Anda di halaman 1dari 58

PPKN

Pengawasan
Pelaksanaan

HARI SUGIYANTO

PKN STAN
DASAR HUKUM
 PP No 60 Tahun 2008 Tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah
 Peraturan Presiden Nomor 192 tahun 2014 tentang Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan;
 Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2014 tentang Peningkatan
Kualitas Sistem Pengendalian Intern dan Keandalan
Penyelenggaraan Fungsi Pengawasan Intern dalam Rangka
Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat;
 Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019
 KMK 152 Tahun 2011 Tentang Peningkatan Penerapan
Pengendalian Intern di Lingkungan Kementerian Keuangan
PENGERTIAN

SPI adalah proses yang integral pada tindakan dan


kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus oleh pimpinan
dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai
atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif
dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset
negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan
(PP 60/2008, Bab I Ps. 1 butir 1)

SPIP adalah sistem pengendalian intern (SPI) yang


diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah
pusat dan pemerintah daerah (PP 60/2008, Bab I Ps. 1 butir 2)
Definisi Pengendalian Intern

Proses Dipengaruhi Keyakinan Mewujudkan


manusia memadai tujuan

• Terintegrasi • Tidak mutlak Operasi, pelaporan,


• Pimpinan
• Terus- • Memiliki ketaatan,
• Pegawai
menerus keterbatasan pengamanan aset
TUJUAN

Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara


yang efektif, efisien, dan akuntabel dalam
Mendukung terwujudnya tata keperintahan yang
baik (good governance) dalam penyelenggaraan
pemerintahan
(UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Pasal 58 ayat (1) dan (2)

SPIP pada PP 60 th 2008 bertujuan untuk memberikan keyakinan


yang memadai bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi
pencapaian tujuan penyelenggaraan pemerintahan negara,
keandalan pelaporan keuangan, )pengamanan aset negara, dan
ketaatan terhadap peraturan
perundang-undangan.
PERMASALAHAN AKUNTABILITAS
PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
Permasalahan Upaya-Upaya
Akuntabilitas 1. Penganggaran tdk sesuai ketentuan
2. Penyerapan Anggaran Rendah
Keuangan 3. Msh ada catatan dlm Opini
4. Pajak/PNBP terlambat/tdk disetor/dipakai
5. Pengelolaan aktiva tetap belum memadai Penguatan SPIP:
6. Pengadaan Barang/Jasa belum sesuai • Komitmen
Akunta-bilitas ketentuan • Manajemen Aset
Keuangan 7. Pengeluaran fiktif, dll Tertib
Negara • Identifikasi Risiko PBJ
• Peningkatan SDM
Keuangan dan PBJ
Permasalahan
1. RPJMN Blm Menjadi Dasar
Akuntabilitas Penyusunan Renstra, RKT &
Kinerja Tapkin
2. Indikator Kinerja belum Public Trust
Terukur; Meningkat
3. Pedoman Evaluasi belum Dibuat,
dll 7
K
E
K G
PEMANTAUAN PENGENDALIAN INTERN E I
G A
U I T
N A
INFORMASI DAN KOMUNIKASI U I T
A
N
N T A 2
I B N
T 1
KEGIATAN PENGENDALIAN A

PENILAIAN RISIKO

LINGKUNGAN PENGENDALIAN

8
kondisi dalam instansi pemerintah yang mempengaruhi
1. Lingkungan Pengendalian efektivitas pengendalian intern

kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang


2. Penilaian Risiko mengancam pencapaian tujuan dan sasaran instansi
pemerintah

tindakan yang diperlukan untuk mengatasi risiko serta


penetapan dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur
3. Kegiatan Pengendalian untuk memastikan bahwa tindakan mengatasi risiko
telah dilaksanakan secara efektif
proses pengolahan data yang telah diolah dan dapat
4 Informasi dan komunikasi digunakan untuk pengambilan keputusan serta
tersampaikan informasi harus dicatat dan dilaporkan
kepada pimpinan instansi pemerintah dan pihak lain
yang ditentukan
pemantauan harus dapat menilai kualitas kinerja baik
5. Pemantauan pengendalian Intern secara kualitatif dan kuantitatif dari waktu ke waktu
dan memastikan bahwa rekomendasi hasil audit dan
reviu lainnya dapat segera ditindaklanjuti
9
Penegakan Integritas dan Etika
Komitmen terhadap Kompetensi
Ps. 4
Kepemimpinan yang Kondusif
Lingkungan Struktur Organisasi yang Sesuai Kebutuhan
Pengendalian Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab
Kebijakan yang Sehat tentang Pembinaan SDM
Peran APIP yang Efektif
Ps. 13 Hubungan Kerja yang Baik

