Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN
TETANUS
NEONATORUM

By Kelompok III
Pengertian
Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh
kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan
kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium
tetani.

Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi


kehidupan intra uterus ke kehidupan intra uterin hingga
berusia kurang dari 1 bulan. (Asri Rosad, 1987).

Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang


terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh clostridium
tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang
menyerang sistem saraf pusat. (Abdul Bari Saifuddin,
2000).
Etiologi
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk
batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5
milimikron yang berspora termasuk golongan
gram positif dan hidupnya anairob. Kuman
mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik.
Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan
menyebabkan kejang otot dan saraf perifer
setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada
suhu 65 0 C akan hancur dalam lima menit.
Patofisiologi
Spora masuk (berada dalam
lingkungan anaerobic)  Menjadi
bentuk vegetatif dan berbiak sambil
menghasilkan toksin  toxin
disalurkan ke sel saraf (Cel Body) 
Telah terkumpul dalam sel  Dalam
sumsun belakang toksin menjalar ke
saraf  Menimbulkan kekakuan.
Penularan
•Kecelakaan
•Luka tusuk
•Luka operasi
•Karies gigi
•Radang telingah tengah
•Pemotongan tali pusat
Tanda dan Gejala
Gejala awal yang muncul adalah kekakuan otot rahang
untuk mengunyah, sehingga anak sukar membuka mulut
untuk makan dan minum (trismus). Kekakuan ini pada
neonatus sering menyulitkan saat menyusui karena mulut
bayi “mencucu” seperti mulut ikan. Gejala lain yang muncul
adalah:
•Sulit menelan, gelisah, mudah terkena rangsang.
•Kekakuan otot wajah (rhesus sardonicus)
•Kekakuan otot tubuh (punggung, leher, dan badan)
sehingga tubuh dapat melengkung seperti busur.
•Kekakuan otot perut
•Kejang-kejang
Pemeriksaan penunjang
•Darah
Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N
< 200 mq/dl)
BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan
merupakan indikasi nepro toksik akibat dari
pemberian obat.
Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )

•Skull Ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak


ruang dan adanya lesi

•EEG : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui


tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya
normal.
Pencegahan
Melalui pertolongan persalinan tiga bersih, yaitu bersih tangan,
bersih alas, dan bersih alat.

Bersih tangan
Mencuci tangan secara benar dan menggunakan sarung
tangan pelindung merupakan kunci untuk menjaga lingkungan
bebas dari infeksi.

Bersih alas
Tempat atau alas yang dipakai untuk persaliunan harus
bersih, karena clostrodium tetani bisa menular dari saluran genetal
ibu pada waktu kelahiran.

Bersih alat
Pemotongan tali pusat harus menggunakan alat yang
steril.
Lanjutan....
Pencegahan yang tidak kalah penting yaitu:

Perawatan tali pusat yang baik


Cara yang murah dan baik yaitu mernggunakan
alkohol 70 % dan kasa steril. Jika tali pusat telah lepas,
kompres alkohol diteruskan lagi sampai luka bekas tali
pusat kering betul (selama 3 – 5 hari). Jangan
membubuhkan bubuk dermatol atau bedak kepada
bekas tali pusat karena akan terjadi infeksi.

Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada ibu


hamil
Ibu hamil yang mendapatkan imunisasi TT dalam
tubuhnya akan membentuk antibodi tetanus.
Komplikasi

1. Pneumonia Aspirasi
2. Hiperadrenergik
3. Sepsis akibat infeksi nosokomial
(cth: Bronkopneumonia)
4. Fraktur dari tulang punggung
atau tulang panjang
5. Spasme otot faring
Pengobatan
Kecepatan merujuk sangat berpengaruh
pada angka kematian kasus. Pengobatan di
rumah sakit umumnya meliputi:
•Pemberian antibiotik untuk membunuh
bakteri, biasanya dengan penisilin atau
tetrasilin
•Pemberian anti kejang
•Perawatan luka atau penyakit penyebab
infeksi
•Pemberian anti tetanus serum (ATS)
Penatalaksanaan
Medis
Mengatasi kejang
mengurangi rangsangan atau pemberian obat anti
kejang. Obat yang dapat dipakai adalah kombinasi
fenobarbital dan largaktil.

