Anda di halaman 1dari 61

LIABILITAS JANGKA PENDEK,

PROVISI, DAN KONTIJENSI

Akuntansi Keuangan Menengah 2


Dosen Pengampu : Qimyatussa’adah, S.E.,M.S.A

Komputerisasi Akuntansi 4C

Politeknik Negeri Madiun

2019
Liabilitas Jangka
Pendek
Peranan

Entitas selain menggunakan ekuitas, juga sering menggunakan liabilitas dalam mendanai
kegiatannya. Bahkan untuk beberapa entitas dengan skala besar jumlah liabilitas melebihi ekuitas
entitas. Liabilitas dapat dinilai lebih menguntungkan karena pembayaran dapat ditunda hingga jatuh
tempo dan dana tersebut bisa didayagunakan untuk aktivitas lain kemudian pada saat jatuh tempo
entitas telah memperoleh hasil yang dapat mengembalikan liabilitas. Liabilitas jangka pendek
biasanya memiliki bunga yang kecil bahkan tidak ada sama sekali.

Contoh :

1. Liabilitas operasional yang biasanya diperoleh perusahaan karena penundaan pembayaran


kepada pemasok, pemerintah, karyawan atau pihak lain.

2. Penggunaan dana untuk pendanaan tambahan produksi.


Definisi

Liabilitas menurut kerangka dasar pengukuran dan pengungkapan laporan


keuangan (KDP2LK) adalah utang entitas masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu.
Liabilitas mengandung komponen utama yaitu adanya kewajiban kini yang timbul, terjadi dari
transaksi dimasa lalu dan penyelesaiannya menyebabkan arus keluar kas atau sumber daya
entitas.

PSAK 1 (Revisi 2009) mengharuskan entitas menyajikan liabilitas jangka pendek


terpisah dari liabilitas jangka panjang. Namun untuk industri perbankan atau keuangan, entitas
dapat menyajikan berdasarkan urutan likuiditas, tanpa memisahkan liabilitas jangka pendek
dan jangka panjang. Pemisahan jangka pendek dan jangka panjang menggunakan jangka
waktu 12 bulan atau satu siklus operasi perusahaan.
Jenis Liabilitas
Jenis Liabilitas Penjelasan
Utang dagang (account receivable/trade receivable). Utang yang timbul ketika entitas melakukan pembelian
secara tunai.
Utang bank jangka pendek. Utang yang diperoleh dari bank dengan jangka waktu 1
tahun atau kurang.
Wesel bayar. Kontrak yang menyatakan bahwa 1 pihak akan melakukan
pembayaran sejumlah tertentu kepada pihak lain di masa
mendatang.
Utang pajak. Pihak yang belum dibayarkan ke kas negara.
Utang dividen. Dividen yang telah diumumkan namun belum dibayarkan.
Beban yang masih harus dibayar. Beban yang telah terjadi namun sampai tanggal pelaporan
belum dibayarkan.
Pendapatan diterima di muka. Pendapatan yang telah diterima secara tunai namun
pendapatannya belum diperoleh.
Utang terkait gaji karyawan. Beban gaji yang telah terjadi namun belum dibayarkan.
Uang muka pelanggan (deposit). Uang yang dibayarkan pelanggan sebagai deposit dan akan
diberikan kembali kepada pelanggan sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan.
Utang Berbunga dalam Jangka
Pendek
1. Utang Bank

Utang bank akan diakui nilai kontraknya dikurangi dengan provisi biaya
transaksi dari penarikan uang tersebut.Utang bank jangka pendek adalah utang
suatu entitas kepada bank dengan jangka waktu 1 tahun atau kurang.Misalnya :
entitas untuk menghadapi penjualan di tahun ajaran baru memerlukan tambahan
persediaan,untuk itu diperlukan tambahan modal kerja selama 3-5 bulan.
PT BUMI pada tanggal 1 September 2015 menarik utang dari Bank NISP sebesar Rp.750.000.000
dengan bunga 16% untuk jangka waktu 180 hari. Buatlah jurnal atas transaksi di atas!
Jawab:
- Menentukan Jurnal yang dibuat pada saat menerima utang 1 September 2015.

1/9/2015 Kas Rp 750.000.000


Utang Kas Rp 750.000.000

- Menentukan Tanggal Jatuh Tempo.


September 30-1 = 29 Maka, jatuh tempo pada tanggal 28 Februari 2016
Oktober = 31
November = 30
Desember = 31
Januari = 31
Februari = 28
Total = 180 hari
-Menentukan Jurnal Penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2015 atas bunga yang terutang dan belum
dibayarkan.
Bunga= Rp 750.000.000 * 16% * 120/360 = Rp 40.000.000

31/12/2015 Beban Bunga Rp 40.000.000


Utang Bunga Rp 40.000.000

-Menentukan Jurnal pada saat jatuh tempo pada tanggal 28 Februari 2016.
Beban bunga = Rp 750.000.000 * 16%*60/360 =Rp 20.000.000

28/2/2016Beban Bunga Rp 20.000.000


Utang Bunga Rp 40.000.000
Utang Bank Rp 750.000.000
Kas Rp 810.000.000
Utang bank ada juga yang mensyaratkan pembayaran bunga pada saat
kredit ditarik.Pokok utang entitas adalah jumlah utang dalam kontrak dikurangi
dengan bunga yang dipotong/dibayarkan di depan mengurangi utang.Entitas harus
mengukur tingkat bunga efektif atas utang ini.Tingkat bunga efektif diukur dengan
menghitung tingkat bunga (diskonto) yang akan menyamakan utang dalam kontrak
dikurangi bunga dengan present value dari nilai pada tanggal jatuh tempo.
2. Wesel Bayar

