Anda di halaman 1dari 23

TOKSISITAS LIMBAH INDUSTRI

HUSNIATUL FAUJIYAH (201610410311010)


BELLA NUR AULIA RAHMADANI (201610410311031)
ALIFAH FATHIMAH KEMALASARI (201610410311046)
MOH. YUSUF ARDIANSYAH (201610410311181)
ANGGYA BELLAVITA NAFITRI (201610410311203)
GUSTIAH PORWANDINI (201610410311213)
ANINDA FEBRIAN (201610410311219)
MIFTAHUL JENNA (201610410311228)
Pokok bahasan

Gejala Umum
Penanggulangan
Pencemaran
Sumber toksikologi Pencemaran Limbah
Lingkungan Akibat
B3 Industri
Limbah Industri

Karakteristik Bahan Upaya Pencegahan


Jenis sumber
Kimia berdasarkan Pencemaran Limbah
toksikologi
klasifikasi B3 (B3) Industri

Sumber Limbah
Substansi kimia
Bahan berbahaya Kesimpulan
toksikologi
dan Beracun (B3)

Definisi Limbah
Dampak toksikologi
Bahan Berbahaya
lingkungan
dan Beracun (B3)
Sumber toksikologi
 Sumber pencemar toksikologi, salah satunya yaitu tanah,
karena pencemaran tanah tidak jauh beda atau bisa dikatakan
mempunyai hubungan erat dengan pencemaran udara dan
pencemaran air, maka sumber pencemar udara dan sumber
pencemar air pada umumnya juga merupakan sumber
pencemar tanah.
 Sumber bahan pencemar tanah dapat dikelompokkan juga
menjadi sumber pencemar yang berasal dari, sampah rumah
tangga, sampah pasar, sampah rumah sakit, gunung berapi
yang meletus / kendaraan bermotor dan limbah industry.
Jenis sumber toksikologi
Limbah Industry
Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab terjadinya pencemaran air. Pada umumnya
limbah industri mengandung limbah B3, yaitu bahan berbahaya dan beracun. Limbah Industri
berasal dari sisa-sisa produksi industri. Limbah cair yang merupakan hasil pengolahan dalam
suatu proses produksi

Limbah Pertanian
Limbah pertanian dapat berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk menyuburkan tanah atau
tanaman, misalnya pupuk urea dan pestisida untuk pemberantas hama tanaman. Penggunaan
pestisida bukan saja mematikan hama tanaman tetapi juga mikroorga-nisme yang berguna di
dalam tanah.

