Anda di halaman 1dari 160

• Manajemen Pemuliaan dan Rekayasa Genetik

-- Organisme Tanah dan Tanaman


Pengaturan Pola Tanam – Pengaruh Iklim,
Ketinggian, Jenis Tanaman, Varitas dan
Persaingan Hara, Jarak Tanam dan Sinar
Matahari,
Berbagai bentuk pola bertanam dalam
budidaya pertanian yang ada sekarang ini,
sebenarnya merupakan hasil dari resultante
yang didasari oleh faktor fisik dan faktor non
fisik, faktor fisik budidaya tanaman adalah
iklim dan tanah dan faktor non fisik khususnya
berhubungan dengan manusia
SISTEM PERTANIAN
BERKELANJUTAN
Definisi

Konsep pertanian berkelanjutan merupakan sebuah


konsep pertanian yang berorientasi pada dimensi sosial,
dimensi ekonomi, dan dimensi linkungan.

Pertanian berkelanjutan adalah sebagai alternatif-


alternatif untuk mencapai tujuan sistem produksi
pertanian yang dapat menguntungkan secara ekonomi
dan aman secara lingkungan. Pertanian Berkelanjutan juga
dapat diartikan sebagai keberhasilan dalam mengelola
sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam
memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus
mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan
serta konservasi sumberdaya alam.
Lanjutan….

Dalam pengelolaannya, pertanian berkelanjutan yang


berwawasan lingkungan dilakukan melalui
pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal,
lestari dan menguntungkan, sehingga dapat
dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk
kepentingan generasi sekarang dan generasi
mendatang.
Konsep pertanian berkelanjutan

Berorientasi pada tiga dimensi keberlanjutan yaitu:

• Dimensi Ekonomi
1

• Dimensi Sosial
2

• Dimensi Lingkungan
3
Prinsip Dasar Pertanian
Berkelanjutan

• Prinsip Ekologis
• Prinsip teknis

• Prinsip Sosial
Ekonomis
• Prinsip Politik
Ciri-Ciri Pertanian Berkelanjutan
• Secara ekonomi menguntungkan dan dapat
dipertanggung jawabkan
• Berwawasan ekologis (ecologically sound).

• Berkeadilan sosial.
• Manusiawi dan menghargai budaya lokal

• Mampu berdaptasi (adaptable).


Sifat-Sifat Pertanian Berkelanjutan

1. Adil
2. Berlanjut secara ekonomis

3. Mampertahankan fungsi ekologis

4. Manusiawi
5. Luwes
Pendekatan Kegiatan Yang Menunjang Pertanian
Berkelanjutan
1. Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
2. Tanaman Pelindung
3. Pengelolaan Nutrisi Tanaman

4. Konservasi lahan
5. Sistem Rotasi dan Budidaya Rumput
6. Diversifikasi Lahan dan Tanaman

7. Menjaga Kualitas Air/Lahan Basah


8. Agroforestri (wana tani)
9. Pemasaran
Pengelolaan nutrisi Konservasi lahan dengan
tanaman dengan menggunakan terasering
menggunakan pupuk untuk mengurangi erosi
kompos tanah
Pembudidayaan Diversifikasi lahan dan tanaman
rumput gajah untuk dengan membuat sarana
pakan ternak penyediaan air
Pembuatan siringan Sistem agroforesti dengan
untuk menghindari memanfaatkan lahan hutan
genangan air untuk menanam padi gogo
KESIMPULAN
• Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture)
adalah pertanian yang berlanjut untuk saat ini dan saat
yang akan datang dan selamanya
• Perinsip dasar pertanian berkelanjutan menurut Jaker
PO dan IFOAM yaitu prinsip ekologis, prinsip tenis,
prinsip social ekonomi, prinsip politik.
• Konsep pertanian berkelanjutan yaitu berorientasi
pada tiga dimensi keberlanjutan, yaitu: keberlanjutan
usaha ekonomi (profit), keberlanjutan kehidupan sosial
manusia (people), dan keberlanjutan ekologi alam
(planet)
PERTANIAN CAMPURAN
Pengertian
• Pertanian campuran atau pertanian terpadu
adalah diversifikasi komoditas yang dilakukan
guna mengimbangi kebutuhan produk pertanian
(terutama tanaman pangan) yang terus meningkat
melalui pemanfaatan hubungan sinergis antar
komoditas yang diusahakan, tanpa harus merusak
lingkungan serta serapan tenaga kerja yang tinggi
(Samsudin, 2003).
Ilustrasi Pertanian campuran Terpadu
Kelebihan Pertanian Campuran

1. Dapat menjaga kelestarian alam

2. Mendapatkan hasil produksi yang lebih besar

3. Pemanfaatan lahan yang digunakan lebih efektif dan efisien

4. Memanfaatkan potensi lahan sebagai pertanian campuran

Sumber : Rahmadi. 2008.


Kekurangan Pertanian Campuran

1. Biaya investasi dan biaya operasional yang


dikeluarkan lebih besar
2. Membutuhkan tenaga kerja yang handal untuk
mengelolanya
3. Membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk
membangun pertanian campuran
4. Membutuhkan pengawasan yang ekstra ketat
dalam membangun pertanian campuran.

Sumber : Rahmadi. 2008.


