Anda di halaman 1dari 57

DISTRIBUSI FREKUENSI

A. PENGERTIAN DISTRIBUSI
FREKUENSI

Daftar yang memuat data berkelompok disebut


distribusi frekuensi atau tabel frekuensi.

Data berkelompok adalah data yang telah


disusun ke dalam kelas-kelas tertentu.
Jadi, distribusi frekuensi adalah susunan data
menurut kelas-kelas interval tertentu atau menurut
kategori tertentu dalam sebuah daftar.
DISTRIBUSI FREKUENSI
DATA KUALITATIF

Data pada tabel 4.1 merupakan data kualitatif 50 orang


pembeli komputer.

Dari data tersebut kita kesulitan untuk mengetahui dengan


cepat, jenis komputer mana yang paling banyak diminati
pembeli.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka datanya perlu


disajikan dalam distribusi frekuensi
Tabel 4.2 Pembelian Komputer

Perusahaan Frekuensi
Apple 13
Compaq 12
Gateway 2000 5
IBM 9
Packard Bell 11
Jumlah 50
Distribusi Frekuensi Relatif dan Persentase Data Kualitatif

frekuensi kelas
Frekuensi relatif dari suatu kelas 
n
Tabel 4.3

Perusahaan Frekuensi Frekuensi Persentase


Relatif
Apple 13/50 = 0,26 (13/50)x 100% = 26%
Compaq 0,24 24
Gateway 2000 0,10 10
IBM 0,18 18
Packard Bell 0,22 22
Jumlah 1,00 100
DISTRIBUSI FREKUENSI
DATA KUANTITATIF
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam
menentukan kelas bagi distribusi frekuensi
untuk data kuantitatif, yaitu
- jumlah kelas,
- lebar kelas
- batas kelas.
Jumlah Kelas
Banyaknya kelas sebaiknya 7 dan 15, atau
paling banyak 20.

k = 1 + 3,322 log n
k = banyaknya kelas
n = banyaknya data/nilai observasi
Untuk n = 100

k = 1 + 3,322 log 100


= 1 + 3,322 (2)
= 1 + 6,644
= 7,644

Jadi banyaknya kelas sebaiknya 7


Interval Kelas
Panjang interval kelas ( c ) :
X n  X1 Jangkauan ( R )
c 
k banyaknya kelas ( k )

c = interval kelas
k = banyaknya kelas
Xn = nilai observasi terbesar
X1 = nilai observasi terkecil

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam


penentuan interval kelas, yaitu :
a. Kelas interval tidak perlu harus sama

Batas Kelas Modal Frekuensi f


(1) (2)
< 50 5
50 – 59 11
60 – 69 20
> 70 64
b. Kalau datanya diskrit, atau hasil pengumpulan data dari
variabel diskrit

Upah Mingguan Banyaknya Karyawan


(Rp) (f)
(1) (2)
< 1000 2.918
1.000 – 1.999 5.327
2.000 – 2.999 6.272
3.000 – 3.999 7.275
> 15.000
Batas Kelas
Nilai-nilai yang membatasi kelas yang satu
dengan kelas yang lain.
Terdapat dua batas kelas, yaitu:
a. Batas kelas bawah (lower class limit)
terdapat dideretan kiri setiap kelas
b. Batas kelas atas (upper class limit)
terdapat dideretan kanan setiap kelas
Batas kelas merupakan batas semua dari setiap
kelas, karena di antara kelas yg satu dengan kelas
yang lain masih terdapat lubang tempat angka
tertentu.
Contoh 4.1

Suatu penelitian dilakukan oleh pejabat dari Badan


Koordinat Penanaman Modal (BKPM) terhadap 100
perusahaan. Salah satu karakteristik yang diteliti ialah
besarnya modal yang dimiliki perusahaan-perusahaan
tersebut. Apabila X adalah modal dalam jutaan rupiah,
maka nilai X adalah sebagai berikut:
Contoh 4.1
75 86 66 86 50 78 66 79 68 60

80 83 87 79 80 77 80 92 57 52

58 82 73 95 66 60 84 80 79 63

80 88 58 84 96 87 72 65 79 80

86 68 76 41 80 40 63 90 83 94

76 66 74 76 68 82 59 75 35 34

65 63 85 87 79 77 76 74 76 78

75 60 96 74 73 87 52 98 88 64

76 69 60 74 72 76 57 64 67 58

72 80 72 56 73 82 78 45 75 56
X n  X 1 98  34
c   8,3725
k 7,644

Diambil 9 atau 10
Batas atas (upper limit)

