Anda di halaman 1dari 36

KELOMPOK :

Elitria Sapitri
Fathimah
Hesty Retno Sari Pengaruh Obat
Muhammad Nur Ihsan Habibi Pada Kehamilan
Proses Kehamilan
Proses kehamilan di dahului oleh proses pembuahan satu sel telur yang bersatu
dengan sel spermatozoa dan hasilnya akan terbentuk zigot. Zigot mulai membelah
diri satu sel menjadi dua sel, dari dua sel menjadi empat sel dan seterusnya. Pada
hari ke empat zigot tersebut menjadi segumpal sel yang sudah siap untuk
menempel / nidasi pada lapisan dalam rongga rahim (endometrium). Kehamilan
dimulai sejak terjadinya proses nidasi ini. Pada hari ketujuh gumpalan tersebut
sudah tersusun menjadi lapisan sel yang mengelilingi suatu ruangan yang berisi
sekelompok sel di bagian dalamnya.
Definisi Obat

Obat adalah suatu zat yang dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan
efek pengobatan (terapi) bila diberikan pada individu yang sakit atau
memerlukan pengobatan. Mengingat obat bukan dihasilkan secara
alami, tetapi buatan, maka obat termasuk zat asing yang bila diberikan
kepada ibu hamil berpotensi menimbulkan efek samping pada ibu dan
janin yang dikandungnya.
Farmakokinetik pada Kehamilan
Metabolisme dan kinetika produk obat lebih rumit dalam kehamilan daripada sebaliknya.
Secara umum, konsentrasi efektif suatu obat atau metabolitnya dipengaruhi oleh hal-hal
berikut:
 Serapan, distribusi, metabolisme dan ekskresi oleh ibu (perubahan selama kehamilan
dari beberapa parameter fisiologis yang mempengaruhi metabolisme bahan kimia)
 Perjalanan dan metabolisme melalui yolk sac (kantung kuning) dan plasenta
 Distribusi, metabolisme dan ekskresi oleh embrio atau janin
 Penyerapan kembali dan menelan zat oleh yang belum lahir dari cairan ketuban.
Lanjutan….

Total air tubuh meningkat sebanyak 8 liter selama kehamilan, yang memberikan
peningkatan volume substansial di mana obat-obatan dapat didistribusikan. Selama
kehamilan, penyerapan bahan kimia di usus, kulit, dan inhalasi berubah karena
berkurangnya peristaltik usus dan peningkatan aliran darah kulit dan paru-paru.
Farmakokinetik Obat Fetomaternal
 Perubahan Pada Traktus Digestivus
1. Motilitas uterus berkurang
2. Peningkatan sekresi mukosa, pH gaster meningkat (± 40 % lebih tinggi dari pada
perempuan tidak hamil)
3. Mual / Muntah akan mempengaruhi dosis obat yang masuk traktus digestivus

 Pengaruh Pada Paru


Dengan adanya hormon plasenta, terutama progesteron, maka terjadi
vasodilatasi kapilar alveoli. Volume plasma bertambah, curah jantung bertambah,
sirkulasi pulmonal bertambah, maka absorpsi di alveoli akan bertambah. Oleh karena
itu, obat – obat inhalasi perlu dipikirkan dosisnya, jangan sampai berlebihan.

