Anda di halaman 1dari 112

DR. YUNUS TANGGO SP.

PD
DEFINISI

AIDS DAPAT DIARTIKAN SEBAGAI KUMPUL KUMPULAN GEJALA


ATAU PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH MENURUNNYA KEKEBALAN
TUBUH AKIBAT INFEKSI OLEH VIRUS HIV YANG TERMASUK FAMILY
RETROVIRIDAE, AIDS MERUPAKAN TAHAP LANJUTAN DARI INFEKSI HIV
KLASIFIKASI HIV

• HIV TERMASUK DALAM FAMILY RETROVIRUS, GENUS LENTIVIRUS


• RETROVIRUS MEMPUNYAI CIRI CIRI
– DIKELILINGI OLEH MEMBRAN LIPID
– MENGANDUNG 2 COPY SSRNA
– MEMPUNYAI VARIABEL GENETIK YG BANYAK
– MENYERANG SEMUA VERTEBRATA
– MEMPUNYAI KEMAMPUAN REPLIKASI UNIK
• LENTIVIRUS MEMPUNYAI CIRI
– MENYEBABKAN INFEKSI KRONIS
– KEMAMPUAN REPLIKASI YG PERSISTENT
– MENYERANG SSP
– LONG PERIOD CLINICAL LATENT
STRUKTUR HIV

•Envelop
– gp 120
– gp41

•Enzym
–Reverse transcriptase
–Integrase
–Protease

•Inti
– P17 (matrix)
– P24 (kapsid)
– P7/P9 (nucleocapsid)
PENETRASI VIRUS
• HIV MASUK KE DALAM
TUBUH DENGAN 2 CARA
• PENETRASI PERMUKAAN
MUKOSA
• INOKULASI LANGSUNG
MELALUI DARAH
• MASUK SEBAGAI VIRUS
BEBAS ATAU SEL YG
TERINFEKSI HIV
• HIV DAPAT DITRANMISIKAN
DARI VIRUS KE SEL ATAU
SEL KE SEL
2. Binding dan Fusion
1. Virus bebas Virus mengikat CD4 pada
P 1 dari 2 koreseptor (CCR5 dan CXCR4),
a & melebur dengan sel
t Reseptor CD4
3. Infeksi
o Virus menembus sel Koreseptor CCR5
mengosongkan isinya RNA HIV
p ke dalam sel
Koreseptor CXCR4
DNA HIV
h
y
4. Reverse Transcription DNA man
ssRNA diubah menjadi
s dsRNA oleh enzim DNA HIV 6. Transkripsi
reverse transcriptase Pembentukan protein
i DNA man
rantai panjang
o 5. Integrasi
DNA virus menyatu
l dg DNA sel oleh
o enzim integrase
8. Budding
Virus immatur
g mendorong ke luar,
y 7. Assembly mengambil sel membran
Pembentukan rantai protein virus

H
I 10. Maturasi 9. Virus immatur keluar
dari sel terinfeksi
V
HIV DIDAPATKAN DI…

cairan darah

cairan sperma
cairan vagina
air susu ibu
CARA PENULARAN
• DARAH YANG TERCEMAR
• BERBAGI JARUM/ALAT
SUNTIK
• TRANSFUSI DARAH
• HUBUNGAN SEKS TIDAK
AMAN
• ANAL
• VAGINAL
• ORAL
• ODHA HAMIL KE BAYI
• INTRA-UTERIN
• INTRA-PARTUM
• LAKTASI
TIDAK DITULARKAN MELALUI

• CIUMAN
• BERSIN, BATUK
• MINUM DARI GELAS YANG SAMA
• KERINGAT
• BERSENTUHAN
• GIGITAN NYAMUK
• JARUM STERIL
• HUBUNGAN SEKSUAL MENGGUNAKAN KONDOM
• TEMPAT DUDUK TOILET
• BERSALAMAN
LABORATORIUM
TES CEPAT ANTI HIV

• MENDETEKSI ANTIBODI HIV DALAM WAKTU CEPAT (< 20 MENIT)


• DAPAT DIGUNAKAN PADA JUMLAH SAMPEL YANG SEDIKIT
• HARUS MENGGUNAKAN REAGEN YANG SUDAH DIEVALUASI OLEH
INSTITUSI YANG DITUNJUK KEMENTERIAN KESEHATAN
• DAPAT MENDETEKSI ANTIBODI TERHADAP HIV-1 DAN HIV-2
• TES CEPAT MENGGUNAKAN METODE IMMUNOKROMATOGRAFI
DIAGNOSIS LABORATORIUM INFEKSI HIV

Pemeriksaan Serologi
• Mendeteksi antibodi HIV  Penyaring untuk mendapat pasien yang
– Enzyme immunoassays: EIA terinfeksi

– Tes cepat (rapid test)


