Anda di halaman 1dari 23

PEMBANGUNAN KESEHATAN

• Pembangunan kesehatan nasional diarahkan untuk meningkatkan


kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dapat terwujud. Adapun pembangunan
kesehatan Indonesia pada periode 2015-2019 adalah “Program
Indonesia Sehat” dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan
dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan
pemberdayaan masyarakat.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
diperlukan enam usaha dasar kesehatan masyarakat yang
terdiri dari :
• Pemeliharaan dokumen kesehatan,
• Pendidikan kesehatan,
• Kesehatan lingkungan,
• Pemberantasan penyakit menular,
• Kesehatan ibu dan anak, serta
• Pelayanan medis dan perawatan kesehatan.
Pemberantasan penyakit menular merupakan salah satu dari
enam usaha dasar kesehatan masyarakat yang menekankan
pencegahan secara dini kejadian suatu penyakit. Penyakit
menular merupakan masalah kesehatan yang besar hampir di
semua negara berkembang karena angka kesakitan dan
kematiannya yang cenderung tinggi dalam waktu yang singkat.
Salah satu penyakit menular tersebut adalah tuberkulosis.
FENOMENA DI MASYSARAKAT

• Tuberkulosisparu adalah penyebab kematian ke-2 di Indonesia setelah


penyakit jantung. Berdasarkan laporan Kemenkes RI (2017), Jumlah kasus
tertinggi tuberkulosis paru yang dilaporkan terdapat di provinsi dengan
jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
(Kemenkes RI, 2017).
LANJUTAN

• Berdasarkan laporan tesebut dapat dikatakan bahwa provinsi jawa barat


menduduki peringkat pertama untuk kasus tuberkulosis paru. berdasarkan laporan
Dinkes Jawa Barat (2017), terdapat tiga Kabupaten/kota dengan CNR (Case
Notification Rate) semua kasus tuberkulosis yang tinggi yaitu Kota Sukabumi (400)
kasus, Kota Cirebon (396) kasus, dan Kota Bandung (386) kasus

• Adapun angka kejadian tuberkulosis paru yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan
Kota Sukabumi, untuk insiden penyakit tuberkulosis paru di 15 puskesmas wilayah
kerja Kota Sukabumi :
CASE NOTIFICATION RATE (CNR) TUBERKULOSIS PARU DI 15 PUSKESMAS
WILAYAH KERJA KOTA SUKABUMI TAHUN 2018
No Puskesmas Total Kasus %
1. Sukabumi 114 16.97
2. Baros 83 12.35
3. Selabatu 61 9.07
4. Tipar 48 7.14
5. Benteng 45 6.7
6. Limusnunggal 41 6.1
7. Lembur Situ 40 5.95
8. Cibeureum Hilir 35 5.2
9. Cikundul 35 5.2
10. Cipelang 32 4.76
11. Nanggeleng 31 4.6
12. Karangtengah 30 4.46
13. Pabuaran 27 4
14. Sukakarya 27 4
15. Gedong Panjang 23 3.5
Jumlah 672 100
JUMLAH PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKABUMI
KOTA SUKABUMI TAHUN 2018

No Kelurahan Penderita %

1. Subangjaya 55 48.2

2. Cisarua 51 44.8

3. Kebonjati 8 7

Puskesmas Sukabumi 114 100


PENGETAHUAN KK

• Salah satu hal yang dapat melatar belakangi keberhasilan upaya pencegahan
penularan tuberkulosis paru adalah pengetahuan.
• Triwibowo (2015) mengatakan, pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi
setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
• Pengetahuan dalam hal ini adalah pengetahuan kepala keluarga tentang penyakit
tuberkulosis. Dengan pengetahuan yang baik tentang tuberkulosis paru, seorang
kepala keluarga akan dengan cakap melakukan upaya pencegahan karena kepala
keluarga tersebut akan paham dengan hal-hal yang harus dilakukan untuk tidak
terkena tuberkulosis dari anggota keluarga yang terkena tuberkulosis paru.
SIKAP KK
• Faktor lain yang mempengaruhi upaya pencegahan penularan tuberkulosis paru adalah
sikap. Menurut Indrawati (2017), Sikap adalah penilaian terhadap suatu objek yang
dengan kepercayaan atau keyakinan dan satu langkah sebelum tindakan.
• Sikap keluarga sangat menentukan terhadap keberhasilan pengobatan tuberkulosis paru
terlebih dalam upaya pencegahan penularannya. Karena jika keluarga klien yang
terdiagnosa tuberkulosis paru memiliki sikap yang baik terhadap upaya pencegahan
penularan tuberkulosis paru, maka dapat dikatakan keluarga tersebut paham dan mampu
mengaplikasikan pengetahuannya tentang pencegahan penularan tuberkulosis paru
dalam bentuk perilaku untuk melindungi diri, dan anggota keluarga lainnya.
• Berdasarkan penjelasan tersebut seorang kepala keluarga harus memiliki sikap yang baik
dalam upaya pencegahan penularan penyakit sehingga akan mendorong anggota
keluarga yang lain untuk bertindak melakukan upaya-upaya pencegahan agar anggota
keluarga lain tidak terjangkit tuberkulosis paru.
LANJUTAN

