Anda di halaman 1dari 20

L A U T F L O R E S

REV IEW R TRW PROP INS I


NUSA TENGGA RA TIMUR
8 00'
o

TA HUN 2004

G a n ba r : 4 .1 4

PET A KAW ASAN DAER AH IRIG ASI


Kws DI Waepesi Kws DI Pota Kws DI Wigowa
8.763 ha 2.405 ha 1.200 ha DI W ILAYAH N USA T ENG GAR A TIM U R
Kws DI Panondiwal Kws DI Mautenda
6.514 ha
#
Kws DI Waeces 4.281 ha
10.636 ha
Kws DI Mbay
#
Kws DI Magepanda #
# 10.300 ha #
4.122 ha #
# #
# # Kws DI Alor-Pantar Keterangan :
# 7.547 ha
# # # #
# # Kws DI Waikomo [
% Ibukota P ropinsi
# # 2.405 ha
Kws DI Konga I Ibukota K abupaten
BA
1.464 ha
#
#
OM
# #
# Kws DI Nebe # Daerah Irigasi (DI)
9 00'

# # # # 2.040 ha
T Sungai
LA
o

# Kws DI Waiwajo N eg ara


#
Kws DI Terang Kws DI Waemantar
1.050 ha
SE Tim or lest e
Jalan
15.529 ha Kws DI Za'a Kws DI Wolowona Kws DI Wolowaru
12.163 ha 3.901 ha 1.166 ha
Kws DI Lembor 3.127 ha
14.257 ha Kws DI Waemokel Kws DI So'a
17.629 ha 7.999 ha Garis Pantai
# #
SELA T S UMBA Batas Negara
Kws DI Mamboro
N eg ara
Batas Propinsi
4.859 ha
Kws DI Kambaneru Kws DI Netemnanu
Tim or lest e Batas Kabupaten
5.096 ha 3.526 ha #
# #
L A U T S A W U #
#
Kws DI Haekesak
5.209 ha
# # #
#
# Kws DI Malaka
# # Kws DI Melolo 25.000 ha
3.642 ha #
Kws DI Kodi Kws DI Waikelo #
1.04 ha sawah 2.540 ha #
Sumber :
10 00'

Kws DI Wanokaka Kws DI Mataiyang


3.874 ha
#
o

4.540 ha # Kws DI Aeroki


4.473 ha Hasil Analisa
Kws DI Kakaha # # Kws DI Ponu-Mena
2.500 ha 4.102 ha
# [
% Kws DI Noemina
Kws DI Mangili 10.000 ha
5.305 ha

Kws DI Oesao
Kws DI Baus
10.628 ha N
13.452 ha

OR
#
TI M
UT
Kws DI Sabu
1.271 ha # #
LA
Kws DI Rote
5.146 ha

1:2250000
11 00'
o

S A M U D E R A H I N D I A

o o o
DM
o o o o
119 00 ' 120 00 ' 121 00 ' 122 00 ' 123 00 ' 124 00 ' 124 30 '

u s a T
N

195 8

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


(BAPPEDA)
PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

IV - 52
REVIEW RTRW PROPINSI
8 00'
o

L A U T F L O R E S NUSA TENGGARA TIMUR


Kalabahi
TAHUN 2004
Ulu mb u Larantuka Y
#
PROP . NTB
Labuan Bajo
Ú
Ê Y
# Y
#
Gambar : 4.5

Lewoleba PETA PERTAMBANGAN DAN ENERGI


Y
# DI NUSA TENGGARA TIMUR
Ko mo do Y
#
Ruteng Maumere
Y
# A
I
Bajawa B
M

# Ê Ende Y
# T
O
LA N EGARA
E TIMOR L ESTE
Mat aloko S
9 00'

Keterangan :
o

SELA T S UMBA
Y
#
Atambua
N E G AR A Garis Pantai
TIM O R LES T E Jalan
Sungai

W aikabubak
Y
#
Kefamenanu
Batas Negara
W aingapu Batas Propinsi
Y
# Y
# L A U T S A W U Batas Kabupaten