Daftar pustaka
• http: //doddyjulmi.Blogspot.com./2014/07/pembahasan-
1.html. Diakses Tanggal 4 November 2014.
• Rahmadi. 2008. Sistem Pertanian Terpadu. Universitas
Negeri Semarang. Jawa Tengah. Diakses Tanggal 4
November 2014.
• Rahmat. 2009. Kombinasi pertanian dengan Perikanan.
Institude Pertanian Bogor. Diakses Tanggal 4
November 2014.
• Samsudin. 2003. Pertanian Campuran. Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta. Diakses Tanggal 4 November
2014.
• Septiyadi. 2005. Pemanfaatan Lahan sebagai Hutan dan Lahan
Pertanian. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Diakses Tanggal 4 November 2014.
• Soehadji dalam Saragih. 2001. Tipologi Usaha Peternakan.
Universitas Padjadjaran. Bandung. Diakses Tanggal 4
November 2014.
Thank you.... 
SISTEM
PERTANIAN TERPADU
Sistem pertanian terpadu
• Terpadu/SPT (Integrated Farming Sistem/IFS). SPT
merupakan suatu sistem yang menggabungkan
peternakan konvensional, budidaya perairan,
hortikultura, agroindustri dan segala aktivitas
pertanian.
• Pupuk yang dihasilkan oleh ternak digunakan
untuk memupuk tanaman, dan residu tanaman
digunakan sebagai pakan ternak.

Sumber: Rahmadi, 2008.


Pola Pertanian Campuran/Terpadu

1. Pertanian – Kehutanan
2. Pertanian – Perikanan

3. Pertanian – Peternakan

4. Pertanian – Wisata
Sumber: (http://doddyjulmi.blogspot.com/2014/07/pembahasan -1.html).
1. Pertanian – Kehutanan

Mengurangi penebangan
hutan untuk lahan pertanian,
dan menjadi solusi untuk
keterbatasan lahan pertanian,
Menjaga kelestarian
lingkungan. Salah satu bentuk
Pertanaman campuran antara sistem pertanian terpadu
kelapa dan tanaman kehutanan
pertanian-kehutanan adalah
agroforestry.
Manfaat : dengan mengetahui
sistem penanaman yang benar
dapat dihasilkan produk yang
lebih (Septiyadi, 2005).
2. Pertanian – Perikanan
Perpaduan antara pertanian dengan perikanan,
misalkan persawahan yang ditengah – tengahnya
dapat dibuat kolam untuk ikan. Agar pertumbuhan
tanaman padi tidak terganggu, pemeliharaan ikan di
sawah harus disesuaikan dengan sistem pengairan
yang ada, sehingga produksi padi tidak terganggu
(Rahmat, 2009).

Area persawahan dan kolam perikanan


Lanjutan ......
 Untuk meminimalisir biaya pemupukan pada tanaman padi, kotoran ikan dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman padi.

 Sementara itu, plankton dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan untuk ikan.

 Selain dibuat ditengah lahan sawah, kolam ikan juga dapat dibuat ditengah kebun
tanaman hortikultura, memanfaatkan lahan yang kosong dengan potensi yang baik
apabila dibuat kolam ikan.

 Dengan demikian biaya yang dikeluarkan lebih sedikit dan kebutuhan gizi para
petani juga terpenuhi.

Contoh : Kolam ikan yang dibuat ditengah kebun


tanaman hortikultura.
3. Pertanian – Peternakan
Pemanfaatan tenaga hewan ternak untuk kepentingan
pertanian.
Contoh : Tenaga hewan ternak dapat digunakan sebagai
tenaga pengolah lahan dan dapat juga dimanfaatkan
sebagai tenaga pengangkutan hasil pertanian. Selain itu
kotoran ternak tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
untuk tanaman (pupuk kandang).

Pemanfaatan hewan
ternak sapi sebagai
tenaga pengolahan
lahan
Menurut Soehadji dalam Saragih ( 2001), tipologi usaha peternakan
dibagi berdasarkan skala usaha dan tingkat pendapatan peternak,
dan diklasifikasikan ke dalam 4 kelompok, yaitu :

(1). Peternakan sebagai usaha sambilan


(2). Peternakan sebagai cabang usaha
(3). Peternakan sebagai usaha pokok
(4). Peternakan sebagai usaha industri

Memanfaatkan sapi
sebagai usaha
peternakan sekaligus
kotoran dari sapi
dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk untuk
tanaman kelapa.
(1). Peternakan sebagai usaha
sambilan

Petani yang mengusahakan berbagai


macam komoditi pertanian terutama
tanaman pangan, di mana ternak sebagai
usaha sambilan untuk mencukupi
kebutuhan sendiri (subsistence), dengan
tingkat pendapatan dari ternak kurang
dari 30 %.
(2). Peternakan sebagai cabang usaha

Petani peternak yang mengusahakan pertanian


campuran (mixed farming) dengan ternak
sebagai cabang usaha tani dengan tingkat
pendapatan dari budidaya peternakan 30 - 70%
(semi komersial atau usaha terpadu).
(3). Peternakan sebagai usaha pokok

Peternak mengusahakan ternak sebagai usaha


pokok dan komoditi pertanian lainnya sebagai
usaha sambilan (single commodity) dengan
tingkat pendapatan dari ternak sekitar 70-
100%.
(4). Peternakan sebagai usaha industri

