Anda di halaman 1dari 41

Hukum Kominfo

 Pers (Belanda)
 Press (Inggris)
 Preessare (Latin), asal kata premere
: tekan, cetak
 Prof . Oemar Seno Adji, SH
Pers dalam arti sempit seperti diketahui
mengandung penyiaran-penyiaran fikiran,
gagasan ataupun berita-berita dengan jalan
kata tertulis
Pers dalam arti luas memasukan didalamnya
semua media massa communications yang
memancarkan fikiran dan perasaan
seseorang baik dengan kata-kata tertulis
maupun dengan kata-kata lisan
 Bachsan Mustafa, SH
Suatu sistem yang tediri dari beberapa
unsur yang bekerjasama, melakukan
pelbagai kegiatan dalam suatu proses
penyampaian suatu pesan yang disebut
berita kepada umum melalui media
komunikasi massa
- Pers Fungsional untuk mencapai
tujuannya, pers harus diberikan kebebasan
(Pers bebas dan bertanggungjawab)
 Pasal 1 angka 1 UU No. 40 / 1999 ttg Pers :
Lembaga sosial dan wahana komunikasi massa
yang melaksanakan kegiatan jurnalistik
meliputi mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan
informasi baik dalam bentuk tulisan, suara,
gambar, suara dan gambar, serta data dan
grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan
menggunakan media cetak, media
elektronik, dan segala jenis saluran yang
tersedia.
 Pasal 3 ayat (1) UU No. 40 / 1999 ttg Pers
Pers nasional mempunyai fungsi sebagai
media informasi, pendidikan, hiburan, dan
kontrol sosial  pilar ke-4 Negara.
 Pasal 3 ayat (2) UU No. 40 /1999 ttg Pers
…Pers nasional dapat berfungsi sebagai
lembaga ekonomi.
 Prof. Oemar Seno Adji, SH
Freedom of Speech – Freedom of the Press
Kebebasan tersebut tidak dapat dipisahkan,
namun Freedom of the Press tidak dapat
digunakan untuk semua orang, krn Press
(Pers) memerlukan mesin atau alat Pers.
 perkembangan sekarang : Citizen Journalism
 Freedom of Expression ~ Freedom of
Opinion
 Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Hak Asasi
Manusia Ps. 19
Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan
pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa
gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan
buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-
batas wilayah

 Pasal 28 UUD 1945


Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan
lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undangundang.

 Pasal 28F UUD 1945


Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi
untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak
untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia.
 Pasal 2 UU No 40 / 1999 ttg Pers
Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud
kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-
prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi
hukum.
 Pers Merdeka menjadi soko guru dlm
perwujudan ide dan cita-cita Negara
Demokrasi (Prof. Oemar Seno Adji, SH)
- Pers menjadi Pilar keempat Demokrasi
(Four estate)
 Khrisna Harahap
Menciptakan Pers yang sehat, yaitu Pers
yang bebas dan bertanggungjawab guna
mengembangkan suasana saling percaya
menuju masyarakat terbuka yang
demokratis dengan mekanisme interaksi
positif antara pers, pemerintah dan
masyarakat
 Pasal 4 UU No. 40 / 1999 ttg Pers
 Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. & Pers
Nasional berhak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan
dan informasi
 Pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau
pelarangan penyiaran.
 Pertanggungjawaban pemberitaan di depan hukum, wartawan
mempunyai Hak Tolak.
 Pasal 5 U No. 40 / 1999 ttg Pers

 Pers nasional wajib memberitakan peristiwa dan opini dengan


menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat
serta asas praduga tak bersalah.
 Penjelasan (pasal 5) : Penyiaran informasi, tidak menghakimi atau
membuat kesimpulan kesalahan seseorang, terlebih lagi untuk kasus-
kasus yang masih dalam proses peradilan, serta dapat
mengakomodasikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam
pemberitaan tersebut. (salah satu rambu kebebasan Pers)
- Mengutamakan Keseimbangan Kepentingan
Nasional
- Pers bebas tetapi bertanggung jawab pada
diri sendiri, individu lain, masyarakat,
pemerintah, alam, lingkungan, Tuhan

(perhatikan situasi skrg ???)


