Anda di halaman 1dari 17

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL

REMAJA SLTA SEDERAJAT DI KECAMATAN GUNUNG TULEH


KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2017

PROPOSAL

ELISDAR
NIM : 1615301388

PROGRAM STUDI DIV-KEBIDANAN


STIKes FORT DE KOCK BUKITTINGGI
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan seksual menempatkan remaja pada tantangan resiko terhadap
berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun kira-kira 15 juta remaja
berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampIr 190
juta terinfeksi penyakit menular seksual (PMS) yang dapat disembuhkan.
Secara global dari semua kasus infeksi HIV terjadi pada kaum muda yang
berusia 15-24 tahun (Endang Purwoastusti, 2015, p,15).

Di Indonesia, hasil Survey Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI)


2012 didapatkan 29,5 persen remaja laki-laki dan 6,2 persen remaja
perempuan pernah meraba atau merangsang pasangannya, 48,1 persen
remaja laki-laki dan 29,3 persen remaja perempuan pernah berciuman bibir,
serta 79,6 persen remaja laki-laki dan 71,6 persen remaja perempuan pernah
berpegangan tangan dengan pasangannya (SKRRI, 2012).
Data poling yang dikeluarkan Sumatera Barat Intelektual
Society (SIS) tentang perilaku remaja mengungkapkan bahwa
gaya pacaran siswa SLTA kota Padang, sekitar 48 persen
remaja kota Padang pernah berciuman (kissing) saat pacaran.
Jika hal tersebut terus berlanjut maka akan menimbulkan
dorongan lebih besar sebagai awal dari ketertarikan seksual
(Mahmudah, 2016).
Dari survey awal yang telah dilakukan dengan wawancara
kepada beberapa siswa dan guru SLTA sederajat di
Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat
didapatkan data bahwa tingkah laku seksual siswa di
sekolah banyak yang tidak sesuai atau melanggar peraturan
dan perilaku sebagai seorang siswa dan terpaksa dipanggil
oleh guru bimbingan konseling dan ada juga di antaranya
yang harus dikeluarkan dari sekolah, seperti di SMA N 1
Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat terjadi peningkatan
perilaku seksual pada siswa tiap tahunnya dan terpaksa
dikeluarkan dari sekolah. Dimana, pada tahun 2015 terdapat
3 siswa yang melakukan hubungan seksual di luar nikah dan
pada tahun 2016 menjadi 6 orang siswa.
Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut di atas,
maka dapat dirumuskan permasalahannya adalah “
B. Rumusan Masalah Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku
Seksual Remaja SLTA sederajat di Kecamatan Gunung
Tuleh Kabupaten Pasaman Barat tahun 2017”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
2. Tujuan Khusus

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi remaja
2. Bagi peneliti
3. Bagi institusi pendidikan
4. Bagi tempat penelitian
5. Bagi peneliti selanjutnya
E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Faktor-Faktor yang


Berhubungan dengan Perilaku Seksual Remaja SLTA Sederajat di
Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017.
Variabel independen pada penelitian ini yaitu pengetahuan, sikap,
teman sebaya, media informasi, dan status ekonomi. Variabel
dependennya yaitu perilaku seksual remaja. Jenis penelitian ini
menggunakan cara analitik dengan pendekatan cross sectional.
Penelitian ini dilakukan di SLTA dan sederajat di Kecamatan Gunung
Tuleh Kabupaten Pasaman Barat pada Januari 2017. dengan
populasi penelitian adalah siswa SLTA dan sederajat di Kecamatan
Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat kelas XI. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportional stratified
random sampling. Pengumpulan data dengan kuesioner,
pengolahan dengan komputerisasi, kemudian analisis secara
univariat dan bivariat dengan Chi-Square.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Remaja

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak


ke masa dewasa. Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12-24
tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan oleh Departemen
Kesehatan dan BKKBN (Direktoran Remaja Dan Perlindungan Hak
Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 hinggga 19 tahun dan
belum kawin (Lestari, 2011, p,15).

B. Perilaku Seksual Pranikah


Remaja

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didororng oleh hasrat
seksual, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan,
bercumbu, dan senggama (Endang Purwoastuti, 2015, p, 24).
C. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku
Seksual

Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah
orang mengadakan penginderaan terhadap suatu tertentu.
Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indera
manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa
dan raba dengan sendiri (Notoatmodjo, 2011).
Sikap
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap
objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau
pengalaman yang lain. Sikap membuat seseorang mendekati atau
menjauhi orang lain atau objek lain ( Notoatmodjo, 2007).
Peran orang tua
Orang tua adalah tokoh penting dalam perkembangan identitas
remaja. Orang tua harus bersikap terbuka dan selalu siap dalam
menjawab semua pertanyaan yang diajukan anak sesuai
kemampuannya. Beberapa diantara mereka merasa kurang mampu
dan tidak memiliki informasi untuk menjawab berbagai pertanyaan
seputar seks dan seksualitas (Andrews Gilly, 2010, p, 152).

