Anda di halaman 1dari 72

Referat :

Eksoftalmus

Oky Legyan Akbar Firman Syah


(201710401011054)

Pembimbing : dr. Minggaringrum, Sp.M

SMF Mata RS Bhayangkara Kediri


Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Malang
2017
Latar Belakang
• Eksoftlamus adalah penonjolan abnormal bola mata dari cavum
orbita
• Di akibatkan oleh beberapa penyebab terutama pada penyakit rongga
orbita. Lesi-lesi ekspansif dapat bersifat jinak atau ganas dan dapat
berasal dari tulang, otot, saraf, pembuluh darah, atau jaringan ikat.

Burnside, John W et al. 2011. Diagnosis Fisik. Jakarta;EGC


Tujuan Referat
• Memenuhi kewajiban dalam Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata
di RSBK Kediri;
• Menambah pengetahuan bagi penulis dan bagi orang lain yang
membacanya terutama mengenai Eksoftalmus
Anatomi Mata
Os. Sphenoidal
Os.frontal

Os. Zygomaticum

Sinus maxillaris
Os. Ethmoidale

Os. Lacrimale
Abhijit A et all . 2012. Imaging of skull base: Pictorial essay. Department of Radiology, Seven Hills Hospital, Mumbai, India. Vol : 22 . Page : 305-316
Tulang-tulang orbita terdiri dari:
Bagian atas : os frontalis, os sphenoidalis
Bagian medial : os maksilaris, os lakrimalis, os
sphenoidalis, os ethmoidalis, lamina papyracea
hubungan ke os sphenoidalis. Dinding ini paling tipis.
Bagian bawah : os maksilaris, os zigomatikum,os
palatinum.
Bagian lateral : os zigomatikum, os sphenoidalis,
os frontalis. Dinding ini paling tebal.
Netter, Frank H. ATLAS OF HUMAN ANATOMY 25th Edition. Jakarta: EGC, 2014
Di ruang orbita terdapat 3 lubang yang dilalui oleh pembuluh darah, serat saraf,
yang masuk ke dalam mata, yang terdiri dari:
• Foramen optikum yang dilalui oleh N. Optikus, A. Oftalmika.
• Fisura orbita superior yang dialalui oleh v. Oftalmika, N. III, IV, VI untuk otot-otot
dan N.V (saraf sensibel).
• Fisura orbita inferior yang dialalui oleh nervus, vena, dan arteri infra orbita.

Ruang orbita dikelilingi sinus-sinus, yaitu :


• Atas : Sinus frontalis.
• Bawah : Sinus maksilaris.
• Medial : Sinus ethmoidalis, sinus sphenoidalis, dan ruang hidung
ART PAPIER, MD; DAVID J. TUTTLE, MD; and TARA J. MAHAR, MD
University of Rochester School of Medicine and Dentistry, Rochester, New York AROBERT THOMAS CARLISLE, MD, MPH, and JOHN DIGIOVANNI, DO, Tripler Army Medical
Am Fam Physician. 2007 Dec 15;76(12):1815-1824. Center, Honolulu, Hawaii
Am Fam Physician. 2015 Jul 15;92(2):106-112.
Eksoftalmus
Definisi :
• Eksoftalmus (proptosis, protrusio bulbi) merupakan keadan dimana
bola mata menonjol keluar.

Kan’ski. 2016. Clinical Opthalmology A Systematic Approach. Elsivier. Ed: 8 th. Page : 78
Etiologi
Penyebabnya bisa bermacam-macam, diantaranya:
1. Kavum orbita terlalu dangkal.
2. Edema, radang, tumor, perdarahan di dalam orbita.
3. Pembesaran dari bola mata.
4. Dilatasi dari ruangan di sinus-sinus di sekitar mata dengan berbagai
sebab, radang, tumor, dan sebagainya.
5. Trombosis dari sinus kavernosus.
6. Paralisis mm. Rekti.
7. Eksoftalmus goiter.
8. Pulsating eksoftalmus.
9. Intermiten eksoftalmus.
Epidemiologi