• Tes Konfirmasi  Tes konfirmasi dilakukan setelah hasil skrining
– Western blot positif untuk membedakan hasil negatif palsu
atau positif palsu
• Mendeteksi antigen HIV
Pemeriksaan p24 Antigen
Tes Asam Nukleat (Tes Viral Load)
Pemeriksaan CD4  Tes monitoring
CARA MEMBACA HASIL

(A)HIV-1, HIV-2 positif (D) Negatif


(B)HIV-1 positif (E) Invalid
(C) HIV-2 positif (F) HIV-1 positif
PENGOBATAN HIV DENGAN ARV
Klasifikasi ARV
• Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI)
• Non nucleoside reverse transcriptase inhibitor
(NNRTI)
• Protease inhibitor (PI)
• Entry inhibitor
 CCR5 inhibitor
 CXCR4 inhibitor
 Fusion inhibitor (FI)
• Integrase inhibitor
• Maturation inhibitor
• CD4 binding inhibitor
Target Terapi Antiretroviral

Attachment
Inhibitor,
Coreceptor
Antagonist
Fusion
Inhibitor NRTI,
Entry NNRTI
Inhibitor

Reverse PI
Transcriptase
Inhibitor
Integrase Protease
Inhibitor Inhibitor Maturation
Inhibitor
Obat ARV yang tersedia

NRTI NNRTI PI
Zidovudine (AZT) Efavirenz (EFV) Indinavir (IDV)
Stavudine (d4T) Delavirdine (DLV) Nelfinavir (NFV)
Lamivudine (3TC) Nevirapine (NVP) Saquinavir (SQV)
Didanosine (ddl) Etravirine (ETV) Amprenavir (APV)
Abacavir (ABC) Rilpivirine (RPV) Ritonavir (RTV)
Zalcitabine (ddC) Lopinavir (LPV)
Emtricitabine (FTC) Atazanavir (ATV)
Integrase inh Fosamprenavir (FPV)
Raltegravir (RAL) Tipranavir (TPV)
Dolutegravir (DTG) Darunavir (DRV)
Elvitegravir (EVG)
NtRTI CCR5 antagonis FI
Tenofovir (TDF) Maraviroc (MRV) Enfuvirtide (ENF)
PADUAN ART UNTUK DEWASA
PADUAN PILIHAN

TDF + 3TC (ATAU FTC) + EFV DALAM BENTUK KDT

PADUAN ALTERNATIF

• AZT + 3TC + NVP

• AZT + 3TC + EFV

• TDF + 3TC (ATAU FTC) + NVP

• AZT + 3TC + *EFV400

• TDF + 3TC (ATAU FTC) + *EFV400

*BELUM DIREKOMENDASIKAN PADA PENGGUNA RIFAMPISIN DAN IBU HAMIL

RILPIVIRIN (RPV) ADALAH OBAT ALTERNATIF PADA ODHA YANG TIDAK DAPAT MENTOLERANSI EFV DAN
NVP. NAMUN, RPV SEBAIKNYA TIDAK DIGUNAKAN PADA ODHA DENGAN CD4 < 200 SEL/MM3 ATAU
VIRAL LOAD BANYAK > 100.000 KOPI/ML KARENA EFEKTIVITASNYA LEBIH RENDAH PADA KONDISI
TERSEBUT.
PADUAN ART
UNTUK REMAJA (10-19 TAHUN)

PADUAN PILIHAN
TDF+3TC (ATAU FTC)+EFV

PADUAN ALTERNATIF
• TDF +3TC (ATAU FTC)+*EFV400
• AZT+3TC+EFV
• AZT+3TC+NVP
• AZT+3TC+EFV*400
• TDF+3TC (ATAU FTC)+NVP
*BELUM DIREKOMENDASIKAN PADA PENGGUNA RIFAMPISIN DAN IBU HAMIL
PADUAN ART UNTUK ANAK (3-10
TAHUN)
PADUAN PILIHAN

AZT+3TC+EFV

PADUAN ALERNATIF
• ABC+3TC+NVP
• ABC+3TC+EFV
• AZT+3TC+NVP
• TDF+3TC (ATAU FTC)+EFV
• TDF+3TC (ATAU FTC)+NVP
PADUAN ART UNTUK ANAK <3
TAHUN
PADUAN PILIHAN
(ABC ATAU AZT)+3TC+LPV/R

PADUAN ALTERNATIF
(ABC ATAU AZT)+3TC+NVP
PADUAN ART LINI KEDUA
PADA DEWASA DAN REMAJA
Populasi Paduan Lini Kedua Pilihan
Jika d4T atau AZT digunakan TDF + 3TC (atau FTC) + LPV/r
sebagai lini pertama
Dewasa dan remaja (≥ 10 tahun)
Jika TDF digunakan sebagai lini
AZT + 3TC + LPV/r
pertama ART
Jika d4T atau AZT digunakan TDF + 3TC (atau FTC) + LPV/r
sebagai lini pertama dosis ganda
HIV dan koinfeksi TB
Jika TDF digunakan sebagai lini
AZT + 3TC + LPV/r dosis ganda
pertama ART
HIV dan koinfeksi Hepatitis B AZT+TDF + 3TC (atau FTC) + LPV/r

