Anda di halaman 1dari 37

Latar Belakang Masalah

Pemanfaatan teknologi maju dann informasi oleh bisnis sudah sangat


meluas dewasa ini. Hal ini karena perkembangan persaingan yang
semakin lama semakin ketat. Untuk mempertahankan posisi bersaing,
maka perusahaan-perusahaan itu harus mengadopsi berbagai macam
teknologi untuk pembuatan produk yang berkualitas dan memenuhi
selera konsumen, teknologi pelayanan konsumen, maupun teknologi
informasi untuk mendukung penyelenggaraan bisnis.
Tujuan

Membahas tentang:
• Kos Konvensional
• Penentuan kos berbasis aktivitas (Activity Based Costing), dan
• Penentuan kos backflush (Just in Time/JIT Manufacturing – backflush
costing.
Kos Konvensional
• Pengertian
Akuntansi biaya konvensional adalah akuntansi biaya yang dirancang berdasarkan
kondisi perusahaan yang bersifat mekanis. Dengan kondisi seperti itu, maka
komponen biaya produksi yang dominan adalah biaya produksi langsung, yaitu
bahan baku dan biaya tenaga kerja.

• Keterbatasan
Saat ini lingkungan industri sudah berubah di mana komposisi biaya produksi
mengalami perubahan, yaitu elemen biaya produksi tidak langsung (biaya overhead
pabrik) menjadi bsar. Untuk itu diperlukan cara-cara alokasi yang lebih akurat untuk
menghasilkan informasi biaya yang juga akurat. Jika system akuntansi biaya
konvensional tetap dipertahankan, maka system akuntansi biaya tentunya tidak
dapat mendukung proses penentuan harga (pricing) secara tepat.
• Pembebanan biaya overhead
Untuk membuat produk X dan produk Y, perusahaan mengeluarkan
biaya overhead pabrik sebesar Rp 1.950.000.000,00. Biaya overhead
dengan rincian:
Jika BOP dialokasikan kepada obyek biaya (produk) berdasarkan
konsumsi/pemakaian BBM, maka perbandingan alokasinya adalah 10
liter untuk produk X dan 20 liter untuk produk Y dengan alokasi:
Produk X = 10/30 x Rp 1.950.000.000,00 = Rp 650.000.000,00
Produk Y = 20/30 x Rp 1.950.000.000,00 = Rp 300.000.000,00
Jika dialokasikan kepada obyek biaya (produk) berdasarkan penyebab
terjadinya setiap jenis biaya overhead pabrik, maka perbandingan
alokasi untuk setiap jenis biaya tidak sama. Sebagaimana tabel berikut:
• Untuk biaya setuap, produk X mengkonsumsi kegiatan produksi sebanyak 15 kali,
sedangkan produk Y mengkonsumsi kegiatan produksi sebanyak 25 kali. Jadi
perbandingannya adlaah 3:5. Jika produk X dibebani dengan biaya Setup ini sebanyak
1/3 bagian dan produk Y dibebani degan biaya setup sebanyak 2/3 bagian dengan
demikain ini dapat dikatakan tidak adil. Dengan model 1, maka produk X akan dibebani
dengan biaya yang terlalu kecil (sedikit), yaitu sebesar 1/3 x 400 juta = 133,33 juta.
Padahal seharusnya produk X dibebani dengan biaya sebesar 3/8 x 400 juta = 150 juta.
Hal berkebalikan berlaku pula untuk produk Y.
• Untuk biaya inspeksi, biaya energi, dan biaya insentif tenaga kerja
langsungpersialannya sama, ayitu alokasinya tidak tepat jika dilakukan dengan
menggunakan model 1.
• Implikasi alokasi yang terlalu besar dan terlalu kecil adalah tidak akuratnya perhitungan
kos produk yang dihasilkan. Jika informasi kos tidak akurat, aka proses penentuan harga
jual juga akan menghasilkan angka harga jual yang juga tidak akurat.
• Jika harga jual terlalu rendah dari harga normal, maka perusahaan akan dirugikan
karena marjin labanya kecil atau negatif. Jika harga jual terlalu tinggi, perusahaan dapat
kehilangan pembeli, karena para pembeli akan beralih ke produsen yang menetapkan
harga jual produk yang lebih rendah untuk barang yang berkualitas sama.
• Penentuan Biaya Overhead pada Perusahaan yang Menghasilkan
Produk Tunggal
Jika perusahaan hanya menghasilkan satu jenis produik, maka tidak
akan muncul persoalan alokasi, karena biaya overhead pabrik yang
terjadi (atau yang ditentukan berdasarkan tarif ditentukan dimuka)
dialokasikan seluruhnya ke produk tersebut, contoh tabel berikut ini:
• Penentuan Biaya Overhead pada Perusahaan yang Menghasilkan Banyak
Produk dengan Unit-Based Cost Drivers
Contoh, diasumsikan bahwa ada 2 jenis
produk yaitu produk A dan B
sebagaimana disamping
Untuk menyederhanakan persoalan, jenis biaya overhead hanya ada 4, yaitu
biaya setup, biaya inspeksi, biaya pemakaian energi, dan biaya insentif tenaga
kerja. Biaya overhead ini dialokasikan ke departemen produksi dengan
menggunakan metoda langsung, karena keempat departemen jasa tersebut tidak
saling berinteraksi. Biaya setup dialukasikan atas dasar jumlah aktivitas produksi
yang dilaksnakaan oleh setiap departemen produksi. Karena jumlah aktivitas
produksi pada kedua departemen produksi sama besar, maka masing-masing
departemen menerima alokasi 50% dari total biaya setup. Biaya energi
