Anda di halaman 1dari 56

+ DIAH SITI FATIMAH

SHELLA WIDIYASTUTI
DEDE JIHAN O.
QUINZHEILLA P. A.
SHINTA LESTARI
(260110160041)
(260110160042)
(260110160044)
(260110160045)
(260110160046)
SAQILA ALIFA R. (260110160047)
ALIA RESTI AZURA (260110160048)
INDAH PERTIWI (260110160049)
REZA LAILA NAJMI (260110160050)
KITA RADISA (260110160051)
AI MASITOH (260110160052)
HAMMAM H. S. (260110160053)
KHOIRINA NUR S. (260110160054)
AULIA ANNISA P. H. (260110160055)
FAJRA DINDA C. (260110160056)
DIAN AMALIA M. (260110160057)
IRSARINA RAHMA (260110160058)
UTARI YULIA ALFI (260110160059)
NIA KURNIASIH (260110160060

ACNE VULGARIS
SHIFT B1 2016
+
Definisi 1

Acne vulgaris atau jerawat adalah penyakit kulit obstruktif dan


inflamatif kronik pada unit pilosebasea yang biasanya muncul
saat periode pubertas dan produksi dari androgen dan
aktivitas kelenjar sebaceous meningkat. Acne sering menjadi
tanda pertama pubertas dan dapat terjadi satu tahun sebelum
menarkhe atau haid pertama.

(Dipiro, 2015)
+
Tanda dan Gejala 1

 Manifestasi klinis akne dapat berupa lesi non inflamasi (komedo terbuka
dan komedo tertutup), lesi inflamasi (papul dan pustul) dan lesi inflamasi
dalam (nodul)
1) Komedo
Komedo adalah tanda awal dari akne. Komedogenic adalah proses
deskuamasi korneosit folikel dalam duktus folikel sebasea mengakibatkan
terbentknya mikrokomedo. Mikrokomedo berkembang menjadi kesi non
inflamasi yaitu komedo terbuka dan komedo tertutup atau dapat juga
menjadi lesi inflamasi (Hendarta, D.S., Rahma, A. 2003). Jenis Komede :
 Komedo Terbuka
 Komedi terttutup
+
Tanda dan Gejala 1

2) Jerawat
Jerawat jenis ini mudah dikenal, tonjolan kecil berwarna pink atau kemerahan. Terjadi
karena terinfeksi dengan bakteri. Bakteri ini terdapat dipermukaan kulit, dapat juga
dari waslap, kuas make up, jari tangan juga telepon. Stres, hormon dan udara lembab
dapat memperbesar kemungkinan infeksi jerawat karena kulit memproduksi minyak
yang merupakan perkembangbiakannya bakteri berkumpul pada salah satu bagian
muka.(Pudjiastuti, 2012)
 Papula
Penonjolan padat diatas permukaan kulit akibat reaksi radang, berbatas tegas dan
berukuran diameter <5mm. (Cunliff, 2001)
 Pustula
Pustul akne vulgaris merupakan papul dengan puncak berupa pus (Cunliff, 2001)
 Nodula
Nodul pada akne vulgaris merupakan lesi radang dengan diameter 1 cm atau lebih, disertai
dengan nyeri. (Cunliff, 2001)
+
Tanda dan Gejala 1

3) Cystic Acne/jerawat Kista (jerawat batu)

Acne yang besar dengan tonjolan-tonjolan yang meradang


hebat, berkumpul diseluruh muka.(Pudjiastuti, 2012)

Penonjolan diatas permukaan kulit berupa kantong yang


berisi cairan serosa atau setengah padat atau
padat.(Harper. 2005)

4) Parut Jaringan ikat yang menggantikan epidermis dan


dermis yang sudah hilang (Harper. 2005)
+
Faktor Penyebab 1

a. Hiperproliferasi epidermis folikular sehingga terjadi sumbatan folikel

b. Produksi sebum berlebihan

c. Adanya Inflamasi

d. Terdapat Aktivitas Propionibacterium acnes yang berlebih

e. Mikrokomedo yang berisi keratin, sebum, dan bakteri, akan membesar


dan ruptur. Selanjutnya, isi mikrokomedo yang keluar akan menimbulkan
respons inflamasi.

(Dipiro, 2015)
+
Faktor Penyebab 1

f. Faktor genetik

g. Kebersihan wajah

h. Hormonal

i. Stress

j. Lingkungan

(Thiboutot, 2008)
+
Patofisiologi 1

Patogenesis acne adalah multifaktorial, namun telah diidentifikasi empat teori


sebagai etiopatogenesis acne. Keempat patogenesis tersebut adalah hiperkeratinisasi dari
duktus polisebasea, produksi sebum yang berlebih, bakteri Propionibacterium acnes (P.
acnes), dan inflamasi.( Kabau, 2012.)

- Peningkatan produksi sebum

Sebum disintesis oleh sebasea secara kontinu dan disekresikan ke permukaan


kulit melalui pori – pori folikel rambut. Sekresi sebum diatur secara hormonal. Kelenjar
yang terbanyak didapatkan pada wajah, pungung, dada, dan bahu (Cuncliffe WJ). Kelenjar
sebasea mensekresikan lipid melalui sekresi holokrin. Kelenjar ini menjadi aktif saat
pubertas karena adanya peningkatan hormon androgen, khususnya hormon testosteron,
yang memicu produksi sebum . Hormon androgen menyebabkan peningkatan ukuran
kelenjar sebasea, menstimulasi produksi sebum, serta menstimulasi proliferasi keratinosit
pada duktus kelenjar sebasea dan acroinfundibulum.Ketidakseimbangan antara produksi
dan kapasitas sekresi sebum akan menyebabkan pembuntuan sebum pada folikel rambut .
(Kabau, 2012.)
+
Patofisiologi 1

- Penyumbatan keratin di saluran pilosebaseus

Terdapat perubahan pola keratinisasi folikel sebasea, sehingga menyebabkan stratum


korneum bagian dalam dari duktus pilosebseus menjadi lebih tebal dan lebih melekat dan akhinya
akan menimbulkan sumbatan pada saluran folikuler (Fulton, 2010). Bila aliran sebum ke permukaan
kulit terhalang oleh masa keratin tersebut, maka akan terbentuk mikrokomedo dimana mikrokomedo
ini merupakan suatu proses awal dari pembentukan lesi akne yang dapat berkembang menjadi lesi
non- inflamasi maupun lesi inflamasi. Proses keratinisasi ini dirangsang oleh androgen, sebum, asam
lemak bebas dan skualen (Williams SM).