Identifikasi Risiko
Penilaian Risiko
Analisis Risiko

Reviu atas Kinerja Instansi Pemerintah


Pembinaan Sumber Daya Manusia
Pengendalian Pengelolaan Sistem Informasi
Ps. 18
SPIP Pengendalian Fisik atas Aset
Penetapan & Reviu Indikator & Ukuran Kinerja
Kegiatan
Pemisahan Fungsi
Pengendalian
Otorisasi Transaksi dan Kejadian Penting
Pencatatan yang Akurat dan Tepat Waktu
Pembatasan Akses atas Sumber Daya
Akuntabilitas terhadap Sumber Daya
Ps. 41
Dokumentasi atas Sistem Pengendalian Intern
Informasi &
Sarana Komunikasi
Komunikasi
Manajemen Sistem Informasi

Pemantauan Pemantauan Berkelanjutan


Pengendalian Evaluasi Terpisah
Intern Ps. 43 Tindak Lanjut
Penegakan Integritas dan Etika

Komitmen terhadap Kompetensi

Kepemimpinan yang Kondusif

Struktur Organisasi yang Sesuai


Lingkungan Kebutuhan
SPIP Pengendalian Pendelegasian Wewenang dan
Tanggung Jawab yang Tepat
Kebijakan yang Sehat tentang
Pembinaan SDM
Peran APIP yang Efektif

Hubungan Kerja yang Baik


Identifikasi Risiko
SPIP Penilaian Risiko
Analisis Risiko
Kerusakan Perubahan Tidak inovatif/
Fraud
lingkungan anggaran substandar

Rencana
kontinjensi Teknologi usang
tidak ada

Pemberian
Layanan Biaya
Proyek terlambat
Publik membengkak

Standar kualitas Keselamatan &


tidak ada keamanan kurang

Skill & Sb.


Kegagalan Evaluasi tidak Risiko teknis, Program yang
Daya tidak
Rekanan/ mitra memadai salah investasi inkonsisten
cukup
Sumber : NAO, 2004
13
Reviu atas Kinerja Instansi Pemerintah

Pembinaan Sumber Daya Manusia

Pengendalian Pengelolaan Sistem Informasi

Pengendalian Fisik atas Aset

Penetapan & Reviu Indikator & Ukuran Kinerja


Kegiatan
SPIP Pengendalian Pemisahan Fungsi

Otorisasi Transaksi dan Kejadian Penting

Pencatatan yang Akurat dan Tepat Waktu

Pembatasan Akses atas Sumber Daya

Akuntabilitas terhadap Sumber Daya

Dokumentasi atas Sistem Pengendalian Intern


Sarana Komunikasi
Informasi &
SPIP Komunikasi
Manajemen Sistem Informasi
Pemantauan Berkelanjutan

Pemantauan
SPIP Pengendalian Intern
Evaluasi Terpisah

Tindak Lanjut
Manfaat, Keterbatasan, &
Hambatan Dalam
Penerapan SPIP
Manfaat SPIP
1. Memberikan jaminan bahwa operasi/kegiatan Instansi menjadi
efektif,efisien dan ekonomis
2. mendeteksi terjadinya kesalahan (mismanagement) dan fraud
dalam pelaksanaan aktivitas organisasi,
3. membantu pengamanan asset terkait terjadinya fraud,
pemborosan, dan salah penggunaan yang tidak sesuai tujuan
4. memberikan keyakinan atas keandalan laporan keuangan
5. memberi keyakinan akan ketaatan terhadap peraturan
perundangan
6. membantu manajemen merespon perubahan
Paket Undang-Undang PEMERINTAH
Keuangan Negara:
1. UU 17/2003 PENGELOLAAN
2. UU 1/2004 KEUANGAN NEGARA PUBLIK
3. UU 15/2004
Pusat Daerah UU 33/2004

