Anda di halaman 1dari 76

DASAR DIAGNOSIS TOPIS

KLINIS NEUROLOGI

Muhammad Akbar
Susunan neuromuskulus atau
susunan pergerakan
I. Terdiri dari susunan piramidalis
 Sel motoris di korteks motorik
 Traktus kortikobulber Membentuk traktus
 Traktus kortiko spinalis piramidalis
 Menyalurkan impuls motorik pada sel-sel motorik
batang otak dan medula spinalis.
 Traktus kortiko bulber mempersarafi sel-sel motorik
batang otak secara bilateral, kecuali nervus VII & XII.
 Berfungsi untuk menyalurkan impuls motorik untuk
gerak otot tangkas.
 Dalam klinik gangguan traktus piramidalis
memberikan kelumpuhan tipe UMN berupa :
parese/paralisis
spastis disertai dengan tonus meninggi
hiperrefleksi
klonus
refleks patologis positif
tak ada atrofi
Kelainan traktus piramidalis setinggi :
 Hemisfer : memberikan gejala-gejala
hemiparesi tipika
 Setinggi batang otak : hemiparese alternans.
 Setinggi medulla spinalis : tetra/paraparese

Gambar traktus piramidalis


II. SUSUNAN EKSTRA PIRAMIDAL
Rangkaian neuron di korteks selanjutnya
membentuk jalan saraf sirkuit meliputi
berbagai inti di sub korteks.dan kemudian
kembali ke tingkat kortikal.
Terdiri dari : ~ korteks serebri area 4s, 6, 8
~ganglia basalis antara lain
nukleus kaudatus, putamen,
globus pallidus
~ nukleus Ruber
~ formasio retikularis
~ serebellum
Susunan ekstrapiramidal dengan formasio
retukularis :
 Pusat eksitasi / fasilitasi : mempermudah
pengantar impuls ke korteks maupun ke
motor neuron.
 Pusat inhibisi : menghambat aliran impuls ke
korteks/motor neuron.
 Pusat kesadaran
Susunan ekstrapiramidal berfungsi untuk :
Gerak otot dasar / gerak otot tonik
Pembagian tonus secara harmonis
Mengendalikan aktifitas piramidal
Gangguan pada susunan ekstrapiramidal :
 Kekakuan / rigiditas
 Pergerakan-pergerakan involunter :
 Tremor
 Atetose
 Khorea
 Balismus
III. LOWER MOTOR NEURON

Merupakan neuron yang langsung


berhubungan dgn otot
Dapat dijumpai pada batang otak dan
kornuanterior medulla spinalis
Pada medula spinalis motor neuron :
 Alfa motor neuron ………impuls susunan
piramidal
 Gamma motor neuron …… impuls dari EP
Gambaran 2
 Gangguan pada LMN memberikan
kelumpuhan tipe LMN :
Parese yang sifatnya lemas
Arefleksi
Tak ada refleks patologis
Atrofi : cepat terjadi
SUSUNAN SOMESTESIA
Perasaan yang dirasa oleh bagian tubuh
baik dari kulit, jaringan ikat, tulang maupun
otot dikenal sebagai somestesia.
Terdiri :
 Perasaan eksteroseptif dalam bentuk rasa
nyeri, rasa suhu dan rasa raba.
 Perasaan proprioseptif : disadari sebagai rasa
nyeri dalam, rasa getar, rasa tekan, rasa gerak
dan rasa sikap.
 Perasaan luhur : Diskriminatif & demensional 3
SUSUNAN EKSTEROSEPTIF
 Disalurkan melalui traktus spinotalamikus
 Menghantar rasa nyeri, suhu & raba halus
 Reseptor : nyeri
panas  Ruffini
dingin  Krause
rasa raba  Golgi Mansoni
 Gambar
 Impuls-impuls diterima oleh reseptor  radiks
posterior  kornuposterior  nukleus proprius
melewati linea mediana  traktus spinotalamikus 
ke rostral melalui medula oblongata pons &
mesensefalon  nukleus ventroposterior lateralis
talami berakhir pada girus posterior sentralis &
korteks asosiasi.
Susunan Proprioseptif
 Disalurkan melalui : * funnikulus dorsalis
 ~ girus post.sentralis
~ serebellum
* traktus spinoserebellaris
dorsalis & ventralis
 Menghantar impuls : rasa tekan (vater pacini/ogan
Golgi/muscle spindle)
rasa getar
rasa gerak
rasa sikap
rasa diskriminatif
Gambar
Impuls proprioseptif melalui radiks posterior
kemudian disalurkan melalui funikulus dorsalis
(Goll dan Burdach)  nukleus Gracilis &
Cumeatus di medula oblongata
 lemniskus medialis berakhir pada nukleus
ventropost.lat. talami  kosteks sensorik.
 serebellum
Gambar
Menentukan tinggi lesi medula spinalis
berdasarkan : gangguan motorik
gangguan sensibilitas
gangguan susunan saraf otonom