- Kolonisasimikroorganismedidalam folikel sebaseus

Peran mikroorganisme penting dalam perkembangan akne. Dalam hal ini mikroorganisme
yang mungkin berperan adalah Propionilbacterium acnes, Staphylococcus epidermidis dan
Pityrosporum ovale. Mikroorganisme tersebut berperan pada kemotaktik inflamasi serta pada
pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum. P. Acnes menghasilkan komponen aktif
seperti lipase, protease, hialuronidase, dan faktor kemotaktik yang menyebabkan inflamasi. Lipase
berperan dalam mengidrolisis trigliserida sebum menjadi asam lemak bebas yang berperan dalam
menimbulkan hiperkeratosis, retensi, dan pembentukan mikrokomedo (Purwaningdya, 2013)
+
Patofisiologi 1

- Inflamasi Propionilbacteriuum acnes

Mempunyai faktor kemotaktik yang menarik leukosit


polimorfonuklear kedalam lumen komedo. Jika leukosit
polimorfonuklear memfagosit P. acnes dan mengeluarkan
enzim hidrolisis, maka akan menimbulkan kerusakan dinding
folikuler dan menyebabkan ruptur sehingga isi folikel (lipid
dan komponen keratin) masuk dalam dermis sehingga
mengakibatkan proses inflamasi (Williams SM ).
+
PATOGENESIS 1

Acne mulai terjadi saat kelenjar adrenal aktif menghasilkan


dehidroepiandrosteron sulfat, prekursor tertosteron

Penderita acne memiliki kadar androgen serum dan kadar sebum


yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan orang normal

Androgen yang beredar menyebabkan kelenjar sebasea meningkatkan


ukuran dan aktivitasnya

Ada peningkatan keratinisasi sel epidermis dan pengembangan


folikel sebaceous yang terhambat, disebut mikromedon

Zouboulis, 2005
+
1
+
1
+
Klasifikasi 1

Movita, 2013
+
Jenis Jenis jerawat
Komedo Jerawat Biasa Jerawat Batu ( Cystic acne )
Komedo sebenarnya adalah pori Jenis jerawat ini mudah dikenal, Cystic acne adalah jerawat yang besar –
– pori yang tersumbat, bisa tenjolan kecil berwarna pink besar, dengan peradangan hebat, berkumpul
terbuka atau tertutup. Komedo atau kemerahan. Terjadi karena diseluruh muka. Penderita cystic acne
yang terbuka ( blackhead ), pori – pori yang tersumbat oleh biasanya juga memiliki keluarga dekat dekat
terlihat seperti pori – pori yang bakteri. yang menderita jerawat jenis ini.
membesar dan menghitam. Bakteri yang menginfeksi bisa Secara genetik penderitanya memiliki:
Komedo yang tertutup ( dari waslap, kuas make up, jari a). Kelenjar minyak yang over aktif yang
whitehead) memiliki kulit yang tangan, juga telepon. Stress, membanjiri pori – pori dengan kelenjar
tumbuh di atas pori– pori yang hormon dan udara yang minyak.
tersumbat sehingga terlihat lembab, dapat memperbesar b). Pertumbuhan sel – sel kulit yang tidak
seperti tenjolan putih kecil. kemungkinan terbentuknya normal yang tidak beregenerasi secepat kulit
Jerawat jenis komedo ini jerawat. normal.
disebabkan oleh sel – sel kulit c).Memiliki respon yang berlebihan terhadap
mati dan sekresi kelenjar perdangan sehingga meninggalkan bekas di
minyak yang berlebih. kulit.

Yenni,2011
+
Algoritma 1

Movita, 2013
+
1

Movita, 2013
+
1

Acne Pathogenesis And Drug Mechanisms

(Wells, et al., 2015).


+ Terapi Farmakologi
1
Retinoid Topikal
 Retinoid mengurangi obstruksi di dalam folikel dan berguna untuk mengobati jerawat
komedonal dan inflamasi. Retinoid membalikkan pengelupasan keratinosit abnormal dan
merupakan keratolitik aktif. Retinoid menghambat pembentukan micromedon, mengurangi
jumlah komedo matang dan lesi inflamasi
 Retinoid topikal merupakan terapi yang aman, efektif, dan ekonomis untuk mengobati semua
tingkat keparahan jerawat.
 Merupakan first line untuk jerawat tingkat sedang, baik sendiri atau kombinasi dengan
antibiotik dan benzyl peroksida, kemudian untuk pemeliharaan setelah hasil yang baik
tercapai digunakan retinoid saja.
 Efek Samping: eritema, xerosis, burning, dan pengelupasan.
 Retinoid harus diterapkan pada malam hari, setengah jam setelah pembersihan, dimulai
dengan setiap malam selama 1 hingga 2 minggu untuk menyesuaikan dengan iritasi. Dosis
dapat ditingkatkan hanya setelah dimulai dengan 4 hingga 6 minggu konsentrasi terendah.
(Wells, et al., 2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Retinoid Topikal
Tretinoin (asam retinoat dan Tretinoin bekerja dengan cara :
asam vitamin A) tersedia
sebagai larutan 0,05% (paling • Meningkatkan produksi sel-sel di permukaan dermis
menyebabkan iritasi); tretinoin kulit (lapisan paling luar kulit)
gel 0,01% dan 0,025%; serta
krim tretionin 0,025%, 0,05%, • Membuat kulit tampak lebih halus sehingga terlihat lebih
dan 0,1% (paling tidak muda
menyebabkan iritasi). Tretinoin
tidak boleh digunakan pada • Menstimulus produksi kolagen di kulit
wanita hamil karena risiko
• Meningkatkan kandungan air di dalam kulit
pada janin.
• Membantu mengurangi hiperpigmentasi akibat paparan
(Wells, et al., 2015). sinar matahari