*d4T tidak lagi digunakan


pada dewasa
PADUAN ART LINI KETIGA

Dosis:
• Etravirine (NNRTI): 2 x 200mg
• Raltegravir (Integ Inh): 2 x 400mg
• Darunavir (PI): 1 x 800/100mg atau 2 x 600/100mg
KEGAGALAN TERAPI
RIWAYAT ALAMIAH HIV TRANSMISI
MENUJU KEMATIAN (TANPA ART)
Stadium klinis 1 (WHO)
dan Pengobatan

05/04/2019 27
05/04/2019 28

Kahn JO. N Engl J Med 1998;339:33-39


Persistent Generalized
Lymphadenopathy (PGL)

• Kelenjar GB dgn diameter > 1.5 cm pada > 2


tempat di ekstra inguinal selama > 3 bulan
• Benjolan tidak nyeri tekan, simetris, dan sering
mengenai servikal posterior, aksila, oksipital, dan
epitrochlear
• Periksa DL dan X-foto dada (KGB hilus &
mediastinum)

05/04/2019 29
• Terjadi pada sampai 50% infeksi HIV
• Sampai 1/3nya tidak ada gejala lain
• PGL dapat mengecil secara perlahan selama
perjalanan penyakit dan dapat hilang sendiri
sebelum timbulnya AIDS
• Tidak ada terapi spesifik

30 05/04/2019
Stadium klinis 2 (WHO)
dan Pengobatan

05/04/2019 31
Stadium Klinis 2

• Berat badan menurun <10% dari BB semula


• Kelainan kulit dan mukosa ringan seperti dermatitis
seboroik, papular pruritic eruption (PPE), infeksi jamur
kuku, ulkus oral yang rekuren, cheilitis angularis
• Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
• Infeksi saluran napas bagian atas seperti sinusitis
bakterial

Skala Penampilan 2: simtomatis, aktivitas normal

05/04/2019 32
Dermatitis seboroika

• Gatal
• Bersisik
• Kemerahan 05/04/2019 33

• ~ P. ovale
Pengobatan

• Higiene perorangan
• Anti fungal (selenium,
pyrithione Zn, obat
azole)
• Anti inflamasi (salep
steroid)
• Jika berat: keratolitik
(as.salisilat)
05/04/2019 34
Papular pruritic eruption (PPE)

05/04/2019 35
Papular pruritic eruption (PPE)

• Lengan, tungkai,
pinggang, bokong
• Simetris

05/04/2019 36
Papular pruritic eruption (PPE)

• Pengobatan
– Steroid topikal
– Antihistamin
– Prednison jangka
pendek
– UVB, UVA

05/04/2019 37
Infeksi jamur kuku (onikomikosis)

1. Subungual distal
2. White superfisial
3. Subungual proksimal
4. Kandida
5. Distrofik total

Disebabkan oleh T. rubrum

05/04/2019 38
Disebabkan oleh T. mentagrophytes

Disebabkan oleh T. rubrum.


Paling sering pada pasien HIV

Diagnosis: Pem. KOH / biakan

Pengobatan
– Itraconazol 200mg/hari selama 6-12 minggu
– Terbinafin 250mg/hari selama 6-12 minggu
05/04/2019 39
ULKUS pada MULUT

• Infeksi Herpes • Histoplasmosis


simplex • Limfoma
• Infeksi Varicella • Necrotizing
zoster (“Shingles”) ulcerative
• Infeksi gingivitis (NUG)
Cytomegalovirus • Necrotizing
• Ulkus aftosa ulcerative
periodontitis (NUP)
• Necrotizing
stomatitis (NS)
05/04/2019 40
Infeksi Herpes Simpleks

• Ulserasi herpes simpleks atipik sering


menyebabkan ulserasi mukosa yg nyeri
• Kadang2 nyeri retrosternal dan odinofagi
• Diagnosis dipastikan dengan menggunakan
smear mukosa, isolasi virus (biakan) atau biopsi
• Ulkus biasanya membaik dengan terapi anti-viral
sistemik

05/04/2019 41
42 05/04/2019
Terapi Herpes Simplex (HSV-1,2)

• Acyclovir: 400mg tablet 3 x sehari selama 10


hari
• Famciclovir: 500mg tablet 3 x sehari selama 10
hari
• Valacyclovir: 1g tablet 2 x sehari selama 10 hari
• Topical Penciclovir 1%

