Anda di halaman 1dari 33

MODEL DAN

ORGANISASI
KURIKULUM
DISUSUN OLEH:
K E LO M PO K 4
Q O N I TA Z A H R A N U R H I D AYAT I S A N I
R I S Y D A Z A K I YA
S A B I L A M E I L I A N AW AT I
Y U N I TA AY U P R A D A N I
Kurikulum
Humanistic

Kurikulum
Konsepsi
Rekonstruksi
Kurikulum
Sosial

MODEL
KURIKULUM

Model Kurikulum
Dinamik Teknologi

Kurikulum
Akademik
1. Kurikulum Humanistic

Fungsinya adalah menyiapkan peserta didik dengan berbagai


pengalaman naruliah yang sangat berperan dalam pengembangan
individu. Bagi para pendukung kurikulum ini, tujuan pendidikan adalah
suatu proses atas diri individu yang dinamis, yang berkaitan dengan
pemikiran, integritas, dan otonominya.
Aliran yang termasuk dalam
Pendidikan Humanistik

a. Pendidikan Konfluen.
b. Kritikisme Radikal.
c. Mistikisme Modern.
Ciri-ciri Utama Kurikulum Humanistik
a. Partispasi, kurikulum ini menekankan partisipasi murid dalam
belajar.
b. Integrasi, adanya interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari
pemikiran, perasaan dan juga tindakan.
c. Relevasi, adanya kerelevanan is kurikulum antara kebutuhan,
minat dan kehidupan murid.
d. Pribadi anak, memberikan tempat utama pada pribadi anak untuk
berkembang dan beraktualisasi potensi secara utuh.
e. Tujuan, memiliki tujuan mengembangkan pribadi yang utuh.
KEKURANGAN KELEBIHAN
Keterlibatan emosional tidak selamanya
berdampak positif bagi perkembangan
individual peserta didik.

Meski kurikulum ini menekankan


individu peserta didik, pada Perkembangan anak agar menjadi
kenyataannya di setiap program manusia yang lebih terbuka dan lebih
terdapat keseragaman peserta didik. mandiri.
Kurikulum ini kurang memperhatikan
kebutuhan masyarakat secara
keseluruhan.
2. Kurikulum Rekonstruksi Sosial

Kurikulum rekontruksi sosial sangat memperhatikan


hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan
politik perkembangan ekonomi. Banyak prinsip
kelompok ini yang konsisten dengan cita-cita tinggi.
Ciri-ciri Kurikulum Rekonstruksi
Sosial
a. Bertujuan utama menghadapkan para siswa pada tantangan,
ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang
dihadapi manusia dalam masyarakat.
b. Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang
mendesak.
c. Pola-pola organsasi kurikulum ini disusun seperti sebuah roda,
ditengah-tengahnya sebagai poros merupakan masalah yang
menjadi tema utama.
Evaluasi pada kurikulum ini, kemampuan peserta didik dalam
menyampaikan permasalahan, kemampuan pemecahan masalah,
pendefinisian kembali pandangan mereka tentang dunia, dan
kemauan mengambil tindakan suatu ide. Disamping itu peserta didik
diharapkan dapat menilai pembelajaran mandiri yang sudah
dilakukan untuk melihat apa yang sudah merek pelajari.
3. Kurikulum Teknologi
Dikalangan pendidikan teknologi sudah dikenal dalam bentuk
pembelajaran berbasisi computer, sistem pembelajaran individu,
serta kaset atau video pembelajaran. Banyak pihak yang kurang
menyadari bahwa teknologi sangat membantu menganalisis masalah
kurikulum, dalam hal pembuatan, implementasi, evaluasi, dan
pengelolaan intruksional.
Ciri-ciri Kurikulum Teknologis
a. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang
dirumuskan dalam bentuk perilaku. Tujuan-tujuan yang
bersifat umum yaitu kompetensi dirinci menjadi tujuan-
tujuan khusus, yang disebut objektif atau tujuan
instruksional.
b. Metode yang digunakan biasanya bersifat individual,
kemudian pada saat tertentu ada tugas-tugas yang harus
dikerjakan secara kelompok.
Kelemahan Kurikulum Teknologi
Kurangnya perhatian pada penerapan dan dinamika inovasi
model teknologi ini hanya menekankan pengembangan
efektivitas produk saja, sedangkan perhatian untuk mengubah
lingkungan yang lebih luas, seperti organisasi sekolah, sikap
guru, dan cara pandang masyarakat, sangat kurang.
4. Kurikulum Akademik
Para ahli akademik terus mencoba mengembangkan sebuah kurikulum yang
akan melengkapi peserta didik untuk masuk ke dunia pengetahuan, dengan
konsep dasar dan metode untuk mengamati, hubungan antar sesama,analisis
data, dan penarikan kesimpulan.
Oleh karena itu anggota masyarakat merka perlu mengikuti perkembangan
disiplin ilmu, dengan memahami dan mendukungnya, dan jika perlu
melanjutkan studinya, untuk menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu.
Kelemahan Kurikulum Akademik