Batas Kelas Modal X


(1) (2)
30 – 39 34,5
40 – 49 44,5
50 – 59 54,5
60 – 69 64,5
70 – 79 74,5
80 – 89 84,5
90 – 99 94,5

Batas bawah (lower limit)


Batas atas yang sebenarnya
Tepi atas

Batas Kelas Modal X


(1) (2)
29,5 30 – 39 39,5 34,5
39,5 40 – 49 49,5 44,5
50 – 59 54,5
60 – 69 64,5
70 – 79 74,5
80 – 89 84,5
89,5 90 – 99 99,5 94,5

Batas bawah yang sebenarnya


Tepi bawah
Tepi kelas.
Batas kelas yang tidak memiliki lubang untuk angka
tertentu antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.
Penentuan tepi kelas tergantung pada keakuratan
pencatatan data.

Terdapat dua tepi kelas, yaitu:


a. Tepi bawah kelas atau batas kelas bawah
sebenarnya.
b. Tepi atas kelas atau batas atas sebenarnya.

Untuk Ketelitian sampai satu desimal,


a. Tepi bawah kelas = batas bawah kelas – 0,5
b. Tepi atas kelas = batas atas kelas + 0,5
Titik tengah kelas.
Angka atau nilai data yang tepat terletak
di tengah suatu kelas.
Titik tengah kelas merupakan nilai
yang mewakili kelasnya.
Titik tengah kelas :
½ (batas atas + batas bawah) kelas
Nilai tengah/mean = ½ (30+39) = 34,5
(M)

Batas Kelas Modal X


(1) (2)
30 – 39 34,5
40 – 49 44,5
50 – 59 54,5
60 – 69 64,5
70 – 79 74,5
80 – 89 84,5
90 – 99 94,5
Contoh 4.1
75 86 66 86 50 78 66 79 68 60

80 83 87 79 80 77 80 92 57 52

58 82 73 95 66 60 84 80 79 63

80 88 58 84 96 87 72 65 79 80

86 68 76 41 80 40 63 90 83 94

76 66 74 76 68 82 59 75 35 34

65 63 85 87 79 77 76 74 76 78

75 60 96 74 73 87 52 98 88 64

76 69 60 74 72 76 57 64 67 58

72 80 72 56 73 82 78 45 75 56
Untuk n = 100

k = 1 + 3,322 log 100


= 1 + 3,322 (2)
= 1 + 6,644
= 7,644

Jadi banyaknya kelas 7 atau 8

X n  X 1 98  34
c   8,3725
k 7,644

Diambil 9 atau 10
Tabel 4.5 Frekuensi Hipotetis Modal Perusahaan
(Jutaan rupiah)
Batas Kelas Modal X Sistem Tally f

(1) (2) (3) (4)


30 – 39 34,5 // 2
40 – 49 44,5 /// 3
50 – 59 54,5 //// //// / 11
60 – 69 64,5 //// //// //// //// 20
70 – 79 74,5 //// //// //// //// //// //// // 32
80 – 89 84,5 //// //// //// //// //// 25
90 – 99 94,5 //// // 7
Jumlah 100
k=7 34 – 3 = 31
c=9 c = 10

34 – 42 34 – 43 31 – 40
43 – 51 44 – 53 41 – 50
52 – 60 54 – 63 51 – 60
61 – 69 64 – 73 61 – 70
70 – 78 74 – 83 71 – 80
79 – 87 84 – 93 81 – 90
88 – 96 94 – 103 91 – 100
103 – 98 = 5
Nilai terkecil = 34
98 + 2 = 100
Nilai terbesar = 98
Frekuensi Relatif,
Frekuensi Kumulatif, dan Grafik
Selain tabel frekuensi, tabel frekuensi relatif dan
kumulatif (untuk analisis grafik). Grafik berupa gambar
pada umumnya lebih mudah diambil kesimpulannya
secara cepat daripada tabel. Itulah sebabnya data sering
kali disajikan dalam bentuk grafik.
Pada dasarnya, bentuk tabel frekuensi relatif dan
kumulatif terlihat pada tabel 4.6 berikut:
Frekuensi Relatif,
Frekuensi Kumulatif, dan Grafik Tabel 4.6
X f fr fk * fk *

f1
X1 f1 f1 f1  f 2  ...  f i  ...  f k
n
f2
X2 f2 f1  f 2 f 2  ...  f i  ...  f k
n

fi
Xi fi f1  f 2  ...  f i f k  ...  f k
n
fk
Xk fk f1  f 2  ...  f i  ...  f k fk
n


k
fi  n
f i
1
i 1 n
Tabel 4.7 Frekuensi Hipotetis Modal Perusahaan
(Jutaan rupiah)
Batas Kelas X f fr Fk Fk
Modal FL FM
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2
29,5 30 – 39 39,5 34,5 2 100
100%  2% 2% 100%
40 – 49 44,5 3 3 5 98
50 – 59 54,5 11 11 16 95
60 – 69 64,5 20 20 36 84
70 – 79 74,5 32 32 68 64
80 – 89 84,5 25 25 93 32
90 – 99 94,5 7 7 100 7
Jumlah 100 100%