- Prof . Oemar Seno Adji, SH :
Syarat ada atau tidaknya Publikasi
menentukan dapat atau tidak dipidanakan
 syarat kualifikasi sebagai Delik Pers

- KUHP tidak mengenal istilah delik pers


- Ps. 61, 62, 483, 484 (mengatur ttg
pertanggungjawaban penerbit dan pencetak
barang cetakan)
 Istilah Delik Pers dan peraturan ttg Pers
dalam KUHP
 Pers dan Tanggung Jawab Hukum – nya
 Lex Specialis : UU Pers
 Pasal 154, 155, 156 dan 157 KUHP
 Pasal 134, 136,137, 207, 208, 209
 Pasal 160 dan 161
 Pasal 282 dan 533
 Pasal 310 dan 315

+ pasal 14 dan 15 UU No. 1/ 1946 : Kejahatan


menyiarkan berita bohong
 Ps. 154, 155, 156, 157
 Penyebarluasan kebencian dan permusuhan di
dalam masyarakat terhadap pemerintah
 Aturan warisan pemerintah kolonial HB (utk
menekan gerakan nasionalisme Indonesia),
asal sumber aturan British Indian Penal Code
 Ps. 160 & 161

 Seperti Haatzai Artikelen, mrpkn alat


Pemerintah Kolonial Belanda untuk menekan
gerakan nasionalisme (kejahatan melakukan
hasutan)
 Ps. 134 – 137
Kejahatan Penghinaan thd Presiden dan
Wakilnya
 Ps. 207 – 209

 Kejahatan Penghinaan thd badan atau alat


kekuasaan negara
 Pasal 282 dan 533
 Berdasarkan ps 44 UU Pornografi, tetap
berlaku (????)
 Bgmn penerapannya ?
 Ps. 310 dan 311
 Pasal penghinaan umum (penghinaan tidak
dikususkan pihak tertentu)
 Dianggap pasal karet
 Ps. 14 dan 15
 Kejahatan menyiarkan kabar bohong

 Berita bohong adalah berita yang tidak


pasti, berlebihan atau tidak lengkap
 Tanggung Jawab Hukum menurut KUH
Pidana
 Tanggung Jawab Hukum menurut KUH
Perdata
 Tanggung Jawab Hukum menurut UU Pers
 ps. 55 KUH Pidana :
dader, doenplegen, medeplegen, uitlokken
 ps. 56 KUH Pidana :
medeplightige

Pertanggungjawaban pidana adalah pribadi


/ individu  mekanisme kerja pers bersifat
kolektif
 Pasal 1 angka 2 UU No. 40 / 1999 ttg Pers
Perusahaan pers adalah badan hukum
Indonesia yang menyelenggarakan usaha
pers meliputi perusahaan media cetak,
media elektronik, dan kantor berita, serta
perusahaan media lainnya yang secara
khusus menyelenggarakan, menyiarkan,
atau menyalurkan informasi.
 Wartawan
 Redaktur
 Lembaga Sidang Redaksi
 Redaktur Pelaksana
 Pemimpin Redaksi
 Penerbit
 Percetakan
 Sirkulasi / distribusi
 Agen koran / majalah
 Pengecer koran / majalah
 Pemberitaan bersifat provokatif,tendensius
dan menyiarkan informasi yang bersifat
dustadan fitnah, mendeskreditkan pihak
tertentu dikategorikan Perbuatan Melawan
Hukum (ps. 1365)
 Sanksi : Ganti Rugi (moril dan materiil)
 Ps. 5 (1) : Pers tidak memberitakan peristiwa dan opini
dengan menghormati norma-norma agama dan rasa
kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah
 Ps. 5 (2) : Pers tidak melayani Hak Jawab
 Ps. 13 : Pers melanggar pemuatan iklan
 Ps. 9 (2) : Pers tidak berbadan Hukum
 Ps. 12 : Pers tidak mengumumkan nama, alamat dan
penanggungjawab ditambah nama dan alamat
percetakan
 Ps. 18 (2) : Sanksi Pidana

 Pertanyaan yang timbul : Apakah jika Hak Jawab sudah


dilaksanakan, Pers tetap dapat dituntut ?
 Etika yang mempermasalahkan bagaimana
seharusnya pers itu dilaksanakan agar
memenuhi fungsinya dengan baik
 Sumber Etika Pers : Kesadaran Moral
(pengetahuan / kesadaran atas baik –
buruk, benar – salah)
 Kode Etik Jurnalistik adalah himpunan etika
profesi kewartawanan
Ps. 15 UU Pers :
Kode Etik ditetapkan dan dilaksanakan oleh
Dewan Pers
 PERATURAN DEWAN PERS
Nomor: 6/Peraturan- DP/V/2008
Tentang
PENGESAHAN SURAT KEPUTUSAN DEWAN
PERS NOMOR 03/SK-DP/III/2006 TENTANG
KODE ETIK JURNALISTIK SEBAGAI
PERATURAN DEWAN PERS
 Pers memiliki Hak Tolak

 Pers wajib melayani Hak Jawab

 Pers wajib melayani Hak Koreksi


 Hak wartawan karena profesinya, untuk menolak
mengungkapkan nama dan atau identitas lainnya
dari sumber berita yang harus dirahasiakannya.
 Mnrt Prof. Oemar Seno Adji :