05/04/2019 43
Infeksi yg insidensinya rendah
• Viral
– Varicella-Zoster
– Cytomegalovirus
• Fungal
– Histoplasmosis
• Bakterial
– Tuberkulosis
– Sifilis
05/04/2019 44
Virus Varicella Zoster

• Mengenai saraf
sensoris
• Jika mengenai saraf
trigeminal,
menyebabkan
timbulnya lesi intraoral
atau ekstraoral
• SELALU UNILATERAL
VI Meeks, DDS, U Md Dental School

05/04/2019 45
Virus Varicella Zoster

• Mulai sebagai lesi


vesikuler yang nyeri
yang pecah dan
menimbulkan crusta;
secara klinis tampak
sebagai ulkus
• Keluhan awal yg
utama adalah nyeri
atau sakit gigi yg tidak
dapat menunjukkan
lokasi gigi yg sakit
05/04/2019 46
Cytomegalovirus (CMV)

• Menyebar melalui
kontak langsung
• Biasanya
menyebabkan
komplikasi ke mata
 CMV retinitis
• Dapat menyebabkan
ulkus intraoral
• Dapat melewati barier
transplasenta
VI Meeks, DDS, U Md Dental School
05/04/2019 47
Cytomegalovirus (CMV)

• Perlu dilakukan biopsi


dan konfirmasi
histopatologis utk
diagnosis pasti
• Terapi: Ganciclovir;
Foscarnet
• Lesi oral dapat
memberi petunjuk
adanya infeksi sistemik

05/04/2019 48
Mikobakterium tuberkulosis

• Biasanya pertama kali


timbul pada paru; dan
ciri lesi ekstra paru
adalah nyeri, indurasi,
ulkus yang tidak
menyembuh.
• Sputum yang terinfeksi
M. tuberculosis dapat
menginfeksi jaringan Courtesy of AFIP.
mukosa oral pada
daerah trauma di mulut.
05/04/2019 49
Sifilis
 Penyebab: T. pallidum
 Terbanyak pd remaja
 Terutama wanita PSK
 Stadium:
 Primer:
 Chancre, oral/genital
 Sekunder
 Latent
 Terapi:
 Penicillin, cephalosporin, tetrasiklin
 Mencegah sifilis kongenital pada 90% kasus
 Jika tidak diobati, penyakit serius dan kematian
05/04/2019 50
Ulkus aftosa

• Ulkus persisten, nonspesifik


• Biopsi dan pemeriksaan histologi perlu
untuk menyingkirkan penyebab lain
• Terapi sistemik dan topikal kortikosteroid
cukup berhasil
• Topikal tetrasiklin dan talidomid sistemik
juga telah digunakan

05/04/2019 51
52 05/04/2019
Limfoma Non-Hodgkin

• Tampak sebagai massa nekrotik,


berulserasi atau tidak, jika terjadi pada
rongga mulut
• Diagnosis: biopsi dan pemeriksaan
histologi

05/04/2019 53
Limfoma Non-Hodgkin

– Demam, keringat malam, berat badan turun


– Limfadenopati, splenomegali, pansitopeni,
obstruksi saluran pencernaan, asites, lesi saraf
kranial, penekanan saraf spinal, lesi pada akar
saraf, kutaneus, testikular dan massa di paru
– Prognosis jelek jika CD4 <100
– Terapi: khemotherapi

05/04/2019 54
Limfoma Non-Hodgkin

05/04/2019 55
Necrotising Gingivitis

• Inflamasi gusi dapat menjadi ekstensif dan


nekrotik sehingga dapat menimbulkan gigi
copot

• Disebabkan oleh bakteri dari flora mulut

05/04/2019 56
Necrotizing Ulcerative
Periodontal
• Ditandai oleh ulkus gingiva yg nyeri dan dapat
menyebabkan hilangnya alveolus tulang
• Penanganan:
– Terapi antibiotik (Metronidazol, Klindamisin, Ko-
amoksiklav)
– Debridement jaringan nekrotik/sekuesterektomi
– Perawatan di rumah yang seksama

05/04/2019 57
58 05/04/2019
Necrotizing Stomatitis

 Nekrosis jaringan
lunak yang luas di
atas tulang; sering
tidak ditemukan
penyebabnya
 Bandingkan
dengan ulkus
aftosa di sebelah
kanan
05/04/2019 59
Necrotizing Stomatitis
Terapi
• Deksametason eliksir
• 10 hari kemudian
• Perhatikan akar gigi
sebagai akibat nekrosis
jaringan lunak dan tulang
• Talidomid juga cukup
efektif, ttp teratogenik
• Perlu suplemen nutrisi,
karena nyeri waktu
makan
05/04/2019 60
Cheilitis angularis

• Tampak sebagai
eritema atau
fissura pada sudut
mulut
• Sering mengikuti
kandidiasis
intraoral

