Anda di halaman 1dari 24

Assalamualaikum Wr. Wb.

Farmakologi Dasar - 2019


KELOMPOK 1
Obat Analgesik

Farmakologi Dasar 2019


ANGGOTA
KELOMPOK 1

Nafadiela Azhari
I1CO18001

Siti Khairunnisa
Andra Nurjaya Maulana
Tiarahmi
I1C018003
I1C018005

Farmakologi Dasar 2019 3


Obat Analgesik

Pengertian
Analgetik atau analgesik adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit atau obat-obat penghilang nyeri tanpa menghilangkan
kesadaran dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita.
(Tjay & Kirana, 2007)

Farmakologi Dasar 2019 4


Golongan Obat Analgetik

Analgetik Narkotik Analgetik Non-Narkotik


Analgetik narkotik kini disebut juga Obat Analgesik non-
dengan opioida yang merupakan narkotik dalam ilmu farmakologi juga
Obat- sering dikenal dengan istilah
obat yang daya kerjanya meniru Analgesik perifer. Analgetika perifer
(non-narkotik)yang terdiri dari obat-
opioid endogen dengan
obat yang tidak bersifat narkotik dan
memperpanjang aktivasi dari
tidak bekerja sentral.
reseptor-reseptor opioid.

Farmakologi Dasar 2019 5


Asetaminofen
Paracetamol

Gambaran Umum

Parasetamol (Asetaminofen) merupakan


senyawa organik yang banyak digunakan dalam
obat sakit kepala karena bersifat analgesik
(menghilangkan sakit), sengal-sengal, sakit ringan,
dan demam.

Farmakologi Dasar 2019 6


Asetaminofen
Paracetamol

Absorbsi Distribusi
Parasetamol yang diberikan secara Parasetamol terdistribusi dengan
oral diserap secara cepat dan cepat pada hampir seluruh jaringan
mencapai kadar serum puncak tubuh. Lebih kurang 25%
dalam waktu 30 - 120 menit. parasetamol dalam darah terikat
Adanya makanan dalam lambung pada protein plasma.
akan sedikit memperlambat
penyerapan sediaan parasetamol
lepas lambat.

Farmakologi Dasar 2019 7


Asetaminofen
Paracetamol

Metabolisme

Parasetamol berikatan dengan sulfat dan


glukuronida terjadi di hati. Metabolisme
utamanya meliputi senyawa sulfat yang tidak
aktif dan konjugat glukoronida yang
dikeluarkan lewat ginjal. Sedangkan sebagian
kecil, dimetabolismekan dengan bantuan
enzim sitokrom P450. Farmakologi Dasar 2019 8
Eliminasi Parasetamol diekskresikan melalui urin
sebagai metabolitnya, yaitu asetaminofen
glukoronoid, asetaminofen sulfat, merkaptat
dan bentuk yang tidak berubah.

Farmakologi Dasar 2019 9


Parasetamol merupakan obat analgesik non
narkotik yang memiliki cara kerja menghambat
sintesis prostaglandin terutama di Sistem Saraf Pusat
(SSP). Parasetamol digunakan secara luas di berbagai
negara baik dalam bentuk sediaan tunggal sebagai

Mekanisme analgesik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat


lain melalui resep dokter atau yang dijual bebas.

dan Parasetamoldapat ditoleransi dengan baik sehingga


banyak efek samping aspirin yang tidak dimiliki oleh
obat ini sehingga obat ini dapat diperoleh tanpa resep.
Target Obat Parasetamol merupakan obat lain pengganti

Parasetamol aspirin yang efektif sebagai obat analgesik-


antipiretik. Karena hampir tidak mengiritasi lambung,
parasetamol sering dikombinasikan dengan AINS
untuk efek analgesik.
Peranan parasetamol pada target supraspinal akan
mengaktivasi jalur bulbospinal serotoninergik yang
berperan dalam modulasi nyeri, dimana pada tahap
10
akhir memberikan efek analgesik
KODEIN

Gambaran Umum

Salah satu obat yang digunakan untuk


analgaetik adalah Kodein. Kodein merupakan
obat analgetik narkotik yang termasuk ke
dalam golongan Agonis Opiat (Tjay dan
Raharja, 2002)

Farmakologi Dasar 2019 11


KODEIN

Absorbsi Distribusi
Absorpsi codeine cukup cepat Codeine memiliki volume
seperti ditunjukkan oleh puncak distribusi yang cukup besar, yaitu 3-
konsentrasi plasma yang tercapai 6 L/kg. Sementara itu, hanya 7%
dalam waktu 60 menit pasca hingga 25% codeine dalam plasma
konsumsi oral yang terikat pada protein
(Lafolie Pet al, 1996) (Lafolie Pet al, 1996)

