Anda di halaman 1dari 45

OPERASI PENERIMAAN BBM

CEPU, 25 MARET 2019


OPERASI PENERIMAAN BBM

Kegiatan Operasi penerimaan BBM meliputi :


•Operasi penerimaan BBM melalui laut/sungai
•Operasi penerimaan BBM Import
•Operasi penerimaan BBM melalui darat

Page 2
1. Operasi penerimaan BBM melalui laut/sungai

Nominasi
(1). Jika nominasi atau rencana kedatangan tanker telah diterima, maka Kepala
Lokasi wajib meneliti persediaan dan mengatur penerimaan sampai dengan
tanggal kedatangan tanker tersebut dan memastikan bahwa terdapat ruang
kosong (ullage) yang cukup di tangki-tangki lokasi untuk menerima muatan yang
dinominasikan.

(2). Penelitian dan pengaturan serupa juga dilakukan, jika menerima berita langsung
(master cable) dari tanker perihal kedatangannya, yang mungkin tidak termasuk
dalam nominasi yang diterima sebelumnya.
Dalam hal demikian, Kepala Lokasi harus segera menghubungi kepala S&D
atau yang mewakili untuk mendapatkan kepastian apakah tanker tersebut
benar-benar untuknya.

Page 3
Persiapan Sandar
Semua penyelesaian formalitas penyandaran tanker seperti mengurus ijin
berlabuh, mooring, pandu dan sebagainya sepenuhnya dilakukan oleh
keagenan.

Persiapan Pada Jalur Pipa dan Tangki Penerimaan

(1). Untuk tiap kedatangan tanker, harus sudah ditetapkan jalur pipa dan
tangki penerima di darat dalam kondisi siap untuk menerima BBM,
dimana seluruh jalur perpipaan sudah diyakini terisi minyak.

(2). Demi keselamatan kerja, maka daerah di sekitar dermaga minyak dan
jalur pipa harus bebas dari pekerjaan-pekerjaan lain yang bisa
menimbulkan kebakaran ataupun hambatan aktivitas pembongkaran.

Page 4
Persiapan Pembongkaran Muatan
(1). Sejak tanker tiba sampai selesainya pelaksanaan pembongkaran,
hendaknya selalu dijalin kerja sama (team work) yang sebaik-baiknya
antara petugas darat dan petugas tanker, karena berhasilnya
pelaksanaan pekerjaan dengan baik (tanpa hambatan/delay) banyak
tergantung dari kerja sama tersebut.
(2). Petugas darat harus terlatih dalam pekerjaan ini dan siap menerima tali
tanker serta dapat membantu Nahkoda tanker untuk mengatur posisi
manifold darat dan manifold tanker sedemikian rupa sehingga
mengurangi banyaknya penggunaan slang.
(3) Kelonggaran slang harus tetap ada, guna menjaga terjadinya
pergerakan tanker yang disebabkan pasang surutnya air dan naiknya
tanker, bila telah selesai pembongkaran.
(4). Dalam pelaksanaan penyandaran tanker tersebut, petugas darat dapat
mengajukan usul atau saran kepada perwira jaga tanker didalam
pengaturan posisi tanker.

Page 5
Persiapan Pembongkaran Muatan
(5). Tidak diperbolehkan naik tanker selama bendera kuning berkibar,hal
ini disebabkan karena kapal baru tiba dari pelabuhan yang sedang
berjangkit penyakit menular.

(6). Kabel listrik statis (grounding/earthing) harus tersambung baik antara


tanker dan darat.

(7). Tidak boleh membawa korek api dan tidak boleh merokok kecuali
ditempat yang telah ditentukan.

(8). Kepala Lokasi atau petugas yang ditunjuk diminta oleh Nahkoda untuk
menanda tangani surat pernyataan kesediaan menerima muatan
(Notice of Readiness).

Page 6
Persiapan Pembongkaran Muatan
(9). Nahkoda menyerahkan dokumen muatan lengkap terdiri atas :
a. Bill of Lading (B/L)
b. Certificate of Quantity Loaded
c. Compartement Logsheet After Loading
d. Certificate of Quality
e. Notice of Readiness (NOR)
f. Letter of Protest After Loading
g. Certificate of Origin (ex import)

(10). Kemudian diadakan pembicaraan dengan Nahkoda/Chief Officer


mengenai rencana pembongkaran, letak muatan dan lain-lain.

Page 7
Persiapan Pembongkaran Muatan

(11). Setelah semua persyaratan selesai, maka Kepala Lokasi atau yang
mewakilinya harus naik ke tanker untuk menyerahkan surat yang
memuat syarat-syarat pembongkaran kepada Nahkoda dan Nahkoda
wajib membubuhkan tanda tangannya.