Teja nithin et all. An etiological analysis of proptosis. Department of Ophthalmology, Mamata Medical College, Khammam, Telang
2015 Oct;Vol.3.Pp:2584-2588
Diagnosis
Pemeriksaan pada eksoftalmus yang harus dilakukan adalah:
1. Riwayat penyakit.
2. Pemeriksaan mata secara sistematis dan teliti, dapat dilakukan
dengan penyinaran oblik, slit lamp, funduskopi, tonometri,
eksoftalmometer, dimana normal penonjolan mata sekitar 12-20 mm.
Selain itu dapat pula dilakukan tes lapangan pandang dan pemeriksaan
visus
Pengukuran Proptosis, untuk mengetahui derajat proptosisdengan
membandingkan ukuran kedua mata.Normalnya nilai penonjolan tidak
melebihi 20 mm atau bedakedua mata tidak lebih dari 3 mm.
Pengukuran dilakukandengan eksoftalmometer Hertel
Pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan laboratorium, USG, CT-Scan,
arteriografi, dan venografi dapat membantu dalam menegakkan diagnosis.
Pemeriksaan laboratorium dapat berupa uji antibodi (anti-tiroglobulin,
anti-mikrosomal, dan anti-tirotropin reseptor) dan kadar hormon-hormon
tiroid (T3, T4 dan TSH).
Pemeriksaan Ultrasound merupakan suatu penilaian terhadap jaringan
lunak dengan menggunakan getaran suara.
CT-Scan dan MRI dibutuhkan jika dicurigai keikutsertaan nervus optic. CT-Scan
sangat bagus untuk menilai otot ekstraokular, lemak intraconal, dan apeks
orbital. Sedangkan untuk MRI lebih baik dalam menilai kompresi nervus optik
dibandingkan CT-Scan.
Arteriografi bisa dilakukan dengan penyuntikan kontras melalui a. Karotis
dapat dilihat bentuk dan jalannya arteri oftalmika. Venografi untuk melihat
bentuk dan kaliber vena oftalmika superior.
TIROID OFTALMOPATI

Tiroid oftalmopati (Graves thyroid-associated atau dysthyroid


orbitopathy) adalah suatu kelainan inflamasi autoimun yang menyerang
jaringan orbital dan periorbital mata, dengan karakteristik retraksi
kelopak mata atas, edema, eritem, konjungtivitis, dan penonjolan mata
(proptosis)
Epidemiologi
• Dari berbagai macam penelitian berpendapat bahwa tiroid
oftalmopati mengenai wanita 2,5-6 kali lebih sering daripada pria
tetapi kasus berat lebih sering dijumpai pada pria. Tiroid oftalmopati
mengenai penderita dengan usia 30-50 tahun dan kasus berat lebih
sering dijumpai pada pasien dengan usia di atas 50 tahun
Gejala klinis
• Tanda mata penyakit Graves mencakup retraksi palpebra,
pembengkakan palpebra dan konjungtiva, eksoftalmos dan
oftalmoplegia. Pasien datang dengan keluhan nonspesifik misalnya
mata kering, rasa tidak enak, atau mata menonjol.
Derajat Keparahan
Pemeriksaan fisik
. Tanda Spesifik
1. Tanda dari Von Graef : Palpebra superior tak dapat mengikuti gerak
bola mata, bila penderita melihat ke bawah palpebra superior tertinggal
dalam pergerakannya.
2. Tanda dari Dalrymple : Sangat melebarnya fisura palpebra, sehingga
mata menjadi melotot.
3. Tanda dari Stellwag : Frekwensi kedipan berkurang dan tak teratur.
4. Tanda Mobius : Kekuatan kkonvergensi menurun.
5. Tanda dari Gifford : Timbulnya kesukaran untuk mengangkat palpebra
superior karena menjadi kaku.
Kan’ski. 2016. Clinical Opthalmology A Systematic Approach. Elsivier. Ed: 8 th. Page : 84
Kan’ski. 2016. Clinical Opthalmology A Systematic Approach. Elsivier. Ed: 8 th. Page : 84
Kan’ski. 2016. Clinical Opthalmology A Systematic Approach. Elsivier. Ed: 8 th. Page : 84
Diagnosis
• Pemeriksaan DL
• CT-SCAN contras
• MRI
• USG Orbital
• Pemeriksaan Lab.
Tiroid oftalmopati secara klinis di diagnosa dengan munculnya
tanda dan gejala pada daerah mata, tetapi uji antibodi yang positif
(anti-tiroglobulin, anti-mikrosomal, dan anti-tirotropin reseptor) dan
kelainan kadar hormon-hormon tiroid (T3, T4 dan TSH) membantu
menegakkan diagnosa.
Penatalaksanaan
A. Pengobatan Medis
• Kontrol adekuat terhadap hipertiroidisme
• Terapi untuk pemaparan kornea (karena penutupan palpebra tak adekuat malam
hari) harus dengan tetes mata metilselulosa sepanjang hari dan salep
kloramfenikol malam hari
• Tetes mata guanetidin dapat menghasilkan perbaikan retraksi kelopak temporer,
yang mungkin berguna secara kosmetik
• Prisma yang diselipkan pada kacamata penderita bisa membantu mengoreksi
setiap diplopia
• Kasus-kasus parah dengan gejala hilangnya penglihatan, edema diskus, atau
ulserasi kornea yang harus diterapi segera dengan kortikosteroid dosis tinggi (mis.
Prednisolon 100-120 mg per hari) selama tiga sampai empat hari dan kemudian
dikurangi. Jika tidak ada perbaikan dalam beberapa hari, maka harus
dipertimbangkan dekompresi bedah dan radioterapi orbita.
Pengobatan Bedah
• Dekompresi orbita biasanya dilakukan dengan mengangkat dinding
medial dan inferior melalui pendekatan etmoidal. Dekompresi apeks
orbita perlu dilakukan agar hasil akhir baik. Dekompresi bedah orbita
bertujuan menghilangkan tekanan intraorbita.
• Pembedahan pada otot-otot yang menggerakkan bola mata mungkin
perlu dilakukan untuk meluruskan pandangan pada penderita yang
sudah lama mengidap diplopia.
KOMPLIKASI

