Anda di halaman 1dari 10

BAHAN BAKU EDIBLE FILM

1.Plasticizer

Bahan organik dengan berat molekul rendah yang ditambahkan dengan


maksud untuk memperlemah kekakuan dari polimer sekaligus
meningkatkan fleksibilitas polimer.

Plasticizer yang digunakan dapat diambil dari golongan poliol.


Golongan poliol yang digunakan, yaitu sorbitol. Sorbitol termasuk
salah satu golongan poliol selain gliserol dan manitol

Sorbitol merupakan plasticizer yang efektif karena memiliki


kelebihan mampu untuk mengurangi ikatan hidrogen internal pada
ikatan intermolekuler sehingga baik untuk menghambat penguapan air
dari produk, dapat larut dalam tiap-tiap rantai polimer sehingga akan
mempermudah gerakan molekul polimer, tersedia dalam jumlah yang
banyak, harganya murah dan bersifat non toksik.
2. Hidrokolid (Koloid hidrofilik)

Suatu polimer larut dalam air,


yang mampu membentuk
koloid dan mampu
mengentalkan larutan atau
mampu membentuk gel dari
larutan tersebut.

Hidrokoloid yang digunakan


dalam pembuatan edible Film yang terbuat dari
film adalah protein atau hidrokoloid sangat baik
karbohidrat sebagai penghambat
perpindahan oksigen, Polisakarida sebagai
karbondioksida, dan bahan dasar edible film
lemak, serta memiliki dapat dimanfaatkan
karakteristik mekanik untuk mengatur udara
yang sangat baik, sekitarnya dan
Karbohidrat berupa
polisakarida, pati, gum Protein berupa gelatin, sehingga sangat baik memberikan ketebalan
(seperti contoh alginat, kasein, protein kedelai, digunakan untuk atau kekentalan pada
pektin, dan gum arab), dan gluten gandum, dan protein
memperbaiki struktur larutan edible film.
pati yang dimodifikasi jagung.
secara kimia. film agar tidak mudah
hancur.
3. Lipida • Golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah senyawa
yang terdapat di alam yang semuanya dapat larut dalam
pelarut-pelarut organik tetapi sukar larut atau tidak larut dalam
air.
• Pelarut organik yang dimaksud adalah pelarut organik
nonpolar, seperti benzen, pentana, dietil eter, dan karbon
tetraklorida. Dengan pelarut-pelarut tersebut lipid dapat
diekstraksi dari sel dan jaringan tumbuhan ataupun hewan.

• Film yang berasal dari lipida sering digunakan sebagai


penghambat uap air, atau bahan pelapis untuk meningkatkan
kilap pada produk-produk kembang gula.
• Karakteristik film yang dibentuk oleh lemak tergantung pada
berat molekul dari fase hidrofilik dan fase hidrofobik, rantai
cabang, dan polaritas.

• Lipida yang sering digunakan sebagai edible film antara lain lilin
(wax) seperti parafin dan carnauba, kemudian asam lemak,
monogliserida, dan resin. Jenis lilin yang masih digunakan
hingga sekarang yaitu carnauba.
• Alasan mengapa lipida ditambahkan dalam edible film adalah
untuk memberi sifat hidrofobik.
4. Komposit
. Komposit film terdiri dari
komponen lipida dan
hidrokoloid.

Aplikasi dari komposit film


dapat dalam lapisan satu-
Film gabungan antara satu (bilayer), dimana satu
lipida dan hidrokoloid ini lapisan merupakan
dapat digunakan untuk hidrokoloid dan satu lapisan
melapisi buah-buahan lain merupakan lipida, atau
dan sayuran. dapat berupa gabungan
lipida dan hidrokoloid dalam
satu kesatuan film.

Lipida dapat
meningkatkan ketahanan
terhadap penguapan air
dan hidrokoloid dapat
memberikan daya tahan.
SIFAT FISIKO-KIMIA-BIOLOGI EDIBLE FILM

Ketebalan merupakan
sifat fisik edible film
yang besarnya
dipengaruhi oleh
konsentrasi hidrokoloid
pembentuk edible film
dan ukuran plat kaca
pencetak.

Ketebalan
Edible Film
Semakin tebal edible
Ketebalan edible film, maka kemampuan
film penahannya akan
mempengaruhi semakin besar atau
laju uap air, gas semakin sulit dilewati
dan senyawa uap air, sehingga umur
volatil lainnya. simpan produk akan
semakin panjang
Laju Transmisi Uap Air Edible
Film

Jumlah uap air yang melalui


suatu permukaan persatuan
luas atau slope jumlah uap
air dibagi luas area.

Nilai laju transmisi uap air Penambahan plasticizer


Edible film dengan bahan
suatu bahan dipengaruhi seperti gliserol akan
dasar polisakarida umumnya
oleh struktur bahan meningkatkan permeabilitas
sifat barrier terhadap uap
pembentuk dan konsentrasi film terhadap uap air karena
airnya rendah.
plasticizer. gliserol bersifat hidrofilik.
Yaitu ukuran untuk
kekuatan film secara
spesifik, merupakan
tarikan maksimum yang
dapat dicapai sampai film
Perubahan warna tetap bertahan sebelum
edible film Warna putus/sobek.
dipengaruhi oleh
jumlah konsentrasi Edible Film
bahan pembentuk
edible film dan
suhu pengeringan.
Kekuatan
Peregangan Edible
Warna edible film akan Film atau Tensile
mempengaruhi
penampakan produk Strength Sifat tensile strength
Pengukuran ini untuk
sehingga lebih menarik. mengetahui besarnya
tergantung pada
konsentrasi dan jenis
gaya yang diperlukan
bahan penyusun
untuk mencapai tarikan
edible film terutama
maksimum pada setiap
sifat kohesi
luas area film.
structural.
Nilai elongasi edible film menunjukkan
kemampuan rentang edible film.

Kemampuan perpanjangan bahan saat


diberikan gaya Tarik.
Meningkatnya kadar air akan menurunkan
Perpanjangan Edible Film atau tensile strength film yang tidak menggunakan
wax, tetapi dengan adanya wax akan
Elongasi meningkatkan tensile strength dan
menurunkan elongation.

Peningkatan konsentrasi gliserol dan sorbitol


meningkatkan flexibilitas dan ekstensibilitas
film.
Daya larut film sangat ditentukan
oleh sumber bahan dasar
pembuatan film.
Salah satu sifat fisik edible film
yang menunjukkan persentase
berat kering terlarut setelah
dicelupkan dalam air selama 24 Edible film berbahan dasar pati
jam tingkat kelarutannya dipengaruhi
oleh ikatan gugus hidroksi pati.
Daya larut (%) Makin lemah ikatan gugus
hidroksil pati, makin tinggi
Edible film dengan daya larut yang kelarutan film.
tinggi menunjukkan film tersebut
mudah dikonsumsi.
Edible film dapat
berfungsi sebagai
agen pembawa
antimikroba dan
antioksidan.

Anti
bakteri

Dalam aplikasi yang


sama edible film juga
dapat digunakan di
permukaan makanan
untuk mengontrol laju
difusi zat pengawet dari
permukaan ke bagian
dalam makanan.