Anda di halaman 1dari 83

INFEKSI

S1 KEP STIKES HANG TUAH


SURABAYA
KONSEP DASAR INFEKSI
Definisi Infeksi
• Infeksi adalah proses invasif oleh
mikroorganisme dan berpoliferasi di
dalam tubuh yang menyebabkan
sakit (Potter & Perry, 2005).

• Infeksi adalah invasi tubuh oleh


mikroorganisme dan berproliferasi
dalam jaringan tubuh. (Kozier, et al,
1995)
INFEKSI :
• Berkembang biaknya penyakit pada
hospes disertai timbulnya respon
imunologik dengan gejala klinik
atau tanpa gejala klinik
• Manusia host / penjamu
• Penyakit agent
• Transmisi kuman adalah :
Proses masuknya kuman ke dalam
penjamu sehingga timbul radang /
penyakit
Faktor-Faktor Penyebab Infeksi

1) Bakteri
2) Virus
3) Parasit
4) Fungi
Cara penularan infeksi :
1. Kontak
Langsung, tidak langsung, droplet
2. Udara
Debu, kulit lepas
3. Alat
Darah, makanan, cairan intra vena
4. Vektor / serangga
Nyamuk, lalat
Tipe infeksi
• Kolonisasi
• Infeksi lokal
• Infeksi sistemik
• Bakteriemi
• Septikemia
• Infeksi akut
• Infeksi kronik
Proses infeksi
1) Periode inkubasi
2) Tahap prodromal
3) Tahap sakit
4) Pemulihan
Sistem pertahanan Terhadap
infeksi
 Kulit → sebum yg mengandung asam lemak yg
mampu membunuh beberapa jenis bakteri
 Mulut→saliva membuang partikel yg
mengandung mikroorganisme
 Saluran pernapasan → silia di jln napas bagian
atas menjebak mikroorganisme yg diinhalasi
 Saluran urinarius → pembilasan dari aliran urine
dpt membuang mikroorganisme yg ada pada
saluran urinarius
 Saluran pencernaan → keasaman lambung
secara kimia merusak mikroorganisme yg tidak
tahan asam
INFLAMASI ATAU PERADANGAN

• Respon inang terhadap infeksi adalah


peradangan atau inflamasi dimana
mikroorganisme patogen sudah
berkembang biak dan mulai
menimbulkan manifestasi klinik.
Manifestasi Klinik Inflamasi
atau Peradangan
1) Kalor atau panas atau hangat
Disebabkan karena hypervaskularisasi
lokal pada tempat terinfeksi dan adanya
sisa metabolisme kalor daripada antibodi
2) Dolor atau nyeri
Adanya persepsi nyeri yang disebabkan
karena adanya kerusakan jaringan
karena mikroorganisme patogen tersebut
akibat pengaruh zat pada ujung saraf
perasa yang dilepaska oleh sel cedera,
zat ini mungkin histamin
3)Rubor atau kemerahan
Adanya kemerahan pada daerah
yang terinfeksi. Hal ini disebabkan
karena adanya vasodilatasi vaskuler
lokal yang mengakibatkan
terjadinya aliran darah setempat
berlebihan.
4) Tumor atau penumpukan cairan
Adanya kenaikan permeabilitas kapiler
disertai dengan kebocoran banyak sekali
cairan terutama larutan garam-garam
dan larutan koloid (albumin, globulin dan
fibrinogen) ke dalam ruang interstitial
sehingga terjadi edema atau terjadi
pembekuan cairan dalam ruang
interstitial oleh fibrinogen dan protein
lainnya yang bocor dari kapiler dalam
jumlah berlebihan sehinga terjadi
pembengkakan
5. Functiolaesa
Adanya penurunan fungsi atau daya
gerak pada jaringan yang terkena
infeksi karena terjadi
pembengkakan dan kerusakan
jaringan sel terinfeksi
FAKTOR – FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI
TERJADINYA
PENYAKIT INFEKSI
I. Infaction Agent (kuman penyakit).
– Sangat banyak jenisnya, dari bentuk yang
paling sederhana yaitu virus sampai dengan
bakteri yang bersifat kompleks & multicellular
dibicarakan di mikrobiologi.
– Relatif sedikit yang dapat menginfeksi
manusia.
– Virulensinya berbeda untuk masing-masing
species hewan dan manusia.
Ex. Cholera, AIDS, Sifilis, dll tidak virulen
terhadap hewan.
– Merupakan Komponen penting dalam rantai
penularan penyakit.
II. Sifat-sifat Intrinstik dari Kuman Penyakit.