• Dengan tiroid eksoftalmos, dapat terjadi infeksi atau keterlibatan


kornea.
PROGNOSIS

Prognosis umumnya baik. Kebanyakan pasien tidak memerlukan tindakan


pembedahan. Faktor-faktor resiko untuk tiroid oftalmopati yang progresif dan berat
yang membuat prognosis menjadi buruk antara lain:
1. Jenis kelamin laki-laki
2. Usia lebih dari 50 tahun
3. Onset gejala cepat dibawah 3 bulan
4. Merokok
5. Diabetes
6. Hipertiroidisme berat atau tidak terkontrol
7. Kemunculan miksedema pretibia
8. Kadar kolesterol tinggi (hiperlipidemia)
9. Penyakit pembuluh darah perifer.
PULSATING EKSOFTALMUS
Pulsating eksoftalmus adalah eksoftalmus yang disertai pulsasi bola
mata.
Etiologi
Paling sering disebabkan oleh arterio venous aneurysma antara
a.carotis interna dan sinus cavernosus biasanya akibat trauma tembus,
pukulan yang keras atau jatuh di kepala yang menyebabkan kerusakan
dasar tengkorak terutama os. Sfenoid. Jarang disebabkan oleh karena
degenerasi dinding pembuluh darah. Juga dapat disebabkan oleh
tumor vaskular. Penyakit ini jarang sembuh spontan, biasanya disertai
dengan gejala-gejala serebral dan perdarahan yang dapat berakibat
fatal. (Vaughan, 2015)
Gejala Klinis
Dengan palpasi atau dengan pemeriksaan stetoskop akan teraba dan
terdengan gemuruh di mata, di dahi, dan di kepala yang sesuai dengan
denyut nadi. Terdapat edema di palpebra, konjungtiva dan juga di papil
nervus II. Pembuluh darah di palpebra, konjungtiva, dan retina melebar.
Juga terdapat rasa sakit. Penekanan terhadap arteri carotis komunis sisi
yang sama akan menyebabkan pulsasi dan suara gemuruh berkurang.
(Vaughan, 2015)
Terapi
• Sementara penekanan dengan jari atau dengan alat pada a. carotis
comunis pada sisi yang sama. Kemudian dilakukan pengikatan dari a.
carotis comunis atau vena oftalmika pada sisi yang sama.
• Operatif
PERIOSTITIS ORBITA

