Anda di halaman 1dari 27

CAPITAL

BUDGETING

Al Fawwaz Ramadhani Antariksa (165030207111154)


Dwi Novitasari (165030201111048)
Baryatul Misbah (165030200111031)
Konsep Dasar Capita
Budgeting
Capital budgeting sendiri adalah proses
perencanaan penyusunan anggaran untuk
investasi barang-barang modal atau proyek
Aspek penting dalam Capital Budgeting

01 Menggunakan Cash Flow

02 Think Incrementally

03 Perhitungkan Opportunity Cost

04 Sunk Cost Tidak Masuk Perhitungan

05 Konsekuensi proyek
Pentingnya Capital Budgeting bagi perusahaan

Dana yang dikeluarkan akan terikat dalam jangka waktu yang lama,
sehingga perlu diperhitungkan secara cermat untung ruginya

Kebutahan dana harus diperhitungkan secara tepat karena jika dana


yang tersedia melebihi kebutuhan akan menimbulkan beban tetap
tambahan.

Capital Budgeting bersangkutan dengan pengeluaran dana


untuk pembelian aktiva tetap dan pengeluaran lain untuk
jangka panjang yang tergolong dalam capital expenditure
(pengeluaran modal).
Langkah-langkah dalam keputusan investasi
tersebut meliputi

Adanya usulan investasi

Biaya dari proyek / investasi yang diusulkan

Arus kas yang dihasilkan dari investasi yang


diusulkan

Menilai usulan investasi dengan berbagai kriteria


penilaian investasi

Mengevaluasi dari usulan proyek / investasi yang


diterima secara berkesinambungan
Klasifikasi Usulan Investasi :
Usulan proyek / investasi dapat terdiri dari berbagai tipe, pada umumnya diklasifikasikan dalam tiga
kategori sebagai berikut :
Penggantian (Replacement)
usulan investasi menyangkut penggantian aset. Bentuk investasi yang merupakan cash out flows
Penggantian ini dapat bertujuan untuk yang dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu :
mempertahankan bisnis yang sudah ada atau
untuk mengurangi biaya/meningkatkan efisiensi
atau mengganti aset yang lama dengan aset yang • Capital expenditure
baru. jenis pengeluaran yang memberikan manfaat jangka
panjang seperti pembelian tanah, mesin-mesin, bangunan
Perluasan (Expansion)
dan aktiva tetap lainnya yang sering disebut dengan istilah
usulan investasi menyangkut perluasan usaha, outlay.
dapat berupa menambah jumlah
produksi/perluasan daerah pemasaran atau
menambah produk baru yang dihasilkan. • Revenue expenditure
jenis pengeluaran yang diperhitungkan sebagai
Keamanan Lingkungan
(Safety/Environmental project) biaya seperti: biaya material, tenaga kerja, biaya
pabrik dan lain sebagainya
usulan investasi yang dilakukan dalam rangka
untuk mematuhi ketentuan Pemerintah, Aturan
Perburuhan atau Kebijakan Asuransi. Oleh
karenanya pengeluaran ini dinamakan
nonrevenue-producing project
Metode dalam Capital Budgeting
Syamsuddin (2007) menyatakan, ada beberapa metoda dalam Capital Budgeting untuk penentuan
rangking investasi dan pengambil keputusan,yaitu:

1. Average Rate of Return


Metode accounting rate of return adalah metode penilaian investasi yang mengukur
seberapa besar tingkat keuntungan dari invetasi.