Gangguan motorik biasanya timbul kelumpuhan yg


sifatnya paraparese / tetraparese
 Paraparese UMN : lesi terdapat supranuklear thd segmen
medula spinalis lumbosakral (L2-S2).
 Paraparese LMN : lesi setinggi segmen medula spinalis
L2-S2 atau lesi infra nuklear.
 Tetraparese UMN : lesi terdapat supranuklear terhadap
segmen medula spinalis servikal IV.
 Tetraparese : ekst.superior LMN Lesi pada medula spinalis
ekst. Inferior UMN C4 – Th.I
Gangguan sensibilitas :
 Gangguan rasa eksteroseptif
 Gangguan rasa proprioseptif
Biasanya yg dipakai u/ tinggi lesi 
pemeriksaan eksteroseptif
Gangguan sensibilitas segmental :
 Lipatan paha : lesi Medula spinalis L1
 Pusat : lesi medula spinalis thorakal 10
 Papila mammae : lesi medula spinalis th. 4
 Saddle Anestesia : lesi pada konus
Gangguan sensibilitas radikuler :
 Ggn sensibilitas sesuai dgn radiks post.
Ggn sensibilitas perifer :
 Glove/stocking anestesia
Gangguan Susunan Saraf Otonom :
 Produksi keringat ………test perspirasi
 Bladder : berupa inkontinensia urinae atau
uninhibited bladder.
 Autonomic bladder / spastic bladder
lesi medula spinalis supranuklear terhadap
segmen sakral.
 Flaccid bladder/overflow incontinence
lesi pada sakrall medula spinalis.
Lesi intrakranial berdasar kelainan motorik
 Hemiparese / hemiplegia
Tipika
Alternans
 Posisi ekstremitas : posisi dekortikasi
posisi deserebrasi
 Test fungsi batang otak : pernafasan
ref. batang otak
 Involuntari movement : ggn pd susunan
ekstrapiramidal.
 Ggn. Koordinasi : ggn pd serebellum.
SARAF KRANIAL
 Nervus Olfaktorius : saraf penghidu
 Reseptor  N.I  bulbus olfaktorius  trig. olf. 
traktus olf.  - korteks pyriformis
(unkus / insula)
- korteks ass.
(girus hipokampus)
 Gejala-gejala : -Anosmia ….Foster kennedy
Syndrome
- Hiperosmia
- Paroosmia
- Cacosmia
- Halusinasi Aura
Penyabab :
 Radang
 Fraktura basis
 Tumor lobus frontalis
 Ateroosklerosis
 Hysteri
 Kel. Kongenital.

Tehnik pemeriksaan :
 Zat yg tidak mudah menguap
 Lobang hidung ditutup dan menghirup dalam-
dalam
NERVUS OPTIKUS
BERFUNGSI UNTUK PENGLIHATAN
Impuls cahaya  retina  ser.af.pap.N.II
 N.II  for.opt.  chiasma opt. 
trak.opt. korp.gen.lat.  Tr.GC 
* EW
* Colc.sup
korteks ocipitalis
Gangguan nervus II
 Lesi pd N.optikus : buta total
 Lesi pd chiasma opt. : hemianopsia binasal /
bitemporal.
 Lesi pd traktus optikus : hemianopsia homonim
 Lesi pd gen.kal : Quadran anopsia

Pemeriksaan N.II :
 Pem. Visus : ~ hitung jari = 1/60
~ lambaian tangan = 1/300
~ dpt melihat cahaya = 1/~
~ tak dpt melihat cahaya = 0
 Pemeriksaan lap. penglihatan :
Perimeter
Kampimeter Hemianopsia
Konfrontasi test Skotoma