(BPOM,2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Retinoid Topikal
Adapalene (Differin) adalah Tazarotene (Tazorac) sama efektifnya
retinoid topikal pilihan dengan adapalen dalam mengurangi
pertama untuk terapi jumlah lesi noninflamasi dan inflamasi
pengobatan dan perawatan bila diterapkan agak sering.
karena efektif tetapi kurang Dibandingkan dengan tretinoin,
mengiritasi dibandingkan tazaroten sama efektif untuk jerawat
retinoid topikal lainnya.
Adapalen tersedia sebagai komedonal dan lebih efektif untuk lesi
gel 0,1%, krim, larutan inflamasi bila diterapkan sekali
alkohol, dan gel 0,3% sehari. Tazarotene tersedia dalam
(Wells, et al., 2015). bentuk gel atau krim 0,05% dan 0,1%
(Wells, et al., 2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Antibiotik Topikal
1. Benzoyl Peroksida
 Benzoil peroksida adalah antibiotik yang bersifat bakterisidal dan juga
dapat menekan produksi sebum dan mengurangi asam lemak bebas yang
merupakan pemicu komedo dan inflamasi.
 Berguna untuk jerawat noninflamasi dan inflamasi.
 Memiliki onset yang cepat dan dapat menurunkan jumlah lesi yang
meradang dalam 5 hari.
 Digunakan sendiri atau dalam kombinasi, benzoyl peroxide merupakan
standar perawatan untuk jerawat papulopustular ringan sampai sedang.
Sering dikombinasikan dengan retinoid topikal atau antimikroba.
 Untuk terapi pemeliharaan, benzoyl peroxide dapat ditambahkan ke retinoid
topikal.
(Wells, et al., 2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Antibiotik Topikal
 Sabun, lotion, krim, dan gel tersedia dalam konsentrasi 1% hingga 10%.
Semua sediaan agen tunggal tersedia tanpa resep. Formulasi gel biasanya
paling kuat, sedangkan lotion, krim, dan sabun memiliki potensi yang lebih
lemah. Sediaan gel berbasis alkohol umumnya menyebabkan lebih banyak
kekeringan dan iritasi.
 Terapi harus dimulai dengan konsentrasi terendah (2,5%) dalam formulasi
berbasis air atau gel hidrofase 4%. Setelah toleransi tercapai, kekuatan
dapat ditingkatkan hingga 5% atau basis diubah menjadi aseton atau
alkohol gel, atau diubah menjadi pasta.
 Tabir surya harus digunakan pada siang hari.
 Efek samping benzoyl peroxide meliputi kekeringan, iritasi, dan jarang
kontak alergi infeksi kulit. Bisa memutihkan rambut dan pakaian
(Wells, et al., 2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Antibiotik Topikal
2. Eritromisin dan Klindamisin Topikal

 Eritromisin dan klindamisin topikal telah menjadi kurang efektif karena


resistensi terhadap P. acnes. Penambahan benzoyl peroxide atau
retinoid topikal ke macrolide lebih efektif daripada monoterapi
antibiotik.

 Klindamisin lebih disukai karena ampuh dan kurangnya penyerapan


sistemik.

 Tersedia sebagai sediaan topikal bahan tunggal atau dalam kombinasi


dengan benzoyl peroxide. Eritromisin tersedia sendiri dan dalam
kombinasi dengan asam retinoat atau benzoil peroksida.

(Wells, et al., 2015).


+ Terapi Farmakologi
1
Antibiotik Topikal
3. Asam Azelat (Azelex)
 Memiliki aktivitas antibakteri, antiinflamasi, dan komedolitik.
 Digunakan untuk jerawat inflamasi ringan sampai sedang tetapi memiliki khasiat
terbatas dibandingkan dengan terapi lain. Asam azelat merupakan alternatif untuk
retinoid topikal yang digunakan untuk terapi pemeliharaan.
 Asam azelat ditoleransi dengan baik, dengan efek samping: pruritus, burning,
menyengat, dan kesemutan yang terjadi pada 1% hingga 5% pasien. Eritema,
kekeringan, pengelupasan, dan iritasi terjadi pada kurang dari 1% pasien.
 Asam azelat tersedia dalam krim 20% dan gel 15%, yang biasanya digunakan dua kali
sehari (pagi dan sore) pada kulit bersih dan kering. Sebagian besar pasien mengalami
peningkatan dalam 4 minggu, tetapi pengobatan dapat dilanjutkan selama beberapa
bulan jika diperlukan.

(Wells, et al., 2015).


+ Terapi Farmakologi
1
Antibiotik Topikal
4. Dapson

 Dapsone 5% gel topikal (Aczone) adalah sulfon yang memiliki sifat anti-
inflamasi dan antibakteri untuk pengobatan jerawat inflamasi dan non-
inflamasi.

 Berguna untuk pasien dengan kepekaan atau intoleransi terhadap agen


anti alergi konvensional dan dapat digunakan pada pasien alergi
sulfonamide.