dialokasikan seuai dengan jam mesin yang digunakan oleh setiap departemen.
Biaya insentif tenaga kerja dialokasi sesuai dengan proporsi jam tenaga kerja
langsung yang digunakan oleh setiap departemen.
Karena jumlah aktivitas produksi pada kedua departemen produksi sama besar,
maka masing-masing departemen menerima alokasi 50% dari total biaya setup.
Biaya energi dialokasikan seuai dengan jam mesin yang digunakan oleh setiap
departemen. Biaya insentif tenaga kerja dialokasi sesuai dengan proporsi jam
tenaga kerja langsung yang digunakan oleh setiap departemen.
• Perhitungan Tarif Pembebanan Overhead
Jika perusahaan membebankan biaya overhead dengan menggunakan tarif
BOP total, maka dari perhitungan tarif yang umum digunakan adalah unit-
based cost driver. Dengan pendekatan ini, jika diasumkaikan perusahaan
menggunakan dasar jam mesin, maka tarif BOP dapat dihitung sebagai
berikut:
Tarif BOP = Rp 324.000.000/60.000 = Rp 5.400 per jam mesin
Atas dasr tarif tersebut, maka kos produk per unit untuk masing-masing
produk adalah sebagai berikut:
Produk A
Biaya Utama = (Rp 50.000.000/20.000) Rp 2.500
BOP = (Rp 5.400 x 10.000/20.000) 2.700
Kos per unit Rp 5.200
Produk B
Biaya Utama = (Rp 250.000.000/100.000) Rp 2.500
BOP = (Rp 5.400 x 50.000/100.000) 2.700
Kos per unit Rp 5.200
Selain menggunakan tarif BOP total, perusahaan juga dapat
menggunakan tarif BOP per departemen. Karena perusahaan
menggunakan 2 departemen produksi, maka perusahaan
menggunakan dua tarif. Jika diasumsikan tarif BOP departemen 1
dihitung atas dasar jam tenaga kerja langsung dan taruf departemen 2
dihitung atas dasar jam mesin, maka taruf untuk setiap departemen
produksi adalah sebagai berikut
• Tarif Departemen 1 = Rp 147.000.000/80.000
= Rp 1.837,5 per jam tenaga kerja
• Tarif Departemen 2 = Rp 177.000.000/40.000
= Rp 4.425 per jam tenaga mesin
Atas dasar tarif tersebut, maka kos produk per unit untuk masing-masing produk adalah sebagai
berikut:
• Biaya Utama = (Rp 50.000.000/20.000) Rp 2.500
• BOP
Departemen 1 = (Rp 1.837,5 x 4.000)/20.000= 367,5 Produk A
Departemen 2 = (Rp 4.425 x 6.000)/20.000= 1.327,5
1.695
Rp 4.195
• Biaya Utama = (Rp 250.000.000/100.000) Rp 2.500
• BOP
• Departemen 1 = (Rp 1.837,5 x 76.000)/100.000= 1.396,5 Produk B
• Departemen 2 = (Rp 4.425 x 34.000)/100.000\= 1.504,5
2.901
Rp 5.401
produk B dengan volume produksi lima kali volume produksi produk A menggunakan jam mesin
dan jam tnaga kerja langsung sebanyak lima kali jam yang dikonsumsi oleh produk A. dengan
demikian seharusnya produk B menerima alokasi BOP sebanyak 5 kali alokasi untuk produk A.
Namun, kenyataannya dalam perhitungan di atas produk B menerima alokasi dengan proporsi yang
berbeda.
Konsep Dasar Penentian Kos Produk Berbasis
Aktivitas (Activity-Based Product Costing)
• Perbedaan pokok antara ABC dengan system konvensional adalah pada
sifat dan jumlah cost driver yang digunakan. ABC menggunakan unit-
based dan non unit-based, dan umumnya jumlah cost driver yang
digunakan jauh lebih banyak dibandingkan dengan unit-based cost
driver yang digunakan oleh system konvensional.
• Implikasinya adalah ABC mampu menghasilkan perhitungan biaya (kos)
yang lebih akurat. Dari perspektif manajerial, system ABC juga
memberikan informasi tentang seluruh aktivitas yang terkait dengan
pembuatan produk dan biaya aktivitas. Dengan informasi tersebut,
manajemen dapat memusatkan perhatian pada aktivitas yang memiliki
peluang untuk penghematan biaya (cost saving).
• Langkah 1. Penggolongan Aktivitas dan Perhitungan Tarif
penentuan kos berbasis aktivitas adalah mengidentifikasi aktivitas yang
terkait, menghubungkan biaya dengan setiap aktivitas. Jika perusahaan
memiliki ratusan jenis biaya dan cost drivernya, maka perusahaan akan
memiliki ratusan tarif overhead. Untuk menyederhanakan perhitungan
dan mengurangi jumlah tarif tersebut, aktivitas-aktivitas yang
dilaksanakan perusahaan dapat diringkas dan digabungkan ke dalam
kelompok-kelompok sesuai dengan homogenitasnya. Kumpulan biaya
overhead yang berhubungan dengan sekelompok aktivitas disebut
dengan homogeneous cost pool. Karena aktivitas dalam pool tersebut
memiliki rasio konsumsi yang sama, maka kost driver yang akan
digunakan untuk menghitung taruf biaya overhead dapat berupa salah
satu dari cost driver yang ada dalam pool tersebut. Tarif ini disebut
dengan tarif kelompok (pool rate). Contoh pada slide berikut:
Mengelompokkan biaya ke dalam homogenous cost pool
Pool 1 (Batch-level)
Biaya setup ………………….Rp 88.000.000,00
Biaya inspeksi …………………. 74.000.000,00
Jumlah ………………….Rp162.000.000,00