 Pem. Fundus :
Pap. N.II : ~ pap. Normal
~ pap. patoologis
* edema papil
* papil atrofi
* neuritis optika
papilitis
neuritis retrobulber
 Perepsi warna : Tes ishihara
Nervus Okulomotorius (III)
Nervus Trokhlearis (IV)
Nervus Abducens (VI)
N. III : Kol.sup. : ~ Serabut motorik
~ serabut parasimpatik
sinus kafernosus  fis.orb. sup.otot-
ekstrabulbar : moi,mrs,mrm,
mri.
N.IV : Kol.inf : ~ serabut motorik

sinus kafernosus  fis.orb.sup m.obl.sup


N.VI : Pons : ~ serabut motorik

sinus kafernosus  fis.orb.sup  m.rect.lat


Fisiologis gerakan bola mata :
 Konyugat & konvergensi

Pem. N.III, IV, VI :


 Gerakan bola mata : strab. Concomitans
strab.paralitikus :
~ divergens
~ konvergens
 Celah mata normal simetris :
ptosis  miastenia & horner s’
 Pem. Pupil : normal Ø 3 – 4 mm.
miosis – midriasis
refleks cahaya langsung / tdk langsung
refleks akomodasi
ref. siliospinale
Kelainan-kelainan pupil berupa :
 Argyll Robertson pupil
 Tonic pupil
 Horner sindrome

Parese N.III :
 Oftalmoplegia : Tot – ext. - int.
 Diplopia
 Strab. Difergens
 Ptosis
Parese N.IV. :
 Strab.konvergens ringan
 Diplopia
 Sulit melihat lat.bawah

Parese N.VI :
 Diplopia
 Strab.konvergens
 Parese N.VII
 Parese N.VI bilat.  TIK meninggi.

N.III, IV, VI : lesi terdpt pd fissura orb. Sup.


Sinus cavernosus
tangkai hipofise
NERVUS TRIGEMINUS (v)
 Somato motorik
 Nukleus motorik N.V  pertengahan pons  portio
minor  foramen ovale  N.V Cab.3
otot-otot pengunyah
otot dasar mulut
 Somato sensibel terdiri dari :
 N.V cab.1 = N.oftalmikus : serabut aferen  fis.orb.sup
 sinus kavernosus  ganglion Gasseri.
 N.V. cab 2 = N.maksilaris : serabut aferen  for infra
orbital  for.rotundum  sin.kavernosus  ganglion
Gasseri
 N.V cab.3 = N.mandibularis : aferen  for.ovale 
gang. Gasseri.
Serabut-serabut aferen  ganglion
gasseri  inti induk somatosensibel 
traktus trigeminothalamikus 
thalamus.
Pemeriksaan
 Fungsi motorik :
 Buka mulut
 Palpasi m.masetter & temporalis
 Fungsi sensibel :
 Memakai jarum pentul / pem. Suhu
 Refleks :
 Refleks kornea
 Refleks bersin
 Refleks Masetter
Ingat :
 Bila ada ggn fisura orbitali superior  N.III,
IV & VI, dan N.V Cab.1
 Sinus cavernosus : III, IV, VI & V cab.1 dan
2.
Nervus fasialis (VII)
 Serabut-serabut somatomotorik :
 Nuk.mot.N.VII  Neuraksis  Nuc.N.VI 
meninggalkan btg otak  PAI  canalis fasialis
 for st.mast : ~ dahi Dahi mata bilateral
~ mata
~ mulut  unilateral
Nukleus motorik N.VII : persarafan secara
bilateral dan secara kontralateral dr korteks
motorik hemisfer
 Visero sensorik (pengecap) :
 2/3 bag. Depan lidah  korda timpani  ggl
genikulatum  nukleus intermedius  nukleus
traktus solitarius  thalamus
 Visero motorik (parasimpatik) :
 Nuc.sal.sup  ggl sphenopal. mukosa &
kel.farings.
 can.fasialis  korda timpani :
gl.sub maks
gl.sub.ling
Gejala-gejala ggn N.fasialis
1. Ggn. Motorik :
• parese fasialis perifer
• Parese fasialis sentral
2. Ggn. Pengecap
3. Ggn. Pendengaran
Etiologi fasialis parese perifer :
1. Infeksi
2. Tumor
3. Trauma kapitis
4. Post operasii mastoidektomi
5. Virus
6. Idiopatis.
Nervus Akustikus (VIII) :
 Nervus cochlearis
Serabut-serabut somatosensorik yg khas untuk
menghantar impuls akustis
Impuls akustis  reseptor (organon korti)  ggl
spirale  PAI  nukleus cochlearis 
lemniskus lateralis  korteks pendengaran
(area 41) pd girus temporali post superior.
Nervus Akustikus (VIII) :
 Nervus vestibularis
Serabut-serabut somatosensorik u/ menghantar
impuls keseimbangan.
Reseptor : Neuroepitelium dr ampula senisirkularis
& makula utriculus dan saculus  ggl vestibulare
 PAI  nukleus vestibularis  pusat k’imbangan
di otak  serebellum
 motor neuron : batang otak n.III,IV,VI
med.spinal.servikal
Ggn. Susunan akustis :
 Tuli  tuli kortikal
tuli konduktif
tuli perseptif
 Tinitus
 Hearing scotoma

