Anda di halaman 1dari 22

Kelompok Fisika - Aditya Ahmad Fauzan

- Arya Dimas
- Hari Nurdianto
pemanasan global - Muhammad Dicky
Pengertian Pemanasan Global

• Pemanasan global atau global warming adalah suatu proses meningkatnya


temperature rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Temperature rata-
rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0,74 +/- 0,18 oC selama
seratus tahun terakhir. International panel on climate change (IPPC)
menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak
pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya
konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.
• Meningkatnya temperature rat-rata permukaan dan atmosfer bumi
mengakibatkan bumi terasa lebih panas dan pada siang hari kita merasakan
panas yang berlebihan.
• Pemanasan global berdampak pada banyaknya kerusakan di bumi, sangat
membahayakan dan mengancam kehidupan di bumi.
Penyebab Pemanasan Global

• 1. Efek rumah kaca


Efek rumah kaca ditemukan pertama kali oleh joseph fourier pada tahun 1824
merupakan sebuah proses dimana atmosfer memanaskan sebuah planet. Mars, Venus
dan benda langit beratmosfer lainnya memilliki efek rumah kaca.
Segala sumber energy yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian
besar energy tersebut berupa radiasi gelombang pendek termasuk cahaya tampak.
Ketika sampai dipermukaan bumi sebagian energy cahaya berubah menjadi energy
kalor dan kalr yang tidak terserap dipantulkan kembali ke atmosfer. Sebagian energy
yang terpantul ini berupa radiasi gelombang panjang pada spectrum infra merahke
angkasa luar. Sebagian energy kalor tetap terperangkap dalam atmosfer bumi akibat
meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca antara lain: CO2, CH4, SO2 dan sebagainya,
yang menjadi perangkap radiasi energy ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan
kembali radiasi energy yang dipancarkan bumi dan akibatnya energy tersebut
tersimpan di permukaan bumi dalam bentuk kalor atau panas. Hal ini terjadi berulang-
ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata permukaan bumi terus meningkat. Gas-gas
tersebutr berfungsi sebagai kaca dan rumah kaca.
Beberapa aktivitas manusia yang berdampak meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca
adalah :
a. Konsentrasi energy bahan bakar fosil
Menurutdata dari departemen energy dan sumber daya mineral (2003), konsumsi
bahan bakar fosil sebanyak 70% dari total konsumsi energy , listrik pada posisi kedua
sebanyak 10% dari total konsumsi energy. Amerika serikat merupakan Negara dengan
penduduk yang mempunyai gaya hidup sangat boros dalam mengkonsumsi energy bahan
bakar fosil, Indonesia termasuk Negara pengkonsumsi terbanyak di asia setelah cina,
jepang, india dan korea selatan. Konsumsi energy yang besar ini dieroleh karena
banyaknya penduduk yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya.
Menurut Prof. Emil Salim, amerika serikat dengan jumlah 1,1 milyar penduduk
mengemisikan 20 ton gas CO2 per orang per tahun. Cina dengan 1,3 milyar penduduk
mengemisikan 1,2 ton gas CO2 per orang per tahun.
b. Sampah
Sampah menghasilkan gas metana (CH3) DIPERKIRAKAN 1 TON SAMPAH PADAT
MENGHASILKAN 50 Kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapai
kota-kota di Indonesia. Berdasarkan data dari kementerian negeri lingkungan hidup,
pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah
sebanyak 0,8 Kg /hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 1 Kg/hari. Disisi lain
jumlah penduduk terus meningkat , sehingga diperkirakan 20 tahubn yang akan datang
jumlah sampah yang dihasilkan penduduk perkotaan terus meningkat dan kemungkinan
dapat mencapai 190ribu ton/tahun. Dengan demikian , sampah di perkotaaan
merupakan sector yang sangat potensial mempercepat proses pemanasan global.
c. Kerusakan hutan
Salah satu fungsi tumbuhan /hutan adalah mengurangi gas rumah kaca di atmosfer
melalui penyerapan gas karbondioksida (CO2) dan mengubahnya menjadi gas oksigen (O2). Saat
ini di Indonesia telah terjadi kerusakan hutan yang disebabkan oleh manusia. Kerusakan hutan
tersebut disebabkan oleh kebakaaran hutan dan perubahan tata guna lahan, antara lain
perubahan hutan menjadi perkebunan dengan tanaman tunggal misalnya kelapa sawit.
Kerusakan hutan yang lain dapat ditimbulkan pemegang pengusaha hutan (PPH). Penebangan
hutan secara besar-besaran dan tidak segera dilakukan reboisasi semakin memperparah
kerusakan hutan. Akibat kerusakan hutan adalah kurang optimalnya proses penyerapan gas
karbondioksida.
d. Pertanian dan peternakan
Sawah-sawah yang tergenang mengakibatkan terjadinya pembusukan sisa-sisa
pertanian, penggunaan pupuk serta pembusukan kotoran ternak menghasilkana gas metana
(CH4) dan gas dinitro oksida (N2O). disamping itu saat mengawali pengolahan sawah para petani
melakukan pembakaran sisa-sisa tanaman sehingga dihasilkan gas CO2. Gas-gas tersebut adalah
gas rumah kaca . Hewan-hewan ternak seperti sapi adalah polutan metana yang signifikan. Sapi
secara alamiah akan melepaskan metana (CH4) dari dalam perutnya selama proses mencerna
makanan. Hasil penelitian para ilmuwan bahwa metana merupakan gas rumah kaca yang 23 kali
lebih buruk daripda karbondioksida.
Limbah lain dari sector peternakan aadalah kotoran ternak. Kotoran ini mengandung
senyawa Nitrogen Oksida (NO) yang 300 kali lebih berbahaya dibandingkan gas C02. Di Indonesia
sector pertanian dan peternakan berkontribusi pada emisi gas rumah kaca 8,05% dari total gas
rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer.
• 2. Efek umpan balik
Analisis penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai
proses umpan balik yang dihasilkannya. Contoh penguapan air. Proses
peningkatan suhu atmosfer akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti
karbon dioksida (C02) dan gas metana (CH4) mengakibatkan lebih banyak
terjadi penguapan air ke atmosfer. Efek rumah kca yang dihasilkan penguapan
air lebih besar jika dibandingkan dengan akibat yang ditimbulkan gas
karbondioksida ataupun gas metana.
Efek umpan balik karena awan saat ini sedang menjadi obyek
penelitian. Bila ditinjau dari posisi bawah, awan memantulkan kembali radiasi
inframerah ke permukaan bumi, sehingga meningkatkan efek pemanasan
global. Sebaliknya jika ditinjau dari posisi atasm awan akan memantulkan
radiasi sinar matahari dan radiasi inframerah ke angkasa , sehingga
meningkatkan pendinginan. Efek netto nya menghasilkan pemanasan atau
pendinginan masih berganntung pada beberapa factor seperti tipe dan
ketinggian awan dari permukaan bumi.
Dampak Pemanasan Global