Peternak sebagai usaha industri,


mengusahakan komoditas ternak secara
khusus (specialized farming) dengan tingkat
pendapatan 100% dari usaha peternakan
(komoditi pilihan).
4. Pertanian – Wisata
Perpaduan antara pertanian
dengan wisata atau sering
disebut dengan agrowisata.
Manfaat : kelestarian alam
sekitar terjaga.
Contoh: Pada suatu lahan di
manfaatkan untuk menanam
tanaman hortikultura yaitu
sayuran dan buah-buahan, lalu
pada lahan tersebut dapat
dimanfaatkan sebagai tempat
wisata pendidikan dibidang
pertanian.
Sumber : Soehadji dalam Saragih,
2001.
WANATANI
AGROFORESTRY
Definisi Wanatani
Sugiarto, (2009)
mendefinisikan Wanatani
adalah bentuk
menumbuhkan dengan
sengaja dan mengelola
pohon secara bersama-
sama dengan tanaman
pertanian dan atau
makanan ternak dalam
sistem yang bertujuan
menjadi berkelanjutan
secara ekologi, sosial dan
ekonomi.
TUJUAN WANATANI
• Melindungi tanah dari erosi,
• pengawetan tanah
• pemulihan kesuburan tanah
• penghalang angin
• pohon pelindung dan pohon penyangga.
• Sebagai sumber pangan,
• makanan ternak dan produksi lainnya
CIRI-CIRI WANATANI
• Tersusun dari dua jenis tanaman yang siklus hidupnya
berbeda
• Selain dua jenis tanaman, bisa juga memadukan dengan
ternak
• Ada hubungan timbal balik antara (ekonomi dan ekologi)
untuk tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu
• Memiliki satu atau lebih fungsi pelayanan jasa, seperti
penyuburan tanah, sebagai pelindung tanah dari erosi
• Secara biologis maupun ekonomis, sistem wanatani
paling sederhana pun jauh lebih kompleks daripada
sistem budidaya monokultur
KEUNGGULAN WANATANI /AGROFORESTRY

• Dapat menjadi “tabungan” bagi petani,


• Menyediakan kebutuhan sehari-hari petani, sepertisayuran, buah,
rempah, bumbu, tanaman obat, dan sebagainya,
• Kebutuhan jumlah tenaga kerja yang rendah,
• Tidak memerlukan teknologi canggih,
• Mampu mengelola keanekaragaman hayati,
• Peluang pengembangan dan pemanfaatan hasil hutannon kayu,
• Merupakan model alternatif bagi produksi kayu,
• Sebagai sarana pelestarian alam in-situ dan eks-situ.
JENIS-JENIS WANATANI

WANATANI SEDERHANA WANATANI KOMPLEKS

adalah suatu sistem adalah sistem pertanian menetap


pertanian dimana yang melibatkan banyak jenis
tanaman pohon baik sengaja
pepohonan ditanam secara ditanam maupun tumbuh secara
tumpang-sari dengan satu alami pada sebidang lahan dan
atau lebih jenis tanaman dikelola petani mengikuti pola
semusim. tanam dan ekosistem menyerupai
hutan.
BENTUK –BENTUK WANATANI

Menurut Winarto, (2006) yaitu pola


Wanatani dapat dibagi menjadi :

1. Agrisilvikultur = Kombinasi kehutanan


komponen pertanian.

2. Agropastura = Kombinasi antara pertanian


dengan peternakan.
LANJUTAN

3. Silvopastura = Kombinasi antara


kehutanan dengan peternakan

4. Agrosilvopastura = Kombinasi antara


pertanian dengan kehutanan
dan peternakan/hewan
Ruang Lingkup Sistem Pemanfaatan Lahan secara
Agroforestri

Menurut (Nail, dalam porsiana, 2006) menyatakan bahwa


dari ketiga komponen yaitu kehutanan, pertanian, dan
kehutanan akan membentuk sistem pertanian yang
berkelanjutan.
WANATANI
AGRISILVIKULTUR
Pendahuluan
 Agroforestri adalah penggabungan sistem
budidaya kehutanan, pertanian, peternakan dan
perikanan. Agroforestri merupakan suatu sistem
pengelolaan lahan untuk mengatasi masalah
ketersediaan lahan dan peningkatan produktivitas
lahan.
Pengertian Agrisilvikultur
Agrisilvikultur adalah sistem
agroforestri yang
mengkombinasikan komponen
kehutanan (tanaman berkayu)
dengan komponen pertanian
(tanaman non-kayu).

Tanaman berkayu dimaksudkan


yang berdaur panjang (tree
crops) dan tanaman non-kayu
dari jenis tanaman semusim
(annual crops)
Pengembangan Agrosilvikultur

• Tanaman Pokok

• Tanaman Semusim (Tahap I)

• Tanaman semusim (Tahap II)

• Tanaman Keras
Tujuan pengembangan
Agrosilvikultur

Pemanfaatan lahan secara optimal

Pembangunan hutan secara multi funfsi

Meningkatkan pendapatan petani/penduduk miskin

Pemenuhan, sandang, pangan, dan papan


Jenis-jenis agrosilvikultur ada dua
• Sistem agrosilvikultur sederhana
Pohon ditanam secara tumpang sari Pohon dapat ditanam mengelilingi
dengan tanaman semusim petak tanaman semusim

• Jenis pohon yang ditanam antara lain • Jenis tanaman semusim yang dapat
kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao, ditanam antara lain padi gogo, jagung,
nangka, melinjo, petai, jati, mahoni, kedelai, kacang-kacangan, ubi kayu,
dadap, lamtoro maupun kaliandra sayuran, rumput dan sebagainya.
Lanjut,
• Sistem agrosilvikultur kompleks
pertanian menetap yang tumbuh secara alami pada
melibatkan banyak jenis sebidang lahan yang
• Komponen penyusun
pohon • pola tanam
dikeloladan
petani
selain pohon, juga ekosistem yang
terdapat tanaman perdu, menyerupai hutan baik
tanaman semusim dan secara sengaja maupun
rerumputan tumbuh secara alami
pada sebidang lahan yang
dikelola
Beberapa indikator terselenggaranya sistem
pertanian yang berkelanjutan
• Dapat dipertahankannya sumber daya alam
sebagai penunjang produksi tanaman dalam
jangka panjang,
• Penggunaan tenaga kerja yang cukup rendah,
• Tidak adanya kelaparan tanah,
• Tetap terjaganya kondisi lingkungan tanah dan air,
• Rendahnya emisi gas rumah kaca serta
• Terjaganya keanekaragaman hayati
lanjutan
sistem pertanian yang berkelanjutan sistem pertanian yang berkelanjutan
Kelebihan Sistem Agrisilvikultur
Kekurangan Sistem Agrisilvikultur
• Kurangnya pengetahuan akan system
pertanian agrosilvikultur, bibit unggul yang
dipakai dan upaya konservasi tanah dan air
bagi masyarakat umum.
• Tingkat pengetahuan tentang teknologi
pertanian rendah.
• Rendahnya kesadaran untuk memelihara
sumberdaya lahan/lingkungan bagi
masyarakat.
• Adat yang memungkinkan untuk merambah
hutan tanpa pengawasan.
Dampak Agrisilvikultur