FL  tepi atas kekiri


FM  tepi bawah kekanan
Peraga 4.5

Kurva Frekuensi Kumulatif

100

80 Lebih dari

60

40
Kurang dari
20

0
29,5 39,5 49,5 59,5 69,5 79,5 89,5 99,5
D. HISTOGRAM, POLIGON
FREKUENSI, DAN KURVA

1. Histogram dan Poligon Frekuensi


Histogram dan poligon frekuensi adalah
dua grafik yang sering digunakan untuk
menggambarkan distribusi frekuensi.
Histogram : grafik batang
Poligon frekuensi : grafik garis
Grafik dari Tabel Frekuensi,
Rrekuensi Relatif dan Kumulatif
Contoh 4.2:
Histogram

35
30
25
Frequency

20 Poligon
15
35
10
Frequency
30
5
25
0
29,5 39,5 49,5 59,5 69,5 79,5 89,5 99,5
Frequency
20
Bin
15
10
Frequency
5
0
29,5 39,5 49,5 59,5 69,5 79,5 89,5 99,5

Bin
2. Kurva Frekuensi

Kurva distribusi frekuensi, disingkat


kurva frekuensi yang telah dihaluskan
mempunyai berbagai bentuk dengan
ciri-ciri tertentu.
Antara lain, simetris, tidak simetris,
bentuk J, bentuk U, Bimodal,
Multimodal, dll.
Kurva Frekuensi Kumulatif

100

80 Lebih dari

60

40
Kurang dari
20

0
29,5 39,5 49,5 59,5 69,5 79,5 89,5 99,5
Contoh 4.6
Upah Banyaknya fr fk (%) fk (%)
(Ribuan Karyawan (%) (kurang (lebih
Rupiah) f dari) dari)
(1) (2) (3) (4) (5)
50 – 59,99 8 12,3 12,3 100,0
60 – 69,99 10 15,4 27,7 87,7
70 – 79,99 16 24,6 52,3 72,3
80 – 89,99 14 21,5 73,8 47,7
90 – 99,99 10 15,4 89,2 26,2
100 – 109,99 5 7,7 96,9 10,8
110 – 119,99 2 3,1 100,0 3,1
Jumlah 65 100,0
Contoh :
Tabel 1. Modal PT.Angin Ribut
Modal ( jutaan Rp) Frekuensi ( f )
50-59 16
60-69 32
70-79 20
80-89 17
90-99 15
Jumlah 100

Sumber : Data fiktif


Dari contoh tabel 1 :
 Banyaknya kelas :5
 Batas kelas : 50, 59, 60, 69,…..
 Batas bawah kelas : 50, 60, 70, 80, 90
 Batas atas kelas : 59, 69, 79, 89, 99
 Tepi bawah kelas : 49,5 ; 59,5 ; …;89,5
 Tepi atas kelas : 59,5 ; 69,5 ; …; 99,5
 Titik tengah kelas : 54,5 ; 64,5 ; … ; 84,5
 Interval kelas : 50-59, 60-69,…, 90-99
 Panjang interval masing-masing 10
 Frekuensi kelas adalah 16, 32, 20, 17 dan 15
C. PENYUSUNAN DISTRIBUSI
FREKUENSI
Distribusi Frekuensi dapat dibuat
dengan mengikuti pedoman berikut :
1. Mengurutkan data.
2. Menentukan jangkauan (range) dari data.
3. Menentukan banyaknya kelas (k).
4. Menentukan panjang interval kelas.
5. Menentukan batas bawah kelas pertama.
6. Menghitung frekuensi kelas.
1. Mengurutkan data.
Mulai dari data yang terkecil ke
yang terbesar.