• Para ilmuwan menggunakan model computer dari temperature,


pola presipitasi dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari
pemanasan global. Berdasarkan model tersebut , para ilmuwan
membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global
terhadap temperature global, iklim, tinggi permukaaan air laut,
pertanian, perikanan, kehutanan dan kesehatan masyarakat.
1. Kenaikan temperature global
Kenaikan temeratur global menyebabkan mencairnya es di kutub utara
dan selatan, sehingga menambah volume dan menaikkan permukaan air laut,
yag mengakibatkan berkurangnya luas permukaan daratan. Pulau-pulau kecil
di daerah landai akan hilang. Naiknya prmukaan air laut juga berdampak
menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta terjadinya pemutihan
terumbu karang (coral bleaching) dan punahnya berbagai ikan. Dampak lain
adalah memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat dari merembesnya air
laut, serta kerusakan infrastruktur perkotaan daerah pantai, akibat tergenang
air laut.
2. Perubahan iklim
Para ilmuwan memprediksikan bahawa selama pemanasan global, di beberapa
daerah musim tanam menjadi lebih panjang. Temperature udara pada musim dingin
dan malam hari cenderung meningkat. Daerah ahngat akn menjadi lebih lembab karena
lebih banyak terjadi penguapan air lautan.
Para ilmuwan belum begitu yakin dampak kelembaban udara terhadap
pemanasan global, apakah kelembaban udara akan meningkatkan atau bahkan
menurunkan temperaatur pemanaasan global. Hal ini disebabkan karena uap air
merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi
pada atmosfer.
Perubahan iklim akan mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode
yang singkat serta musim kemarau yang panjang. Di beberapa daerah terjadi
peningkatan curah hujan sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah
longsor, sementara di tempat lain terjadi penurunan curah hujan yang berpotensi
menimbulkan kekeringan. Sebagian besar daerah aliran sungai (DAS) rterjadi
perbedaan tingkat air pasang dan surut yang semakina tajam. Hal ini mengakibatkan
meningkatnya intensitas terjadinya banir atau kekeringan. Kondisi ini semakin parah
apbila daya tamping sungai atau waduk tidak terpelihara akibat erosi ataupun
sedimentasi.
3. Kenaikan permukaan air laut
Kenaikan temperature global menyebabkan temperature air laut juga
akan mengalami kenaikan sehingga volume menjadi bertambah dan menaikkan
tinggi permukaaan laut. Pemanasan juga berdampak mencairkannya es di
kutub utara dan selatan, sehingga memperbanyak volume dan menaikkan
permukaan air laut lebih tinggi lagi, yang mengakibatkan berkurangnya luas
daratan. Pulau-pulau kecil di daerah landai akan hilang. Tinggi permukaan laut
di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm selama abad ke 20, dan para
ilmuwan IPPC memprediksi peningkatan lebih lanjut berkisar 9-88 cm pada
abad ke 21.
Kenaikan permukaan laut sangat mempengaruhi kehidupan di daerah
pantai. Naiknya permukaan air laut berdampak menurunkan produksi tambak
ikan udang serta terjadimya pemutihan terumbu karang dan punahnya
berbagai jenis ikan. Dampak lain adalah memburuknya kualitas air tanah,
sebagai akibat dari merembesnya air laut, serta kerusakan infrastruktur
perkotaan di daerah pantai akibat tergenang air laut.
4. Pertanian
Pada umumnya semua bentuk sstem pertanian sensitive terhadap
perubahan iklim. Perubahan iklim berakibat pada pergeseran musim dan
pergeseran pola curah hujan. Hal tersebut berdampak pada pla pertanian
misalnya keterlambatan masa tanam atau panen, kegagalan penanaman atau
panen karena banjir, tanah longsor, atau kekeringan. Yang pada akhirnya
berakibat terjadinya penurunan produksi pertanian.
Dampak pemanansan global di Indonesia terkait dengan perubahan
iklim adalah terpengaruhnya ketahanan pangan nasional. Bahan-bahan
pokkok terpaksa harus impor dari Negara lain.
5. Perikanan
Kenaikan temperature air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan
terumbu karang dan selanjutnya matinya terumbu karang yang merupakan
habitat berbagai jenis ikan. Temperature air laut yang meningkat juga
memicu terjadinya migrasi berbagai jenis ikan yang sensitive terhadap
perubahan suhu secara besar-besara menuju ke daerah yang lebih dingin.
Fenomena matinya terumbu krang dan migrasi ikan merugikan nelayan
karena menurunkan hasil tangkapan.
6. Kehutanan
Kenaikan temperature global berdampak pada kenaikan temperature
di kawasan kekhutanan menyebabkan runput-rumput dan ranting mongering
dan mudah terbakar. Kebakaran hutan menyebabkan punahnya berbagai
keanekaraman hayati dan meningkatnya kadar CO2.
7. Kesehatan
Dampak pemanasan global pada sector kesehatan adadlah
meingkatnya frekuensi penyakit tropis, misalnya penyakit yang ditularkan
oleh nyamuk (malaria dan demam berdarah), mewabahnya diare, penyakit
leptospirosis atau kencing tikus dan penyakit kulit. Kenaikan temperature
udara menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin cepat berkembang biak.
Bencana banjir menyebabkan terkontaminasinya persediaan air bersih
sehingga menimbulkan wabah penyakit diare dan penyakit kulit. Penyakit
ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) kemungkinan muncu;l sebagai akibat
dari polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik, kendaraan bermotor, dan
kebakaran hutan.
Pengendalian Pemanasan Global