– Ditentukan oleh kuman sendiri dan tidak bergantung


pada interaksi dengan tuan rumah (host).
– Sifat tersebut antara lain:
 Bentuk : Spiral, batang, coccus.
 Besar.
 Sifat-sifat Kimia : Basopilik : Asinopilik.
 Sifat-sifat antigent: Reaksi pembentukan anti bodi,
allergi.
 Bahan/Media yang dibutuhkan untuk tumbuh
( Suhu, SBM, Oksigen dll).
 Kesanggupan untuk dapat bertahan diluar Host dalam
berbagai Vehikel air, susu, debu, oksigen CO2.
 Kesanggupan untuk menghasilkan toxin Difteri:
Tetanus.
 Kesanggupan untuk dapat resisten dengan anti biotik,
bahan kimia lain.
GO Mudah resisten, Spilis Sensitif thd
Penicilline.
 Kesanggupan untuk mendapatkan sifat-sifat genetik
baru mutasi.
HIV, Influenza sukar membuat vaksin.
Sifat-sifat Interinsik Tersebut pelu
Dalam Memahami:

• Epidemiologi dari Agent (Kuman).


• Mode of Transmission (Cara
Menular).
• Perbedaan strain dari kuman pada
setiap KLB (Kejadian Luar Biasa)
atau daerah geografi tertentu.
III. Interaksi antara Host dan Agent

Termasuk didalamnya antara lain:

1. Infectivity. 3. Virulensi.
2. Pathogenecity. 4. Immunogenecity.
1. Infectivity :

• Kemampuan dari agent untuk masuk dan berkembang biak


dalm tubuh Host (= kemampuan untuk menimbulkan
infeksi).
• Secara eksperimen : jumlah minimum dari partikel/agent
yang dibutuhkan untuk dapat menimbulkan infeksi pada
50% dari kelompok Host dengan Spesies yang sama (= ID
50).
• Jumlah tersebut berbeda dan bergantung pada :
– Kuman (agent).
– Cara pemberian darah; mulut; feces dll.
– Sumber dari kuman darah; sputum;feces dll.
– Factor host : Umur; Sex; Ethink.
• Berdasarkan sifat infectivity ada yang infectivitasnya tinggi :
Mis: Influensa.
Infectivitasnya rendah : Mis : Lepra/Kusta
• Infectivity pada manusia hanya dapat diperkirakan tidak
diizinkan untuk dilakukan eksperimen (Etik Kedokteran).
Cara untuk menilai infectivity pada manusia dengan :
 Kecepatan / kemudahan dari agent untuk menyebar dalam suatu
populasi.
Jumlah/proposi dari orang sehat yang kontak dengan penderita
yang mengalami infeksi (rumah tangga; asrama).

Jlh kasus baru – kasus mula-mula


dalam suatu populasi
Scondery Attack Rate:
Jlh dari orang yang rentan
dalam populasi tersebut – kasus mula-mula

 Survei serum : setelah terjadinya KLB/Epidemi.


2. Pathogenecity :
Kemampuan dari kuman untuk menimbulkan
reaksi sehingga timbul gejala2 klinik (gejala
pathologis).
Dapat ditentukan proposinya dengan memeriksa
Lab. Serum/Darah/Urine/ setelah KLB sesuatu
penyakit.

Ex : Staphylococci tidak patogen bila berada


rectum.
sangat patogen bila berada di peritoneum
atau selaput otak.

Jlh orang yang terinfeksi


dengan gejala klinik
Pathogenecity = xK
Jlh orang yang terinfeksi
3. Virulensi :
Proporsi dari penderita suatu penyakit dengan
gejala-gejala klinik yang berakhir dengan gejala
klinik berat/kecacatan/kematian.

– Dapat ditentukan dengan menghitung CFR


(Case Fatality Rate).

Dipengaruhi oleh :

– Dosis.
– Cara infeksi.
– Host Umur: RAS.

