Anda di halaman 1dari 25

Anggota Kelompok 6:

1. Ahmad Junaidi Firdaus


2. Rizal Hidayat 
3. Karimatus Syangadah
4. Nur Alfiah
5. Siti Khotimah
6. Abellya Setya Priyanto
7. Muhammad Zakky Imama
8. Catur Indah Palupi Zahrotul Ihwan

Tokoh-Tokoh Pendidikan
Indonesia
Dr Soetomo
Dokter Sutomo yang bernama asli Subroto ini lahir di desa Ngepeh, Jawa Timur, 30 Juli 1888.
Ketika belajar di STOVIA (Sekolah Dokter), ia bersama rekan-rekannya, atas saran dr. Wahidin

1908, yang kemudian 


Sudirohusodo mendirikan Budi Utomo (BU), organisasi modem pertama di Indonesia, pada tanggal 20 Mei
diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Kelahiran BU sebagai Perhimpunan nasional Indonesia, dipelopori oleh para pemuda pelajar STOVIA
(School tot Opleiding voor Indische Artsen) yaitu Sutomo, Gunawan, Suraji dibantu oleh Suwardi
Surjaningrat, Saleh, Gumbreg, dan lain-lain. Sutomo sendiri diangkat sebagai ketuanya.
Tujuan perkumpulan ini adalah kemajuan nusa dan bangsa yang harmonis dengan jalan memajukan
pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, kebudayaan, mempertinggi cita-cita
kemanusiaan untuk mencapai kehidupan bangsa yang terhormat.
Kemudian kongres peresmian dan pengesahan anggaran dasar BU diadakan di Yogyakarta 5
Okt 1908. Pengurus pertama terdiri dari: Tirtokusumo (bupati Karanganyar) sebagai ketua; Wahidin
Sudirohusodo (dokter Jawa), wakil ketua; Dwijosewoyo dan Sosrosugondo (kedua-duanya guru
Kweekschool), penulis; Gondoatmodjo (opsir Legiun Pakualaman), bendahara; Suryodiputro (jaksa kepala
Bondowoso), Gondosubroto (jaksa kepala Surakarta), dan Tjipto Mangunkusumo (dokter di Demak)
sebagai komisaris.
Sutomo setelah lulus dari STOVIA tahun 1911, bertugas sebagai dokter, mula-mula di Semarang, lalu
pindah ke Tuban, pindah lagi ke Lubuk Pakam (Sumatera Timur) dan akhirnya ke Malang. Saat bertugas
di Malang, ia membasmi wabah pes yang melanda daerah Magetan. Ia banyak memperoleh pengalaman
dari seringnya berpindah tempat tugas. Antara lain, ia semakin banyak mengetahui kesengsaraan rakyat
dan secara langsung dapat membantu mereka. Sebagai dokter, ia tidak menetapkan tarif, bahkan
adakalanya pasien dibebaskan dari pembayaran.
Proses Perjuangan Dr Soetomo Mengenai Pendidikan di Indonesia

Dr Soetomo lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, Jawa Timur, 30 Juli 1888. Pada tahun 1903,
Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding va, Inlandsche Artsen, Batavia.


Selama hidupnya, ia dikenal sebagai mediator yang baik untuk mendamaikan 2 pihak yang sedang
bertikai. Ia juga sangat peduli pada kemajuan pendidikan pemuda Indonesia. Ia bersama kawan-
kawan STOVIA memperkenalkan ide memberikan bantuan dana bagi para pelajar pribumi
berprestasi tapi miskin. Ide ini berkembang dengan bergabungnya sekelompok priyayi Jawa untuk
mendirikan Boedi Oetomo.

Organisasi Boedi Oetomo adalah bentuk kesuksesan Dr Soetomo dalam menyatukan


priyayi profesional, birokratis, berpendidikan barat dan tradisional dalam satu organisasi yang
selaras dan serasi. Boedi Otomo melambangkan pandangan masyarakat bagaimana dapat dibentuk
serasi seperti orkes alat musik kesayangannya, gamelan. Setiap orang dan setiap kelompok
memainkan peran yang telah ditetapkan dalam menyelaraskan melodi dalam orkes gamelan.

