Anda di halaman 1dari 17

Kehamilan pada ibu HIV

Pembimbing : dr Johanes Benarto Sp.OG


Raynhard Salindeho
Laporan kasus
• Wanita 24 tahun, datang melakukan
pemeriksaan kontrol rutin kehamilan
• Pasien sebelumnya kontrol di puskesmas dan saat
setelah pemeriksaan darah, pasien didiagnosis
menderita HIV. Pasien rutih mengkonsumsi ARV
sejak 15 hari yang lalu. Saat setelah mengkonsumsi
ARV pasien merasakan mual dan muntah. Pasien
mengeluhkan keputihan yang keluar dari vagina dan
berbau dan lama kelaman berwarna kuning. Janin
masih bergerak aktif. Haid pertama hari terakhir 25
Mei 2018 dengan rencana dilakukan section
caesarea pada tanggal 24 february 2019.
Riwayat
Riwayat KB
Haid
• Haid pertama : 12 • Tidak memakai pil KB
tahun maupun alat kontrasepsi
• Siklus haid: teratur 28 lainnya.
hari
• Lamanya : 7 hari Riwayat Obstetri
• Nyeri haid (-)
• Kehamilan kali ini
merupakan kehamilan
Riwayat Perkawinan pertama. Tidak ada
• Kawin: Sudah, 1x. komplikasi dalam kehamilan.
Dengan suami Pada saat kehamilan sering
sekarang sudah 1 kontrol rutin.
tahun
• Pada pemeriksaan fisik didapatkan
keadaan umum: tampak sakit sedang,
kesadaran compos mentis
tekanan darah 130/80 mmHg
nadi 90 x/menit
pernapasan 22 x/menit
suhu 36,5°C, dan status generalis dalam batas normal.
Pada pemeriksaan luar obstetri didapatkan tinggi fundus uteri 33
cm. his (+), denyut jantung janin 140 x/menit.
• Pemeriksaan laboratorium darah :
Hb 10,6 gr/dl,
leukosit 9.700/ul
trombosit 390.000/mm3
GDS 84 mg/dL
Berdasarkan hasil anamnesis
pemeriksaan fisik, dan penunjang pada
pasien didapatkan diagnosa G3P1A1
hamil 37 - 38 minggu dengan SIDA
▫ Tatalaksana pasien :
• ARV seumur hidup
.
Pendahuluan
• Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah
penyakit yang disebabkan oleh infeksi human
immunodeficiency virus (HIV).
• Pada akhir tahun 2008, UNAIDS memperkirakan di
seluruh dunia terdapat 33,4 juta orang yang hidup
dengan HIV (ODHA). Sedangkan HIV di Indonesia
termasuk yang paling cepat berkembang di Asia. Pada
akhir 2009, diperkirakan ada 333.200 orang yang hidup
dengan HIV (ODHA) di Indonesia.
• Di Indonesia, menurut Depkes tercatat 3568 kasus
HIV/AIDS pada akhir bulan Desember 2002, 20 kasus
tertular dari ibunya.
• FKUI/RSCM selama tahun 1999-2001 mendapatkan 558
ibu hamil di daerah miskin di Jakarta yang melakukan
tes HIV, sebanyak 16 orang (2,86%) dinyatakan positif
Patofisiologi
• Tahap dini, fase akut, ditandai oleh viremia transien,
masuk ke dalam jaringan limfoid, terjadi penurunan
sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi dan
pengaturan replikasi virus

• Tahap menengah, fase kronik, berupa keadaan laten


secara klinis dengan replikasi. virus yang rendah
khususnya di jaringan limfoid dan hitungan CD4+
secara perlahan menurun.

• Tahap akhir, fase krisis, ditandai dengan


menurunnya pertahanan tubuh penderita secara cepat
berupa rendahnya jumlah CD4+, penurunan berat
badan, diare, infeksi oportunistik, dan keganasan
sekunder
Cara Penularan
1. Melalui hubungan seksual
2.Transmisi horizontal (kontak langsung dengan
darah/produk darah/jarum suntik)
a. Tranfusi darah/produk darah yang tercemar HIV
b. Pemakaian jarum tidak steril/pemakaian bersama jarum suntik pada
para pecandu narkotik suntik.
c. Penularan lewat kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan.
3.Penularan dari Ibu ke Bayi
a.Faktor ibu
Viral load
CD4
Status gizi

b.Faktor Bayi
Prematuritas
Nutrisi Fetus
Respon imun neonatus
c.Faktor ibu pada Anterpartum dan intrapartum.
Antepartum:
• Beratnya keadaan infeksi pada ibu
• Ibu yang menderita penyakit infeksi menular seksual
• Ibu yang mempunyai kebiasaan yang tidak baik