• Dari pemaparan tersebut dapat dikatakan bahwa pengetahuan sangat


mempengaruhi terhadap sikap seseorang. Karena dengan pengetahaun yang
dimiliki seseorang maka akan membentuk respon pada individu tersebut
dalam membentuk sebuah sikap baik itu sikap positif maupun negtif, yang
kemudian diyakini untu dijadikan sebuah kebiasaan atau perilaku.
SURVEY PENDAHULUAN PENELITI
• Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan oleh peneliti dengan melakukan
observasi terhadap kondisi pemukiman di Kelurahan Subangjaya RW 12
didapatkan bahwa, pemukiman di Kelurahan Subangjaya RW 12 tergolong padat
penduduk dengan kondisi rumah yang saling berdempetan dengan keadaan
sekitar wilayah pemukiman lembab.
• Penelitijuga melakukan wawancara terhadap 5 kepala keluarga yang memiliki
penderita tuberkulosis paru, didapatkan data bahwa 4 kepala keluarga memiliki
pengetahuan yang kurang baik tentang tuberkulosis paru terutama keluarga tidak
mengetahui apa itu tuberkulosis paru, penyebab dan bagaimana cara
pencegahan tuberkulosis paru. Sedangkan 1 kepala keluarga memiliki
pengetahuan yang cukup baik tentang tuberkulosis paru.
LANJUTAN

• Hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti juga menunjukkan bahwa, dari 5
kepala keuarga terdapat 4 kepala keluarga menunjukkan sikap yang tidak
mendukung dalam pencegahan penularan tuberkulosis paru seperti merasa tidak
perlu membuka jendela pada pagi hari, tidak meningkatkan asupan gizi yang baik,
dan kebiasaan merokok di dalam rumah. Dan 1 kepala keluarga menunjukkan sikap
yang mendukung terhadap pencegahan penularan tuberkulosis paru seperti merasa
perlunya menutup mulut ketika batuk dan bersin, tidak membuang dahak
disembarang tempat, membuka jendela pada pagi hari, dan tidak merokok di
dalam rumah.
TUJUAN UMUM

Mengetahui hubungan pengetahuan kepala keluarga


yang memiliki penderita tuberkulosis paru tentang
penyakit tuberkulosis paru dengan sikap terhadap
upaya pencegahan penularan tuberkulosis paru di
Kelurahan Subangjaya wilayah kerja Puskesmas
Sukabumi Kota Sukabumi.
TUJUAN KHUSUS
• Mengetahui gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Penyakit
Tuberkulosis paru di Kelurahan Subangjaya Wilayah Kerja Puskesmas
Sukabumi Kota Sukabumi.
• Mengetahui gambaran Sikap Kepala Keluarga yang Memiliki Penderita
Tuberkulosis Paru Terhadap Upaya Pencegahan Penularan Tuberkulosis
Paru di Kelurahan Subangjaya Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi Kota
Sukabumi.
• Mengetahui Hubungan Pengetahuan Kepala Keluarga yang Memiliki
Penderita Tuberkulosis Paru Tentang Penyakit Tuberkulosis Paru Dengan
Sikap Terhadap Upaya Pencegahan Penularan Tuberkulosis Paru di
Kelurahan Subangjaya Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi Kota
Sukabumi.
MANFAAT PENELITIAN

