Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN POLIOMIELITIS

KELOMPOK IV
 Pengertian
 Poliomielitis adalah penyakit akut yang
menyerang perifer yang disebabkan oleh
virus polio.
 Gejala : Kelumpuhan (Widoyono, 2011).
 Virus polio banyak terdapat pada feces
manusia (Entjang, 2001).
 Etiologi
 Virus polio termasuk genus enterovirus.
Terdapat tiga virus yaitu tipe 1, 2 dan 3.
Tipe 1  mudah diisolasi, diikuti tipe 3.
Tipe 2 paling jarang diisolasi.
Virus polio tahan terhadap sabun,
detergen, alkohol, eter dan kloroform.
Namun virus ini akan mati dengan
pemberian formaldehida 0,3 %, klorin,
pemanasan, & sinar ultraviolet.
Patofisiologi
Virus polio  mulut, hidung 
tenggorokan & saluran pencernaan 
sistem pembuluh darah & pembuluh
getah bening  aliran darah  sistem
saraf pusat  melemahnya otot 
paralisis.
 Gejala dan tanda
1. Nyeri tenggorokan
2. Tidak nyaman pada perut
3. Demam ringan
4. Lemas
5. Nyeri kepala ringan
Gejala klinis yang mengarah pada
kecurigaan serangan virus polio adalah
adanya demam dan kelumpuhan akut.
Kaki biasanya lemas tanpa gangguan
saraf perasa.
Kelumpuhan biasanya terjadi pada
tungkai bawah, asimetris, dan dapat
menetap selamanya yang bisa disertai
gejala nyeri kepala dan muntah.
Terdapat 3 pola dasar pada infeksi polio:
1. Infeksi Subklinis (tanpa gejala atau
berlangsung kurang dari 72 jam).
a. Demam ringan
b. Sakit kepala
c. Tidak enak badan
d. Nyeri tenggorokan
e. Tenggorokan tampak memerah
f. Muntah.
2. Non Paralitik (gejala berlangsung 1-2 minggu)
a. Kaku duduk
b. Muntah
c. Diare
d. Kelelahan yang luar biasa
e. Rewel
f. Nyeri atau kaku punggung, lengan, tungkai dan
perut.
g. Ruam kulit atau luka di kulit yang terasa nyeri.
h. Kekakuan otot.
3. Paralitik
a. Demam timbul 5-7 hari sebelum gejala lainnya
b. Sakit kepala
c. Kaku duduk dan punggung
d. Kelemahan otot asimetrik
e. Onsetnya cepat
f. Segera berkembang
g. Peka terhadap sentuhan
h. Sulit untuk memulai proses berkemih
i. Sembelit
j. Perut kembung
k. Gangguan menelan
l. Nyeri dan kejang otot.
Masa inkubasi
Umumnya 7-14 hari untuk kasus paralitik,
dengan rentang waktu antara 3-35 hari.
Pada akhir masa inkubasi dan masa awal
gejala, pada penderita polio sangat poten untuk
menularkan penyakit. Setelah terpajan dari
penderita, virus polio dapat ditemukan pada
sekret tenggorokan 36 jam kemudian dan
masih bisa ditemukan sampai satu minggu,
serta pada tinja dalam waktu 72 jam sampai 3-
6 minggu atau lebih.
Pengobatan
Pengobatan pada penderita polio tidak
spesifik. Pengobatan ditujukan untuk
meredakan gejala dan pengobatan suportif
untuk meningkatan stamina penderita.
 Pencegahan dan pemberantasan
Program pencegahan & pemberantasan :
1. Eradikasi polio (erapo)
Sistem surveilans yang mantap dibuktikan
oleh :
Zero report, yaitu laporan mingguan dari unit
pelayanan kesehatan (puskesmas dan rumah sakit)
lengkap dan tepat meskipun tidak ditemukan 1
kasus AFP pun.
2. Pengamanan virus polio di laboratorium.
3. Imunisasi
Terdapat 2 jenis vaksin polio di Indonesia :
a. OPV  merangsang pembentukan antibody
humoral yang akan menghambat perjalanan
virus ke otak, dan akan menstimulasi
terbentuknya antibody lokal di usus yang
menghambat penempelan virus polio pada
dinding usus.
b. IPV hanya akan merangsang pembentukan
antibodiy humoral saja.
IPV  virus yang dimatikan
OPV  virus hidup yang dilemahkan
Risiko terjadinya kasus polio karena vaksin
(VDPV, vaccine derived polio virus) lebih
tinggi pada penggunaan OPV.
Pemeriksaan penunjang
1. Viral isolation
Polio virus dapat dideteksi dari faring pada
seseorang yang diduga terkena penyakit
polio.
Pengisolasian virus diambil dari cairan
cerebrospinal adalah diagnosis yang jarang
mendapatkan hasil yang akurat.
2. Uji serology
Uji serology dilakukan dengan
mengambil sampel darah dari penderita.
Jika pada darah ditemukan zat antibody
polio maka diagnosis bahwa orang
tersebut terkena polio adalah benar.
3. Cerebrospinal fluid (CSF)
CSF di dalam infeksi polio virus pada
umumnya terdapat peningkatan jumlah
sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3
terutama adalah sel limfositnya. Dan
kehilangan protein sebanyak 40-50
mg/100 ml.
