Anda di halaman 1dari 23

HITUNG RETIKULOSIT DAN

RESISTENSI OSMOTIK
ERITROSIT

YOSEPIN
Eritropoesis

 Proses produksi eritrosit


 Proses diferensiasi dari sel induk hemopoetik
menjadi eritrosit yang matang
 Perkembangan eritrosit ditandai dengan penyusutan
ukuran (makin tua makin kecil), Perubahan
sitoplasma (dari basofilik makin tua acidofilik),
 Perubahan inti yaitu nukleoli makin hilang, ukuran
sel makin kecil, kromatin makin padat dan tebal,
warna inti gelap
 Eritrosit mengandung hemoglobin, yaitu sejenis
protein, fungsinya transportasi oksigen dan
karbondioksida
Zat penting untuk pembentukan hemoglobin:
 Asam amino
 Besi
 B12
 B6,
 Asam folat
 Cobalt
 nikel
Tahapan perkembangan eritroid
1. Proeritroblas  sel yang paling awal dikenal dari
seri eritrosit.
 Sel yang terbesar, dengan diameter sekitar 15-
20µm.
 Inti mempunyai pola kromatin yang seragam,
yang lebih nyata dari pada pola kromatin
hemositoblas, Setelah mengalami sejumlah
pembelahan mitosis, proeritroblas menjadi
basofilik eritroblas.
2. Basofilik Eritroblas
Basofilik Eritroblas agak lebih kecil daripada
proeritroblas, dan diameternya rata-rata 10µm.
Intinya mempunyai heterokromatin padat dalam
jala-jala kasar, dan anak inti biasanya tidak jelas.
Sitoplasmanya yang jarang nampak basofil sekali
3. Polikromatik Eritroblas (Rubrisit)
Setelah pewarnaan Leishman atau Giemsa,
sitoplasma warnanya berbeda-beda, dari biru ungu
sampai lila atau abu-abu karena adanya
hemoglobin terwarna merah muda yang berbeda-
beda di dalam sitoplasma yang basofil dari
eritroblas. Inti Polikromatik Eritroblas
4. Ortokromatik Eritroblas (Normoblas). Normoblas
lebih kecil daripada Polikromatik Eritroblas dan
mengandung inti yang lebih kecil yang terwarnai
basofil padat.
 Intinya secara bertahap menjadi piknotik. Tidak
ada lagi aktivitas mitosis. Akhirnya inti
dikeluarkan dari sel bersama-sama dengan
pinggiran tipis sitoplasma. Inti yang sudah
dikeluarkan dimakan oleh makrofagmakrofag yang
ada di dalam stroma sumsum tulang
5. Retikulosit
 Retikulosit adalah sel-sel eritrosit muda yang
kehilangan inti selnya, dan mengandung sisa-sisa
asam ribonukleat di dalam sitoplasmanya, serta
masih dapat mensintesis hemoglobin
 Retikulosit terdapat baik pada sumsum tulang
maupun darah tepi
6. Eritrosit
 Eritrosit merupakan produk akhir dari
perkembangan eritropoesis. Sel ini berbentuk
lempengan bikonkaf dan dibentuk di sumsum
tulang. Pada man
 Retikulosit adalah eritrosit muda yang tidak berinti
dan di dalam sitoplasmanya terdapat sisa ribosom
dan RNA yang dengan pewarnaan supravital akan
tampak sebagai filamen atau granula berwarna
eritropoesis
 Eritrosit  komponen utama darah setelah
leukosit, trombosit dan plasma
 dihasilkan melalui proses hematopoiesis dalam
sumsum tulang
 Retikulosit, yang merupakan bentuk prematur dari
eritrosit,

 di dalam sitoplasmanya terdapat sisa ribosom dan


RNA yang dengan pewarnaan supravital akan
tampak sebagai filamen atau granula berwarna
 Ribosome mempunyai kemampuan untuk bereaksi
dengan pewarna tertentu seperti brilliant cresyl
blue atau new methylene blue untuk membentuk
endapan granula atau filamen yang berwarna biru
Gambar retikulosit dgn pewarnaan BCB
Nilai normal retikulosit
 Dewasa : 0.5 - 1.5 %
 Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
 Bayi : 0.5 - 3.5 %
 Anak : 0.5 - 2.0 %
 Nilai normal jumlah mutlak retikulosit
= 25.000 – 75.000 /ul
 Hitung retikulosit merupakan indikator aktivitas
sumsum tulang dan digunakan untuk mendiagnosis
anemia.
 Banyaknya retikulosit dalam darah tepi
menggambarkan eritropoesis baik
 Peningkatan jumlah retikulosit di darah tepi
menggambarkan akselerasi produksi eritrosit dalam
sumsum tulang.
 Sebaliknya, hitung retikulosit yang rendah terus-
menerus dapat mengindikasikan keadan hipofungsi
sumsum tulang atau anemia aplastik.
Resistensi osmotik
 Resistensi osmotik atau tes fragilitas osmotik
eritrosit bertujuan:
  menguji kemampuan dinding eritrosit untuk
bertahan terhadap lisis ketika eritrosit dimasukkan
ke dalam larutan hipotonis
 Bila lisis dalam larutan hipotonis : peningkatan
fragilitas eritrosit atau penurunan daya tahan
eritrosit
 eritrosit berada dalam lingkungan yang hipotonis,
maka osmosis akan terjadi dari luar ke dalam sel
yang akan menyebabkan sel akan menggembung.
 Sel darah merah yang dimasukkan dalam larutan
hipertonis akan mengalami krenasi (pengerutan) sel
karena lebih banyak air yang keluar sel daripada
yang masuk
 Eritrosit lisis  Hb keluar dari sel, kadar Hb diukur
secara fotometrik hasil dalam presentase (%)
 Nilai normal:
 Permulaan hemolisis pada konsentrasi NaCl 0,40-
0,45%
 Hemolisis sempurna pd konsentrasi NaCl 0,33-
0,35%
Presentase hemolisis dalam keadaan normal:
 97-100%  hemolisis dalam NaCl 0,30%
 50-905  hemolisis dalam NaCl 0,40%
 5-45%  hemolisis dalam NaCl 0,45%
 0%  hemolisis dalam NaCl 0,55%
Penurunan fragilitas eritrosit:
 Talasemia mayor dan monir
 Anemia (def.Fe, asam folat, vit.B12)
 Polisitemia vera
 Nekrosis hati, dll
Peningkatan fragilitas eritrosit:
 Anemia hemolitik autoimun
 Toksisitas obat
 Leukemia
 Luka bakar
 Sperositas herediter