Pemberian antitoksin
A.T.S (antitetanus serum)

Pemberian antibiotika
penisilin dan pada tali pusat dibersihkan atau di
kompres dengan alkohol 70 % atau betadin 10 %.
Penatalaksanaan keperawatan
Gangguan sistem pernapasan
Pasien tetanus neonatorum setiap kejang selalu disertai sianosis terus-
menerus. Tindakan yang perlu dilakukan :
1. Baringkan bayi dalam sikap kepala ekstensi dengan memberikan
ganjal di bawah bahunya.
2. Berikan O2 secara rumat karena bayi selalu sianosis (1 – 2 L/menit
jika sedang terjadi kejang, karena sianosis bertambah berat O2
berikan lebih tinggi dapat sampai 4 L/menit, jika kejang telah berhenti
turunkan lagi).
3. Pada saat kejang, pasangkan sudut lidah untuk mencegah lidah
jatuh ke belakang dan memudahkan penghisapan lendirnya.
4. Sering hisap lendir, yakni pada saat kejang, jika akan melakukan
nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat pada
mulut bayi.
5. Observasi tanda vital setiap ½ jam .
6. Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat.
Lanjutan....
Kebutuhan nutrisi/cairan
Akibat bayi tidak dapat menetek dan keadaan
payah, untuk memenuhi kebutuhan makananya perlu
diberikan infus dengan cairan glukosa 10 %. Tetapi karena
juga sering sianosis maka cairan ditambahkan bikarbonas
natrikus 1,5 % dengan perbadingan 4 : 1. Bila keadaan
membaik, kejang sudah berkurang pemberian makanan
dapat diberikan melalui sonde dan selanjutnya sejalan
dengan perbaikan bayi dapat diubah memakai dot secara
bertahap.
Lanjutan....
Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Kedua orang tua pasien yang bayinya menderita
tetanus peru diberi penjelasan bahwa bayinya menderita
sakit berat, maka memerlukan tindakan dan pengobatan
khusus, kerberhasilan pengobatan ini tergantung dari daya
tahan tubuh si bayi dan ada tidaknya obat yang diperlukan
hal ini mengingat untuk tetanus neonatorum memerlukan
alat/otot yang biasanya di RS tidak selalu tersedia dan
harganya cukup mahal (misalnya mikrodruip). Selain itu
yang perlu dijelaskan ialah jika ibu kelak hamil lagi agar
meminta suntikan pencegahan tetanus di puskesmas, atau
bidan, dan minta pertolongan persalinan pada dokter,
bidan atau dukun terlatih.
Pengkajian
1. Identitas pasien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,
tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, rencana terapi
2. Identitas orang tua
3. Identitas sudara kandung
4. Keluhan utama/alasan masuk RS
5. Riwayat Kesehatan
6. Riwayat imunisasi
7. Riwayat tumbuh kembang
8. Riwayat Nutrisi
9. Riwayat Psikososial.
10. Riwayat Spiritual.Aktifitas sehari-hari
11. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Lemah, Sulit Menelan, Kejang
Kepala : Posisi menengadah, kaku kuduk, dahi mengkerut, mata
agak tertutup, sudut mulut keluar dan ke bawah.
Lanjutan....
Mulut : kekakuan mulut, mengatupnya rahang, seperti mulut
ikan.
Dada : simetris, kekakuan otot penyangga rongga dada, otot
punggung.
Abdomen : dinding perut seperti papan
Kulit : turgor kurang, pucat, kebiruan.
Ekstremitas : flexi pada tangan, ekstensi pada tungkai,
hipertoni sehingga bayi dapat diangkat bagai sepotong kayu
Respirasi : frekuensi napas, penggunaan otot aksesoris, bunyi
napas, batuk pilek.
Kardiovaskuler : frekuensi, kualitas dan irama denyut jantung,
pengisian kapiler, sirkulasi, berkeringat, hiperpirexia.
Neurologi : tingkat kesadaran, refleks pupil, kejang karena
rangsangan.
Gastrointestinal : bising usus, pola defekasi, distensi.
Perkemihan : produksi urine.
Muskuloskeletal : tonus otot, pergerakkan, kekakuan.
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d meningkatnya sekretsi atau
produksi mukus
2. Gangguan pola nafas b/d jalan nafas terganggu akibat spasme otot-
otot pernafasan
3. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d kekakuan otot
pengunyah
4. Defisit volume cairan b/d intake cairan tidak adekuat
5. Hipertermia b/d efeks toksin
6. Resiko cedera b/d aktifitas kejang
7. Nyeri akut b/d toksin dalam sel saraf dan aktifitas kejang
8. Kecemasan orang tua b/d kemungkinan injury selama kejang
Rencana Asuhan Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan Tujuan & KH Intervensi Rasional
1 Bersihan jalan nafas Tujuan : Kaji status pernafasan setiap 2 Takipneu, pernafasan dangkal
tidak efektif b/d anak – 4 jam ,frekwensi, irama. dan gerakan dada tak simetris
meningkatnya memperlihatk sering terjadi karena adanya
sekretsi atau produksi an kepatenan sekret
mukus. jalan nafas Lakukan pengisapan lendir Menurunkan resiko aspirasi
dengan hati-hati dan pasti bila atau aspeksia dan osbtruksi.
Kriteria Hasil ada penumpukan sekret
:
jalan nafas Gunakan sudip lidah saat Menghindari tergigitnya lidah
bersih, tidak kejang dan memberi sokongan
ada sekresi pernafasan jika diperlukan.

