Anda di halaman 1dari 33

KEBIJAKAN TEKNIS OPERASIONAL

SURVEILANS DALAM SISTEM KEWASPADAAN DINI


(S K D R )
KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2019

KepalaSeksi Surveilans, Imunisasi dan KLB


Dr. Arif Sugiono
POKOK BAHASAN

Pendahuluan

Kebijakan Surveilans

Regulasi Surveilans KLB

Tantangan dan Tindak Lanjut


DASAR HUKUM
UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan No. 949/Menkes/SK/VIII/ 2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa

Peraturan Menteri Kesehatan No. 658/MENKES/PER/VIII/2009 tentang Jejaring Laboratorium Diagnosis Penyakit Infeksi
New-Emerging dan Re-emerging

Peraturan Menteri kesehatan No. 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat
Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan

Peraturan Menteri Kesehatan No. 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan No. 82 Tahun 2014 tentang Penanggulangan Penyakit Menular

Peraturan Menteri Kesehatan No.92 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Komunikasi Data Dalam Sistem Informasi
Kesehatan Terintegrasi

Keputusan Menteri Kesehatan No.1479/Menkes/SK/ X/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans
Epidemologi Penyakit Menular dan Tidak Menular Terpadu

Keputusan Menteri Kesehatan No. 483/ MENKES/ SK/IV/ 2007 tentang Pedoman Surveilans Acute Flaccid Paralysis
(AFP)
Pengertian

Surveilans adalah pengumpulan, analisis, dan analisis


data secara terus menerus dan sistematis yang
kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada
pihak-pihak yang bertanggungjawab dalam
pencegahan penyakit dan masalah kesehatan lainnya
(DCP2, 2008).
KEBIJAKAN DAN STRATEGI TEKNIS OPERASIONAL SURVEILENS

Memberdayakan Meningkatkan teknologi


sumber daya di komunikasi informasi yang
semua tingkatan terintegrasi dan interaktif

Meningkatkan
profesionalisme Meningkatkan dukungan
tenaga laboratorium
epidemiologi

Meningkatkan
Meningkatkan kualitas jejaring surveilans
respon KLB epidemiologi
Kebijakan
1. Peningkatan
kemampuan surveilans
Meningkatkan kualitas
penyakit
Meningkatkan
sistem surveilans sesuai 2. Peningkatan mutu data dan
dengan era kemampuan deteksi dini informasi
desentralisasi KLB dan respon KLB epidemiologi
Tujuan Surveilans

1. Memonitor kecenderungan (trends) penyakit;


2. Mendeteksi perubahan mendadak insiden penyakit untuk
mendeteksi dini outbreak;
3. Memantau kesehatan populasi
4. Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas
5. Memantau keberhasilan program intervensi kesehatan masyarakat
6. Untuk keperluan penelitian
7. Mengestimasi suatu kejadian dari suatu masalah kesehatan dan
dampaknya
Tujuan
Tersedianya informasi tentang situasi, kecenderungan penyakit,
Penyelenggar dan faktor risikonya serta masalah kesehatan masyarakat dan
aan Surveilans faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai bahan
Kesehatan pengambilan keputusan
(prasyarat Terselenggaranya kewaspadaan dini terhadap kemungkinan
program terjadinya KLB/Wabah dan dampaknya
kesehatan)
Terselenggaranya investigasi dan penanggulangan KLB/Wabah
Pasal 2 PMK 45
Dasar penyampaian informasi kesehatan kepada para pihak
2014
yang berkepentingan sesuai dengan pertimbangan kesehatan
Kegiatan Surveilans
1. Pengumpulan data
1) Sumber data : RR, Statistik vital, reguler survey, dll
2) Form dari surveilans
2. Pengolahan data
1) Pengumpulan, penggabungan, penyimpanan data dan
Software data.
3. Analisis dan Interpretasi data
1) Analisis deskriptif dan analitik dan interpretasinya
4. Diseminasi data
1) Rutin
2) Ke related stakeholders
Jenis Surveilans