Rata − rata EAT


ARR = × 100%
Rata − rata Investasi
Average earning after taxes
(rata-rata bersih sesudah pajak)
Average earning after taxes atau rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak
dihitung dengan jalan menambah keseluruhan keuntungan bersih sesudah
pajak selama umur proyek, kemudian dibagi dengan umur ekonomis proyek
tersebut:
σ EAT
Average EAT =
n
Di mana:
Average EAT = rata-rata keuntungan
∑EAT = total keuntungan
n = umur ekonomis

Average investment (Rata-rata investasi):

Nilai investasi
Rata-rata investasi =
2
• Metode lain untuk menghitung average rate of return dari suatu
proyek.
Average cash inflow
Average rate of return =
Average investment

• Ada lagi metode lain yang sering digunakan dalam menentukan besarnya
average rate of return yaitu,

Average earning after taxes


Average of return =
initial investment
Kebaikan-kebaikan dan kelemahan metode average rate of return

 Aspek yang paling menguntungkan dalam penggunaan teknik average rate


of return adalah kemudahan dalam penerapannya
 Kelemahan pertama adalah karena penggunaan “accounting
income” (keuntungan bersih sesudah pajak).
 Kelemahan yang kedua adalah pengabaian terhadap nilai waktu
dari uang yang akan diterima pada masa yang akan datang.
2. Pay Back Period

Perhitungan payback period untuk suatu proyek yang


mempunyai pola cash inflow yang sama dari tahun ke
tahun dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Initialinvesment
Pay Back Period =
Cashinflow
Apabila cash inflow proyek tidak sama dari tahun ke tahun,
b−c
Payback period = t +
d−c
Di mana:
t = tahun terakhir di mana umlah cash inflow belum menutup initial investment.
B = initial investment.
C = kumulatif cash inflow pada tahun ke ,t,
D = jumlah kumulatif cash inflow pada tahun t + 1

Kebaikan-kebaikan dan Kelemahan Payback Period


• Dalam perhitungannya digunakan cash inflow
• payback period juga mempertimbangkan (walaupun tidak sepenuhnya) secara
implisit faktor “timing” atau saat penerimaan cash inflow, dan dengan demikian
faktor waktu dari uang yang akan diterima.
• Payback period merefleksikan tingkat likuiditas suatu proyek (kecepatan
dalam menutup kembali modal yang diinvestasikan),

o tidak mempertimbangkan sepenuhnya faktor atau nilai waktu dari uang.


o adanya suatu kenyataan sehubungan dengan penggunaan metode payback
period yang tidak mempertimbangkan cash inflow sesudah investasi dalam
suatu proyek tertutup.
3. Net Present Value (NPV)

Net present value adalah salah satu dari teknik capital


budgeting yang mempertimbngkan nilai waktu uang yang
paling banyak digunakan. Definisi atau perhitungan net
present value (NPV) dilakukan sebagai berikut:
NPV = present cash inflow – present value investasi.
Usulan-usulan proyek akan dapat diterima apabila
NPV > 0
4. Profitability Index (PI)

Metode ini lebih sering digunakan untuk merangking beberapa proyek


yang akan dipilih dari beberapa alternatif proyek yang ada. Untuk
memilih proyek dari beberapa alternatif proyek, yang diutamakan
adalah yang mempunyai profitability index paling besar.

Rumus yang digunakan untuk mencari PI adalah sebagai berikut :

PV of Cashflow
PI =
Investasi
Selama B/C ratio ≥ 1 maka usulan proyek dapat diterima.
5. Internal Rate of Return

Internal rate of return (IRR) didefinisikan sebagai tingkat discount


atau bunga yang akan menyamakan present value cash inflow
dengan jumlah initial investment dari proyek yang sedang dinilai.
Engan perkataan lain.

Usulan proyek investasi akan diterima apabila:

IRR ≥ cost of capital

Dan akan ditolak apabila:

IRR < cost of capital


Menghitung Average rate of return
Contoh:
Perusahaan “Sari Delima” sedang menilai dua buah proyek A, dan B, yang masing-masing
membutuhkan initial investment sebesar Rp. 6.000.000,00 untuk proyek A, dan Rp 7.200.000,00
untuk proyek B. Perusahaan akan menggunakan metode garis lurus (stright-line method) dalam
mendepresiasi kedua proyek tersebut. Umur ekonomis masing-masing proyek adalah 6 tahun dan
tidak ada nilai residu pada akhir tahun ke-6.