Teman sebaya
Lingkungan pergaulan yang telah dimasuki oleh seorang
remaja dapat juga berpengaruh untuk menekan temannya yang
belum melakukan hubungan seks. Keinginan untuk diterima
oleh lingkungan pergaulannya begitu besar, sehingga dapat
mengalahkan semua nilai yang di dapat, baik dari orang tua
maupun dari sekolahnya (Diniawati, 2006).
Media informasi
Dampak media pornografi terhadap perilaku seksual
remaja sangat besar pengaruhnya. Membaca, melihat, dan
mnonton film pornografi akan memotivasi dan merangsang
remaja untuk meniru atau mempraktikkannya. Bila remaja
terus menerus terpapar oleh media pornografi , sangat
mungkin ia akan terdorong untuk melakukan hubungan
seksual pada usia terlalu dini (luar ikatan pernikahan)
(Mahmudah, 2016).

Status Ekonomi
Kemiskinan dan kobobrokan ekonomi ini pada
khususnya, juga sangat terkait dengan aktifitas seksual
pranikah terutama di kalangan perempuan. Dalam
beberapa penelitian, telah berspekulasi bahwa wanita
yang tidak cukup dalam hal kebutuhan dasar sering
terkena godaan mencari imbalan keuangan dari orang-
orang muda dan tua untuk nikmat seksual sebagai
imbalan (JETEMS, 2012).
D. Kerangka Teori

Faktor predisposisi
• Pengetahuan
o Pendidikan
• Sikap
o Kepercayaan
o Keyakinan
o Persepsi
• Ekonomi

Faktor pendukung
Perilaku seksual
o Sarana kesehatan remaja
o Lingkungan sekitar
• Media informasi

Faktor pendorong
o Petugas kesehatan
• Peran orang tua
• Teman sebaya
BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel dependen

Pengetahuan

Sikap
Perilaku seksual
Peran orang tua remaja

Teman Sebaya

Media informasi

Status ekonomi
B. Defenisi Operasional
No Variabel Defenisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
1 Pengetahuan Kemampuan kuesioner Wawancara Tinggi : skor ≥ Ordinal
siswa dalam Mean
memahami Rendah : skor <
tentang perilaku Mean
seks pranikah
dan dampak
seks pranikah
2 Sikap Jawaban remaja Kuesioner Wawancara Positif : ≥ mean Ordinal
yang Negatif : < mean
menunjukkan
setuju atau tidak
setuju terhadap
perilaku seksual
pranikah
3 Peran Usaha orang tua yang Kuesioner Wawancara Baik : skor Ordinal
Orang dilakukan dalam hal ≥ mean
Tua mengasuh, Kurang
komunikasi, orang baik : skor
tua yang pernah < mean
bercerai atau tidak
bercerai, tinggal
bersama orang tua
atau tidak dll

4 Teman Pengaruh teman Kuesioner Wawancara Baik : skor Ordinal


sebaya sebaya yang ≥ mean
menimbulkan Kurang
tekanan dalam baik : skor
bergaul di lapangan < mean

5 Media Media TV, internet, Kuisoner Wawancara Ordinal


Informasi radio, dll yang Terpapar ≥ mean
diperoleh remaja Kurang terpapar :
tentang faktor yang Skor <mean
mempengaruhi perilku
seks pranikah remaja
5 Status Merupakan Kuisoner Wawancara Tinggi : ≥ Ordinal
ekonomi gambaran UMR
pendapatan orang
tua dalam satu Rendah : <
bulan UMR

7 Perilaku segala tingkah laku Kuisoner Wawancara Beresiko : Ordinal


seksual yang didorong skor ≥
oleh hasrat Mean
seksual, sesama Tidak
jenis maupun beresiko :
lawan jenis. mulai skor <
dari perasaan Mean
tertarik,
berkencan,
berpegangan
tangan, mencium
pipi, berpelukan,
mencium bibir dll
BAB IV
METODE PENELITIAN

Analitik
A. Desain Penelitian
Populasi 386 orang
B. Populasi dan Sampel Sampel 88 orang, diambil secara
Proportional Stratafied
Random Sampling
C. Tempat dan Waktu
Penelitian

Tempat dan waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan


januari 2018 di SLTA dan sederajat Kecamatan Gunung Tuleh
Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2017.
D. Etika penelitian

1. Tanpa nama
2. Izin penelitian
3. Kerahasiaan
responden
4. Informed consent

E. Teknik Pengumpulan Data

F. Teknik Pengolahan Data


1. Editing
G. Teknik Analisa data 2. Coding
3. Entry
4. Cleaning
Analisa Univariat
Analisa Bivariat
TERIMA KASIH