Anda di halaman 1dari 32

 Demam tifoid/tifus abdominalis adalah infeksi

akut pada salura pencernaan yang disebabkan


oleh Salmonella typhi (Widoyono,2011).
 Demam tifoid/Tifus Abdominalis adalah penyakit
infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran
cerna dengan gejala demam lebih dari satu
minggu dan terdapat gangguan kesadaran
(Suriyadi & Rita,2006) .
 Penyebab demam tifoid adalah bakteri
salmonella typhi. Salmonella adalah bakteri
gram-negatif, tidak berkapsul, mempunyai
flagella, dan tidak membentuk spora. Bakteri
ini akan mati pada pemanasan 37¬oC selama
beberapa menit.
Salmonella typhosa

Saluran Pencernaan

Diserap oleh usus halus

Bakteri memasuki aliran darah sistemik

Kelenjar limfoid usus halus Endotoksin

Hati Demam

Limpa

Tukak Hepatomegali Splenomegali

Perdarahan dan perforasi Nyeri perabaan


 a. Kuman masuk melalui mulut. Sebagian
kuman akan dimusnahkan dalam lambung leh
asam lambung dan sebagian lagi masuk ke
intestinum minor, ke jaringan limfoid dan
berkembang biak menyerang vili intestinum
minor kemudian kuman masuk ke peredaran
darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-sel
RE, hati, limpa, dan organ lain.
 b. Proses ini terjadi dalam masa tunas dan
akan berakhir saat sel-sel RE melepaskan
kuman ke vaskuler dan menimbulkan
bakterimia kedua kalinya. Selanjutnya kuman
masuk kebeberapa jaringan organ tubuh,
terutama limpa, usus dan kamdung empedu.
 c. Pada minggu pertama sakit, terjadi
hiperplasia plaks player. Ini terjadi pada kelenjar
limfoit intestinum minor. Minggu kedua terjadi
nikrosis dan pada minggu ketiga tejadi ulserasi
plaks player. Pada minggu keempat terjadi
penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan
sikatrik. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan,
bahkan sampai perforasi usus. Selain itu hepar,
kelenjar-kelenjar disentrial dan limpa membesar.
d. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin,
sedangkan gejala pada saluran pencernaan
disebabkan oleh kelainan pada intestinum
minor.
 a. Nyeri kepala, lemah, lesu
b. Demam yang berlangsung selama 3
minggu
 c. Gangguan pada saluran cerna
 d. Gangguan kesadaran
 e. Bintik-bintik kemerahan pada kulit
 f. Epistaksis
Aches and pains High fever

Diarrhea

Rost Sport
 a. Intestinum : perdarahan usus, melena ,
perforasi usus, peritonitis
 b. Organ lain : meningitis, kolesistitis,
enselopati, brunkopneumonia
Salmonella thypi Carier

Defekasi

Host perantara

Feces mengandung Terkontaminasi


Aliran sungai langsung dari tanah
Salmonella thypi
 1. Pemeriksaan darah tepi: leukopenia,
limfositosis, aneosinofilia, anemia,
trompositopenia
 2. Uji Widal
 3. Pemeriksaan bakteri pada tinja atau urin
 4. Uji TUBEX
 1. Penyediaan sunber air minum yang baik
 2. Penyedian jamban yang sehat
 3. Sosialisasi budaya cuci tangan
 4. Sosialisasi budaya merebus air sampai
medidih sebelum diminum
 5. Pemberantasan lalat
 6. Pengawasan kepada para penjual makan dan
minuman
 7. Menyediakan atau mengolah makan dengan
bersih dan sehat
 8. Imunisasi
 9. Sosialisasikan pemberian ASI pada ibu
menyusui
 1. Pemberian antibiotic
Golongan Fluorokuinolon : ≠ wanita hamil
 Norfloksasind, dosis 2x400 mg/hari selama 14
hari
 Siprofloksasin, dosis 2 x 500 mg/hari selama 6
hari
 Ofloksasin, dosis 2x400 mg/hari selama 7 hari
 Pefloksasin, dosis 400 mg/hari selama 7 hari

 Fleroksasin, dosis 400 mg/hari selama 7 hari


Kloramfenikol :
Dosis: 4 x 500 mg/hari per oral/iv sampai
dengan 7 hari bebas panas

Tiamfenikol :
Dosis : 4 x 500 mg, demam rata-rata
menurun pada hari ke-5 sampai ke-6.