[% Kota Propinsi
Y
#
SO'E Y
# Kota Kabupaten
Ú
Ê Energi Panas bumi
10 00'

[ KUPANG
% Ë Pertambangan
o

R
O
M
BA'A TI
T
Y
# LA
U

N
11 00'
o

S A M U D E R A H I N D I A

o o o o o o o
119 00 ' 120 00 ' 121 00 ' 122 00 ' 123 00 ' 124 00 ' 124 30 '

u s a T
N

1:2250000

195 8

Sumber :
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH * Hasil Analisis
(BAPPEDA)
PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

IV - 30
REVIEW RTRW PROPINSI
8 00'
o

L A U T F L O R E S NUSA TENGGARA TIMUR


Lam alera Kalabahi
TAHUN 2004
Riun g Larantuka
r Y
# Gambar : 4.4
PROP . NTB (1 7 P ulau )
r Ka bure a
Teluk Y
# Y
#
Labuan Bajo Mau me re Lewoleba PETA PARIWISATA DAN INDUSTRI
Y
# (G aram )

r
Ko mo do Y
#
Ruteng r Ke limu tu Y r
# A
I
DI NUSA TENGGARA TIMUR
Bajawa Maumere B
M
Y r
O
Y
# Ende # T
LA N EGARA
E TIMOR L ESTE
S
9 00'

Keterangan :
o

SELA T S UMBA
Y
#
Atambua
N E G AR A Garis Pantai
Pa so la TIM O R LES T E Jalan
Sungai

W aikabubak
Y
#
Kefamenanu
Batas Negara

Y
# r W aingapu
Y
# L A U T S A W U
Batas Propinsi
Batas Kabupaten

Pariti [% Kota Propinsi


Y
#
SO'E Y
# Kota Kabupaten
r r Kawasan Pariwisata

[%rKUPANG
10 00'

r Kawasan Industri
o

Bolok
r
Lasiana R
O
M
BA'A TI
T
Y
# LA
U

N
11 00'
o

S A M U D E R A H I N D I A

o o o o o o o
119 00 ' 120 00 ' 121 00 ' 122 00 ' 123 00 ' 124 00 ' 124 30 '

u s a T
N

1:2250000

195 8

Sumber :
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH * Hasil Analisis
(BAPPEDA)
PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

IV - 28
8 00'

REVIEW RTRW PROPINSI


o

L A U T F L O R E S NUSA TENGGARA TIMUR


Kalabahi TAHUN 2004
Larantuka Y
#
PROP . NTB
Y
# Lewoleba
Gambar : 2.2
Labuan Bajo Y
#
Y
# Maumere PETA GEOLOGI
Y
#
Ruteng Bajawa
Y
# B
A
I
M
O
Y
# # Ende
Y T
LA
N E G AR A
E TIM O R LES T E
S
9 00'
o

SELA T S UMBA
Atambua
Y
# Keterangan :
N E G AR A
TIM O R LES T E
Garis Pantai
Y
#
Kefamenanu
Jalan
W aikabubak W aingapu Sungai
Y
# Y
# L A U T S A W U Batas Negara
Batas Propinsi
Y
#
SO'E
Batas Kabupaten

Paleogene (Paleogen)
[%KUPANG
10 00'

Kekneno Series
o

Silicic Roks
Matic Basic Rocks
R Intermediate Bask
O
BA'A M Pre Tertiare Undivideo
TI
Y
# U
T Alluvium Terrace Deposit
LA Neogene
Sonebait Series
Senobait And Ofu Series
Ofu Series
11 00'
o

Silicic Efusives
S A M U D E R A H I N D I A Triassic
Crystalline Shist
o o o o o o o
119 00 ' 120 00 ' 121 00 ' 122 00 ' 123 00 ' 124 00 ' 124 30 '

u s a T
N

195 8

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH


(BAPPEDA) Sumber :
* Hasil Analisis
PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR 1:2250000