Farmakologi Dasar 2019 12


KODEIN

Metabolisme Eksresi
Kodein dimetabolisme melalui Kodein mengalami demetilasi
sistem enzim P450 hati, meskipun menjadi morfin dan CO₂. CO₂ ini
beberapa metabolisme terjadi di dikeluarkan oleh paru-paru.
usus dan otak. Sekitar 50% hingga Sebagian Kodein mengalami N-
70% dari kodein diubah menjadi demetilasi. Urin mengandung bentuk
codeine-6-glucuronide oleh UGT2B7 bebas dan bentuk konyugasi dari
(Gaedigk et al, 2008) kodein, norkodein dan morfin
(Gunawan dan Sulistiwa gan, 2006)

Farmakologi Dasar 2019 13


KODEIN

Metabolisme Obat dan Target aksi obat


Metabolit aktif dari kodein,terutama morfin,mengerahkan efeknya dengan
mengikat dan mengaktifkan u-reseptor opioid. Mekanisme kerjanya adalah kodein
merangsang reseptor dalam SSP juga menyebabkan depresi pernafasan, vasolidasi
perifer, inhibisi great peristaltik usus, stimulasi dari chemoreceptors yang
menyebabkan muntah, peningkatan pada kantung kemih dan menekan refleks batuk.
Codeine berikatan dengan reseptor mu-opioid, yang terlibat dalam transmisi rasa
sakit ke seluruh tubuh dan sistem saraf pusat. Sifat analgesik kodein diperkirakan
muncul dari konversi menjadi morfin (Andrzejowski P et al, 2007)

Farmakologi Dasar 2019 14


Efek Obat Efek Obat Codeine adalah pereda nyeri
narkotika yang lemah dan penekan batuk yang
mirip dengan morfin dan hidrokodon. Sejumlah
kecil kodein yang tertelan dikonversi menjadi
morfin dalam tubuh. Kodein meningkatkan
toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi
ketidaknyamanan yang ada (Rodriguez RFet
al, 2007)

Farmakologi Dasar 2019 15


Efek
Samping Efek samping yang sering ditemukan
Obat pada penggunaan codeine adalah rasa
kantuk berlebihan, sembelit, mual,
muntah, pusing, dan mulut kering
(Rodriguez RFet al, 2007)

Farmakologi Dasar 2019 16


Celecoxib merupakan obat-
obatan yang merupakan

KODEIN penghambat CYP450 2D6 dapat


mengganggu efek analgesik
kodein. Mekanisme ini menurun
konversi in vivo dari kodein
menjadi morfin, reaksi
metabolisme yang dimediasi
Dextromethorphan dapat oleh CYP450 2D6
Efek samping yang sering mempotensiasi efek agen
(Hersh EV et al, 2004)
ditemukan pada serotonergik dan

03
penggunaan codeine meningkatkan risiko
adalah rasa kantuk sindrom serotonin
berlebihan, sembelit, (Muttino D et al, 2004)
mual, muntah, pusing,
dan mulut kering
(Rodriguez RFet al,
2007)
02 Interaksi Obat

01
Farmakologi Dasar 2019 17
Meperidin

Gambaran Umum

Celecoxib merupakan obat-obatan yang


merupakan penghambat CYP450 2D6 dapat
mengganggu efek analgesik kodein. Mekanisme ini
menurun konversi in vivo dari kodein menjadi morfin,
reaksi metabolisme yang dimediasi oleh CYP450
2D6 (Hersh EV et al, 2004)

Farmakologi Dasar 2019 18


Penggunaan petidin dapat melalui intramuskular, intravena dan
injeksi subkutan. Pada penggunaan intramuskular dengan dosis
100mg, sekitar 80% diabsorbsi dalam enam jam dengan
konsentrasi maksimal pada plasma tercapai setelah 24 menit. Efek
analgesik akan bertahan setelah 2-4 jam pada penggunaan melalui
intramuskular, intravena dan subkutan. Petidin mengalami first
pass metabolisme yang besar di hepar dengan nilai rata-rata 50-
60%. Nilai ini akan meningkat sampai 80-90% pada pasien dengan
gangguan hepar. Tingkat efektifitas petidin pada penggunaan oral
setara dengan setengah dari efektifitas pada penggunaan
parenteral.
(Stoelting, 1999)