Dampak Dampak
Agrisilvikultur Agrisilvikultur
terhadap terhadap Sifat Fisik
Seresah Tanah

Dampak
Agrisilvikultur
terhadap Unsur
Hara

Dampak Agrisilvikultur
terhadap Siklus Air
Tabel. Bentuk sistem Agrisilvikultura yang Berkembang di Nusa Tenggara
Sub-Sistem Contoh Praktek Contoh Teknoogi
Sistem tebas bakar (Slash Oma (Nusa Tenggara. Pertanian lahan
and burn agriculture) kering berpindah dikonversi dari hutan,
saat ini ada beberapa pohon)
Sistem pertanaman Rau (Lombok) (pertanian lahan kering
semusim (mixed annual- menetap dengan pohon penutup yang
tree cropping) tersebar)

Budidaya lorong (Alley Kamutu luri (Sumba: budidaya lorong


cropping system) tradisional)
Tanaman lorong dengan
MPT’s legum (seluruh
Nusa Tenggara); Sikka
(budidaya lorong yang
dimodifikasi)
Hutan keluarga/ kebun Omong wike (Sumba; hutan keluarga Timor (diperkenalkan di
campuran (mixed tree – tradisional) Seluruh Nusa Tenggara)
gardening)
Pager hidup (life fences) Okaluri (Sumba; pohon serbaguna/ berkayu
di sekeliling areal ladang berpindah)
AGRO PASTURA
Apa itu agroforestry
silvopastura???

Silvopastura
merupakan salah
satu hutan
kemasyarakatan
yang
menggabungkan
antara hutan dan
peternakan.
Silvopastura bukan hanya

Silvopasture “TIDAK”
hanya mengubah ternak
ke hutan tetapi
manajemen yang
disengaja, terpadu,
interaktif dan intensif dari
pohon untuk hasil hutan
dan hijauan untuk
produksi ternak.
Manajemen silvopastura
Menurut Prasmonosidi, (2009) menyatakan bahwa ada 3
komponen dalam manajemen silvopastura
1. Hutan
2.hijauan/rumput
3. ternak
BEBERAPA TIPE POHON/PERKEBUNAN
Tipe pohon yang biasa dikombinasikan dengan ternak:
• Hujan kayu jati
• Hutan pinus
• Hutan kayu garu
• Hutan akasia
• Sengon,dan cemara
Atau beberapa jenis tanaman perkebunan yang cukup efektif bila
dikombinasikan dengan ternak, seperti karet, kelapa, kalapa sawit
(berumur >10 tahun), dan cengkeh.
TIPE RUMPUT
Tipe rumput yang biasa di kombinasikan dengan ternak dan biasaya
terdapat dihutan:
1. Ageratum conyzoides. 2. andropogon aciculatus .
3. Alternanthera, barisiliana 4. Imperata clyndrica . 5. Eleusine indica.
6. Axonopus compressus

1 2 3

4 5 6
TIPE HEWAN/TERNAK

Beberapa jenis hewan yang memiliki potensi untuk


dikombinasikan dengan kehutanan
• Kuda
• Sapi
• Kerbau
• Kambing
• Rusa
• Babi
• domba
MANFAAT SILVOPASTURA

Menyegarkan menyegarkan tanaman

Peningkatan satwa liar

Pendapatan tahunan

Pendapatan jangka panjang

Ternak tidak terlalu stress

Resiko kebakan hutan berkurang


BEBERAPA MODEL SILVOPASTURA

1. Model pertama yaitu


silvopastura yang
mengkombinasikan antara
domba dengan kehutanan
2. Model kedua yaitu
silvopastura yang
mengkombinasikan antara
sapi dengan kehutanan
LANJUTAN

3. Model ketiga yaitu


silvopastura yang
mengkombinasikan
antara kuda dengan
kehutanan
4. Model keempat yaitu
silvopastura yang
mengkombinasikan
antara angsa dengan
kehutanan
LANJUTAN

5. Model kelima yaitu


silvopastura yang
mengkombinasikan
antara babi dengan
kehutanan
6. Model keenam yaitu
silvopastura yang
mengkombinasikan
antara kambing dengan
kehutanan
DAFTAR PUSTAKA

Porsiana, A. 2009. Kewirausahaan: Bersinar di Agroindustri


Peternakan. Harian Kompas,tanggal 16 Oktober 2009. Jakarta.

Pramonosidi, D. 2009. Tempat Berguru Petani dan Peternak Sapi.


Harian Kompas,tanggal 13 November 2009. Jakarta.

Sugiarto. 2009. Dephut Tawarkan HPH Sapi. Koran Mingguan


AgroIndonesia, Vol. VI,No. 274, 10-16 Nopember 2009.

Winarto, B. 2006. Kamus Rimbawan. Yayasan Bumi Indonesia Hijau.