Miringkan ke samping untuk Memudahkan dan meningkatkan


drainage aliran sekret dan mencegah
lidah jatuh yang menyumbat
jalan nafas.
Observasi oksigen sesuai Memaksimalkan oksigen untuk
program kebutuhan tubuh dan membantu
dalam pencegahan hipoksia.

Pemberian sedativa Diazepam Mengurangi rangsangan kejang


drip 10 Amp (hari pertama dan
setiap hari dikurangi 1 Amp)

Pertahankan kepatenan jalan Memaksimalkan fungsi


nafas dan bersihkan mulut pernafasan untuk memenuhi
kebutuhan tubuh terhadap
oksigen dan pencegahan
hipoksia
2 Gangguan pola Tujuan : Monitor irama pernafasan Indikasi adanya penyimpangan atau
nafas b/d jalan Pola nafas teratur dan kelaianan dari pernafasan dapat
nafas normal dilihat dari frekuensi, jenis
terganggu pernafasan,kemampuan dan irama
akibat spasme Kriteria Hasil : nafas.
otot-otot •Hipoksemia teratasi,
pernafasan, mengalami perbaikan Atur posisi luruskan jalan Jalan nafas yang longgar dan tidak
pemenuhan kebutuahn nafas. ada sumbatan proses respirasi dapat
oksigen berjalan dengan lancar.
•Tidak sesak, pernafasan
normal 16-18 kali/menit Observasi tanda dan Sianosis merupakan salah satu tanda
•Tidak sianosis. gejala sianosis manifestasi ketidakadekuatan suply
O2 pada jaringan tubuh perifer .

Pemberian oksigenasi Pemberian oksigen secara adequat


dapat mensuplai dan memberikan
cadangan oksigen, sehingga
mencegah terjadinya hipoksia.
Observasi tanda-tanda Dyspneu, sianosis merupakan tanda
vital tiap 2 jam terjadinya gangguan nafas disertai
dengan kerja jantung yang menurun
timbul takikardia dan capilary refill
time yang memanjang/lama.

Observasi timbulnya gagal Ketidakmampuan tubuh dalam


nafas. proses respirasi diperlukan
intervensi yang kritis dengan
menggunakan alat bantu pernafasan

Kolaborasi dalam Kompensasi tubuh terhadap


pemeriksaan analisa gas gangguan proses difusi dan perfusi
darah. jaringan dapat
3 Pemenuhan Tujuan : Jelaskan faktor yang Dampak dari tetanus adalah
nutrisi kurang Kebutuhan nutrisi mempengaruhi kesulitan dalam adanya kekakuan dari otot
dari terpenuhi. makan dan pentingnya makanan pengunyah sehingga klien
kebutuhan b/d bagi tubuh. mengalami kesulitan menelan
kekakuan otot Kriteria Hasil : dan kadang timbul refflek balik
pengunyah BB optimal atau kesedak. Dengan tingkat
Intake adekuat pengetahuan yang adequat
diharapkan klien dapat
berpartsipatif dan kooperatif
dalam program diit
Kolaborasi
Pemberian diit TKTP cair, lunak Diit yang diberikan sesuai
atau bubur kasar. dengan keadaan klien dari
tingkat membuka mulut dan
proses mengunyah

Pemberian carian per IV line Pemberian cairan perinfus


diberikan pada klien dengan
ketidakmampuan mengunyak
atau tidak bisa makan lewat
mulut sehingga kebutuhan
nutrisi terpenuhi

Pemasangan NGT bila perlu NGT dapat berfungsi sebagai


masuknya makanan juga untuk
memberikan obat
4 Defisit velume Tujuan : Kaji intake dan out put setiap Memberikan informasi
cairan b/d Anak tidak 24 jam. tentang status cairan
intake cairan memperlihatkan /volume sirkulasi dan
tidak adekuat kekurangan velume kebutuhan penggantian
cairan
Kaji tanda-tanda dehidrasi, Indikator keadekuatan
Kriteria Hasil : membran mukosa, dan turgor sirkulasi perifer dan
Membran mukosa kulit setiap 24 jam hidrasi seluler
lembab, Turgor kulit
baik Berikan dan pertahankan Mempertahankan
intake oral dan parenteral kebutuhan cairan tubuh
sesuai indikasi ( infus 12
tts/m, NGT 40 cc/4 jam) dan
disesuaikan dengan
perkembangan kondisi pasien