Ex : Pest lebih patogen bila masuk melalui


jalan nafas dibanding dengan gigitan
kutu.
Polio lebih parah pada dewasa dibanding
dengan pada anak-anak.
4.Immuno genecity:
Kemampuan dari suatu infeksi kuan untuk menghasilkan kekebalan
yang spesifik.
Humoral Imunity
Bergantung pada Tipe dari Agent Cellular immunity
Campuran
Dipengaruhi oleh:

 Faktor Host umur; gizi; dosisi; virulensi.


 Tempat infeksi sal. Nafas/alat kelamin/usus bersifat lokal.
 Sifat instrinsik dari kuman.
Ex. Campak : Immunitas dapat bertahan lama.
GO : Tidak mneghasilakn immunitas dapat terjadi
serangan berulang.
IV. Mekanisme Patogenesitas dari kuman

Patogenesitas : Kemampuan dari kuman untuk menimbulkan reaksi


pada host sehingga timbul gejala/gejala
klinik/kerusakan jaringan.

Mekanisme Tersebut antara lain :


1. Mengahsilkan toxin (racun).
Mis:
– Teyanus gangguan saraf motorik kejang-kejang kuman
penyebab (closteridium tetani).
– Diphtheria jantung/ginjal gagal jantung kuman
penyebab (coryne bacterium diphtheria).
– Escherichia coli kejang usus mencret.
– Staphylo coccus aureus Food poisoning, Toxic shock
syndrome (tampon).
2. Kerusakan jaringan langsung E. Histolytica.
Mis : Parasit amoebiasis; giardiasis; cacing-
cacing (nematoda : trematoda; cestoda).
Infeksi saluran kemih; pharyngitis, otitis, abcess
kuman coccus.
3. Reaksi allergi/immunologi.
Mis: TBC; DHF; Infeksi ginjal ok streptococcus.
4. Infeksi yang menetap/tersembunyi.
Mis: Tifus addominalis salmonella typhii.
Hepatitis B virus hepatitis B.
Herples simplex virus herpes I dan II.
5. Mempengaruhi sensitivitas dari host terhadap obat-obatan.
Mis :
Reye’s syndrome Varicella virus, Influenza B virus

Encephalopathy Salicylates

6. Menekan/menurunkan sistem kekebalan.


Mis : AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).
Opurtunistik infeksi Kaposi’s sarcoma, TBC.

Mekanisme tersebut diatas dapat terjadi secara tunggal atau


bersamaan.
Spektrum dari Reaksi Patogenesitas Berbagi Penyakit
Penyakit Invasi Menghasilkan Hypersensitif
Jaringan Toxin

Botulismus 0 ++++ 0
Tetanus + ++++ 0
Diphtheria ++ ++++ 0
Staphylococcosis +++ ++ +
Tuberculosis +++ ++ ++
0 ++++
V. Reservoir (Sumber penularan)

DEF : Mahluk hidup (manusia/hewan) atau benda mati (tanah,alat-


alat) yang merupakan tempat hidup dan berkembang biaknya
bibit penyakit sehingga merupakn sumber penularan.
– Merupakan komponen penting dalam proses/siklus terjadi
penyakit infeksi.
– Reservoir tertentu berhubungan erat dengan siklus hidup dari
agent secara alamiah.
Terdiri dari :
I. Secara sederhana : Reservoir dapat manusianya sendiri:
Human human human.
Mis:
Virus dan bakteri URI (Upper Respiratory Tract Infaction)
Staphylococcus, Dhiphtheria, Venereal disease; Mumps; Typhoid,
Amoebiasis.
II. Penularan berasal dari sumber binatang
(zoonosis)

Animal animal animal

Human

Mis:
TBC Bovinus (lembu), Pest, Anthrax
(Biribiri)
Rabies (anjing, kelelawar)
Manusia bukan merupakan bagian
penting dari siklus.
III. Penularan dengan siklus yang kompleks
– Melalui reservoir yang banyak dengan stadium perkembangn
yang berbeda.

Mis:
 Schistosoma.
Manusia siput tumbuhan air manusia
 Malaria.
Manusia nyamuk manusia

Masa inkubasi
Inapparent
Manusia sebagai Reservoir/Carrier
Masa penyembuhan
Chronic cancer

 Kasus :
– Colonization Mis: staphylococcus dihidung.
– Inapparent infection (Infection Covert).
– Infectious disease (Overt) Mild/Moderate.
Severe
Diagram Venn dari interaksi host & kuman (parasit)

Colonization

Inapparent
Parasit
Host (cover)

Clinical
Infection
(overt)

Semua keadaan kasus diatas dapat menjadi sumber


infeksi.