Wesel bayar atau sering disebut sebagai notes payable atau promissory notes.
Wesel bayar merupaka janji dari pihak penarik wesel untuk membayarkan sejumlah nilai
tertentu di masa mendatang. Wesel bayar ditarik untuk pelunasan utang dagang,
pembayaran suatu transaksi atau ditarik untuk mendapatkan uang tunai. Pihak penarik
wesel akan menunjuk bank untuk melakukan penyelesaian pembayaran yang akan diambil
dari rekening penarik/ penerbit wesel. Wesel bayar biasanya berbunga, jika tidak berbunga
wesel akan dijual dengan diskon. Nilai diskon mencerminkan bunga dibayar di muka. Wesel
bayar dapat dijual oleh pihak pemegangnya untuk mendapatkan uang kas sebelum jatuh
tempo.
Liabilitas Jangka Pendek Terkait
Kegiatan Operasi
Liabilitas jangka pendek terkait kegiatan operasi timbul karena konsekuensi kegiatan operasi entitias.
Utang ini muncul karena entitas menangguhkan pembayaran kepada pihak lain. Penundaan pembayaran ini
dapat dilakukan sampai dengan tanggal jatuh tempo yang telah disepakati.

Penggunaan utang operasi menguntungkan bagi entitas karena entitas dapat menggunakan dana
pembayaran tersebut untuk aktivitas yang lain sebelum digunakan ,sebagai contoh sebuah supermarket yang
melakukan penjualan secara tunia atau menerima kredit pembayaran dengan kartu kredit (credit card) yang
akan dibayar 3 hari setelah transaksi. Persediaan dibeli dari pemasok dengan kredit 1 bulan atau dengan
barang-barang konsinyasi yang baru akan dibayar 2 bulan setelah penjualan. Listrik,air,jgaji dibayarkan diakhir
bulan. Hakikatnya entitas tidak memerlukan modal kerja karena entitas menerima kas terlebih dahulu sebelum
melakukan pembayaran untuk akitvitas operasionalnya.
1. Utang Usaha

Utang usaha adalah utang terkait dengan kegiatan utama entitas.


Untuk entitas yang bergerak dibidang perdagangan,utang usaha disebut sebagai utang
dagang. Uatang dagang timbul saat entitas melakukan pembelian kepada pemasok
secara kredit. Pembelian secara tunai dilakukan jika pemasok tidak membolehkan
membeli secara kredit atau membeli secara tunai dimana secara eknomis lkebih murah
dibandingkan membeli secara kredit. Pembelian kredit sering dituliskan dalam term : 2/10,
n/60 FOB Shipping Point artinya pembelian akan diberikan diskon 2% jika dilunasi sampai
dengan 10 hari, utang jatuh tempo dalam waktu 60 hari dan titik pengakuan digudang
penjual.
Contoh soal

– Selama bulan desember 2015 PT slamet memiliki beberapa transaksi kepada para pemasoknya.

– 12 desember membeli barang secara kredit kepada PT Delima senilai RP.200.000.000 ditambah nilai
PPN 10% sehingga total RP.220.000.000. persyaratan jual beli 2/10, n/30. FOB Shipping Point PT
Slamet membayar utang pada PT Delima pada 22 desmeber 2016.

– 9 desember membeli barang secara kredit kepada PT Mawar senilai RP.330.000.000 setelah nilai
PPN. Persayaratan jual beli n/30 FOB Shipping Point. Barang sampai 31 desember belum sampai
kegudang dengan wesel bayar yang akan jatuh tempo 30 harui tanpa bunga.
12/12-2015 Iventory RP.200.000.000 -

PPN Income RP.20.000.000 -

Account Receivable - RP.220.000.000

22/12-2015 Account Receivable RP.220.000.000 -

Inventory - RP.4.4000.000

Cash - RP.215.600.000

29/12- 2015 Inventory Rp. 300.000.000 -

PPN Income Rp.30.000.000 -

Wesel bayar - RP.330.000.000


2. Beban yang Masih Harus Dibayar

Entitas belum membayar beban tersebut karena kesepakatan kontrak menyatakan


pembayaran tidak dilakukan pada saat beban terjadi atau karena keterlambatan waktu
penagihan. Beban yang masih harus dibayar yang sering muncul dilaporan posisi keuangan
antara lain.

1. Beban gaji.Karyawan telah berhak atau gaji karena sudah bekerja namun tidak belum
dibayarkan oleh perusahaan

2. Bunga yang masih harus dibayar/utang bunga. Bunga sudah menjadi beban dengan
berlalunya waktu namun baru dibayarkan sesuai dengan tanggal dalam perjanjian kredit

3. Beban operasi yang masih harus dibayar. Beban atas jasa pihak lain kepada perusahaan
atas kegiatan operasinya, namun belum dibayarkan oleh perusahaan.
Contoh soal

Pembayaran gaji sebesar Rp.240.000.000 dilakukan tanggal 5 tiap bulan, untuk


masa kerja tanggal 1 sampai dengan akhir bulan. Pada akhir periode missal 31
Desember 2015 dibuat penyesuaian atas gaji untuk masa kerja Desember 2015
yang baru akan dibayarkan tanggal 5 januari 2016. jurnalnya:

Salery Expense` Rp. 240.000.000 -

Salery Payable - Rp. 240.000.000


3. Pendapatan Diterima dimuka

Pada saat kas diterima dari pelanggan, entitas akan mencatat


pendapatan diterima dimuka. Jika pekerjaan telag diselesaikan atau barang telah
dikirimkan, pendapatan diterima dimuka tersebut akan didebit dan diakui
sebagai pendapatan (kredit)
Contoh soal

PT Ciremai mulai tahun 2015 menjual tiket keanggotaan ( membership) golf kepada pribadi dan perusahaan. Tiket
tersebut dijual dalam bentuk paket tahunan dan lima tahunan. Untuk paket tahunan harganya Rp.6.000.000 dapat digunakan
main golf selama satu tahun. Paket tiga tahun dijual dengan harga Rp.16.200.000 keanggotaan tersebut tidak didasarkan pada
jumlah kedatangan,pemegang kartu keanggotaan bebas dating jika kartu keanggotaannya masih aktif. Setiap tahun harga kartu
keanggotaan meningkat, sehingga menjadi anggota jangka panjang memberikan banyak keuntungan bagi anggota.