Sepanjang hidupnya, Soetomo banyak mengabdikan diri di bidang sosial dan budaya
dengan membangun rumah sakit, panti asuhan, rukun tani, lembaga kesehatan umum, bank desa,
dan koperasi ketimbang berpolitik praktis melawan penjajah. Baru setelah berdirinya Partai Indonesia
Raya (1935) jalur perlawanan Soetomo beralih melawan Belanda. Dr Soetomo meninggal pada
tanggal 30 Mei 1938 diSurabaya, Jawa Timur. Jasa-jasanya akan selalu terkenang oleh bangsa
Indonesia.
R.A. Kartini
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879 – meninggal di
Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat
disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini


dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri
dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera
setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya
bernama M.A. Ngasirah, putri dari NyaiHaji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru
agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga
Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana
Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek
moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu
mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah
bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan
langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara
menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara
sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV,
diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu
bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak Kartini, Sosrokartono,
adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan
bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi
setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Pemikiran

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu,
terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan


gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan
perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide
dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-
werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid
(yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri
kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan
dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum
muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak
bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal,
dan harus bersedia dimadu.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-
cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju
karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap
saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih
terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita.
Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya
mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan
Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Buku
Habis Gelap Terbitlah Terang


Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu
dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka.
Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah
surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat
Saudara.
Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam format yang
berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini
dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa
Jawa dan bahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan
buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan.
Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan
pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga
menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht,
adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar
menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman
kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi
ke dalam lima bab pembahasan.
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya


Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya
Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat
ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di
Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut.
Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup
sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi
lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat
Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan
seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang
dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba
sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini
yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini,
Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai
dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Dewi Sartika


Dewi Sartika dilahirkan di Bandung pada tanggal 4 Desember 1884. Dewi
sartika merupakan pahlawan nasional yang dihargai karena jasanya dalam pendidikan
bagi kaum wanita. Ia meninggal di Tasikmalaya pada 11 September 1947 dan
dimakamkan di Kompleks Pemakaman Bupati Bandung, bertempat di Jalan Karang
Anyar Bandung. Dibesarkan dalam keluarga Sunda dengan kelas sosial bangsawan
yang juga pejuang kemerdekaan, membuatnya juga memiliki rasa nasionalisme yang
tinggi. Ayahnya bernama Raden Angga Somanegara, Pejuang yang pernah diasingkan
ke Ternate dan juga meninggal di Ternate. Ibunya bernama Raden Ajeng Rajapernas.
Raden Dewi Sartika menikah dengan seorang laki-laki yang mempunyai visi dan misi
yang sama, yaitu Raden Kanduruhan Agah Suriawinata. Suaminya merupakan guru di
Sekolah Karang Pamulang yang dahulunya adalah Sekolah Latihan Guru. Pernkahanya
dilaksanakan pada tahun 1906.
Masa Muda Dewi Sartika
Sejak masih kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan minat dan cita-citanya
dalam dunia pendidikan. Setelah ayahnya meninggal di Ternate, Raden Dewi Sartika
tinggal bersama pamannya (kakak dari ibunya) yang menjabat sebaai patih di
Cicalengka, Bandung, Jawa Barat pada waktu itu. Dwi sartika sejak kecil sangat berjiwa
pendidik. Ketika anak-anak seusianya hanya bermain dan sesekali belajar, ia kadang

masih belia. 
sudah menjadi guru bagi teman-teman sebayanya. Baca dan tulis sudah dikuasai sejak ia