Kegagalan dalam untuk memberikan perhatian pada yang


lainnya, dan mlihat bagaimana isi dan disiplin dapat
membawa mereka pada permasalahan kehidupan modern
yang kompleks, yang tidak dapat dijawab oleh hanya satu
ilmu saja.
5. Model Dinamik

Model dinamik yang dikembangkan oleh Walker dan


Skilbeek ini, proses kurikulum tidak mengikuti pola urutan
(sequence) tertentu. Pengembangan kurikulum dapat
dimulai dengan unsur kurikulum apapun dan diproses
dalam urutan atau susunan apapun.
Walker berpendapat bahwa kurikulum berjalan melalui
tiga fase dalam persiapan berikut :

a. Berbagai pernyataan platform, melalui gagasan, preferensi, sudut


pandang, keyakinan dan nilai.
b. Deliberasi atau pertimbangan mendalam, yang merupakan
sekumpulan interaksi kompleks dan acak, yang pada akhirnya
mencapai suatu jumlah karya latar belakang sebelum kurikulum
didesain.
c. Pengembang kurikulum mengambil keputusan-keputusan mengenai
berbagai komponen proses (unsur kurikulum).
6. Konsepsi Kurikulum

Konsepsi kurikulum adalah landasan dasar (fundamental)


tentang apa yang kita pikirkan dan tindakan apa yang kita
lakukan mengenai kurikulum.
Konsepsi tentang Kurikulum yang didasarkan atas
pendapat McNeil dan Einser
a. Konsepsi rasional akademik, yaitu peningkatan kemampuan intelektual individu melalui studi terhadap
mata pelajaran yang bermanfaat.
b. Konsepsi proses-proses kognitif, yaitu menyokong perkembangan keterampilan kognitif yang
memungkinkan peserta belajar untuk belajar, sehingga dapat memecahkan permasalahan mereka
sendiri.
c. Konsepsi humanistik, yang berpendapat bahwa sekolah-sekolah harus memberikan berbagai
pengalaman belajar secara intriksik, untuk meningkatkan pertumbuhan personal.
d. Konsepsi rekonstruksi sosial, yang mengklaim bahwa kurikulum sekolah harus baik untuk semuanya.
e. Konsepsi teknologis, yang berusaha menghasilkan suatu resolusi yang lebih efektif dan efisien
terhhadap tujuan-tujuannya.
f. Konsepsi eklektik, yaitu pengombinasian dua atau lebih konsepsi yang cocok secara nalar.
Organisasi
Kurikulum

Pemilihan dan
Bentuk Organisasi
Penentuan
Kurikulum
Kurikulum

Kurikulum
Kurikulum mata dengan mata Kurikulum bidang Kurikulum
Kurikulum int
pelajaran pelajaran studi terintegrasi
berkorelasi
A. Pemilihan dan Penentuan Isi Kurikulum

Isi kurikulum terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan berbagai


pengalaman yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Para
perencana kurikulum sering kali mengalami berbagai kesulitan dalam
menyusun dan merencanakan isi kurikulum yang relevan dengan tujuan
yang hendak dicapai.
Beberapa ahli kurikulum menganggap perlu adanya sejumlah kriteria yang digunakan
sebagai pedoman, patokan, dan ukuran isi kurikulum tersebut. Sebagai contoh,
Caswell dan Campbell telah merumuskan kriteria berikut:

1. Kegunaan isi kurikulum dalam menafsirkan, memahami dan menilai kehidupan


yang kontemporer;
2. Kegunaan isi kurikulum dalam memuaskan minat dan kebutuhan para siswa;
3. Nilai isi kurikulum dalam mengembangkan kemampuan, sikap, dan sebagainya,
yang dipandang bermanfaat dalam kehidupan orang dewasa; dan
4. Isi kurikulum hendaknya signifikan bagi bidang mata pelajaran tertentu.
B. Bentuk Organisasi Kurikulum

Dalam studi tentang kurikulum, dikenal beberapa bentuk organisasi


kurikulum. Bentuk organisasi kurikulum tersebut memiliki ciri tersendiri,
dan nampaknya mengalami proses pengembangan secara berurutan,
sejalan dengan berbagai penemuan baru dalam ilmu kurikulum.
1. Kurikulum Mata Pelajaran
Kurikulum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain, dan masing-masing berdiri sendiri;
b. Tiap mata pelajaran seolah-olah tersimpan dalam kotak tersendiri dan diberikan dalam waktu tertentu;
c. Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan dan mengabaikan perkembangan aspek
tingkah laku lainnya;
d. Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat, dan masalah yang dihadapi para siswa;
e. Bentuk kurikulum yang tidak mempertimbangkan kebutuhan, masalah, dan tuntutan dalam masyarakat yang
senantiasa berubah dan berkembang;
f. Pendekatan metodologi mengajar yang digunakan adalah sistem penuangan (imposisi) dan menciptakan
perbedaan individual di kalangan para siswa;
g. Guru berperan paling aktif, dengan pelaksanaan sistem guru mata pelajaran dan mengabaikan unsur belajar
aktif di kalangan para siswa.
2. Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkorelasi
Ciri-ciri kurikulum ini di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Berbagai mata pelajaran dikorelasikan atau dengan yang lainnya;
b. Sudah dimulai adanya usaha untuk merelevansikan pelajaran dengan permasalahan
kehidupan sehari-hari, kendatipun tujuannya masih penguasaan pengetahuan;
c. Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemampuan para
siswa, meski pelayanan terhadap perbedaan individual masih sangat terbatas;
d. Metode penyampaian menggunakan metode koelasi, meski masih banyak menghadapi
kesulitan; dan
e. Meski guru masih memegang peran aktif, namun aktivitas siswa sudah mulai dikembangkan.
3. Kurikulum Bidang Studi
Kurikulum bidang studi (broadfield curriculum) atau juga dikenal dengan
Fusi Mata Pelajaran, ini termasuk kedalam jenis kurikulum berkolerasi.
Pandangan ini ada benarnya karena kurikulum bidang studi (broad curriculum)
sudah merupakan perpaduan atau fusi sejumlah mata pelajaran sejenis, yang
memiliki ciri-ciri yang sama. Batas-batas mata pelajaran yang telah berpadu
tersebut sesungguhnya sudah tidak terlihat lagi.
Ciri-ciri umum dari kurikulum bidang studi adalah sebagai berikut:

a. Kurikulum terdiri atas satu bidang mata pelajaran, yang didalamnya terpadu sejumlah mata
pelajaran sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama;
b. Pelajaran bertitik tolak dari core subject, yang kemudian diuraikan menjadi sejumlah pokok
bahasan;
c. Berdasarkan tujuan kurikuler dan tujuan intruksional yang telah digariskan;
d. Sistem penyampaiannya bersifat terpadu;
e. Guru berperan selaku guru bidang studi;
f. Minat, masalah, serta kebutuhan siswa dan masyarakan dipertimbangkan sebagai dasar
penyusunan kurikulum, walaupun masih dalam batas-batas tertentu; dan
g. Dikenal berbagai bidang studi seperti Matermatika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu
pengetahuan sosial (IPS), bahasa, kesenian dan lain-lain.
4. Kurikulum Terintegrasi
Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini adalah sebagai berikut:

a. Berdasarkaan filsafaat pendidikan demokrasi.