 Gel dapson topikal 5% telah digunakan secara tunggal atau dalam


kombinasi dengan adapalen atau benzoil peroksida tetapi mungkin
lebih mengiritasi daripada agen topikal lainnya.
(Wells, et al., 2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Exfoliant (Feeling Agent)
 Exfoliant menginduksi pengeringan dan pengelupasan
ringan secara terus menerus dengan iritasi, merusak lapisan
kulit yang dangkal, dan memicu peradangan.

 Merangsang mitosis, penebalan epidermis dan peningkatan


sel-sel horny, scaling, dan eritema.

 Penurunan jumlah keringat menghasilkan permukaan yang


kering, kurang berminyak dan dapat mengobati lesi
pustular.
(Wells, et al., 2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Exfoliant (Feeling Agent)
1. Resorsinol
 Resorcinol kurang keratolitik daripada asam salisilat dan bila digunakan sendiri
diklasifikasikan sebagai kategori II (umumnya tidak diakui sebagai aman dan efektif)
oleh Food and Drug Administration (FDA).
 FDA menganggap resorcinol 2% dan resorsinol monoasetat 3% aman dan efektif bila
digunakan dalam kombinasi dengan sulfur 3% hingga 8%.
 Resorcinol adalah agen pengiritasi dan sensitizer dan tidak boleh diaplikasikan pada
area yang luas atau pada kulit yang gelap. Ini menghasilkan suatu bagian coklat gelap
yang reversibel pada beberapa individu berkulit gelap.
 Mekanisme : obat yang bekerja dengan menghancurkan kulit kasar, bersisik, atau
mengeras. Resorsinol juga membasmi kuman di kulit untuk membantu melawan infeksi
 Dosis Sediaan : Tidak lebih dari 3 sampai 4 kali sehari

(Wells, et al., 2015).


+ Terapi Farmakologi
1
Exfoliant (Feeling Agent)
2. Asam Salisilat

 Asam salisilat adalah keratolitik, memiliki aktivitas antibakteri ringan terhadap P. acnes, dan
memiliki aktivitas antiinflamasi ringan pada konsentrasi hingga 5%.

 Asam salisilat diakui oleh FDA sebagai obat yang aman dan efektif, tetapi mungkin kurang
ampuh daripada benzoyl peroxide atau retinoid topikal.

 Produk asam salisilat sering digunakan sebagai terapi lini pertama untuk jerawat ringan
karena ketersediaannya dalam konsentrasi hingga 2% tanpa resep.

 Konsentrasi 5% hingga 10% juga dapat digunakan dengan resep, dimulai dengan konsentrasi
rendah dan meningkat saat toleransi berkembang menjadi iritasi.

 Asam salisilat sering digunakan ketika pasien tidak dapat mentolerir retinoid topikal karena
iritasi kulit.
(Wells, et al., 2015).
+ Terapi Farmakologi
1
Exfoliant (Feeling Agent)
3. Sulfur

 Sulfur merupakan keratolitik dan memiliki aktivitas antibakteri.

 Dapat dengan cepat mengatasi pustula dan papula, lesi, dan


menghasilkan iritasi yang mengarah pada pengelupasan kulit.

 Sulfur digunakan dalam bentuk diendapkan atau koloid dalam


konsentrasi 2% sampai 10%.

 Meskipun sering dikombinasikan dengan asam salisilat atau resorsinol


untuk meningkatkan efek, penggunaan dibatasi oleh bau yang tidak
enak dan ketersediaan agen yang lebih efektif.

(Wells, et al., 2015).


+ Terapi Farmakologi
1
Antisebum
4. Isotretinoin

 Isotretinoin dapat menurunkan produksi sebum, menghambat pertumbuhan P. acnes,


dan mengurangi peradangan.

 Isotretinoin digunakan untuk jerawat yang parah. Hal ini juga berguna untuk jerawat
yang kurang parah yang resisten atau yang menghasilkan jaringan parut fisik atau
psikologis. Isotretinoin adalah satu-satunya pengobatan obat untuk jerawat yang
menghasilkan remisi yang berkepanjangan.

 Dosis yang disetujui adalah 0,5-2 mg / kg / hari, biasanya diberikan selama 20 minggu
saja. Penyerapan obat lebih besar bila diminum bersama makanan. Untuk paparan awal
dapat diminimalkan dengan memulai 0,5 mg / kg / hari atau kurang. Sebagai alternatif,
dosis yang lebih rendah dapat digunakan untuk waktu yang lebih lama, dengan dosis
kumulatif total 120 hingga 150 mg / kg.

(Wells, et al., 2015).


+ Terapi Farmakologi
1
Antibiotik Oral
 Eritromisin efektif untuk pengobatan, tetapi karena resistensi bakteri, penggunaannya
harus terbatas pada pasien yang tidak dapat menggunakan derivat tetrasiklin
(misalnya, wanita hamil dan anak-anak <8 tahun).
 Ciprofloxacin, trimethoprim-sulfamethoxazole, atau trimethoprim saja juga sudah
efektif dalam kasus di mana antibiotik lain tidak dapat digunakan atau tidak efektif.
 Tetrasiklin (minosiklin dan doksisiklin) memiliki efek antibakteri dan anti inflamasi.
Tetracycline sendiri tidak lagi menjadi obat pilihan dalam golongan ini karena efek
yang berhubungan dengan diet-related effects on absorption dan menurunkan efek
antibakteri dan anti-inflamasi.
 Minocycline dapat menyebabkan deposisi pigmen di kulit, selaput lendir, dan gigi; Hal
ini juga dapat menyebabkan urtikaria, sindrom hipersensitivitas, hepatitis autoimun,
sindrom lupus eritematosus sistemik, dan serum sickness.
 Doxycycline merupakan fotosensitizer, terutama pada dosis yang lebih tinggi.

(Wells, et al., 2015).