05/04/2019 61
Herpes zoster (shingle)

05/04/2019 62
Multidermatomal Herpes zoster

05/04/2019 63
Herpes zoster (shingle)

05/04/2019 64
Stadium klinis 4 (WHO)
dan Pengobatan

05/04/2019 65
Stadium Klinis 3
• Berat badan menurun >10% dari BB semula
• Diare kronis yang tidak diketahui penyebabnya berlangsung
> 1 bulan
• Demam tanpa sebab yang jelas yang (intermiten atau
konstan) > 1 bulan
• Kandidiasis Oral (thrush)
• Oral Hairy Leukoplakia (OHL)
• TB paru, dalam 1 tahun terakir
• Infeksi bakteri berat (pnemonia, pyomiositis)
• Angiomatosis basiler
• Herpes zoster yang berkomplikasi
05/04/2019 66
Diare kronis
Anamnesis/PF/Penanganan cairan

Pemeriksaan feses

Penyebab ? Ya Tx Spesifik
tdk
Tx empiris [kotrimoksazole atau kuinolon]

Perbaikan ? Ya Selesaikan Tx
tdk
Periksa kembali [berikan metronidazole]

Perbaikan ? Ya Selesaikan Tx
tdk
X-ray GI atau endoskopi

Penyebab ? Ya Tx Spesifik
tdk
Perbaikan: teruskan Tx 4 minggu
Tx empiris utk microsporidium 05/04/2019 67
Tidak membaik: Tx antimotilitas
Kemungkinan penyebab diare kronis
berdasarkan CD4
Jumlah CD4

Patogen > 200 1 <200

Bakteri Salmonella ? Escherichia coli


Shigella MAC
Campylobacter
Yersinia
Clostridium difficile
MTB
Virus Adenovirus Cytomegalovirus
Rotavirus
HSV
? HIV
Protozoa Giardia lamblia Microsporidium
Entamoeba histolytica Cryptosporidium2
Isospora
Cyclospora
Fungi Histoplasma Cryptococcus
Aspergillus

1. Semua jenis patogen ini terdapat lebih sering pada pasien immunocompromised.
2. Penyebab diare kronis hanya pd kelompok ini, tetapi dapat mencetuskan penyakit yang sembuh
sendiri pada lebih banyak pasien immunocompetent. 05/04/2019 68
• Salmonela dan sigelosis
– Kotrimoksazol 2 X 960 (2 X 480) mg
selama 7 hari
– Ciprofloksasin 2 X 500 mg selama 7 hari
• Campilobakter
– Eritromisin 4 X 500 mg selama 5 hari
• Giardiasis
– Metronidazol 3 X 500 mg selama 5 hari
• E. histoltika
– Metronidazol 3 X 500 mg selama 7 hari
05/04/2019 69
• Isospora beli
– Kotrimoksazol 3 X 960 (2X480 mg) selama
14 hari
• Strongyloidiasis
– Albendazol 400 mg/hari selama 3 hari
• Cryptosporidiosis
– Tidak ada pengobatan yang efektif.
• Microsporidiosis
– Albendazol
05/04/2019 70
Demam

Peningkatan suhu tubuh yang berulang atau


menetap (>37.5 ºC) selama > 1 bulan

05/04/2019 71
Kandidiasis oral

Infeksi jamur seperti kandidiasis pada mulut


merupakan salah satu penyebab yang sering
terjadi. Kandidiasis dapat meluas sampai ke
esofagus pada pasien AIDS. Menyebabkan
gangguan dan sakit menelan. Diagnosis
berdasarkan pada gejala klinis, rasa sakit di dada
sewaktu menelan. Endoskopi tidak dibutuhkan
kecuali pasien tidak memberi respon
pengobatan.

05/04/2019 72
Candida albicans
Oral (thrush)
• Koloni atau kelompok pseudomembran berwarna
putih/kuning, yang terdapat dimana saja dalam rongga
mulut
• Dapat terlokalisir maupun meluas
• Dapat dgn mudah diangkat dgn menggosoknya
• Eritematus: tampak sebagai bercak kemerahan pada
mukosa
• Hiperplastik serupa dgn pseudomembran tetapi biasanya
melekat dengan jaringan
• Cheilitis angularis: fissura pd sudut mulut dgn atau tanpa
kolonisasi 05/04/2019 73
Esofageal
• Lesi pseudomembran meluas ke farings bagian
bawah menyebabkan sulit menelan, mual, serta
nyeri retrosternal dan epigastrik

Diagnosis
• Pemeriksaan mikroscopis dari lesi yang dikerok
dgn menggunakan KOH
• Biopsi endoskopis
• Tampak miselium invasif ke jaringan pada
pemeriksaan endoskopi
05/04/2019 74
Kandidiasis Pseudomembran