Pool 2 (Unit-level)
Biaya energi ………………….Rp 84.000.000,00
Insentif TKL …………………. 78.000.000,00
Jumlah ………………….Rp162.000.000,00
Menghitung tarif overhead pool
Pool 1 (Batch-level)
Biaya setup …………………. Rp 88.000.000,00
Biaya inspeksi …………………. 74.000.000,00
Jumlah …………………. Rp162.000.000,00
Jumlah kegiatan produksi 50
Tarif Pool 1 Rp 3.240.000,00
Pool 2 (Unit-level)
Biaya energi …………………. Rp 84.000.000,00
Insentif TKL …………………. 78.000.000,00
Jumlah …………………. Rp162.000.000,00
Jumlah jam mesin 60,00
Tarif Pool 2 Rp 2.700,00
• Langkah 2: Pembebanan BOP dan Penghitungan Kos Produk
Pada tahap ini, biaya untuk setiap kelompok overhead dibebankan
kepada produk. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tarif yang telah
dihitung sebelumnya dan mengukur nilai sumberdaya aktivitas yang
dikonsumsi dari setiap jenis produk. Ukuran ini adalah kuantitas cost
driver yang digunakan oleh setiap produk. Dalam contoh di atas,
ukuran konsumsi berupa jumlah kegiatan produksi dan jumlah jam
mesin. Dengan demikain, overhead yang dibebakan dari setiap
kelompok biaya kepada setiap jenis produk dapat dihitung sebagai
berikut:
• BOP dibebankan = tarif kelompok x unit cost driver yang digunakan
• Dengan menggunakan contoh di atas, maka jumlah BOP yang
dibebankan kepada setiap produk dan perhitungan kos produk per
ubnit untuk setiap jenis produk dapat dihitung sebagai berikut:
Produk A
BOP:
Pool 1 = Rp 3.240.000 x 20 ………………Rp 64.800.000,00
Pool 2 = Rp 2.700 x 20 ……………… 27.000.000,00
Jumlah BOP ………………Rp 91.800.000,00
Biaya utama ……………… 50.000.000,00
Jumlah biaya produksi ………………Rp 141.800.000,00
Jumlah unit diproduksi ……………… 20.000,00
Kos produksi per unit ……………… 7.090,00
Produk B
BOP:
Pool 1 = Rp 3.240.000 x 30 ………………Rp 97.200.000,00
Pool 2 = Rp 2.700 x 50.000……………… 135.000,00
Jumlah BOP ……………… Rp 232.200.000,00
Biaya utama ……………… 250.000.000,00
Jumlah biaya produksi ……………… Rp 482.200.000,00
Jumlah unit diproduksi ……………… 100.000,00
Kos produksi per unit ……………… 4.822,00
• Perbandingan Kos Produk
Jika hasil perhitungan kos berbasis aktivitas dibandingkan dengan perhitungan secara
konvensional, baik dengan menggunakan tarif departemen maupun menggunakan tarif
keseluruhan pabrik, maka akan nampak sebagai berikut:
Produk A Produk B
• Kos berbasis aktivitas ………….. Rp 7.090 Rp 4.822
• Konvensional:
• Tarif keseluruhan ………….. Rp 5.200 Rp 5.200
• Tarif departemen ………….. Rp 4.195 Rp 5.401