+ Terapi Farmakologi
1
Terapi Hormon
 Kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dapat mengobati jerawat
pada beberapa wanita. Agen yang disetujui oleh FDA untuk indikasi ini
termasuk norgestimate dengan ethinyl estradiol dan norethindrone
acetate dengan ethinyl estradiol; produk-produk yang mengandung
estrogen lainnya juga efektif.

 Spironolakton dalam dosis yang lebih tinggi adalah senyawa


antiandrogenik. Dosis 50 hingga 200 mg telah terbukti efektif dalam
mengobati jerawat.

 Cyproterone acetate adalah antiandrogen yang mungkin efektif untuk


jerawat pada wanita ketika dikombinasikan dengan ethinyl estradiol
(dalam bentuk kontrasepsi oral).

(Wells, et al., 2015).


+ Tipe Formulasi topikal benzoyl peroxide
2

 Benzoil peroksida dapat digunakan untuk menangani akne inflamasi superfisial (akne
yang tidak dalam). Senyawa ini merupakan antibakteri non-antibiotik yang berperan
sebagai bakteriostatik terhadap P.acnes. Benzoil peroksida diuraikan pada kulit oleh
sistein sehingga membebaskan radikal bebas oksigen yang akan mengoksidasi protein
bakteri. Senyawa tersebut meningkatkan laju pengelupasan sel epitel dan melepaskan
struktur gumpalan pada folikel sehingga berdampak pada aktivitas komedolitik.

 Sabun, losio, krim, dan gel tersedia dalam konsenstrasi 2.5% hingga 10%. Konsentrasi
10% tidak lebih efektif secara signifikan, tetapi mungkin lebih iritan formulasi gel
biasanya memiliki aktivitas yang lebih poten dibandingkan dengan losio, krim, dan
sabun. Indikasi pemakaian obat ini adalah pada akne vulgaris papula dan pustula yang
berat.

(John C.Hall, 2008)


+

 Sediaan cair pembersih wajah

 Krim seperti Brevoxyl®, Clerasil® (American Society of Health-


System Pharmacists, 2015).

 Gel seperti Panoxyl® Benzolac®.(BPOM. 2016).


+
• Contoh sediaan : 2
Krim : Quinoderm,
Brevoxyl
(Mengandung 4% benzoil
peroksida dengan basis
krim)

Gel : Benzomycin
(mengandung
Antibiotik)

Sabun : Panoxyl
(Mengandung 10% benzoil
peroksida dengan basis gel)

American Society of Health-System Pharmacists, 2015).


+ Pembersih Wajah :

Mengandung 3,5% Mengandung 5%


Mengandung 10% benzoil peroksida benzoil peroksida
benzoil peroksida

(Palmer, 2018)
Mengapa aqueous gel direkomendasikan daripada
+ gel alkoholik? Berikan contoh dari masing-masing
2
sediaan tersebut!
 Alkohol banyak digunakan sebagai antiseptik/desinfektan untuk disinfeksi
permukaan dan kulit yang bersih, tetapi tidak untuk luka.
 Sebagai disinfektan mempunyai aktivitas bakterisidal, bekerja terhadap
berbagai jenis bakteri, tetapi tidak terhadap virus dan jamur.
(Sari dan Isadiartuti, 2006)
 Alkohol dapat melarutkan lapisan lemak dan sebum pada kulit, yang berfungsi
sebagai pelindung terhadap infeksi mikroorganisme. Akses yang lebih mudah
ke lesi inflamasi, yang lebih sering pada pasien dengan kulit berminyak
dibandingkan dengan mereka yang memiliki kulit normal atau kering.
 Alkohol menimbulkan rasa seperti terbakar dan pada pemakaian berulang
menyebabkan kulit kering dan iritasi pada kulit.
(Khodaeiani, et al., 2013)
+
2
 Contoh Sediaan Alcoholic Gel  Contoh Sediaan Aqueous Gel

Clean & Clear Persa Gel 5 Zapzyt


Bahan Aktif : Benzoyl peroxide 5% Bahan aktif : Benzoyl peroxide
Bahan tambahan : Benzil alcohol, 10%
karbomer, dinatrium Bahan tambahan : Laureth-4, karbomer
EDTA, hidroksipropil 940, EDTA,
metilselulosa, Laureth- diisopropanilamin,
4, natrium hidroksida, purified water
air.
+
BENZOIL PEROKSIDA 2

 Indikasi: Akne vulgaris papula pustula yang berat, tidak


dibenarkan untuk digunakan pada akne vulgaris ringan.

 Peringatan: Hanya untuk pemakaian luar; hindarkan kontak


dengan mata, mulut, dan membran mukosa; dapat
melunturkan kain dan rambut; hindarkan pemaparan
berlebihan terhadap sinar matahari; jika terjadi iritasi dan
bertambah parah hentikan pemakaian dan konsultasikan ke
dokter; keamanan dan kemanjuran untuk anak di bawah 12
tahun belum terbukti.
(PIONAS,2015)
+
BENZOIL PEROKSIDA 2

 Interaksi: Produk topikal yang mengandung alkohol seperti aftershave


lotion, astringen, kosmetik atau sabun yang sifatnya mengeringkan, shaving
cream atau lotion; produk-produk anti jerawat yang mengandung peeling
agent seperti resorsinol, asam salisilat, sulfur.

 Kontraindikasi: Hipersensitif terhadap komponen obat.

 Efek Samping: Iritasi kulit (kurangi frekuensi pengunaan atau tunda


penggunaan hingga iritasi membaik dan mulai kembali penggunaan dengan
penurunan frekuensi).