Limbah Domestic
Limbah rumah tangga mengandung limbah domestik berupa sampah organik dan sampah
anorganik serta deterjen. Limbah rumah tangga atau domestik dapat berasal dari daerah:
pemukiman penduduk; perdagang-an/pasar/tempat usaha hotel dan lain-lain; kelembagaan
misalnya kantor-kantor pemerintahan dan swasta; dan wisata, dapat berupa limbah padat dan
cair
Substansi kimia toksikologi
Toksisitas senyawa kimia didefinisikan sebagai kemampuan senyawa kimia
mengakibatkan bahaya terhadap metabolisme jaringan makhluk hidup.
 Unsur Beracun dan Bentuk Elemennya
1. Ozon
Ozon (O3) terdiri dari tiga molekul oksigen dan amat berbahaya pada kesehatan manusia. Secara
alamiah, ozon dihasilkan melalui percampuran cahaya ultraviolet dengan atmosfer bumi dan membentuk
suatu lapisan ozon pada ketinggian 50 kilometer
2. Fosfor Putih
Fosfor putih piroforik dan sangat beracun, fosfor putih harus ditangani dengan hati-hati. Posfor putih pada
prakteknya digunakan sebagai bom yang mematikan. Oleh karenanya senyawa ini sangat dilarang.
Penggunaan posfor putih sanagat merugikan dan dapat mencemari lingkungan.
3. Elemental Halogen
Unsur halogen merupakan VIIA yaitu F, Cl, Br, I dan At. Namun unsur yang sering ditemui dalam
lingkungan Halogen adalah selain At. Unsur yang paling berbahaya adalah Flour dan Klorid. Flour memiliki
warna kuning berfasa gas yang sangat reaktif dan oksidan yang kuat. Brom (Br2) adalah cairan merah gelap
yang mudah menguap yang beracun bila terhirup atau tertelan.
4. Logam berat
Logam berat yang beracun dalam bentuk senyawa, terutama merkuri, yang beracun dalam bentuk unsur
dan metaloid. Contoh senyawa logam berat lainnya yang sangat berbahaya adalah kadnium, arsenik, dan
timbal.
 Senyawa Toksik Anorganik
Ada banyak beberapa macam toksik anorganik, beberapa diantaranya adalah :
1. Sianida
Sianida adalah senyawa kimia yang mengandung kelompok siano C≡N. Beberapa
diantaranya adalah gas, dan lainnya adalah padat atau cair. Senyawa yang dapat
melepas ion sianida CN− sangat beracun.
2. Karbon monoksida
Karbon monoksida, rumus kimia CO, adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, dan
tak berasa. Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari
senyawakarbon, sering terjadi pada mesin pembakaran dalam.
3. Nitrogen Oksida
Nitrogen oksida (NOx) adalah senyawa gas yang terdapat di udara bebas (atmosfer)
yang sebagian besar terdiri atas nitrit oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta
berbagai jenis oksida dalam jumlah yang lebih sedikit. Gas NO yang mencemari udara
secara visual sulit diamati karena gas tersebut tidak bewarna dan tidak berbau. Sedangkan
gas NO2 bila mencemari udara mudah diamati dari baunya yang sangat menyengat dan
warnanya merah kecoklatan. Sifat Racun (toksisitas) gas NO2empat kali lebih kuat dari
pada toksisitas gas NO.
4. Hidrogen Halida
Yang paling banyak digunakan gas ini HF dan HCl. Hidrogen fluoride digunakan
terutama sebagai prekursor atau reaktan untuk membuat bahan kimia komersial penting
lainnya.
5. Senyawa Interhalogen dan Halogen Oksida, Silikon, Asbes, Posfor, Sulfur, dsb
 Toksikologi senyawa organik
1. Hidrokarbon alkana
Gas metana, etana, propana, n-butana, dan isobutana merupakan hidrokarbon yang
dianggap berbahaya. Senyawa-senyawa ini bereaksi diudara sebagai gas beracun. Alkana
lainnya adalah n-heksana dan sikloheksana.
2. Hidrokarbon alkena dan alkina
Hidrikarbon yang beracun dari golongan ini diantaranya etilen, propilena,1,3-
butadiena dan Asetilena. Etilen adalah gas tidak berwarna, berbau dan agak manis, selain
itu senyawa yang mirip dengan etilen toksisitanya adalah Propilena. 1,3-butadiena adalah
gas berwarna dan tidak berbau. Dan Asetilena, adalah gas tidak berwarna dengan bau
bawang putih.
3. Benzena dan hidrokarbon aromatik
Senyawa yang bersifat toksik dari golongan ini diantaranya Toluen, Naptalen, dan
Hidrokarbon aromatik polisiklik.
a. Toluena adalah hidrokarbon aromatik yang digunakan secara luas dalam stok umpan
industri dan juga sebagai pelarut. Seperti pelarut-pelarut lainnya, toluena juga digunakan
sebagai obat inhalan oleh karena sifatnya yang memabukkan.
b. Naftalenta dikenal sebagai bahan utama penyusun kapur barus tradisional.
4. Senyawa Organik yang Mengandung-Oksigen
Senyawa toksik dari golongan ii terdiri atas Oksida dan Alkohol.
5. dsb
Dampak toksikologi lingkungan
Teratogen
yaitu segala zat yang mengakibatkan kecacatan janin.Yang
termasuk teratogen adalah malnutrisi, penyakit infeksi,
alkohol, dan tembakau. Mekanisme biokimia teratogenesis