Pemeriksaan fungsi pendengaran :


 Rinne
 Weber.
Ggn. Susunan vestibuler :
 Nistagmus : grk. bola mata yg tak terkendali
 Fisiologis
 Patologis : okuler
vestibularis
serebellar
 Horisontal
 Vertikal dan penduler
 Vertigo : perifer, ggn labirin
neurinoma akustis
refleks venomen
meniere sindrome
 Vertigo sentral : ggn pd batang otak
Nervus Glossofaringeus (IX)
 Somato motorik : nuc.ambiguus  otot-otot
bag.atas farings.
 Visero motorik (parasimpatis): nukleus
salifatorius inf.  foramen jugulare  ggl
ootikum  kelenjar parotis.
 Visero sensorik (pengecap) / somato
sensorik :
 1/3 lidah bgn belakang
 Mukosa farings, tonsil, kavum timpani
 Sinus karotikus.
Kelainan pada N.IX :
 Motorik : deviasi uvula
disfagia
regurgitasi
suara binding / sengau
 Visero sensorik dan somatosensorik :
 Refleks muntah menghilang,
 Ggn pd sinus karotikus : bradikardi (-)
 Dijumpai ~ vernet’s phenomen
~ vernet’s syndrome (IX, X, XI)
 Neuralgia
Penyebab :
 Ggn pd medula oblongata
 Foramen jugulare
 Difteri  neuritis
Nervus vagus (X)
 Somato motorik : nuk.ambiguus  pal.molle
larings
farings
 Visero motorik : nuk.dorsalis vagi : kelenjar
otot polos
organ.
 Visero sensorik : serabut-serabut aferen (faring,
laring, trakhea, visc)  ggl nodosum  nukleus trak
sol
 Somato sensorik : serabut aferen (kulit, mae, dura
fossa posterior)  ggl jugulare  nukleus
trak.spinalis nn.trig
Gejala-gejala :
 Ggn motorik :
 Afonia
 Disfagia
 Refleks muntah menghilang
 Sensorik
 Anestesia
 Batuk / nyeri bila ada lesi iritasi
 Parasimpatis
 Refleks okulokardiac terganggu
 Lesi iritasi : ~ Hipersekresi
~ Bradikardi
~ Dilatasi lambung
 Lesi paralitis : hiposekresi
tahikardi
Penyebab :
 Sentral / medula oblongata (CVD, tumor, dll)
 Perifer : alkoholisme,
intoksikasi logam berat
infeksi : neuritis pd diptheri
Nervus assesorius (XI)
 Motorik :
 Nuk. Motorik  eferen  foramen jugulare
 m.st.cl.mast
 Pemeriksaan :
 Atrofi
 Angkat bahu
 Sikap kepala
Nervus Hipoglosus (XII)
 Motorik :
 Nukleus hipoglosus (med.oblongata)  eferen  kanalis
hipoglosus
 Gejala-gejala :
 Dysarthri
 Defiasi lidah
 Sulit menelan
 Lesi supranuklear :
 atrofi lidah tidak ada
 Fasciculasi tidak ada
 Lesi infranuklear :
 Atrofi otot lidah
 Fasciculasi positif

Cat.
Nukleus motorik hipogloosus mendapat persarafan sec.
kontralateral dr korteks morotik hemisfer.
PENDAHULUAN

Dalam Neurologi dikenal 3 macam diagnosis :


1. Diagnosis Klinis
2. Diagnosis Topis
3. Diagnosis Etiologis
I. Diagnosis Klinis
yaitu deskripsi gejala dan temuan-temuan klinis
yang diperoleh.