(12). Sebelum pembongkaran dilakukan, diperlukan surat ijin bongkar yang


pengurusannya dilakukan oleh keagenan.

Page 8
Pengukuran Sebelum Pembongkaran Muatan

(1). Kepala Lokasi atau petugas yang ditunjuk harus melakukan pengukuran
tinggi air, tinggi minyak, suhu, density dan appearance dengan cermat
pada semua tangki tanker (compartment) sekalipun muatan tanker
tersebut tidak seluruhnya dibongkar di lokasi yang di bawah tanggung
jawabnya.

(2). Pengukuran yang sama dilakukan pula terhadap tangki-tangki penerima


di darat.

(3). Semua aktivitas pengukuran tersebut dapat dilaksanakan bersama


dengan pihak tanker dan petugas darat. Kemudian hasilnya harus
dicatat dan ditandatangani bersama, dalam “Compartment Logsheet
Before Discharge”.

Page 9
Pelaksanaan Pembongkaran Muatan

(1). Sebelum menyambung slang (hose connection) ke tanker terlebih


dahulu harus dilakukan tindakan pengamanan terhadap kemungkinan
timbulnya bahaya kebakaran yang disebabkan listrik statis dengan cara
memasang “bonding cable” dari pipa darat ke tanker.

(2). Petugas darat menghubungi Nahkoda/Chief Officer untuk menunjukkan


hubungan slang ditanker yang digunakan untuk pembongkaran tiap
jenis muatan.

(3). Sebelum pemompaan dimulai, hubunqan slang darat dengan tanker


harus diperiksa bersama oleh petugas lokasi dengan petugas tanker
untuk meyakinkan bahwa jenis muatan yang akan dibongkar telah
dihubungkan dengan jalur pipa yang sesuai.

Page 10
Pelaksanaan Pembongkaran Muatan

(4). Slang yang dipakai harus cukup panjang agar ada toleransi yang
memungkinkan tanker dapat bergerak dengan mudah pada waktu
pasang surut atau karena semakin berkurangnya muatan.

(5) . Semua hubungan slang antara darat, tanker dan jalur pipa penyaluran
perlu diperiksa sebelum dan selama pemompaan, untuk melihat
kemungkinan adanya kebocoran.

(6) . Selama jam pertama pemompaan, juru ukur tangki darat harus tetap
berada diatas tangki dan melakukan pengukuran (dipping) tiap 5 menit.

(7). Pengukuran dilakukan tiap jam berikutnya selama pembongkaran


berlangsung.

Page 11
Pelaksanaan Pembongkaran Muatan

(8). Hasil pengukuran dicatat dalam buku “Laporan Pemompaan” yang ada
di setiap lokasi (Discharge Record).

(9). Kepala Lokasi atau petugas yang ditunjuk harus mengusahakan agar
Compartment Log Sheet Before Dischange diisi selengkap-lengkapnya
oleh pihak tanker (Chief Officer) dengan angka yang sebenarnya dan
telah disetujui bersama.

(10). Selama pemompaan petugas lokasi harus berada di dermaga untuk


mengawasi slang, kerangan alat-alat pengukur tekanan (manometer)
dan peralatan lainnya agar setiap ada kelainan dapat segera
ditanggulangi.

Page 12
Pelaksanaan Pembongkaran Muatan

(11). Petugas darat harus menjaga agar aktivitas pemompaan selalu


mengikuti ketetapan seperti yang telah dicantumkan dalam “Syarat-
syarat Pembongkaran Muatan”.

(12). Bila terjadi gangguan dalam pemompaan sehingga mengakibatkan


kelambatan, kontaminasi dan lain-lainnya maka pihak tanker harus
membuat pernyataan tertulis (statement of fact) tentang sebab-sebab
gangguan tersebut, disamping dicatat dalam Log Book.
Pada akhir dari kegiatan pembongkaran disusunlah Tanker
Performance Sheet Summary.

(13). Semua ketentuan dalam pelaksanaan pemompaan ini juga berlaku


untuk dermaga minyak yang menggunakan “Marine Discharge Arm”.