Kotrimoksazol : ≠ wanita hamil


Dosis : 2 x 960 mg
 Ampisilin, amoksisilin, dan seftriakson
 2. Istirahat dan perawatan
 3. Terapi penunjang secara simptomatis dan
suportif serta diet
1. Pengkajian
a. Keluhan utama: klien mengeluh nyeri, demam, ataupun diare.
b. Riwayat penyakit dahulu: pernah mengalami diare, tifus adominalis
c. Riwayat penyakit sekarang: pernah mengalami demam yang tnggi, diare,
mual muntah, ataupun nyeri bagian abdomen.
d. Pola fungsi kesehatan
Pola nutrisi: makan makanan yang tidak bersih, pengolahan
makanan yang tidak baik,

Pola eliminasi:
BAB; frekuensi, konssistensi, warna, BAK; banyaknya cairan yang keluar
melalui urine.

Pola istirahat:
apakah gejala yang dimbulkan menggangu pola tidur: sering terbangun,
jumlah jam tidur berkurang

Pola aktivitas:
Lemah, gelisah, aktivitas terganggu karena gejala yang ditmbulkan.
d. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi: kesimestirisan abdomen, adanya asites
2) Auskultasi: bunyi usus meningkat (gurgling)
atau menurun, peristaltik usus abnormal
(normalnya 5-12x/menit)
3) Perkusi: distensi, bunyi abdomen normalnya
timpani, shifting dullness (suara redup) adanya
cairan.
4) Palpasi: nyeri tekan abdomen,
e. Kaji adanya gejala dan tanda meningkatnya suhu
tubuh terutama pada malam hari, nyeri kepala,
lidah kotor, tidak nafsu makan, epitaksis,
penuranan kesadaran.
 Check This Out
1. Hipertermi b/d endotoksin
2. Nyeri akut b/d kerusakan jaringan
gastrointestinal
3. Diare b/d peningkatan peristaltik usus
4. Konstipasi b/d penurunan peristaltik usus
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan b/d tidak ada nafsu makan, mual
dan kembung
6. Risiko kurangnya volume cairan b/d kurangnya
intake cairan, dan peningkatan suhu tubuh.
Intervensi Rasional

a. Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang a. Guna mengetahui cara penanganan
hipertermi keluarga dalam menangani kakus
b. Observasi suhu, nadi, TD, dan pernapasan hipertermi.
c. Berikan minum yang cukup b. Peningkatan Suhu berbanding lurus
d. Berikan kompres air hangat dengan peningkatan tanda vitas yang
e. Pakaikan baju yang tipis dan menyerap lain.
keringat c. Mencegah terjadinya dehidrasi
f. Lakukan tepid sponge (seka) d. Mengurangi panas pada klien.
g. Pemberian obat antipiretik e. Mencegah terjadinya diaporesis
h. Pemberian obat cairan parenteral (IV) yang f. Guna meningkatkan rasa nyaman pada
adekuat klien.
g. Menurunkan panas dengan obat
antipiretik.
h. Mempertahankan
kebutuhan cairan yang adekuat.
Intervensi Rasional