 Distribusi Obat
Plasma darah dalam sirkulasi ibu hamil mulai trimester dua akan bertambah
sampai ± 50 – 60 %. Ini berakibat curah jantung meningkat dan filtrasi glomerulus ginjal
meningkat. Volume darah / plasma meningkat sampai ± 8.000 cc. Tambahan volume
darah di plasenta, janin, dan amnion (± 60 %) dan dalam darah ibu 40 %. Sirkulasi
darah bertambah di plasenta 80 % srta pada miometrium 20 . dengan demikian, kadar
obat dalam sirkulasi ibu, distribusinya dalam organ relatif tidak sama.
 Perubahan Kadar Protein Darah
Pada kehamilan produksi albumin dan protein lain pada
hepar sedikit bertambah, tetapi jika dibandingkan dengan
meningkatnya volume plasma (hidrema) kadar albumin menurun,
sehingga ada penurunan relatif (hipo albuminemia fisiologis).
Sebagian protein akan berikatan dengan hormon progesteron,
sehingga hanya sebagian albumin yang mengikat obat.
 Detoksikasi/Eliminasi Obat
a. Hepar
Pada kehamilan fungsi hati terganggu karena munculnya
hormon dari plasenta. Maka, pembentukan protein agak
menurun terutama albumin. Enzim-enzim hepar, protein plasma,
dan imunoglobulin produksinya berkurang. Detoksikasi obat akan
berkurang, kecuali ada obat tertentu yang meningkatkan
aktivitas metabolisme sel hepar akibat rangsangan enzim
mikrosom oleh hormon progesteron.
b. Ginjal
Aliran darah glomerulus pada kehamilan meningkat 50
%. Glomerulus filtration rate meningkat . ini akibat dari
peningkatan volume plasma darah dan hormon
progesteron.
Kompartemen Plasenta
Plasenta merupakan unit yang berfungsi menyalurkan nutrien dari ibu ke janin. Bila
dalam plasma darah ibu terdapat pula obat, maka obat ini akan melalui mekanisme
transfer plasenta (sawar plasenta), membran bioaktif sitoplasmik lipoprotein sel
trofoblas, endotel kapilar vili korialis, dan jaringan pengikat interstisial vili.
Kompartemen Janin
Dengan mengingat peran plasenta dalam memfiltrasi atau
seleksi obat baik secara pasif maupun aktif serta banyak
sedikitnya kadar obat yang masuk ke janin, maka perlu dipikirkan
kadar obat yang akan berefek atau memberi risiko pada
kesejahteraan janin/pertumbuhan organ janin. Bila obat
mempunyai efek teratogenik pada janin, maka pemberian obat
perlu dipertimbangkan. Sangat jarang pemberian obat untuk
janin dengan melalui ibu. Yang paling sering adalah
penggunaan obat untuk ibu, tetapi tanpa terpikirkan masuk ke
dalam janin sehingga dapat merugikan kesejahteraan janin.
Lanjutan…
1. Periode Pertumbuhan Janin yang Dapat Beresiko Dalam Pemberian Zat

Periode pertumbuhan janin yang dapat berisiko dalam pemberian zat atau obat pada pertumbuhannya
adalah sebagai berikut :

 Periode embrio 2 minggu pertama sejak konsepsi. Pada periode ini embrio belum terpengaruh
oleh efek obat penyebab teratogenik.

 Periode organogenesis yaitu sejak 17 hari sampai lebih kurang 70 hari pascakonsepsi sangat
rentan terhadap efek obat, terutama obat-obat tertentu yang memberi efek negatif atau cacat
bawaan pada pertumbuhan embrio atau janin.

 Setelah 70 hari pascakonsepsi dimana organogenesis masih berlangsung walau belum sempurna,
obat yang berpengaruh jenis obatnya tidak terlalu banyak bahkan ada yang mengatakan tidak
berpengaruh.
Lanjutan….
Bila kadar obat cukup tinggi di dalam sirkulasi janin, obat akan masuk ke jaringan janin. Bilamana jaringan
organ masih belum sempurna, janin akan terpengaruh pertumbuhannya. Oleh karena itu, keseimbangan obat
dalam plasma ibu dan plasma janin sangat penting diketahui. Transfer obat yang melewati sawar plasenta
digolongkan sebagai berikut :
Tipe 1
Obat yang seimbang antara kadar di dalam plasma ibu dan di dalam plasma janin.
Tipe 2
Obat yang kadar pada plasma janin lebih tinggi daripada di dalam plasma ibu
Tipe 3
Obat yang kadar di dalam plasma janin lebih rendah daripada kadar yang di dalam
plasma ibu
2. Kategori Obat pada Ibu Hamil Berdasarkan Risiko Janin
Berdasarkan FK UGM Yogyakarta
Beberapa Kategori Obat yang Berisiko Pada Masa Kehamilan