bervariasi termasuk penghambatan enzim oleh xenobiotik;
perampasan janinsubstrat penting, seperti vitamin; gangguan
pasokan energi; atau perubahan permeabilitas membran
plasenta.
Gambar :
Mutagenesis
adalah proses dimana informasi genetik dari suatu
organismeberubah dengan cara yang stabil, sehingga terjadi
mutasi. Meskipun proses mutasi terjadi tanpa adanya
zatxenobiotik, kebanyakan mutasi tersebut berbahaya dan
dapat menyebabkan cacat lahir, kanker serta berbagai
penyakit keturunan, tetapi juga merupakan kekuatan
pendorongevolusi.
Gambar :
Karsinogenesis
 adalah suatu proses banyak tahap, baik pada tingkat fenotipe maupun genotype. Proses karsinogenesis terdiri dari
tiga tahapan yaitu inisiasi, promosi dan progresi.
a. Inisiasi
Tahap permulaan dimana sel normal berubah menjadi premaligna. Pada tahap inisiasi karsinogen bereaksi dengan
DNA menyebabkan ampifikasi gen dan produksi copy multipel gen. Pada proses inisiasi ini karsinogen yang
merupakan inisiator adalah mutagen, cukup terkena sekali paparan karsinogen, keadaanini permanen dan
irreversibel, proses tidak merubah ekspresi gen.
b. Promosi
Promotor adalah zat non mutagen tetapi dapat menaikkan reaksi karsinogen dan dapat menimbulkan amplifikasi
gen. Suatu promotor yang terkenal adalah ester phorbol yang terdiri dari TPA (Tetradeconyl pharbol Acetat) dan
RPA (12-Retinoyl Phorbol Acetat) yang terdapat dalam minyak kroton. Sifat-sifat promotor adalah mengikuti
kerja inisiator, perlu paparan berkali-kali, keadaan dapat reversibel, dapat mengubah ekspresi gen seperti
hiperplasi, induksi enzym, induksi differensiasi.
c. Progresi
Pada progresi ini terjadi aktifasi , mutasi, atau hilangnya gen. Pada progresi ini timbul perubahan benigna menjadi
premaligna dan maligna. Dalam proses karsinogenesis ada 3 mekanise yang terlibat :
1. Onkogen yang dapat menginduksi timbulnya kanker,
2. Anti-onkogen atau gen supressor yang dapat mencegah timbulnya sel kanker,
3. Gen modulator yang dapat mempengaruhi penyebaran kanker
Gambar :
Sistem kekebalan Response
Sistem kekebalan tubuh berfungsi sebagai sistem pertahanan
alami tubuh untuk melindunginya dari bahan kimia
xenobiotik; agen infeksi, seperti virus atau bakteri; dan sel-
sel neoplastik yang merespon jaringan kanker. Xenobiotik
dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh kehilangan
kemampuannya untuk mengontrol proliferasi sel dan
mengakibatkan leukemia atau limfoma.
Garmbar :
Zat Estrogenik
zat xenobiotik yang diduga memiliki efek buruk pada hewan
dan sistem reproduksi manusia dengan meniru atau
mengganggu aksi estrogen. Zat-zat tersebut sering disebut
sebagai estrogen eksogen atau exoestrogen yang dapat
menyebabkan gangguan pada saluran reproduksi dan efek
seperti mengurangi jumlah produksi sperma dan air mani.
Efek lain dari beberapa kekhawatiran adalah potensi yang
memicu kanker.
Gambar :
Paparan Zat Beracun
Paparan zat beracun biasanya berasal dari limbah berbahaya.
Gejala yang berhubungan denganpaparan bahan
kimia tertentu juga dapat dievaluasi. Salah satu dampak yang
terlihat jelas misalnya, ruam kulit, atau efek subklinis, seperti
kerusakan kromosom.
Gambar :
Dampak Biomarker
adalah perubahan-perubahan biokimiawi, fisiologis, tingkah
laku dan lainnya yang dapat diukur, dalam suatu organisme
yang bergantung pada besarannya, dapat dikenali sebagai
manisfestasi atau potensi gangguan kesehatan atau penyakit.
Contoh : dampak biomarker adalah daya hambat enzim
cholinesterase otak oleh insektisida Karbamat, induksi asam
delta aminolevulinic synthetase dan inhibisi asam
aminolevulinic dehydratase oleh Pb dan logam-logam berat
tertentu lainnya.
Definisi Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3)
 Menurut PP No. 18 tahun 1999 Limbah B3 adalah sisa suatu usaha
atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya atau beracun
yang karena sifat atau konsentrasinya dan jumlahnya baik secara
langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan atau
merusak lingkungan hidup, dan dapat membahayakan lingkungan
hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk
hidup lainnya.
 Definis Limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap
bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang
mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat serta
konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun
tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau
membahayakan kesehatan manusia.
Sumber Limbah Bahan berbahaya dan
Beracun (B3)
