksepsi Pggt
Replik Pggt M. Hakim Eksepsi
Jwb Rekonpensi Putusan Menerima Putusan
Bila ada ditolak
pelanggaran Sela Absolut kompetensi
Duplik Tggt Psl. 155 (3)
M. Hakim Ke badan peradilan lain

UU 13/2003
Menolak Menerima Putusan
Pembuktian Relatif kompetensi
Putusan
Pggt + Tggt Sita Ke wilayah hukum lain
sela
Jaminan Banding
Kesimpulan Ke PT
Pggt + Tggt
Penetapan Sita jaminan tidak dapat diajukan
Perlawanan dan atau tidak dapat digunakan
upaya hukum (Pasal 97 UU PHI)
Upaya Hukum setelah Putusan PPHI
(Pasal 109 s/d Pasal 110 UU PPHI)

Perselisihan :
FINAL
Kepentingan
Antar SP / SB dalam satu Putusan Akhir
perusahaan Dan bersifat tetap

Putusan PPHI
Perselisihan :
Hak Kasasi
PHK

Tenggang waktu 14 hari :


Bagi yang hadir, sejak dibacakan putusan
Bagi yang tidak hadir, sejak diterima
putusan
Sampai jumpa…… 66