Periositis orbita adalah peradangan dari periost tulang-tulang


orbita.terjadinya dapat akut atau kronik dapat terbatas pada margo
orbita atau lebih dalam. Pada perjalanan penyakitnya mungkin dapat
terjadi penebalan periost, pembentukan tulang, abses, timbulnya
nekrosis atau karies tulang orbita.
Etiologi
• Peradangan dari kulit atau sinus-sinus di sekitar mata.
• Trauma yang disertai infeksi di orbita.
• TBC terutama pada anak-anak. Biasanya mengenai margo orbita
lateralis. Pada tempat ini timbul benjolan berwarna merah tanpa rasa
sakit yang disebut cold abses. Perjalanan penyakinya menahun.
• Lues stadium III pada dewasa. Biasanya mengenai margo orbita
superior. Perjalanan penyakitnya akut. (Vaughan, 2015)
GEJALA KLINIK
Mengenai margo orbita
1. Terasa sakit terutama pada penekanan margo orbita.
2. Timbul benjolan yang sukar digerakkan dari dasarnya.
3. Palpebra dan konjungtiva bengkak.
4. Bila berat, keadaan umum dapat terganggu. Sering berakhir dengan absorbsi total dari
peradangan tersebut bila pengobatan diberikan segera secara intensif. Jarang timbul abses yang
dapat menyebabkan perforasi si kulit.
Mengenai periost yang lebih dalam
1. Sakitnya lebih hebat disertai pembengkakan yang hebat dari palpebra dan konjungtiva.
2. Terdapat eksoftalmus
3. Keadaan umum terganggu, dapat berakhir dengan absorbsi total atau menyebabkan
penebalan periost dan nekrosis tulang.
4. Jika terbentuk abses keadaan menjadi lebih buruk dan sukar dibedakan dari selulitis
orbita. Pus dapat menjalar ke depan tetapi lambat. Yang lebih berbahaya jika pus masuk ke dalam
tulang tengkorak sehingga dapat menyebabkan meningitis atau abses otak.
TERAPI
• Lokal diberikan kompres hangat. Pada yang supuratif dilakukan insisi
sepanjang margo orbita untuk mengeluarkan pusnya. Kemudian
dimasukkan tampon yodoform untuk mengeluarkan pusnya dari
fistula dan tampon ini harus diganti setiap hari sampai pus tidak
keluar lagi. Bila ada karies dari tulang yang nekrotik harus dikeluarkan
dengan operasi.
SELULITIS ORBITA

• Selulitis orbital (selulitis post septal) dan selulitis preseptal


merupakan infeksi tersering yang menyerang jaringan di orbita dan
adneksa mata.
Epidemiologi
Penyakit ini biasanya terjadi pada negara yang terdapat musim dingin
akibat meningkatnya insiden sinusitis. 90% kasus selulitis orbita disebabkan
oleh Sinusitis Ethmoid dan biasanya diikuti oleh penyakit-penyakit seperti
dakriosistisis, ostiomielitis pada tulang orbita, pleblitis pada vena fasial, dan
infeksi pada gigi. Di Amerika Serikat terdapat bukti peningkatan insiden
penyakit selulitis orbita pada mereka yang memiliki memiliki riwayat
resisten metisilin pada Staphylococcus Aureus salah satu bakteri penyebab
selulitis orbita.
Etiologi

• Selulitis orbita biasanya disebabkan oleh :


• Infeksi pada jaringan halus pada orbita akibat penyebaran infeksi dari
bagian periorbital.
• Trauma yang mengakibatkan perforasi pada septum oribita yang dapat
mengakibatkan reaksi inflamasi dalam waktu 48-72 jam setelah terjadinya
trauma.
• Infeksi post operatif.
• Infeksi bakteri seperti Streptococcus Sp, Staphylococcus Aureus,
Haemophilus influenzae type B. Pseudomonas, Klebsiella, Eikenella, dan
Enterococcus sangat jarang.
• Infeksi jamur seperti Mucor dan Aspergillus sp.
Patofisiologi