Pada 1 desember diterima keanggotaan tahunan 10 paket dan keanggotaan tiga tahunan sebanyak 5 paket. Entitas
melakukan penyesuaian untuk keanggotaan setiap bulan, Karena entitas menyusun laporan bulanan untuk keperluan internal
manajemen. Saldo pendapatan diterima dimuka dari keanggotaan tahunan pada tanggal 1 desember 2015 adalah Rp. 337.000.000
dari total penerimaan keanggotaan tahunan Rp.636.000.000. untuk keanggotaan tiga tahunan saldo 1 desember Rp.620.100.000
dari total penerimaan keanggotaan tiga tahunnan Rp.745.200.000. buatlah jurnal untuk transaksi tersebut dan penyesuaian yang
diperlukan.
Untuk membership tahunan alokasi pendapatan yang terealisasi perbulan adalah 1/12 x Rp.6000.000 =
Rp.500.000 atau total sama dengan (Rp.636.000.000 + Rp.60.000.000) x 1/12 = Rp.58.000.000.untuk
membershipkan tiga tahunan,pendapatan terealisasi perbulan Rp.16.200.000:3: 12 = Rp.450.000 atau total
(Rp.745.200.000 + Rp.81.000.000) x 1/36 = Rp.22.950.000. total pendapatan direalisasi Rp.58.000.000 +
Rp.22.950.000 = Rp.80.950.000. saldo pendapatan diterima dimuka pada tanggal pada tanggal 31 Desember 2015
adalah Rp.337.000.000 + Rp.60.000.000 + Rp. 81.000.000 – Rp.58.000 – Rp. 22.950.000 = Rp.1.017.150.000
4. Utang Terkait Imbalan Kerja

Imbalan kerja diberikan dalam bentuk gaji, tunjangan, bonus, pension, dan
lainnya, untuk mengelola pembayaran gaji, entitas biasanya memilki sistem gaji (payroll
system) yang dapat menghitung gaji untuk tiap karyawan, potongan untuk tiap invidu.
Gaji menurut UU Pajak Penghasilan merupakan penghasilan bagi pihak yang menerima
gaji dan entitas yang .membayarkan harus memotong pajak saat pembayaran gaji
dilakukan. Pajak yang dipotong oleh badan atas gaji dan penghasilan lain yang diterima
oleh pekerja disebut PPh Pasal 21. Gaji perbulan tersebut disetahunkan, kemudian
dikalikan dengan tariff yang berlaku (PPh Pasal 17 untuk wajib pajak pribadi ) untuk
mendapatkan pajak setahun.
Contoh Soal

Mutiara adalah pegawai PT salak pada bulan desember 2015 menerima gaji sebesar Rp.6.000.000
per bulan ditambah tunjangan rumah Rp.500.000 dan tunjangan transportasi Rp.1.000.000 selain itu PT Salak
membayarkan asuransi kecelakaan Rp.150.000 asuransi kematian Rp.50.000 dan iuran tunjangan hari tua
Rp.250.000. Mutiara juga melakukan iuran pensiun ke pengelola dan pensiun sebesar Rp.300.000 yang dipotong
dari gajinya. Mutiara membayar melalui pemotongan oleh PT Salak, zakat ke LAZ sebsar Rp.187.500. dan
angsuran rumah ke Bank CMN sebesar Rp.1.500.000 PPh 21 yang dipotong oleh PT Salak Rp.425.200. gaji
dibayarkan tiap akhir bulan semua pemotongan dibayarkan pada tanggal 10 bulan berikutnya.
Jurnal yang di buat pada 30 desember 2015

31/12-2015 Salery Expense Rp.7.950.000 -

PPh 21 Payable - Rp.425.200


BPJS Payable - Rp.450.000
Utang Iuranpensiun karyawan - Rp.300.000

Utang Zakat Karyawan - Rp.187.500


Utang Angsuran Bank Karyawaman - Rp.1.500.000
Cash - Rp.5.087.300

Beban gaji = Rp.6.000.000 + Rp.500.000 + Rp.1.000.000 + Rp.150.000 + Rp.50.000 +


Rp.250.000 = Rp.7.950.000
Kas = Rp.7.000.000 – Rp.425.200 – Rp.187.500 – Rp.300.000 = Rp.5.087.300
5. Utang Pajak Pihak Ketiga
Pajak yang dipotong di antaranya adalah PPh 21 atas gaji yang diterima pekerja.PPh
26 atas penghasilan yang diterima wajib pajak luar negeri,PPh 23 atas
jasa,sewa,bunga royalti.Jika pembayaran pajak tidak dilakukan bersamaan dengan
pembayaran kepada pihak ketiga maka akan timbul utang pajak penghasilan.
Contoh Soal

PT Salak melakukan beberapa pembayaran atas jasa atau kegiatan yang telah
dilakukan beberapa rekanan selama Desember 2015.Jasa tersebut dikenakan
pajak,seperti dijelaskan dalam informasi di soal.Pajak yang telah dipotong akan
dibayar perusahaan pada masa pajak periode berikutnya.
• 15 Desember 2015 Membayar jasa konsultan manajemen sebesar Rp
80.000.000 dipotong PPh 23 sebesar 2%.
• 20 Desember 2015 Membayar gaji pada seorang konsultan asing sebesar
Rp 50.000.000 dipotong PPh 26 sebesar 20%.
• 30 desember 2015 Membayar bunga kepada PT Kinibalu atas utang
sebesar Rp 100.000.000 yang akan jatuh tempo 2014,bunga 10% dibayar
tahunan setiap 30 Desember.Pajak atas bunga yang dipotong 15%.
Jurnal yang di buat selama Desember 2015

