Anda di halaman 1dari 23

1. Wicaksono Aji W.

(08)
2. Willi Ardhi P. (10)
3. Yudha Hindrawan (14)
Demokrasi Terpimpin
Demokrasi terpimpin adalah sebuah sistem
demokrasi yang berjalan antara tahun 1959
sampai dengan tahun 1966, dimana dalam
sistem demokrasi ini seluruh keputusan serta
pemikiran berpusat pada pemimpin negara yang
kala itu dipegang oleh Presiden Soekarno
Konsep sistem Demokrasi Terpimpin pertama
kali diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam
pembukaan sidang konstituante pada tanggal 10
November 1956
Ciri-ciri Demokrasi Terpimpin
a. Dominasi Presiden
b. Tidak berfungsinya lembaga tinggi negara dan
terbatasnya peran partai politik.
c. Makin berkembangnya paham komunisme
d. Makin besarnya peranan ABRI sebagai unsur
sosial politik
Latar Belakang Diberlakukannya
Demokrasi Terpimpin
Di awali dari maklumat Hatta sebagai wakil
presiden waktu itu, di mana dalam maklumat
tersebut menganjurkan perlunya pembentukan
partai-partai, yang ternyata mendapat sambutan
luas hingga pada waktu itu lebih kurang 40
partai telah lahir di Indonesia, tetapi pada
kenyataannya dalam kondisi yang sedemikian,
bukannya menambah suburnya sistem
Demokrasi di Indonesia.
Buktinya kabinet-kabinet yang ada pada
waktu itu tidak pernah bertahan sampai 2 tahun
penuh dan terjadi perombakan-perombakan
dengan kabinet yang baru, dan bahkan menurut
penilayan presiden Soekarno banyaknya partai
hanya memperunyam masalah dan hanya
menjadi penyebab gotok- gotokan, penyebab
perpecahan bahkan dalam nada pidatonya dia
menilai partai itu adalah semacam pertunjukan
adu kambing yang tidak bakalan berpengaruh
baik bagi Bangsa dan negara.
Menurut pengamatan Soekarno Demokrasi
Liberal tidak semakin mendorong Indonesia
mendekati tujuan revolusi yang dicita-citakan,
yakni berupa masrakat adil dan makmur, sehingga
pada gilirannya pembangunan ekonomi sulit
untuk di majukan, karena setiap fihak baik
pegawai negeri dan parpol juga militer saling
berebut keuntungan dengan mengorban kan yang
lain.
Keinginan presiden Soekarno untuk mengubur
partai-partai yang ada pada waktu itu tidak jadi
dilakukan, namun pembatasan terhadap partai di
berlakukan, dengan membiarkan partai politik
sebanyak 10 partai tetap bertahan. Yang akhirnya
menambah besarnya gejolak baik dari internal partai
yang di bubarkan maupun para tokoh-tokoh yang
memperjuangkan “Demokrasi liberal” juga daerah-
daerah tidak ketinggalan. Dan keadaan yang
demikian, akhirnya memaksa Soekarno untuk
menerapkan “Demokrasi terpimpin” dengan
dukungan militer untuk mengambil alih kekuasaan.
Lahirnya Demokrasi Terpimpin
Pada bulan 5 Juli 1959 parlemen dibubarkan
dan Presiden Soekarno menetapkan konstitusi di
bawah dekrit presiden. Soekarno juga
membubarkan Dewan Konstituante yang ditugasi
untuk menyusun Undang-Undang Dasar yang baru,
dan sebaliknya menyatakan diberlakukannya
kembali Undang-Undang Dasar 1945, dengan
semboyan “Kembali ke UUD’ 45″. Soekarno
memperkuat tangan Angkatan Bersenjata dengan
mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi
yang penting.
PKI menyambut “Demokrasi Terpimpin”
Soekarno dengan hangat dan anggapan bahwa
PKI mempunyai mandat untuk persekutuan
Konsepsi yaitu antara nasionalisme, agama
(Islam) dan komunisme yang dinamakan
NASAKOM.
Pada masa ini terjadi banyak pergantian
kabinet diakibatkan situasi politik yang tidak
stabil. Tercatat ada 2 kabinet pada masa itu :
1. Kabinet Djuanda
disebut juga Kabinet Karya, memerintah pada
periode 9 April1957 – 10 Juli 1959.
2. Kabinet Kerja
Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden
tanggal 5 Juli 1959, maka pada tanggal 9 Juli 1959
Kabinet Djuanda dibubarkan dan digantikan oleh
Kabinet Kerja. Dalam kabinet itu, Presiden Soekarno
bertindak sebagai perdana menteri, sedangkan Ir.
Djuanda menjadi menteri pertama. Kabinet ini
dilantik pada tanggal 10 Juli 1959, dengan
programnya yang disebut Tri Program Kabinet Kerja
meliputi masalah-masalah sandang pangan,
keamanan dalam negeri, dan pengembalian Irian
Barat.
MPRS
Dengan penetapan Presiden No. 2 tahun
1959 dibentuklah Majelis Permusyawaratan
Rakyat Sementara (MPRS) yang anggota-
anggotanya ditunjuk dan diangkat oleh presiden.
Keanggotaan MPRS tersebut terdiri atas anggota-
anggota DPR ditambah utusan-utusan daerah dan
wakil-wakil golongan karya. MPRS ini diketuai oleh
Chaerul Shaleh dengan tugas menetapkan Garis-
Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Salah satu
ketetapan MPRS ini adalah mengankat Presiden
Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi.