1. Community Based Surveillance (deteksi kasus di


populasi)
2. Hospital based Surveillance (deteksi kasus di fasilitas
pelayanan kesehatan)
3. Surveilans Aktif vs pasif
4. Surveilans rutin
5. Surveilans setinel
INDIKATOR KINERJA SURVEILENS

1. Non Polio AFP Rate :


2 / 100.000 anak usia < 15 tahun
2. Verifikasi sinyal KLB (ALERT) > 80 %
3. Discarded Campak > 2 / 100.000 penduduk
4. Proporsi KLB PD3I ditanggulangi 100 % RESPON < 24 JAM
5. Respon PIE (Penyakit Infeksi Emerging) RESPON < 24 JAM
MEKANISME SURVEILANS EPID

1. Identifikasi data yg diperlukan


2. Perekaman, pelaporan, pengolahan & perbaikan
3. Analisis & interpretasi data
4. Studi epid
5. Menyusun rekomendasi & alternatif tindaklanjut
6. Penyebarluasan data & informasi
7. Umpan Balik
STRATEGI PENGUATAN PELAKSANAAN KEGIATAN SURVEILANS
1. Sistem Kewaspadaan Dini dan
Respon (SKDR) 1. Pelatihan Tim Gerak Cepat
2. Sistem Event Based Surveilans (EBS) 2. Diklat:
3. Pelaksanaan simulasi/table top Basic/Intermediate/Advance
KLB Polio Field Epidemiology Training
4. Public Health Emergency Operation 3. Jabfung Epidkes
Centre 4. Pelatihan surveilans (SKDR, PD3I,
5. Surveilans berbasis Laboratorium ICS, Lab)
(Public Health Laboratorium) Pengembangan Penguatan 5. Ketersediaan Sarana dan
6. Interkoneksi dengan SIZE (Sistem sistem/ Sumber Daya Prasarana
7. Informasi Zoonotik dan EID) Penerapan 6. Keberlanjutan Pembiayaan
8. Memperkuat surveilans aktif (RS, strategi (APBN, APBD, HLN, DAK)
9. Masyarakat)
10. Memperkuat surveilans berbasis
indikator Penguatan
legislasi/ Penguatan
kebijakan Jejaring
1. Nasional: One Health. PMK,
1. NSPK Universitas, IndoHUN, Komite
2. JUKLAK/JUKNIS/PEDOMAN Ahli dan Profesi, Swasta
3. PERMENKES 2. Regional: ASEAN +3 on FETN,
4. PERDA (Gubernur, Walikota/Bupati) EID, EOCN, SAFETYNET,
TEPHINET
3. Global: WHO, GOARN, CDC,
APHL
• Kemampuan Surveilans, dan
Kesiapsiagaan
• Kemampuan deteksi dini dan respon
• Koordinasi dan Jejaring Kerja

- Jumlah Kasus
Pengembangan sistem turun
KLB - Jumlah Kematian
Penguatan Sumber Daya RESPON turun
Sustainability CEPAT - Daerah
Penguatan Jejaring < 24 JAM terjangkit
tidak meluas
Penguatan Peraturan

Tanggung jawab:
 Pemerintah Pusat
 Pemerintah Provinsi
 Pemerintah Kab/Kota STATUS KES.MAS
 Masyarakat MENINGKAT SIGNIFIKAN
Bentuk Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan

memperoleh gambaran menangkap &


penyakit, faktor risiko & memberikan informasi
masalah kesehatan secara cepat ttg suatu
dan/atau masalah yg penyakit, faktor risiko, &
berdampak thd masalah kesehatan 
kesehatan  indikator sumber data selain data
program  sumber data yg terstruktur.
yg terstruktur
Sistem Surveilans Berbasis Indikator

1. Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR/EWARS)


2. Surveilans Terpadu Penyakit (STP)
3. Sentinel
4. Surveilans Berbasis Laboratorium (Surveilans PD3I)
Sistem Kewaspadaan Dini