Carrier: Manusia yang telah mengalami Infeksi yang tidak


menunjukkan gejala klinik tetapi dapat menular
kepada orang lain.
Carrier:

– kasus inapparent.
– Incubatory carrier(kasus dalm masa inkubasi).
– Chrinic carrier karier yang bertahan lama.

Contoh :
Jenis Carrier Contoh:

Inapparent Polio; Hepatitis B, C; HIV


Incubatory Varicella; Hepatitis B,C; HIV
Convalescent Diphtheria, Hepatitis B; Salmonella
Chronic carrier S.Typhosa; Hepatitis B

Tidak semua kasus inappaarent infeksi merupakan karier.


Mis: TBC Tuberculin (+) tidak menular.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalm penularan penyakit


1. Generation Time:
Priode/waktu antara terjadinya infeksi pada host dengan
kemampuan menularkan secara maksimal dari host
tersebut.
Masa inkubasi : waktu antara terjadinya infeksi dengan
timbulnya gejala-gejala pertama dari penyakit tersebut.
Mis:
Gondongan (mumps), kemampuan menular maksimal:
48 jam sebelum tibul pembengkakan.
– AIDS: Generation time << Masa inkubasi
( + 6 bulan ) ( + 5 – 10 tahun)
Masa inkubasi manifestasi dari penyakit.
Generation time penularan dari indeksi: Apparent
Inapparent
2. Herd immunity (kekebalan kelompok).
Kekebalan dari sekelompok individu terhadap invasi dan
penularan dari kuman penyakit (infectious agent).
Dapat terjadi karena kekebalan yang diperolah sebagian besar
dari anggota kelompok.
Herd Immunity
Sebelum Epidemi Setelah Epidemi

X 1 X 1
2 2
3 3
1-8
Y 4 A Y 4
A 5
5
6
6
Z Z

1-4
M M
B B

: Individu yang rentan Sembuh dari penyakit


: Individu yang
rentan menjadi sakit Telah mendapat
: Individu yang immunisasi
tidak rentan
Berhubungan dengan periodicity dari suatu epidemi
penyakit
50

40

30 Epidemi

20

10

0
1 2 5 10 15 20 25 30 Tahun

Dalam mencegah epidemi/kontrol suatu penyakit tidak


perlu cakupan 100%

Beberapa baru kebal 100% ?

Mis: Diphteria : 70%

Epidemi yang luas dapat terjadi pada populasi yang virgin


(belum pernah mendapat kekebalan).
3. Scondary Attack Rates.

Jlh dari kasus baru – kasus


mula-mula
Secondary Attack Rates x 100 (dalam priode tertentu)
Jlh orang yang rentan – kasus
mula-mula

Untuk menentukan resiko terjadinya infeksi penyakit pada suatu kelompok


(Infectivity).
Mis: Penularan penyakit pada suatu keluarga dibanding dengan pada
populasi umum.

TBC aktif pada 1 anggota keluarga SAR di Rumah Tangga >> SAR
pada Populasi Umum.
Tindakan Khusus Dalam Melakukan Kontrol Terhadap Penyakit
Menular
I. Tindakan langsung terhadap Reservoir.

Reservoir binatang peliharaan


– Immunisasi
– Pemusnahan
Mis: Bovine TBC

Reservoir binatang liar: pemusnahan agak sulit. Mis: Rabies; Pest.


Reservoir Manusia:
– Pemusnah focus infeksi
Mis: Carrier Typhoid Cholecystetomy
– Isolasi: pemisahan penderita dari orang sehat (sesudah timbul
gejala).
– Karantina: Tindakan pemisahan tersangka pendrita (sebelum
timbul gejala)
Tidak mungkin bila MI>>:
Cholera; Pest, Yello Fever (berlaku secara internasional).
Surveillance terhadap penderita/tersangka.
Penyakit yang telah diketahui cara penanggulangan dan
pencegahannya.
II. Tindakan pemutusan penularan dari kuman.

– Perbaikan kesehatan lingkungan Food Borne


diseases/water borne diseases.
Mis:
– Air bersih (MCK)
– Pasteurisasi Susu.
– Pemberantasan Vektor. Mis: Malaria; Schistosmiasi;
DHF.