Berdasarkan informasi di atas, maka diketahui bahwa:

Proyek A Proyek B

Initial Rp 6.000.000,00 Rp 7.200.000,00


Investment

Depresiasi Rp 1.000.000,00 Rp 1.200.000,00

CI = EAT + D

Di mana:

CI = Cash Inflow
EAT = Earning after taxes atau laba bersih sesudah pajak
D = Depresiasi
Menghitung Average rate of return

Tabel 1 Initial Investment, Earning After Taxes dan Cash Flow untuk Kedua Usulan Proyek
Perusahan “Sari Delima”

Proyek A Proyek B
Initial Investment Rp 6.000.000,00 Initial Investment Rp 7.200.000,00
Tahun EAT CI Tahun EAT CI
Rp. Rp. Rp. Rp.
1 1.000.000,00 2.000.000,00 1 3.300.000,00 4.500.000,00

2 1.000.000,00 2.000.000,00 2 1.000.000,00 2.200.000,00

3 1.000.000,00 2.000.000,00 3 800.000,00 2.000.000,00

4 1.000.000,00 2.000.000,00 4 100.000,00 1.300.000,00

5 1.000.000,00 2.000.000,00 5 100.000,00 1.300.000,00

6 1.000.000,00 2.000.000,00 6 100.000,00 1.300.000,00

Rata-rata
1.000.000,00 2.000.000,00 900.000,00 2.100.000,00
Menghitung Average rate of return Perhitungan : Metode 1
Rata-rata keuntungan bersih sesudah pajak untuk kedua proyek adalah :

Rp.6.000.000,00
Average EAT proyek A =
6
= Rp.1.000.000,00

Rp.5.400.000,00
Average EAT proyek B = 6

= Rp 900.000.00
Rata-rata investasi untuk masng-masing proyek adalah:
Nilai investasi
Rata-rata investasi = 2

Rp 6.000.000.00
Rata-rata investasi proyek A = 2

= Rp 3.000.000.00

Rp 7.200.000.00
Rata-rata investasi proyek B = 2

= Rp 3.600.000.00
Average rate of return:
Rp 1.000.000.00 Rp 900.000.00
Proyek A = Proyek B = Rp 3.600.000.00
Rp 3.000.000.00

= 0,333 atau 33,33% = 0,25 atau 25%

Metode ke 2 untuk menghitung average rate of return


Average cash inflow
• Average rate of return =
Average investment
σ Cash inflow
Average cash inflow = n

Average cash inflow untuk:

Rp 12.000.000.00 Rp 12.600.000.00
Proyek A = Proyek B =
6 6

= Rp 2.000.000.00 = Rp 2.100.000.00

Average rate of return


Rp 2.000.000.00 Rp 2.100.000.00
Proyek A = Proyek B = Rp.3.600.000,00
Rp 3.000.000.00

= 0,6667 atau 66,67% = 0,5833 atau 58,33%


Metode lain ke 3 menentukan besarnya average rate of return :

Average earning after taxes


• Average of return =
initial investment
Rp 900.000.00 Rp 900.000.00
Proyek A = Rp 6.000.000.00 Proyek B = Rp 7.200.000.00

= 0,1667 atau 16,67% = Rp 0,1250 atau 12,5%


Menghitung Pay Back Period Dengan menggunakan contoh tentang perusahaan “Sari Delima”, maka payback
Period untuk proyek A adalah sebagai berikut :