15/12-2015 Administration Rp 80.000.000 -


Expense
Payable PPh 23 - Rp 1.600.000
Cash - Rp 78.400.000

20/12-2015 Salary Expense Rp 50.000.000 -


Payable PPh 26 - Rp 10.000.000
Cash - Rp 40.000.000
30/12-2015 Interest Expense Rp 100.000.000 -
Payable PPh 23 - Rp 15.000.000
Cash - Rp 85.000.000
6. Utang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah

PPN adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai yang diciptakan oleh perusahaan.PPN
sebenarnya ditanggung oleh konsumen sebagai pemakai barang atau jasa,namun pengusaha kena pajak atau entitas
yang bertugas melakukan pemungutan pajak.
PPN tidak mempengaruhi nilai penjualan atau persediaan (pembelian) kecuali PPN yang tidak dapat dikreditkan.Hal ini
sesuai dengan PSAK 14 (Revisi 2010) Persediaan dan PSAK 16 (Revisi 2011) Aset Tetap yang menyatakan bahwa pajak
yang dapat dikreditkan tidak boleh menambah harga perolehan persediaan dan aset tetap.
Utang PPN akan dibayarkan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.Jika PPN masukan lebih besar,maka kelebihan
pembayaran PPN ini akan dikompensasi pada pembayaran pajak periode berikutnya atau dimintakan restitusi.Sebelum
restitusi diberikan,pihak raja akan melakukan pemeriksaan.
Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) adalah pajak yang dikenakan atas penjualan barang mewah.PPnBM tidak
dapat dikreditkan.Bagi produsen barang mewah,PPnBM yang dikenakan harus disetorkan ke kas negara.Bagi importir
barang mewah,PPnBM dibayarkan ke kas negara bersamaan dengan pembayaran pajak impor dan bea masuk.
Contoh Soal

PT Gede melakukan transaksi sebagai berikut :


5 Desember Melakukan pembelian persediaan untuk bahan produksi senilai Rp 300.000.000
dikenakan PPN 10%.
10 Desember Menjual barang mewah secara kredit sebesar Rp 900.000.000. Atas penjualan
tersebut dikenakan PPN 10% dan PPnBM 20%.Harga pokok barang yang dikirim
nilainya Rp 600.000.000.
15 Desember Membeli peralatan secara kredit untuk pabrik sebesar Rp 600.000.000 dikenakan
PPN 10%. Atas peralatan ini pajaknya boleh dikreditkan.
25 Desember Menerima uang muka dari pelanggan sebesar Rp 132.000.000 atas pesanan yang
akan dikirimkan pada bulan Januari 2016.Nilai uang muka termasuk nilai PPN 10%.
Buatlah Jurnal untuk transaksi di atas!
Jurnal Selama Desember 2015 atas transaksi di atas.

10/12-2015 Sales Expense Rp 600.000.000 -


Inventory - Rp 600.000.000
Account Receivable Rp 1.170.000.000 -
PPN Outcome - Rp 90.000.000
PPnBM Payable - Rp 180.000.000
Sales - Rp 900.000.000

5/12-2015 Inventory Rp 300.000.000 -


PPN Income Rp 30.000.000 -
Account Payable - Rp 330.000.000

15/12-2015 Equipment Rp 600.000.000 -


PPN Income Rp 60.000.000 -
Account Payable - Rp 660.000.000

25/12-2015 Cash Rp 132.000.000 -


PPN Outcome - Rp 12.000.000
Sales - Rp 120.000.000

31/12-2015 PPN Outcome Rp 102.000.000 -


PPN Income - Rp 90.000.000
PPN Payable - Rp 12.000.000
7. Utang Pajak Penghasilan

Beban pajak penghasilan terdiri dari dua yaitu pajak kini dan pajak
tangguhan.Pajak kini adalah pajak yang dihitung menurut ketentuan pajak atas
penghasilan yang diperoleh entitas dalam satu periode.Pajak kini juga
merupakan pajak terutang dalam satu tahun fiskal yang tercantum dalam Surat
Pemberitahuan (SPT) tahunan ditambah pajak final jika ada.
Pajak terutang dalam satu tahun fiskal dikurangi pajak yang telah
dipotong pihak lain akan menghasilkan pajak kurang (PPh 29) atau lebih bayar
akhir tahun (PPh 28).PPh 29 atau pajak kurang bayar akan disajikan sebagai
utang pajak kini.
Contoh Soal

PT Gandul untuk tahun pajak yang berakhir 31 Desember 2015 menghitung jumlah pajak terutang sebesar
Rp 430.000.000.Pajak yang telah dibayar melalui angsuran PPh 25 sebesar Rp 360.000.000 dan dipotong
oleh pihak lain PPh 23 Rp 20.000.000.Perusahaan mencatatnya sebagai pajak dibayar di muka.Buatlah
Jurnal penyesuaiannya!