Jakarta.
AGROSILVOPASTURA
I. PENGERTIAN
• Agrosilvopastura adalah
pengkombinasian
komponen berkayu
(kehutanan) dengan
pertanian (semusim)
dan sekaligus
peternakan/binatang
pada unit manajemen
lahan yang sama.
Contoh Agrosilvopastura
Hutan akasia, jagung, dan
peternakan ayam

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/02/10/
083552866/Warga-Bogor-Protes-Bau-Busuk-Peternakan-
Ayam

Hutan akasia, padi, dan


peternakan sapi

Sumber :
http://www.mongabay.co.id/category/feature/page/2/

Hutan akasia, padi, dan


Sumber :http://info-
peternakan kambing peternakan.blogspot.com/2012/11/potensi-peternakan-
kambing.html
Daftar pustaka
• Febrianto, T, (2003). Pendugaan potensi produksi tanaman
jagung (zea may l) yang ditanam dengan tanaman jati
(Tectona grandis L) pada sistem agroforestri di Lodoyo,
Blitar. Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya, Malang.
• Brown S, 1997. Estimating biomasas change of tropical
forest, a primer. FAO Forestry paper 134, FAO,
Rome.Cahyono. B. 2004. Klimatologi. Penerbit ITB,
Bandung.
• Van Noordwijk M and Lusiana B, 1999. Background on a
model of Water, Nutrient and Light, Capture in
Agroforestry Systems. International Centre for Research in
Agroforestry (ICRAF). Bogor.
• Sagata, S. 2011. agroforestry. http://sigit-
sagata.blogspot.com/2011/12/agroforestry_2
7.html
• http://www.tempo.co/read/news/2014/02/10
/083552866/Warga-Bogor-Protes-Bau-Busuk-
Peternakan-Ayam
• http://info-
peternakan.blogspot.com/2012/11/potensi-
peternakan-kambing.html
• http://www.mongabay.co.id/category/feature
/page/2/
Produksi Pertanian Sawah
dalam
Sistem Pertanian Berkelanjutan,
Pengertian Sawah Adalah
• Sawah :
1. ada air 7. Lapisan kedap air
2. ada galengan
3. ada pelumpuran
4. ada tanaman padi
5. sifat menetap
6. Intensif

• Jenis sawah berdasarkan sumber air:


1. Sawah Irigasi
2. Sawah tadah hujan
3. Sawah pasang surut
4. Sawah Lebak
Ciri-ciri sawah:
1. Setiap petak sawah dibatasi pematang, pematang
tersebut ada yang lurus dan ada yang berkelok
-kelok menyesuaikan dengan kontur tanahnya.

2. Permukaannya selalu datar meskipun di daerah


bergunung-gunung atau berbukit. Apabila sawah
berada di kontur berbukit-bukit, mk dibentuk
terasering.

3. Pengolahan dan pengelolaan dikerjakan pada


kondisi jenuh air /berair.
Ciri-ciri sawah:
4. Kesuburannya lebih stabil daripada lahan kering
sehingga memungkinkan diolah secara intensif
tanpa adanya penurunan produktifitas yg drastis.

5. Secara umum produktifitasnya lebih tinggi


daripada lahan kering

6. Sawah pada umumnya mempunyai sumber


perairan yg relatif teratur kecuali sawah tadah
hujan.
7. Tanaman yang utama diusahakan adalah padi
sawah.
8. Unsur hara berasal dari masukan bahan dari luar.
• JENIS SAWAH
Ada beberapa tipe sawah berdasarkan sistem irigasinya,
yaitu:
1.Sawah Irigasi Teknis
Sawah tipe ini irigasinya tersedia sepanjang tahun. Sumber airnya
berasal dari waduk, danau, baik buatan maupun alami. Air yang
masuk ke petakan-petakan sawah sudah terukur, karena
pengaturannya menggunakan peralatan yang cukup baik sehingga air
yang masuk ke saluran-saluran tersier dan sekunder sudah terhitung
jumlah atau debitnya.
2. Sawah Irigasi Setengah Teknis
Sawah tipe ini sumber airnya sama seperti sawah tipe irigasi teknis,
hanya saja persedian airnya tidak selalu ada sepanjang tahun. Air
yang masuk ke saluran primer dan sekunder saja yang terukur
sedangkan air yang masuk ke saluran tersier dan kuarter tidak
terukur lagi karena saluran tidak dilengkapi dengan alat pengukur air
yang lengkap seperti irigasi teknis.

3. Sawah Irigasi Pedesaan (sawah irigasi
sederhana)
Sawah tipe ini sumber airnya berasal dari mata air yang ada di
lembah-lembah bukit yang ditampung di bak atau kolam
penampung air yang tidak permanen atau permanen. Bisanya
terdapat di daerah yang terbatas di daerah lembah-lembah bukit.
4. Sawah Tadah Hujan
Sawah tipe ini sumber airnya hanya mengandalkan curah hujan.
Umumnya ditanami padi pada musim hujan sedangkan pada musim
kemarau dibiarkan tidak ditanami. Tingkat produktivitas pertanian
tadah hujan secara umum rendah, dikarenakan kondisi tanah yang
terdegradasi, tingginya evaporasi,kekeringan, banjir, dan minimnya
manajemen air. Petani juga berpotensi melakukan penyulaman
tanaman padi lebih sering dibandingkan sawah beririgasi, akibat
suplai air yang tidak stabil.
• JENIS SAWAH
Ada beberapa tipe sawah berdasarkan sistem irigasinya, yaitu:

5. Sawah Rawa
Sawah ini terdapat di daerah cekungan yang biasanya tidak ada tempat
pemasukan atau pembuangan air. Biasanya ditanami menjelang musim
kemarau dan panen menjelang musim hujan. Padi sawah di lahan rawa
biasanya berumur lebih panjang dibandingkan dengan padi di lahan
sawah biasa karena hampir setiap waktu tergenang air. Oleh karena itu
perlu dibuat semacam parit guna kepentigan drainase dan membuang
kandungan seng nya, yang ditandai warna air yang biasa
disebut nieng atau menyerupai karat besi. Pengolahan juga tidak
diperlukan, bahkan diutamakan tidak dilakukan pengolahan karena
dapat memicu keluarnya unsur seng tersebut. Sawah tipe ini juga biasa
terdapat belut karena belut hidup membutuhkan kondisi basah
sepanjang waktu.
Terdapat gulma khas pada sawah tipe ini yang relatif sult dikendalikan,
yaitu Ganepo, semacam gulma yang ada dipermukaan air dan daunnya
kedap air menyerupai daun talas karena dipermukaan daunnya memiliki
semacam bulu halus.
• JENIS SAWAH
Ada beberapa tipe sawah berdasarkan sistem
irigasinya, yaitu:
7. Sawah Lebak
Sawah tipe ini biasa terdapat di muara-muara sungai
yang lebar seperti bengawan solo, sungai berantas dan
sungai musi, dan sumber irigasinya dari sungai tersebut
dengan menggunakan kincir angin atau bahkan timba.
Penanaman biasanya dilakukan saat musim kemarau,
sehingga panennya menjelang musim hujan atau
bahkan di awal musim hujan karena untuk menghindari
potensi banjir pada saat musim hujan.
Baca lebih lanjut, Keuntungan dan kerugian sistem
persawahan
1. Sawah Irigasi :
Pengairan teratur
Tidak tergantung c.hujan
Panen 2 x + gadu palawija.
Tidak tergantung pada musim

2. Sawah tadah hujan


Air tida teratur
Air dari c.hujan
Padi / padi gogo rancah
Sangat tergantung pada musim
M.gadu lebih panjang : palawija, jagung dan
ketela pohon.
3. Sawah pasang surut
Tergantung pada keadaan air permukaan
yang dipengaruhi oleh kondisi pasang
surutnya air sungai/laut.
Pada saat pasang, sawah tergenang air,
sedangkan pada saat surut sawah kering
dan ditanami dengan padi.
Sawah pasang surut banyak terdapat di
Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Tanam padi berbatang tinggi
4. Sawah Lebak:
Pengairan tidak teratur
Tergantung luapan air sungan
Panen maks 2 x
Musim kemarau buat petakan
pemanfaatan endapan sungai
lokasi kanan kiri sungai ( Sungai Ogan
dan Sungai Musi (Sumatra Selatan).
Padi air dalam (deep water rice)
1. Curah hujan yang sangat rendah,
2. Air sangat terbatas,
3. Suhu udara tinggi dan kelembabannya rendah.
Lahan Basah
.

Secara sederhana, pengertian lahan basah (dalam


bahasa Inggris disebut wetland)
1. Jenuh dengan air.
2. Tergenang air yang dangkal,
3. sebagian atau keseluruhannya.
4. Genangan airnya bersifat permanen (terus-
menerus) atau musiman.
5. Baik berupa air diam ataupun mengalir.
6. Baik berupa air tawar, air payau, maupun air asin.
7. Terbentuk secara alami ataupun buatan manusia.
PENGERTIAN

Sawah irigasi adalah sawah


yang sumber air utamanya
berasal dari air irigasi
SAWAH IRIGASI
sawah Irigasi sederhana
Irigasi sederhana adalah
sawah yang memperoleh
pengairan dimana cara
pembagian dan pembuangan
airnya belum teratur,
walaupun pemerintah sudah
ikut membangun sebagian
jaringan tersebut
Sawah irigasi setengah teknis
Sawah irigasi setengah
teknis adalah sawah
berpengairan teknis
akan tetapi pemerintah
hanya menguasai
bangunan penyadap
untuk dapat mengatur
dan mengukur
pemasukan air
Sawah irigasi teknis

Sawah irigasi teknis


adalah sawah yang
memperoleh pengairan
dimana saluran pemberi
terpisah dari saluran
pembuang agar
penyediaan dan
pembagian irigasi dapat
sepenuhnya diatur dan
diukur dengan mudah
SAWAH
adalah suatu areal usaha tani dimana
lebih diperuntukan penanaman padi, secara fisik
permukaannya datar, harus ada air, ada
galengan, ada lapisan kedap air, ada pelumpuran
dan adanya saluran drainase.
Jenis-jenis Sawah :
• Sawah Tadah Hujan
• Sawah Gogorancah
• Sawah Sorjan
Sawah Tadah Hujan
Adalah sawah yang penanamannya sangat
dipengruhi oleh curah hujan di daerah
tersebut.
Contoh Sawah Tadah Hujan
Pengelolaan tanah sawah tadah hujan
Setelah penanaman
Perawatan
Perawatan sawah tadah hujan dilakuakn sebagai
berikut:
• Pemberian pupuk
• Pengairan
• Pengendalian gulma
Panen dilakukan
setelah umur padi
mencapai umur 3-4
bulan setelah
penanaman
Sawah setelah panen
Sawah Pasang Surut
• Sawah yang pengairannya tergantung pada air
sungai yang dipengaruhi oleh pasang surutnya
air laut.

114
3.2. LAHAN BASAH

115
116
117
118
Beberapa kelebihan sistem sawah :

1. Petakan ada air – galengan --- erosi <<<


2. Adanya lap. Kedap air – pupuk tidak tercuci/
leaching

3. Pelumpuran  pengikat hara dan pupuk,


pegangan akar

4. Berkembangnya mikrobia tanah/air


5. Modal, TK, Waktu lebih banyak

6. Penyerapan TK. Tinggi , daya dukung lainnya


meningkat

119
Dampak Lainnya :
1. Berkembangnya pertanian menetap
2. Terbentuknya pemukiman menetap
3. Berkembangnya teknologi yang makin maju
4. Berkembangnya sektor pertanian lainnya :
perikanan, peternakan, pemanfaatan
pekarangan, dll
5. Berkembangnya kebudayaan dan kekuasaan

120
121
3.2. LAHAN BASAH

122
Sawah Tadah hujan : adalah sawah yang airnya/
pengairannya tergantung/berasal dari curah hujan.

Produktivitas yang rendah


• Peningkatan produktivitas lahan diantaranya :
1. Melalui penerapan teknologi spesifik lokasi berda
-sarkan potensi sumberdaya domestik dengan
memperhatikan aspek lingkungan.
Peningkatan produktivitas : melalui peningkatan
produktivitas per satuan luas dan peningkatan
intensitas pertanaman.
Rendahnya produktivitas dan intensitas pertanaman
(IP) :
a. karena sumber air hanya tergantung pada curah
hujan.