05/04/2019 75
Kandidiasis Eritematus

05/04/2019 76
Kandidiasis Hiperplastik

05/04/2019 77
Kandidiasis Cheilitis angularis

05/04/2019 78
Oropharyngeal Candidiasis

79
Pseudomembranous 05/04/2019
Erythematous
candidiasis (thrush) candidiasis
Candida
Esofagitis

05/04/2019 80
Manajemen dan Terapi
• Langkah 1: Gunakan antifungal topikal

• Nystatin (1 tablet 100,000 IU setiap 4 jam): dapat dikunyah


atau diisap selama 7 hari
• Nistatin oral suspensi: 100.000 U 3 x sehari selama 7 hari
• Gentian violet: pemakaian Gentian violet 1% dalam larutan
air setiap 4 jam selama 1 minggu
• Amphotericin B (10 mg lozenges 4 x sehari) jika tersedia
(isap atau kunyah untuk mempertahankan kontak dgn
mukosa mulut)
05/04/2019 81
• Langkah 2: Terapi sistemik (diberikan jika tidak ada
perbaikan setelah 7 hari terapi topikal dan untuk
semua kasus kandidiasis esofageal)

• Pilihan pertama — Fluconazole (200 mg loading dose,


selanjutnya 100 mg/hari sampai gejala hilang. Jika tidak
ada fluconazole, gunakan Ketoconazole (200-400 mg
/hari)
• Pilihan kedua — Itraconazole (100 mg 2 x sehari, dosis
dapat dinaikkan sampai maksimum 400 mg sehari
selama 10 -14 hari)
• Pilihan ketiga — Amphotericin B (I.V.) (0.5-1.5 mg/kg per
hari)
• Gunakan terapi intermiten selama mungkin, untuk
memperlambat timbulnya kandida yang resisten
05/04/2019 82
Oral Hairy Leukoplakia

 Tampak sebagai lesi/plaque


atau seperti proyeksi rambut
bergelombang pada bagian
lateral lidah yang tidak nyeri
& tidak dapat hilang dgn
menggosoknya
 Merupakan tanda supresi
imun & prognosis jelek
 Pemeriksaan histopatologi
menunjukkan Eipstein-Barr
(EBV) intrasel
05/04/2019 83
84 05/04/2019
Oral Hairy Leukoplakia

• Terapi:
– Pd umumnya tidak memerlukan terapi,
kecuali alasan kosmetis
– Antiviral (acyclovir) 4 x 400 mg selama 10
hari dan topikal podophyllum resin telah
digunakan – hasilnya bersifat temporer
– Dapat membesar atau berkurang tanpa
pengobatan
05/04/2019 85
Angiomatosis basiler (epiteloid)
Bakteri: Bartonella henselae,
Bartonella quintana,
Rochalimaea henselae
Terapi:
Eritromisin 500 mg 4 x sehari
atau
Azithromisin 500 mg 1 x sehari
selama 3-4 minggu

05/04/2019 86
Periodontal Abscess
Sakit Kepala
[1]

Adakah tanda2 neurologi Yes


CT scan otak Terapi untuk
fokal pada jika ada toksoplasmosis
pemeriksaan? [3]
[2]

Tidak

Pemeriksaan CSF Gejala ke arah


mikroskopis untuk malaria ?
bakteri, hitung sel darah Daerah endemik
putih (lekosit), malaria?

Nyeri
basil tahan
- asam,
tinta India
Ya
Mikroskopis darah Terapi
jika ada? malaria

Kepala Terapi empiris


Dijumpai penyebab spesifik? Pemeriksaan CSF tidak utk cryptococcal
tersedia? meningitis
Tanda-tanda iritasi [4]
meningen?

Tidak Terapi
simtomatis

Ya

Terapi untuk Terapi untuk 05/04/2019 Terapi untuk


Terapi untuk 87
cryptococcal bacterial tuberculous syphilitic
meningitis meningitis meningitis meningitis
[4] [5]
Nyeri Kepala
Biasanya disebabkan oleh:

• Toksoplasmosis
 Defisit neurologis dan kejang
 Toksoplasmosis dapat dicegah bila pasien
minum kotrimoksazol

• Meningitis akibat Kriptokokus


 Kaku kuduk dan meningismus
05/04/2019 88
Batuk dan sesak napas
Penyebab
• Sering
– Tuberkulosis
– Pneumonia Pneumocystis (PCP)
– Pnemonia bakterialis
• Kurang sering
– Infeksi jamur (kriptokokus, histoplasmosis)
– Atypical mycobacteria (MAC)
– Pneumonitis CMV