Jurnal pada tanggal 31 Desember 2015


31/12-2015 Tax expense Rp 430.000.000 -
Pendapatan dibayar di - Rp 20.000.000
muka PPh 23

Pajak di bayar di muka - Rp 360.000.000


PPh 24
PPh Payable 29 - Rp 50.000.000
kontijensi
Pengertian Kontinjensi
kontinjensi adalah Istilah umum yang digunakan untuk sesuatu yang memiliki
ketidakpastian dari sisi keajadian dan jumlah. Dalam akuntansi, kontinjensi dapat
muncul sebagai liabilitas kontinjensi atau aset kontinjensi. Liabilitas kontinjensi
lebih sering dijumpai dibandingkan dengan aset kontinjensi. Prinsip konservatisme
dan kehati-hatian menyebabkan aset kontinjensi tidak akan pernah diakui sampai
aset tersebut diperoleh. Aset kontinjensi jika potensi terjadinya tinggi dan nilainya
dapat diestimasi dengan andal, hanya boleh diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan. PSAK 57 (revisi 2009) mengatur penyajian dan pengungkapan
untuk provisi dan kontinjensi.
Liabilitas kontinjensi menurut PSAK 57 (Revisi 2009) adalah:

 Liabilitas Potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya
menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada
masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali entitas
 Liabilitas kini yang timbul sebagai akibat peristiwa masa lalu,tetapi tidak diakui
karena:
a. Tidak terdapat kemungkinan besar (probable) entitas mengeluarkan
sumber daya untuk menyelesaikan liabilitasnya.
b. Jumlah liabilitas tersebut tidak dapat diukur secara andal.liabilitas
kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan,karena hanya perlu
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Untuk itu PSAK 57 (Revisi 2009) mengharuskan entitas melakukan review atas
liabilitas kontinjensi,apakah kemungkinan besar dapat diukur dengan andal sehingga
berubah menjadi provisi atau liabilitas kini lainnya atau sebaliknya.
Provisi
Istilah Provisi dibedakan dari kontinjensi untuk menjelaskan istilah yang
berbeda. Dalam PSAK 57 (revisi 2004), provisi disebut sebagai kewajiban
diestimasi. Liabilitas kontinjensi hanya diungkapkan dalam laporan keuangan.
Istilah provisi dapat juga diartikan sebagai pencadangan suatu penurunan yang
merupakan akun lawan aset seperti penurunan nilai depresiasi. Provisi diakui
dalam laporan keuangan, pengukurannya dengan cara melakukan estimasi.
Perbedaan provisi dan liabilitas lain, terletak pada kepastian dari sisi jumlah dan
waktu. Namun provisi telah memenuhi definisi umum liabilitas yaitu merupakan
kewajiban kini, timbul dari peristiwa masa lalu dan mengakibatkan keluarnya
sumber daya entitas.
Pengakuan
– Provisi diakui jika:
(a) entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa
lalu;
(b) kemungkinan besar penyelesaian kewajiban tersebut mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung
manfaat ekonomi; dan
(c) estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban ter sebut dapat dibuat
Jika kondisi di atas tidak terpenuhi, maka provisi tidak diakui.
– Dalam kasus kewajiban kini tidak dapat ditentukan secara jelas:
– setelah mempertimbangkan semua bukti tersedia,
– terdapat kemungkinan lebih besar terjadi daripada tidak terjadi bahwa
– kewajiban kini telah ada,
– pada akhir periode pelaporan.
Pengakuan (lanjutan)

Pertimbangan bukti-bukti yang tersedia:

(a) besar kemungkinannya bahwa kewajiban kini telah ada pada akhir periode pelaporan, entitas
mengakui provisi (jika kriteria pengakuan terpenuhi); dan

(b) jika besar kemungkinan bahwa kewajiban kini belum ada pada akhir periode pelaporan, entitas
mengungkapkan kewajiban kontinjensi.

(c) Pengungkapan tidak diperlukan jika kemungkinan arus keluar sumber daya kecil.
Pengakuan (lanjutan)
– Provisi diakui hanya bagi kewajiban yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang terpisah dari tindakan
entitas pada masa datang (yaitu penyelenggaraan entitas pada masa datang).
 “Independent of future actions”
– Contoh:
– denda atau biaya pemulihan pencemaran lingkungan, yang mengakibatkan arus keluar sumber
daya untuk menyelesaikan kewajiban itu tanpa memandang tindakan entitas pada masa datang.
– biaya kegiatan purna-operasi (decommissioning) instalasi minyak atau instalasi nuklir sebatas
jumlah yang harus ditanggung entitas untuk memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan.
Pengungkapan

Untuk setiap jenis provisi, entitas harus mengungkapkan:


(a) nilai tercatat pada awal dan akhir periode;
(b) provisi tambahan yang dibuat dalam periode bersangkutan, termasuk
peningkatan jumlah pada provisi yang ada;
(c) jumlah yang digunakan, yaitu jumlah yang terjadi dan dibebankan pada
provisi selama periode bersangkutan;
(d) jumlah yang belum digunakan yang dibatalkan selama periode bersangkutan;
dan
(e) peningkatan, selama periode yang bersangkutan, dalam nilai kini yang timbul
karena berlalunya waktu dan dampak dari setiap perubahan tingkat diskonto.
Pengungkapan (lanjutan)

Entitas juga harus mengungkapkan pula:


(a) Uraian singkat mengenai karakteristik kewajiban dan perkiraan saat arus
keluar sumber daya terjadi;
(b) Indikasi mengenai ketidakpastian saat atau jumlah arus keluar tersebut
jika diperlukan dalam rangka menyediakan informasi yang memadai,
entitas harus mengungkap kan asumsi utama yang mendasari prakiraan
peristiwa masa depan
(c) Jumlah estimasi penggantian yang akan diterima dengan menyebutkan
jumlah aset yang telah diakui untuk estimasi penggantian tersebut.
Contoh Perhitungannya Pengukuran Provisi.