III. Tindakan dengan menurunkan kerentanan.

– Immunisasi DPT; BCG; Campak, Polio.


(Dasar) hepatitis B

Pembasmi penyakit menular(Eradikasi)


– Pemusnahan penyakit sampai keakarnya.
Misal: Cacar/variola dengan vaksinasi.
– Malaria – Insectisida
– Surveillance
– Pengobatan
Rabies, Pest Dapat mungkin dilakukan eradikasi.
PRINSIP
PENCEGAHAN
INFEKSI
Pengertian prinsip pencegahan
infeksi :
• Suatu usaha yang dilakukan untuk
mencegah terjadinya resiko penularan
infeksi mikro organisme dari lingkungan
klien dan tenaga kesehatan ( Nakes )
Tujuan :
• Mengurangi terjadinya infeksi
• Memberikan perlindungan terhadap
klien, nakes
Tindakan pencegahan
penyakit :
1. Cuci tangan
2. Memakai sarung tangan
3. Memakai perlengkapan pelindung
4. Menggunakan tehnik aseptik
5. Memproses alat bekas pakai
6. Menangani peralatan tajam dengan aman
7. Menjaga kebersihan dan kerapihan
lingkungan serta pembuangan sampah secara
benar
6 komponen proses terjadinya
penyakit :
1. Reservoir
2. Penyebab penyakit
3. Jalan masuk
4. Cara keluarnya penyebab penyakit dari
host
5. Kepekaan penjamu
CUCI TANGAN :
aspek yang paling penting
Ada 2 kategori organisme yang ada di
1. Organisme residen ( flora normal )
S. aureus, diphteroids ( tidak hilang
secara permanen )
2. Organisme transien
Karena kontak, contoh : E. Colli (mudah
dihilangkan dengan cuci tangan efektif)
Mengapa kita perlu mencuci tangan :
• Penanganan pasien dengan kontak tangan
• Kontaminasi flora normal pasien kontak
perubahan flora normal patogen

Apa yang harus digunakan untuk mencuci tangan :


• Dekontaminasi tangan rutin dengan sabun dan
air mengalir
• Desinfeksi kulit ( hibiscrub, handyclean )
Kapan kita harus mencuci tangan :
Sebelum dan sesudah melakukan
tindakan
Setelah kontak dengan cairan tubuh
Setelah memegang alat yang
terkontaminasi ( jarum, cucian )
Sebelum dan sesudah kontak dengan
pasien di ruang isolasi
Setelah menggunakan kamar mandi
Sebelum melayani makan dan minum
Pada saat akan tugas dan akhir tugas
PELINDUNG DIRI
1. Cuci tangan
2. Pemakaian sarung tangan
 Sarung tangan steril
 Sarung tangan DTT
 Sarung tangan bersih
 Sarung tangan rumah tangga
3. Pemakaian masker
4. Pemakaian gaun
 Steril kamar bedah
 Non Steril ICU, kamr bayi, KB
 Skort Celemek plastik
5. Pemakaian kacamata pelindung
6. Pemakaian sepatu boot / sepatu tertutup
7. Kap
8. Duk
ASEPSIS dan TEKHNIK ASEPTIK

