Anda di halaman 1dari 6

PANDANGAN PARA PENERUKA

SOSIOLOGI TENTANG KONSUMSI


1. KARL MARX (1818-1883)`

1. Alat-alat Produksi (means


Menurut Karl Marx of productions)
Komoditas Dibagi Komoditas yang memiliki
Menjadi suatu bentuk dimana
komoditas memasuki
konsumsi produktif)

2. Alat-Alat konsumsi
komoditas yang memiliki suatu
bentuk dimana komoditas itu
memasuki konsumsi individual
dari kelas kapitalis dan pekerja
Konsekuensi logis dari pembagian tersebut diatas adalah
pengklasifikasian jenis konsumsi

1. Konsumsi Subsistensi
merupakan alat-alat konsumsi yang diperlukan atau yang memasuki
kelas konsumsi pekerja.
(seperti sandang, pangan, dan papan)

2. Konsumsi Mewah
adalah alat-alat konsumsi mewah yang hanya memasuki kelas
kapitalis, yang dapat dipertukarkan hanya untuk pengeluaran dari
nilai surplus, yang tidak diberikan kepada perkerja.
(Seperti Sedan Mewah BMW atau Mercedes,rumah gedung
bagaikan istana, kapal pesiar pribadi, pesawat terbang pribadi, dan
yang berhubungan dengan kemewahan lainnya yang dapat dilihat
sebagai konsumsi mewah.
2. EMILE DURKHEIM (1858-1917)

Durkheim membagi masyarakat menjadi atas 2


tipe

1. Mayarakat berlandaskan Solidaritas Mekanik


Komuditas ini menghukum orang yang menyimpang dengan
mengutamakan penggunaan hukum represif.
Konsumsi tidak berbeda antara satu sama lain, seragam dalam cara
dan pola dan konsumsi seperti pola makan/pangan,
sandang/busana dan papan/perumahan.
Penyimpangan terhadap cara dan pola konsumsi akan dikenakan
sanksi hukuman represif dan kolektif
2. Masyarakat Solidaritas Organik
mencerminkan individualitas yang tinggi, pentingnya
konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum seperti
hukum perdata, dan dominanya hukumrestitutif.
Cara pandang dan pola konsumsi yang berbeda seperti
arsitektur rumah, cara berbusana, atau menu yang
disantap tanpa harus mencederai kesadaran kolektif.
3. MAX WEBER (1864-1920)

Weber juga berbicara soal konsumsi dan gaya hidup seseorang berkaitan
dengan etika protestan. Dengan kata lain protestan memberikan dorongan
motivasional untuk menjadi seseorang yang memiliki suatu orientasi agama
yang bersifat asketik dalam dunia. Yaitu suatu komitmen untuk menolak
kesempatan atau sangat membatasi diri untuk menuruti keinginan jasadi
atau inderawi atau kenikmatan yang bersifat materialistik, termasuk cara
konsumsi tertentu, demi meraih suatu tujuan spiritual yang tinggi, yaitu
keselamatan abadi, melalui pekerjaan di dunia yangdianggap sebagai
panggilan suci.
4. THORSTEIN VEBLEN (1857-1929)

Veblen melihat kapitalisme industri berkembang secara barbar, karena


properti privat tidak lain merupakan barang rampasan yang diambil
melalui kemenangan perang. Sedangkan pencarian kekayaan,
kesenangan dan barang-barang melalui persaingan dengan tetangga
adalah bagian dari insting prederator.

Kapitalisme seperti ini memunculkan abseente owner yaitu para


pemilik modal yang tidak mengerjakan apa-apa tetapi memperoleh
hasil yang banyak.

Dindonesia abseente owner pernah terjadi pada masa orde baru. Pada
masa tersebut tumbuh banyak konglomerat baru yang memiliki
berbagai fasilitas kemudahan termasuk untuk praktek monopoli dan
oligopoli