a. Melakukan pengkajian nyeri secara a. Mengetahui nyerinya


komperensiftermasuk lokasi, karakteristik, durasi, b. Mengetahui koping dari nyeri
frekuensi, kualitas dan factor presipitasi c. Mngetahui nyeri melalui komunikasi
b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan d. Mengetahui respon nyeri dari kultur
c. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk e. Guna mengetahui bagaimana klien mengatasi
mengetahui pengalamannyeri pasien nyeri
d. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri f. Guna memperbaiki koping nyeri saat ini
e. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau g. Guna mengatasi nyeri dengan mengalihkan
f. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain perhatian.
tentang ketidakefektifan control nyeri masa lampau h. Mencegah memperberat nyeri oleh faktor
g. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan kondisi lingkungan.
menemukan dukungan i. Guna mengatasi nyeri
h. Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri j. Agar klien dapat menangani nyeri dengan teknik
i. Pilih dan lakukan penanganan nyeri nofarmakologi.
j. Ajarkan tentang teknik non farmakologi k. Mengetahui perubahan dari koping terhadap
k. Evaluasi keefektifan control nyeri nyeri
l. Tingkatkan istirahat l. Guna mempertahankan kenyamanan.
m. Berikan analgetiki untuk mengurangi nyeri m. Mengurangi rasa nyeri dengan obat
Intervensi Rasional
a. Evaluasi efek samping pengobatan terhadap a. Mengetahui penyebab dari pengobatan.
gastrointestinal
b. Intruksikan pasien/keluargauntuk mencatat warna, jumlah, a. Mengetahui adanya keabnormalan dari komposisi
frekuensi dan konsistensi dari feses feses, seperti ada pus atau darah.
c. Evaluasi intake makanan yang masuk b. Mengetahui masukan yang adekuat.
d. Identifikasi factor penyebab dari diare c. Guuna dapat menekan pencetus dari diare.
e. Observasi turgor kulit secara rutin d. penurunan keelastisan turgor kulit mengarah pada
f. Ukur diare/keluaran BAB kekurangan volume cairan,
g. Instruksikan pasien untuk makan rendah serat, tinggi e. Mengetahui banyaknya feses yang dikeluarkan
protein dan tinggi kalori jika memungkinkan mengarah pada dehidrasi dan ketidakseimbangan
h. Instruksikan untuk menghindari laksative asam bada.
i. Ajarkan teknik menurunkan stress f. Membantu meningkatkan konsistensi feses menjadi
j. Monitor persiapan makanan yang aman lunak atau semi padat.
k. Ajarkan pasien untuk menggunakan obat antidiare g. Itu dapat memperburuk diare.
l. Hubungi dokter jika ada kenaikan bising usus h. Stress dapat meningkatkan diare.
i. Guna mempertahankan kebersihan makanan dan
mencegah komplikasi dari makanan.
j. Mengurangi diare yang timbul.
k. Mencegah terjadinya komplikasi.
Intervensi Rasional

a. Kaji kebiasaan klien saat defekasi. a. Faktor pendukung untuk defekasi.


b. Anjurkan untuk minum air minum hangat b. Membantu merangsang untuk defekasi.
banyak.
c. Kaji tanda dan gejala peritonitis. c. Guna dapat melaporkan segera keadaan
pasien.
d. Anjurkan klien untuk mencatat atau d. Untuk mengetahui apa terjadi perforasi
mengingat hasil defekasi apakah terdapat intestinum.
darah.
e. Rencanakan tindakan huknah. e. Membantu mengeluarkan feses.
f. Kolaborasi dengan pemberian obat f. Membantu defekasi untuk mengeluarkan
sipositoria feses.
g. Pemberian laksatif g. Membantu defekasi untuk mengeluarkan
feses.
Intervensi Rasional
a. Kaji adanya alergi makanan a. mengetahui adanya alergi makanan yang dapat
b. Ajarkan pasien untuk meningkatkan intake Fe melalui menyebabkan reaksi hipersensitivitas.
sayur-sayuran seperti kacang panjang dan lain-lain. b. Mencegah terjadinya anemia defisiensi zat besi.
c. Ajurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C c. meningkatkan ketahanan tubuh.
d. Berikan substansi gula d. Guna menambah sidikit energi.
e. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat e. menghindari terjadinya konstipasi.
untuk menghindari konstipasi f. Guna mengetahui catatan pola dan intake makanan.
f. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan harian g. Mengetahui keseimbangan antara intake dan output
makanan kalori.
g. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori h. Guna meningkatkan untuk memenuhi kebutuhan
h. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi nutrisi menjadi lebih baik.
i. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang i. Keterbatasan ketersediaan mempengaruhi
dibutuhkan terpenuhnya nutrisi.
j. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menemukan jumlah j. Guna mengetahui diet yang tepat bagi klien.
kalori dan nutrisiyang dibutuhkan pasien
Intervensi Rasional

a. Mengobservasi TTV (suhu tubuh) paling a. Untuk mengetahui perubahan suhu tubuh
sedikit setiap empat jam. b. Mengetahui peningkatan dari risiko
b. Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan menjadi actual.
cairan: turgor tidak elastis, ubun-ubun cekung, c. Mengetahui keseiimbangan
produksi urin menurun, membran mukosa d. Mengetahui masukan cairan melalui
kering, bibir peceh-pecah. intravena
c. Mencatat dan mempertahankan intake dan e. Mempertahankan masukan cairan
output.
d. Memonitor pemberian cairan melalui cairan
intravena setiap jam atau per 24 jam.
e. Beritahu agar tetap sering memberikan minum
air mineral
 Nanang Wahyu Santoso
 Raymond Petra Tambunan
 Kristiani Boru Tobing
 Koleta Bekman
 Yulita S. denis