 Limbah B3 menurut sumbernya (PP.05/1999):
1. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik : Limbah B3
yang berasal bukan dari proses utamanya, tetapi berasal dari
kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, inhibitor korosi,
pelarutan kerak, pengemasan, dll.
2. Limbah B3 dari sumber spesifik : Limbah B3 sisa
proses suatu industri atau kegiatan tertentu.
3. Limbah B3 dari sumber lain : bahan Kimia
kadaluwarsa, tumpahan, sisa kemasan dan buangan produk
yang tidak memenuhi spesifikasi.
Karakteristik Bahan Kimia
berdasarkan klasifikasi B3
1. Mudah meledak (explosive).
2. Pengoksidasi (oxidizing).
3. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable).
4. Sangat mudah menyala (highly flammable).
5. Amat sangat beracun (highly flammable ).
6. Sangat beracun (highly beracun).
7. Beracun (mederately toxic).
8. Korosif (corrosive).
9. Bersifat Iritasi (irritant).
10. Berbahaya bagi lingkungan(dangerous to the environment).
11. Karsinogenik (carcinogenic).
12. Teratogenik (teratogenic).
13. Mutagenik (mutagenic).
Gejala Umum Pencemaran Lingkungan
Akibat Limbah Industri
 Jangka Pendek  Jangka Panjang
 Air sungai atau air sumur sekitar lokasi industri  Penyakit akibat pencemaran ada yang baru muncul
pencemar, yang semula berwarna jernih, berubah sekian tahun kemudian setelah cukup lama bahan
menjadi keruh berbuih dan berbau busuk, sehingga pencemar terkontaminasi dalam bahan makanan
tidak layak dipergunakan lagi oleh warga masyarakat menurut daur ulang ekologik, seperti yang terjadi
sekitar untuk mandi, mencuci, apalagi untuk bahan pada kasus penyakit minaimata sekitar 1956 di Jepang.
baku air minum. terdapat lebih dari 100 orang meninggal atau cacat
 Ditinjau dari segi kesehatan. kesehatan warga karena mengkonsumsi ikan yang berasal dari Teluk
masyarakat sekitar dapat timbul penyakit dari yang Minamata. Teluk ini tercemar merkuri yang berasal
ringan seperti gatal-gatal pada kulit sampai yang berat dari sebuah pabrik plastik. Bila merkuri masuk ke
berupa cacat genetic pada anak cucu dan generasi dalam tubuh manusia melalui saluran pencernaan,
berikut. dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal
sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink
 Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di Disease/acrodynia, alergi kulit dan kawasaki
sekitar daerah-daerah industri. disease/mucocutaneous lymph node syndrome.
 Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di
musim kemarau, sedangkan di musim penghujan
cenderung terjadi banjir yang melanda banyak daerah
yang berakibat merugikan akibat kondisi ekosistemnya
yang telah rusak.
 Temperatur udara maksimal dan minimal sering
berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di
beberapa kota seperti Jakarta sudah mencapai 37
derajat celcius.
 Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara
seperti CO, NO2r S02, dan debu.
Dampak Pencemaran Limbah Bahan
berbahaya dan Beracun (B3) Industri
Dampak B3 terhadap Kesehatan Manusia
Dampak limbah B3 terhadap kesehatan manusia salah satu
contohnya yaitu kasus Penyakit Minamata : Dipinggir teluk
Minamata di Jepang bermukim rakyat nelayan. Para nelayan
rupanya telah terbiasa mengkonsumsi ikan yang berasal dari teluk
tersebut. Akan tetapi teluk tersebut sudah tercemar limbah, yang
diakibatkan oleh beberapa industri membuang limbah ke teluk
Minamata.
Toksikologi Limbah B3
Uji toksikologi digunakan untuk mengetahui sifat akut atau
kronik limbah yang dimaksud. Penentuan sifat akut limbah
dilakukandengan uji hayati untuk mengukur hubungan dosis -
respons antara limbah dengan kematian hewan uji,
untuk menetapkan nilai LD50.
Penanggulangan Pencemaran Limbah
B3 Industri
Proses Proses
pengolahan secara pengolahan
kimia limbah secara fisik

Penerapan Sistem
Teknologi
Pengolahan
Pengolahan
Limbah B3
Upaya Pencegahan Pencemaran
Limbah (B3) Industri
 Upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan dalam mengatasi
Pencemaran limbah B3 industri adalah sebagai berikut:
 Mengatur sistem pembuangan industri sehingga tidak mencemari
lingkungan
 Menempatkan industri atau pabrik terpisah atau jauh dari pemukiman
penduduk
 Melakukan pengawasan atau penggunaan beberapa jenis pestisida,
insektisida dan bahan kimia lain yang berpotensi menjadi penyebab
pencemaran
 Melakukan penghijauan
 Memberikan sanksi atau hukuman secara tegas terhadap pelaku yang
mencemari lingkungan
 Pengaturan pembuangan limbah dengan IPAL (Instalasi Pembuangan Air
Limbah) agar tidak mencemari lingkungan
KESIMPULAN