• Pemanasan global dapat dikendalikan dengan berbagai cara dan kita


dapat ikut berperan di dalamnya, yaitu
1. Jangan menebang pohon sembarangan
Pepohonan merupakan penyerap gas CO2 dan penghasil gas O2
terbesar di dunia. Setiap hari kita bernafas membutuhkan oksigen dan
pepohonanlah yang setiap harinya menyediakan oksigen untuk kita.
Semakin sedikit pepohonan semakin banyak gas CO2 di atmosfer bumi dan
akibatnya membuat bumi semakin panas.
2. Melakuikan reboisasi
Banyak aktivitas manusia dengan merusak hutan hanyauntuk mencari
keuntungan sesaat. Tanpa disadari hutan yang fungsinya sangat vital bagi
kehidupan di bumidirusak oleh sebagian manusia yang tidak bertanggung
jawab. Dengan reboisasi terhadap hutamn yang sudah gundul kita mencegah
pemanasan global dan juga terjadinya banjir dan tanah longsor.
3. Menanam pohon di pekarangan rumah
Memanfaatkan tanah di pekarangan kosong dengan tanman hias dan
tanaman lain yang memiliki daun hijau memiliki pptensi menyerap gas CO2
dan CO dan dapat menghasilkan gas oksigen serta lingkungan pekarangan
menjadi sejuk dan segar.
4. Menggunakan lampu hemat energy dan mematikan lampu di siang hari
Lampu hemat energy membantu penghematan energy listrik. Matikan
lampu penerangan ruangan rumah di siang hari berpengaruh pada penggunaan
energy listrik. Penggunaan energy listrik yang berlebihan berdampak pada
pembakaran batubara atau BBM untuk mengtoperasikan pembangkit listrik.
Pembakaran baatubara atau BBM menghasilkan gas CO2 yang berpotensi
meningkatkan pemanasan global.
5. Kurangi penggunaaan kendaraan pribadi
Kendaraan berbahan bakra minyak mengeluarkan gas pembuangan
berupa CO2 dan COdalam jumlah besargas-gas itu dapat menimbulkan efek
rumah kaca yang akhirnya membuat pemanasan global semakin parah.
Persetujuan Internasional

• Kerjasama internasiional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-


gas rumah kaca. Tahun 1988 oleh dua organisasi PBB, World meteorological
Organization (WMO) dan United Nation Programme (UNEP) didirikan
Intergovermental Panel on Climate Change (IPPC) atau Panel
Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim untuk mengevaluasi resiko
perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
• Pada tahun 1992 pada Earth Summit di Rio de Jeneiro Brazil, 150 negara
berikrar untuk menghadapi gas rumah kaca dan setuju untuk
menindaklanjutinya dalam perjanjian yang mengikat , bentuk
kerjasamanya adalah diadakannya United Nation Framework Convention
on Climate Change (UNFCCC). Menurut UNFCCC Negara-negara peserta
sepakat untuk mengumpulkan data berbagai informasi tentang emisi gas
rumah kaca. Meskipun perjanjian ini tidak mengikat secara hukum , tetapi
banyak Negara melihat kesepakatan ini merupakan lanngkah penting
sehingga berkomitmen menjalankannya.
• Pada tahun 1997 di jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang
lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto. Protokol Kyoto
merupakan perjanjian internasional untuk menurunkan emisi gas rumah
kaca yang dihasilkan oleh industry dunia dan juga untuk mengatasi
berbagai masalah akibat aktivitas manusia terhadap perubahan iklim.
Protokol Kyoto mengikat secara hukum bagi Negara-negara pesertaa
untuk mengurangi emisi karbondioksida , metana, nitrogen dioksida,
sulfur hexaflourida, senyawa hidroflourida (HFC) dan perfluorokarbon
(PFC).
Terryima Kasich~