Perbandingan di atas menggambarkan efek penggunaan hanya unit-based cost driver untuk
membebankanbiaya overhead pabtrik. Kos berbasis aktivitas, menunjukkan bahwa pola
konsumesi overhead-lah yang lebih tepat untuk pengalokasian BOP. Oleh karena itu metode ini
merupakan metode yang paling akurat. Pendekatan ABC juga menunjukkan bahwa dengan
metode konvensional, kos untuk produk A dihitung terlalu rendah dan untuk kos ditentukan
terlalu tinggi, maka harga jual produk juga akan lebih tinggi dibandingkan dengan para pesaing,
dan tentu saja konsumen akan beralih ke produsen yang mampu menawarkan harga yang lebih
murah. Jadi efeknya perusahaan akan kehilangan pelanggan. Apabila kos dibebankan ke produk
terlalu rendah, maka peruashaan akan mengalami kerugian.
Sistem Manufaktur JIT dan Penentuan Kos
Manfaat yang diberikan oleh system ABC juga dapat diperoleh oleh perusahaan yang
menghasilkan produk tunggal dengan memanfaatkan system manufaktur Just-in Time
(JIT). Penerapan JIT akan mengubah daya telusur biaya, meningkatkan akurasi penentuan
kos produk, menurunkan kebutuhan alokasi biaya tidak langsung. Mengubah perilaku dan
kepentingan relative biaya tenaga kerja langsung, dan mempengaruhi system penentuan
kos pesanan dan kos proses.
Perbedaan antara Sistem Manufaktur JIT dan Tradisional
Akurasi Penentuan Kos Produk dan JIT
Salah satu konsekuensi turunnya biaya tidak langsung dan dan naiknya
biaya langsung adlaah peningkatan akurasi perhitungan kos produk.
Biaya produksi langsung dapat ditelusur ke produk secara mudah dan
tepat. Biaya tidak langsung harus ditelusur ke produk dengan
menggunakan cost driver dan tarif overhead. Untuk memudahkan
pembebanan biaya tidak langsung, seringkali digunakan cost driver
yang tidak terlalu erat berhubungan dengan konsumsi aktivitas
overhead. Implementasi JIT menghasilkan pengurangan jumlah pool
biaya tidak langsung dan mengubah sebagian besar biaya tidak
langsung menjadi biaya langsung. Hal ini jelas akan mengurangi secara
siginfikan kompleksitas persoalan pembebanan biaya.
• Contoh, sebaum menerapkan system JIT, perusahaan membebankan biaya kepada
produk, yaitu produk A dan produk B, dengan menggunakan system berbasis
aktivitas. Salah satu pool biaya overhead barisi 2 aktivitas overhead, yaitu
pemeliharaan dan energi. Jumlah biaya per tahun untuk pool tersebut, informasi
tentang cost driver (jam mesin), dan informasi lain yang berhubungan dengan
kedua produk tersebut adalah sebagai berikut:
Jumlah biaya pemeliharaan dan energi Rp 2.000.000.000,00
Jam mesin:
Produk A 25.000
Produk B 25.000
Jumlah produksi (dalam unit)
Produk A 50.000
Produk B 50.000
Berdasarkan informasi tersebut tarif per unit adalah sebesar Rp 40.000,00
per jam mesin. Dengan menggunakan tarif ini, pembebanan biaya data
dilakukan sebagai berikut:

Produk A:
Total biaya yang dibebankan
(Rp 40.000,00 x 25.000) Rp 1.000.000.000,00
Biaya per unit (1.000.000.000:50.000) Rp 20.000,00

Produk B:
Total biaya yang dibebankan
(Rp 40.000,00 x 25.000) Rp 1.000.000.000,00
Biaya per unit (1.000.000.000:50.000) Rp 20.000,00
Dengan menerapkan system manufajtur JIT dan mengorganisasi sel
manufaktur untuk setiap produk, energi disediakan untuk setiap sel dan
karyawan di setiap sel dilatih untuk melaksanakan pekerjaan pemeliharaan.
Jam mesin yang digunakan untuk setiap sel masih sama untuk setiap produk,
dan jumlah unit yang diproduksi juga sama. Biaya pemeliharaan dan energi
untuk setiap sel adalah sebagai berikut:

Sel A (memproduksi produk A)


Biaya energi Rp 500.000.000,00
Biaya pemeliharaan 300.000.000,00
Total Rp 800.000.000,00
Sel B (memproduksi produk B)
Biaya energi Rp 600.000.000,00
Biaya pemeliharaan 600.000.000,00
Total Rp 1.200.000.000,00\
Berdasarkan informasi tersebut, biaya per unit untuk setiapproduk aalah
sebagai berikut:

Produk A:
Biaya per unit (800.000.000 : 50.000) Rp 16.000,00
Produk B:
Biaya per unit (1.200.000.000 : 50.000) Rp 24.000,00