123
• Bila daerahnya memiliki curah hujan yang pendek
(kelas C/D) maka penanaman padi hanya dapat
dilakukan satu kali dalam setahun, selanjutnya
lahan dibiarkan bera.
Kasus di desa Bojongkembar 90 dari 103 ha adalah sawah
tadah hujan :
CH tidak menentu pada awal tanam menyebabkan
keterlambatan tanam pada musim tanam pertama (MT 1)
karena debit air yang tidak cukup untuk penanaman padi.
Masa tanam pada MT 1 umumnya petani di lahan sawah
tadah hujan menanam komoditas palawija (misal kacang
tanah, dan jagung manis),

selanjutnya pada MT 2 ditanami oleh padi sawah.

124
Pada MT 3 sebagian petani ada yang kembali menanam padi
(walaupun terkadang gagal panen/puso akibat kekeringan),
dan sebagian lahan dibiarkan bera, sehingga indeks
pertanaman di lahan sawah tadah hujan hanya dua kali (IP
200).
Untuk meningkatkan indeks pertanaman di lahan sawah
tadah hujan dilakukan dengan pemanfaatan lahan bera.

Maka di tanam palawija (jagung komposit, ubi jalar dan


kacang tanah).
Inovasi teknologi yang telah dilakukan oleh Prima Tani
Kabupaten Sukabumi adalah melalui perbaikan pola tanam
di lahan sawah tadah hujan menjadi Padi Gora-Padi-Palawija
atau Palawija-Padi-Palawija.

125
126
127
Sawah dapat dibangi berdasarkan :
1). Bangunannya : sawah tradisonil, sederhana,
setengah tehnis, sawah tehnis, sawah modern.
2). Sumber airnya : Sawah irigasi, tadah hujan.
3). Pola pengairannya : tergenang, Intermittent
(terputus-putus), Gogorancah, curah hujan.
4). Kecukupan airnya : Sawah irigasi, curah hujan,
sawah air dalam, lebak, sawah pematang.
5). Sistem penanamannya : tandur jajar, Tanam
benih langsung (Tabela), tanam segi empat sama
sisi, tanam legowo.
6). Jenis padinya : padi umur pendek, sedang, padi
umur panjang, padi air dalam (depth water rice),

128
7). Lokasinya : di dataran rendah, dataran tinggi
8). Lapisan kedap air : Sawah natura, sawah plastik,
Sawah beton

129
Beberapa kelebihan sistem sawah :

1. Petakan ada air – galengan --- erosi <<<


2. Adanya lap. Kedap air – pupuk tidak tercuci/
leaching

3. Pelumpuran  pengikat hara dan pupuk,


pegangan akar

4. Berkembangnya mikrobia tanah/air


5. Modal, TK, Waktu lebih banyak

6. Penyerapan TK. Tinggi , daya dukung lainnya


meningkat

130
Dampak Lainnya :
1. Berkembangnya pertanian menetap
2. Terbentuknya pemukiman menetap
3. Berkembangnya teknologi yang makin maju
4. Berkembangnya sektor pertanian lainnya :
perikanan, peternakan, pemanfaatan
pekarangan, dll
5. Berkembangnya kebudayaan dan kekuasaan

131
2. Sawah dan Persawahan :

Sawah : adalah suatu areal dimana lebih diperuntukkan


penanaman padi, yang harus ada air, galengan,
lapisan kedap air, pelumpuran, dan saluran
drainase.

Pesawahan : suatu lokasi /areal yang luas dimana


pemanfaatan terbesar adalah untuk sawah.

Sawah dapat dibangi berdasarkan :


Bangunannya : sawah tradisonil, sederhana,
setengah tehnis, sawah tehnis, sawah modern.

132
Sumber airnya : Sawah irigasi, tadah hujan.
Pola pengairannya : tergenang, Intermittent (terputus-putus),
Gogorancah, curah hujan.
Kecukupan airnya : Sawah irigasio, curah hujan, sawah air
dalam, lebak, saawah pematang
Sistem penanamannya : tandur jajar, Tanam benih langsung,
tanam segi empat sama sisi, tanam legowo
Jenis padinya : padi umur pendek, sedang, panjang, depth
water rice,
Lokasinya : di dataran rendah, dataran tinggi
Lapisan kedap air : Sawah naturan, sawah plastik. Sawah beton

133
Beberapa kelebihan sistem sawah :
1. Petakan ada air – galengan --- erosi <<<
2. Adanya lap. Kedap air – pupuk tidak tercuci/ leaching
3. Pelumpuran  pengikat hara dan pupuk, pegangan akar
4. Berkembangnya mikrobia tanah/air
5. Modal, TK, Waktu lebih banyak
6. Penyerapan TK. Tinggi , daya dukung lainnya meningkat

Dampak Lainnya :
1. Berkembangnya pertanian menetap
2. Terbentuknya pemukiman menetap
3. Berkembangnya teknologi yang makin maju
4. Berkembangnya sektor pertanian lainnya : perikanan,
peternakan, pemanfaatan pekarangan, dll
5. Berkembangnya kebudayaan dan kekuasaan

134
135
Sistem Sorjan
• Sawah Sistem Surjan
Sawah sistim surjan adalah sawah yang
sumber air utamanya berasal dari air irigasi
atau air reklamasi rawa pasang surut dan
bukan pasang surut (lebak) dengan sistim
tanam padi dan palawija / hortikultura yang
ditanam pada tabukan dan guludan.