b. Berdasarkan psikologi belajar Gestalt atau organismik.
c. Berdasarkan landasan sosiologis dan kultural.
d. Berdasarkan kebutuhan, minat, dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa.
e. Bentuk kurikulum ini tidak dapat ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada, tetapi
lebih luas.
f. Sistem penyampaian menggunakan sistem penyampaian unit, baik unit pengalaman (experience unit) atau
unit pelajaran (subject metter unit).
g. Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Bahkan, peran murid lebih menonjol dalam kegiatan belajar
mengajar dan guru bertindak selaku pembimbing.
Kekurangan organisasi kurikulum bentuk ini, antara lain:

a. Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan
kemampuan guru secara khusus dalam pengembangan kurikulum semacam ini.
b. Bahan pembelajaran tidak disusun secara logis dan sistematis.
c. Bahan pembelajaran tidak bersifat sederhana.
d. Dapat memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda secara
mencolok.
e. Kemungkinan akan memakan waktu, biaya dan tenaga yang banyak.
Kelebihan dari kurikulum ini adalah:

a. Mempelajari bahan pelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara memadukan beberapa mata
pelajaran secara menyeluruh dalam menyelesaikan suatu topik atau permasalahan.
b. Mememperaktikan nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran.
c. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara maksimal.
d. Memberikan kepada siswa untuk belajar berdasarkan pada pengalaman langsung.
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan bakat, minat dan potensi yang
dimiliki oleh setiap individu.
f. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan permasalahan secara komprehensif
dan dapat mengembangkan belajar secara bekerjasama (cooperative).
g. Dapat membantu meningkatkan hubungan sekolah dengan masyarakat.
h. Dapat menghilangkan batasan-batasan yang terdapat dalam pola kurikulum yang lain.
Beberapa bentuk organisasi kurikulum dalam kategori ini
diantaranya:

a. Kurikulum inti ( core curriculum)


b.Socilal Functions dan Present Situations
c. Experience atau Activity Curriculum
5. Kurikulum Int
Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini, yaitu:

a. Kurikulum inti merupakan bagian dari keseluruhan kurikulum yang diperuntukkan bagi
semua siswa;
b. Kurikulum inti bermaksud mencapai tujuan pendidikan umum;
c. Kurikulum inti disusun dasri garis-garis pelajaran namun tidak secara ketat (bersifat
luwes); dan
d. Kurikulum inti disusun untuk jangka waktu yang lebih lama.
Ciri-ciri pokok (essential characteristics)
1) Core pelajaran yang meliputi pengalaman-pengalaman penting untuk
pertumbuhan dan pengalaman siswa.
2) Core program berkenaan dengan pendidikan umum (general aducation)
untuk memperoleh bermacam-macam hasil (tujuan pendidikan).
3) Berbagai kegiatan dan pengalaman coredisusun dan diajarkan dalam
bentukkesatuan, tidak dibatasi oleh garis-garis pelajaran yang terpisah;
dan
4) Core program diselenggarakan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Ciri-ciri umum:
1) Perencanaan oleh guru secara kooperatif;
2) Pengalamn-pengalaman belajar disusun dalam unit-unit yang luas dan komprehensif berdasarkan tantangan, minat
kebutuhan dan masalah dari kalangan siswa dan masyarakat sekitar;
3) Core pelajaran menggunakan proses demokratis;
4) Banyak dari core program yang dikaitkan dalam bimbingan dan pengajaran;
5) Core program secara lebih luas menggunakan sumber pengajaran yang luas, dan prosedur pengajaran yang lebih
fleksibel dan variatif;
6) Penggunaan teknik problem solving dalam core program;
7) Guru dan murid lebing megenal satu sama lain dengan lebih baik, sehingga memudahkan pemberian pelayangan
terhadap perbedaan individual;
8) Penilaian dilakukan dengan bermacam bentuk serta dikerjakan secara kontinyu dan menyeluruh;
9) Pengalaman-pengalaman belajar bersifat fungsional serta melibatkan banyak kegiatan dan tanggungjawab terhadap
siswa; dan
10) Core program didominasi oleh usaha yang bertujuan untuk memperbaiki pengajaran.