DPA
Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dibentuk
berdasarkan Penpres No. 3 tahun 1959. DPA ini
dipimpin langsung oleh presiden dengan Roeslan
Abdulgani sebagai wakil ketuanya. Dewan itu
berkewajiban untuk memberikan jawaban atas
pertanyaan presiden dan berhak mengajukan usul
kepada pemerintah. Pelantikan DPA dilaksanakan
pada tanggal 15 Agustus 1959 di Istana Negara
bersamaan dengan pelantikan Moh. Yamin sebagai
Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan Sultan
Hamengkubuwono IX sebagai Ketua Badan
Pengawas Kegiatan Aparatur Negara (Bapekan).
Pembentukan DPR-GR
Pada mulanya, DPR hasil pemilu 1995
mengikuti saja kebijakan Presiden Soekarno.
Akan tetapi, mereka kemudian menolak APBN
tahun 1960 yang diajukan oleh pemerintah.
Karena adanya penolakan tersebut,
dikeluarkanlah Penpres No. 3 tahun 1960 yang
menyatakan pembubaran DPR hasil pemilu
1955. pada tanggal 24 Juni 1960, Presiden
Soekarno telah berhasil menyusun anggota DPR
baru yang diberi nama Dewan Perwajkilan
Rakyat Gotong Royong (DPR-GR). Para anggota
DPR-GR dilantik pada tanggal 25 Juni 1960.
Pembentukan ABRI
Pada tahun 1964 TNI dan Polisi
dipersatukan menjadi Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI). Mereka kembali pada
peran sosial-politiknya seperti selama zaman
perang kemerdekaan. ABRI diakui sebagai salah
satu golongan fungsional (karya) yang
mempunyai wakil dalam MPRS. Pada masa
demokrasi terpimpin itu, Presiden Soekarno
melakukan politik perimbangan kekuatan
(balance of power) bukan hanya antarangkatan
dalam ABRI, melainkan juga antara ABRI dengan
partai-partai politik yang ada
Nasakom
Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan
komunisme) adalah istilah dari front Nasional yang
dikemukakan oleh Presiden Soekarno. Nasakom
dikemukakan oleh Presiden Soekarno tahun 1960
sebagai upaya untuk meningkatkan persatuan
nasional. Ide tersebut delah dicetuskan oleh Ir.
Soekarno pada tahun 1926 dalam seri karangannya
yang dimuat dalam majalah Indonesia Moeda yaitu
Nasionalisme, Islam, dan Marxisme. Istilah
Nasakom dikembangkan dalam Demokrasi
Terpimpin (1959-1965). Dalam perkembangan
Nasakom dimanfaatkan oleh PKI untuk
mengembangkan diri serta memperbesar
pengaruhnya, baik di kalangan rakyat maupun
pemerintah.
Demokrasi Terpimpin di Indonesia
Demokrasi Terpimpin berjalan berdasarkan
Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959 dan Tap MPRS
No. VIII/MPRS/1959.
Tujuan dikeluarkan dekrit adalah untuk
menyelesaikan masalah negara yang semakin tidak
menentu dan untuk menyelamatkan negara.
Isi Dekrit Presiden adalah sebagai berikut.
1. Pembubaran konstituante
2. Tidak berlakunya UUDS 1950 dan berlakunya
kembali UUD 1945.
3. Pembentukan MPRS dan DPAS
Reaksi dengan adanya Dekrit Presiden:
1. Rakyat menyambut baik sebab mereka telah
mendambakan adanya stabilitas politik yang
telah goyah selama masa Liberal.
2. Mahkamah Agung membenarkan dan
mendukung pelaksanaan Dekrit Presiden.
3. KSAD meminta kepada seluruh anggota TNI-AD
untuk melaksanakan pengamanan Dekrit
Presiden.
4. DPR pada tanggal 22 Juli 1945 secara aklamasi
menyatakan kesediaannya untuk melakanakan
UUD 1945.
Dampak positif diberlakukannya Dekrit
Presiden 5 Juli 1959, adalah sebagai berikut.
1. Menyelamatkan negara dari perpecahan
dan krisis politik berkepanjangan.
2. Memberikan pedoman yang jelas, yaitu
UUD 1945 bagi kelangsungan negara.
3. Merintis pembentukan lembaga tertinggi
negara, yaitu MPRS dan lembaga tinggi
negara berupa DPAS yang selama masa
Demokrasi Parlemen tertertunda
pembentukannya.
 Dampak negatif diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli
1959, adalah sebagai berikut.
1. Ternyata UUD 1945 tidak dilaksanakan secara murni
dan konsekuen. UUD 45 yang harusnya menjadi dasar
hukum konstitusional penyelenggaraan pemerintahan
pelaksanaannya hanya menjadi slogan-slogan kosong
belaka.
2. Memberi kekeuasaan yang besar pada presiden,
MPR,dan lembaga tinggi negara. Hal itu terlihat pada
masa Demokrasi terpimpin dan berlanjut sampai Orde
Baru.
3. Memberi peluang bagi militer untuk terjun dalam
bidang politik. Sejak Dekrit, militer terutama
Angkatan Darat menjadi kekuatan politik yang
disegani. Hal itu semakin terlihat pada masa Orde
Baru dan tetap terasa sampai sekarang.
Dampak Demokrasi Terpimpin
Penataan kehidupan politik menyimpang
dari tujuan awal, yaitu demokratisasi
(menciptakan stabilitas politik yang demokratis)
menjadi sentralisasi (pemusatan kekuasaan di
tangan presiden)
Penyimpangan Demokrasi Terpimpin
1. Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin
partai banyak yang dipenjarakan
2. Peranan Parlemen lembah bahkan akhirnya
dibubarkan oleh presiden dan presiden
membentuk DPRGR
3. Jaminan HAM lemah
4. Terjadi sentralisasi kekuasaan
5. Terbatasnya peranan pers