Page 13
Pengambilan sampel muatan (sampling)
(1). Setiap muatan yang sejenis harus diambil satu “composite sample”
dari setiap kompartemen tanker untuk diadakan pemeriksaan mutu.
Kemudian beberapa sample yang telah dicampur sebagai “Multiple
tank Composite Sample” disimpan sampai parcel muatan yang
diterima habis disalurkan.
Jika terdapat suatu perbedaan spesifikasi antara muatan dalam
kompartemen tanker dengan apa yang tercantum pada certificate of
quality muatan tanker, maka untuk pemeriksaan lebih lanjut dari
muatan yang diragukan tersebut harus diambil sampel pada “upper”,
“middle” dan “lower” dari masing-masing kompartemen tanker
kemudian di test ulang dan sebagian harus disimpan terpisah sampai
ada ketentuan lebih lanjut dalam arti, apakah muatan tersebut
memenuhi spesifikasi atau tidak.
Dalam hal demikian, Kantor Pusat Direktorat Pemasaran dan Niaga
akan memberikan instruksi tentang muatan tersebut.

Page 14
Pengambilan sampel muatan (sampling)
(2). Pengambilan sampel dari avgas dan avtur, baik dari tanker maupun
dari tangki darat telah diuraikan secara jelas dalam “Buku Panduan
Pengelolaan BBM dan Non BBM Penerbangan”. Instruksi tersebut
harus ditaati setiap waktu.

(3). Sebelum dan sesudah pemompaan (pembongkaran) muatan tanker


“composite sample” diambil dari tiap jenis BBM yang ada dalam tangki
darat dan sebagian disimpan terpisah untuk masa sampai parsel
muatan yang diterima habis disalurkan.

(4). Setelah pemompaan dimulai segera diambil contoh minyak dari


“sample cock” di jetty dalam gelas ukur 1000 cc untuk memperoleh
kepastian bahwa muatan yang dibongkar benar-benar sesuai dengan
persiapan yang dilakukan didarat dalam hal penggunaan jalur pipa,
kompartemen tanker yang telah diperiksa sebelumnya.
Page 15
Pengambilan sampel muatan (sampling)

(5). Bila terjadi sesuatu pengalihan pemompaan dari kompartemen tanker, penggantian
tangki darat (penerima) dan penggantian jalur pipa, maka pengambilan sample jetty
tersebut harus di ulangi.

(6). a. SINGLE GRADE DISCHARGE


Pengambilan sample dan pemeriksaan visual selama 60 menit pemompaan pertama :
- Pengambilan sampel sebanyak 1000 cc dan pemeriksaan sample pertama 15 menit
setelah start pemompaan harus dilakukan di “sample cock” manifold dermaga untuk
meyakinkan bahwa muatan yang dibongkar sudah sampai di manifold.
- Pengambilan dan pemeriksaan sampel kedua diambil 15 menit sesudah
pengambilan dan pemeriksaan sampel pertama.
- Pengambilan dan pemeriksaan sampel ketiga diambil 30 menit sesudah
pengambilan dan pemeriksaan sampel kedua.
- Selanjutnya secara periodik sampel diambil setiap jam sampai dengan pelaksanaan
pembongkaran selesai. Aktifitas pengambilan dan pemeriksaan sample yang sama
dilakukan kembali apabila terjadi perpindahan pemompaan produk di kompartemen
kapal.

Page 16
Pengambilan sampel muatan (sampling)
b. MULTI GRADE DISCHARGE
Pengambilan sample dan pemeriksaan visual selama 60 menit pemompaan pertama :
- Pengambilan sampel sebanyak 1000 cc dan pemeriksaan sample pertama 5 menit
setelah start pemompaan harus dilakukan di “sample cock” manifold dermaga untuk
meyakinkan bahwa muatan yang dibongkar sudah sampai di manifold.
- Pengambilan dan pemeriksaan sampel kedua diambil 5 menit sesudah pengambilan
dan pemeriksaan sampel pertama.
- Pengambilan dan pemeriksaan sampel ketiga diambil 5 menit sesudah pengambilan
dan pemeriksaan sampel kedua.
- Pengambilan dan pemeriksaan sampel keempat diambil 15 menit sesudah
pengambilan dan pemeriksaan sampel ketiga.
- Pengambilan dan pemeriksaan sampel kelima diambil 30 menit sesudah
pengambilan dan pemeriksaan sampel keempat.
- Selanjutnya secara periodik sampel diambil setiap jam sampai dengan pelaksanaan
pembongkaran selesai. Aktifitas pengambilan dan pemeriksaan sample yang sama
dilakukan kembali apabila terjadi perpindahan pemompaan produk di kompartemen
kapal.

Page 17
Pengambilan sampel muatan (sampling)
Seluruh data tersebut dituangkan kedalam formulir discharged Record
Dermaga sebelum BBM dimasukkan ke dalam tangki.

