Anda di halaman 1dari 21

ANAMNESA DAN PENGUMPULAN

DATA SEKUNDER
Oleh : Brian.,M.Kep
ANAMNESA

• Anamnesa merupakan pengambilan data yang


dilakukan oleh seorang dokter atau perawat
dengan cara melakukan wawancara secara
langsung pada pasien atau keluarga pasien.
TAHAP KOMUNIKASI TERAPEUTIK

1. Pra Interaksi
• Pra interaksi mulai sebelum kontak pertama dengan klien. Perawat
melakukan menyapa, perkenalan, dan mengeksplorasikan
perasaan, fantasi dan ketakutannya. Sehingga kesadaran dan
kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat
dipertanggungjawabkan.
TAHAP KOMUNIKASI TERAPEUTIK

2. Orientasi (Orientation)
• Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan
komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi
antara perawat dan pasien. Fase ini dicirikan oleh lima
kegiatan pokok yaitu testing, building trust,
identification of problems and goals, clarification of
roles dan contract formation.
TAHAP KOMUNIKASI TERAPEUTIK

3. Kerja (Working)
• Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk
memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase
orientasi. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi
tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian
tujuan
TAHAP KOMUNIKASI TERAPEUTIK

4. Penyelesaian (Termination)
• Paa fase ini perawat mendorong pasien untuk
memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai, agar
tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling
menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini
adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan.
PENGGUNAAN DIRI SECARA EFEKTIF

1. Menghadirkan Diri
Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik
yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik,
yaitu
1. Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap
untuk anda”.
2. Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level
yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan
keinginan untuk tetap berkomunikasi.
PENGGUNAAN DIRI SECARA EFEKTIF

3. Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan


keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
4. Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau
tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
5. Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan
antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon
kepada klien.
PENGGUNAAN DIRI SECARA EFEKTIF

2. DIMENSI RESPON
1. Keikhlasan
• Perawat menyatakan keikhlasan melalui keterbukaan,
kejujuran, ketulusan dan berperan aktif dalam hubungan
dengan klien.
2. Menghargai
• Rasa menghargai dapat diwujudkan dengan duduk diam
bersama klien yang menangis, minta maaf atas hal yang
tidak disukai klien.
PENGGUNAAN DIRI SECARA EFEKTIF

3. Empati
• Perawat memandang dalam pandangan klien, merasakan melalui
perasaan klien dan kemudian mengidentifikasi masalah klien serta
membantu klien mengatasi masalah tersebut.
4. Konkrit
• Perawat menggunakan terminologi yang spesifik, bukan abstrak.
Fungsinya yaitu, mempertahankan respon perawat terhadap
perasaan klien, memberikan penjelasan yang akurat dan
mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik.
DATA SEKUNDER

• Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh


selain klien, yaitu Orang terdekat, orang tua,
suami atau istri, anak, teman klien, jika klien
mengalami gangguan keterbatasan dalam
berkomunikasi atau kesadaran yang menurun.
PEMERIKSAAN FISIK

• Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk


menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu
sistim atau suatu organ tubuh dengan cara
melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk
(perkusi) dan mendengarkan (auskultasi).
TUJUAN PEMERIKSAAN FISIK

1. Untuk mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien.


2. Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang
diperoleh dalam riwayat keperawatan.
3. Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status
kesehatan klien dan penatalaksanaan.
4. Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan keperawatan
yang sudah dilakukan.
Hal–hal yang perlu diperhatikan dalam
pemeriksaan fisik :
1. Selalu meminta kesediaan/ ijin pada pasien untuk setiap
pemeriksaan
2. Jagalah privasi pasien
3. Pemeriksaan harus seksama dan sistimatis
4. Jelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan (tujuan,
kegunaan, cara dan bagian yang akan diperiksa)
5. Beri instruksi spesifik yang jelas
6. Berbicaralah yang komunikatif
7. Ajaklah pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan
8. Perhatikanlah ekpresi/bahasa non verbal dari pasien
Metode dan Langkah Pemeriksaan Fisik

1. Inspeksi
• Merupakan metode pemeriksaan pasien dengan melihat
langsung seluruh tubuh pasien atau hanya bagian
tertentu yang diperlukan. Metode ini berupaya melihat
kondisi klien dengan menggunakan ‘sense of sign’ baik
melalui mata telanjang atau alat bantu penerangan
(lampu).
Metode dan Langkah Pemeriksaan Fisik

2. Palpasi
• Merupakan metode pemeriksaan pasien dengan
menggunakan ‘sense of touch’ Palpasi adalah suatu
tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan perabaan
dan penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari
atau tangan. Tangan dan jari-jari adalah instrumen yang
sensitif digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya
metode palpasi ini dapat digunakan untuk mendeteksi
suhu tubuh(temperatur), adanya getaran, pergerakan,
bentuk, kosistensi dan ukuran.
Metode dan Langkah Pemeriksaan Fisik

3. Perkusi
• Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan
mendengarkan bunyi getaran/ gelombang suara yang
dihantarkan kepermukaan tubuh dari bagian tubuh yang
diperiksa.
Metode dan Langkah Pemeriksaan Fisik

• Bunyi yang dihasilkan oleh perkusi :


1. Bunyi timpani mempunyai intensitas keras, nada tinggi, waktu
agak lama dan kualitas seperti drum (lambung).
2. Bunyi resonan mempunyai intensitas menengah, nada rendah,
waktu lama, kualitas bergema (paru normal).
3. Bunyi hipersonar mempunyai intensitas amat keras, waktu lebih
lama, kualitas ledakan (empisema paru).
4. Bunyi pekak mempunyai intensitas lembut sampai menengah,
nada tinggi, waktu agak lama kualitas seperti petir (hati).
Metode dan Langkah Pemeriksaan Fisik

4. Auskultasi
• Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara
mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya
menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang
didengarkan adalah: bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.
• Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas adalah :
• Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-
saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus,
sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
• Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat
inspirasi maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan
hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema paru.
• Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai pada
fase inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut,
asma.