Monitor berat jenis urine dan Penurunan keluaran


pengeluarannya urine pekat dan
peningkatan berat jenis
urine diduga dehidrasi/
peningkatan kebutuhan
cairan

Pertahankan kepatenan NGT Mempertahankan intake


nutrisi untuk kebutuhan
tubuh
5 Hipertermia Tujuan : Atur suhu lingkungan yang Iklim lingkungan dapat
b/d efeks Suhu tubuh nyaman mempengaruhi kondisi dan suhu
toksin normal tubuh individu sebagai suatu proses
adaptasi melalui proses evaporasi
Kriteria Hasil : dan konveksi
Suhu 36-37oC,
hasil lab sel Pantau suhu tubuh tiap 2 Identifikasi perkembangan gejala-
darah putih jam gejala ke arah syok exhaution
(leukosit) antara
5.000-10.000/mm3 Berikan hidrasi atau minum Cairan-cairan membantu
yang cukup adequat menyegarkan badan dan merupakan
kompresi badan dari dalam

Lakukan tindakan teknik Perawatan lukan mengeleminasi


aseptik dan antiseptik pada kemungkinan toksin yang masih
perawatan luka berada disekitar luka.

Berikan kompres dingin bila Kompres dingin merupakan salah


tidak terjadi ekternal satu cara untuk menurunkan suhu
rangsangan kejang tubuh dengan cara proses konduksi.

Kolaborasi
Laksanakan program Obat-obat antibakterial dapat
pengobatan antibiotik dan mempunyai spektrum lluas untuk
antipieretik. mengobati bakteeerria gram positif
atau bakteria gram negatif.
Antipieretik bekerja sebagai proses
termoregulasi untuk mengantisipasi
panas

pemeriksaan lab leukosit Hasil pemeriksaan leukosit yang


meningkat lebih dari 10.000 /mm3
mengindikasikan adanya infeksi dan
atau untuk mengikuti perkembangan
pengobatan yang diprogramkan
6 Resiko cedera Tujuan : Identifikasi dan hindari Menghindari
b/d aktifitas Tidak terjadi cedera faktor pencetus kemungkinan terjadinya
kejang cedera akibat dari
Kriteria hasil : stimulus kejang
Klien tidak ada cedera
Tidur dengan tempat Tempatkan pasien pada Menurunkan
tidur yang terpasang tempat tidur pada pasien kemungkinan adanya
pengaman yang memakai pengaman trauma jika terjadi kejang

Sediakan disamping Antisipasi dini


tempat tidur tangue spatel pertolongan kejang
akan mengurangi resiko
yang dapat memprberat
kondisi klien

Lindungi pasien pada saat Mencegah terjadinya


kejang benturan/trauma yang
memungkinkan
terjadinya cedera fisik

Catat penyebab mulai Pendokumenmtasi yang


terjadinya kejang akurat, memudahkan
pengontrolan dan
identifikasi kejang
7 Nyeri akut Tujuan : Kaji tingkat nyeri. membantu
b/d toksin Rasa nyeri berkurang menentukan
dalam sel intervensi yang akan
saraf dan Kriteria Hasil : dilakukan
aktifitas anak sedikit tenang
kejang dan tidak menunjukan Pemberian anti kejang Membantu
muka yang dan penenang. menurunkan rasa
menyeringai dan tidak nyeri
gelisah
Hindari hal-hal yang Meminimalkan
dapat menimbulkan terjadinya nyeri
rangsangan.

Berikan suasana Suasana yang tenang


lingkungan yang memberikan rasa
tenang. nyaman seingga
kualitas nyeri dapat
menurun

Tempatkan pada Posisi pasien


tempat tidur yang mempengaruhi
nyaman. tingkat kualitas nyeri
9 Kecemasan Tujuan : Jelaskan tentang Mengetahui kondisi
orang tua Orang tua aktivitas kejang yang sakit anaknya,
b/d menunjukan rasa terjadi pada anak. membuat orang tua
kemungkina cemas berkurang merasa lebih tenang
n injury menghadapi situasi
selama Kriteria Hasil :
kejang Orang tua dapat Ajarkan orang tua Orang tua merupakan
mengekspresikan untuk sumber informasi
perasaan tentang mengekspresikan yang berkaitan
kondisi anak yang perasaanya tentang dengan keadaan
dialami. kondisi anak. anaknya

Jelaskan semua Mengetahui manfaat


prosedur yang akan di pengobatan akan
lakukan. membuat orang tua
percaya akan
kesembuhan anaknya

Gunakan komunikasi Membuat perasaan


dan sentuhan yang nyaman agar
teurapeutik interveni berjalan
dengan baik
TERIMA KASIH