• Perencanaan Tertib
• Pelaksanaan Terkendali
Proses
Terintegrasi • Pengawasan Efisien
• Pertanggungjawaban Efektif

Keyakinan
Memadai
SPIP

Keandalan
Akuntabel
Kegiatan yang
Pelaporan
Efektif & Efisien Akuntabilitas
Keuangan
Pengelolaan
Keuangan
Negara
Pengamanan Ketaatan terhadap
Aset Negara Peraturan Transparan

19
Keterbatasan SPIP
 Praktek kolusi sehingga Sistem Pengendalian Intern
tidak efektif;

 Pimpinan Instansi Pemerintah mengabaikan


pentingnya Sistem Pengendalian Intern;

 Human error; pengambilan keputusan yg tidak tepat


mengakibatkan kegagalan pengendalian (kegagalan
personal)
Hambatan Penerapan SPIP
 Persepsi pimpinan Instansi Pemerintah dan
auditor atau evaluator terhadap
pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern
tidak mendukung terciptanya lingkungan
pengendalian yang memadai;

 Budaya sungkan yang masih kental (ewuh


pakewuh).

 Kualifikasi SDM yang kurang memadai


FAKTOR YANG MENYEBABKAN
KEBERHASILAN SPIP
1. Terdapat kesadaran dan kepedulian di seluruh
tingkatan jajaran manajemen dan staff

2. Terdapat kesamaan persepsi atas


tanggungjawab efektivitas SPIP
3. Terdapat SPIP yang sesuai dengan
kebutuhan organisasi
4. Pengembangan secara berkesinambungan
SPIP yang Efektif pada Seluruh Tahapan Proses Manajemen/
Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah
Peru-
musan
Kebijaka
Moni- n
toring
Perenc
dan
a-naan
Evalua AKUNTABILITAS WILAYAH TERTIB
si KEUANGAN ADMINISTRASI WTA

PENGELOLAAN GOOD GOVERNANCE


Pengan WAJAR TANPA & CLEAN
Pelapo KEUANGAN NEGARA PENGECUALIAN
WTP
g- GOVERNMENT
-ran
garan
AKUNTABILITAS WILAYAH
Panata Pelaks KINERJA BEBAS WBK
KORUPSI
- a-naan
usahaa Anggar
n an

Peran APIP yang Optimal (Consulting & Assurance)


24
 Berkaitan langsung dengan isu: kinerja, manajemen
resiko, proses, dan kualitas laporan keuangan
 Bagian dari fungsi manajemen (planning, organizing,
actuating and controlling)
 Sebagai toolkit yang melekat pada organisasi
manapun, baik di sektor pemerintah maupun swasta
 Bertujuan untuk mencapai efisiensi, efektifitas,
kehandalan dan kepatuhan dari sebuah operasi
organisasi
 Disamping itu, bertujuan untuk mencegah adanya
pemborosan dan penyalahgunaan sumber daya
organisasi (Ahadiat, 2012)
Peran Pengawasan Internal
 Kegiatan Assurance
• Reviu laporan Keuangan
• Audit Kinerja
• Eksaminasi
• Audit Tujuan Tertentu (Incl. Etika & Profesi)
• Audit Ketaatan
 Kegiatan Non-Assurance
• Jasa Konsultasi
• Asistensi Manajemen
• Koordinasi Manajemen Resiko
• Sosialisasi Pengawasan
• Koordinasi/Pembinaan MPI
 Program Saluran Saran/Pengaduan Internal
PP NOMOR 60 TAHUN 2008 Pasal 47 ayat (1)
Menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota
bertanggung jawab atas efektivitas penyelenggaraan
Sistem Pengendalian Intern di lingkungan masing-masing.

a. pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan


fungsi Instansi Pemerintah termasuk akuntabilitas
keuangan negara
b. Pembinaan penyelenggaraan SPIP
(PP 60/2008, Ps. 47 ayat (2))