Entitas menjual produk dengan memberikan garansi selama 1 tahun dari tanggal penjualan.Jika kerusakan
terdeteksi cacat ringan biaya perbaikan atas seluruh produk yang dijual Rp 100.000.000,jika cacat berat biaya yang
dikeluarkan Rp 500.000.000.Pengalaman entitas di masa lalu memberikan indikasi bahwa dalam tahun mendatang
kemungkinan 80% produk terjual tanpa cacat,15% cacat ringan,dan 5% cacat berat.Buatlah jurnal atas transaksi di atas!

Menentukan Estimasi biaya perbaikan didasarkan pada nilai yang diharapkan


(expected value.)
Estimasi biaya perbaikan didasarkan pada nilai yang diharapkan =
( 80%*0)+(15%*Rp 100.000.000)+(5%*Rp 500.000.000) = Rp 40.000.000

Menentukan Jurnal entitas.


Beban garansi Rp 40.000.000 -
Utang Garansi - Rp 40.000.000
Garansi jasa (service type warranty)
Gransi jasa merupakan bentuk pelayanan tambahan yang diberikan
kepada pelanggan karena permintaan pelanggan, atas garansi jasa ini,penjual
akan mengakui pendapatan ditangguhkan pada saat penjualan dan mengakui
sebagai pendapatan saat layanan purna jual diberikan kepada pelanggan.
Garansi jasa akan menimbulkan pendapatan jasa akan menimbulkan
pendapatan jasa dan akan diakui saat waktu berlalu atau secara proporsional
dengan jasa yang diberikan. Bentuk kewajiban penjual untuk memastikan
bahwa produk yang diberikan tidak rusak. Atas garansi jaminan, entitas harus
mengakui liabilitas karena kontrak untuk memberikan pelayanan. Produk-
produk elektronik atau pelatan merupakan contoh produk yang dijual dengan
memberikan garansi.
Contoh Garansi Produk
PT Kendang menjual produk dengan memberikan garansi perbaikan selama dua tahun. Berdasarkan pengalaman
beberapa tahun terakhir, hasil analisis teknis dan pengalaman dari industri diketahui bahwa hanya 5% pelanggan datang
meminta garansi. Dari pelanggan yang meminta garansi tersebut 70% meminta garansi ditahun pertama dan sisanya ditahun
kedua. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk memberikan garansi tiap produk sebesar Rp.100.000
Pada tahun 2015 penjualan sebanyak 20.000 unit dan tahun 2015 penjualan sebanyak 26.000 unit. Total garansi aktual
yang dikeluarkan ditahun 2010 sebesar Rp.65.000.000 dan tahun 2015 sebesar Rp.125.000.000 buatlah jurnal yang diperlukan
untuk mencatat garansi didua tahun tersebut
Jurnal yang dibuat tahun 2015.
Keterangan DEBIT KREDIT
Pengakuan beban garansi
Beban Garansi Rp.100.000.000
Provisi Garansi Rp.100.000.000
( 5% x 20.000 x Rp.100.000 = Rp. 100.000.000)
Pemberian garansi tahun 2015
Provisi Garansi Rp.65.000.000
Kas Rp.65.000.000
Provisi garansi yang disajikan pada laporan keuangan 31 Desember 2015 sebesar
Rp.35.000.000. jurnal yang dibuat tahun 2016

Keterangan DEBIT KREDIT


Pengakuan beban garansi
Beban Garansi Rp.130.000.000
Provisi Garansi Rp.130.000.000
( 5% x 26.000 x Rp.100.000 = Rp. 130.000.000)
Pemberian garansi tahun 2015
Provisi Garansi Rp.125.000.000
Kas Rp.125.000.000

Provisi garansi yang disajikan pada laporan keuangan 31 Desember 2016 sebesar Rp.40.000.000.
Etntitas dapat mencatat jurnal pemberian garansi, baru diakhir periode pelaporan mencatat provisi dengan jurnal
penyesuaian, jika pendekatan tersebut digunakan maka jurnal yang dibuat
Jurnal tahun 2015.
Keterangan DEBIT KREDIT
Pengakuan beban garansi
Beban Garansi Rp.65.000.000
kas Rp.65.000.000
Tambahan pengakuan beban garansi tahun 2015
Keterangan DEBIT KREDIT
Beban Garansi Rp.35 000.000

Provisi Garansi Rp.35.000.000

5% x 20.000 x Rp.100.000 = Rp.100.000.000


Beban garansi tambahan Rp.100.000.000 – Rp.65.000.000 = Rp.35.000.000
Jurnal tahun 2016
Keterangan DEBIT KREDIT
Pemberian beban garansi
Beban Garansi Rp.125.000.000
kas Rp.125.000.000
Tambahan pengakuan beban garansi tahun 2015
Keterangan DEBIT KREDIT
Beban Garansi Rp.5 000.000
Provisi Garansi Rp.5.000.000
5% x 26.000 x Rp.100.000 = Rp.130.000.000
Beban garansi tambahan Rp.130.000.000 – Rp.125.000.000 = Rp.5.000.000
Garansi jaminan(assurance type warranty)

Garansi jaminan produk merupakan contoh dari kontijensi karena


jumlah dan waktunya tidak pasti. Garansi merupakan bentuk kewajiban
kontraktual karena garansi diberikan berdasarkan perjanjian jual beli yang
tertera dalam dokumen jual beli. Pengakuan timbulnya provisi pada saat terjadi
penjualan karena saat penjualan terjadi berarti entitas telah memiliki liabilitas
untuk memberikan garansi produk. Konsep pengakuan ini juga sejalan dengan
konsep matching principles,beban garansi diakui pada saat penjualan karena
garansi merupakan konsekuensi dari penjualan tersebut.
Contoh Garansi Jaminan Produk dan Jasa