Payback Periode proyek A = Rp 6.000.000 x 1 tahun


Rp 2.000.000

Initial investment Rp 7.200.000.00 Untuk menentukan payback period


proyek B maka perhitungan cash inflow
Cash inflow: tahun 1 Rp 4.500.000.00 −
yang diperoleh perlu dilakukan satu per
Belum tertutup Rp 2.700.000.00 satu, sebagai berikut:
Tahun 2 Rp 2.200.000.00 −
Belum tertutup Rp 500.000.00
cash inflow sebesar Rp 500.000,00 dalam tahun
ketiga akan terkumpul dalam waktu 3 bulan (25 % x
Tahun 3 Rp 2.000.000.00 −
12 bulan). Dengan demikian, payback period untuk
kelebihan Rp 1.500.000.00 proyek B adalah 2,25 tahun atas 2 tahun 3 bulan.
Perhitungan payback di atas dapat disederhanakan apabila dibuat jumlah kumulatif cash inflow dari tahun ke tahun seperti
pada tabel 3 berikut:
Tabel 3 Initial Investment, EAT, Cash Inflow dan Kumulatif Cash Inflow
Untuk Kedua Usulan Proyek Perusahaan “Sari Delima” (dalam ribuan)
Proyek A Proyek B
Initial investment Rp 6.000,00 Initial investment Rp 7.200,00

Tahun EAT Cash Cumulative EAT Cash Cumulative


inflow cash inflow inflow cash inflow
Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.
1) 1.000,00 2.000,00 2.000,00 3.300,00 4.500,00 4.500,00
2) 1.000,00 2.000,00 2.000,00 1.000,00 2.200,00 6.700,00
3) 1.000,00 2.000,00 6.000,00 800,00 2.000,00 8.700,00
4) 1.000,00 2.000,00 8.000,00 100,00 1.300,00 10.000,00
5) 1.000,00 2.000,00 10.000,00 100,00 1.300,00 11.300,00
6) 1.000,00 2.000,00 12.000,00 100,00 1.300,00 12.600,00
Rp 7.200.000,00−Rp 6.700.000,00
Payback period B = 2 +
Rp 8.700.000,00−Rp 6.700.000,00
b−c
Payback period = t + = 2 + 0,25 = 2,25 tahun atau
d−c

2 tahun 3 bulan.
Contoh perhitungan NPV

NPV = Total PV – Initial investment


NPV A = Rp12.000.000 – Rp6.000.000
Tabel 5 = Rp6.000.000

NPV B = Rp12.600.000 – Rp7.200.000


= Rp5.400.000
Menghitung PI :

PV of Cashflow
PI =
Investasi
Bila kita menggunakan contoh pada metode NPV, maka bisa kita hitung
profitability indexnya:

Perhitungan PI

12.000.000
PI A =
6.000.000
=2

12.600.000
PI B =
7.200.000
= 1.75
Menghitung IRR : “Perusahaan Sari Delima”
IRR proyek A
Untuk menentukan IRR proyek A yang cash inflownya berbentuk anuited, maka diperlukan 3 langkah perhitungan:

1. Hitung besarnya payback period untuk proyek yang sedang dievaluasi.

2. Gunakan Tabel !-4 (PVIFAi_n), dan pada baris umur proyek ,n, carilah angka yang sama atau hampir sama dengan hasil
payback period dalam langkah 1 di atas. IRR terletak pada persentase terdekat dari hasil yang diperoleh.

3. Apabila masih diperlukan, maka dapat dilakukan langkah ketiga yaitu untuk menentukan besar IRR yng sesungguhnya dari
suatu proyek dengan jalan mengadakan interpolasi.

untuk mencari IRR dari usulan proyek perusahaan “sari Delima” maka IRR untuk proyek A dapat

langsung dihitung dengan menggunakan langkah-langkah yang sudah disebutkan di atas. Langkah

pertama yaitu menentukan payback period dari proyek A.

