Anda di halaman 1dari 9

ADAB MENUNTUT ILMU

Disusun Oleh: Setya Priambudi


Virnandiko Ananda P.
Adab Menuntut Ilmu Menurut Islam
• Sebaik-baik "ilmu" adalah"ilmu" yang bermanfaat bagi kehidupan
alam semesta. Dalam hal mencari "ilmu", para alim ulama telah
sepakat bahwa mengetahui adab ber"ilmu" lebih penting dari "ilmu"
itu sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin dalam kitabnya
"Kitabul Ilmi", menyebutkan beberapa adab dalam mencari "ilmu",
antara lain :
Ikhlas Karena Allah SWT
• Niat menuntut "ilmu" hendaklah karena Allah SWT. Apabila seseorang
menuntut "ilmu" hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa
mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang
terpandang, arau niat yang sejenisnya, maka Nabi SAW telah
memperingatkan, seperti Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud :
• "Barangsiapa yang mempelajari suatu "ilmu" tidak karena Allah, dia
tidak akan mendapatkan harumnya surga di hari kiamat".
Untuk menghilangkan Kebodohan dari Dirinya
dan Orang Lain
• Semua manusia pada mulanya bodoh, maka dari itu kita harus berniat
menghilangkan kebodohan dengan cara menuntut "ilmu". Setelah
kita memiliki "ilmu", kita wajib mengajarkannya kepada orang lain
untuk menghilangkan kebodohan dari diri mereka. Rasulullah
bersabda : "Sampaikanlah dariku walaupun cuma satu ayat. (HR.
Bukhari). Dan kita sebagai umat "Islam" juga diwajibkan selalu untuk
menuntut "ilmu" dan menambah "ilmu" pengetahuan yang kita miliki
seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa Ayat 114 :
• "Maka Maha Tinggi Allah Raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah
kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan
mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah "Ya Tuhanku,
tambahkanlah kepadaku "ilmu" pengetahuan“.
Berniat Menuntut “Ilmu” Untuk Membela
Syari’at
• Penuntut "ilmu" harus membela agamanya dari hal-hal yang
menyimpang (bid'ah), sebagaimana ajaran Rasulullah SAW. Hal ini
sulit dilakukan, kecuali oleh orang yang memiliki "ilmu" yang benar,
sesuai petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Lapang Dada Dalam Menerima Perbedaan
Pendapat
• Penuntut "ilmu" hendaknya menerima perbedaan pendapat dengan
lapang dada selama perbedaan itu pada persoalan ijtihad, bukan
persoalan aqidah. Jangan sampai kita menghina atau menjelekkan
orang lain yang kebetulan berbeda pendapat dengan kita. Hal ini
sesuai dengan Surat Al-Mujaadilah Ayat 11 yang telah dijelaskan di
atas.
Mengamalkan “Ilmu” Yang telah Didapatkan
• Salah satu adab yang terpenting bagi para penuntut "ilmu" adalah
mengamalkan "ilmu" yang telah diperoleh. Amal adalah buah dari
"ilmu", baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. "Ilmu"
tidak akan ada manfaatnya kecuali diamalkan.
Menghormati Para Ulama dan Memuliakan
Mereka
• Penuntut "ilmu" harus selalu lapang dada dalam menerima
perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai
kita mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam
memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang awam saja sudah
termasuk dosa besar apalagi terhadap ulama.
Mencari Kebenaran dan Sabar
• Seorang penuntut "ilmu" harus mencari kebenaran dari "ilmu" yang
telah didapatkan. Ketika sampai kepada kita sebauah hadits misalnya,
kita harus meneliti lebih dulu tentang keshahihan hadits tersebut, kita
harus sabar, tidak boleh tergesa-gesa. Jangan sampai kita
mempelajari satu pelajaran setengah-setengah. Kalau seperti itu kita
tidak akan mendapatkan apa-apa.