PT Perahu menjual mobil pada 2 januari 2015 dengan memberikan garansi atas 36.000 km pertama atau
selama tiga tahun mana yang lebih dahulu. Harga jual mobil Rp.300.000.000. entitas mengestimasi biaya garansi
yang akan diberikan selama 3 tahun sebesar Rp.7.000.000. pelanggan juga membeli garansi jasa senilai
Rp.9.000.000. sehingga ada tambahan pelayanan kuntuk servis mobil tersebut dari standar jaminan yang
diberikan. Selama tahun 2015 biaya terkait dengan jaminan asuransi yang dikeluarkan sebesar Rp.5.000.000 dan
tahun 2016 sebesar Rp.1.000.000. atas garansi jasa perusahaan mengakui dengan metode garis lurus.
Jurnal yang dibuat oleh perusahaan pada saat melakukan penjualan
adalah:
Keterangan DEBIT KREDIT

Kas Rp.309.000.000

Beban Garansi Rp.7.000.000

Provisi Garansi Rp.7.000.000


Pendapatanditangguhkan garansi jasa Rp.9.000.000
Penjualan Rp.300.000.000
Jurnal pada 2015,saat memberikan garansi jaminan dan pengakuan garansi jasa.

Keterangan DEBIT KREDIT

Provisi Garansi Rp.5.000.000

Kas / Persediaan Rp.5.000.000

Pendapatanditangguhkan garansi jasa Rp.3.000.000


Pendapatan Garansi Rp.3.000.000
Kewajiban Pengelolaan Lingkungan

Kewajiban untuk melakukan restorasi lingkungan tersebut ada yang bersifat umu berupa pengelolaan
lingkungan selama atau paska kegiatan produksi. Namun ada juga yang kewajiban pengelolaan lingkungan tersebut
terkait dengan pembongkaran atau pemindahan aset tertentu.
Biaya lingkungan bersifat umum misalnya biaya reklamasi lingkungan tambang, biaya pengelolaan areal tambang.
Biaya ini sering muncul pada perusahaan pertambangan terbuka misalnya penambangan batu bara, nikel, emas, timah.
Biaya tersebut harus diakui pada saat produksi sebagai badan dan liabilitas lingkungan/reklamasi. Kegiatan reklamasi
dilakukan secara terprogram dan dimonitor oleh regulator sebagai contoh pada perusahaan tambang batu bara akan
kita jumpai beban reklamasi penutupan tambang dan provisi reklamasi penutupan tambang.
Menurut PSAK 16(Revisi 2011) aset tetap, termasuk komponen biaya perolehan adalah estimasi awal biaya
pembongkaran, pemindahan dan restorasi lokasi aset tetap (dismanding cost). Pembongkaran dan restorasi local aset
tetap biasanya terkait dengan kewajiban lingkungan untuk mengembalikan lokasi seperti kondisi awal, sehingga semua
peralatan yang diatas dan tertanam harus dipindahkan.
Contoh Akuntansi Liabilitas Pembongkaran Aset
PT Kapuas pada 2 januari 2015 memulai penggunaan peralatan penambangan (drilling)
disebuah areal tambang yang dimiliki. Regulasi pemerintah menharuskan perusahaan
melakukan pembongkaran peralatan tersebut diakhir masa manfaatnya. Masa
manfaat drilling tersebut 10 tahun dengan estimasi biaya sebesar Rp.2.000.000.
dengan tingkat diskon 6% selama masa manfaat, nilai wajar kewajiban lingkungan
tersebut adalah Rp.1.116.800.000.( Rp.2.000.000. x 0,5584).
Jurnal pengakuan liabilitas sebagai penambah nilai peralatan drilling :
Keterangan DEBIT KREDIT

Peralatan Drilling Rp.1.116.800.000

Liabilitas Pembongkaran Aset Rp.1.116.800.000

Jurnal pengakuan Depresiasi peralatan drilling :


Keterangan DEBIT KREDIT

Beban Depresiasi Rp.1.116.800.000

Akumulasi Depresiasi - Drilling Rp.1.116.800.000

Depresiasi ini akan dilakukan bersamaan dengan nilai peralatan drilling sebagai satu
kesatuan. Tidak didepresiasikan secara terpisah.
Jurnal pengakuan bunga atas liabilitas pembongkaran aset
Keterangan DEBIT KREDIT

Beban Depresiasi Rp.67.008.000

Liabilitas Pembongaran Aset Rp.67.008.000

Beban bunga = 6% x Rp.1.116.800.000 = Rp.67.008.000


Litigasi Hukum
Litigasi hukum merupakan tuntutan perkara terkait suatu entitas yang
sedang berjalan proses hukumnya. Kasus hukum entitas dapat berakibat
timbulnya liabilitas yang harus diselsaikan oleh sebuah entitas. Ada tidaknya
liabilitas yang diakui dipengaruhi oleh kasusnya dan estimasi atau potensi
munculnya liabilitas.Suatu kasus dapat saja mengidentifikasikan suatu entitas
kalah dan memiliki liabiltas dimasa mendatang. Namun jika proses pengadilan
menetapkan sebaliknya, potensi kerugian tersebut menjadi tidak ada sehingga
tidak perlu pengakuan utang.
Contoh Akuntansi Litigasi
PT. Merbabu memiliki dua kasus yang saat ini sedang dalam proses di pengadilan.