Riwayat Pendidikan Dewi Sartika


Raden Dewi Sartika mengenyam bangku pendidikan di salah satu Sekolah
Dasar di Cicalengka, Bandung. Karena kepiawaiannya dalam menggunakan bahasa
Belanda, ia sesekali mengajarkan baca, tulis, sekaligus bahasa Belanda kepada teman-
teman sebayanya yang merupakan anak dari pembantu di Kepatihan. Bermodal
peralatan yang sederhana, Dewi Sartika kecil memperagakan praktik yang ia dapatkan
di sekolah kepada teman-temannya yang belum bisa membaca dan menulis. Sesekali ia
mengunakan papan bilik kandang kereta, arang, atau pecahan genting untuk
membantunya menjelaskan kepada teman-temannya saat umurnya masih sangat belia,
yaitu 10 tahun.
Cicalengka menjadi terkenal karena kemampuan Dewi Sartika, perempuan
dengan kemampuan baca, tulis, serta bahasa Belanda. Ia tidak segan-segan mengajari
teman-teman sebayanya semua ilmu yang fia punya. Ia ingin agat mereka bisa
mempunyai kemampuan seperti dirinya. Dewi Sartika mempunyai impian, yakni ingin
mendirikan sekolah. Hal tersebut cukup membuatnya gigih berjuang demi melihat
teman sebaya perempuan di sekitarnya dapat mendapat kan ilmu pengetahuan dan
pendidikan yang selama ini ia dapatkan.
Dewi Sartika Berjuang Mendirikan Sekolah
Dewi Sartika sangat bersemangat dalam mendirikan sekolah, hingga akhirnya pada tahun
1904, sekolah yang diberi nama “Sekolah Istri” berhasil didirikan. Pendirian sekolah dibantu oleh R.A.A
Martanegara, kakeknya dan juga Inspektur Kantor Pengajaran pada saat itu, Den Hamer. Sekolah istri
awalnya hanya memiliki 2 kelas, sehingga tidak dapat menampung berbagai aktivitas di sekolah. Hal


tersebut disiasati Dewi Sartika dengan menggunakan ruang penelitian Bandung sebagai salah satu ruang
belajar kelas.murid di Sekolah Istri terhitung sebanyak 20 oeang yang diajarkan berbagai cara membaca,
menulis, berhitung, pelajaran agama, dan beberapa kesenian seperti menyulam dan merenda. Respon
positif dari masyarakat diberikan kepada Sekolah Istri. Murid-muridnya bertambah banyak. Semua ruang
kelas tidak ckup bahkan ruang kepatihan Bandung yang dipinjamkan juga sudah tidak muat.
Sekolah Istri yang didirikan Dewi Sartika kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih luas
untuk menyiasatinya, agar dapat menampung seluruh murid dan kegiatan belajar mengajar dapat
semaksimal mungkin dilaksanakan. Setelah 6 tahun berdiri, sekitar tahun 1910 nama Sekolah Istri
berganti nama menjadi Sekolah Keutamaan Istri. Beberapa struktur, bahkan pelajarannya juga berubah
(bertambah lebih banyak). Dewi Sartika mendidik anak-anak dengan kesabaran dan keuletan, dengan
harapan agar kelak perempuan tersebut menjadi perempuan hebat, baik, mandiri, luwes, dan juga
memiliki keterampilan. Pelajaran ang berhubungan dengan pembinaan rumah tanga juga diberikan
dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah Keutamaan Istri untuk mendidik menjadi ibu rumah tangga
yang terampil.
Ketika sekolah kekurangan dana. Dewi Sartika mengerahkan segala kemampuan yang
dimiliki untuk terus menjalankan sekolahnya dan menanggung biaya operasional sekolah. Hal tersebut
tidak dijadikan beban namun kepuasan batin karena telah berhasil membuat kaum perempuan menjadi
kaum lebih cerdas dan terampil. Dukungan dari semua pihak pun ia terima, termasuk dari keluarga
suaminya, Raden Kanduruan Agah Suriawinata baik dalam segi tenaga maupun sumbangsih pemikiran
yang membuatnya semakin bersemangat menncerdaskan bangsanya yang kala itu sedang dalam
penjajahan pemerintah Belanda.
Biografi KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut


penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek,
Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Beliau wafat pada tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian
dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang.