2. Menentukan jangkauan
( range ) dari data
Jangkauan ( R ) :
Data terbesar – data terkecil
3. Menentukan banyaknya kelas

k = 1 + 3,322 log n
k = banyaknya kelas
n = banyaknya data
4. Menentukan Panjang Interval Kelas

Panjang interval kelas ( i ) :


Jangkauan ( R )

banyaknya kelas ( k )
5. Menentukan batas bawah kelas pertama

Batas bawah kelas pertama biasanya


dipilih dari data terkecil atau data
terkecil yang berasal dari pelebaran
jangkauan(data yang lebih kecil dari
data terkecil), dan selisihnya harus
kurang dari panjang interval kelasnya.
6. Menghitung frekuensi kelas.
Menuliskan frekuensi kelas dalam
kolom sesuai banyaknya data.
Seluruh data harus dimasukan ke
dalam kelas dan satu data tidak boleh
masuk ke dalam 2 kelas yang berbeda.
Contoh Soal 1.
Buat distribusi frekuensi dari data berikut :
78 72 74 79 74 71 75 74
72 68 72 73 72 74 75 74
73 74 65 72 66 75 80 69
82 73 74 72 79 71 70 75
71 70 70 70 75 76 77 67
Untuk n = 40

k = 1 + 3,322 log 40
= 1 + 3,322 (1,602)
= 1 + 5,3218
= 6,3218

Jadi banyaknya kelas sebaiknya 6

X n  X 1 82  65
c   2,6891
k 6,3218

Diambil 3 atau 4
Batas Kelas X Sistem Tally f

(1) (2) (3) (4)


64,5 65 – 67 67,5 66 /// 3
67,5 68 – 70 70,5 69 //// / 6
70,5 71 – 73 73,5 72 //// //// // 12
73,5 74 – 76 76,5 75 //// //// /// 13
76,5 77 – 79 79,5 78 //// 4
79,5 80 – 82 82,5 81 // 2
Jumlah 40
k=7 34 – 3 = 31
c=9 c = 10

34 – 42 34 – 43 31 – 40
43 – 51 44 – 53 41 – 50
52 – 60 54 – 63 51 – 60
61 – 69 64 – 73 61 – 70
70 – 78 74 – 83 71 – 80
79 – 87 84 – 93 81 – 90
88 – 96 94 – 103 91 – 100
103 – 98 = 5
Nilai terkecil = 34
98 + 2 = 100
Nilai terbesar = 98
Batas Kelas Modal f fr Fk Fk
FL FM
(1) (3) (4) (5) (6)
3
64,5 65 – 67 67,5 3 40
100%  7,5% 7,5% 100%
67,5 68 – 70 70,5 6 15 22,5 92,5
70,5 71 – 73 73,5 12 30 52,5 77,5
73,5 74 – 76 76,5 13 32,5 85 47,5
76,5 77 – 79 79,5 4 10 95 15
79,5 80 – 82 82,5 2 5 100 5
Jumlah 40 100%
Contoh Soal 2.
Buat distribusi frekuensi dari data berikut :
80 18 69 51 71 92 35 28
60 45 63 59 64 98 47 49
48 64 58 74 85 56 72 38
89 55 28 67 84 78 37 73
65 66 86 96 57 76 57 19
54 76 49 53 83 55 83 47
64 39
E. JENIS-JENIS DISTRIBUSI
FREKUENSI
1. Distribusi Frekuensi Biasa.
a. Distribusi frekuensi numerik
b. Distribusi frekuensi katagori
2. Distribusi Frekuensi Relatif
3. Distribusi Frekuensi Kumulatif
a. Kurang dari.
b. Lebih dari.
.

Tabel 2 Pelamar Perusahaan X, 2004


Umur (tahun) Frekuensi
20 – 24 15
25 – 29 20
30 – 34 9
35 – 39 4
40 – 44 2
Jumlah 50
b. Distribusi frekuensi katagori
Adalah distribusi frekuensi yang pembagian
kelasnya dinyatakan berdasarkan data atau
golongan data yang ada.

Tabel 3 Pembelian Komputer


Perusahaan Frekuensi
Apple 13
Compaq 12
Gateway 2000 5
IBM 9
Packard Bell 11
Jumlah 50
Distribusi Frekuensi Relatif
Adalah distribusi frekuensi yang berisikan
nilai-nilai hasil bagi antara frekuensi kelas
dan jumlah pengamatan yang terkandung
dalam kumpulan data yang berdistribusi
tertentu.
Rumusnya :
fi
fr  x 100%
f
Distribusi Frekuensi Kumulatif
Adalah distribusi frekuensi yang berisikan
frekuensi kumulatif. Frekuensi kumulatif
adalah frekuensi yang dijumlahkan.
Distribusi frekuensi kumulatif memiliki
grafik atau kurva yang disebut ogif.