Anda di halaman 1dari 78

Arimbi Purinada (1606924410)

Bevinna Belanisa (1606924505)


Faiqoh Zaqladi (1606924322)
Maryam Alkaff (1606924530)
Meidy Richky Wanyodiharjo (1606924341)
Melati Raisa Noor (1606923950)
Nabila Dhania (1606924442)
Noel Arsenius (1606895335)
Rahmah Auliya Yusuf (1606924493)
Salsabiela Haz Ekaputri (1606923856)
Shan Nea (1606923906)
Theodora Rachel (1606879760)
Transduksi sinyal adalah proses penyampaian sinyal
informasi yang dibawa oleh molekul sinyal (ligand) sampai
menimbulkan respon dalam komunikasi antar sel.
 Penerimaan signal (reception)
Ligan menempel ke reseptor.
Ligan = molekul signal, co: hormon
 Transduksi
Ligan menyebabkan bentuk reseptor
berubah -> merubah bentuk protein ->
Reaksi berantai
 Respon
Aktifasi enzim
Aktifasi gen
 First messenger adalah Molekul sinyal ekstraseluler yang
berikatan dengan reseptor membran
 Ligand atau molekul signaling dapat berupa:
- hormon, growth factor, neurotransmitter, feromon
-stimulus fisik: cahaya, panas, sentuhan
- perubaham konsentrasi metabolit
 Second messenger merupakan jalur persinyalan yang melibatkan
molekul atau ion kecil non protein yang terlarut air
 Sedangkan molekul sinyal ekstraseluler yang mengikat reseptor
membrane merupakan messenger pertama jalur. Karena mesenjer
kedua itu kecil dan terlarut dalam air, mesenjer ini data segera
menyebar ke seluruh sel dengan berdifusi.
 Mesenjer kedua berperan serta dalam jalur yang diinisiasi reseptor
terkait protein-G maupun reseptor tirosin-kinase
 Dua messenger yang paling banyak digunakan: AMP siklik dan Ion
kalsium.
 Second messenger ini merelai sinyal yang diinisiasi epinefrin dari membran
plasma sel hati atau otot ke bagian dalam sel, dimana sinyal itu
menyebabkan pemecahan glikogen
 Pengikatan epinefrin pada membran plasma sel hati akan meningkat kan
senyawa adenosine monofosfat siklik, yang disingkat AMP siklik atau cAMP.
 cAMP ini diaktifkan oleh adenilat siklase yang mengkatalis perombakan ATP.
 cAMP atau aliran ion tadi dapat membuat perubahan pada perilaku sel, dan
mereka disebut messenger sekunder atau mediator intraseluler yang mana
akan merangsang metabolisme sel lewat aktivitas protein kinase
 Banyak molekul sinyal pada hewan, termasuk neurotransmitter,
factor pertumbuhan, dan sejumlah hormone, menginduksi respon pada
sel targtnya melalui jalur transduksi sinyal yang meningkatkan
konsentrasi ion kalsium (Ca2+) sitosolik.
 Peningktan konsentrasi ion kalsium sitosolik menyebabkan banyak
respon pada sel hewan. Sel menggunakan ion kalsium sebagai mesenjer
kedua dalam jalur protein-G dan jalur reseptor tirosin kinase.
 Dalam merespon sinyal yang dilalui oleh jalur transduksi sinyal, kadar
kalsium sitosolik mungkin meningkat, biasanya oleh suatu mekanisme
yang melepas ion kalsium dari RE biasanya jauh lebih tinggi daripada
konsentrasi dalam sitisol.
 Karena kadar kalsium sitosolit rendah perubahan kecil pada jumlah
absolute ion akan menggambarkan persentase perubahan yang relative
tinggi pada konsentrasi kalsium.
 G Protein Couple Receptor (GPCRs)
 Cytokine Receptors and JAK-STAT Pathway
 Receptor Tyrosine Kinase
 Map Kinase Pathway
 Primary messenger : senyawa yang menginisiasi jalur
transduksi yang berada di kompartemen ekstraseluler dan
berikatan dengan reseptor membran sel plasma
 Second messenger : komponen non-protein yang larut
dalam air dan berukuran kecil sehingga dapat dengan
mudah menyebar ke seluruh sel dengan berdifusi
G- Protein Coupled receptors

