Anda di halaman 1dari 24

HUKUM KESEHATAN

Di sajikan untuk mahasiswa S1 STIKES Bethesda


PROGRAM B 2017

Oleh: Andreas Budi Kristanto


MALPRAKTEK
DEFINISI
 Malpraktek merupakan istilah yang sangat umum sifatnya
dan tidak selalu berkonotasi yuridis. Secara harfiah terdiri
dari dua suku kata “mal” dalam bahasa yunani mempunyai
arti “buruk” sedangkan “praktek” mempunyai arti
pelaksanaan atau menjalankan tindakan (profesi), sehingga
malpraktek berarti pelaksanaan atau tindakan yang buruk
kualitasnya (salah).
 Meskipun arti harfiahnya demikian tetapi kebanyakan istilah
tersebut dipergunakan untuk menyatakan adanya tindakan
yang salah dalam rangka pelaksanaan suatu profesi.
MALPRAKTEK
 Sedangkan definisi malpraktek profesi
kesehatan adalah kelalaian dari seorang
dokter atau perawat utk mempergunakan
tingkat kepandaian/ketrampilan dan ilmu
pengetahuan dalam mengobati dan
merawat pasien, yang lazim dipergunakan
terhadap pasien atau orang yang terluka
menurut ukuran dilingkungan yang sama.
MALPRAKTEK
Malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak
sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur
operasional. Untuk malpraktek dokter dapat dikenai hukum
kriminal dan hukum sipil. Malpraktek kedokteran kini terdiri
dari 4 hal : (1) Tanggung jawab kriminal, (2) Malpraktik
secara etik, (3) Tanggung jawab sipil, dan (4) Tanggung jawab
publik

Malpraktek secara Umum, seperti disebutkan di atas, teori


tentang kelalaian melibatkan lima elemen : (1) tugas yang
mestinya dikerjakan, (2) tugas yang dilalaikan, (3) kerugian
yang ditimbulkan, (4) Penyebabnya, dan (5) Antisipasi yang
dilakukan.
Malpraktek tidak hanya bidang
medik
Perawat

Pengacara Perbankan

Akuntan
Wartawan
publik
Bukti terjadinya malpraktek
 Dari definisi tersebut malpraktek harus
dibuktikan bahwa apakah benar telah
terjadi kelalaian tenaga kesehatan
dalam menerapkan ilmu pengetahuan
dan keterampilan yang ukurannya
adalah lazim dipergunakan diwilayah
tersebut.
Perspektif hukum
1. Criminal malpractice
2. Civil malpractice
3. Administrative malpractice
1. Criminal malpractice
Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam
kategori criminal malpractice manakala perbuatan
tersebut memenuhi rumusan delik pidana, yaitu :
a. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative
act) merupakan perbuatan tercela.

b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens


rea) yang berupa kesengajaan (intensional),
kecerobohan (recklessness), atau kealpaan
(negligence).
Criminal malpractice yang bersifat
sengaja (intensional) :
1. Pasal 322 KUHP
2. Pasal 346 sampai dengan pasal 349 KUHP, tentang
Abortus Provokatus
3. Pasal 347 KUHP
4. Pasal 348 KUHP,
5. Pasal 349 KUHP,
6. Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan
2. Civil malpractice
Nakes akan disebut melakukan civil malpractice apabila tidak
melaksanakan kewajiban atau tidak memberikan prestasinya
sebagaimana yang telah disepakati (ingkar janji). Tindakan
Nakes yang dapat dikategorikan civil malpractice antara lain:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib
dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib
dilakukan tetapi terlambat melakukannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib
dilakukan tetapi tidak sempurna.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak
seharusnya dilakukan.
3. Administrative malpractice
Nakes dikatakan telah melakukan administrative
malpractice manakala Nakes tersebut telah melanggar
hukum administrasi. Perlu diketahui bahwa dalam
melakukan police power, pemerintah mempunyai
kewenangan menerbitkan berbagai ketentuan di
bidang kesehatan, misalnya tentang persyaratan bagi
bidan /perawat/nakes yang lain untuk menjalankan
profesinya (Surat Ijin Kerja)
Sengketa Medik
 Ketidak puasan pasien / keluarganya terhadap pelayanan

dokter

 Penyebab umumnya

1. Miskomunikasi

2. Kurang Informed Consent

 Penyelesaian

1. Tidak mesti diselesaikan lewat jalur hukum

2. Penyelesaiannya bisa dengan perdamaian & penjelasan


yang memuaskan
Sanksi Malpraktek
1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
 Pasal 359,
 Pasal 360,
 Pasal 361

2. UU Praktek Kedokteran
 Pasal 75
 Pasal 76
 Pasal 79
KUHP
 Pasal 359  Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang

dihukum penjara selama-lamanya 5th atau kurungan selama-lamanya 1 th.

 Pasal 360 ayat 1  Barangsiapa karena salahnya menyebabkan orang luka

berat dihukum penjara selama-lamanya 5 th atau hukuman kurungan


selama-lamanya 1 th.