Kiprah KH. Hasyim Asy'ari dalam Pendidikan di Indonesia

Salah satu lembaga pendidikan di Indonesia yang mendapat tempat di


masyarakat adalah pesantren. Kata Pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe di
depan dan akhiran an yang mempunyai arti tempat tinggal para santri. Prof. Jhons
berpendapat bahwa istilah santri dari bahasa tamil yang artinya guru mengaji, sedangkan
C.C. Berg berpendapat bahwa kata santri berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India
berarti orang yang tahu buku-buku suci agama hindu. Sedangkan kata shastri berasal dari
istilah shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang
ilmu pengetahuan.
Pesantren merupakan istilah tempat pendidikan yang berada di pulau Jawa, di
Sumatra Barat di kenal dengan istilah surau, di Aceh sering disebut dengan istilah
meunasah, rangkang dan dayah. Meskipun penyebutannya beda-bada, tetapi esensinya
tetap sama yaitu lembaga tempat mengaji dan mendalami ajaran-ajaran agama Islam.
Hasyim Asy'ari mendirikan pesantren Tebuireng Jombang, desa yang di
pandang hitam untuk menyebarkan ilmu dan agama. Masyarakat Tebuireng pada saat itu
mengalami perubahan nilai akibat penanaman tebu dengan sistem sewa, yang akhirnya
melahirkan kebiasaan berjudi, mabuk-mabukan, perzinaan dan perampokan. Keadaan
inilah yang menarik Hasyim Asy'ari mendirikan pesantren di tempat tersebut. Dan
pesantren Tebuireng resmi berdiri pada tahun 1899 M/ 1324 H.
Mendirikan Pesantren Tebuireng
Belajar di Mekah, Arab Saudi
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di
Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh
Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh
Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid


Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.
Tahun 1899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik
kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Kyai
Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang
sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim
istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi
Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan
berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.
Tahun 1899, Kyai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di
Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik
yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras,
kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari
bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal. Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren
Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan,
sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal.
Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat
menjadi 28 orang. Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kyai Hasyim kembali
harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah
menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim kemudian menikah kembali
dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Muhammad Natsir
Muhammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok,
Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908. Muhammad Natsir adalah seorang tokoh ulama, politisi, dan
pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah pria yang dikenal murah senyum yang dikenal
sbagai Datuk Sinaro Pamjang. Beliau merupakan pendiri sekaligus pemimmpin partai politik
Masyumi, dan tokoh islam terkemuka di Indonesia. Di dalam negeri, ia pernah menjabat sebagai


menteri dan pedana menteri Indonesia, sedangkan di kancah internasional, ia menjabat sebagai
presiden Liga Muslim se Dunia ( World Muslim Congres) dan Ketua Dewan Masjid se Dunia.
Setelah menjadi perdana menteri, karir politiknya banyak dihambat oleh Soekarno
karena selalu berseberangan paham. Akhir tahun 1960, kurang dari satu tahun setelah
pembacaan dekrit persiden tahun 1959, partai yang pernah dipimpinnya yaitu Masyumi,
dipaksa membubarkan diri oleh Soekarno. Sejak saat itu, Natsir bersama politisi-politisi
masyumi lain baik banyak bergerak di balik layar. Terlebih setelah Soharto naik, Natsir dan
kawan-kawan yang dicap sebbagai “ekstri kanan” benar-benar disingkirkan dari panggung
perpolitikan Indonesia dengan berbagai cara. Natsirpun akhirnya lebih memilih menekuni
bidang dakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang
mengantarkannya menjadi wakil presiden Rabhitah Alam Islam yang bermakas di Karachi
samapai akhir hayatnya pada tahun 1993. Sebagai politisi, sekali lagi, reputasi Natsir sangat
dikeal orang. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa sebelum terjun ke dunia politik Natsir adalah
seorang pejuang pendidikan yang sepertinya layak disejejerkan dengan Ki Hajar Dewantara dan
tokoh-tokoh pendidikan lainnya. Bahkan prestasi Natsir di dunia pendidikan perlu diberi
catatan tersendiri. Selain keberaniannya mendirikan wilde school ( sekolah liar), perhatiannya
yang besar atas penanaman nilai-nilai islam dalam pendidikan, Natsir juga amat peduli dengan
nasib pendidikan rakyat jelata yang tak punya hak pendidikan di masa itu. Bahkan, ketika
menjadi perdana menteri salah satu prestasinya adalah keputusannya bersama menteri agama,
Wahid Hasyim, untuk mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum.
Perhatiannya pada pendidikan bermula, saat Natsir masih dudk di AMAS ( Algemene
Midele School) di Bandung dan telah cuckup lama belajar aam dibawah bimbingan A. Hssan. Natsir
melihat knyataan bahwa tingkat kesejahteraan rakyat pribumi kebanyakan yang hampir semua umat
islam jauh di bawah kesejahteraan Belanda yang jelas-jelas telah menindas mereka. Lebih
menyedihkan Natsir, banyak umat islam menganggap hal ini sebagai takdi tuhan yang harus mereka
terima.