𝐑𝐩 𝟔.𝟎𝟎𝟎.𝟎𝟎𝟎.𝟎𝟎
Payback period proyek A =
𝐑𝐩 𝟐.𝟎𝟎𝟎.𝟎𝟎𝟎.𝟎𝟎

= 3.000
Untuk menetukan tingkat IRR yang sesunguhnya maka perlu dilaksanakan langkah ketiga yaitu dengan jalan
mengadakan interpolasi atas hasil yang sudah diperoleh tersebut, sebagai berikut:

Interpolasi PVIFAi,n PVIFAi,n

24% 3.020 3.020

Rate susungguhnya 3.000


25% 2,951 (−) (−)
0,069 0.020

IRR yang sebenarnya = 24% + 0.0200.069 x 1%


= 24.28%
Mengingat cost of capital perusahaan “sari Delima” adalah sebesar 10%, maka IRR proyek A sebesar 24.28%
menunjukkan keadaan yang sangat baik.
Perhitungan poyek B adalah sebagai berikut :

1. Rata-rata cash inflow = Rp 2.100.000.00 (Tabel 14.1)


6. Karena NPV yang diperoleh dalam langkah 5 di atas
Rp 7.200.000.00
2. Perkiraan besarnya payback period: = Rp 2.100.000.00 masih jauh lebih besar dari nol, maka discount rate
=3.429 tersebut harus ditingkatkan lagi, misalnya 26%.

3. Dalam tabel A-4 (PVIFAi,n) pada ,n.6 tahun diketahui Perhitungan NPV pada tingkat discount 26% disajikan

bahwa nilai yang terdekat dengan 3.429 adalah 3.410 pada table 6

pada discount rate sebesar 19%. Dengan demikian, 7. Perhitungan pada tabel 7 menunjukkan bahwa dengan
discount rate sebesar 19% ini akan dijadikan sebgai titik discount rate sebesar 26%, NPV sudah semakin kecil
awal penentuan IRR yang sebenarnya. tetapi masih lebih besar dari nol. Dengan demikian

4. Karena itu cash inflow pada tahun-tahun pertama lebih discount rate harus ditingkatkan lagi, dan sekarang kita
besar dari rata-rata cash inflow maka secara subyektif mencoba untuk menghitung NPV yang positif dan
discount rate tersebut dinaikan sebesar 3% menjadi 22%. negatif, maka proses trial and error tersebut sudah dapat
5. Dengan menggunakan discount rate sebasar 22%, maka dihentikan karena IRR untuk proyek B.
selanjutnya dihitung berapa NPV dari proyek tersebut
Tabel 7
Tabel 6 Perhitungan NPV Proyek b pada Discount rate Sebesar
Perhitungan NPV Proyek B pada discount Rate sebesar 26% 27%
Tahun Cash inflow PVIF 26 % Present value Tahun Cash inflow PVIF 27% Present value
(1) (2) (1) x (2) (1) (2) (1) X (2)
1 Rp 4.500.000,00 0,794 Rp 3.573.000,00 1 Rp 4.500.000,00 0,782 Rp 3.541.000,00
2 Rp 2.200.000,00 0,630 Rp 1.386.000,00 2 Rp 2.200.000,00 0,620 Rp 1.364.400,00
3 Rp 2.000.000,00 0,500 Rp 1.000.000,00 3 Rp 2.000.000,00 0,488 Rp 976.000,00
4 Rp 1.300.000,00 0,397 Rp 516.100,00 4 Rp 1.300.000,00 0,384 Rp 499.200,00
5 Rp 1.300.000,00 0,315 Rp 409.500,00 5 Rp 1.300.000,00 0,303 Rp 393.000,00
6 Rp 1.300.000,00 0,250 Rp 325.000,00 + 6 Rp 1.300.000,00 0,238 Rp 309.300,00 +
Total PV cash inflow Rp 7.209.600,00 Total PV cash inflow Rp 7.084.000,00
PV initial investment Rp 7.200.000,00 – PV initial investment Rp 7.200.000,00 −
NPV Rp 9. 600,00 NPV (Rp 116.000,00)

Dengan melakukan interpolasi sebagai berikut maka IRR yang sesungguhnya akan dapat ditentukan :
Thank you
Insert your subtitle here