Sumber : Pusat Informasi Obat Nasional, Badan POM, 2006*


Farmakoterapi pada Janin
Pada suatu saat bila diberikan pengobatan kepada janin dengan sengaja obat
diberikan melalui ibu. Misalnya antibiotika, antiaritma, vitamin K, Deksametason,
dan Bethametason dapat melalui sawar plasenta dan masuk dalam sirkulasi janin
dengan baik oleh karena detoksikasi atau metabolisme pada plasenta hanya sedikit.
Kedua obat Deksametason dan Betametason sering digunakan sebagai perangsang
pematangan paru janin. Ada beberapa obat yang masuk di dalam sirkulasi janin yang
seimbang dengan obat dalam sirkulasi ibu dan diekskresikan dengan baik oleh janin
dan masuk ke dalam amnion, misalnya flekainid.
Lanjutan….
Efek obat terhadap janin berbeda-beda bergantung dari periode kehamilan
atau unsur janin intrauterin. United State Food and Drug Administration (US FDA)
melakukan klasifikasi obat berdasarkan periode kehamilan. Tabel ini memberi
gambaran antara kemampuan menembus plasenta pada periode kehamilan.
Kategori Obat Berdasarkan Periode Kehamilan dan Kemampuan
Menembus Plasenta
Obat yang Kemungkinan Memberi Efek Pada Janin Jika Diberikan Pada
3 Bulan Pertama Kehamilan.
Obat yang kemungkinan Memberi Efek Pada Janin Jika Diberikan
Setelah 3 Bulan Pertama Kehamilan
Konseling dan Pemulihan Obat pada Ibu
Hamil
 Konseling dan Pemulihan Obat pada Ibu Hamil

Tujuan menghindari atau mengurangi abnormalitas janin.


 Hindari pemberian obat pada periode pertama janin.

 Hindari makanan minuman dan zat yang tidak diperlukan oleh janin dalam pertumbuhan
misalnya merokok, alkohol, obat sedatif, OAD. Atau jamu-jamu tradisional yang belum teruji.

 Hindari Pemberian oabt polifarmaks, terutama bila pemberian dalam waktu yang lama.

 Berikan obat yang telah jelas aman dan mempertimbangkan keperluan pengetahuan primernya.

 Pergunakan pedoman pengunaan obat resmi dan daftar obat-oba yang aman demikian pula
pemberian obat=onat terbatas atau yang tidak diperbolehkan pada ibu hamil.
Perawatan Akut Dalam Kehamilan
1. Sakit Kepala
Untuk sakit kepala tegang, asetaminofen atau ibuprofen dapat digunakan jika perlu.
Semua NSAID dikontraindikasikan pada trimester ketiga karena potensi penutupan duktus
arteriosus. Hindari aspirin pada trimester ketiga, karena dapat menyebabkan penutupan ductus
arteriosus, perdarahan ibu dan janin, dan penurunan kontraktilitas uterus. Opioid jarang digunakan.
Untuk sakit kepala danA migrain, acetaminophen dan ibuprofen dapat digunakan. Opioid
telah digunakan, tetapi dapat menyebabkan mual, dan penggunaan jangka panjang dapat
menyebabkan penarikan neonatal.
Lanjutan
Untuk migrain yang tidak responsif, sumatriptan dapat digunakan. Ergotamin dan
dihidroergotamin dikontraindikasikan. Untuk mual yang berhubungan dengan migrain,
promethazine, prochlorperazine, dan metoclopramide dapat digunakan.

Untuk mual yang berhubungan dengan migrain, promethazine, prochlorperazine, dan


metoclopramide dapat digunakan.