Di sisi lain Natsir tahu bahwa di surau-surau dan pesantren-pesantren diajarkan ilmu-
ilmu agama secara cukup mendalam. Akan tetapi kelemahannya, surau-surau dan pesantren-
pesantren tidak mengajarkan ilmu-ilmu modern untuk bekal para siswa di dunia ini.
Oleh sebab itu, perlu ada sekolah-sekolah modern tetapi juga mengajarkan ajaran agama
islam kepada pelajarnya. Gagasan itu kemudian dibicarakan oleh Natsir kepada A Hassan dan
kawan-kawannya yang lain. Semuanya setuju, tetapi kemudian mereka kebingungan siap yang akan
menjadi gurunya. Akhirnya Natsir memutuskan untuk menjadi gurunya dan kawan-kawannya. Hal
ini mendorong Natsir untuk menekuni buku-buku yang berkaitan dengan pendidikan, baik
berbahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis.
Akhirnya Natsir memberanikan untuk membuka sekolah. Awalnya diselenggarakan
semacam kursus di sore hari. Pelajarannya terdiri dari pengetahuan umum dan bahsa inggris selain
itu agama. Bulan-bulan berikutnya ternyata yang mendaftar banyak. Kesulitan serius adalah dibidang
keuangan, namu kesulitan tersebut dapat teratasi berkat bantuan hji Muhammad Yunus, salah
seorang saudagar kaya pendiri Persis, yang selalu memberikan bantuan bagi kepentingan
pendidikan.
Pada bulan Maret 1932, diselenggarakan pertemuan dengan kaum muslimin yang
perhatian terhadap pendidikan islam. Pertemuan ini menyepakati berdirinya lembaga pendidikan
ysng bernama “Pendidikan Islam” yang cikal bakalnya adalah kursus sore yang dirintis oleh Natsir.
Adapun program yang dijalankannya antara lain: mendirikan sekolah-sekolah seperti Frobel School
(Taman Kanak-kanak), HIS, MULO, serta pertukangan dan perdagangan, serta mngadakan asrama,
mengadakan kursus-kursus, ceramah-ceramah. Selain itu juga dibuka kweekschool (sekolah guru).
Ahmad Dahlan
K.H. Ahmad Dahlan Lahir di Kauman Yogyakarta (1285 H bertepatan 1868 M) –
dan wafat pada tanggal 23 Februari 1923 (55 th) dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta.
Oleh Pemerintah RI diangkat jadi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia dengan SK. Nomor 657