05/04/2019 89
Batuk dan sesak napas
Penyebab Gejala X-foto Sputum
PCP Batuk- non produktif Infiltrat bilateral pada Induksi sputum pada
(tidak ada sputum), sesak lapangan tengah paru rumah sakit spesialistis.
napas dan demam selama Terapi PCP jika
1- 2 bulan gejala (dan x-foto dada
mengesankan PCP.
Tuberkulosis Batuk dengan sputum, Infiltrat lobus atas Basil Tahan Asam (BTA)
demam, berat badan adalah khas tetapi
turun 1-2 minggu pasien dgn HIV dapat
(atau lebih lama lagi) memberikan gambaran
X-foto yang atipikal dgn
infiltrat lapangan bawah
Pneumoni Batuk produktif, dgn Konsolidasi lobaris Bakteri Gram positif
bakterial sputum purulen dan
demam selama
- 1-2 mg
PCP terjadi lebih
perlahan dan biasanya
tidak ada sputum
05/04/2019 90
Batuk dan sesak napas

• Sesak napas kemungkinan besar


disebabkan oleh PCP
• Gejala lain dari PCP
• Biasanya tidak akut
• Gejala berangsur angsur (minggu-bulan)
• Subfebril
• Batuk kering tanpa sputum
05/04/2019 91
Penggolongan penyakit kulit
-
yangg terkait dengan HIV

Herpes zoster
Herpes simplex
Molluscum contagiosum
Infeksi virus Human papilloma virus
Oral hairy leukoplakia (EBV)

Infeksi jamur Mikosis superfisial Mikosis sistemik


Kandidiasis Cryptococcosis
Dermatofitosis Histoplasmosis
Cutaneous ringworm Penicilliosis
Onikomikosis

Kelainan Infeksi bakteri


Bakterial
Follikulitis & furunkulosis
Impetigo & ecthyma
Mikobacterial
Tuberkulosis
Atipik
Mikobacteri

kulit Infeksi parasit Skabies

Anitretroviral,
Drug eruptions (mis: NNRTI)
Antibiotika
(mia: kotrimoksazole
)

Sarkoma Kaposi
Kanker Limfoma

Pruritic papular eruption


Dermatitis 05/04/2019
seboroika 92
Dermatosis lain Psoriasis
Xerosis
Hiperpigmentasi
Penyebab
• Obat-2an
• Endokrin (adrenalis, tiroid)
• Nutrisi
• Terpajan lama dan intensif
oleh UV
• Penyakit2 lain (TB,
histoplasmosis, kriptokokus)

05/04/2019 93
Kulit

• Kulit pasien HIV


lebih kering
• Keluhan gatal
• Karier
Staphyllococcus
aureus meningkat

05/04/2019 94
Kulit kering

• Hindari mandi air


panas/hangat
• Hindari sabun
antibakterial/
detergen
• Gunakan emolien
(skin lotion)

05/04/2019 95
Dermatofitosis
• Batas tegas, bersisik,
plak eritematus dengan
tepi aktif dan central
healing
• Tinea corporis, T.cruris,
T.pedis, T.manuum,
T.capitis
• Pengobatan
– Krim antifungal topikal
– Shampoo antifungal
– Pengobatan sistemik
05/04/2019 96

antifungal
Anogenital warts

• Risiko meningkat
untuk terjadinya
cervical displasia +/-
anal displasia
• Pengobatan
– Liquid nitrogen,
Electrocautery,
– CO2 laser,
– Podofilin
– Imiquimod
05/04/2019 97
Genital Warts

05/04/2019 98
Herpes simpleks

• Vesikel
berkelompok
pada dasar
erimates
• Lesi
ulseratif/kronik/
erosif

05/04/2019 99
Herpes simpleks

• Terapi
– Asiklovir
– 5 X 200 mg
– Acyclovir IV
5mg/kg/8 jam
• Bila resisten asiklovir
– Foscarnet
– Cidofovir
05/04/2019 100
Diagnosis Banding
Rash (ruam kulit)
HIV infection Other infections
An erythematous, non- Skin rashes are not a feature
pruritic, maculopapular rash of infectious mononucleosis,
is common during primary toxoplasmosis, or
HIV infection. cytomegalovirus infection.
Generally symmetrical. May
become generalized, with
lesions 5-10 mm in diameter.
Rashes involving the palms
The face or trunk is usually and soles are rare in most
affected, but extremities, viral infections.
including the palms and
soles, can also be involved. 05/04/2019 101
EFEK SAMPING ARV
Anti Retro Viral

05/04/2019 103
05/04/2019 104
WAKTU TERJADINYA TOKSISITAS ARV
Waktu Toksisitas
Dalam beberapa minggu  Gejala gastrointestinal adalah mual, muntah dan diare. Efek samping
pertama ini bersifat self-limiting dan hanya membutuhkan terapi simtomatik
 Ruam dan toksisitas hati umumnya terjadi akibat obat NNRTI, namun
dapat juga oleh obat NRTI seperti ABC dan PI
Dari 4 minggu dan  Supresi sumsum tulang yang diinduksi obat, seperti anemia dan
sesudahnya neutropenia dapat terjadi pada penggunaan AZT
 Penyebab anemia lainnya harus dievaluasi dan diobati
 Anemia ringan asimtomatik dapat terjadi