II - 6
RENCANA PROGRAM TAHUN 2007

NO PROGRAM
1. Bantuan Fasilitasi Pembentukan BKPRD untuk Kabupaten/Kota

2. Bantuan Teknis Penyusunan Tata Ruang Kawasan Kepulauan di


Manggarai Barat dan Sekitarnya
3. Bantuan Teknis Penyusunan Tata Ruang Kawasan Kepulauan di
Flores Timur dan Sekitarnya
4. Fasilitasi Kegiatan Zoning Regulation untuk Kabupaten/ Kota

5. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Noelmina dan Iteng

6. Penyusunan Rencana Teknis Tata Ruang Kawasan Andalan


Benanain.
RENCANA PROGRAM TAHUN 2007

NO PROGRAM
7. Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan andalan Bena Kab. TTS

8. Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Pesisir dan Laut Wini Kab.
TTU
9. Penyusunan Revisi RTRW Kabupaten Flores Timur

10. Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Mbay (Persiapan Kab.


Nagekeo)
11. Penyusunan Rencana Tata ruang Kota Waitabula (Persiapan Ibukota
Kab. Sumba Tengah)
12. Penyusunan Tata Ruang Kota Reo Kab. Manggarai

13. Penyusunan Rencana Tata Ruang Kota Pantai Baru Kab. Rote Ndao
LAPORAN KHUSUS

1. Luasan kawasan lindung:1.690.684,2 Ha


2. Terjadi alihfungsi hutan menjadi ladang
3. Sebaliknya masy. Menilai alihfungsi
perkebunan rakyat menjadi hutan lindung di
Manggarai
4. Terjadinya peristiwa kebakaran hutan pada
kawasan hutan nasional Kelimutu, dan
gunung mutis
SOLUSI:
• Perlu pengaturan ruang sbg hutan lindung yg.
Memperhatikan hak masyarakat
• Pengelolaan hutan berbasis masyarakt
• Penentuan Tapal Batas yang jelas
• Perlu sosialisasi kepada masyarakat tentang
hutan
• Pola partisipatif dalam penanganan hutan
Kawasan Rawan Bencana Banjir
• Kawasan Benanain di Kabupaten Belu

• Kawasan Sungai Buona di Kabupaten Alor

• Kawasan sungai Wae Pesi di Kabupaten Manggarai

• Kawasan sungai aesesa di Kabupaten Ngada

• Kawasan sungai wolowona di Kabupaten Ende

• Kawasan sungai Kambaniru di Kabupaten Sumba Timur


KESIMPULAN DAN SARAN

• Produk RTRW belum dioptimalkan fungsinya sebagai acuan


spasial

• Pembentukan BKPRD merupakan kebutuhan mendesak

• Penyusunan RTRW belum melibatkan seluruh stake holder

• Pertumbuhan permukiman belum sepenuhnya mengikuti


arahan spasial dalam RTRW

• Belum adanya tapal batas partisipatif antara hutan lindung


dengan zona budidaya (perkebunan masyarakat) khusus
kasus hutan di Colol Kab. Manggarai

• Acuan Tata Ruang belum konek dengan pemberian ijin


pemanfaatan ruang

• Produk RTRW belum sepenuhnya dipublikasikan


SARAN
 Perlu melakukan sosialisasi secara nasional
tetang eksistensi RTRW sebagai acuan spasial
 Perlu melakukan fasilitasi tentang pengaturan
zona (zoning regulation)
 Perlu melakukan publikasi RTRW
 Perlu transparansi dalam pengaturan ruang
 Perlu diterapkan insentif dan disinsentif dalam
pemanfaatan ruang.
KEGIATAN PPK PMP2R PROPINSI NTT
REVIEW RTRW PROPINSI
8 00'
o

L A U T F L O R E S NUSA TENGGARA TIMUR


Kalabahi
TAHUN 2004
Larantuka
Lewoleba
Y
# Gambar : 4.2
PROP. NTB Y
# Y
#
Labuan Bajo

A. Melakukan Y pengumpulan data kondisi geografis, administrasi,


Y
# Maumere PETA RENCANA
# Y
# Ruteng
KAW ASAN HUTAN A
I
Bajawa B

sosial ekonomi,#Ydan sarana prasarana di daerah.