(7). Kepala Lokasi segera meneliti laporan tersebut (pada butir 6) untuk
mengambil tindakan pemompaan perlu dihentikan atau tidak. Jika
ternyata spesifikasi BBM meragukan, maka Ka. Lokasi dapat segera
menghentikan pemompaan. Melakukan pemeriksaan atas contoh yang
diragukan dan melaporkan hasilnya kepada Kantor UPms untuk
meminta petunjuk/instruksi selanjutnya.

Page 18
Selesai Pembongkaran dan Angka Penerimaan
1. Persediaan dalam tangki darat harus dihitung pada suhu observed
(observed temperature) dan dikonversikan pada suhu standard (liter
150 C atau bbl, 600 F) dengan menggunakan Tabel 54 ASTM (Volume
Reduction Factor).

2. Pengukuran density, suhu dan tinggi minyak dalam tangki dilakukan


sesudah pembongkaran.

3. Apabila isi tangki darat di mana muatan yang diterima telah tenang,
maka contoh minyak (upper, middle and lower sample) dapat diambil.

4. Angka penerimaan sementara (Shore Figures) tersebut segera


disampaikan kepada pihak kapal untuk dapat dibandingkan dengan
hasil perhitungan pihak tanker dalam Compartment Log Sheet Before
Discharge.
Page 19
Selesai Pembongkaran dan Angka Penerimaan

5. Pada copy B/L harus dicantumkan catatan sebagai berikut :


• Angka sementara yang telah disetujui bersama-sama antara pihak kapal
dan pihak darat dicatat dan disebut Endorsement
• Setelah proses setling (2 jam) dilakukan pengukuran untuk mendapatkan
jumlah BBM yang diterima (Actual Receipt)

6. Angka-angka penerimaan (Actual Receipt) “Shore Figures” dicatat dalam


“Certificate of Quantity Discharge”.

7. Setelah selesai pembilasan (flushing) pipa, air bekas pembilasan yang


masuk kedalam tangki harus dibuang (drain).

Page 20
Selesai Pembongkaran dan Angka Penerimaan
8. Proses Penerbitan Dry Certificate :
• Jika pembongkaran telah selesai, maka petugas darat melakukan
pemeriksaan seluruh kompartemen.
• Sebelum menandatangani “Dry Certificate” petugas
Instalasi/Terminal Transit/Depot/DPPU harus menyaksikan sendiri
untuk meyakinkan bahwa seluruh kompartemen dinyatakan telah
kering.
• Bilamana dari hasil pemeriksaan ternyata masih terdapat sisa
minyak yang tidak dapat dipompa maka petugas lokasi harus minta
pernyataan tertulis (Berita Acara) dari Nahkoda menyangkut jumlah
dan sebab-sebabnya.

Page 21
Split Cargo, Divert Cargo, Return Cargo, Back
Loading
Split Cargo, New B/L (B/L lanjutan).

“Split Cargo” atau pemecahan muatan suatu tanker dibagi menjadi 2


penerima atau lebih, dapat terjadi karena :
(1). Telah direncanakan dari loading port :
Pada prinsipnya split cargo dapat diatur sebelumnya dari loading port,
dan dibuatkan B/L tersendiri bagi masing-masing penerima.
Pada saat loading, diatur sedemikian rupa sehingga kompartemen
tertentu diperuntukkan bagi masing-masing penerima. Jika pengaturan
itu tidak mungkin dilakukan, atau jika muatan yang displit hanya terdiri
satu jenis BBM saja, maka kemungkinan isi dari salah satu atau
beberapa kompartemen tanker akan dibongkar sebagian-sebagian di
beberapa tempat.

Page 22
Split Cargo, New B/L (B/L lanjutan)

(2). Bila karena suatu hal, muatan yang semula dimaksudkan hanya untuk
satu lokasi penerima saja, namun kenyataannya harus dibagikan
kepada beberapa lokasi lainnya, sehingga muatan tanker yang
menurut B/L semula diperuntukkan bagi satu lokasi, menjadi harus
dibongkar dibeberapa tempat, maka sipenerima pertama dari
loadingport menjadi sipengirim bagi sipenerima kedua, sipenerima
kedua menjadi sipengirim ketiga dan seterusnya.
Agar beberapa port penerima dapat mengetahui loading port asal dan
setiap Unit Pemasaran dapat mengkonsolidasikan selisih lebih/kurang
penerimaan dari tanker per voyage maka tindakan yang harus
dilakukan untuk setiap port yaitu :