6-18 bulan  Disfungsi mitokondria, terutama terjadi oleh obat NRTI, termasuk
asidosis laktat, toksisitas hati, pankreatitis, neuropati perifer,
lipoatrofi dan miopati
 Lipodistrofi sering dikaitkan dengan penggunaan d4T dan dapat
menyebabkan kerusakan bentuk tubuh permanen
 Asidosis laktat jarang terjadi dan dapat terjadi kapan saja, terutama
dikaitkan dengan penggunaan d4T. Asidosis laktat yang berat dapat
mengancam jiwa
 Kelainan metabolik umumnya terjadi 05/04/2019 oleh PI, 105termasuk
hiperlipidemia, akumulasi lemak, resistansi insulin, diabetes dan
osteopenia
Setelah 1 tahun  Disfungsi tubular renal dikaitkan dengan TDF
Efek Rifampisin terhadap obat2
anti HIV
 Protease inhibitor
 Saquinavir 80 % berkurang
 Ritonavir 35 % berkurang
 Indinavir 92 % berkurang
 Nelfinavir 82 % berkurang
 Amprenavir 81 % berkurang
 Nonnucleoside reverse transcriptase
inhibitor (NNRTI)
 Nevirapine 37 % berkurang
 Efavirenz 26 % berkurang
 Reverse transcriptase inhibitor 05/04/2019 106

 Tidak ada efek


TATALAKSANA EFEK SAMPING OBAT ARV
1) DERAJAT 4, REAKSI YANG MENGANCAM JIWA: SEGERA HENTIKAN SEMUA
OBAT ARV, BERI TERAPI SUPORTIF DAN SIMTOMATIS; BERIKAN LAGI ARV
DENGAN PADUAN YANG SUDAH DIMODIFIKASI (CONTOH: SUBSTITUSI 1
ARV UNTUK OBAT YANG MENYEBABKAN TOKSISITAS) SETELAH ODHA
STABIL
2) DERAJAT 3, REAKSI BERAT: GANTI OBAT YANG DICURIGAI TANPA
MENGHENTIKAN PEMBERIAN ARV SECARA KESELURUHAN
3) DERAJAT 2, REAKSI SEDANG: BEBERAPA REAKSI (LIPODISTROFI DAN
NEUROPATI PERIFER) MEMERLUKAN PENGGANTIAN OBAT. UNTUK REAKSI
LAIN, PERTIMBANGKAN UNTUK TETAP MELANJUTKAN PENGOBATAN; JIKA
TIDAK ADA PERUBAHAN DENGAN TERAPI SIMTOMATIS, PERTIMBANGKAN
UNTUK MENGGANTI 1 JENIS OBAT ARV
4) DERAJAT 1, REAKSI RINGAN: TIDAK MEMERLUKAN PENGGANTIAN
05/04/2019
TERAPI.
107
Immune Reconstitution
Inflammatory Syndrome (IRIS)

05/04/2019 108
DEFINISI

IRIS ADALAH PERBURUKAN KONDISI KLINIS SEBAGAI RESPONS INFLAMASI BERLEBIHAN PADA SAAT PEMULIHAN
RESPONS IMUN SETELAH PEMBERIAN ARV, DIDEFINISIKAN SEBAGAI TIMBULNYA MANIFESTASI KLINIS ATAU PERBURUKAN INFEKSI
YANG ADA SEBAGAI AKIBAT PERBAIKAN RESPONS IMUN SPESIFIK PATOGEN PADA ODHA YANG BERESPON BAIK TERHADAP ARV

IRIS MEMILIKI MANIFESTASI DALAM PENYAKIT INFEKSI MAUPUN NON INFEKSI

MANIFESTASI TERSERINGNYA ADALAH BERUPA INFLAMASI PADA PENYAKIT INFEKSI

2 JENIS IRIS :

1. UNMASKING IRIS, TERJADI PADA PASIEN YANG TIDAK TERDIAGNOSIS DAN MENDAPAT TERAPI UNTUK INFEKSI
OPORTUNISTIKNYA DAN LANGSUNG MENDAPATKAN TERAPI ARVNYA

2. PARADOKSIKAL IRIS, PASIEN TELAH MENDAPAT TEAPI UNTUK INFEKSI OPORTUNISTIKNYA DAN TERJADI PERBURUKAN KLINIS DARI
PENYAKIT INFEKSI TERSEBUT

05/04/2019 109
05/04/2019 110
05/04/2019 111
TERIMA KASIH