 Dosis: oleskan tipis dan merata 1-2 kali sehari pada tempat jerawat, lebih
baik setelah cuci muka dengan sabun dan air, awali penggunaan dengan
kekuatan yang lebih rendah.
(PIONAS,2015)
+
Golongan Tetrasiklin 3

Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas yang


kegunaannya sudah menurun karena meningkatnya resistensi bakteri.
Namun obat ini tetap merupakan pilihan untuk infeksi yang disebabkan
oleh klamidia (trakoma, psitakosis, salpingitis, uretritis dan
limfogranuloma venereum), riketsia (termasuk Q-fever), brusela
(doksisiklin dengan streptomisin atau rifampisin) dan spiroketa, Borellia
burgdorferi (Lyme disease) (BPOM RI, 2015).

Tetrasiklin juga digunakan pada infeksi saluran pernafasan dan


mikoplasma genital, akne (jerawat), destructive (refractory) periodontal
disease, eksaserbasi bronkitis kronis (karena aktivitasnya
terhadap Hemophilus influenzae), dan untuk leptospirosis pada pasien
yang hipersensitif terhadap penisilin (sebagai alternatif dari eritromisin)
(BPOM RI, 2015).
+
Golongan Tetrasiklin 3

Antibiotik yang termasuk golongan


tetrasiklin:
1. Oksitetrasiklin
2. Klortetrasiklin
3. Tetrasiklin
4. Dimetilklortetrasiklin
5. Doksisiklin Struktur Oksitetrasiklin
6. Metasiklin
7. Klomosiklin
8. Minosiklin (BPOM RI, 2015).
9. Tiasiklin
+
Mekanisme Kerja Tetrasiklin 3

Tetrasiklin termasuk antiobiotik golongan


aminoglikosida yang bersifat bakterisida dengan
menghambat dinding sel bakteri secara reversible.

Tetrasiklin berkumpul dalam dinding sel bakteri,


dan terikat pada reseptor khusus pada subunit
ribosom 30S pada A-site. Pada proses sintesis protein,
t-RNA baru dengan asam amino akan berikatan
dengan A-site dari ribosom. Namun, karena A-site
terblok oleh tetrasiklin, aminoacyl-tRNA tidak dapat
berikatan sehingga sintesis protein tidak tejadi, dan
sel bakteri tersebut mati.

Resistensi tetrasiklin terjadi karena adanya


perubahan permeabilitas atau perubahan reseptor,
tetapi yang utama adalah terbentuknya enzim
transferase-asetilat, transferase adenilat, transferase
fosforilat yang melumpuhkan aminoglikosida.

(Staff Pengajar Departemen Farmakologi, 2004)


+
PIO Antibitoik Oksitetrasiklin 3

1. Sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati
atau yang menerima obat yang bersifat hepatotoksik.
2. Jangan digunakan bersamaan dengan obat antasida (mengurangi absorbsi obat).
3. Obat ini lebih baik dikonsumsi pada saat perut kosong karena makanan atau
produk susu berpotensi mengurangi keefektifan serta penyerapan oksitetrasiklin
(satu jam sebelum atau dua jam sesudah makan sebelum mengonsumsi obat ini).
4. Usahakan untuk menggunakan oksitetrasiklin pada jam yang sama tiap hari.
Langkah ini dilakukan guna memaksimalisasi efeknya.
5. Jangan menjalani proses vaksinasi tipus selama menggunakan oksitetrasiklin.
Antibiotik ini akan menghalangi kinerja vaksin.
6. Pastikan menghabiskan semua dosis yang diresepkan oleh dokter meski infeksi
terasa sudah membaik.
(BPOM RI, 2015)
+
Efek Samping Oxytetrasiklin 3

 Reaksi alergi

 Ruam

 Fotosensitif

 Jerawat muncul lebih banyak

 Sensasi kulit terbakar

 Iritasi

 Kulit kering

(Adnyanya, et al., 2008)


+ Saran untuk Ny V yang sangat perhatian pada
masalah resistensi obat 4

1) Mendorong penggunaan antibiotika secara rasional


 tepat pengobatan
 tepat dosis
 tepat cara penggunaan
 tepat lama penggunaan
2) Pasien harus disiplin dalam menjalani pengobatan dengan antibiotik.
Antibotik harus dikonsumsi sampai habis, karena ketaatan dalam
mengonsumsi antibiotik sangat menentukan keberhasilan terapi. Selain itu,
kesalahan dalam mengonsumsi antibiotik dapat memicu terjadinya
resistensi antibiotik

(Dwiprahasto, 2005).
+ Informasi mengenai perubahan atau perbaikan
serta lamanya perawatan pada jerawat 4

Penggunaan oksitetrasiklin pada orang dewasa dan anak di


atas 12 tahun, biasanya diberikan pada pengobatan jerawat
dengan dosis 500 mg dua kali sehari. Bila setelah 3 bulan
pertama tidak ada perbaikan, antibiotika sebaiknya diganti.
Perbaikan maksimum biasa terjadi setelah empat hingga
enam bulan tetapi untuk kasus yang lebih berat pengobatan
perlu dilanjutkan untuk dua tahun atau lebih

(BPOM RI, 2015).


+ Perawatan alternatif selain tetrasiklin untuk jerawat
yang sudah parah 5

 Tetracycline tidak lagi menjadi obat pilihan dalam


golongannya karena aktivitas antiinflamasi dan
antibakteri obat yang lebih rendah. Doxycycline
dan minocycline sepuluh kali lipat lebih efektif
daripada tetrasiklin (DiPiro, 2011).
+ Perawatan alternatif selain tetrasiklin untuk jerawat
yang sudah parah 5
Eritromisin
Eritromisin digunakan pada pasien yang tidak bisa mengkonsumsi tetrasiklin seperti pada wanita hamil. Digunakan sebagai terapi
jerawat dan mempunyai beberapa kelebihan dibanding tetrasiklin yaitu dapat mengurangi kemerahan pada lesi dan dapat diberikan
bersama dengan makanan. (Sukandar et al,2011). Kemanjuran eritromisin mirip dengan tetrasiklin, tetapi menginduksi tingkat resistensi
bakteri yang lebih tinggi. Perkembangan resistensi eritromisin oleh P. acnes dapat dikurangi dengan terapi kombinasi dengan benzoyl
peroxid (Dipiro, 2009).