Page 23
Split Cargo, New B/L (B/L lanjutan)

a. Port Pertama :
- Pihak darat bersama petugas tanker ikut melaksanakan
pengukuran Ship’sFigures After Discharged.
- Pihak darat membuat New B/L ke port kedua berdasarkan angka
Ship’s Figures After Discharged (ROB) di Port Pertama, New B/L
ditanda tangani oleh Nakhoda Kapal.
- Port pertama mengirimkan dokumen kepada port kedua ; Copy B/L
asli ex loading port, New B/L, Ship’s figures (A/L, B/D) dan CQD.
- Bila terjadi selisih melebihi batas toleransi antara angka ship’s
figures before discharged dengan angka actual receipt (CQD)
ditambah angka ship’s figures after discharged, pihak darat
mengajukan letter of protest kepada pihak kapal.

Page 24
Split Cargo, New B/L (B/L lanjutan)

b. Port Kedua :
- Pihak darat bersama petugas tanker ikut melaksanakan
pengukuran Ship’s Figures After Discharged.
- Pihak darat membuat New B/L ke port ketiga berdasarkan angka
Ship’s Figures After Discharged (ROB) di Port Kedua, New B/L
ditanda tangani oleh Nakhoda Kapal.
- Port kedua mengirimkan dokumen kepada port ketiga ; Copy B/L
asli ex loading port, New B/L ex Port Pertama, New B/L Port
Kedua, Ship’s figures (A/L, B/D) dan CQD.(Port Pertama dan
Port Kedua).
- Bila terjadi selisih melebihi batas toleransi antara angka ship’s
figures before discharged dengan angka actual receipt (CQD)
ditambah angka ship’s figures after discharged, pihak darat
mengajukan letter of protest kepada pihak kapal.

Page 25
Split Cargo, New B/L (B/L lanjutan)

c. Port Ketiga:
- Pihak darat bersama petugas tanker ikut melaksanakan pengukuran
Ship’sFigures After Discharged.
- Pihak darat membuat New B/L ke port keempat berdasarkan angka
Ship’s Figures Before Discharged di Port Ketiga, ditanda tangani oleh
Nakhoda Kapal.
- Port ketiga mengirimkan dokumen kepada port keempat ; Copy B/L
asli ex loading port, New B/L ex Port Pertama ,New B/L ex Port
Kedua, New B/L ex Port Ketiga, Ship’s figures (A/L, B/D) dan CQD.
(Port Pertama, Port Kedua dan Port Ketiga).
- Bila terjadi selisih melebihi batas toleransi antara angka ship’s figures
before discharged dengan angka actual receipt (CQD) ditambah
angka ship’s figures after discharged, pihak darat mengajukan letter
of protest kepada pihak kapal.
- Demikian seterusnya untuk kegiatan split cargo ke port berikutnya.
Page 26
Divert Cargo

Adalah muatan tanker yang dirubah tujuannya setelah tanker


meninggalkan pelabuhan muat (loading port).

Ammended B/L
• Dalam hal tersebut diatas, B/L dan muatan yang tadinya untuk depot
penerima A misalnya menjadi untuk depot penerima B.
• Setelah muatan dibongkar seluruhnya ditempat B, B/L ditahan di B
untuk pembukuan, selanjutnya Instalasi/Depot /DPPU akan
menerima ammended B/L dan loading port sebagai ralat B/L
pertama.
• Jika sebagian muatan ternyata harus dikirimkan oleh B kedepot
penerima lainnya (C), maka yang dilakukan tersebut adalah proses
Split Cargo dengan pedoman dan ketentuan split cargo.

Page 27
Return Cargo
Return cargo ialah sebagian atau seluruh muatan tanker yang
dikembalikan ke loading port oleh salah satu lokasi karena:

1. Lokasi bersangkutan pada saat tibanya tanker tak memiliki cukup


ullage di tangki-tangki darat untuk penerimaan.
2. Pada saat akan membongkar muatan atau setelah membongkar
sebagian, diketahui adanya off specification cargo atau kerusakan
lainnya pada muatan, sehingga diputuskan untuk mengembalikan
muatan ke loadingport dengan atau tanpa cargo yang telah dibongkar
ke tangki darat dengan disertai B/L baru dan berita acara.
3. Terjadi kerusakan pada tanker sehingga sebagian muatan tidak bisa
dipompa keluar, maka lokasi harus mengirimkan B/L baru dan
dokumen lainnya yang diperlukan ke loading port untuk mempermudah
penyelesaiannya.