Event-based surveillance Indicator-based surveillance

Jejaring surveilans
berbasis kasus Report Data laboratorium
Kab/kota Ditangkap Kumpulkan
Provinsi Filter Analisis
RS, PKM
Berbasis Kejadian Verifikasi Interpretasi SKDR
Media
Klinisi Signal
Masyarakat
Asesment Diseminasi
Lain2 (informal) Kab/Kota
Umpan Balik Provinsi
Kewaspadaan Kesmas
Lintas Sektor
Investigasi WHO-IHR

Upaya Pencegahan & Pengendalian


KLB Tanpa SKD
Primary 1st case Report Samples Lab Response
Case at HC taken result begins

masalah

Kasus Kasus
dapat di
kontrol

Waktu
SKD- Berjalan Baik

HC REP

Potensi
Kasus Kasus dicegah

Waktu 18
Eradikasi
Polio
thn 2020 STRATEGI
1. Imunisasi
Eliminasi
Campak &
Kontrol
Program Pencegahan
&
2. Surveilans PD3I
Rubela /CRS Pengendalian 3. Laboratorium
thn 2020 PD3I Difteri

Eliminasi
Tetanus
Neonatal
Pentahapan KLB

Tahap Pra KLB Tahap KLB Tahap Pasca KLB

Kewaspadaan Penanggulangan Pemulihan :


- Inventarisasi - Pengobatan - Pengamatan 2 x
kemungkinan - Penyelidikan masa inkubasi
jenis KLB - Laboratorium - Perbaikan sarana/
- Peta rawan KLB - Isolasi kondisi(recovery)
- Persiapan sumber - Out breaks respon - Promosi kesehatan
daya. 1. Desinfeksi.
- Koordinasi LP/LS 2. Vaksinasi
- Monitoring 3. Pemusnahan
- Penyuluhan
Indikator Surveilans
Persentase Kab/ Kota yang merespon sinyal kewaspadaan
dalam SKDR

DO

Jumlah sinyal SKDR Puskesmas yang direspon oleh Dinas Kesehatan


kabupaten/kota dibagi Jumlah Sinyal Kewaspadaan SKDR Puskesmas yang
terjadi di kabupaten/kota dalam satu tahun yang sama
ISU DAN TANTANGAN

1. Sistem pelaporan data belum berjalan baik (tepat waktu, lengkap)


2. Kinerja penemuan kasus menurun Tugas rangkap
3. Sistem pelaporan kasus belum melibatkan fasyankes swasta
4. Kegiatan surveilans aktif RS tidak dilaksanakan dengan optimal
5. Manajemen penyediaan logistik KLB belum baik (Lab dan tatalaksana)
6. Penganggaran tidak berkelanjutan
7. Pergantian petugas yg cepat, petugas belum dilatih
8. Daerah berisiko KLB bertambah
9. Penanggulangan KLB tidak tuntas dan efektif
Biaya belum sesuai dengan Program Surveilans /SKD /
Mobilitas penduduk untuk SKDR belum menjadi prioritas
kebutuhan penanggulangan penyebaran penyakit  dalam analisis
KLB oleh Pemda setempat Wisata, belajar dan bekerja, Respon Cepat < 24 jam belum
Komitmen Pemda belum Perilaku Serba Cepat/instan optimal terutama dalam lap.
optimal Paradigma Birokrat KLB W1
Meningkatnya beberapa Kinerja Jelek  kurang Tidak semua Kab/Kota
transparan terkesan di tutupi melaporkan W1 semua KLB
penyakit menular (re-emerging
, paradigma yang belum
diseases), penyakit tidak
tepat bahwa dari para
menular/degeneratif dan pimpinan bahwa adanya
timbulnya berbagai penyakit KLB menunjukan bahwa
baru (new emerging diseases) kinerja kurang baik,
sehingga cenderung
Rotasi/mutasi tenaga /petugas menutupi kejadian.
KLB relatif cepat (OTDA)
UPAYA YANG AKAN DILAKUKAN