Farmakologi Dasar 2019 19


Belum ada informasi spesifik yang
menjelaskan mengenai distribusi petidin dalam
tubuh, namun beberapa data menunjukkan
petidin didistribusikan dengan cepat pada
jaringan dan sisanya didistribusikan secara
Distribusi luas pada ekstravaskuler. Volum distribusi
adalah 4.17L/kg dengan kadar ikatan plasma
sekitar 64.3% terutama pada albumin dan
asam glikoprotein alpha-1. Nilai distribusi yang
luas ini akan mengakibatkan kadar petidin
bebas tidak akan meningkat jika terjadi
perpindahan petidin dari ikatan protein plasma.
(Nunn, 1989)
Sebagian besar petidin dimetabolime di
hepar. Proses metabolime ini diawali
dengan proses hidrolisis menjadi asam
petidin, selanjutnya diikuti dengan proses
koagulasi parsial dengan asam glukoronik.
Metabolisme Petidin juga melalui proses N-demetilasi
menjadi norpetidin dan mengalami
hidrolisis dan konjugasi yang terakhir.
Norpetidin adalah bahan metabolit aktif
dan memiliki aktivitas sebagai antinyeri
setara dengan setengah kadar petidin dan
memiliki aktivitas anti kejang setara
dengaan dua kali petidin. Pada pasien
dengan gangguan hepar dapat terjadi
akumulasi dari kadar petidin, oleh karena
itu dianjurkan untuk dilakukan penyetaraan
dosis pada golongan pasien ini.
(Stoelting, 1999)
Farmakologi Dasar 2019 21
Kadar nilai bersihan plasma pada penggunaan petidin
intravena adalah 1.06L/menit (0.71-1.32l/menit),
sekitar 3.8% (2.2-6.9%) dari dosis petidin akan
diekskresikan dalam bentuk yang sama. Nilai bersihan
plasma ini akan berkurang pada disfungsi hepar. Nilai
half life petidin diperkirakan sekitar 3.5 jam. Pada
pasien sirosis dan pada pasien dengan hepatitis akut,
nilai ini dapat memanjang sampai 7-11 jam sehingga

Eksresi sebaiknya dilakukan penyesuaian dosis. Pada pasien


dengan gangguan fungsi ginjal atau pada usia lebih
dari 60 tahun dan neonatus, nilai half life dari
norpetidin akan memanjang sampai lebih dari 30 jam,
sehingga menimbulkan akumulasi dan efek toksik
seperti kejang, agitasi, iritabel, tremor, twitching dan
kejang mioklonus. Dalam keadaan normal, nilai half
life adalah 8-21 jam. Pada wanita hamil, nilai half life
adalah 20.6 jam. Kadar obat yang diekskresikan tidak
berubah atau tetap dalam keadaan metabolisme
aktifnya disesuaikan dengan tingkat keasaman dimana
petidin dan norpetidin terdapat pada urin yang asam
sedangkan bentuk konjugasinya terdapat pada urin
yang basa.
Farmakologi Dasar 2019
22
(Stoelting, 1999)
Interaksi Obat
Jika mengonsumsi obat lain pada waktu
bersamaan, efek dari Pethidine dapat berubah.
Ini dapat meningkatkan resiko untuk efek
samping atau menyebabkan obat Anda tidak
bekerja dengan baik. Pethidine dapat
berinteraksi dengan obat dan produk seperti
alkohol, cimetidine, antidepresan, anestesi
umum, dll.
(Nunn, 1989)

Farmakologi Dasar 2019 23


Efek samping yang paling sering timbul pada
penggunaan petidin sama seperti efek samping yang
terjadi pada penggunaan narkotika jenis lainnya
antara lain: depresi napas, depresi fungsi sirkular,
henti napas, syok dan henti jantung. Efek samping ini
biasanya terjadi pada penggunaan petidin dalam dosis
besar melalui intravena. Untuk itu, penggunaannya
sebaiknya tidak dilakukan jika antidotumnya tidak
tersedia.

Efek Samping Penggunaan jangka panjang dan dosis besar


berhubungan dengan neurotoksisitas dan kejang.
Efek samping ini berkaitan dengan konsentrasi
Obat metabolit aktif norpetidin. (Gwinutt, 1997)
Efek samping ringan yang mungkin terjadi pada
penggunaan petidin oleh pasien rawat jalan dapat
berupa nyeri kepala ringan, pusing, efek sedasi yang
meningkat, mual, muntah dan keringat berlebihan.
Untuk mengatasi efek samping ini dapat dilakukan
dengan menurunkan dosis petidin.
(American Society of Health-System Pharmacy, 2010)
Farmakologi Daar 2019 24