M
Ende O
Y
# LA
T
N EGARA
E TIMOR L ESTE
Keterangan :
S
9 00'
o

SELAT SUMBA
Y
#
Atambua Garis Pantai
N E G AR A
TIM O R LES T E
Jalan

B.Melakukan pendataan tentang kebijakan dan strategi, pola dan


Sungai
Batas Negara
W aikabubak
Y
# Kefamenanu Batas Propinsi
W aingapu
Y
# Y
# L A U T S A W U Batas Kabupaten

struktur pemanfaatan ruang di masing-masing Kabupaten/ Kota.


Hutan Bakau
Y
# SO'E Hutan Lindung
Hutan Produksi Tetap
10 00'

[%KUPANG
o

Hutan Produksi Terbatas


Hutan Konv ersi
Cagar Alam
Suaka Marga Satwa

C. Melakukan pendataan tentang pemenuhan SPM penataan ruang di


R Taman W isata
O
M
BA'A TI Taman Buru
T Enclave
Y
#
daerah.
U
LA

Kawasan Lindung :
11 00'
o

1. H utan Lindung

D. Melakukan inventarisasi kegiatan penataan ruang di daerah


2. Suak a Marga Satwa
S A M U D E R A H I N D I A 3. Taman W isata
4. Taman Buru
o o o o o o o 5. C agar Alam
119 00 ' 120 00 ' 121 00 ' 122 00 ' 123 00 ' 124 00 ' 124 30 '
6. H utan Bak au

Kawasan Budidaya :
1. H utan Produksi Tetap

E. Melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah yang terkait


u s a T
N

2. H utan Produksi Terbatas


N 3. H utan Produksi yang
dapat Dik onversi

dengan penataan ruang di daerah baik propinsi maupun


195 8

Kabupaten/Kota.
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Sumber :
(BAPPEDA) * Dinas Kehutanan Prop. NTT
PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR 1:2250000 * Hasil Analisis

IV - 18
HAMBATAN TUGAS SEBAGAI PPK PMP2R
1. PPK PMP2R belum diperkenalkan secara menyeluruh kepada
Kabupaten/Kota dan instansi terkait tentang tugas pokok dan
fungsinya selaku pengendalian pemanfaatan ruang.
2. Ada Kabupaten yang cukup sulit mendapatkan data terkait Tata
ruang karena berbagai faktor spt pergantian pejabat terkait dan
adanya anggapan bahwa produk daerah dijiplak untuk tujuan
menghasilkan produk rencana tertentu.
3. Ketersediaan data yang ada di daerah pada umumnya berupa
hard copy sehingga membutuhkan waktu untuk mengedit
kembali data Kabupaten/ Kota.
4. Untuk mendapatkan data membutuhkan koordinasi dengan
pejabat terkait artinya kalau pejabat tidak berada di tempat
maka data yang diperoleh agak lambat
RESPON TERHADAP PPK PMP2R DAN KEGIATAN PENATAAN
RUANG DI DAERAH
1. Kendati PPK PMP2R belum eksist keberadaanya
sebagai pengendali pemanfaatan ruang karena
sebagai pemula dan belum diperkenalkan kepada
Kabupaten/kota tentang tugas dan fungsinya, namun
PPK PMP2R mendapat respon positif melalui sharing
informasi terkait aturan dan pelaksanaan kegiatan
penataan ruang.
2. Secara struktur PPK PMP2R NTT berada di bawah Sub
Dinas Permukiman danTata ruang Dinas Kimpraswil.
Prop. NTT. Hal ini sekaligus untuk memperkuat tugas
dan fungsi pokok Dinas Kimpraswil sebagai pengendali
teknis penataan ruang di daerah. Namun di lain pihak
kewenangan terkait Penataan ruang di NTT ada pada
Bappeda
RESPON TERHADAP PPK PMP2R DAN KEGIATAN PENATAAN
RUANG DI DAERAH

