Anda di halaman 1dari 25

PENULISAN FEATURE

Indiwan Seto Wahyu Wibowo


 Kalau penulisan berita (harus taat asas pada
aturan 5W + 1H dalam teras berita atau lead),
penulisan feature tidak demikian. Penulis feature
dapat bertindak bebas, dapat menulis seperti
menulis cerita, yang terpenting feature yang ditulis
menarik perhatian dan memberikan sesuatu (nilai
lebih) pada pembaca.
 Penulis feature adalah penutur cerita yang mampu
menggunakan imajinasi dan kreativitasnya untuk
membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, untuk
mencengangkan, untuk menjawab keragu-raguan,
atau untuk membuat pembaca haru, tertawa,
bahkan menangis.

Apa perbedaannya?
 Opini merupakan jenis tulisan yang berisi
gagasan, ulasan, atau kritik terhadap
persoalan yang berkembang di masyarakat dan
ditulis dengan bahasa ilmiah populer.
 Contoh: Persoalan di masyarakat. Kualitas
Pendidikan Yang Buruk, Kisah Negara Korupsi,
Bencana yang terus mendera, mentalitas
pejabat, etika yang makin merosot, dll

Apa itu opini dan features


 Features merupakan karangan kreatif yang terutama
dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur
tentang suatu kejadian, situasi, atau aspek kehidupan
seseorang.Dalam istilah surat kabar features disebut juga
berita ringan (soft news). Atau kisah dibalik berita.
 Contoh: Berita di balik musibah bencana, Kisah penjual
daun jati, pemecah batu,atau peraih medali emas IOS,
atau kisah perjalanan menakhlukkan Mount Everest.
Humanistic Features. ADVENTURING FET. HISTORICAL
FET. SIDE BARN FET.

Apa itu features


 Artikel dan feature tidak berbentuk
piramida terbalik melainkan balok sama
besar yang memanjang dari atas ke bawah
. Bentuk demikian dimaksudkan untuk
menunjukkan bahwa dalam artikel maupun
feature, bagian yang paling atas, sama
pentingnya dengan yang di tengah maupun
yang di bawah.

STRUKTUR FEATURES
 Ada yang menyebut feature sebagai “berita kisah”,
ada yang menyebutnyai “tulisan dengan gaya”.

 Sifatnya menghibur sekaligus memberi informasi


dengan aspek menghibur lebih kuat. Jika sekadar
informatif kita bisa memperolehnya dari berita-
berita keras (hard/breaking news) atau tulisan
akademis.

 Sifat menghiburnya membuat tulisan feature yang


baik selalu bermula dari aspek human interest.

FEATURE
Penulis terkenal Putu Setia (1998) memaparkan
berbagai model lead, seperti :

 Lead Ringkasan
 Lead Bercerita
 Lead Deskriptif
 Lead Kutipan
 Lead Pertanyaan
 Lead Menuding
 Lead Penggoda
 Lead Nyentrik
 Lead Gabungan
Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang
ditulis adalah inti cerita. Banyak penulis feature
menulis lead gaya ini karena gampang.

Misal: Walaupun salah satu kakinya buntung, Pak Kardi


sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai
penjual koran dan majalah di depan kampus itu...
Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah
penjual koran bernama Pak Kardi yang cacat. Yang
berminat bisa meneruskan membaca, yang tak
berminat -- apalagi sebelumnya tak ada berita
tentang Pak Kardi itu -- bisa melewatkan begitu saja.

Lead Ringkasan
Lead ini menciptakan suasana dan membenamkan
pembaca seakan-akan ikut jadi tokohnya.
Misal: Adi dengan girangnya melambai-lambaikan
bendera sambil berdiri di atas atas kereta yang
melaju. Sesaat terdengar bunyi “prak...” Kepala Adi
pecah membentur terowongan hingga membuat
tubuhnya terlempar ke areal persawahan di sisi rel....
Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal
feature itu bercerita tentang kematian tragis remaja
supporter bola yang terjatuh dari kereta.

Lead Bercerita
Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang
suatu tokoh atau suatu peristiwa. Biasanya disenangi oleh
penulis yang hendak menulis profil seseorang.
Misal:Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya
buntung itu, sementara pemilik kendaraan merelakan
uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun
lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya
yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh,
tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin
dikasihani ..... Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini,
apalagi penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang
penuh warna.

Lead Deskriptif
 Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus
memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan
tidak klise. Misal:"Saya lebih baik tetap tinggal di
penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan.
Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah
bersalah," kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan
dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri
Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak-
istri...
 Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan
tapol sebagai tekad pemerintahan yang baru.

Lead Kutipan
Hati-hati dengan kutipan klise. Contoh: ”Pembangunan
itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasil-
hasilnya sudah kita lihat bersama," kata Menteri X di
depan masa yang melimpah ruah. Pembaca sulit
terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah
sebuah feature tentang keterlibatan masyarakat
dalam pembangunan yang agak unik.

Hati-hati kutipan klise


 Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal
dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar
saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu
kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru.
 Misal:Untuk apa mahasiswa dilatih
jurnalistik?Memang ada yang sinis dengan Pekan
Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya,
penerbitan pers di kampus ini tak bisa lagi mengikuti
kaidah-kaidah jurnalistik karena terlalu banyaknya
batasan-batasan dan larangan ...
 Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana
kehidupan pers kampus di sebuah perguruan tinggi.