• Dinding bagian medial orbita sangat tipis dan dapat dilalui oleh pembuluh darah dan
saraf. Dengan adanya keadaan tersebut dapat memudahkan terjadinya penyebaran
mikroorganisme penyebab infeksi khususnya antara rongga ethmoid dan ruang
subperiorbital pada bagian medial orbita. Lokasi yang paling tersering terkena abses
subperiorbital adalah sepanjang dinding medial orbita, karena pada medial orbita bagian
ini termasuk jaringan penyambung jarang sehinga memudahkan penyebaran material-
material abses tersebut ke arah lateral, superior dan inferior didalam ruang
subperiorbital.
• Disamping itu penyebaran dari bagian otot-otot ekstraokular dan septum intermuskular
terjadi diantara otot rektus yang satu dan yang lain serta berinsersi pada bagian posterior
annulus zinii. Pada bagian posterior fascia diantara otot-otot rektus yang tipis dan tidak
sempurna ini dapat memudahkan penyebaran infeksi di bagian intra dan ekstra piramid
pada ruang orbita. Penyebaran infeksi juga dapat terjadi melalui vena orbitalis yang
memperdarahi sepertiga bagian medial wajah terutama sinus paranasal.
• Pada kasus selultis orbita dengan penyebabnya jamur terutama mucor dan aspergillus sp
bisa terdapat dua keadaan mucomycosis dan aspergillosis.
Pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit

Penelusuran riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik merupakan salah satu elemen penting dalam
mendiagnosa selulitis orbital. Pasien biasanya mengeluhkan demam, malaise, riwayat sinusitis dan
infeksi saluran nafas bagian atas. Perlu untuk ditanyakan riwayat trauma, operasi yang pernah
dilakukan atau ada tidaknya infeksi sistemik yang sedang atau mungkin pernah dialami.
Selain gejala-gejala diatas juga terdapat gejala-gejala tambahan yaitu :
1. Kemosis konjungtiva
2. Penurunan penglihatan
3. Peningkatan tekanan intraokular
4. Nyeri pada saat mengerakan mata
5. Sakit kepala
6. Edema palpebra
7. Rhinorhea
pemeriksaan fisik dapat ditemukan :

Proptosis dan oftalmoplegia (tanda cardinal dari selulitis orbital)


biasanya di ikuti oleh gejala 1-4 ditambah beberapa gejala seperti :
• Penglihatan yang awalnya normal namun semakin bertambah sulit
dievaluasi pada anak yang mengalami edema palpebra.
• Discharge cairan nasal yang purulen
• Konjungtiva yang hiperemis dan adanya kemosis
• Palpebra yang berwarna merah tua
Pemeriksaan laboratorium
• Hitung sel darah : leukositosis (leukosit >15.000) dengan netrofilnya shift to the left.
• Cultur darah untuk dan papsmear untuk mengetahui penyebab penyakit dan terapi
yang akan digunakan.