Biaya per unit yang dihitung atas dasar struktur sel menggambarkan secara
akurat konsumsi biaya pemeliharaan dan biaya energi, karena biaya ini
secara langsung dapat ditelusur ke setiap produk. Dengan memusatkan
perhatian kepada proses manufaktur melalui implementasi system JIT,
ternnyata akan meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghitung
kos produksi.
• JIT dan Alokasi Departemen Jasa
Dalam system manufaktur tradisional, fasilitas jasa dipusatkan untuk
memberikan dukungan kepada seluruh departemen produksi. Dalam
system JIT. Fasilitas jasa didesentrasisasikan. Hal ini dilakukan dengan
menugaskan karyawan yang memiliki keahlian didesentralisasikan. Hal
ini dilakukan dengan menugaskan karyawan yang memiliki keahlian
khusus langsung ke lini produk, dan melatih karyawan sebuah sel untuk
melaksanakan aktivitas jasa yang sebelumnya dikerjakan oleh karyawan
tidak langsung. Dengan demikian, biaya jasa sekarang dapat ditelusur
langsung ke sel manufaktur dan ke lini produk.
• Pengaruh JIT Terhadap Biaya Tenaga Kerja Langsung
Ketika sebuah perusahaan menerapkan system JIT dan
mengotomasikan system tersebut, maka jumlah biaya tenaga kerja
langsung berkurang secara signifikan. Selain itu, karyawan pabrik
menjadi terlatih untuk melaksanakan berbagai jenis pekerjaan,
sehingga biaya tenaga kerja langsung cenderung stabil meskipun
jumlah produksi berfluktuasi.
• Pengaruh JIT terhadap Penilaian Persediaan
Salah satu persoalan yang dieliminasi ketika perusahaan menerapkan
system manufaktur JIT adlaah kebutuhan untuk menentukan kos
produk guna penilaian persediaan. Jika perusahaan memiliki
persediaan, maka persediaan tersebut harus dinilai sesuai dengan
standar akuntansi yang berlaku umum.
• Pengaruh JIT Terhadap Penentuan Kos Pesanan
Penerapan JIT pada perusahaan yang membuat produk atas dasar pesanan
dilakukan sebagai berikut, pertama-tama perusahaan harus memisahkan
antar apesanan yang dbersifat berulang (sama atau sejenis) dan pesanan
yang bersifat unik. Selanjutnya dibuat sel manufaktur untuk menangani
pesanan yang repetitive. Jika permintaan terhadap sebuah produk sangat
tinggi, maka perusahaan dapat membentuk sel baru yang terdiri atas mesin-
mesin yang berlainan jenis untuk membuat produk atau komponen yang
membutuhkan urutan proses produksi yang sama.

• Penentuan Kos Proses dan JIT


Dalam system penentuan kos proses tradisional, biaya produksi dikumpulkan
atas dasar proses per periode waktu. Selanjutnya output diukur untuk
periode waktu yang sama. Biaya produksi per unit untuk periode tersebut
dihitung dengan membagi total biaya dengan jumlah unit yang dihasilkan.
Biaya per unit ini digunakan untuk menilai persediaan barang dalam proses
dan menghitung kos produk yang ditransfer keluar departemen.
• JIT dan Otomatsi
Penerapan system JIT biasanya diikuti dengan otomasi manufaktur.
Oleh karena itu, sebuah perusahaan yang mengadopsi system JIT
segera akan menerapkan teknologi maju untuk proses produksinya.
Tujuan dilakukannya otomasi ini adalah untuk meningkatkan kapasitas
produksi, meningkatkan efiiensi, memperbaiki kualitas dan jasa,
menurunkan waktu pemrosesan, dan meningkatkan output. Ada tiga
tingkatan otmasi: otomasi sebagian alat produksi, otomasi sel, dan
otomasi pabrik secara menyeluruh.
• Backflush Costing
Sistem JIT juga menyerhanakan akuntansi untuk arus biaya produksi.
Penyederhanaan ini disebut dengan backflushing costing, karena system ini
mengeliminasi rekening Produk Dalam Proses, dan membebankan biaya
produksi ke Persediaan Produk Jadi secara langsung. Ada dua perubahan
dibandingkan system konvensional: pertama berhubungan dengan akuntansi
untuk bahan baku dan akuntansi untuk biaya konversi. JIT mengeliminasi
rekening persediaan bahan baku dan rekening produk dalam proses, namun
menggantinya dengna rekening Bahan Baku Dalam Proses (Raw Materials in
Process).
Dengan demikian, saat bahan baku dibeli perusahaan tidak perlu
mencatatnya ke dalam rekening tersendiri. Ketika produk selesai dibuat,
biaya bahan baku langsung ditransfer ke Produk Jadi. Kedua, biaya tenaga
kerja dan biaya overhead tidak diperlakukan terpisah. Kedua biaya ini
digabungkan dalam sebuah rekening yaitu Biaya Konversi. Sisi debit rekening
ini digunakan untuk mencaat biaya konversi sesungguhnya. Biaya koversi
yang dibebankan dicatat dengan mendebit rekening Persediaan PRODUK Jadi
dan mengkredit proses produksi.
Dengan demikian, biaya produksi melompat (flushed) keluar system setelah
produk selesai dibuat.
Untuk memberikan gambaran tentang back flushing costing dan
membandingkannya dengan system konvensional, diasumsikan sebuah
perusahaan melaksanakan transaksi selama bulan Februari 2012 sebagai
berikut:
Dibeli bahan baku secara kredit seharta Rp 800.000.000,00.
Seluruh bahan baku yang diterima digunakan untuk produksi.
Biaya tenaga kerja langsung yang sesungguhnya berjumlah Rp
100.000.000,00.
Biaya overhead sesungguhnya berjumlah Rp 1.100.000.000,00.
Biaya konversi yang dibebankan berjumlah Rp 1.00.000.000,00. Dari jumlah
tersebut Rp 100.000.000,00 diantaranya merupakan biaya tenaga kerja
langsung.
Semua pekerjaan selesai pada akhir bulan.
Jurnal pada system konvensional

