Anda di halaman 1dari 13

HUKUM KOMINFO

 UU No. 24 Tahun 1997 ttg Penyiaran

 UU No. 32 Tahun 2002 ttg Penyiaran

 Peraturan Pelaksana lain


 UU Penyiaran
kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana
pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, laut
atau di antariksa dengan menggunakan spektrum
frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media
lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan
bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat
penerima siaran.
 Tujuan (ps. 3 UU Penyiaran)
memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan
jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan
kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum
dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri,
demokratis, adil dan sejahtera serta menumbuhkan
industri Penyiaran Indonesia.

 Fungsi (ps. 4 UU Penyiaran)


sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat,
control dan perekat sosial, serta ekonomi dan kebudayaan.
 Lembaga Penyiaran Publik ;

 Lembaga Penyiaran Swasta ;

 Lembaga Penyiaran Komunitas ;

 Lembaga Penyiaran Berlangganan


 Lembaga Penyiaran Publik disebut dengan Lembaga
Penyiaran Pemerintah
 berbentuk badan hukum yang didirikan oleh Negara
 bersifat independent, netral, tidak komersial dan
berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan
masyarakat.
 LPP berupa Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi
Republik Indonesia (TVRI), yang keduanya memiliki lokasi
stasiun pemancar di daerah ibukota negara yang lingkup
siarannya nasional.
 daerah provinsi, kabupaten dan kota dapat didirikan LPP
yang lingkup siarannya lokal
 lembaga penyiaran yang bersifat komersial
 berbentuk badan hukum Indonesia
 bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa
penyiaran radio atau televisi
 Jangkauan siaran LPS adalah local, dengan kata lain
LPS tidak boleh melakukan siaran secara nasional.
 Ketentuan ini ditentang oleh LPS yang berbentuk
televisi swasta karena dianggap sebuah langkah
mundur dari dunia penyiaran di Indonesia.
 lembaga penyiaran yang berbadan hukum Indonesia,
 didirikan oleh komunitas tertentu,
 bersifat independent dan tidak komersial,
 daya pancar rendah, jangkauan wilayah yang terbatas,
 hanya melayani kepentingan komunitasnya
 berbentuk badan hukum Indonesia
 bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa
penyiaran berlangganan yang memencarkan atau
menyalurkan materi siaran khusus kepada pelanggan
melalui media radio, televisi, multi-media atau media
informasi lain.
 Pasal 1 butir 13 UU Penyiaran yang menyebutkan
bahwa KPI dalah lembaga negara yang bersifat
independen yang berada di pusat dan daerah yang
tugas dan wewenangnya diatur dalam UU Penyiaran
sebagai wujud peran serta masyarakat di bidang
penyiaran.
 Fungsi KPI adalah mewadahi aspirasi serta mewakili
kepentingan masyarakat akan penyiaran.
 KPI berwenang untuk menetapkan Pedoman dan
Standar siaran
 Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) berdasarkan
Peraturan KPI No. 02/P/KPI/12/2009 dan Standar
Pedoman Siaran (SPS) berdasarkan Peraturan KPI No.
03/P/KPI/12/2009
 P3 dan SPS tersebut diharapkan berlaku sebagai code
of conduct bagi seluruh pelaku penyelenggara siaran.

 Perizinan untuk penyelenggaraan radio siaran swasta
terdiri dari dua tahap yaitu
1. izin untuk penyelenggaraan
2. izin alokasi serta penggunaan spektrum frekuensi
radio yang diberikan oleh negara setelah memperoleh
masukan dan hasil evaluasi dengan pendapat antara
pemohon dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Selanjutnya secara administratif izin penyelenggaraan


penyiaran diberikan oleh Negara melalui KPI.
 Isi siaran wajib dijaga netralitasnya
 tidak boleh megutamakan kepentingan golongan
tertentu
 harus memuat 60 % mata acara yang berasal dari
dalam negeri

Setiap mata acara siaran wajib memiliki hak siar yang


dicantumkan dalam mata acara tersebut.