1. Entitas menerima klaim dari seorang pelanggan atas proyek yang tidak dapat diselesaikan oleh perusahaan.
Akibat kegagalan tersebut, pelanggan mengajukan klaim ganti rugi sebesar Rp.100.000.000.000. pada saat
penyusunan laporan keuangan 31 Desember 2015 proses hukum sedang berlangsung. Menurut pendpatan konsultan
hukum entitas, kemungkinan entitas dapat kalah. Namun jika kalah masih ada upaya lagi untuk melakukan banding.
Konsultan belum dapat memastikan berapa jumlah kerugian yang harus dibayar oleh perusahaan akibat tuntutan
tersebut

2. Entitas menerima klaim dari seorang ahli waris pekerja akibat kecelakaan pekerja yang berakibat pekerja
mengalami cacat seumur hidup. Pihak perusahaan sudah memberikan semua santunan asuransi kecelakaan kerja
sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan. Namun ahli waris menuntut jumlah yang lebih besar Rp.300.000.000.
Karena kesalahan tersebut terkait dengan tindakan entitas yang memberikan pengamanan pada pekerja. Proses
pengadilan berlangsung selama 2013. Pada 1 Februari 2016 saat audit laporan keuangan belum selesai, diperoleh
keputusan, entitas dinyatakan bersalah dan harus membayar Rp.250.000.000. Entitas tidak ingin mempepanjang
masalah ini, sehingga tidak berniat melakukan handing
Jurnal yang dibuat :
1. Tidak diakui sebagai badan dan liabilitas, informasi merupakan
liabilitas kontinjensi. Entitas cukup menjelaskan dalam catatan
atas laporan keuangan kasus litigasinya dan potensi kerugian
yang harus dibayarkan jika pengadilan menyatakan perusahan
bersalah.

2. Entitas mengakui beban dan liabilitas

Keterangan DEBIT KREDIT

Kerugian Tuntunan hukum pekerja Rp.250.000.000

Utang Tuntutan Hukum Rp.250.000.000


Liabilitas Kontinjensi
Entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi, artinya liabilitas
kontinjensi tidak pernah diakui dalam laporan posisi keuangan. Keberadaannya hanya perlu
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, kecuali jika kemungkinan arus keluar
sumber daya kecil, maka liabilitas kontinjensi tidak perlu diungkapkan.
Entitas tidak dipernankan mengakui aset kontijensi. Aset kontinjensi timbul dari
peristiwa tidak terencana yang menimbulkan kemungkinan arus masuk manfaat ekonomis
bagi entitas misalnya kemungkinan klaim yang diperoleh karena proses hukum. Pengakuan
aset kontinjensi tidak diperkenankan, agar tidak menimbulkan pengakuan penghasilan yang
tidak pernah diralisasi. Jika sudah dapat dipastikan akan langsung diakui sebagai aset. Aset
kontinjensi diungkapkan jika terdapat kemungkinan besar arus ekonomi akan diperoleh.
Seperti halnya liabilitas kontinjensi, aset kontinjensi juga dikaji ulang terus-menerus untuk
memastikan kemungkinan terjadinya menjadi lebih pasti atau menjadi tidak mungkin terjadi.
Penyajian
Liabilitas jangka pendek menurut PSAK (Revisi 2009) dalam laporan
keuangan disajikan pada bagian atas sebelum liabilitas jangka panjang.Penyajian
menurut PSAK ini berbeda dengan penyajian menurut IAS1 yang menempatkan
liabilitas jangka pendek setelah liabilitas jangka panjang.
PSAK 7 (Revisi 2010) Pengungkapan Pihak-Pihak Berelasi mengharuskan
entitas memisahkan utang berasal dari pihak berelasi dan tidak berelasi.
Pengungkapan
Pengungkapan liabilitas jangka pendek berisikan rincian dan tambahan
penjelasan.Misalnya utang usaha,pengungkapan menjelaskan detail utang
usaha berdasarkan pemasok dengan nilai material,utang berdasarkan klasifikasi
umum,dan pengungkapan utang berdasarkan mata uang asing.
Analisis laporan keuaangan
Entitas melakukan analisis liabilitas jangka panjang dengan melihat
kemampuannya untuk membayar utang yang akan jatuh tempo. Rasio yang digunakan
adalah rasio lancer( current ratio), rasio kas ( cash ratio) atau rasio cepat (quick ratio).
Semakin besar jumlah utang lancer akan memperbesar risiko perusahaan untuk kesulitan
membayar utangnya.

Ratio Lancar = Aset Lancar


Liabilitas jangka pendek
Rasio Cepat = Aset Lancar
Liabilitas jangka pendek

Aset cepat = Aset Lancar – persediaan – Bayar dibayar dimuka

Rasio kas = Aset Lancar


Liabilitas jangka pendek
Rasio lancar
Rasio lancer merupakan kemampuan perusahaan membayar liabilitas
jangka pendek dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Semakin tinggi
rasio lancar menunjukkan entitas memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam
membayar liabilitas jangka pendeknya. Rasio cepat merupakan kemampuan
perusahaan membayar liabilitas jangka pendek dengan menggunakan aset yang
sangat likuid. Aset likuid (cepat) merupakan aset lancar dikurangkan dengan
persediaan dan biaya dibayar dimuka. Persediaan untuk dapat menjadi kas
harus dijual dahulu menjadi piutang, baru kemudian ditagih mendapatkan kas.
Rasio Cepat
Rasio cepat merupakan kemampuan perusahaan membayar liabilitas
jangka pendek dengan menggunakan asset yang sangat likuid,asset
likuid(cepat) merupakan asset lancar dikurangi dengan persediaan dan dibayar
dimuka persediaan untuk menjadi kas harus di jual dahulu menjadi piutang,baru
kemudian ditagih mendapatkan kas .Beban dimuka tidak dapat dicairkan
menjadi kas sehingga tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran liabilitas
jangka pendek.
Rasio kas
Rasio kas merupakan kemampuan perusahaan membayar liabilitas
jangka pendek dengan menggunakan kas yang dimiliki entitas. Rasio ini
merupakan ukuran kemampuan membayar segera, karena diasumsikan semua
liabilitas jangka panjang akan dibayar dalam waktu yang sangat dekat. Ukuran
rasio kas merupakan ukuran lebih ketat karena menganggap bahwa semua
utang harus disediakan kas untuk melunasinya.