Istilah umum yang digunakan untuk


menggambarkan upaya kombinasi untuk
mencegah masuknya mikroorganisme ke
dalam area tubuh manapun yang sering
menyebabkan infeksi
Tujuan asepsis adalah : membasmi
jumlah mikroorganisme pada permukaan
hidup (kulit dan jaringan) dan obyek mati
(alat-alat bedah dan barang-barang yang
lain)
ANTISEPSIS
 Proses menurunkan jumlah
mikroorganisme pada kulit, selaput
lendir atau jaringan tubuh lainnya
dengan menggunakan bahan
antimikrobial (antiseptik)
KRITERIA PEMILIHAN ANTISEPTIK :
1. Aksi yang luas (menghambat mikroorganisme
secara luas gram positif. Negatif, Tb, fungi,
endospora)
2. Efektivitas
3. Kecepatan aktivitas awal
4. Efek residu
Aksi yang lama setelah pemakaian untuk
meredam pertumbuhan
5. Tidak mengakibatkan iritasi kulit
6. Tidak menyebabkan alergi
7. Efektif sekali pakai, tidak perlu diulang.
Contoh larutan antiseptik :
• Alkohol (60%- 90%)
• Setrimid/klorheksidin Glukonat (2-4%)
contoh : Hibiscrub, Hibitane
• Klorheksidin Glukonat (2%)
Contoh : Savlon
• Heksaklorofen (3%)
Contoh : pHisoHex tidak boleh digunakan pada selaput lendir
seperti mukosa vagina
• Kloroksilenol (Para-kloro-metaksilenol atau PCMX)
Contoh : Dettol tidak bisa digunakan untuk antisepsis vagina karena
dapat membuat iritasi pada selaput lendir yang akan mempercepat
pertumbuhan mikroorganisme dan tidak boleh digunakan pada bayi baru lahir
• Iodofor (7,5-10%)
Contoh : Betadine
• Larutan yang berbahan dasar alkohol (tingtur) seperti iodin
Contoh : Yodium tinktur
• Triklosan (0,2-2%)
Mikroorganisme :
• Agen penyebab infeksi
• Termasuk didalamnya :bakteri, virus, fungi,
parasit
• Untuk tujuan pencegahan infeksi bakteri
dibagi menjadi 3 kategori :
1. Vegetatif contoh : stafilokokus
2. Mikobakteria, contoh : tuberkolosis
3. Endospora, contoh : tetanus
• Endospora paling sulit dibunuh disebabkan oleh
lapisan pelindungnya
Sterilisasi
Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan
semua mikroorganisme (bakteri, jamur, parasit
dan virus) termasuk endospora bakteri pada
benda mati atau instrumen dengan cara uap air
panas tekanan tinggi (otoklaf), panas kering
(oven), sterilan kimia atau radiasi

DESINFEKSI TINGKAT TINGGI (DTT) :


Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan
semua mikroorganisme kecuali endospora bakteri
pada benda mati dengan cara merebus, mengukus
atau penggunaan desinfektan kimiawi
DESINFEKTAN :
Adalah bahan kimia yang membunuh atau
menginaktivasi mikroorganisme
Contoh larutan desinfektan :
Klorin pemutih 0,5%
untuk dekontaminasi permukaan yang lebar
Klorin 0,1%
Untuk DTT kimia
Glutaraldehida 2%
mahal harganya biasa digunakan untuk DTT kimia
atau sterilisasi kimia
Fenol, klorin
tidak digunakan untuk peralatan/bahan yang akan
dipakaikan pada bayi baru lahir
DEKONTAMINASI :
 Proses yang membuat objek mati lebih
aman ditangani staf sebelum dibersihkan
(menginaktifasi serta menurunkan HBV,
HIV tetapi tidak membasmi)
 Peralatan medis dan permukaan harus di
dekontaminasi segera setelah terpapar
darah atau cairan tubuh

PEMBERSIHAN (Mencuci dan membilas) :


 Tindakan yang dilakukan untuk
menghilangkan semua darah, cairan, tubuh,
benda asing dari kulit atau instrumen.
DEKONTAMINASI
Rendam dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit

CUCI DAN BILAS


Gunakan deterjen dan sikat
Pakai sarung tangan tebal untuk menjaga agar tidak terluka oleh benda tajam

Metode yang dipilih Metode alternatif


Sterilisasi DESINFEKSI TINGKAT TINGGI

OTOKLAF PANAS KERING KIMIAWI REBUS / KUKUS KIMIAWI


106 kPa 170 ˚C Rendam Panci tertutup Rendam
121 ˚C 60 menit 10-24 jam 20 menit 20 menit
30 menit jika
Terbungkus
20 menit jika Tidak terbungkus