Lead Pertanyaan
Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan
pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata "Anda" atau
"Saudara". Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi
bagian cerita, walau tak terlibat persoalan.
Misal:Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di
negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara
menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas
di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu
depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin
tak pernah sama sekali. Saudara tergolong punya
disiplin yang, maaf, sangat kurang.
Pembaca masih penasaran feature ini mau bicara apa.
Ternyata yang disoroti adalah kampanye disiplin
nasional.

Lead Menuding
Lead Penggoda
Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit
bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar
secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead
ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang
disuguhkan karena masih teka-teki.
Misal:
Kampanye menulis surat di masa pemerintahan
Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan
membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak
sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga
para pejabat tinggi di masa itu keranjingan menulis
surat.

Lead Penggoda
Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan
apa ini? Alinea berikutnya:Kini, ada surat yang
membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat kecil.
Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar
putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani
PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang
tetapi mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah
milyaran...

Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature yang


bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi
feature itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau
tarifnya, masih teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea
berikutnya.
Lead Nyentrik
Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau
sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita
bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya. Misal:
Reformasi total.
Mundur.
Sidang Istimewa.
Tegakkan hukum.
Hapus KKN.
Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di
halaman gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi
rakyat ....
.

Lead Nyentrik
 Lead Gabungan
 Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi.
Misal:
 "Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau
memang mau diganti, ya, diganti," kata Menteri
Sosial sambil berjalan menuju mobilnya serta
memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah
sambil menolak menjawab pertanyaan wartawan.
Ketika hendak menutup pintu mobilnya, Menteri
berkata pendek: "Bapak saya sehat kok, keluarga
kami semua sehat..."
 Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif.

Lead Gabungan
 Jika seorang reporter menulis news story,
maka leadnya akan seperti ini:

Puluhan mahasiswa Universitas Gunadarma dari beragam jurusan kemarin


mengikuti program kursus creative writing dengan pembicara Habiburrahman Al-
Shirazi di aula kampus.
Ini adalah lead dasar.

lead seperti ini memberikan fakta—


who, what, when, where, why and how
dari berita itu.
Alur berita selanjutnya berlanjut dengan pola seperti ini,
di mana hal yang terpenting selalu berada di atas

semakin ke bawah semakin


tak penting
 Jika berita tadi ditulis dalam model
feature, maka leadnya bisa jadi seperti
ini:
Mata Cici terpaku menatap layar monitor laptop di pangkuannya. Jari-jari lentiknya mulai menari
di atas tombol-tombol keyboard. Seiring itu, di layar monitor laptop sang mahasiswi tersebut,
kata-kata indah pun teruntai. ”Suka adalah kau akan menemaninya bila itu
menguntungkan. Sayang adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
Cinta adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana pun keadaanmu…”

Tujuan dari lead feature ini adalah untuk menarik perhatian dari pembaca, yaitu
membuat mereka semakin ingin tahu…

Apa yang sebenarnya dikerjakan Cici?

Mungkinkan ini kisah mahasiswi jatuh cinta?

I want to know more!


(1) Chronological order;
(2) Logical order;
(3) Narrative order.

Pastikan tulisan Anda tetap fokus pada alur


dan jangan lupa memberi sentuhan-
sentuhan tone, rasa, serta deskripsi detail
subyek…

Body
Pada feature tidak hanya kesan pertama yang
menggoda, namun kesan terakhir juga
membawa peran penting bagi pembaca. Berikut
adalah jenis-jenis ending dalam feature seperti
dipaparkan oleh Putu Setia (1998).

 Ending konklusi
 Ending Penyengat
 Ending Klimak
 Open Ending

Ending
 Ending konklusi
 Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang
lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau
lead.

 Ending Penyengat
 Membuat pembaca kaget karena sama sekali tak
diduga-duga. Seperti kisah detektif saja. Misalnya,
menulis feature tentang bandit yang berhasil
ditangkap setelah melawan. Kisah sudah panjang
dan seru, pujian untuk petugas sudah datang, dan
bandit itu pun sudah menghuni sel. Tapi, ending
feature adalah: Esok harinya, bandit itu telah kabur
kembali. Ending ini disimpan sejak tadi.
 Ending Klimak
Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi
sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Di
masa lalu, ada kegemaran menulis ending yang
singkat dengan satu kata saja: Semoga. Sekarang
hal seperti ini menjadi tertawaan. Ini sebuah bukti
bahwa setiap masa ada kekhasannya.

 Open Ending
Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa
taktik penulis agar pembaca merenung dan
mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula
masalah yang ditulis memang menggantung, masih
ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan.
Umurnya 70 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para
tetangganya,orang-orang papa yang tinggal di
gubuk kardus perkampungan liar-kumuh
Kota Bandung, mengenalnya dengan nama
sederhana: “Emak”. Tidak ada yang tahu nama
aslinya. Awal pekan ini, Emak ditemukan
meninggal, tiga hari setelah para tetangganya
melihatnya hidup terakhir kali. “Sejak Jumat pekan
lalu, Emak tidak pernah kelihatan,” kata seorang
tetangganya. “Saat gubuknya dilongok, Emak
sudah terbujur kaku di dalam.”

Bandingkan: Nasib nenek itu sangat malang...

Show not Tell...

Anda mungkin juga menyukai