4. Pemerintah Daerah baik Propinsi/ Kabupaten-Kota telah


merespon kegiatan tata ruang yang ditandai dengan
peningkatan alokasi anggaran untuk kegiatan
penataan ruang dari tahun ke tahun, walaupun secara
spasial program pembangunan belum mengacu
sepenuhnya pada Rencana Tata Ruang.
5. Respon pemerintah daerah dalam penataan ruang juga
ditandai dengan intensitas keterlibatan semua
stakeholder dalam melakukan diskusi terkait dengan
penataan ruang di daerah.
HASIL EVALUASI KEGIATAN PENATAAN RUANG DI PROPINSI NTT

1. Sebanyak 16 Kabupaten/ Kota memiliki RTRW. Namun


dari 16 Kabupaten/kota ada 1 Kabupaten yang belum
melakukan revisi terkait perubahan akibat pemekaran
Kabupaten.
2. Dari 16 Kabupaten terdapat 8 kabupaten RTRW
sementara diproses perda-nya dan tidak konek dengan
masa laku RTRW itu sendiri.
3. Program pembangunan yang mengacu sesuai tata ruang
yang diperoleh dari kuesioner hanya berkisar antara 30 –
60 %.
4. Publikasi RTRW melalui papan pengumuman sampai di
tingkat kecamatan tidak dilakukan oleh semua
Kabupaten/ Kota di NTT
ISSUE PALING STRATEGIS TERKAIT PENATAAN RUANG
DI PROPINSI NTT
1. Terjadinya konflik pemanfaatan ruang
Belum jelasnya tapal batas hutan lindung pada bagian tertentu di
Kabupaten Manggarai. Hal ini menimbulkan benturan antara
pemerintah dengan masyarakat terkait penggunaan ruang di
kawasan perbatasan tersebut yang berpuncak dengan terjadinya
peristiwa berdarah 10 Nopember 2004
2. Keluhan Masyarakat terkait pemanfaatan Ruang
Adanya keluahan masyarakat di Kabupaten Rote Ndao yang
melakukan penangkapan ikan di perairan pulau Pasir dianggap
memasuki perairan Australia dan eksistensi Pulau Pasir dijadikan
milik Negara Australia. Hal ini juga menjadi konflik dalam
pemanfaatan ruang
3. Ketersediaan RTRW Di Daerah
Produk RTRW yang ada pada 8 Kabupaten belum dilegalisasi melalui
peraturan daerah padahal penyusunan RTRW sudah berjalan 3 - 4
tahun.
Ada Kabupaten yang melakukan pemekaran sudah 6 Tahun tetapi
Kabupaten Induk belum melakukan revisi RTRW. Hal ini mempunyai
indikasi bahwa produk RTRW tidak/ belum dijadikan acuan
pembangunan.
USULAN TERKAIT PENATAAN RUANG
DI PROPINSI NTT TAHUN 2007

1. Perlu melakukan sosialisasi tentang tugas dan fungsi


pokok PPK PMP2R di Setiap Kabupaten/ Kota untuk
memudahkan koordinasi terkait kegiatan penataan ruang
di daerah.
2. Untuk menyelesaikan konflik pemanfaatan ruang di
kawasan lindung perlu adanya penentuan tapal batas
partisipatif yang melibatkan seluruh komponen termasuk
masyarakat sekitar kawasan tsb.
3. Perlu dilakukan peninjauan kembali secara historis, ZEE
tentang eksistensi Pulau Pasir yang menjadi milik
Australia.
4. Perlu adanya penegasan tentang legalisasi produk RTRW
kepada Pemda. Kabupaten/ Kota di NTT oleh Ditjen.
Penataan ruang sebagai pembina teknis nasional dalam
penataan ruang.
5. Pertemuan nasional yang melibatkan Kabupaten/ Kota
penting diselenggarakan untuk mendapatkan informasi
yang urgen tentang tata ruang sehingga dapat
dilaksanakan di daerah masing-masing.