Untuk wanita hamil dengan sakit kepala parah (biasanya migrain) yang tidak responsif
terhadap pengobatan lain, propranolol, dengan dosis efektif terendah, dapat digunakan sebagai
pengobatan pencegahan. Alternatif lain termasuk amitriptyline atau nortriptyline, 10 hingga 25
mg setiap hari melalui mulut.
2. Infeksi Saluran Kemih

Pengobatan bakteriuria asimptomatik diperlukan untuk mengurangi risiko pielonefritis dan persalinan

prematur. Perawatan selama 7 hingga 14 hari adalah umum. Ulangi kultur urin disarankan setiap bulan selama

sisa kehamilan.

Sefaleksin dianggap aman dan efektif untuk bakteriuria asimptomatik. Resistensi E. coli terhadap

ampisilin dan amoksisilin bermasalah. Nitrofurantoin tidak aktif terhadap Proteus dan tidak boleh digunakan

setelah minggu 37 karena kekhawatiran akan anemia hemolitik pada bayi baru lahir. Obat-obatan yang

mengandung sulfur dapat meningkatkan risiko kernikterus pada bayi baru lahir dan harus dihindari selama

minggu-minggu terakhir kehamilan. Antagonis folat, seperti trimetoprim, relatif kontraindikasi selama trimester

pertama karena hubungannya dengan malformasi kardiovaskular. Secara regional, peningkatan tingkat resistensi

E. coli terhadap trimethoprim-sulfa membatasi penggunaannya. Fluoroquinolon dan tetrasiklin

dikontraindikasikan
3. Penyakit Menular Seksual

Penisilin adalah obat pilihan untuk sifilis, dan efektif untuk mencegah
penularan ke janin dan mengobati janin yang sudah terinfeksi.

utama pada herpes genital adalah penularan virus ke neonatus selama


kelahiran. Penggunaan asiklovir pada ibu selama trimester pertama tidak
dikaitkan dengan peningkatan risiko cacat lahir. Valacyclovir adalah alternatif.
Untuk famciclovir, data keamanan lebih terbatas.
Lanjutan...
 Farmakoterapi untuk infeksi menular seksual tertentu ditunjukkan
pada Tabel
4. Alergi Rhinitis dan Asma

Obat lini pertama untuk rinitis alergi selama kehamilan meliputi kortikosteroid intranasal,

kromolin nasal, dan antihistamin generasi pertama (misalnya, klorfeniramin dan hidroksizin).

Kortikosteroid intranasal adalah pengobatan yang paling efektif dan memiliki risiko rendah

untuk efek sistemik. Beclomethasone dan budesonide paling banyak digunakan. Loratadine dan

cetirizine tampaknya tidak meningkatkan risiko janin, tetapi mereka belum banyak diteliti.

Penggunaan dilator hidung eksternal, oxymetazoline topikal jangka pendek, atau kortikosteroid

inhalasi mungkin lebih disukai daripada dekongestan oral, terutama selama awal kehamilan.
5. Diabetes

Insulin adalah obat pilihan untuk pasien dengan diabetes tipe 1 atau 2
selama kehamilan. Ganti wanita yang menerima insulin glargine atau
detemir menjadi insulin NPH. Glyburide dan metformin mungkin
merupakan alternatif tetapi tidak direkomendasikan oleh American
Diabetic Association.
6. Epilepsi

Malformasi utama dengan terapi asam valproik terkait dengan dosis dan berkisar

antara 6,2% hingga 10,7%. Bila mungkin, hindari asam valproat selama kehamilan untuk

meminimalkan risiko cacat tabung saraf, celah wajah, dan teratogenisitas kognitif. Tingkat

malformasi mayor yang terkait dengan monoterapi AED lain adalah 2,9% hingga 3,6%.

Politerapi dikaitkan dengan tingkat yang lebih tinggi.

Karbamazepin dan lamotrigin mungkin merupakan AED paling aman untuk

digunakan pada kehamilan. Fenitoin, lamotrigin, dan karbamazepin dapat menyebabkan langit-

langit mulut sumbing, dan fenobarbital dapat menyebabkan malformasi jantung.