Page 28
Back Loading

Adalah pemuatan BBM ke tanker dari persediaan/stock suatu lokasi untuk


dikirimkan ke lokasi yang lain dan harus dibuatkan :
– Bill of Lading ( B/L )
– Manifest
– Certificate of Quality
– Certificate of Quantity Loaded
– Ullage statement after loading

Page 29
2. Operasi Penerimaan BBM Import
Salah satu bentuk operasi penerimaan BBM melalui laut yang dilakukan
oleh PT PERTAMINA (Persero) adalah import BBM. Dalam pelaksanaan
kegiatan Import BBM mengacu pada Prosedur Penyelesaian Kepabeanan
dan Undang-Undang No.10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagai
berikut :

Prosedur Import:
1. PT Pertamina (Persero) Bidang Suplai dan Distribusi menetapkan
rencana import BBM.
2. PT Pertamina (Persero) Bidang Niaga Produk Minyak meminta ijin ke
Dirjen Migas dan Deperindag luar negeri tentang rencana import BBM
tersebut.

Page 30
Prosedur Import:

3. Dirjen Migas mengeluarkan persetujuan import BBM kepada Deperindag


luar negeri yang berisi jenis minyak, jumlah minyak dan harga
estimasinya.
4. Deperindag meneruskan persetujuan pada PT Pertamina (Persero) untuk
meng import BBM dari luar negeri.
5. Dokumen kepabeanan yang harus disiapkan untuk import dan penjualan
langsung ke konsumen, adalah :
- B/L
- Invoice
- Letter of credit
- Cargo manifest

Page 31
Prosedur Import:
6. Pembuatan PIB (Pemberitahuan Import Barang) Penangguhan ke Bea &
Cukai berdasarkan dokumen-dokumen tersebut diatas. Sebelum PIB
definitif dibuat maka terlebih dahulu dibuat PIB penangguhan yang
berlaku 60 hari untuk proses penyelesaian Bea Masuk, PPN, PPH apabila
tidak dipenuhi akan dikenakan denda 10% dari Bea Masuk + 2% bunga
tiap bulan. Bila PIB penangguhan telah dipenuhi baru diproses PIB
definitif, BBM import bisa dibongkar setelah PIB penangguhan dibuat dan
dikeluarkan Surat Keputusan (SKEP) dari Bea & Cukai.
7. Nominasi suplai import BBM:
- Proses import BBM dilaksanakan oleh fungsi Niaga Produk Minyak dan
fungsi Keuangan berdasarkan kebutuhan BBM yang diajukan oleh
fungsi Suplai dan Distribusi.
- Pengaturan operasi penerimaan BBM ditentukan oleh fungsi Suplai &
Distribusi PT PERTAMINA (PERSERO) Kantor Pusat.

Page 32
Penerimaan BBM Import di STS
(Ship To Ship transfer)
Sebelum Penerimaan.
1. Terima Notice of Readiness ( NOR )
2. Cek dokumen pendukung import meliputi :
– Bill of Lading ( B/L )
– Manifest
– Invoice
– Certificate of Origin
– Certificate of Quality
– Certificate of Quantity Loaded
3. Periksa Sea Chest dalam keadaan tertutup dan disegel
4. Terima master sample
5. Ambil sample dari all compartment dan lakukan short test
6. Ukur ullage minyak dan air di compartment kapal
Page 33
7. Hitung jumlah muatan BBM dalam volume liter observed, volume
standard liter 15oC dan barrel’s 60o F serta beratnya dalam Long Tons
yang dinyatakan dalam Compartment Logsheet Before Discharge.
8. Pasang slang manifold dan bounding cable
9. Tunggu hasil analisa dari laboratorium yang menyatakan minyak telah
memenuhi persyaratan spesifikasi dari Dirjen Migas
10. Discharge agreement antara pihak darat dan kapal
11. Pembongkaran dapat dilaksanakan

Selanjutnya prosedur penerimaan BBM di STS tetap mengacu kepada


butir 03.02.01.03 sampai dengan 03.02.01.08 dengan pengertian bahwa
FLOATING STORAGE (STS) dianggap sebagai lokasi penerima
sebagaimana halnya Lokasi didarat.