Persediaan Bahan Baku 800.000.000


Uang Dagang 800.000.000
(mencatat pembelian bahan baku secara kredit)

Produk Dalam Proses 800.000.000


Persediaan Bahan Baku 800.000.000
(mencatat pemakaian bahan baku)

Persediaan Produk Dalam Proses 100.000.000


Utang Gaji 100.000.000
(mencatat konsumsi tenaga kerja)
BOP – Sesungguhnya 1.100.000.000
Utang Dagang 1.100.000.000
(mencatat BOP Sesungguhnya)

Persediaan Produk Dalam Proses 1.000.000.000


BOP Dibebankan 1.000.000.000
(mencatat Pembelian BOP)

Persediaan Produk Jadi 1.900.000.000


Persediaan Produk Dalam Proses 1.900.000.000
(mencatat transfer ke produk jadi)
Jurnal system JIT

Bahan Baku Dalam Proses 800.000.000


Utang Dagang 800.000.000
(mencatat pembelian dan pemakaian bahan baku)

Tidak ada jurnal


Lihat jurnal nomor 4 (tenag akerja digabung dengan overhead)
Biaya konversi 1.200.000.000
Utang Dagang 1.100.000.000
Utang Gaji 100.000.000
(Mencatat biaya konversi sesungguhnya)
Lihat jurnal nomor 6 (pembebanan ditandai oleh selesainya produk)
Persediaan Produk Jadi 1.900.000.000
Biaya Konversi 1.100.000.000
Bahan Baku dalam Proses 800.000.000
(Mencatat transfer produk jadi dan pembebanan biaya konversi)
• Ada beberapa variasi system penentuan kos backflush. Jika system ini
merupakan system JIT murni, maka barang yang telah selesai
diproduksi langsung dijual (diserahkan) kepada pelanggan. Oleh
karena itu, rekening yang didebit bukan rekening Persediaan Produk
Jadi, namun rekening Kos Penjualan. Dengan demikian, jurnal nomor
6 akan Nampak sebagai berikut:

6. Kos Penjualan 1.900.000.000


Biaya Konversi 1.100.000.000
Bahan Baku dalam Proses 800.000.000
(Mencatat transfer produk jadi dan pembebanan biaya konversi)
Perubahan yang cukup mendasar terjadi adalah penempatan biaya
bahan baku dalam rekening Kos Penjualan saat bahan baku tersebut
dibeli.
Sekian dan Terimakasih