Contoh : APOKYN, sebagai obat dari penyakit parkinson/PD


 Metabotropik reseptor : reseptor yang berikatan dengan
neurotransmitter dan menggunakan second messenger sebagai
salah satu jalur transduksi sinyal.
 Second messenger : melanjutkan transmisi sinyal yang diterima di
reseptor pada membrane sel.
 Phosphatidylinositol (PIP 2) : komponen minor dalam membrane
phospholipid
 G-Protein-coupled receptors (GPCR) : sebuah metabotropic
reseptor yang bekerja bersama g-protein
 G-Protein (guanine nucleotide-binding protein) : sebuah klasifikasi
protein yang terlibat dalam transmisi sinyal stimuli dari luar sel ke
dalam sel
1. First messenger aktivasi
GPCR => alpha subunit
aktivasi enzim
phospholipase C
2. enzim phospholipase C
memecahkan PIP2 menjadi
IP3 dan DAG
3. IP3 mobilisasi ion Ca2+
yang ada di sel => aktivasi
calcium-modulated protein
4. Calmodulin fosforilasi
protein terpilih sehingga
menjadi aktif => respon sel
5. Sedangkan DAG aktivasi PKC
6. PKC fosforilasi protein
terpilih sehingga menjadi
aktif => respon sel
 Lithium menginhibisi pendaur-
ulangan inositol
 Produksi PIP2 menjadi
terhambat => mengurangi
jumlah IP3 dan DAG di dalam sel
 Memodulasi metabolisme
energi, memberikan
neuroproteksi, dan
meningkatkan neuroplastisitas
Jelaskan mengapa meskipun first messenger nya sama,
seperti epinephrine misalnya, bisa memberikan respon yang
berbeda pada target sel yang berbeda?
Secara umum signaling pathway bertujuan
untuk menghasilkan respons seluler, sinyal
akan dilepaskan oleh sel pengirim untuk
membuat sel penerima berubah dengan
cara tertentu.
Sel yang berbeda mempunyai reseptor
yang berbeda terhadap ligand yang sama,
masing – masing akan menginduksi respon
yang berbeda
Ikatan antara reseptor dan ligand lah yang
mempengaruhi respon sel target
Dan meskipun second messengernya sama, misalnya
cAMP, bisa memberikan respon yang berbeda pada target
sel yang berbeda?
 Sebagai tanggapan terhadap sinyal, enzim yang disebut adenilat
siklase mengubah ATP menjadi cAMP, mengeluarkan dua fosfat dan
menghubungkan fosfat yang tersisa ke gula dalam bentuk cincin.
 Setelah dihasilkan, cAMP dapat mengaktifkan enzim yang disebut
protein kinase A (PKA), memungkinkan terjadinya fosforilasi target.
 PKA ditemukan dalam berbagai jenis sel, dan protein targetnya
berbeda.
 Hal ini memungkinkan cAMP yang sama menghasilkan tanggapan
yang berbeda dalam target yang berbeda.
 Sinyal cAMP diinaktifkan oleh enzim yang disebut
phosphodiesterases, yang memutus cincin cAMP dan mengubahnya
menjadi adenosine monophosphate (AMP).
Dan respon yang sama, misalnya pemecahan glikogen, bisa
diinisiasi oleh stimulus yang berbeda?
 Setelah respons biologis Second Messenger terjadi, maka
Second Messenger : cAMP, Inositol Triphosphate (IP3), dan
diasilgloserol (DAG) akan mengalami metabolisme di bawah
pengaruh kinase tertentu.
 Contoh : NO (Nitric Oxide) berperan dalam pengaturan SKV,
imunologi, dan susunan saraf.
 Pada sistem Vaskuler, NO berperan menstrimulasi guanilil
siklase untuk memproduksi cGMP yang merupakan
vasodilator Golongan obat yang berfungsi untuk
membuka atau melebarkan pembuluh darah (Contoh Obat :
Hydralazine dan Minosidil).
 Cardiak Inotropik adalah zat yang
memengaruhi daya kontraksi otot
jantung.
 Faktor yang meningkatkan
kontraktilitas disebut sebagai
aksi inotropik positif. Faktor yang
menurunkan kontraktilitas memiliki
aksi inotropik negatif.
 Reseptor adrenergik
bertanggung jawab untuk menerjemahkan pesan kimia dari
sistem saraf simpatik ke dalam respons kardiovaskular
 Reseptor adrenergik β1
β1AR mengatur fungsi inotropik dan chronotropik jantung
sehat yang terutama dimediasi oleh efek PKA
 Reseptor adrenergik β2
Dopamine
Kerja dopamin berhubungan dengan reseptor dopamin, suatu
reseptor yang tergandeng protein G ( G-Protein-Coupled
Reseptor (GPCR).