DINGINKAN DAN KEMUDIAN SIAP DIGUNAKAN


Peralatan yang sudah diproses bisa disimpan dalam wadah tertutup yang didisinfeksi tingkat tinggi
Sampai satu minggu jika wadahnya tidak dibuka
STERILISASI :
1. STERILISASI UAP
 121 ˚C , tekanan pada 106 kPa
 20 ' untuk alat tidak terbungkus
 30 ' untuk alat yang dibungkus
2. STERILISASI PANAS KERING (OVEN)
 170 ˚C selama 1 jam. Waktu penghitungan dimulai
setelah suhu yang diinginkan tercapai
 160 ˚C untuk alat tajam (gunting, jarum) selama 2 jam
3. STERILISASI KIMIA
 Glutaraldehid 2-4 %(cydex), Direndam sekurang-
kurangnya 10 jam
 Formaldehid 8 %, direndam 24 jam
 Bilas dengan air steril sebelum digunakan kembali atau
sebelum disimpan
DESINFEKSI TINGKAT TINGGI (DTT) :
1. DTT dengan merebus
 Mulai menghitung waktu saat air mulai mendidih
 Merebus 20‘ dalam panci tertutup
 Seluruh alat harus terendam
 Jangan menambah alat apapun ke air mendidih
 Pakai alat sesegera mungkin atau simpan wadah
tertutup dan kering yang telah di DTT, maksimal 1
minggu
2. DTT dengan mengukus
 Selalu kukus 20‘ dalam kukusan
 Kecilkan api sehingga air tetap mendidih
 Waktu dihitung mulai saat keluarnya uap
 Jangan pakai lebih dari 3 panci uap
 Keringkan dalam kontainer DTT
3. DTT dengan kimia :
Desinfektan kimia untuk DTT
klorin 0,1%, Formaldehid 8%, Glutaraldehid 2%
Langkah-langkah DTT Kimia :
DEkontaminasi Cuci+bilas keringkan
Rendam semua alat dalam larutan desinfektan
selama 20‘
Bilas dengan air yang telah direbus dan
dikeringkan di udara
Segera dipakai atau disimpan dalam kontainer
yang kering dan telah di DTT
CARA MEMBUAT LARUTAN KLORIN :
• Jumlah bagian (JB) air = % larutan konsentrat – 1
% larutan yang diinginkan

• JB air = 5,0% - 1 = 10 – 1 = 9
0,5%

• Jadi tambahkan 9 bagian air (air tidak perlu dimasak)


kedalam 1 bagian larutan klorin konsentrat
• Terdapat rumus 9 : 1
Air : Klorin
Contoh soal :
1. Buat larutan klorin 0,5% sebanyak 500 cc
2. Buat larutan klorin 0,5% sebanyak 1 liter
Jawab :
1. Air = 9 x 500 cc = 450 cc
10
Klorin = 1 x 500 cc = 50 cc
10 500 cc

2. 1 liter = 1000 cc
Air = 9 x 1000 cc = 900 cc
10
Klorin = 1 x 1000 cc = 100 cc
10 1000 cc
PENANGANAN SAMPAH / LIMBAH
Tujuan :
 Melindungi petugas pembuangan sampah dari
perlukaan
 Melindungi penyebaran infeksi terhadap para
petugas kesehatan
 Mencegah penularan infeksi terhadap para
petugas kesehatan
 Mencegah penularan infeksi pada masyarakat
sekitarnya
 Membuang bahanbahan berbahaya (bahan toksik
dan radioaktif) dengan aman
Sampah medis terbagi 2 :
1. Tidak terkontaminasi
 Tidak memberikan resiko infeksi
 Contoh : kertas, kardus, botol, wadah plastik
yang digunakan didalam klinik
 Dapat dibuang ditempat sampah umum
2. Terkontaminasi
 Membawa mikroorganisme yang mempunyai
potensi menularkan infeksi kepada orang yang
kontak baik nakes maupun masyarakat
 Contoh : bekas pembalut luka, sampah dari
kamar operasi (jaringan, darah, nanah,kasa,
kapas,dll), dari laboratorium (darah, tinja,
nanah, dahak, dll), alat-alat yang dapat melukai
(jarum suntik, pisau)
3. Sampah lain yang tidak mengandung bahan
infeksius tetapi digolongkan berbahaya karena
mempunyai potensi berbahaya pada lingkungan
 Bahan kimia atau farmasi (misal kaleng atau
botol yang mengandung obat kadaluwarsa,
vaksin, reagen desinfektan)
 Sampah sitotoksik (misal obat-obat untuk
kemoterapi)
 Sampah yang mengandung logam berat (misal
air raksa dari termometer yang pecah, bahan
bekas gigi,dll)
 Wadah bekas berisi gas dan tidak dapat
didaur ulang (misal kaleng penyembur) yang
dapat meledak bila dibakar.
SAMPAH KERING SAMPAH BASAH
Jarum, kapas, kasa, pembalut Darah, duh tubuh lain,
Pisau skapel, botol obat, dll jaringan plasenta, bagian
janin