136
6.14. Sorjan (Altering Bed System)

Tanah urugan
Tanah urugan Sayuran
Pangan/
Tan.Jagung

Tanah yg akan di Padi


Tanah datar
Jadikan galian Ikan

Air tadah hujan


Hasil galian untuk
padi + Ikan
Tan.Pangan
Tan. Sayuran
/Tan. buahan

Tanah urugan

137
6.14. Sistem sorjan :
- Sebidang lahan - berselingan
- dua permukaan - dataran rendah
- tinggi dan rendah - CH rendah  padi
- Berdampingan CH tinggi --> palawija
- Budidaya ikan + padi + horti + palawija
- monokultur / Tumpangsari

Contohnya :
Padi + Ikan + Jagung + Sayuran
Padi + Sayuran + sayuran
Padi + Pangan + Pangan

138
139
140
3.1. Lahan Kering

141
3.1. Lahan kering

• Menurut Tejoyuwono (1989) dalam Suwardji(2003) menyarankan


beberapa pengertian Pertanian Lahan Kering sebagai berikut:
• a. Untuk kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi potensial
melebihi jumlah curah hujan actual atau daerah yang jumlah curah
hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi disebut
dengan “Daerah Kering”.

• b. Untuk lahan dengan draenase alamiah lancar dan bukan merupakan


daerah dataran banjir, rawa, lahan dengan air tanah dangkal, atau lahan
basah alamiah lain istilahnya lahan atasan atau Upland.

• c. Untuk lahan pertanian yang diusahakan tanpa penggenangan,


istilahnya lahan kering.


142
Kesepakatan pengertian lahan kering dalam
seminar nasional pengembangan wilayah lahan kering ke 3
di Lampung : (upland dan rainfed) adalah hamparan lahan
yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara
permanen maupun musiman dengan sumber air berupa
hujan atau air irigasi (Suwardji, 2003)

Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998), lahan


kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang
atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu
dalam setahun. Tipologi lahan ini dapat dijumpai dari
dataran rendah (0-700 m dpl) hingga dataran tinggi (> 700m
dpl)

143
• Dari pengertian diatas, maka jenis penggunaan lahan yang
termasuk dalam kelompok lahan kering mencakup: a)
lahan tadah hujan, b) tegalan, c) kebun campuran, d)
perkebunan, e) hutan,

d) semak, e) padang rumput, dan f) padang alang alang.

• Masalah yang utama adalah masalah fisik lahan kering


banyak yang telah rusak atau mempunyai potensi yang
cukup besar untuk menjadi rusak

144
1) Kekurangan air pada saat musim kemarau,
2). kahat unsur hara serta keadaan tanah yang peka
terhadap erosi•
3) Masalah lain adalah keadaan sosial ekonomi
petani atau masyarakat yang menggunakan lahan
kering sebagai tempat usahanya : a) pendapatan
keluarga yang rendah serta kemiskinan dibanyak
tempat berkolerasi positif dengan usaha tani di
lahan kering

145
• Untuk mengurangi kondisi di atas :
Paket teknologi, kebijakan, dan pendidikan/
pelatihan yang berorientasi pada
perlindungan lahan kering sangat diperlukan

146
147
148
149
SAWAH
adalah suatu areal usaha tani dimana
lebih diperuntukan penanaman padi, secara fisik
permukaannya datar, harus ada air, ada
galengan, ada lapisan kedap air, ada pelumpuran
dan adanya saluran drainase.
Perawatan sawah tadah hujan dilakuakn sebagai
berikut:
• Pemberian pupuk
• Pengairan
• Pengendalian gulma
Sawah setelah panen
155
156
• Teknologi dalam pertanian (benih, pupuk, PHT,
Precision farming, bioteknologi)
Panca Usahatani :

1. Pengelolaan dan pengolahan tanah


2. Tanam dan penanaman dengan benih/bibit unggul
3. Pupuk dan Pemupukan
4. Pengairan
5. Pengendalian Hama, Penyakit, gulma terpadu

Fokus program ini adalah peningkatan produksi kuantitatif dan


tidak banyak menghitung dan mengatur biaya produksi

158
Sapta Usahatani :

1. Pengelolaan dan pengolahan tanah


2. Tanam dan penanaman dengan benih/bibit unggul
3. Pupuk dan Pemupukan
4. Pengairan
5. Pengendalian Hama, Penyakit, gulma terpadu
6. Panen dan Pasca panen
7. Pemasaran

Fokus program ini adalah peningkatan produksi kuantitatif dan


kualitatif dan tingkat kesejahteraan petani.
Pada kondisi ini telah mengatur besarnya biaya produksi, BC
ratio, tetapi belum memperhitungkan keberlanjutan.

159
Dasa Usahatani :
1. Pengelolaan dan pengolahan tanah
2. Tanam dan penanaman dengan benih/bibit unggul
3. Pupuk dan Pemupukan
4. Pengairan
5. Pengendalian Hama, Penyakit, gulma terpadu
6. Panen dan Pasca panen
7. Pemasaran
8. Perkreditan
9. Kelembagaan
10. Manajemen / kebijakan
Fokus program ini adalah peningkatan produksi kuantitatif dan
kualitatif dan tingkat kesejahteraan petani dan berkelanjutan
Pada kondisi ini telah mengatur besarnya biaya produksi, BC
ratio, telah memperhitungkan keberlanjutan.

160