Pada pembuluh darah dan jantung, dopamine menyebabkan


pembuluh darah berkontraksi sehingga meningkatkan tekanan
darah dan denyut jantung.
Sistem Renin-Angiotensin merupakan regulator tekanan darah,
keseimbangan elektrolit dan renal, neurorenal, dan juga fungsi
endokrin untuk kontrol kardiovaskuler.
RAS (renin-angiotensin system) adalah faktor kunci pada kasus
hipertensi untuk terapi pengobatan penyakit dengan menginhibit
Angiotensin I converting Enzyme dan penggunaan Receptor blockers
Reseptor angiotensin II adalah kelas dari
GPCR dengan Angiotensin sebagai ligan.
Berfungsi sebagai transduksi dalam
vasokonstriksi.
Angiotensin receptor terdapat dua jenis:
 AT1
 AT2
 AT1R merupakan
titik kontrol untuk
meregulasi ANG II
pada target.
Regulasi AT1R
berhubungan
dengan hipertensi.
 Penghambat adrenoseptor Beta (β-
blocker)
◦ Penurunan tekanan darah akibat pemberian
b-blocker dapat dikaitkan dengan hambatan
reseptor β
◦ Contoh obat:
 Atenolol
 Metoprolol
 Labetalol
 Obat yang bekerja sebagai Angiontensin
receptor blockers (antagonist)
◦ Azlisartan
◦ Irbesartan
◦ Valsartan
 Hipotesis bahwa skizofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas
transmisi dopaminergik limbik berangkat dari fakta bahwa semua
agen antipsikotik yang efektif bekerja dengan memblok reseptor
dopamin D, selain itu juga berangkat dari fakta bahwa
amphetamine yang memfasilitasi pelepasan dopamin menginduksi
gejala-gejala psikotik skizofrenia.
 Obat-obatan antipsikotik tipikal seperti chlorpomazine dan
haloperidol memiliki afinitas yang tinggi terhadap reseptor D2.
 Efikasi optimal dari obat-obatan antipsikotik tipikal tercapai saat
65-70% reseptor D2 sudah mengalami blokade.
 Bukti kuat yang menunjukkan peran serotonin dalam penyakit
skizofrenia datang dari studi farmakologis.
 D-lysergic acid diethylamide (LSD) yang memiliki kesamaan
struktur dengan serotonin dapat menyebabkan gejala psikotik
pada individu yang sehat.
 Studi menunjukkan bahwa LSD kemungkinan besar menginduksi
halusinasi melalui aksi agonis pada reseptor 5HT2A.
 Obat-obatan antipsikotik atipikal bekerja dengan memblok
reseptor 5HT2A.
 Pada dosis terapeutik, obat-obatan atipikal seperti clozapine,
risperidone, olanzapine, dan ziprasidona memblok lebih dari
80% reseptor 5HT2A kortikal.
 Korteks prefrontal menutun perilaku, pikiran, dan emosi individu
dengan menggunakan pengetahuan-pengetahuan dasar.
Gangguan fungsi korteks prefrontal menghasilkan gejala-gejala
seperti penilaian buruk, impulsif, serta disktraktibilitas. Selain itu
juga dapat menyebabkan gangguan pikiran dan halusinasi.
 Norepinephrine memainkan peran kunci sebagai neurotransmitter
dalam mengatur fungsi-fungsi prefrontal kognitif (fungsi-fungsi
ini terganggu pada pasien dengan gangguan skizofrenia).
 Obat-obatan antipsikotik tipikal misalnya haloperidol
memiliki afinitas tinggi terhadap alpha 1-AR. Sementara
antipsikotik atipikal termasuk clozapine dan risperidone
berlaku sebagai antagonis alpha 2-AR.
 Antipsikotik atipikal seperti clozapine dan olanzapine berlaku
sebagai agonis parsial pada reseptor kolinergik M1, M2, M3
(namun efek klinis dari aksi ini belum diketahui).
 Antagonis-antagonis grup 1 metabotropik glutamat reseptor
(mGluR1 dan mGluR5) beraksi mengatasi perilaku-perilaku
skizofrenik yang diinduksi oleh phencyclidin (PCP) dan
amfetamin.
 Agonis grup 1 menghambat pelepasan dopamin pada korteks
prefrontal yang distimulasi oleh PCP (percobaan dilakukan
pada tikus) .
 Serotonin(5-Hidroksitriptamin – 5HT) merupakan subtype GPCRs
 5HT3 dengan densitas yang tinggi ada di batang otak bawah.
Bagian otak lain : densitas rendah
 Reseptor aktivasi 5HT3 ada di sensor otonom pusat dan perifer
dan neuron enteric -> bertindak sebagai perantara respon
depolarisasi dan berkaitan dengan meningkatnya konduktansi
membrane -> menyebabkan membukanya kanal cation-selective
 5HT mempunyai peran penting dalam mual dan muntah, diinduksi
oleh agen kemoterapi.
 Pada manusia(mamalia) kebanyakan 5HT berada di gastrointestinal
tract dalam sel enterochromaffin
 Peningkatan 5HT gastrointestinal mengaktifkan reseptor 5HT3 di
serat aferen visceral -> meningkatkan pemasukan aferen ke
otak dan menstimulasi CTZ(chemoreceptor trigger zone) dan
pusat muntah.