Mekanisme Kerja : Mengikat sub unit 50s dan 70s dari ribosom bakteri sehingga terjadi penghambatan translasi mRNA.
Ketika hal ini berhasil dilakukan, maka bakteri tidak mensistesis protein sehingga pertumbuhannya
akan terhambat bahkan mati.
Indikasi : Sebagai alternatif untuk penyakit akne vulgaris
Kontraindikasi : Penyakit hati (garam estolat)
Efek Samping : Mual, muntah, nyeri perut, diare; urtikaria, ruam dan reaksi alergi lainnya; gangguan pendengaran
yang reversibel pernah dilaporkan setelah pemberian dosis besar; ikterus kolestatik dan gangguan
jantung (aritmia dan nyeri dada)
Dosis : Akne Vulgaris: 250 mg dua kali sehari, dapat diubah satu kali sehari setelah 1 bulan sesuai respon.
Pemakaian : Sebaiknya diminum saat lambung kosong dan dikonsumsi pada jam yang sama, jangan diserus atau
dikunyah, menghentikan pengobatan harus dengan persetujuan dokter (Muhlisin, dr. Ahmad., 2018)

(BPOM, 2015).
+ Perawatan alternatif selain tetrasiklin untuk jerawat
yang sudah parah 5
Doksisiklin
Obat ini hanya diberikan ketika tidak dapat merespon eritromisin dan tetrasiklin.
Menghasilkan resistensi yang lebih sedikit dibandingkan tetrasiklin.
 Mekanisme
Menghambat sintesis protein dengan berikatan dengan subunit ribosom 30s sehingga
menghalangi aminoacyl-tRNA untuk berikatan dengan subunit tersebut. Aminoacyl-tRNA
berperan sebagai pembawa asam amino yang akan disusun menjadi rantai protein selama
proses translasi.
 Indikasi
Mengatasi infeksi pada kulit seperti acne vulgaris sedang hingga parah
 Efek samping
Gangguan saluran pencernaan termasuk mual, muntah, dan diare. Pusing, sakit kepala, dan
gangguan penglihatan. Iritasi pada tenggorokan. Fotosensitifitas pada kulit.
 Dosis
Acne vulgaris : 50 – 100 mg per hari hingga 12 minggu
( BPOM, 2015)
+ Perawatan alternatif selain tetrasiklin untuk jerawat
yang sudah parah 5
Minosiklin
• Mekanisme kerja
Masuk kedalam sel bakteri menghambat sintesis protein dengan mengikat sub unit ribosom 30s dan juga sub
unit 50s, kondisi ini akan mencegah pengikatan tRNA ke mRNA sehingga menganggu sintesis protein
• Indikasi
Infeksi yang disebabkan karena organisme yang sensitif atau resisten terhadap tetrasiklin lain. Terapi
tambahan untuk amubiasis intestinal akut; akne(jerawat) berat
• Efek Samping
Sakit kepala dan vertigo, dermatitis eksfoliatif, pigmentasi, SLE dan kerusakan hati
• Dosis
Acne vulgaris: 50 mg dua kali sehari atau 100 mg sekali sehari selama 6 minggu/lebih Jika BB >45 kg:1
mg/kg sekali sehari.
• Pemakaian
Sebaiknya diminum pada jam yang sama setiap harinya, apabila ada dosis yang terlewat dianjurkan segera
meminumnya ketika sudah ingat

(BPOM, 2015)
+
Terapi Non Farmakologi 5

 Memberi edukasi kepada pasien untuk menghindari faktor pemicu


jerawat, membangun pola diet, dan mengontrol stress

 Pasien harus mencuci muka tidak lebih dari dua kali sehari jika
menggunakan pembersih wajah.

 Menggunakan pembersih wajah yang tidak mengandung parfume,


memakai sabun opaque atau sabul gliserin

 Setelah mencuci muka, alat pengangkat komedo diletakkan diatas lesi,


tekan sedikit sampai komedo keluar

( Dipiro et. Al, 2015)