Pemeriksaan radiologi
• CT-Scan dengan kontras dengan dua cara pengambilan :
• Axial : untuk mengetahui ada tidaknya pembentukan abses otak pada bagian
peridural dan parenkim.
• Koronal : untuk mengetahui ada tidaknya abses subperiorbital, namun pda potongan
ini sangat sulit dilakukan pada anak-anak yang tidak kooperatif dan yang sedang
mengalami onset akut penyakit ini. Hal ini diakibatkan karena membutuhkan
hiperfleksi atau hiperekstensi dari leher.
• MRI : untuk mengetahui ada tidaknya abses orbital dan kemungkinan terjadinya
penyakit sinus kavernosa.
• Jika terdapat gejala-gejala menigeal pungsi lumbar sangat penting untuk dilakukan.
Terapi medikamentosa
Antibiotik :
• Vancomycin
• Clindamycin
• Ceftazidime
• Nafcilin
• Chloromycetin
Dekongestan nasal
• Phenylephrine nasal
Anti fungal
• Amphotericin B
• Drug of choice dalam pengobatan selulitis orbital karena jamur. Diberikan secara
intravena dan sangat baik diberikan sebelum konfirmasi hasil laboratorium pada kasus
infeksi berat.
Tindakan operatif
• Terjadi penurunan penglihatan.
• Defek aferen pupil terjadi
• Proptosis tetap terjadi meskipun telah diberikan antibiotik.
• Ukuran dari abses pada sinus tidak berkurang pada CT scan dalam
jangka waktu 48-72 jam pasca pemberian terapi antibiotik.
• Dapat dilakukan crainiotomy jika terdapat abses pada otak.
Komplikasi
Komplikasi selulitis orbital dapat terjadi di bagian orbita itu sendiri
atau menyebar ke bagian intracranial. Abses subperiorbital dapat terjadi
(7-9%). Kehilangan penglihatan permanen dapat terjadi akibat kerusakan
kornea atau neurotropik keratitis, rusaknya jaringan intraokular,
glaukoma sekunder, neuritis optik, dan oklusi arteri centralis retina.
Kebutaan juga bisa terjadi secara sekunder akibat peningkatan tekanan
intraorbital atau infeksi secara langsung pada nervus optikus melalui
sinus sfenoid dan nervus okulomotor sehingga dapat mengakibatkan
kelemahan otot-otot ekstraokular. Komplikasi intrakranial meliputi
meningitis (2%), trombosis sinus kavernosus (1%), abses intrakranial,
subdural dan epidural
Retino blastoma
• Retinoblastoma merupakan tumor ganas yang berkembang dari sel-
sel retinoblast.

Kaufman PL, Paysse EA. Overview of retinoblastoma. In: UpToDate, Post TW (Ed),UpToDate, Waltham, MA, 2014.
Epidemiologi
• It is a cancer of the very young; two-thirds are diagnosed before 2 years of age,
and 95% before 5 years.
• The average age-adjusted incidence rate of retinoblastoma in the United States
and
Europe is 2-5 / 10*6approximately 1 in 14,000 – 18,000 live births.
• It appears to be higher (6-10/10*6 children) in Africa, India, and among children
of Native American descent in the North
American continent.
• These geographical variations are due to ethnic or socioeconomic factors is not
well known
• The fact that even in industrialized countries an increased
incidence of retinoblastoma is associated with poverty and low levels of maternal
education.
Kaufman PL, Paysse EA. Overview of retinoblastoma. In: UpToDate, Post TW (Ed),UpToDate, Waltham, MA, 2014.
Manifestasi klinis
• Bilateral  herediter  25% Mutasi gen RB 1
• Unilateral  Non-herediter  75%
• Tanda khas pada retinoblastoma adalah keluhan mata putih pada anaknya,
menyala saat terkena cahaya lampus serta strabismus Cat eye
• The most common presenting sign of retinoblastoma is
leukocoria, and some patients may also present with strabismus.
• As the disease advances,
patients present with buphthalmos, orbital, and metastatic disease.

Kaufman PL, Paysse EA. Overview of retinoblastoma. In: UpToDate, Post TW (Ed),UpToDate, Waltham, MA, 2014.
Stadium Retinoblastoma
1. Leukokoria  Visus 0  Hidup masih bisa di selamatkan
Enukleasi  Kemoterapi
2. Glaukomatosus  Tumor sudah berkembang hingga memenuhi
bola mata  Enukleasi  Kemoterapi
3. Ekstraokuler  proptosis (+), segmen anterior mata rusak 
Prognosis kurang baik
4. Metastasis  kelenjar limfe preaurikuler atau sub mandibular 
Tulang kepala, tulang-tulang distal, otak, dll.
Isidro, M. A., and H. Roy. 2012.
Retinoblastoma.
Diambil dari :http://emedicine.medscape.com/article/1222849-
overview. Diakses tanggal 10 Agustus 2017
Mehta M et all. 2014. Retinoblastoma Singapore Med J 2012; 53(2) : 128
Mehta M et all. 2014. Retinoblastoma Singapore Med J 2012; 53(2) : 128
Mehta M et all. 2014. Retinoblastoma Singapore Med J 2012; 53(2) : 128
Terapi
• Enukleasi
• Kemoterapi
TENOSITIS