Dilakukan oleh :
APIP
(PP 60/2008, Ps. 48 ayat (1))

29
Siapakah APIP?
a. BPKP;
b. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional
melaksanakan pengawasan intern;
c. Inspektorat Propinsi; dan
d. Inspektorat Kabupaten/Kota
(PP 60/2008, Ps. 49 ayat (1))

BPKP melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas


keuangan negara atas kegiatan tertentu yang meliputi:
a. kegiatan yang bersifat lintas sektoral;
b. kegiatan kebendaharaan umum negara berdasarkan penetapan
oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara; dan
c. kegiatan lain berdasarkan penugasan dari Presiden.
(PP 60/2008, Ps. 49 ayat (2))

5
PEMBINAAN PENYELENGGARAAN SPIP
a. Penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP
b. Sosialisasi SPIP
c. Pendidikan & pelatihan SPIP
d. Pembimbingan & konsultansi SPIP
e. Peningkatan kompetensi auditor APIP
(PP 60/2008, Ps. 59 ayat (1))

Dilakukan oleh :
BPKP
(PP 60/2008, Ps. 59 ayat (1))

5
Kegiatan yang Bersifat Lintas Sektoral :

Merupakan kegiatan yang dalam pelaksanaannya melibatkan dua atau lebih


kementerian negara/lembaga atau pemerintah daerah yang tidak dapat dilakukan
pengawasan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah kementerian
negara/lembaga, provinsi, atau kabupaten/kota karena keterbatasan
kewenangan. (Penjelasan PP 60/2008, Ps. 49 ayat (2) huruf a)

Pengawasan Intern dilakukan melalui :


a. audit;
b. reviu;
c. evaluasi;
d. pemantauan; dan
e. kegiatan pengawasan lainnya.
(PP 60/2008, Ps. 48 ayat (2))

Audit terdiri atas :


a. Audit Kinerja; dan
b. Audit dengan Tujuan Tertentu.
(PP 60/2008, Ps. 50 ayat (1))

32
PP 60/2008 tentang Sistem Pengendalian Internal
Pemerintah yaitu melakukan pengawasan intern yang
mengarah pada counseling partner

1. Bukan hanya mencari daftar kesalahan tetapi menjadi


penyedia daftar solusi nyata
2. Bukan lagi pengawasan kantor per kantor tetapi
menjadi pengawasan yang bersifat luas dalam
program/kegiatan/tujuan.
3. Bukan lagi pemberian rekomendasi parsial dan
normatif tetapi usulan konsep policy recomendation
yang menyeluruh dan implementatif.
Bukti Buku Laporan
Jurnal
transaksi Besar Keuangan

Pencatatan Pengikhtisaran Pelaporan

AKUNTANSI

Review = Tidak Menguji Bukti

Audit = menguji sampai bukti transakti

35
DEFINISI AUDIT VS REVIU

Audit adalah :
Proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi bukti yang
dilakukan secara independen, obyektif dan profesional berdasarkan
standar audit, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas,
efektivitas, efisiensi, dan keandalan informasi pelaksanaan tugas
dan fungsi Instansi Pemerintah.
(Penjelasan PP 60/2008, Ps. 48 ayat (2) huruf a)

Reviu adalah :
Penelaahan ulang bukti-bukti suatu kegiatan untuk memastikan
bahwa kegiatan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah ditetapkan.
(Penjelasan PP 60/2008, Ps. 48 ayat (2) huruf b)

5
PERBEDAAN AUDIT DAN REVIU

ASPEK AUDIT REVIU

Keyakinan Memadai Terbatas

Sistem Pengendalian Dasar Menilai Resiko Telaah + Rekomendasi


Intern Audit
Output Opini Rekomendasi + Dasar
Pernyaatan Manajemen
Pengguna External Stakeholder Internal Manajemen

5
Siapakah yang melakukan Reviu?
(PP 60/2008, Ps. 57 ayat (1) s.d. ayat (4))

1. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional


melaksanakan pengawasan intern melakukan reviu atas laporan
keuangan kementerian negara/lembaga sebelum disampaikan
menteri/pimpinan lembaga kepada Menteri Keuangan.
2. Inspektorat Provinsi melakukan reviu atas laporan keuangan
pemerintah daerah provinsi sebelum disampaikan gubernur
kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
3. Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan reviu atas laporan
keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota sebelum
disampaikan bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa
Keuangan.
4. BPKP melakukan reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat sebelum disampaikan Menteri Keuangan kepada Presiden.