Page 34
3. OPERASI PENERIMAAN BBM MELALUI
DARAT
OPERASI PENERIMAAN BBM MELALUI DARAT.
Operasi Penerimaan BBM Dengan RTW dan Mobil Tangki/Isotank
Persiapan Pembongkaran:
1. Yakinkan ada ullage di tangki penimbunan
2. Siapkan fasilitas pembongkaran
3. Yakinkan tersedia peralatan fire & safety
4. Periksa kelengkapan dokumen
5. Lakukan pemeriksaan segel, dan yakinkan ketinggian cairan sampai pada baut tera,
apabila tinggi cairan tidak mencapai baut tera dibuat Berita Acara
6. Lakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan visual, bila tidak sesuai /
meragukan pembongkaran ditunda, sambil menunggu sampel diperiksa di
laboratorium
7. Pasang bounding cable
8. Hubungkan slang pembongkaran
9. Buka kerangan jalur pipa produk yang akan dibongkar
10. Hidupkan pompa
Page 35
Selama Pembongkaran BBM:
1. Awasi jalur pipa dari kemungkinan adanya kebocoran.
2. Yakinkan bahwa BBM sudah mengalir ke tangki yang dipersiapkan.
3. Bila terjadi kebocoran lakukan perbaikan seperlunya dan laporkan kepada
atasan.
4. Petugas harus selalu berada ditempat selama pengisian berlangsung.

Setelah Pembongkaran BBM:


1. Matikan pompa.
2. Tutup semua kerangan dan lepas hubungan slang.
3. Yakinkan bahwa RTW dan Mobil Tangki/Isotank sudah kosong.
4. Lakukan pengukuran pada tangki penimbun dan lakukan perhitungan CQD
5. Bilamana dalam perhitungan jumlah penerimaan terdapat losses penerimaan
yang melebihi batas toleransi maka diterbitkan surat klaim kepada pengangkut
6. Selesaikan seluruh proses administrasi dokumen penerimaan.

Page 36
Operasi Penerimaan BBM Melalui Pipa
Terdapat 2 sistem pelaksanaan pengiriman BBM menggunakan sarana
pipa :
– Sistem single line, single product/grade
– Sistem single line, multi product/grade

Perbedaan kedua system tersebut adalah bahwa pada sistem single line
multi product/grade saat ini digunakan pada produk tertentu (Premium,
Kerosine dan Solar), dan tidak dapat dihindari akan terjadi Interface
product.

Page 37
Pedoman umum Operasi Penerimaan BBM melalui
Pipa :
Sebelum Pemompaan BBM

1. Pengirim menyampaikan rencana produk BBM, spesifikasi (density &


temperatur) dan volume batching program, yang akan dipompa kepada lokasi
penerima
2. Pengirim memeriksa dan meyakinkan jalur pipa dan manifold yang akan
dipergunakan untuk pengiriman
3. Pastikan bahwa pada lokasi penerima tersedia ullage yang cukup pada tangki
timbun BBM sesuai dengan rencana batch
4. Pastikan program tangki yang akan menerima BBM tersebut
5. Pastikan kerangan tanki sesuai dengan BBM yang akan diterima terbuka
6. Penentuan flow rate atas dasar kesepakatan bersama, disesuaikan dengan
kondisi fasilitas setempat dan penyesuaian jam (waktu) dilokasi masing-masing
7. Kontak via telepon/system komunikasi lain dengan pengirim tentang kesiapan
operasi penermaan BBM dan waktu start pemompaan
Page 38
Pedoman umum Operasi Penerimaan BBM melalui
Pipa :
Selama Pemompaan BBM :
1. Cek kedatangan produk BBM secara visual, pastikan jenis produk yang diterima,
lakukan/ambil sample setiap 1 jam sekali (periksa warna, bau, density dan suhu).
2. Catat kecepatan pemompaan, tekanan setiap 1 jam sekali.
3. Amati kondisi tanki, catat rencana penerimaan/actual receive jangan sampai
melampaui Safe capacity, dalam hal tidak ada flow meter lakukan dipping dan
sesuaikan (dikontrol setiap 1 jam sekali).

Setelah selesai Pemompaan BBM :


1. Ukur isi tangki, density, temperatur.
2. Lakukan pengedrainan 1 jam setelah pemompaan selesai.(settling)
3. Cocokkan angka penerimaan dengan angka pengiriman dari pengirim/ Kilang, apakah
terjadi selisih kurang/lebih dari 0,5%
Bila terdapat selisih melebihi 0,5%, tanyakan pada pengirim atau segera membuat
letter of protest ke pengirim/Kilang sambil menanyakan apakah data yang dikirim
sesuai Certificate of Quantity Discharged (CQD) sudah benar.
Page 39
Operasi Penerimaan BBM Melalui Pipa dengan system Single Line Single
Product/Grade
Operasi Penerimaan BBM melalui pipa dengan system single line single product merupakan
operasi penerimaan BBM tanpa menimbulkan produck interface.
Sebelum Pemompaan.
Sebelum BBM dipompakan, terlebih dahulu diketahui data BBM dari pihak pengirim
meliputi:
1. Jenis BBM
2. Jumlah BBM.
3. Nomor batch.
4. Nomor tangki pengirim..
5. Kecepatan, tekanan penyaluran dan data lain yang diperlukan.