Intrapartum:
• Kadar maternal HIV-1 cerviko vaginal
• Proses persalinan bayi
• Ibu yang menderita penyakit infeksi lain
Post partum melalui menyusui:
• air susu ibu degan infeksi HIV mengandung proviral HIV
dan virus bebas lainnya
• Bayi yang diberikan ASI

Kehamilan dan cara melahirkan.


• Resiko penularan terjadi pada kondisi korioamnionitis,
penggunaan vakum atau forceps, dan tindakan episiotomi
Penatalaksanaan obtetrik
Perinatal HIV Guidelines Working Group di Amerika
Serikat mengajukan rekomendasi penatalaksanaan
obstetrik untuk mengurangi transmisi HIV vertikal.
Rekomendasi yang dianjurkan adalah :
1. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-
AIDS yang datang pada kehamilan di atas 36 minggu,
belum mendapat antiretrovirus, dan sedang
menunggu hasil pemeriksaan kadar HIV dan
CD4 yang diperkirakan adasebelum persalinan.
 Rekomendasi : Ada beberapa regimen yang harus
didiskusikan dengan jelas.
2. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang
datang pada kehamilan awal, sedang mendapat kombinasi
antiretrovirus, dan kadar HIV tetap di atas 1000 kopi/mL pada
minggu ke 36 kehamilan.
 Rekomendasi : Regimen antiretrovirus yang digunakan tetap
diteruskan.
3. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang
sedang mendapat kombinasi antiretrovirus, dan kadar HIV tidak
terdeteksi pada minggu ke 36 kehamilan.
 Rekomendasi : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS diberikan
konseling
4. Cara Persalinan : Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang sudah
direncanakan seksio sesarea elektif, namun datang pada awal
persalinan atau setelah ketuban pecah.
 Rekomendasi : Zidovudin intravena segera diberikan. Jika kemajuan
persalinan cepat, wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS ditawarkan
untuk menjalani persalinan pervaginam.
Penggunaan obat
Antiretroviral (ARV)
• Antiretrovirus direkomendasikan untuk semua wanita
yang terinfeksi HIV-AIDS yang sedang hamil untuk
mengurangi resiko transmisi perinatal.
• Tujuan utama pemberian antiretrovirus pada kehamilan
adalah menekan perkembangan virus, memperbaiki
fungsi imunologis, memperbaiki kualitas hidup,
mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit yang
menyertai HIV.
1.Monoterapi Zidovudine
• Antepartum : Zidovudine oral dari kehamilan 14-34
minggu 5x100mg/hari
• Intrapartum : Zidovudine intravena, dosis awal
2mg/kgBB/jam, dilanjutkan infus 1mg/kgBB sampai 1
hari setelahmelahirkan
• Postpartum : Zidovudine sirup, 2 mg/kgBB, dimulai
8-12 jam postpartum dan diteruskan sampai 6 minggu
2.Nevirapin
Dapat diberikan dosis tunggal 200 mg bagi ibu pada saat
melahirkan disertai pemberian nevirapin 2 mg/kgBB dosis
tunggal bagi bayi pada usia 2 atau 3 hari.
Pemberian ARV berdasarkan pedoman WHO 2012, terdapat 2 opsi yang
ditawarkan WHO untuk tindakan profilaksis:
 Profilaksis Opsi A
 Ibu
• Antepartum : AZT saat 14 minggu kehamilan
• Intrapartum : AZT/3TC + NVP 2 kali sehari
• Postpartum : AZT/3TC + NVP x 7 hari
 Bayi
• Bila diberikan ASI: NVP hingga 1 minggu lepas ASI
• Tanpa pemberian ASI: AZT atau NVP x 6 minggu
 Profilaksis Opsi B
• Ibu:Triple ARV mulai 14 minggu hingga 1 minggu lepas ASI
• Bayi:VP/AZT setiap hari sejak lahir hingga umur 4-6 minggu tanpa
memandang pemberian ASI atau tidak.