5
Standar Reviu atas Laporan Keuangan
(PP 60/2008, Ps. 57 ayat (5))

Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara menetapkan


standar reviu atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) untuk digunakan sebagai
pedoman dalam pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh
aparat pengawasan intern pemerintah.

PMK No. 41/PMK.09/2010 tanggal 22 Pebruari 2010


tentang
Standar Reviu atas Laporan Keuangan Kementerian
Negara/Lembaga

5
PENGERTIAN REVIU LK K/L
(menurut PMK No. 41/PMK.09/2010 tentang Standar Reviu atas
Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga)

Penelaahan atas penyelenggaraan akuntansi dan penyajian LK oleh


auditor Aparat Pengawasan Intern K/L yang kompeten untuk memberikan
keyakinan terbatas bahwa akuntansi telah diselenggarakan berdasarkan
SAI dan LK telah disajikan sesuai dengan SAP, dalam upaya membantu
Menteri/Pimpinan Lembaga untuk menghasilkan LK yang berkualitas
Penyelenggaraan Penyajian LKKL Keyakinan Terbatas
Akuntansi
Serangkaian kegiatan Pelaporan posisi • Akurasi, keandalan, dan
pemrosesan data keuangan dan keabsahan informasi
untuk menghasilkan operasi keuangan • Pengakuan,
LKKL, mulai dari Kementerian pengukuran, dan
pengumpulan, Negara/Lembaga pelaporan transaksi
pencatatan, dan sesuai SAP
(Neraca, LRA, CaLK)
• Tidak mencakup
pengikhtisaran data
pengujian atas : SPI,
transaksi
catatan akuntansi, dan
dokumen sumber,
respon permintaan
keterangan

40
Aparat Pengawasan
Intern

Mengevaluasi Standar
Menjalankan
reviu LK K/L
pelaksanaan prasyarat yg Reviu
reviu LK K/L diperlukan
tata cara pelaksanaan PMK-41 Pasal 1

Juknis
PMK-41 Pasal 3 (2)

41
Kenapa perlu Standar Reviu?

memberikan prinsip- menyediakan kerangka


prinsip dasar yang untuk menjalankan dan
diperlukan dalam praktik meningkatkan nilai
reviu tambah reviu

menetapkan dasar-dasar
mendorong peningkatan
untuk mengevaluasi
kualitas LK K/L
pelaksanaan reviu

PMK-41 Pasal 2

42
penelaahan atas penyelenggaraan akuntansi dan
penyajian LK K/L

auditor aparat pengawasan intern yg kompeten

memberikan keyakinan terbatas bahwa akuntansi


Reviu telah diselenggarakan berdasarkan Sistem
LK K/L Akuntansi Instansi dan LK K/L telah disajikan
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan

membantu Menteri/Pimpinan Lembaga untuk


menghasilkan LK K/L yang berkualitas

43
Membantu Memberikan keyakinan
terlaksananya terbatas mengenai akurasi,
keandalan, dan keabsahan
penyelenggaraan
akuntansi dan
informasi LK K/L serta
pengakuan, pengukuran,
LK
penyajian LK K/L dan pelaporan transaksi berkualitas
sesuai dengan SAP
pelaksanaan reviu

Kelemahan dan/atau kesalahan


Pereviu bersama-sama dengan unit akuntansi harus segera
melakukan perbaikan dan/atau koreksi secara berjenjang

44
• Penelaahan atas penyelenggaraan
akuntansi dan penyajian LK K/L  Titik berat pada unit
• Penelaahan atas catatan akuntansi akuntansi dan/atau akun
dan dokumen sumber yg diperlukan yang berpotensi tinggi
terhadap permasalahan
REVIU  Pendekatan berjenjang
 Aktivitas:
Pengujian:
• penelusuran ke catatan
• sistem pengendalian intern
& dokumen sumber
• catatan akuntansi & dokumen sumber
• permintaan keterangan
• respon atas permintaan keterangan
• analitik
AUDIT