Sedangkan dokumen lainnya akan dikirimkan kemudian antara lain :


1. Batching Program
2. Bukti Pengiriman Produk
3. Data Penerimaan BBM pada Jalur pipa
4. Certificate of quantity Discharged
5. Berita Acara Penerimaan/Pemompaan
Page 40
Operasi Penerimaan BBM Melalui Pipa dengan system Single Line
Single Product/Grade

Selama Pemompaan.
Melaksanakan pemeriksaan visual test di sample cock sebelum manifold
pada menit pertama, kelima, kesepuluh, kelima belas, ketiga puluh dan
setiap jam untuk meyakinkan produk yang diterima benar benar sesuai
dengan produk yang dipompakan.

Selama pemompaan dilakukan pemantauan, pencatatan setiap satu jam


semua data penerimaan meliputi :
1. Jenis BBM
2. Density dan suhu
3. Flow rate
4. Tekanan pemompaan
5. Realisasi penerimaan (Actual received)

Page 41
Operasi Penerimaan BBM Melalui Pipa dengan system Single Line
Single Product/Grade

Sesudah selesai Pemompaan.


- Saluran masuk dan keluar tangki serta kerangan pipa ditutup, dikunci
dan disegel.
- Lakukan pemeriksaan visual.
- Bila hasil pemeriksaan baik, BBM dapat disalurkan/diserahkan. Tetapi
bila pemeriksaan tidak baik/meragukan, diambil contoh untuk uji lengkap
laboratorium.
- Selama menunggu hasil pengujian, BBM diblokir.
- Bila hasil pengujian laboratorium memenuhi spesifikasi maka BBM dapat
disalurkan/diserahkan. Tetapi bila hasil pengujian laboratorium tidak
memenuhi spesifikasi, maka dilakukan uji ulang terhadap pemeriksaan
yang tidak memenuhi spesifikasi. Bila hasilnya tetap tidak memenuhi
spesifikasi, laporkan hal ini ke UPms dengan rincian data dan minta
petunjuk penyelesaiannya.
Page 42
Operasi Penerimaan BBM melalui Pipa dengan
system Single Line Multi Product/Grade

Penerimaan BBM di Istalasi/Depot Melalui Pipa dengan System Sigle Line


Multi Product akan menghasilkan Interface Product.

Petugas penerima harus melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung


jawab dan memperhatikan jenis BBM yang hendak ditimbun/diterima di
tangki timbun, sehingga dapat memperkecil terjadinya kontaminasi antar
BBM yang akan diterima. Penerimaan BBM di tangki timbun diklasifikasikan
sebagai berikut :

Page 43
1. Penerimaan produk murni Premium, Kerosine (Minyak Tanah), dan
Solar

Persiapan sebelum penerimaan.


1. Mengukur ketinggian (dipping) dalam tangki timbun yang akan menerima.
2. Membuka kerangan inlet tangki timbun.
3. Membuka kerangan manifold yang menuju ke tangki timbun.

Penerimaan dilaksanakan via Heart cut sesuai batching program.


Pada saat penerimaan berlangsung selalu dilakukan pemeriksaan visual test
disample cock sebelum manifold pada menit pertama, kelima, kesepuluh, ke lima
belas, ke tiga puluh dan setiap jam untuk meyakinkan produk yang diterima benar
benar sesuai dengan produk yang dipompakan dari pengirim.
Pengamatan dan pencatatan selanjutnya dilakukan tiap- tiap jam secara cermat
dan teliti meliputi :
1. Jenis produk BBM
2. Density dan suhu
3. Flow rate dan Tekanan pemompaan
4. Realisasi penerimaan (Actual received)
Page 44
Sesudah Selesai Pemompaan BBM :

1. Setelah 1 jam selesai pemompaan, lakukan pengedrainan tangki tersebut.


2. Setelah 1 jam selesai pemompaan, ukur isi tangki, density, temperature
dan siapkan Certificate of Quantity Discharged (CQD) dan Berita Acara
3. Hitung apakah angka penerimaan dibanding angka pengiriman tidak
terdapat selisih kurang/lebih yang lebih besar dari 0,5%.
Bila lebih 0,5% tanyakan ke pihak pengirim dan bila kurang dari 0,5%
dianqgap sebagai rugi/laba kerja.

Page 45