Anda di halaman 1dari 11

Kelompok 5 :

1. Alifa Nur Ayni (1710008)


2. Aryani Ika Mahardika (1710016)
3. Erica Mauliana Puteri (1710030)
4. Feni Novita Sari (1710038)
5. Vene Aulia Wulandari (1710108)
6. Wanda Hogantara (1710110)
Pemeriksaan penunjang

Sampel
spesimen kultur

radiologi
Pemeriksaan spesimen
1.Sampel spesimen urine
2.Sampel spesimen feses
3.Sampel spesimen sputum

Pemeriksaan kultur
1.Kultur hidung atau tenggorokan
2.Sediaan kultur sputum
3.Sediaan kultur woun drainage

Pemeriksaan radiologi
1.CT-Scan
2.X-Ray
Teknik Pengambilan Sampel
Spesimen

A. Sampel spesimen urine


1. Sampel Urine 24 Jam
yaitu urine yang dikupulkan selama 24 jam penuh
tanpa terputus. Pemeriksaan yang lazim
menggunakan sampel urine 24 jam antara lain
pemeriksaan berat jenis urine, kadar protein dalam
urine, pengujian pemekatan, dan pemeriksaan CCT.
2. Sampel Urine Steril
Pengumpulan sampel urine steril dilakukan
menggunakan peralatan steril. Ada dua cara pengumpulan
urine steril yang lazim dilakukan, yaitu dengan kateterisasi
atau pungsi suprapubis. Pengumpulan sampel dengan kateter
dilakukan dengan cara menampung langsung urine yang
keluar dari kateter kedalam wadah sampel steril, sedangkan
pungsi suprapubis dilakukan oleh dokter.

3. Sampel Midstream Urine


Sampel Midstream urine atau urine tengah adalah
pengambilan sampel urine bersih dilakukan dengan meminta
klien menampung urine secara langsung ke dalam wadah yang
telah di sediakan
B. Pengambilan Spesimen Feses
Pemeriksaan dengan bahan feses dilakukan untuk
mendeteksi adanya kuman seperti salmonella, Shigella,
Escherichia coli, Staphylococcus, dan lain-lain.(Musrifatul
Uliyah, A.Aziz Alimul Hidayat,2008:195).

C. Pengambilan Spesimen Sputum


Pemeriksaan sputum dilakukan untuk menentukan jenis
mikroorganisme dan tes sensitivitas terhadap obat untuk
sitologi dalam mengidentifikasi asal, struktur, fungsi dan
patologi sel.
Teknik Pemeriksaan
Kultur

1. Sediaan Kultur Hidung/tenggorokan


Pengambilan sampel sputum dilakukan pada pasien
yang mengalami infeksi infeksi atau peradangan saluran
pernafsan untuk menentukan jenis mikroorganisme
penginfeksi dan tes sensifitas terhadap obat.

2. Sediaan Sputum
Batuk adalah refleks pertahanan yang timbul akibat
iritasi trakeobronkial. Kemampuan untuk batuk
merupakan mekanisme membersihkan saluran nafas
bagian bawah. Batuk juga merupakan reaksi pertahanan
tubuh yang dapat melindungi paru-paru.
3. Sediaan Wound Drainage
Pemeriksaan rutin yang dilakukan untuk mengetahui
kelainan cairan pleura adalah tes makroskopis, tes
makroskopis dan analisa kimia. Pemeriksaan cairan efusi
pleura yang mudah, cepat dan tepat sangat di perlukan dalam
membantu menegakkan diagnose.
Teknik Pemeriksaan
Radiologi

1. CT-Scan
CT Scan dapat di lakukan dengan atau
tanpa media kontras Iodin. Pemeriksaan ini
bukan pemeriksaan yang invasive kecuali bila
di gunakan kontras. Kotras menyebabkan
absorpsi jaringan lebih besar dan terjadi
penyebaran kontras. Peyebaran ini
memungkinkan tumor kecil dapat terlihat
(Kee, joyce Lefever,1997)
2. X-Ray
Chest X-ray merupakan metoda pemeriksaan yang
paling sering digunakan dokter. Dengan Chest X-ray, secara
sistematis dapat kita melihat tulang-tulang iga, klavikulae,
(kadang-kadang skapula), kelengkungan (skoliosis) kolumna
vertebralis serta kaput humeri. Chest X-ray juga dapat
menilai parenkhim paru. Parenkim paru dapat dinilai
kelainan-kelainan yang mungkin terjadi. (Sjahriar Rasad,
2005).