45
 memperoleh keyakinan bahwa
penyelenggaraan akuntansi
Menteri/ telah sesuai dengan SAI dan LK
Pimpinan
K/L disajikan sesuai dengan SAP
Lembaga
 dapat menghasilkan LK K/L yang
berkualitas

46
Pelaksanaan anggaran LK
LK
LK
dan penyusunan LK K/L berkualitas
berkualitas
berkualitas

R E V I U
• Tidak menunggu LK selesai disusun
• Cukup waktu dalam membantu
menghasilkan LK yg berkualitas

47
Akurasi Informasi

Kehandalan Informasi

Keabsahan Informasi
Keyakinan
Terbatas Pengakuan Transaksi Sesuai SAP

Pengukuran Transaksi sesuai SAP

Pelaporan Transaksi sesuai SAP

harso@2010
48
perencanaan pelaksanaan pelaporan

• penentuan obyek, • penelaahan atas • penyusunan :


proses dan akun penyelenggaraan  Catatan Hasil Reviu
yang akan direviu akuntansi dan LK K/L  Ikhtisar Hasil Reviu
 Laporan Hasil Reviu
• pemilihan langkah- pada unit reviu
langkah reviu • penyusunan KKR

Pendampingan selama
pemeriksaan BPK

membantu efektivitas pelaksanaan


pemeriksaan LK K/L oleh BPK
49
• Menjelaskan kepada BPK mengenai hasil reviu atas LK K/L agar
dapat digunakan oleh BPK;
• Mendukung kelancaran pelaksanaan pemeriksaan BPK;
• Mengantisipasi permasalahan/kendala yang dihadapi oleh unit
akuntansi pada saat pelaksanaan pemeriksaan LK K/L oleh BPK;
• Membantu penyamaan persepsi unit akuntansi terhadap temuan
hasil pemeriksaan BPK;
• Mendampingi unit akuntansi dalam pertemuan akhir dengan BPK
untuk membahas hasil pemeriksaan atas LK K/L; dan
• Mendorong unit akuntansi untuk segera memperbaiki LK K/L
berdasarkan hasil pemeriksaan BPK

LAPORAN
MANAJERIAL
harso@2010
50
Peran APIP Itjen Kemenkeu

Agar Pemerintah mengoptimalkan Aparat Pengawasan Intern


Pemerintah (APIP) untuk melakukan reviu atas LKPP dan LK K/L

Itjen Kemenkeu telah melakukan :


1. Reviu terhadap LK BA 015 dan LK BA BUN, serta LK BUN
2. Penyusunan dan penyiapan Standar Reviu LK K/L
3. Pendampingan selama pemeriksaan BPK
4. Tindak lanjut temuan pemeriksaan BPK
5. Pembinaan dan pemberian konsultasi dan motivasi untuk
mendorong peningkatan kinerja serta komitmen terhadap
transparansi dan akuntabilitas. 51
Menurut Hasibuan (2005: 248) pengawasan atau pengendalian dikenal atas beberapa jenis yang
dapat dijelaskan dan disebutkan yaitu sebagai berikut :
1. Internal Control
Internal control adalah pengendalian yang dilakukan oleh seorang atasan kepada bawahannya.
Cakupan dari pengendalian ini meliputi hal-hal yang cukup luas baik pelaksanaan tugas, prosedur
kerja, kedisiplinan karyawan dan lain-lain.
Audit control adalah pemeriksaan atau penilaian atas masalah-masalah yang berkaitan dengan
pembukuan perusahaan. Jadi, pengawasan atas masalah khusus, yaitu tentang kebenaran
pembukuan suatu perusahaan.
2. External Control
External control adalah pengendalian yang dilakukan oleh pihak luar. Pengedalian ekstern ini dapat
dilakukan secara formal atau informal, misalnya pemeriksaan pembukuan oleh kantor akuntan dan
penilaian yang dilakukan oleh masyarakat.
3. Formal Control
Formal control adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh instansi atau pejabat resmi yang dapat
dilakukan secara formal atau informal. Contoh nya seperti pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap BUMN dan lain-lain. Dewan Komisaris terhadap PT yang
bersangkutan.
4. Informal Control
Informal control adalah penilaian yang dilakukan oleh masyarakat atau konsumen, baik langsung
maupun tidak langsung. Misalnya melalui media massa cerak atau elektronik dan lain-lainya
Sedangkan Siagian (2003:199), mengemukakan jenis-jenis
pengawasan dilingkungan pemerintah sebagai berikut ini:
1. Pengawasan Melekat (Waskat)
Pengawasan melekat dilakukan oleh setiap pejabat
pimpinan, disamping sebagai perancana yang cekatan,
organisasi yang handal dan sebagai penggerak yang
tangguh, dimana setiap manajer harus pula menjadi
pengawasa yang efektif.
2. Pengawasan Fungsional
Pengawasan fungsional bila dilakukan oleh aparat
pengawas yang terdapat dalam satu instansi tertentu
tatapi dapat pula dilakukan oleh aparat pengawas yang
berada diluar instansi meskipun masih dalam lingkungan
pemerintah.
NO URAIAN WASKAT SPIP