+ Daftar Pustaka
 Adnyana, I. K., R. Andrajati, Kusnandar, A.P. Setiadi, J. I. Sigit, dan E. Y. Sukandar. 2008. ISO FARMAKOTERAPI Buku 2. Jakarta:
ISFI.
 Allergan. 2015. Azelex prescribing information. Tersedia online di : http://www.allergan.com/assets/pdf/azele.... - . Diakses
pada 06 mei 2018.
 American Society of Health-System Pharmacists. 2015. Benzoyl Peroxide Topical. Tersedia online di
https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/meds/a6 01026.html [diakses 13 Mei 2018]
 BPOM RI. 2015. Antibakteri Oral. Tersedia online di http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-13-kulit/136-akne-dan-rosasea/1362-
sediaan-oral-untuk-akne/antibakteri-oral [diakses pada tanggal 11 Mei 2018].
 BPOM RI. 2015. Interaksi Obat. Tersedia Online di http://pionas.pom.go.id/ioni/lampiran-1-interaksi-obat-
0?cari[obat1]=tetrasiklin&cari[obat2]=&op=Cari [Diakses 7 Mei 2018].
 BPOM RI. 2015. Tetrasiklin. Tersedia Online di http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/513-tetrasiklin
[Diakses 7 Mei 2018].
 BPOM. 2015. Eritromisin. Tersedia (Online) di https://pionas.pom.go.id.monografi/eritromisin (Diakses tanggal 30 April 2018).
 BPOM. 2015. Retinoid Topikal. Tersedia Online di http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-13-kulit/136-akne-dan-rosasea/1361-
sediaan-topikal-untuk-akne/retinoid-topikal-dan- sediaa-0 [Diakses pada 8 Mei 2018].
 BPOM.2015. Antibakteri Topikal.http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-13-kulit/136-akne-dan-rosasea/1361-sediaan-topikal-untuk-
akne/antibakteri-topikal [Diakses pada tanggal 11 Mei 2018].
 BPOM.2015. Tetrasiklin. Tersedia (online) di https://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/51-antibakteri/513- tetrasiklin
[Diakses tanggal 30 April 2018].
 BPOM RI. 2016. Cek Produk BPOM. Tersedia online di http://cekbpom.pom.go.id/index.php/home/produk/677
d6ae952e535bd7740d95c933562ed/all/row/10/page/0/order/4/DESC/search/5/benzoyl [diakses 13 Mei April 2018]
+ Daftar Pustaka
 Cunliff e WJ, Gollnick HPM.2001. Topical therapy. In: Cunliff e WJ, Gollnick HPM, eds. Acne diagnosis and management.
London: Martin Dunitz Ltd. :107-14.
 Dailymed . 2016. Archived label: Perrigo Benzoyl Peroxide Wash. Tersedia online di :
https://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/ar... - Diakses pada 06 mei 2018.
 Dipiro, J., et al. 2015. Pharmacotherapy Handbook, Ninth Edition. New York : McGraw Hill Education
 Dipiro, J.T. Wells B.G., Schwinghammer T.L. and DiPiro C. V 2009. Pharmacoterapy Handbook 7th edition. New York: Mc Graw
Hill-Co..
 FDA.2011. Draft Guidance on Benzoyl Peroxide; Erythromycin . Tersedia online
https://www.fda.g/downloads/drugs/guidancecomplianceregulatoryinformation/guidances/ucm212603.pdf [diakses pada
tanggal 11 Mei 2018]
 Fulton, James Jr. Acne vulgaris in Medscape Journal; 2010. [cited 2010 june 21]. Avalaible from:
http://dermatology.cdlib.org/93/commentar y/acne/hanna.html.
 Harper JC. 2004. An update on the pathogenesis and management of acne vulgaris. J Am Acad Dermatol. 51(1):S36-8.
 Hendarta, D.S., Rahma, A., 2003. Akne Vulgaris, MiSc Organ Indera FKUI.org, 1-16.
 Intendis. 2010. Finacea gel prescribing information. Tersedia online di : http://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda.... - Diakses
pada 06 mei 2018.
 Kabau S. 2012. Hubungan antara Pemakaian Jenis Kosmetik dengan Kejadian Akne Vulgaris. Jurnal Media Medika Muda. 43(1)
:32-6.
 Katzung, B. G. (2002). Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi II. Jakarta: Salemba Medika
 Khodaeiani, E., Fouladi, R.F., Amirnia, M., Saeidi,M., dan Karimi, E.R. 2013. Topical 4% nicotinamide vs. 1% clindamycin in
moderate inflammatory acne vulgaris. Int. J. Dermatol. Vol 52: 999-1004.
 Movita Theresia. 2013. Acne Vulgaris. Contunuing Medical Education- 203, 40(4)
+
Daftar Pustaka
 Nelson, A.M., Thiboutot, D.M. 2008. Biology of Sebaceous Glands. In : Wolff, K
 Palmer, A. 2018. Best Bargain Benzoyl Peroxide Face Washes and Cleansers for Acne . Tersedia online di
https://www.verywell.com/bargain-benzoyl-peroxide-cleansers-15600 [Diakses pada 30 April 2018]
 PIONAS. 2015. Sediaan Topikal untuk Akne Pusat Informasi Obat Nasional. Tersedia online di :
http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-13-kulit/136-akne-dan-rosasea/1361-sediaan-topikal-untuk-akne/benzoil-
peroksida-dan-asam. Badan POM RI.
 Pujiastuti, Dian S. 2012 dalam Skripsi: “ Hubungan antara waktu tidur malam dengan kejadian akne vulgaris di RSU DR.
SOEDARSO Pontianak”. Pontianak.
 Purwaningdyah RAK, Jusuf NK. 2013. Profil Penderita Akne Vulgaris pada Siswa-Siswi di SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan. E-
Journal FK USU. 1(1);1-8. 2013.
 Sari, Retno dan Isadiartuti, Dewi. 2006. Studi efektivitas sediaan gel antiseptik tangan ekstrak daun sirih (Piper betle Linn.).
Majalah Farmasi Indonesia. Vol 17(4): 163 – 169.
 Staff Pengajar Departemen Farmakologi. 2004. Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
 Sukandar, E.Y., Andrajati,R., Sigit,J.I., Adnyana,I.K., Setiadi,A.A.P., Kusnandar dkk. 2011. ISO Farmakoterapi Jilid 2. Jakarta:
Penerbit Ikatan Apoteker Indonesia.
 Wells, B. G., J. T. DiPiro, T. L. Schwinghammer, dan C. V. DiPiro. 2015. Pharmacoterapy Handbook, Ninth Edition. New York:
McGraw-Hill.
 Williams SM. Pilo Sebaceuous duct physiology, observation on the number and size of pilo sebaceuous ducts in acne
 Yenni, Amin Safrudin, Djawad Khairuddin. 2011. Perbandingan Efektivitas Adapelene 0.1% Gel Dan Isotretinoin 0.05% Gel
Yang Dinilai Dengan Gambaran Klinis Serta Profil Interleukin 1 (IL-1) Pada Acne Vulgaris. JST Kesehatan. 1(1)
 Zouboulis CC, Eady A, Philpott M, Goldsmith LA, Orfanos C, Cunliff e WC, Rosenfi eld R. 2005. What is the pathogenesis of
acne. Experimental Dermatology.