• Peradangan serosa dari kapsul tenon, yang isinya masuk ke ruang


tenon.
• Trauma kecelakaan atau operasi dengan infeksi, influenza, gout.
Gejala
• Penonjolan bola mata
• Gangguan gerak mata.
• Palpebra, konjungtiva bengkak dan merah, terutama pada tempat
insersi dari muskuli rekti.
• Khemosis yang rata.
• Perjalanan penyakitnya beberapa minggu kemudian timbul perlekatan
antara kapsul tenon dan bola mata. Dapat terjadi bersamaan dengan
iridosiklisis atau panoftalmi.
Terapi
• Analgesik
• Antibiotik
• Operatif
TROMBOSIS SINUS KAVERNOSUS

• Trombosis Sinus Kavernosis adalah penyumbatan vena besar di dasar


otak (sinus kavernosus). Trombosis sinus kavernosus sangat jarang
terjadi. 30% penderitanya meninggal dan yang bertahan hidup
mengalami cacat mental atau cacat saraf yang serius meskipun telah
menjalani pengobatan
Etiologi

Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penyebaran infeksi bakteri dari sinus atau di
sekitar hidung. Infeksi menyebar dari sinus atau kulit di sekitar hidung ke otak secara
langsung maupun melalui vena.
• Penonjolan bola mata
• sakit kepala hebat
• koma
• kejang
• kelainan sistem saraf lainnya
• demam tinggi
Terapi
• Segera diberikan antibiotik dosis tinggi secara intravena (melalui
pembuluh darah). Jika dalam waktu 24 jam keadaan penderita tidak
membaik, dilakukan pembedahan untuk mengeringkan sinus
(drainase).
KESIMPULAN
• Eksoftalmus (proptosis, protrusio bulbi) merupakan keadan dimana bola mata
menonjol keluar. Penonjolan bola mata adalah tanda utama penyakit orbita.
Penyebabnya bisa bermacam-macam misalnya infeksi, tumor, gangguan vaskuler,
dan gangguan system endokrin. Semua penyebab di atas mengakibatkan timbul
bendungan di palpebra dan konjungtiva, gerak mata terganggu, diplopia, rasa
sakit bila bengkak hebat, lagoftalmus karena mata tidak bisa menutup sempurna
sehingga menyebabkan epifora. Tarikan pada N. II menyebabkan gangguan visus.
• Eksoftalmus diterapi berdasarkan penyakit yang mendasarinya. Diperlukan
anamnesis dan pemeriksaan yang tepat untuk dapat menentukan penyebab dari
eksoftalmus. Dengan diketahuinya penyakit yang mendasari terjadinya
eksoftalmus maka dapat dilakukan terapi yang tepat. Terapi yang dimaksud bisa
dengan obat-obatan misalnya untuk infeksi dan gangguan endokrin. Dan bisa juga
dilakukan tindakan bedah misalnya untuk gangguan vaskuler dan tumor.
Daftar Pustaka
1. Burnside, John W et al. 2011. Diagnosis Fisik. Jakarta;EGC
2. Bartley et al. The incidence of graves ophtalmopathy in Olmsted County,
minessota. Am J. opthalmol. Oct.2013;120 (4):511-7
3. Vaughan dan Asbury.2015. Oftalmologi Umum Vaughan dan Asbury, Jakarta
EGC
4. Lumbantobing, S.M. 2012. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental
5. Yanoof & Duker. 2008. Ophthalmology, 3rd Ed. USA: Mosby – Elsevier.
6. Dorland , W.A. Newman,2002,Kamus Kedokteran Dorland, Jakarta ; EGC.
7. Henderson JW. Orbital tumor 3rd .New York: Raven Press; 1994\
8. Tellez M, cooper et al. Graves opthalmopathy in relation to cigarrate smoking
and ethnic origin. Clin endocrinol (oxf). Mar 1992;36(3):291-4
9. Hranilovic-Jasna Talan et al. Orbital Tumors and Pseudotumors. Acta Clin
Croat, Vol.43. No2.2004 di unduh 12/18/2014
10. Karcioglu , Zeynel A.2004. Orbital Tumors Diagnosis and
Treatment.USA;Springer

11. Katzung, Betram G,1997, Farmakologi Dasar dan Klinik. Didalam H, Azwar
Agoes (ed), basic and ClinicalPharmacology, Jakarta:EGC.