Terapi obat harus dioptimalkan sebelum konsepsi, dan monoterapi AED direkomendasikan bila

memungkinkan. Jika penarikan obat direncanakan, harus dilakukan setidaknya 6 bulan sebelum

konsepsi.
7. Infeksi Human Immunodeficiency Virus

Wanita hamil yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) harus menerima terapi antiretroviral

(ARV) untuk mengurangi risiko penularan HIV perinatal. Wanita yang sudah menggunakan terapi ARV harus

melanjutkan rejimen mereka jika memungkinkan.

Wanita yang memakai efavirenz harus melanjutkannya, karena defek tuba neural biasanya terjadi pada

minggu ke 5 sampai 6 kehamilan, dan kehamilan sering tidak dikenali pada minggu ke 4 sampai 6.

Untuk perempuan yang belum pernah menggunakan ARV, penggunaan rejimen kombinasi tiga obat

dianjurkan dan biasanya mengandung dua NRTI (NRTI) dengan lintasan transplasenta yang tinggi (lebih disukai:

zidovudine, lamivudine; alternatif: emtricitabine, tenofovir, abacavir) bersama dengan protease inhibitor (lebih

disukai: atazanavir plus ritonavir dosis rendah, lopinavir / ritonavir; alternatif: darunavir atau saquinavir, keduanya

dengan ritonavir dosis rendah). Nevirapine, nonnucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI), dapat digunakan

sebagai alternatif untuk protease inhibitor tetapi dikaitkan dengan ruam yang parah dan mengancam jiwa atau

hepatotoksisitas fatal.
8. Hipertensi
Pengobatan HTN nonsevere (sBP 140-159 mm Hg atau dBP 90-109 mm Hg) mengurangi
risiko HTN parah hingga 50% tetapi tidak secara substansial mempengaruhi hasil janin.
Di Amerika Serikat, pengobatan dimulai pada BPs 150-160/100 hingga 110 mm Hg,
dengan tujuan BP kurang dari 150/100 mm Hg. Di Kanada dan Inggris, target sasaran
lebih rendah. Tidak ada bukti yang ada untuk kemanjuran unggul dari satu agen
antihipertensi dibandingkan yang lain, tetapi obat yang biasa digunakan termasuk
labetalol, metildopa, dan penghambat saluran kalsium. β-Antagonis dapat digunakan
kecuali atenolol.
9. Depresi

Penggunaan SSRI dan SNRI pada bagian akhir kehamilan dikaitkan dengan HTN paru
persisten dari sindrom paparan antidepresan bayi baru lahir dan prenatal (yaitu, jantung,
pernapasan, neurologis, gastrointestinal [GI], dan komplikasi metabolik dari toksisitas
obat atau penarikan terapi obat) ). Antidepresan trisiklik tidak dianggap sebagai teratogen
utama tetapi telah dikaitkan dengan sindrom penarikan neonatal ketika digunakan pada
akhir kehamilan. Sebuah studi epidemiologi menunjukkan bahwa penggunaan paroxetine
pada trimester pertama dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko 1,5 hingga 2 kali lipat
untuk cacat jantung pada bayi
10. Gangguan Tiroid

Untuk hipotiroidisme, berikan levothyroxine untuk mendapatkan hormon


perangsang tiroid (TSH) 0,1 hingga 2,5, 0,2 hingga 3, dan 0,3 hingga 3 mIU
/ L pada trimester pertama, kedua, dan ketiga. Ini dapat dimulai pada 0,1
mg / hari. Wanita yang menerima terapi penggantian tiroid sebelum
kehamilan mungkin memerlukan peningkatan dosis selama kehamilan.
Monitor kadar TSH setiap 4 minggu selama paruh pertama kehamilan dan
setidaknya sekali antara 26 dan 32 minggu kehamilan untuk memungkinkan
titrasi dosis.