1. Penguatan / revitalisasi KOMITMENT pemerintah daerah

2. Mendorong Kepala Dinas dan jajarannya ikut memperkuat dan memantau kemajuan
Erapo di wilayahnya

3. Memperkuat kembali penemuan kasus AFP secara aktif di RS serta memperkuat peran
IDAI dan organisasi profesi

4. Advokasi pada pemerintah daerah utk dukungan anggaran dan operasional surveilans
.

5. Memberikan umpan balik rutin secara berjenjang

6. Penguatan surveilans berbasis masyarakat (community based surveillance/CBS)

7. Melibatkan praktek swasta dalam penemuan kasus secara bertahap

8. Mendorong pembentukan tim ahli AFP / jejaring kerja aktif AFP tingkat prov/kab/kota
UPAYA YANG AKAN DILAKUKAN

9. Mengaktifkan kembali Surveilans Aktif RS (SARS) dan Hospital Record Review

10. Meningkatkan peran jejaring organisasi profesi dalam case finding

11. Mengadakan pertemuan validasi data di setiap tingkat

12. Melakukan pelatihan penanggulangan KLB dan analisa data kepada Petugas.
Menyusun modul pelatihan Surveilans PD3I.

13. Pelatihan Tim TGC

14. Melakukan pengkajian/evaluasi efektifitas penanggulangan KLB

15. Memperkuat dan mengembangkan surveilans lingkungan


UPAYA JENIS PELAYANAN JENIS KEGIATAN

Upaya Intervesi • Pemberantasan larva (larvasidasi)


Pencegahan dan Pengendalian • Pengendalian vektor (fogging, IRS)
Pengendalian Vektor Terpadu • Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Penyakit Tular • Sweeping untuk meningkatkan cakupan POPM
Vektor dan Filariasis/Cacingan/chistosomiasis
Zoonotik (antara • Pelacakan Hasil reaksi minum obat pada POPM
lain : Malaria, Filariasis/Cacingan/ Schistosomiasis
DBD, • Pemantauan Jentik Berkala
Chikungunya,
Japanese Pelaksanaan POPM • Penyelidikan Epidemiologi Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik
Enchephalitis,
Sosialisasi dan • Pemberian Obat Pencegahan Massal/POPM Filariasis/
Zika, Filariasis,
pembentukan Cacingan/Schistosomiasis
Schistosomiasis,
kader • Pembentukan dan pembekalan kader (POPM Filariasis,
kecacingan,
Cacingan, Schistosomiasis, Jumantik, Juru Malaria Desa, dll)
Rabies, Anthrax,
Flu Burung, SKD KLB • Verifikasi rumor dugaan KLB
Leptospirosis, Pes, • Penanggulangan KLB
penyakit zoonosa • Pengambilan dan pengiriman specimen
lainnya, dll.)
Pencegahan Distribusi Kelambu
Faktor Risiko
Penular Penyaki
UPAYA JENIS PELAYANAN JENIS KEGIATAN

Surveilans dan Surveilans • Penemuan Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Respon KLB penyakit dan (PD3I)
masalah • Spesimen serta pengembalian spesimen carrier penyakit
kesehatan dalam berpotensi KLB
rangka • Surveilans Aktif Rumah Sakit penyakit berpotensi KLB
kewaspadaan • Verifikasi rumor dan sinyal masalah kesehatan serta komunikasi
dini cepat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR)
• Pertemuan Penilaian Risiko terintegrasi
• Pertemuan kewaspadaan dini penyakit infeksi emerging dan
penyakit berpotensi KLB lainnya melalui surveilans berbasis
masyarakat

Penyelidikan • Pemantauan kontak


epidemiologi KLB • Penyelidikan Epidemiologi (PE) penyakit berpotensi KLB
• Pengambilan dan pengiriman spesimen kasus potensial KLB
• Analisa hasil PE dan diseminasi Informasi

Pengendalian • Surveilans penyakit pada situasi KLB, situasi khusus dan bencana
KLB penyakit, • Pengendalian faktor risiko penyakit pada situasi KLB, situasi
situasi khusus khusus dan dampak bencana
dan bencana • Komunikasi risiko pada pengendalian KLB, situasi khusus dan
dampak bencana