DIBAKAR DALAM Dirumah sakit


INSINERATOR dikumpulkan
dalam wadah
terpisah

Abunya (berisi gelas / benda Dibuang dalam lubang


Yang tidak terbakar) ditanam yang dalam dan tertutup
Dalam lubang tertutup
PENGGUNAAN PERAALATAN TAJAM SECARA AMAN
 Hati-hati saat melakukan penjahitan agar tidak tertusuk
jarum secara tidak sengaja
 Jangan menutup kembali, memelengkungkan, mematahkan
atau melepaskan jarum yang akan dibuang
 Buang benda-benda tajam dalam wadah anti bocor dan
segel dengan perekat jika sudah dua pertiga penuh
wadah benda tajam tadi harus dibakar dalam insinerator
 Jika tidak dapat dibakar dalam insinerator maka jarum
harus dibilas 3x dengan larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi. Tutup lagi ujung jarum dengan
penutupnya menggunakan tehnik satu tangan (one hand
tehnik) lalu ditanam dalam tanah.
 Tempat sampah hitam sampah tidak kontaminasi
 Tempat sampah kuning sampah terkontaminasi
PERAN PERAWAT DALAM PENGURANGAN
RESIKO INFEKSI
Pemutusan rantai transmisi
(agen, host, lingkungan):
•Cuci tangan
•Penggunaan alat pelindung
diri secara tepat
•Antiseptik, desinfeksi
•Dekontaminasi
•Pelaporan kejadian infeksi
INFEKSI
OPORTUNISTIK
Definisi
Infeksi oleh organisme yang biasanya
tidak menyebabkan penyakit pada orang
dengan sistem kekebalan yang normal
(sehat), tetapi dapat mengenai orang
dengan sistem kekebalan yang tertekan

72
11 May 2019
Pd Orang dgn Imunosuppresi

• IO lebih sering terjadi, lebih berat dan


kurang respon terhadap pengobatan yg
dianjurkan
• Infeksi bakteri, virus, jamur dan parasit
yang “non-opportunistic” juga lebih sering
terjadi dan sering kambuh setelah
pengobatan

73
11 May 2019
Riwayat Alamiah Infeksi HIV yg tidak diobati

1000

800

600
+ Infeksi Oportunistik Awal
sel
CD4 400 Infeksi Oportunistik Lanjut

200

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Infeksi Waktu dalam Tahun


74
11 May 2019
Penyebab IO
Bakteri/Mycobacterium Protozoa
• Salmonella • Toksoplasma
• Mycobacterium Avium • Cryptospodia
Complex Virus
• Cytomegalovirus
Jamur • Herpes simplex
• Candida albicans • Herpes zoster
• Pneumocystis jiroveci • Hepatitis
• Aspegillus • Human Papilloma
• Cryptococcus Virus
• Histoplasma Keganasan
• Sarkoma Kaposi
• Limfoma
75
11 May 2019
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis
• Organisme penyebab: Toxoplasma gondii
• Epidemiologi:
– Pejamu utamanya kucing
– Menelan bahan yang tercemar feses
– Makan daging yang kurang masak
• CD4 <200 sel/µL, terutama < 50 sel/µL

77
11 May 2019
Toksoplasmosis
Gambaran Klinis:
• ensefalitis (90%)
• demam (70%)
• nyeri kepala (60%)
• tanda neurologis fokal, penurunan kesadaran (40%)
• kejang (30%)
• chorio-retinitis
• pnemonitis
• penyakit sistemik

78
11 May 2019
Toksoplasmosis
• Diagnosis
– Pemeriksaan serologi positif disertai
sindrom yang khas
– Gambaran pemeriksaan scan CT/MRI:
• Lesi serebral multipel, bilateral; peningkatan
daerah hipodense dengan ring
• Diagnosis Banding
– Limfoma SSP, tuberkuloma, abses jamur,
kriptokokosis, PML (Progressive Multifocal
Leukoencephalopathy)
79
11 May 2019
Toksoplasmosis

80
11 May 2019
Toksoplasmosis

81
11 May 2019
Toksoplasmosis
Respon terhadap terapi

82
11 May 2019
Sekian dan
terima kasih