Contoh :
- hemiparese tipika : hemiparese + parese Nn Cr
kontralateral lesi
- hemiparese alternans : hemiparese kontralateral
lesi + parese Nn Cr ipsi/homolateral lesi
- tetraparese / paraparese UMN/LMN
- sefalgia, kejang, demensia, afasia motorik
- ensefalopati, dll
II. Diagnosis topis
yaitu diagnosis berdasarkan gejala dan tanda
yang diperoleh dihubungkan dengan
lokalisasi lesi di susunan saraf
Contoh : - (lesi di) hemisfer serebri
sinistra / dekstra
- (lesi di) batang otak (pons / medulla
oblongata / mesensefalon)
- (lesi di) medulla spinalis, nervi
spinalis,
- dll.
III. Diagnosis etiologis
yaitu diagnosis berdasarkan gejala, tanda, lokalisasi
lesi dihubungkan dengan proses patologi di susunan
saraf
Contoh : - tumor med spinalis
- infeksi selaput otak
- trauma med spinalis
- dll
Dengan demikian resume suatu status neurologis, selalu
diakhiri dengan :

Contoh Diagnosis Klinis : hemiparese sinistra cum


parese N VII dan XII
tipe sentral.
Diagnosis topis : hemisfer serebri dekstra
Diagnosis etiologis : tumor intra kranial
TANDA-TANDA KLINIS SUATU LESI BERDASARKAN
LOKALISASI / TOPIS:

I. LESI DI KORTEKS SEREBRI


Lesi struktural :
- hemiparese / plegia tipika UMN
- paraparese UMN : lesi di falx cerebri
- monoparese / plegia UMN
- afasia motorik, sensorik, global dan gangguan
fungsi luhur lainnya
Lesi iritatif :
- kejang umum (tonik klonik)
- kejang parsial (Jacksonian’s type)
II. LESI DI CAPSULA INTERNA
- Lesi kecil : pure motor hemiplegia tipika
- Lesi besar : hemiparese / plegia tipika +
hemianestesi
III. LESI DI BATANG OTAK
Tanda umum : hemiparese / plegia alternans:
Lokalisasi tergantung dari :
- Nn Cr apa yang terlibat
- Atau adanya tanda lain yang menyertai
sehingga kumpulan tanda-tanda yang
ditemukan tergabung dalam apa yang disebut
sindrom batang otak.
a. Lesi di medulla oblongata
1. Sind Lateralis (Wallenberg Syndrome)
Penyebab tersering : trombosis pada PICA
(Posterior Inferior Cerebellaris Artery)
- parese N IX, X homolateral
- vertigo (gangguan vestibuler)
- ataksia homolateral
- hemihipestesia alternans
- Horner syndrome yang tidak lengkap di sisi
homolateral
 Miosis : timbul karena lemahnya m.
dilatator pupillae
 Ptosis : timbul karena lemahnya m.
tarsalis sup
 Enoftalmus : timbul karena lemahnya m.
orbitalis
 Anhidrosis pada wajah ipsilateral
2. Sindrom Retro Olivar :
- parese NIX, X, XI, XII
- hemihipestesi kontralateral

3. Sindrom Pra Olivar :


- hemi plegia kontralateral
- parese N XII homo / ipsilateral
- hemihipestesia kontralateral
b. Lesi di PONS

1. Sindrom Millard Gubler


- parese N VI dan VII homolateral
- hemiparese / plegia kontralateral

2. Sindrom Raymond – Cestan


- ataksia serebellar homolateral
- hemihipestesia kontralateral
- gangguan rasa sikap kontralateral
- deviation conyugee pontis
3. Sindrom Foville (lesi di paramedian
PONS)
- hemiparese / plegia kontralateral
- deviation conyaguee pontini
- hemihipestesia kontralateral
c. Lesi di MESENSEFALON

1. Sindrom WEBER : disebut pula hemiparese / plegia


alternans N III
- hemiparese / plegia kontralateral
- parese N III homolateral
Penyebab tersering : strok, hematoma Epidural