tahun 1961.
K.H.Ahmad Dahlan bin K.H.Abubakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kyai
Muthodho bin Kyai Teyas bin Demang Jurang Kapindo ke-2 bin Demang Jurang Sapisan ke-1
bin Maulana (Kiageng Gresik yang makamnya di Jati Anom, Klaten, Jawa Tengah) bin Maulana
Fadhlullah (Sunan Prapen bin Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishak dan
seterusnya hingga Saidina Husin, cucu Rasulullah SAW.
Namannya semasa kecil adalah Muhammad Darwisy. Ayahnya K.H.Abu Bakar bin
K.H.M.Sulaiman, menjabat sebagai khatib Masjid Agung Yogyakarta (Kesultanan) sedangkan
ibunya Nyai Abu bakar adalah puteri KH.Ibrahim bin K.H Hasan juga menjabat sebagai
Kepengulon Kesultanan Ngayogyakarto. Ibunya Ny. Abubakar putri K.H.Ibrahim bin K.H.Hasan.
Muhammad Darwisy memperoleh pendidikan agama pertama kali dari ayahnya sendiri. Pada
saat berusia 8 tahun sudah lancar membaca Al-Qur’an dan khatam 30 juz. Darwisy dikenal
sebagai anak yang ulet pandai memanfaatkan sesuatu, wasis atau pandaicerdik-cerdas. Beliau
rajin dan selalu fokus, sehingga ngajinya cepat mengalami kemajuan. Suka bertanya hal-hal yang
belum diketahuinya (dregil) karena selalu kreatif dan banyak akal untuk mengatasi berbagai
kendala.
Tanda – tanda kepemimpinan sudah tampak sejak dini atau sejak masih kanak-
kanak. Teman-temannya selalu lulut, mengikuti Darwisy karena sifat kepemimpinanya. Darwisy
adalah anak yang rajin, jujur, serta suka menolong, oleh karena itu, banyak temannya.
Keterampilannya merupakan bakat dari kecil , pandai membuat barang – barang , mainan, dan
suka main layang-layang serta gangsing.
Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan bercorak


kontekstual yaitu melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika
Beliau menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-
ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita
memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya.
Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti surat
berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik
Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala al-
Ma’un sebagaimana dipraktekan K.H. Ahmad Dahlan .
Menurut Kyai Haji Ahmad Dahlan bahwa, sistem pendidikan dan pengajaran
agama Islam di Indonesia yang paling baik adalah sistem pendidikan yang
mengikuti sistem pondok pesantren karena di dalamnya diresapi dengan
suasana keagamaan, sedangkan sistem pengajaran mengikuti sistem
madrasah/sekolah. Dalam semangat yang sama, belakangan ini sekolah-
sekolah Islam tengah berpacu menuju peningkatan mutu pendidikan salah
satunya model sekolah full day school .
Tujuan akhir pendidikan yang dikemukakan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan
adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai ulama- intelek atau
intelek-ulama yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas
kuat jasmani dan rohani.
Jika dikaitkan dengan latar belakang timbulnya pemikiran pendidikan Islam Kyai Haji


Ahmad Dahlan antara lain disebabkan oleh rasa tidak puas terhadap sistem pendidikan
yang ada dan hanya mengembangkan salah satu bidang pengetahuan saja, dan ini
dibuktikan dengan pandangannnya mengenai tujuan pendidikan adalah untuk
menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia berjuang untuk
kemajuan masyarakat.
Dengan mengambil beberapa komponen pendidikan yang dipakai oleh
lembaga pendidikan Belanda, Kyai Haji Ahmad Dahlan mampu menyerap untuk
kemudian dengan gagasan dan praktek pendidikannya dapat menerapkan metode
pendidikan yang dianggap baru saat itu ke dalam sekolah-sekolah yang didirikannya
dan madrasah-madrasah tradisional. Metode yang ditawarkannya adalah perpaduan
antara metode pendidikan modern dengan metode pendidikan tradisional.
Pendidikan yang dikembangkan persyarikatan Muhammadiyah bersifat
kreatif dalam mengintregasikan tuntutan idealisme, korektif dan modernis. Aspek
idealisme merupakan substansi dari pendidikan persyarikatan Muhammadiyah,
sedangkan aspek korektif, inovatif dan modernis merupakan instrumennya. Aspek
korektif dan inovatif terlihat pada adanya usaha-usaha mengembangkan pondok
pesantren dan dalam memenuhi tuntutan modernisasi, dengan mencangkok sistem
pendidikan yang bersifat sekuler dalam bentuk persekolahan.
Ki Hajar Dewantara