1 Definisi Alat Proses

2 Sifat Statis Dinamis

3 Framework 8 Unsur Sisdalmen 5 Unsur

4 Tanggungjawab Atasan Langsung Seluruh pegawai dalam


Pelaksanaan organisasi
5 Keberadaan Berdiri Sendiri Terintegrasi

6 Penekanan  Pengawasan Atasan • Lingkungan


Langsung Pengendalian
 Pengawasan • Penilaian Risiko
Fungsional
Menurut Sarwoto (2001 : 101) teknis pengawasan antara lain sebagai berikut :
1. Pengawasan Langsung
Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan oleh seorang manajer
atau pimpinan pada saat kegiatan sedang dilaksanakan. Pengawasan dapat
berbentuk seperti :
a. Inspeksi Langsung
Inspeksi langsung adalah pengawasan yang dilakukan secara langsung oleh
atasan terhadap bawahan pada saat kegiatan, dilakukan.
b. Observasi Ditempat
Observasi ditempat adalah pengawasan yang dilakukan oleh atasan terhadap
bawahan sebelum kegiatan dilakukan.
c. Laporan Ditempat
Laporan ditempat adalah laporan yang disampaikan bawahan secara langsung
pada saat atasan mengadakan inspeksi langsung kegiatan dilaksnakan
2. Pengawasan Tidak Langsung
Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang dilakukan dari jarak jauh
melalui telepon yang disampaikan oleh bawahan yang berbentuk seperti :
a. Laporan Tertulis
Laporan tertulis adalah laporan yang disampaikan oleh bawahan kepada atasan
dalam bentuk laporan kegiatan yang dibukukan, dilaporkan secara berkala.
b. Laporan lisan
Laporan lisan adalah laporan yang disampaikan bawahan secara langsung
kepada atasan mengenai kendala yang dihadapi pada saat melaksanakan
kegiatan, baik berupa penyimpangan maupun sasaran-sasaran.
 Pengawasan Preventif adalah pengawasan yang menekankan
kepada pencegahan jangan ada kesalahan dikemudian hari yang
dilakukan sebelum tindakan dalam pelaksanaan kegiatan itu
dilakukan (sebelum terjadinya pengeluaran keuangan) yang
bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-
penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan.
 Pengawasan Represif adalah usaha memperbaiki kesalahan yang
telah terjadi sehingga kesalahan yang sama tidak terulang
dikemudian hari serta yang dilakukan itu telah mengikuti
kebijakan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Pengawasan
ini dilakukan dengan meneliti dan mengevaluasi dokumen-
dokumen surat pertanggung jawaban (SPJ). Pengawasan ini
dilaksanakan setelah suatu tindakan dilakukan dengan
membandingkan apa yang telah terjadi dengan apa yang
seharusnya terjadi.
Terima kasih