 Pasal 360 ayat 2 Barangsiapa karena salahnya menyebabkan orang

menjadi sakit atau tidak dapat menjalankan jabatannya atau pekerjaannya


sementara, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bl atau
hukuman kurungan selama-lamanya 6 bl atau hukuman denda setinggi
tingginya Rp 4500.
UU Praktek Kedokteran
 Pasal 75 ayat 1  Setiap dr, drg yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa
memiliki STR dapat dipidana penjara paling lama 3 (tiga) th atau denda paling banyak Seratus

juta rupiah

 Pasal 76  Setiap dr, drg yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki
SIP dapat dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Seratus juta

rupiah.

 Pasal 79  Setiap dr, drg yang dengan sengaja tidak memasang papan nama, membuat rekam
medis dan tidak memenuhi kewajiban dapat dipidana dengan penjara paling lama 1 th atau denda

paling banyak Lima puluh juta rupiah.


Upaya pencegahan malpraktek :
1. Upaya pencegahan malpraktek dalam pelayanan kesehatan
Dengan adanya kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenaga
medis karena adanya malpraktek diharapkan tenaga dalam menjalankan
tugasnya selalu bertindak hati-hati, yakni:
 Tidak menjanjikan atau memberi garansi akan keberhasilan upayanya,
karena perjanjian berbentuk daya upaya (inspaning verbintenis) bukan
perjanjian akan berhasil (resultaat verbintenis).
 Sebelum melakukan intervensi agar selalu dilakukan informed consent.
 Mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam rekam medis.
 Apabila terjadi keragu-raguan, konsultasikan kepada senior atau dokter.
 Memperlakukan pasien secara manusiawi dengan memperhatikan segala
kebutuhannya.
 Menjalin komunikasi yang baik dengan pasien, keluarga dan masyarakat
sekitarnya.
Upaya menghadapi tuntutan
hukum
 Apabila upaya kesehatan yang dilakukan
kepada pasien tidak memuaskan sehingga
perawat menghadapi tuntutan hukum,
maka tenaga kesehatan seharusnyalah
bersifat pasif dan pasien atau
keluarganyalah yang aktif membuktikan
kelalaian tenaga kesehatan.
Apabila tuduhan kepada tenaga kesehatan
merupakan criminal malpractice?
a. Informal defence, dengan mengajukan bukti untuk
menangkis/ menyangkal bahwa tuduhan yang
diajukan tidak berdasar atau tidak menunjuk pada
doktrin-doktrin yang ada, misalnya perawat
mengajukan bukti bahwa yang terjadi bukan
disengaja, akan tetapi merupakan risiko medik (risk
of treatment), atau mengajukan alasan bahwa
dirinya tidak mempunyai sikap batin (men
rea)sebagaimana disyaratkan dalam perumusan
delik yang dituduhkan.
Apabila tuduhan kepada tenaga kesehatan
merupakan criminal malpractice?
b. Formal/legal defence, yakni melakukan pembelaan
dengan mengajukan atau menunjuk pada doktrin-
doktrin hukum, yakni dengan menyangkal tuntutan
dengan cara menolak unsur-unsur pertanggung jawaban
atau melakukan pembelaan untuk membebaskan diri
dari pertanggung jawaban, dengan mengajukan bukti
bahwa yang dilakukan adalah pengaruh daya paksa.
Pada perkara perdata dalam tuduhan
civil malpractice
 Bila perawat digugat membayar ganti rugi sejumlah
uang, yang dilakukan adalah mementahkan dalil-dalil
penggugat, karena dalam peradilan perdata, pihak
yang mendalilkan harus membuktikan di pengadilan,
dengan perkataan lain pasien atau pengacaranya harus
membuktikan dalil sebagai dasar gugatan bahwa
tergugat (perawat) bertanggung jawab atas
derita (damage) yang dialami penggugat.
Pada perkara perdata dalam tuduhan
civil malpractice
 Untuk membuktikan adanya civil malpractice tidaklah
mudah, utamanya tidak diketemukannya fakta yang
dapat berbicara sendiri (res ipsa loquitur), apalagi untuk
membuktikan adanya tindakan menterlantarkan
kewajiban (dereliction of duty) dan adanya hubungan
langsung antara menterlantarkan kewajiban dengan
adanya rusaknya kesehatan (damage), sedangkan yang
harus membuktikan adalah orang-orang awam dibidang
kesehatan dan hal inilah yang menguntungkan tenaga
perawatan.
CIVIL MALPRACTICE??
 Civil Malpractice adalah tipe malpraktek dimana
dokter karena pengobatannya dapat mengakibatkan
pasien meninggal atau luka tetapi dalam waktu yang
sama tidak melanggar hukum pidana
 Pada civil malpractice, tanggung gugat dapat bersifat
individual atau korporasi. Dengan prinsip ini maka
rumah sakit dapat bertanggung gugat atas kesalahan
yang dilakukan oleh dokter-dokternya asalkan dapat
dibuktikan bahwa tindakan dokter itu dalam rangka
melaksanakan kewajiban rumah sakit.
Pencegahan Malpraktek

Nakes harus bekerja sesuai peraturan yang ada

Dokter harus pintar berkomunikasi

Bersikap empati

Harus selalu mengembangkan diri dlm iptek