• PENELITI  Sebagai sarana belajar dalam rangka menambah pengetahuan, untuk


menerapkan teori yang telah didapatkan selama perkuliahan dan untuk menambah
pengalaman dalam hal penelitian.
• STIKESMI  Hasil penelitian ini dapat berfungsi sebagai referensi dan bahan
bacaan serta masukan untuk penelitian selanjutnya.
• PUSKESMAS SUKABUMI  Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi atau sumber
data sebagai bahan evaluasi untuk lebih meningkatkan kegiatan penyuluhan juga
upaya pencegahan kepada masyarakat khususnya mengenai Tuberkulosis paru.
JENIS PENELITIAN

• KORELASIONAL  Penelitian korelasional adalah salah satu statistik infarensi


yang akan menguji apakah dua variabel atau lebih mempunyai hubungan
atau tidak (Sujarweni, 2012).

• CROSS SECTIONAL  Penelitian observasional dimana cara pengambilan


data variabel independen dengan variabel dependen dilakukan pada satu
saat (bersamaan) (Setiawan dan Prasetyo, 2015).
VARIABEL PENELITIAN

• Variabel penelitian adalah objek pengamatan, fenomena atau gejala yang


diteliti. Variabel melekat pada unit yang diamati (juga disebut objek
pengamatan atau subjek (Hasnunidah, 2017).
UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

• VALIDITAS  Pengujian validitas adalah pengujian yang ditunjukan untuk


mengetahui suatu data dapat dipercaya keberannya sesuai dengan
kenyataan.
• RELIABILITAS Reliabilitas menunjuk pada adanya konsistesi dan stabilitas
nilai hasil skala pengukuran tertentu. Reliabilitas berkonsentrasi pada
masalah akurasi pengukuran dan hasilnya (Sarwono, 2018).
TEKNIK PENGOLAHAN DATA

• EDITING  Editing yang akan dilakukan pada penelitian ini yaitu, peneliti memeriksa
kembali kelengkapan jawaban dari hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden. Semua
kuesioner yang terkumpul diharapkan akan terisi dengan lengkap.
• CODING  contoh coding yang akan dilakukan pada penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin,
dan pendidikan responden.
• SCORING  Scoring yang akan dilakukan dalam penelitian ini meliputi variabel
pengetahuan kepala keluarga tentang penyakit tuberkulosis yang mengacu pada skala
guttmen dan variabel sikap kepala keluarga terhadap upaya pencegahan penularan
mengacu pada skala likert.
• ENTRY  Suatu kegiatan dalam memasukkan data yang telah dikumpulkan
(data yang telah diberi kode) agar dapat dianalisa. Pemrosesan data
dilakukan dengan cara mengentri data kuesioner ke paket komputer.
• CLEANING  Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan
pengecekan kembali data yang sudah dientri apakah ada kesalahan atau
tidak akibat penulisan yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-
variabel yang diteliti.
TEKNIK ANALISA DATA

• UNIVARIAT  Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan terhadap


variabel dan hasil penelitian dalam analisa ini hanya menggunakan distribusi
frekuensi dan presentase dari tiap variabel
• BIAVARIAT  analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan oleh dua
variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi.
ETIKA PENELITIAN

• MANFAAT  Penelitian yang dihasilkan dapat memberi manfaat dan


mempertimbangkan antara aspek risiko dengan aspek manfaat. Selain itu,
penelitian yang akan dilakukan tidak boleh membahayakan dan menjaga
kesejahteraan responden.
• MENGHORMATI  peneliti harus menghargai hak asasi responden karena
responden memiliki hak dan makhluk yang mulia yang harus dihormati di
mana reponden memiliki hak dalam mennetukan pilihan antara mau dan tidak
untuk diikut sertakan menjadi subjek penelitian.
• KEADILAN  perlakuannya sama dalam artian setiap orang diperlakukan sama
berdasarkan moral, martabat dan hak asasi manusia. Hak dan kewajiban peneliti
maupun subjek juga harus seimbang.
• INFORMED CONCENT  persetujuan antara peneliti dengan responden dengan
memberikan lembar persetujuan agar subjek mengerti maksud dan tujuan
penelitian serta mengetahui dampaknya.
• KERAHASIAAN  Data yang diperoleh dari responden akan dijamin
kerahasiaannya dan pengguna data tersebut hanya untuk kepentingan penelitian
saja.