Hak tolak / Hak Ingkar adalah tidak mutlak,


 JCT Simorangkir : hak tolak itu mempunyai batas-
batas tanggung jawab yang mengiringi
kebebasanya
: terkait ps. 120 dan 170 KUHAP hak tolak digunakan
secara proporsional, khususnya dalam hal
menyangkut ketertiban dan keselamatan negara
 pelaksanaan ???)
 Hak Jawab : seseorang atau sekelompok
orang untuk memberikan tanggapan atau
sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta
yang merugikan nama baiknya.
 Kaitan dengan pemuatan berita/tulisan dan
gambar yang tidak akurat, tidak meneliti lebih
lanjut suatu informasi, melanggar kehidupan
pribadi (privacy), pemberitaan yang tidak
berimbang, tidak menghormati asas praduga
tak bersalah, memperoleh informasi dengan
cara tidak jujur dll
- Hak Koreksi : hak setiap orang untuk
mengoreksi atau membetulkan
kekeliruan informasi yang diberitakan
oleh pers, baik tentang dirinya maupun
tentang orang lain.
- Kewajiban Koreksi : keharusan melakukan
koreksi atau ralat terhadap suatu informasi,
data, fakta, opini, atau gambar yang tidak
benar yang telah diberitakan oleh pers yang
bersangkutan.
 2 pendapat dgn perbedaan sudut pandang
1. Bukan Lex Specialis :
 Muncul akibat penjelasan umum UU Pers :
Utk menghindari pengaturan yang tumpang tindih,
UU ini tidak mengatur ketentuan yang sudah diatur
dengan ketentuan peraturan perUUan lain (sebagai
lex specialis tidak boleh merefensi/merujuk ke
peraturan lain  dkl. hrs mengatur sendiri)
 Tidak memenuhi syarat self-contained regime
(kumpulan ketentuan primer ttg suatu hal yang
dikaitkan dengan kumpulan sekunder yang harus
didahulukan)
 Sanksi dlm UU Pers tidak spesifik
2. Sebagai lex Specialis :
 UU Pers amanat dari ps. 28 UUD 1945

 Pengaturan ttg pelaksanaan kegiatan jurnalistik

 Penegasan Asas, Hak, Kewajiban, Fungsi, Peran Pers


dlm pelaksanaan kegiatan jurnalistik
 Penyelesaian sengketa Pers (kewajiban melayani
Hak Jawab dan Hak Koreksi)
 Ancaman Pidana yg tegas jika Pers melanggar
kewajibannya
 UU Pers khusus mengatur pelaksanaan kegiatan
jurnalistik
 Banyak peraturan untuk menjerat pihak Pers (KUH
Pidana, KUH Perdt, UU 1/ 1946, UU PT, UU Anti
Monopoli, UU PK, UU Hak Cipta, UU HAM, UU
Pornografi)
 Perluasan penafsiran pasal-pasal KUH Pidana
 Penerapan delik formil untuk pelanggaran kegiatan
Pers
 Penyelesaian Sengketa Pers (sesuai selera)
- melalui pengadilan (berdasarkan UU Pers atau
KUH Pidana dan KUH Perdata)
- melalui mekanisme Dewan Pers (Lihat
penyelesaian sengketa pers : Laksamana Sukardi vs
Pers)
 Keputusan MA No. 1608K / PID / 2005
 Kasus Pidana Bambang Harymurti (pemimpin
Redaksi Tempo) yang diadukan oleh Tomy
Winata (pengusaha) karena dianggap
menyebarkan berita bohong melalui tulisan di
majalah Tempo “Ada Tomy di Tenabang”
 Keputusan MA yg dimaksud dapat dijadikan
yurisprudensi yang mampu mengakomodasi
dan memberikan kepastian hukum bagi insan
pers dengan menempatkan UU Pers sebagai
Lex specialis
 Teori Pers Otoritarian (Otoriter)
 Teori Pers Libertarian (Bebas)
 Teori Pers Social Responsibility
(Bertanggung jawab Sosial)
 Teori Pers Komunis (Soviet)
 Teori tertua (abad XVI)
 Lahir dari falsafah kenegaraan yang
membela kekuasaan absolut
 Pendekatan Top to Down
 Praktek teori otoritarian masih
berpengaruh di negara demokrasi
 Puncaknya di abad XIX
 Pers adalah mitra utk memperoleh kebenaran
 Muncul istilah Pers sebagai Four Estate
 Cenderung kurang tertarik pada soal-soal
kepentingan masyarakat (seringkali terlarut
pada situasi hedonis)
 Mencoba mengatasi kontradiksi kebebasan
media massa (pers libertarian) dan
tanggungjawab social
 Pers tidak melulu untuk profit, namun
memberi ruang untuk kepentingan publik
 Berkembang tahun 1956, awalnya di
Amerika
 Berkembang mulai sekitar 1919, setelah
revolusi Soviet 1917
 Dihilangkannya motif profit
 Menomorduakan topikalitas berita
 Mempertahankan status quo penguasa