2. Sindrom BENEDIKT
- parese N III homolateral
- hemimovement disorder kontralateral (hemichorea,
hemiatetosis, atau hemiparkinson)
3. Sindrom CLAUDE
- parese N III homolateral
- hemiataksia kontralateral
- hemihipestesia kontralateral
IV. LESI DI MEDULA SPINALIS
1. Setinggi segmen cervical (C1 – C3):
- tetraparese / plegia UMN
- hip / anesthesia dari akral s/d
distribusi segmental medulla spinalis
yang terganggu
- gangguan susunan saraf otonom
(miksi, defekasi, fungsi seksual)
2. Setinggi segmen C4 – Th 1
- tetraparese / plegia :
setinggi lesi → LMN
di bawah lesi → UMN
- hip / anesthesia setinggi segmen
m.s yang terganggu
- gangguan SS otonom
3. Setinggi Th 2 s/d bagian atas pleksus
lumbosakral
- paraparese / plegia UMN
- hip / anesthesia setinggi segmen m.s
yang terganggu
- gangguan SS otonom
4. Setinggi pleksus lumbosakral
- paraparese / plegia LMN
- hip / anesthesia setinggi segmen m.s
yang terganggu
- gangguan SS otonom
5. Setinggi konus medularis
- anastesia selangkang ( saddle
anaestesia) simetris
- gangguan SS otonom
- refleks anus negative
6. Setinggi cauda equina
- anastesia selangkang asimetris
- gangguan SS otonom
- tanda laseque positif
7. Lesi yang mengenai separuh potongan melintang
medulla spinalis (hemilesi di m.s) akan
menimbulkan SINDROM BROWN – SEQUARD
dengan tanda sbb:
a. kelumpuhan extr. Sup dan atau extr. Inf.
homolateral : disebabkan oleh terputusnya
traktus piramidalis sesisi
b. gangguan proprioseptif homolateral : disebabkan
oleh terputusnya traktus Goll dan Burdach sesisi
c. gangguan eksteroseptif kontralateral
disebabkan oleh terputusnya traktus
spinothalamikus yang membawa impuls dari
kontralateral
contoh : hemilesi di m.s Th.4 kiri akan
ditemukan kelainan sbb :
a. motorik : monoparese inferior kiri
b. proprioseptif : rasa sikap terganggu di kaki
kiri
c. exteroseptif : hip / anestesi di extr inf kanan
MENENTUKAN TINGGI LESI DI MEDULA
SPINALIS
Periksa batas atas dari gangguan sensibilitas,
dengan cara :
 pemeriksaan eksteroseptif
 tes keringat (tes perspirasi)
lalu cocokkan temuan yang diperoleh dengan
peta sensibilitas dari FOERSTER
Bila batas atas setinggi :
 papilla mammae, maka medulla
spinalis yang bermasalah terletak di
segmen Th.4.
 pusat / umbilicus : Th. 10
 lipat paha : Th. 12 / L.1
 dst
MENGAITKAN LESI di MEDULA SPINALIS
dengan DUGAAN LESI TERSEBUT
DITIMBULKAN OLEH KELAINAN PADA
RUAS TULANG BELAKANG

Semasa embrional, pertumbuhan med. Spinalis


jauh lebih lambat daripada pertumbuhan
columna vertebrae, sehingga pada waktu lahir
ujung bawah medulla spinalis terletak setinggi
corpus vertebra L1 – L2. Keadaan ini tidak
berubah lagi dan disebut ASENSUS
MEDULLAE, sehingga akan tampak bahwa :
1. segmen C3 terletak di belakang ruas corpus vertebra C2
2. segmen C6 terletak di belakang ruas corpus vertebra C4
3. segmen Th4 terletak di belakang ruas corpus vertebra Th1
4. segmen Th8 terletak di belakang ruas corpus vertebra Th5
5. segmen L1 terletak di belakang ruas corpus vertebra Th9
6. segmen L4 terletak di belakang ruas corpus vertebra Th11
7. segmen sakral terletak di belakang ruas Th12 – L1

Hal tersebut di atas perlu diingat untuk dijadikan panduan dalam


meminta sentrasi atau fokus suatu foto tulang belakang.
Neurology Department Muhammad Akbar
Hasanuddin University