Berbicara tentang pendidikan pada umumnya, serta pendidikan Islam pada khusus nya di
Indonesia tidak dapat ditinggalkan pembicaraan terhadap tokoh dan pejuang pendidikan Indonesia


sejati yang bernama Ki Hajar Dewantara. Gagasan dan pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara
telah ditulis dalam berbagai karangannya yang mendapatkan sambutan hangat dari kepala Negara
Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno. Karena demikian luas dan mendalam pemikiran
mengenai suatu pendidikan.
Ki Hajar Dewantara yang bernama asli Suwardi Suryaningrat dilahirkan pada 2 Mei
1889M atau 1303H di Yogyakarta. Ayahnya bernama kanjeng pangeran Haryo suryoningrat,
keturunan Paku Alam III. Pendidikan dasarnya ia peroleh dari sekolah rendah Belanda (Europeesche
Lagere School, ELS) lalu ia melanjutkan ke sekolah guru (Kweek School) tetapi dia belum sampai
menyelasaikan sudah pindah di STAVIA (School tot Opleiding van Indische Arten), namun di
sekolah inipun dia belum menamatkanya pendidikanya sebab ayahnya yang mengalami kesulitan
ekonomi.
Pada 1912 nama Ki Hajar Dewantara di kategorikan tokoh muda yang mendapat
perhatian Cokroaminioto sebagai pemerkuat barisan Sarikat Islam cabang Bandung. Oleh karena itu ,
ia bersama dengan Wignyadisastra dan Abdul Muis yang masing-masing diangkat sebagai ketua dan
wakil ketua, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai sekretaris. Namun keterlibatnya dalam Sarekat
Islam ini terhitung singkat, tidak genap satu tahun. Lalu ia bersama Douwes deker dan
ciptomangunkusumo ia diasingkan ke Belanda (1913) atas dasar orientasi politik mereka yang cukup
radikal. Selain alasan tersebut, 6 September 1912 ia mengaktifkan dirinya pada Indische Partij maka ia
tidak memiliki tokoh penting di lingkungan Syarikat Islam.
Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan

Visi dapat diartikan suatu cita-cita yang ideal yang bersifat jangka panjang
jauh ke depan dan mengandung makna yang amat dalam yang kemudian berfungsi


sebagai arah pandang kemana suatu kegiatan diarahkan.
Sedangkan misi adalah serangkaian langkah-langkah stratergi yang terperinci
dan terukur yang apabila dilakukan terasa pengaruh baik secara psikologis, sosiologis,
maupun kultural. kumpulan dari misi tersebut berfungsi untuk mencapai visi.
Adapun tujuan, adalah langkah-langkah strategis yang lebih terukur dan
dapat dijangkau hasilnya dalam kurun dan radar tertentu. Menurut Ki hajar Dewantara
pendidikan yaitu menuntut segala kekuasaan kodrat yang ada pada anak-anak agar
mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keslamatan dan
kebahagiaan.
Lalu Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan di lakukan
dengan keinsyafan, di tunjukan kearah keslamatan dan kebahagian manusia tidak hanya
bersifat laku pembangunan tetapi perjuangan juga. Pada masa pemerintah kolonial
belanda memang telah memulai sedikit kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk
mendapatkan pendidikan namun pendidikan tersebut bertujuan kolonialisme dan bukan
untuk mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia.
Maka dari itu Ki Hajar Dewantara menginginkan agar pendidikan yang di
berikan kepada bangsa indinesia adalah pendidikan yang sesuai dengan tuntutan
zaman, yaitu pendidikan yang membawa kemajuan peserta didik.
Kurikulum (Mata Pelajaran)
Kurikulum berasal dari dunia olahraga pada zaman romawi kuno di yunani,
yang berarti sustu jarak yang harus di tempuh oleh pelari dari garis start sampai finish.