 Komplikasi
1. Komplikasi yang paling berat dari
penyakit polio adalah kelumpuhan yang
menetap.
2. Beberapa penyakit akibat komplikasi polio
seperti Hiperkalsuria, Malena, pelebaran
lambung akut, Hipertensi ringan,
Pneumonia, Ulkus dekubitus, Emboli paru,
dan Psikosis.
 Rencana Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Riwayat kesehatan
Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan
riwayat imunitas.
b) Pemeriksaan fisik
1) Nyeri kepala
2) Paralisis
3) Reflex tendon berkurang
4) Kaku kuduk
5) Brudzinky
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b/d agens-agens penyebab cedera
(biologis).
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan susah menelan,
muntah.
c. Hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi.
d. Gangguan mobilitas fisik berhubungan
dengan kelumpuhan anggota gerak.
e. Gangguan citra tubuh b/d penyakit,
biofisik, kognitif/persepsi.
f. Risiko jatuh b/d penurunan kekuatan
ekstremitas bawah, hambatan mobilitas
fisik.
g. Ansietas b/d ancaman atau perubahan
pada status peran, fungsi peran, lingkungan,
status kesehatan.
h. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan
kognitif, kesalahan dalam memahami
informasi yang ada.
DIAGNOSA DAN INTERVENSI
a. Nyeri akut b/d agens-agens penyebab cedera
(biologis).
• Pastikan durasi/episode masalah, siapa yang telah
dikonsulkan, dan obat dan/atau terapi apa yang telah
digunakan.
• Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala
0-10, karakteristiknya (misal: berat, berdenyut,
konstan), likasinya, lamanya, faktor apa yang
memperburuk atau meredakan.
• Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya
otak/meningeal/infeksi sinus, trauma servikal,
hipertensi atau trauma.
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d susah menelan.
1) Kaji status nutrisi secara kontinu, selama perawatan setiap
hari, perhatikan tingkat venergi : kondisi kulit, kuku,
rambut, rongga mulut, keinginan untuk makan/anoreksia.
2) Timbang berat badan setiap hari dan dibandingkan dengan
berat badan saat penerimaan.
3) Dokumentasikan masukan oral selama 24 jam, riwayat
makanan, jumlah kalori dengan tepat.
c. Hipertermia b/d proses infeksi.
 Pantau suhu pasien (derajat dan pola); perhatikan
menggigil/diaforesis.
 Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat
tidur, sesuai indikasi.
 Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan
alkohol.
d. Gangguan mobilitas fisik b.d kelumpuhan anggota gerak.
1) kaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal
dan dengan cara yang teratur. Klasifikasikan melalui skala 0-
4.
2) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (terlentang, mirirng), dan
sebagainya dan jika memungkinkan bisa lebih sering jika
diletkkan dalam posisi bagian yang terganggu.
3) Letakkan pada posisi telungkup satu kali atau dua kali
sehari jika pasien dapat mentoleransinya.
4) Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi.
e. Gangguan citra tubuh b/d penyakit, biofisik,
kognitif/persepsi.
 Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit,
harapan masa depan.
 Diskusikan arti dari kehilangan/perubahan pada pasien/orang
terdekat. Memastikan bagaimana pandangan pribadi pasien dalam
memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek
seksual.
 Diskusikan persepsi pasien mengenai bagaimana orang dekat
menerima keterbatasan.
 Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan.
f. Risiko jatuh b/d penurunan kekuatan ekstremitas
bawah, hambatan mobilitas fisik.
 Peningkatan mekanika tubuh: Memfasilitasi
penggunaan postur dan pergerakan dalam aktivitas
sehari-hari untuk mencegah keletihan dan
ketergantungan atau cedera muskuloskeletal.
 Manajemen lingkungan: Kemanan: Memantau dan
memanipulasi lingkungan fisik untuk memfasilitasi
keamanan.
 Terapi latihan fisik: Keseimbangan: Menggunakan
aktivitas, postur, dan pergerakan tertentu untuk
mempertahankan, meningkatkan, dan mengembalikan
keseimbangan tubuh.
g. Ansietas b/d ancaman atau perubahan pada
status peran, fungsi peran, lingkungan, status
kesehatan.
 Berikan pasien/orang terdekat salinan “Hak-hak Pasien”
dan tinjau bersama mereka. Diskusikan kebijakan
fasilitas, mis., jadwal kunjungan.
 Tentukan sikap pasien/orang terdekat kearah
pemerimaan pada fasilitas dan harapan masa depan.
 Bantu keluarga/orang terdekat untuk jujur dengan
pasien mengenai penerimaan.
 Kaji tingkat ansietas dan diskusikan penyebabnya bila
mungkin.
h. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan kognitif,
kesalahan dalam memahami informasi yang
ada.
 Evaluasi tipe/derajat dari gangguan persepsi sensori.
 Diskusikan keadaan patologis yang khusus dan kekuatan
pada individu.
 Tinjau ulang keterbatasan saat ini dan diskusikan
rencana/kemungkinan melakukan kembali aktivitas
(termasuk hubungan seksual).
 Tinjau ulang/pertegas kembali pengobatan yang
diberikan. Identifikasi cara meneruskan program setelah
pulang.
Terima kasih