 5HT tidak mungkin dilepaskan dari mukosa usus ke sirkulasi


sistemik yang terlibat dalam aktivasi langsung dari daerah
postrema, karena sebagian besar 5HT sudah diambil dalam
bentuk trombosit atau dimetabolisme selama perjalanan melalui
hati

 Kemungkinan pelepasan 5HT perifer yang ditimbulkan oleh agen


kemoterapi dipadukan dengan pelepasan neuronal lokal 5HT di
wilayah daerah postrema. Aksi sinergis ini akan memicu reflex
emesis.

 contoh obat : granisetron, ondansetron, tropisetron


 Opioid reseptor dikenal sebagai target
penanggulangan rasa nyeri
 Nyeri merupakan respon langsung
terhadap kejadian/ peristiwa yang tidak
menyenangkan yang berhubungan
dengan kerusakan jaringan, seperti, luka,
inflamasi, atau kanker.
 Pengikatan ligan opioid dengan reseptor
opioid (membentuk suatu kompleks
reseptor-ligan) yang terdapat di
permukaan membran neural menciptakan
sebuah jalur biokimiawi yang menekan
kemampuan dari neuron untuk
mengtrasmisikan sinyal rasa nyeri ke
dalam sel
 Cambell, Neil A. 2002. Biologi Campbell. Jakarta. EGC
 Murray, Robert K. 2014. Biokimia Harper. Jakarta. EGC
 Marks, Dawn B. 1996. Biokimia Kedokteran Dasar. Jakarta. EGC
 Stahl, S.M. 2013. Stahl’s Essential Psychopharmacology: Neuroscientific Basis
and Practical Applications, Third Edition. Cambridge University Press: United
Kingdom
 Katzung BG, Masters SB, Trevor AJ. Basic & clinical pharmacology. 12th ed.
McGraw-Hill; 2012.
 Sherwood, L. 2014. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC.
 Clark, M. A. (2012). Lippincott's illustrated reviews: Pharmacology (5th ed.).
Baltimore, MD ; New Delhi: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins.
 Simarmata, L., hardadi, H.W. Diterjemahkan oleh Penerbit Erlangga,.
 Ikawati,Zullies.2008.Pengantar Farmakologi Molekuler.Yogyakarta : UGM Press.
 O’Day, D. 2006. Advance Cell Biology. University of Toronto, Mississauga.