Dalam pendidikan kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran atau bidang studi.
Namun dalam perkembangan zaman kurikulum juga termasuk kegiatan yang di
lakukan siswa dalam rangka belajar bukan hanya mata pelajaran atau bidang studi saja.
Selanjutnya Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa pelajaran yang
menajamkan pikiran dan berdasarkan kemasyarakatan umum nya menjadi pokok
program pendidikan secara barat yang kita jumpai dalam sistem sekolah berdasarkan
intelektualisme dan materialisme, yaitu mendewakan angan-angan dan keduniaan.
Pendidikan Budi Pekerti
Pendidikan budi pekerti termasuk bidang kajian yang mendapat perhatian
yang sangat dari Ki Hajar Dewantara. Dalam pandangannya budi pekerti adalah jiwa
dari pengajaran, dan bukan konsep yang bersifat teoretis sebagai mana yang di pahami
oleh masyarakat pada umumnya, dan bukan pengajaran dalam arti teori baik buruk,
benar salah dan seterusnya.
Ki Hajar Dewantara menjelaskan pendidikan budi pekerti yang di tekankan
pada pembentukan karakter, prilaku dan kepribadian melelui pembiasaan perbuatan
terpuji yang mulai dari sejak kecil hingga dewasa, dengan menanamkan nilai-nilai
agama dan budaya bangsa.
Pendidikan Agama

Keberadaan pendidikan agama di Indonesia merupakan realitas dan konsekuensi logis


dari keberadaan bangsa Indonesia yang memiliki berbagai macam agama dan kepercayaan. Serta
dapat dijumpai munculnya lembaga pendidikan yang secara khusus mengajarkan pendidikan agama
seperti yang terlihat di pesantren, madrasah, majelis ta’lim, masjid dan sebagainya.
Namun demikian pendidikan agama sebagai mata pelajaran substansial dibandingkan


mata pelajaran lainnya. Pendidikan agam tidak hanya menjadi ilmu pengetahuan melainkan harus
menjadoi keyakinan, pandangan hidup yang mempengaruhi pola piker dan tingkah laku dalam
aspek kehidupan sehari-hari.
Melalui taman siswa Ki Hajar Dewantara mengatur pendidikan agama sebagai berikut.
a. Agama tiap-tiap murid dan guru bebas, saling menghormati.
b. Agama dimasukan sebagai ethic (budi pekerti)
c. Di daerah yang nyata penduduknya hidup secara adat islam diperbolehkan memberikan
pengajaran agama didalam jam pelajaran tetapi tidak boleh dengan paksaan.

Pendidikan Taman Kanak-Kanak

Pendidikan taman kanak-kanak termasuk kedalam system pendidikan yang


diselenggarakan di Indonesia. Perhatian terhadap pendidikan anak-anak telah dilakukan oleh Ki
Hajar Dewantara yang telah dijumpai dalam bagian pendidikan pada taman siswa.
Mengenai kurikulum bagai taman anak menurut Ki Hajar Dewantara adalah latian panca
indra, sebab mendidik anak kecil bukan memberi pengetahuan tetapi berusaha menyempurnakan
rasa pikiran selain pembelajaran panca indra permainan anak dimasukan dalam sekolah sebagai
kultur.
Sehubungan dengan perlunya permainan bagi pendidikan taman kanak-kanak Ki Hajar Dewantara
mencoba menganalisis sejumlah permainan yang ada di jawa untuk di integrasikan kedalamnya.
Berdasarkan analisis budaya yang berkembang memberikan sejumlah bentuk permainan yang
mengandung aspek pendidikan batin yang sedemikiannya.
Wawasan Global-International

Sejalan dengan wawasan global internasional Ki Hajar


Dewantara sangat menekankan pentingnya pengajaran dunia. Iya
mengatakan bahwa Bahasa yang di pelajarkan pada sekolah rendah
hanya Bahasa Indonesia dan daerah. Sedangkan sekolah menengah
perlu Bahasa inggris sebagai Bahasa internasional dan Bahasa jerman
untuk keperluan perluasan ilmu pengetahuan.
Pandangan Ki Hajar Dewantara tentang pentinnya Bahasa
asing dengan tidak mengalahkan Bahasa nasional tidak lepas dari
tujuan untuk membangun kerja sama dan menambah pengalaman dan
kemajuan dari bangsa lain yang telah maju dengan tetap menjunjung
tinggi kepribadian bangsa sendiri.
Keberhasilan taman siswa dalam menjalin hubungan
internasional memperlihatkan tentang pentingnya memiliki
pendidikan yang bertaraf internasional.

ADA PERTANYAAN ?